Senin, 13 Januari 2020

2020 #2: Kisah Jean Perdu Si Library Apothecary


Judul: The Little Paris Bookshop- Toko Buku Kecil di Paris
Penulis: Nina George
Alih bahasa: Utti Setiawati
Editor: Rini Nurul Badariah
ISBN: 9786020333595
Halaman: 440
Cetakan:  Pertama-2017
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Rating: 3.5/5

“Perlu Anda ketahui, buku bukan telur. Hanya karena bertambah tua sedikit, buku tidak lantas membusuk.”
~ The Little Paris Bookshop, halaman 40~

Beginlah kisah perjodohan saya dengan sebuah buku. Sudah lama tertarik pada buku ini, mau membeli eh kantor beli dalam rangka pengembangan koleksi. Lumayan efisiensi, bisa beli yang lain tanpa kehilangan kesempatan membaca buku ini.

Saat buku ini tiba, ada saja halangan untuk membaca. Mulai sibuknya urusan tugas kantor, hingga keduluan dipinjam mahasiswa. Akhirnya beberapa wkatu yang lalu, tak sengaja melihat buku ini tergeletak manis di rak buku kelas 843, langsung pinjam untuk dibaca.

Niatnya untuk dibaca saat senggang di kantor. Artinya ketika pekerjaan sudah selesai dan belum ada yang harus dikerjakan lagi ( saat awal tahun dan pergantian pimpinan cenderung lebih lambat ritme kerja ^_^), atau ketika datang pagi. Namun karena ceritanya lumayan cocok dengan saya, tak butuh lama buku ini langsung tamat

Setiap penggila buku pasti akan tertarik pada Lulu, sebuah kapal yang diubah menjadi toko buku milik Jean Perdu.  Menemukan kapal menjadi toko buku saja sudah menarik, apalagi jika bertemu dengan Perdu sang penjual. Bukan sembarang penjual buku, ia selalu menyebut dirinya sebagai Library Apothecary-apoteker kesusastraan.

Coba baca ini. Tiga halaman setiap pagi sebelum sarapan sambil berbaring. Buku ini harus yang pertama kaubaca. Dalam beberapa minggu kau takkan terlalu nelangsa –akan terasa seolah kau tak perlu lagi menebus keberhasilanmu dengan kebuntuan penulis.” Begitu yang ia katakan di halaman 44 pada seorang penulis yang merasakan kebuntuan ide. 

Guna mempertegas makna Apotek Kesusastraan Lulu, pada bagian belakang buku terdapat beberapa rekomendasi buku yang bisa dibaca dalam kondisi tertentu. Tergoda mencoba kapan-kapan.

Meski bisa dikatakan sukses dalam urusan merekomendasikan buku guna menyembuhkan kegalauan atau masalah seseorang, Perdu sendiri punya masalah yang menghantuinya selama 20 tahun.  

Rasa sakit merasa dicampakkan. Sepucuk surat yang ia terima tak pernah ia buka. Hingga sebuah kejadian tak terduga membuatnya mau tak mau harus menghadapi masalah tersebut.

Ternyata, apa yang ia kira tidaklah benar. Ia tak dicampakkan, justru dibutuhkan. Amarah yang menguasai dirinya telah membuatnya berbuat sangat bodoh! Berkat campur tangan seorang wanita yang baru dicampakkan suaminya, Perdu bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Tak perlu lama berpikir, Perdu segera menarik sauh dan membawa Lulu berlayar untuk menebus segala kesalahannya di masa lalu. Sungguh, saya  iri membayangkan orang ketika menemukan sebuah kapal yang berisi buku. Apa lagi beberapa transaksi juga dilakukan dengan cara barter buku-buku koleksi berharga Perdu.

"Kemudian diam-diam dia memilih beberapa buku. Memakai buku sebagai uang bukan hal mudah baginya, karena dia tahu nilai buku yang sebenarnya." Tertera di halaman 165. Duh saya kok merasa sedih membayangkan rasanya melepas koleksi yang berharga seperti itu.

Secara keseluruhan, pembaca akan disuguhi kisah Perdu berlayar dengan Lulu guna menebus rasa bersalahnya. Pembaca bisa mengikuti bagaimana Perdu berlayar dengan membaca peta rute yang ada di halaman awal. Termasuk rute yang ditempuh ketika Perdu memutuskan untuk tidak mempergunakan Lulu lagi.

Ada juga adegan kisah cinta Perdu dengan dua wanita. Porsinya tak terlalu besar diuraikan dalam buku ini walau menajdi bagian penting. Bagian yang mengusung seks agak diluar perkiraan saya, walau masih aman dari urusan pornografi.

Bagaimana Perdu bersemangat menyelidiki nama asli seorang penulis pada perjalanan ini, patut diacungi jempol. Perjuangan yang gigih dari seorang pembaca. Setidaknya ini akan membantunya memahami dan merekomendasikan sebuah buku dengan lebih tepat lagi kelak.

Selain Perdu, ada juga beberapa tokoh pendamping yang ikut berlayar guna mencari solusi bagi masalah kehidupan masing-masing. Perjalanan memang tidak 100% membuat mereka berhasil menemukan apa yang selama ini mereka cari. Tapi setidaknya beban mereka berkurang.

Pembaca juga akan menemukan banyak judul buku bertebaran dalam kisah ini. Misalnya ada 1984 (halaman 10), The Golden Compass (halaman 29), Pippi Longstocking (halaman 35), Blindness (halaman 47), Harry Potter (halaman 219), Lima Sekawan (halaman 219),  serta Romeo & Juliet (halaman 269).


Terdapat juga catatan perjalanan dari Manon, wanita yang dicintai Perdu. Entah kenapa ilustrasi yang ada pada bagian ini justru membuat saya terganggu. Terlalu rumit sehingga mengurangi kenikmatan membaca.

Karena dalam buku ini ada juga adegan memasak, maka terdapat juga aneka resep dalam buku ini. Halamannya lumayan banyak, mulai halaman 409 hingga 421. 

Untuk urusan kover, saya tidak menemukan kesesuaian antara isi kisah dengan kover. Gambar perempuan yang berdiri di pinggir pagar sambil membawa payung, atau ilustrasi Menara Eiffel sepertinya kurang pas dengan isi kisah.

Saya malah membayangkan  seandainya ada ilustrasi Lulu  berlayar  tentunya akan lebih pas menggambarkan isi kisah. Dengan atau tanpa sosok wanita. Menara Eiffel bisa kita anggap mewakili kata Paris dalam judul.

Oh ya, pesan moral yang bisa saya ambil dalam kisah ini sebenarnya lumayan banyak. Misalnya, akibat amarah yang menguasai Perdu  ia berpikiran buruk pada Manon. Hal ini justru  membuatnya kehilangan saat-saat berharga bersamanya. 

Setelah sekian tahun Perdu baru sadar, justru ialah yang menjadi sosok yang jahat sekian lama, bukan Manon! Andai emosi tak menguasainya, ia bisa saja hidup tenang dan bahagia saat ini. Penyesalan memang selalu muncul belakangan.

Layak masuk koleksi.

Sumber gambar:
The Little Paris Bookshop- Toko Buku Kecil di Paris







Senin, 06 Januari 2020

2020 #1: 13 Kisah Fantasi Tak Biasa

Judul asli: Because You Love to Hate Me: 13 Kisah dari Sisi Gelap
Disunting oleh: Amerie
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Penyunting: Yuli Pritania
ISBN: 9786023854288
Halaman: 478
Cetakan: Pertama-Oktober 2019
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 119.000
Rating: 3.5/5

Penjahat, mereka benar-benar keji. Kita sangat suka membenci mereka dan mereka sangat benci untuk disukai, hanya karena dibenci membebaskan mereka untuk tidak terpaksa menjadi orang baik

Dan, tidak ada yang lebih kita inginkan selain itu

~Amerie, Because You Love to Hate Me, halaman 11~

Apa yang pertama kali muncul dalam benak pembaca ketika melihat buku ini? Bisa beragam tentunya. Bagi saya, dengan ilustrasi yang gelap, tulisan Love dan Hate, kalimat 13 Kisah dari Sisi Gelap, serta Seberapa jauh kau mampu bertahan di sisi terang sebelum menyeberang ke sisi gelap?, buku ini menawarkan kisah misteri.

Setelah membaca blurd, dan mengetahui siapa penerbitnya, barulah saya sadar ini buku ini mengusung kisah fantasi. Sebenarnya buku ini adalah sejenis kumpulan cerpen, terdapat 13 kisah plus tiga belas ulasan dari booktuber dan blogger yang dianggap paling berpengaruh di youtube.

Because You Love to Hate Me bukan  hanya tentang para antagonis hebat, melainkan juga tentang diri kita sendiri dalam seluruh kengerian dan kejayaan kita, demikian yang tertulis di halaman 11. Maka bisa disimpulkan kebanyakan kisah yang disajikan akan mengusung tema kelam. 

Kisah Jack karya Amerie di halaman 39, mengingatkan pada kisah Jack dan Kacang Ajaib. Lengkap dengan Raksaksa, ayam bertelur emas, serta harpa yang mengeluarkan lagu indah. Perbedaannya justru pada akhir kisah yang sama sekali tak terduga.

Sementara Shirley & Jim  karangan Susan Dernnard langsung membuat pembaca teringat akan kisah Holmes. bagaimana tidak, dengan nama tokoh Jim Morriaty,  Kepala Sekolah Hudson, Jean Watson, dan Shirley Holmes sukar untuk tidak mengingat sosok Sherlock Holmes.

Disajikan secara bergantian antara kisah  dengan  komentar yang diberikan. Sehingga setelah menikmati suatu kisah, pembaca bisa langsung mengetahui bagaimana uraian mengenai kisah tersebut. 

Untuk kisah jack, pembahasan dilakukan oleh Tina Burke-The Lushables seorang booktuber dengan judul Raksaksa dan Tiran. Sementara untuk kisah Shirley & Jim, ulasan dibuat oleh Sasha Alberg-abookutopia, dengan judul Dear Sasha, Pusat Informasi Tentang Para Penjahat.

Ketika selesai membaca semua kisah, saya baru sadar sebuah petunjuk tersembunyi (apa coba), sepertinya kisah yang ada dibuat untuk memenuhi tantangan yang diajukan. Bagian ini terletak pada akhir tiap kisah, agar kita tak bisa menebak isi kisah tersebut.

Sebagai contoh, kisah Sang Penyihir Laut karangan Marissa Meyer dibuat untuk memenuhi tantangan antagonis dari Zoe Herdt. Tantangan yang diberikan, "Bagaimana jika sang penyihir laut dulu pernah mengalami apa yang putri duyung kecil alami, tetapi memutuskan untuk membunuh cintanya dan kembali menjadi duyung."

Tantangan tersebut diterima dalam sebuah kisah berjudul Sang Penyihir Laut. Sementara ulasan Zoe Herdt terhadap karya yang berupa tantangannya diberi judul Penjahat Atau Pahlawan? Kau yang Putuskan! 

Membaca kisah Si Cantik yang Berbisa besutan Cindy Pon, saya seperti pernah membaca kisah dengan gaya bercerita yang mirip. Untunglah di bagian belakang buku saya bisa menemukan biodata singkat para penulis. Ternyata ia yang menulis Silver Phoenix! Sayang seri tersebut tidak dilanjutkan.

Tidak hanya biodata penulis, terdapat juga biodata para booktuber. Bagi para penggila buku, ini  merupakan informasi yang bisa membantu jika ingin mencari buku bacaan yang menarik. 

Secara keseluruhan, walau isi kisahnya lumayan suram, namanya juga  dari sisi antagonis, banyak hal yang bisa kita ambil dari kisah  maupun ulasan yang ada. Kembali, semuanya tergantung dari sisi mana kita memaknai kisah tersebut.

Minimal kita bisa menemukan sesuatu yang berbeda dibalik sosok antagonis yang selama ini kita ketahui. Pada Si Cantik yang Berbisa, saya menemukan bahwa pada dasarnya kekecewaan dan sakit hati yang membuat Me du menjadi seperti itu. Ia merasa Dewi Kesucian telah menghianati dirinya.

Sementara pada Sang Penyihir Laut, terungkap bagaimana cinta bisa membutakan sehingga bisa berbuat yang tak masuk akal. Rasa sakit hati Nerit ketika  mengetahui cintanya pada Samuel justru dibalas dengan kejahatan, membuatnya tak mampu berpikir jernih lagi.  Salahkah Nerit? Tergantung.

Oh ya, ternyata ada juga bagian yang mengisahkan tentang perpustakaan, pada kisah Shirley dan Jim. Serta Anugrah Hasrat-hasrat Sederhana pada halaman 180. Umumnya adegan yang disajikan adalah pertemuan atau kegiatan dalam perpustakaan, serta bagaimana buku diolah dan diatur.

Buku ini layak untuk dibaca segala usia, meski bimbingan orang tua dalam membaca tetap dibutuhkan bagi para pembaca usia belia. bagi mereka yang ingin mencoba sebuah bacaan yang agak berbeda, buku ini bisa dijadikan alternatif pilihan.

Bagi para "tukang komentar" buku, disarankan untuk membaca buku ini dan membuat ulasan sendiri pada kisah yang dianggap menarik. Coba bandingkan dengan yang dibuat oleh booktuber. Minimal bisa mendapat pengalaman dan ilmu baru dalam menikmati dan mengomentari sebuah buku.

Secara iseng saya meluncur ke Goodreads untuk mengetahui aneka sampul versi ini. Ternyata cukup mengejutkan juga, kebanyaka justru mempergunakan gambar bunga mawar. Dari 12 versi yang ada, 9  mempergunakan gambar bunga mawar, satu mempergunakan topeng, satu memakai ilustrasi tulisan, sementara 1 lagi tak ada gambarnya.

Hem...,kenapa bunga mawar ya?


Sumber gambar:
Because You Love to Hate Me: 13 Kisah dari Sisi Gelap