Senin, 04 Mei 2015

2015 #49: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window And Disappeared


Penulis : Jonas Jonasson
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Perancang Sampul: Adipagi
Ilustrasi isi: Adipagi
Pemeriksa aksara: Fitriana, Intan, Intari Dyah B
Penata aksara: Martin Buczer
ISBN : 9786022910183
Halaman: 508
Cetakan: Keempat-2014
Penerbit : Bentang Pustaka
Harga: Rp 59.000

Senin, 2 Mei 2005 rencananya akan menjadi perayaan hut ke 100 Allan Karlsson, seorang pria lansia yang ditinggal di kamar nomor 1 Rumah Lansia Malmkoping. Sebelum perayaan di mulai, Karlsson memanjat jendela lalu menginjak-injak petak bunga viola, melewati beberapa daerah dan berakhir di terminal bus. Sepertinya Karlsson hanya ingin segera meninggalkan Malkoping dan melarikan diri dari pesta ulang tahunnya.

Pelarian Allan Karlsson ternyata menimbulkan kegemparan. Tidak saja bagi warga yang bersiap-siap merayakan ulang tahunya tapi juga berdampak bagi segerembolan penjahat yang uangnya dicuri tanpa sengaja oleh Allan.

Selanjutnya kita akan diajak menikmati kisah pelarian Allan, seorang kakek tua yang  pada awal kisah digambarkan sebagai sosok tak berdaya ternyata menyimpan banyak kejutan. Situasi yang berkembang membuat Allan dalam pelariannya menjalin kerjasama dengan beberapa orang. Termasuk di juga seekor gajah dan anjing! 

Buku ini secara garis besar terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama mengisahkan tentang pelarian Allan yang spektakuler, bagian yang lain mengisahkan tentang masa lalu Allan sejak lahir hingga tinggal di panti jompo. Kisahnya diceritakan secara bergantian.

Allan ternyata sejak kecil sudah menyukai segala hal yang berurusan dengan bahan peledak.  Ia mendirikan Karlsson Dynamite Company pada usia 15 sementara anak lain sedang sibuk mengencani para gadis.


Keterampilannya dengan bahan peledak membuat Allan melalang buana, dari China, hingga Amerika sebelum akhirnya terdampar di Bali dan ikut campur tangan dalam pendirian Partai Kebebasan Demokratis Liberal.

Bagian yang mengisahkan tentang petualangan Allan di tanah air membuat alis saya bertemu dan menghilang senyum saya. Rasa nasionalisme saya agak terganggu pada bagian  saat Allan tinggal di Bali untuk pertama kali dan ketika ia kembali ke Bali lagi.

Simak kalimat salah satu rekan Allan di halaman 359 "Lalu, dia memberi tahu Herbert, di Indonesia semuanya bisa dijual sehingga siapa saja yang punya uang bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan." Selanjutnya  percakapan tawar menawar untuk bisa mendaratkan pesawat di halaman 482. Terakhir pernyataan berikut, "Indonesia adalah negara di mana segalanya mungkin," kata Allan.  

Membaca kalimat  The 100 Year Old Man pikiran saya langsung menuju sosok kakek pendamping tokoh utama dalam kisah Charlie and the Chocolate Factory, Charlie Bucket.  Sang kakek yang semula hanya tidur saja di tempat tidur mendadak menjadi sehat bahkan bisa loncat-loncat. Terjadi pria yang berada dalam buku ini sangat jauh berbeda, ini pria yang bisa dikatakan berada di balik kekacauan dunia.

Pesan moral yang bisa ditarik adalah jangan meremehkan penampilan seseorang. Allan bisa saja merupakan sosok lelaki tua dengan bahu agak bungkuk seperti yang digambarkan di kover, tapi pengetahuan serta koneksi dimasa lalunya mampu mengguncangkan dunia.

Kekuatan kisah ini bagi saya adalah idenya yang unik serta bagaimana penulis berterus terang mengungkapkan suatu hal. Simak saja kalimat berikut, "Tadinya Allan hendak mengambil racun tikus, tetapi tidak dapat memikirkan cara untuk menyusupkan satu atau dua sendok racun ke muda itu." Kalimat tersebut terdapat di halaman 26. Biasanya penulis hanya mengungkapkan kekesalan dengan kalimat yang mempergunakan kata seperti menyebalkan, ku pukul, tembak langsung

Selain itu kekuatan lainnya adalah penggunaan kata yang (bisa jadi) sering dipergunakan dalam bahasa sehari-hari tapi janggal jika dimasukan dalam sebuah novel. Kalimat, "Aku kepingin berak," di halaman 7 misalnya. Penerjemah tidak perlu susah-susah memperhalus kata tersebut menjadi buang air besar karena pesan dan alur cerita yang disampaikan akan berubah. Sosok Allan yang digambarkan apa adanya, cenderung slebor bisa berubah menjadi pria yang bertata krama dengan perubahan sebuah kata. Dan itu bisa merusak seluruh keseruan kisah.

itu juga yang membuat saya sekarang menjadi paham kenapa judul buku ini tidak diterjemahkan seperti jika buku dalam bahasa asing mengalami alih bahasa. Apa terjemahan yang cocok? Pria berusia 100 Tahun yang memanjat Jendela lalu menghilang, atau Pria  100 Tahun yang memanjat Jendela lalu Kabur, atau.... sepertinya tidak ada yang pasti.

Saya juga mendapat pelajaran sejarah secara tidak langsung dari buku ini. Setidaknya saya mendapat gambaran mengenai bagaimana situasi sosial saat Mo Tse Tung, Presiden Johnson serta Stalin berkuasa. Bisa dibayangkan sekarang betapa berbahayanya seorang Allan. 

Terakhir, Allan mengajari saya bahwa persahabatan kadang terjalin dengan cara yang unik dan tak terduga. Kita tidak pernah menduga bahwa keselamatan kita ternyata berada di tangan sahabat yang sudah lama tidak kita jumpai. Persahabatan memang suatu hal yang unik.

Untuk buku ini saya memberi bintang 5 dikurangi 1 karena rasa nasionalisme yang terusik, maka total buku ini layak mendapat bintang 4.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar