Rabu, 21 September 2016

2016 #105: Kisah Cinta Seorang Pustakawati


Judul asli: Love Overdue
Pengarang : Pamela Morsi
Alih bahasa: Prima Sari Woro Dewanti
ISBN: 9786020292106
Halaman: 437
Cetakan: Pertama-Agustus 2016
Penerbit : Elex Media Komputindo
Harga: Rp 87.800
Rating:3.25/5

Menemukan buku-buku yang kita miliki dengan cepat dan efisien adalah pekerjaan dasar seorang pustakawan. Dan lokasi penempatan buku tidak didasarkan pada buku-buku itu sendiri, melainkan pada hubungan mereka dengan buku-buku di sekeliling mereka. 

Membaca buku ini bagaikan memakan buah simalakama. Penasaran cerita, tapi pemilihan huruf yang tak bersahabat membuat saya agak malas membaca. Dan lagi, gaya penulisan yang cenderung menjabarkan hal-hal dengan teramat sangat detail, sementara menurut saya tak perlu ada, membuat mood membaca saya seakan berada dalam kondisi seperti jargon penyanyi terkenal itu, maju-mundur-maju-mundur non cantik. Kalau sudah begitu, jelas tamatnya agak lama.

Kisah dalam buku ini jelas tentang percintaan. Perbedaannya dengan buku lain adalah  tokoh utama wanita dalam buku ini, biasa dipanggil D.J adalah seorang pustakawati. Sebagian besar kisahnya juga mengenai bagaimana keadaan sebuah perpustakaan di kota  Verdant, Kansas. Serta bagaimana hubungannya dengan keempat orang yang bekerja di perpustakaan tersebut dan warga setempat.

Hebat bukan! Empat orang plus satu kepala perpustakaan. Jangan perhatikan jumlah, tapi membaca apa yang mereka kerjakan sungguh luar biasa. Dua orang mengurus perpustakaan keliling, sisanya mengurus operasional perpustakaan. Oh, ya ada juga Dewan Perpustakaan. Salah seorang adalah Vivi, induk semang dan orang yang melakukan menawarkan pekerjaan padanya.

Kehidupan D.J Sebelumnya bisa dikatakan hambar hingga ia menerima tawaran melalui email untuk menjadi kepala perpustakaan di Verdant. Ia bahkan sudah lupa pernah mengirim lamaran ke sana. Kota Verdant juga tidak pernah ia dengar sebelumnya. Vivi dengan cepat menawarkan persahabatan khas keramahan wanita setengah baya. Dengan maksud terselubung yang mencurigakan.


Perpustakaan dan Kantorku
Di Verdant, tak ada rahasia yang aman. Segala hal cepat tersebar melebihi kecepatan angin (ok saya agak lebay bagian ini). Demikian juga dengan berita kedatangan D.J yang menempati lantai atas rumah Vivi, tempat dulu anak laki-laki semata wayangnya tinggal. Penduduk ramai membicarakan kemungkinan D.J dan Scott, anak laki-laki Vivi menjadi sepasang kekasih serta peran Vivi dalam menjodohkan keduanya.

Padahal, D.J menyembuyikan rahasia kelam masa lalunya. Ia tak ingin membuka luka lama, apa lagi jika berurusan dengan pesona pria. Scott sendiri masih belum menemukan wanita yang mampu membuatnya merasa hidup sejak satu malam liar dengan seorang asing beberapa tahun lalu. 

Kembali, kedekatan saya dengan dunia perpusatkaan yang membuat saya mampu menyelesaikan buku ini. Andai tidak ada urusan perpustakaan, mungkin  sepertinya saya tidak memasukan buku ini dalam keranjang belanja. Jangan tersinggung, tapi ini soal selera semata.

Pribadi mereka yang bekerja di perpustakaan unik. Sosok James yang menyendiri namun selalu bersedia membantu sangat bertolak belakang dengan Miss Grundler yang pemarah. Tapi sebagai sesama wanita, saya bisa sangat memahami kenapa ia bertingkah seperti itu. Setelah sekian lama menjadi pustakawati menggantikan tugas dan tanggung jawab pustakawati lain yang nyaris tak pernah berada di perpustakaan, bayangkan betapa hancur dirinya ketika dewan malah mendatangkan seseorang untuk memimpin perpustakaan bukannya menunjuknya sebagai pengganti. Bukan salah D.J juga, hanya ia berada di waktu dan tempat yang salah saja.

Seru melihat bagaimana D.J yang bersemangat melakukan perubahan, James yang pemalu tapi selalu bersedia membantu, Miss Grundler si pemarah, Amos dan Suzy yang selalu ceria dan ringan tangan, semuanya bekerja bersama. Cara mereka mungkin berbeda, demikian juga pandangan mereka pada makna perpustakaan. Tapi tujuan akhirnya sama, menciptakan perpustakaan yang nyaman bagi penghuni kota.
Numpang narsis

Tingkah laku Vivi berikut cara berpikirnya membuat saya penasaran, seperti apa dia saat muda dulu. Ide-idenya selalu segar dan beberapa tidak bisa saya bayangkan ada orang yang memiliki ide seperti itu. Termasuk ide gilanya untuk bisa bersama suaminya. Untunglah pada akhirnya ia mendapat kebahagian.

Urusan roman yang menjadi perekat aneka kisah, seakan terputus begitu saja ketika saya membaca bagian di halaman 432. Maksudnya kedua tokoh sama-sama terpengaruh kenangan masa lalu, ketika ada sesuatu yang menghubungkan keduanya kisah langsung berhenti. Padahal bagian yang mengisahkan bagaimana mereka menyelaraskan diri tentunya akan menarik untuk dibaca. Apakah D.J menolak untuk mengakui kenangangan tersebut atau tidak, justru tidak dikisahkan. Mendadak kisah ditutup dengan adegan yang menggambarkan akhir membahagiakan.

Padahal saya sangat menunggu uraian proses tersebut. Bayangkan, setelah membaca uraian di halaman 22, saya sudah bisa mengira arah kisah ini. Jalan cerita sudah jelas, proses menuju akhir yang justru membuat kisah bakalan menarik. Tapi setelah membaca sekian halaman, justru menemukan fakta proses tersebut dihilangkan.

Saya sempat menemukan beberapa typo. Sebenarnya saya paling masa bodoh pada urusan ini, masalahnya typo berupa  kekurangan huruf jadi agak mengganggu membaca. Misalnya di halaman 153 tertulis, "... berada du toko." Mungkinkah maksudnya di toko?

Secara garis besar buku ini cocok untuk dibaca bagi mereka menyuka kisah romantis. Juga bagi mereka yang menyukai atau tertarik pada kehidupan seorang pustakawati. Tidak selalu membosankan kok, tergantung bagaimana kita menjalani saja. Tentunya buku ini tidak cocok untuk dibaca bagi mereka yang berusia dibawah 17 tahun. Maklum ada sedikit urusan timun-timunan (meminjam istilah seseorang)

Dunia perpustakaan terasa kental tidak saja melalui setting atau kover buku tapi juga melalui pemberian nomor dan nama bab yang mengacu pada klasifikasi DDC. Pada halaman 272 sebagai contoh, tercantum 418.8  Bahasa-bahasa Terapan; Pemakaian Struktural. Bagaimana pustakawati  kita bersikap manis pada salah satu pengunjung muda di perpustakaan dan setuju untuk ikut dengan Scott melihat proses memanen ada di halaman 280-296 dalam bab 440.0 Bahasa-bahasa Percintaan. Pada halaman  297 tercetak 631.2: Pertanian; Teknik, Peralatan. Isi bab ini mengisahkan tentang bagaimana pekerjaan memanen dan orang yang terlibat dalam proses tersebut. 

Kebayang bagaimana susahnya
memindahkan sebuah rak di
perpustakaan
Oh ya, DDC atau Dewey Decimal Classification disebut juga sebagai Sistem Desimal Dewey merupakan sebuah sistem klasifikasi perpustakaan yang diciptakan oleh Melvil Dewey (1851–1931) pada tahun 1876. Sistem ini dikembangkan dan dipelihara dalam badan bibliografi nasional, Library of Congress. Kantor redaksi Dewey terletak di Divisi Klasifikasi Desimal dari Perpustakaan Kongres. Hingga saat ini sistem tersebut sudah dimodifikasi dan dikembangkan dalam 23 kali revisi.  Bagi yang ingin mengetahui tentang DDC silahkan berkunjung ke link berikut .

Mungkin lain kali penerjemah memakai DDC sebagai acuan ketika melakukan alih bahasa bab. Ada beberapa hal yang terasa kurang pas terjamahannya, Kelas 440 adalah French & Related Romance Languages, agak kurang enak jika dijadikan Bahasa-bahasa Percintaan. Demikian juga dengan 613.2 Agricultural structure menjadi Pertanian; Teknik, Peralatan.

Mungkin karena terlalu mencintai profesi, anjing milik D.J juga dipanggil dengan nama Mr. Dewey. Sepertinya, hal ini merupakan kebiasaan mereka yang bekerja di perpustakaan. Memberi nama hewan dengan Dewey. Ingat buku tentang seorang kucing yang menjadi maskot perpustakaan? Namanya juga Dewey, review atau link terkait buku itu ada di sini.

Terakhir, izinkan saya mengutip kalimat favorit dari buku ini
Salah satu hal paling tabu dari perpustakaan umum adalah mengungkapkan apa yang orang-orang pinjam atau cari di internet. Informasi semacam itu bahkan tidak boleh dikatakan pada Homeland Security atau FBI, apalagi sebuah  rantai gosip setempat. 
Ah... kepo banget kalau ada yang ingin tahu urusan orang di perpustakaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar