Kamis, 11 Desember 2014

Review 2014# 67: Anna Bergaun Darah

Penulis: Kendare Blakee
Penerjemah: Angelic Zaizai
Penyunting: Lisa Indriani
Penyelaras aksara: Nunung Wiyati
Penata aksara:Axin Makruf
Cover artwork: Nekro
ISBN:9786021606995 
Halaman: 388
Cetakan: ke-1, Oktober 2014
Harga: Rp 64.000

Anna bergerak mendekatiku, menuruni tangga tanpa melangkah. Kakinya terseret dengan cara yang mengerikan, seolah ia sama sekali tak bisa menggunakannya. Pembuluh darah gelap keunguan tampak dari balik kulit putih pucatnya. Rambutnya hitam pekat, bergerak di udara seakan terapung di air, meliuk-liuk di belakangnya dan mengembang seperti helai-helai rumput helagah. Hanya itu bagian dirinya yang terlihat hidup.

Ia tak memamerkan bekas luka penyebab kematiannya seperti yang biasa dilakukan hantu lain. Tadi kudengar tenggorokannya digorok, tapi leher gadis ini tampak jenjang dan putih. Namun, gaunnya ... basah dan merah, terus bergerak, menetes-netes ke lantai.

Tanpa sadar aku bergeser mundur ke dinding sampai akhirnya terasa tekanan dingin di punggung dan bahuku. Aku tak bisa mengalihkan pandangan dari matanya. Bola mata itu sehitam oli....
 
Ok! Baiklah jelas sudah alasan kenapa saya harus tertarik dan membaca buku ini. Latah atau trand jika ini merupakan buku ketiga yang memuat urusan tentang hubungan antara manusia dan makhluk alam lainnya. 

Theseus Cassio Lowood alias Cas sangat ingin bisa hidup normal seperti remaja seusianya. Berkencan, mengerjakan tugas, menghadiri pesta dansa dan lainnya. Tapi apa boleh buat profesinya sebagai pemburu hantu membuatnya dan sang ibu harus sering berpindah tempat tinggal.

Cas dan sang ibu bahu-membahu meneruskan tradisi keluarga. Cas memburu serta memusnahkan hantu yang mengancam manusia. Ia berbekal senjata warisan sang ayah, athame, pisau yang meleburkan hantu. Diam-diam Cas memiliki misi utama menemukan hantu yang membunuh ayahnya.Sang ibu mengelola toko online menjual aneka herbal dan lilin

Buruan Cas selanjutnya adalah Anna si Gaun Darah di Thunder Bay.  Sudah lima puluh tahun ia menebarkan teror di sana. Anna Korlov merupakan hantu sekuat badai, kecerdikan yang luar biasa,  bermata hitam dan bertangan pucat pasi-sama sekali tidak mirip hantu manusia. Anna adalah sang kematian itu sendiri, menakutkan dan tak berperasaan. Sejauh ini sudah banyak korban yang berjatuhan ketika nekat memasuki rumah era Viktoria tempat ia berada.

Pada awalnya Cas menganggap Anna tak berbeda dengan hantu lain yang ia buru. Tapi seiring waktu ia merasakan ada yang berbeda dengan sosok Anna. Entah kenapa Cas merasa perlu mendatangi rumah Anna berulang kali agar bisa mengenal lebih jauh. Sungguh ironi! Alih-alih memusnahkan Anna, Cas malah mencoba untuk berteman dan bahkan saat ia mendapat ampunan Anna saat kalah bertarung. Bukan rasa ingin membalas kekalahan tapi rasa ingin mengenal lebih dekat yang muncul.

Sebuah rahasia kelam tentang masa lalu Anna terkuak. Ternyata urusannya tidak hanya soal bagaimana Anna menjadi arwah tapi terkait siapa yang membuatnya menjadi seperti itu. Dan bagaimana memusnahkan Anna tanpa membuat hatinya Cas merasa bersalah.

Ternyata Cas tidak saja berurusan dengan Anna! Ia juga berhadapan dengan musuh masa lalunya, tujuannya berburu. Makhluk yang memburu dan membunuh ayahnya ternyata juga telah sampai di Thunder Bay dan mulai melakukan pembantaian. Cas dan ibunya harus melakukan berbagai upaya agar mampu bertahan hidup.

Secara keseluruhan, kisah dalam buku ini seru dan menegangkan. Salah satu toko buku online malah memasukan buku ini dalam kategori kisah horor. Bagi saya sendiri kisah dalam buku ini cukup.  Simak saja kalimat berikut, " Anna membiarkan  XXXX berdiri tegak, wajah dan tanganya berdarah karena luka gores. Dia mundur selangkah dan Anna menyerengai lebar.... atau mungkin hanya menjerit-sementara XXXX tak sempat  berteriak sebelum Anna menghujamkan tangan menembus dada, merobek kulit dan ototnya. Anna menarik kedua lengannya ke samping, seolah memaksakan diri melewati pintu yang tertutup, dan tubuh XXXX pun terbelah dua. Kedua baguan tubuhnya terjatuh ke lantai, berkedut dan tersentak-sentak seperti tubuh serangga."  Atau perhatikan kalimat berikut yang ada di halaman 271, "Terdengar bunyi robekan yang bukan hanya berasal dari kemejanya. Ususnya tumpuh ke luar bagai seutai tali mengerikan dan terburai di lantai...." 

Apakah tidak sebaiknya buku ini ditujukan untuk mereka yang lebih dewasa, sekitar 17 tahun ke atas? Mengingat adegan pembunuhan yang dilakukan Anna serta hantu lain cukup menyeramkan. Jangan sampai menjadi inspirasi bagi ABG yang masih labil. Perlu diberi tulisan 17+ atau sejenisnya di pojok kanan atas kover.

Terlepas urusan seram atau tidak, kisahnya menghibur. Selain urusan hantu, pembaca diajak memaknai kasih keluarga. Bagaimana Cas dan sang ibu menjalani beratnya kehidupan berdua. Sang ibu begitu sabar dan tenang mempersiapkan senjata untuk dibawa Cas atau membersihkan saat digunakan. Dengan tenang sang ibu mempersiapkan kantol herbal sebagai bekal Cas bertempur membasmi hantu. 

Cas juga mempelajari bahwa kehidupan ini tak bisa ia lalui sendiri. Kadang ia juga membutuhkan bantuan dalam berjuang. Bantuan bisa datang dari mana saja, sang ibu, kerabat, teman bahkan musuh. Itulah kehidupan kadang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Ada hal yang agak mengganggu saya. Kalimat pada paragraf kedua baris ke 18 di halaman 131 membingungkan saja. Jadi yang meninggal ayah atau ibu Cas? Menilik riwayat kepemilikan senjatanya maka seharusnya yang meninggal adalah ayahnya. Tapi kenapa pada halaman itu tertulis beda? Semoga hanya sekedar salah pengetikan saat proses penerjemahan.

Gambaran tentang bagaimana sosok hantu dalam benak saya agak berubah jika dibandingkan sosok hantu dalam buku ini. Hantu yang ada dalam benak saya meski bisa berjalan di bawah sinar matahari namun tidak dengan mudah meninggalkan lokasi tempat dimana ia terikat. Tapi dalam kisah ini, hantu mampu berjalan melintas negara guna menebarkan teror. 

Kover buku ini sungguh menggoda mata untuk melirik. Suasana suram lingkungan kian terasa dengan penampakan sosok perempuan dengan ujung gaun yang berwarna merah darah. Bisa ditarik kesimpulan itu adalah sosok Anna. Tapi yang agak membuat saya bertanya kenapa ia dibuat memandang ke arah rumah seolah-olah ingin masuk namun tidak bisa. Padahal seluruh kisah tentang bagaimana ia terikat dengan rumah hingga sulit berpindah.

Ketika membuka lembar buku, desain di pojok kiri atas memberikan kesan kian menyeramkan. Membuat pembaca secara psikologis membayangkan kondisi darah menetes dari gaun Anna. Ihh  seram juga. 

Penulis beberapa kali menyinggung tentang praktek Voodoo dalam buku ini. Pelaku voodoo menyalurkan kekuatan.  Menurut penulis, Voodoo hanyalah sihir bangsa  Afro-Karabia yang mengikuti aturan main sihir. Kepercayaan voodoo amat berkembang luas di Benin dan bahkan diakui sebagai salah satu agama resmi. Sebagian besar warga di negara kawasan Afrika Barat itu dipercaya seringkali melakukan ritual voodoo. 

Meski  berasal dari Korea Selatan sang penulis dibesarkan di Amerika Serikat,  sehingga dalam buku ini tidak ada unsur atau elemen yang diusung oleh sang penulis. Kisahnya benar-benar Amerika sekali.Hal ini bisa dilihat dari catatan kaki yang diberikan oleh penerjemah. Kebanyakan mengenai suatu hal yang cukup populer di sana. misalnya Grizzly Adams pada halaman 41, Trojan sebagai merek kondom di halaman 35, kisah Bloody Mary dan lainnya.

Bukannya tidak mungkin  dikarenakan ia lebih banyak menghabiskan waktu di Amerika dan Inggris. Kendare Blake meraih gelar sarjana dalam jurusan bisnis di Ithaca College dan gelar master dalam jurusan penulisan di Middlesex University di London. Jangan lupa mengunjungi

Jadi penasaran baca buku keduanya, buku pamungkas.   Sang penulis sudah menyebutkan bahwa ini merupakan duologi, "Anna is a duology. But Cas made no such guarantee. So he might be back someday. If he knocks on the door, I'll have to let him in. Because it must be important."

Ah malam Jumat. Sepertinya bisa dijadikan ajang uji nyali dengan membaca buku kedua. Apakah seperti buku pertama atau malah lebih dalam banyak hal. Penasaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar