Selasa, 12 Mei 2015

2015 #50: Uraian Buku dalam Buku



Judul: Pengantar Komunikasi Massa  Jilid 1 "Melek Media & Budaya"
Penulis: Stanley J Baran
Penerjemah: S. Rouli Manalu
Editor: Yayat Sri Hayati
Desain kover: satrio Amal Budiawan
ISBN-13: 9789790995000
ISBN-10:9790995008
Halaman: 445
Penerbit: Erlangga
Harga: Rp 155.000


Pasti ada sesuatu di dalam buku-buku itu, sesuatu yang tidak bisa kita bayangkan, untuk membuat seorang wanita tetap tinggal dalam rumah yang terbakar, pasti ada sesuatu di sana (1981:49-50) ~ Hal 84.

Warna kover yang cerah serta kalimat Melek Media & Budaya merupakan dua hal utama yang membuat saya tertarik dengan buku ini. Ternyata ini merupakan buku teks dengan nomor panggil (di kantor  saya lho) 302.23 BAR it I.

Buku teks ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berisi uraian mengenai Peletakan Dasar Pemikiran,  dimana terdiri dari Komunikasi Massa, Budaya dan Melek Media serta perkembangan Proses Komunikasi Massa.  

Sementara itu bagian kedua berisi pemaparan mengenai Media, Industri Media, dan Khalayak Media, wajar jika membahas tentang Buku; Surat Kabar; Majalah; Film; Radio, Rekaman, dan Musik Populer; Televisi, TV Kabel, Video Mobile; Video Games; Internet dan World Wide Web.

Komunikasi  adalah proses untuk menciptakan makna bersama. Komunikasi massa menurut buku ini adalah proses penciptaan makna bersama antara media massa dan khalayaknya. Sementara budaya  adalah tingkah laku yang dipelajari oleh anggota suatu kelompok sosial. Budaya adalah upaya memaknai dunia. Budaya terletak di sekeliling kita, dikontruksi secara sosial dan dipelihara melalui komunikasi. Budaya membatasi sekaligus membebaskan kita; membedakan sekaligus menyatukan kita. Budaya mendefinisikan relitas kita dan membentuk cara kita berpikir, merasa dan bertindak. 

Budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan, dan komunikasi  massa merupakan bentuk komunikasi yang memiliki kekuatan tertentu, mudah menyebar dan kompleks.  Oleh karenanya tingkat keterampilan dalam proses komunikasi sangat penting.

Media massa adalah penceritaan dominan dalam budaya kita dan forum yang di dalamnya kita berdebat tentang makna budaya. 

Melek media merupakan kemampuan untuk memahami dan menggunakan berbagai bentuk komunikasi yang berbeda secara efektif dan efisien.

Karena saya penggila buku, maka yang akan saya uraikan adalah bab mengenai buku. Buku merupakan media massa pertama yang dalam banyak hal menjadi media paling personal. Buku memberikan informasi, sekaligus menghibur. Merupakan tempat pengumpulan masa lalu kita, serta agen pengembangan personal dan perubahan sosial. Sama seperti media lainnya, buku merupakan cerminan budaya.
Bagian awal bab ini berisikan tentang sejarah singkat buku terutama dalam konteks peran buku dalam perkembangan Amerika Serikat hingga isu-isu melek media yang melekat ada kesuksesan buku HP. 

Pemanfaatan mesin cetak Gutenberg menyebar pesat di Eropa pada pertengahan abad 15, namun perkembangan teknologi dan kondisi sosial, budaya dan ekonomi membuat baru tiga abad kemudian buku menjadi media massa utama. 
Perkembangan dunia percetakan pastinya mempengaruhi perkebangan dunia buku. Dari mulai ditemukannya mesin penggiling kertas yang memproduksi bubur kertas yang cukup untuk membuat kertas sepanjang 24 mil per hari oleh Thomas Gilpin dan James Ames pada tahun 1810 sampai berkembangnya litografi offset. 

Peningkatan teknologi, penurunan ongkos produksi, pengurangi biaya publikasi dan tersebarnya kemampuan baca tulis menghasilkan perkembangan novel pada tahun 1800-an. Penerbitan besar yang saya kenal seperti John Wiley & Sons serta Harper  Brother ternyata sudah ada sejak tahun 1800-an. 

Dime novel atau novel picisan yang  dijual seharga 10 sen oleh Irwin dan Erastus Beadle, meramaikan dunia buku pada tahun 1860. Harga tersebut cenderung murah dan terjangkau pembeli saat itu. Isi novel tentang cerita-cerita petualangan. Setelah 5 tahun  Beadle & Company memproduksi lebih dari 4 juta jilid, sering juga disebut pupl novel, novel murah. 

Salah satu hal lagi yang membuat buku tersebut bisa dijual murah adalah penggunaan kovernya berupa sampul kertas, paperback books (buku bersampul tipis).  

Pendiri Pinguin Books, Sir Allen Lane memperkenalkan buku bersampul tipis versi yang kita kenal sekarang pada tahun 1935. Empat tahun sesudahnya Robert de Graff memperkenalkan ide buku berukuran kecil, sampul tipis,  penerbitan ulang  dengan   murah sekitar 25 sen untuk buku-buku yang sukses di pasaran dalam versi  hardcover, sampul tebal.  Dengan kata lain, ia mengemas buku hardcover menjadi buku yang lebih kecil, sampul tipis sehingga bisa dibeli dengan harga murah dan mudah dibawa-bawa. Belakangan mulai bermunculan buku-buku dengan kisah yang tidak saja diterbitkan ulang, tapi juga kisah baru.

Meski banyak yang merasa keberatan dengan hal tersebut nyatanya pada tahun 1960 penjualan buku-buku dengan sampul tipis. Mulai bermunculan buku-buku yang justru dicetak dalam sampul tipis terlebih dahulu sebelum dicetak dalam versi hardcover.

Buku merupakan media yang paling tidak massal dalam hal penjangkauan khalayak serta dalam luasnya industri media massa itu sendiri. Hal tersebut menbentuk sifat hubungan antara media dan khalayaknya.

Hubungan yang lebih langsung antara pembaca dan penerbit menjadikan berbeda secara mendasar dengan media massa lainnya. Buku juga tidak tergantung pada penarikan massa sebanyak media massa lainnya, buku lebih mampu dan sering mengembangkan ide-ide baru, menantang, tidak populer.

Sebagai media yang tidak terlalu tergantung dengan iklan, buku dapat ditujukan kepada kelompok khalayak yang sangat kecil, menantang mereka berimajinasi dengan cara yang  mungkin tidak dapat diterima oleh sponsor.

Karena buku diproduksi dan dijual sebagai satuan yang ditujukan per orang, banyak suara yang  dapat masuk dan bertahan dalam industri ini. Media ini dapat menopang lebih banyak suara dalam forum budaya dibanding media massa lainnya.
Industri buku juga terikat dengan banyak tekanan finansial dan industrial yang sama membatasi media lainnya. Namun buku berada dalam posisi yang melewati batasan-batasan itu. Aktivitas membeli dan membaca buku merupakan aktivitas yang 

Buku  secara tradisional telah dilihat sebagai pendorong budaya yang kuat  untuk beberapa alasan, yaitu agen perubahan sosial dan budaya; tempat penyimpanan budaya yang penting; jendela ke masa lalu; sumber penting pengembangan kepribadian sumber hiburan; pelarian dan cermin diri yang luar biasa; pembelian dan pembacaan sebuah buku adalah kegiatan sosial yang jauh lebih individual dan personal dari pada mengkonsumsi media yang didukung oleh iklan (televisi, radio, surat kabar dan majalah) atau media dengan promosi yang tinggi (musik populer dan film); serta cermin budaya

Satu hal yang tak boleh dilupakan, sensor. Karena pengaruhnya sebagai penyimpan budaya dan agen perubahan sosial, buku sudah menjadi target sensor. Menurut American Library Association Office of Intellectual Freedom serta American Civil Liberties Union di perpustakaan dan buku-buku di sekolah yang perlu disensor cukup banyak, antara lain HP.

Saya jadi ingat, dalam suatu kunjungan dari luar, beberapa anak setingkat sekolah menengah atas sibuk mencari sebuah buku dalam koleksi tempat saya bekerja, bukan untuk membacanya sekedar untuk bisa narsis membuat foto bersama. Buku tersebut dilarang di sekolah mereka dengan alasan tertentu. Sebagai anak muda yang cenderung memberontak, gaya dengan buku yang dilarang di sekolah merupakan salah satu wujud bukti pemberontakan mereka. Terlepas dari salah tidak tindakan mereka. Bisa menebak buku mana yang dilarang khan?

Alasan sensor antara lain antara lain seksualitas yang eksplisit, bahasa yang kasar, tidak cocok untuk kelompok umur, pemujaan terhadap setan, kekerasan, mempromosikan seksualitas, dan lainnya.  Untuk lebih mengetahui tentang buku yang dilarang silahkan mengunjungi www.ala.org/bbooks

Selain penyegaran materi kuliah dahulu, saya mendapat pengetahuan terkait soal buku. Misalnya saja angan-angan saya punya sebuah tempat minum dimana pengunjung bisa menikmati minuman sambil meminjam buku, bukanlah ide yang konyol. Memang belakangan sudah mulai bermunjulan kedai minuman dengan konsep seperti itu tapi keberadaannya masih jarang, kalaupun ada lebih mengusung buku sebagai teman menikmati hidangan. Sementara saya justru menginginkan sebaliknya. Misalnya kita membaca buku tentang kesehatan sambil menikmati pijatan di kaki, bukan dipijat sambil membaca buku guna mengisi waktu. 

Topik-tipik yang diangkat juga merupakan hal yang baru. Penulis dengan piawai menghubungkan banyak hal dengan buku sehingga membacanya membuat kita merasa buku tidaklah sekedar BUKU semata.
  Hal-hal yang sederhana ternyata bisa dijadikan sebagai sesuatu yang berguna, misalnya meminta sebuah produk untuk menjadi sponsor penerbitan buku dengan cara menyebutkan produk tersebut dalam kisah.

Dengan adanya aneka bagan dan gambar, buku ini menjadi sangat menarik hingga tidak terasa seperti membaca text book. 

Guna menambah wawasan, terdapat juga link situs terkait materi yang sedang dibahas pada bagian pinggir buku. Sebagai  contoh tercantum di halaman 84 www.raybrandbury.com, situs yang disarankan untuk dikunjungi jika ingin mengenal lebih jauh  tentang Ray Brandbury dengan karyanya Fahrenheit 451. 

Dari halaman 83 hingga 124 tak henti-hentinya saya dibuat kagum dengan buku ini. Menawan! Bagi mereka penggila buku atau yang tertarik akan bagaimana sebenarnya dunia buku itu sangat disarankan membacanya







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar