Jumat, 19 Desember 2014

Review 2014 #68: Anna Lagi!

Judul asli: Girl of Nigtmares
Penulis: Kendare Blake
Penerjemah: Angelic Zaizai
Penyunting: Lisa Indriyana Yusuf
Penyelaras aksara: Lani Rachmah
Penata aksara: Axin Makruf
ISBN: 978-602-1606-04-8
Halaman: 404
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 74.000,-

Aku menelan ludah kuat-kuat. "Di mana kau?"
Rambutnya menjuntai menutupi pipi, pandangannya hampa. Aku tak tahu apakah dia percaya kami sedang bercakap-cakap.
"Di Neraka," bisiknya, seakan itu tak perlu ditanyakan lagi. "Aku di Neraka."

Ingat Anna?
Sosok gadis dengan gaun darah sebelum akhirnya Cas dan teman-temannya membebaskan diri dari kutukan yang mengikatnya dengan rumahnya.  Pada akhirnya Anna malah mengorbankan diri guna menyelamatkan Cas, Thomas dan Carmel. Sebenarnya untuk Cas. Anna melakukannya agar Cas bisa tetap hidup tenang. Sayangnya belakangan Cas selalu dihantui mimpi buruk tentang Anna. Belum lagi halusinasi yang datang disaat yang sering salah. Hingga ia acap kali berkeliaran  dalam keadaan setengah hidup karena mendambakan Anna.

Cas jatuh cinta pada Anna. 
Fakta yang tak bisa dipungkiri lagi. Setelah Anna terlepas dari kutukan, keduanya makin saling mengenal hingga menimbulkan benih-benih cinta. Sang penulis membuat kisah ini menjadi sesuatu yang unik. Mulai dari cara Anna dan Cas berkenalan, bagaimana sejak awal bertemu Anna yang masih merupakan hantu jahat tidak membunuh Cas. Saat keduanya bersama hingga akhirnya Anna mengorbankan dirinya demi Cas. Keduanya dipisahkan tidak saja oleh jarak dan waktu namun juga dengan alam. 

Ternyata urusannya tidak hanya  penampakan Anna serta urusan hati Cas saja tapi juga terkait dengan sebuah ordo yang sudah lama berdiri, ayah Cas dulu juga ikut bergabung. Dan Ordo itulah yang berperan dalam hal keberadaan athame, senjata yang selama ini selalu dibawa Cas. 

Athame yang dipergunakan Cas selama ini merupakan warisan ayahnya. Sang ibu akan merawatnya setelah dipergunakan memusnahkan hantu. Athame dapat mengambil banyak bentuk. Ini biasanya memiliki pisau bermata dua  yang tajam, dan pegangan yang sering kali berwarna  hitam. Bahan yang ditempa untuk menghasilkan Athame bukan logam biasa.  Melalui Ordo bahan tersebut bisa didapat dan diolah. Sekarang ordo merasa Cas mulai menyalahgunakan Athame. Penggunaannya tidak sesuai dengan tujuan awal pembuatannya.

Urusan Anna ternyata menyita banyak perhatian Cas hingga ia memutuskan untuk segera mengakhiri semua ketidakpastian yang terjadi selama ini.  Keputusan yang sulit. Untunlah Cas mempunya dua sahabat yang selalu menemaninya dalam suka dan duka serta tentunya ibu yang selalu mendukungnya. Semoga keputusannya adalah keputusan yang tepat bagi semua pihak.

Persahabatan yang terjadi antara ketiga tokoh utama memberikan pelajaran bahwa kita mungkin berbeda namun urusan persahabatan justru tidak mengenal beda. Kesamaan diantara mereka yang membuat mereka bersahabat, perbedaan menjadi bumbu yang memperat persahabatan. Kenangan serta kepedulian mereka akan Anna membuat mereka menjadi sahabat.

Meski terpesona dengan untaian kata, mungkin ada bagian yang perlu direvisi kelak.  Bab tiga pada halaman 37 baris pertama tertulis, "Rawa itu lagi." Apakah maksudnya "Tawa itu lagi."  Karena kata selanjutnya adalah, " Terngiang-ngiang di kepalaku untuk seratus kalinya." Biasanya saya cukup masa bodoh pada urusan typo. Tapi jika saat seru tiba-tiba ada yang mengganggu jalannya kisah ya jadi manyun juga khan.

Karakter Cas berbeda dengan yang digambarkan pada buku pertama. Sosoknya digambarkan lemah dan sering berada dalam kondisi kacau, mungkinkan sengaja dibuat guna menekankan betapa besar pengaruh Anna pada dirinya.  Justru karakter dari mereka yang membuat kisah ini berkembang malah beragam dan kuat. Thomas kian membuktikan dirinya adalah sahabat setia sebagai contoh.

Walau buku ini tetap memuat aneka adegan dan situasi mencekam, tapi saya tidak merasakan kengeriaan yang sama seperti saat membaca buku pertama. Entah,  ada semacam candu yang membuat  saya menjadi ketagihan membaca bagian menegangkan dalam buku ini. Kalimat berikut contohnya, "
Aku tak membaca gerak bibirnya. Terlalu banyak darah hitam meleleh dari sana. Perlahan dia menjauh. Aku berusaha menunduk menatap karpet, tapi tak mampu. Aku tak sanggup menahannya sehingga ketika dia melemparkan diri dari jendela, aku sempat melihat gaun berkibar dan mendengar debum tubuhnya menghantam tanah." Mungkinkan kengerian sudah identitik dengan kisah Anna sehingga berkurang sedikit membuat kisah ini seakan kekurangan bumbu.

Selain urusan hantu dan kegiatan sejenis yang mencekam, ada juga saat untuk tertawa diantara suasana menakutkan. Saya tertawa lebar ketika salah satu tokoh pembantu dalam kisah ini disamakan dengan sosok Lara Croft dalam hal gaya busana. Atau bagaimana sikap Cas saat gagal kencan. 

Kovernya masih mempergunakan sosok Anna sebagai pusat. Posisinya yang seakan menengok dengan tangan mengadah bisa bermakna ia mengajak seseorang untuk mengikutinya, kemungkinan besar yang dimaksud adalah Cas. Warna merah bisa diartikan sebagai kobaran api neraka. Demikian juga gambar semacam tebing seakan menambah kesan suram. Anna yang berdiri di pinggir seakan siap terjun ke api neraka. Cukup memberikan gambaran mengenai isi buku.

Versi bahasa Turki
Dalam Goodread, beberapa kover buku yang diterbitkan oleh negara lain menggunakan desain yang nyaris sama. Hanya versi bahasa Turki dengan judul Lanetli Kızın Hayaleti yang perbedaannya cukup terlihat. Anna masih digambarkan menggunakan gaun putih dan berada diantara api dengan suasana yang mencekam. Tapi sepertinya ada burung yang terbang di atas. Apa urusannya dengan Anna ya, jadi penasaran.

Tapi kenapa harus digambarkan bertelanjang kaki ya? Bukannya saat Anna dibunuh sang ibu mereka sedang berdebat seru dan Anna akan minggat, tentunya tak mungkin ia keluar rumah denga bertelanjang kaki. Apa lagi jika kita perhatikan film, sinetron dan sejenisnya mereka yang tinggal di negara yang memiliki empat musim selalu memakai sepatu bahkan di dalam rumah agar tidak dingin. Kenapa Anna berbeda? Atau karena ia sudah tiada?

Buku ini selain menghibur juga merupakan buku yang paling rajin memberikan catatan kaki. Sebagai pembaca saya sangat terbantu. Setidaknya pembaca memiliki pemahaman yang sama dengan penulis/penerjemah sehingga kisah bisa lebih  dinikmati. Pembaca yang tidak tahu juga jadi pendapat pengetahuan tambahan. Sekali jalan dua hal tercapai, menyamakan persepsi dan memberikan tambahan pengetahuan.

Sayang hanya dua buku. Seandainya saya penulis, tentunya tidak hanya sosok Cas yang kelak dibuatkan kisah lain tapi juga Anna bahkan Thomas dan Carmel. Misalnya bagaimana kisah kasih kedua sahabat Cas, kisah cinta antara ratu lebah dan si kuper bisa jadi topik yang menarik. 

Masih mengacu pada Goodreads, buku ini mendapat 3,94 bintang dari 5 bintang. Ada 13.653 rating dan 2.177 review. Baca dan berikan bintang Anda.

Tentunya Anda cukup berani untuk membacanya khan? 

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com/book/show/22522637-lanetli-k-z-n-hayaleti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar