Sabtu, 01 Februari 2014

Review 2014 #7 Penghancuran Buku dari Masa ke Masa




Penulis: Fernando Báez
Penerjemah: Lita Soerjadinata
Penyunting: Ronny Agustinus
ISBN 978-979-1260-24-4
Halaman:373 
Harga: Rp 73.000

Apakah saya (mungkin juga kalian) bibliosida?
Bibliosida adalah sebutan bagi mereka yang menghancurkan buku. Tadinya saya kira penghancuran yang dimaksud adalah penghancuran dalam arti wujud buku secara fisik. Seperti pembakaran buku beberapa waktu lalu, menyobek buku untuk bungkus sayur, atau mencoret-coret buku. Sebut saja 3.000 buku koleksi Dr Iwan Gardono Sujatmiko yang musnah terbakar saat kebakaran di Gedung C FISIP UI beberapa waktu yang lalu, itu juga bisa disebut penghancuran buku.

Pembakaran buku, biblioklasme atau librisida merupakan suatu  tindakan memusnahkan buku atau media lainnya. Kadang kegiatan ini dilakukan secara seremonial di depan umum atas dasar politik, keagamaan dan moral. Buku-buku  dibakar, dihancurkan, atau dimusnahkan. Misalnya buku yang dibakar serentak oleh sebuah penerbit  besar atas desakan sebuah organisasi keagamaan.

Namun ternyata editor dan pustakawan juga bisa melakukan penghancuran buku. Caranya dengan tidak jadi menerbitkan sebuah buku karena pengeditan atau isi yang dianggap tidak layak.  Jelas ini sangat mengganggu pikiran saya. Saat ini membuat sebuah review yang jujur dan menyebutkan kekurangan buku itu hingga ada yang urung membeli dan membacanya,  apakah saya juga menyebabkan kehancuran sebuah buku? Sungguh menyeramkan! Lalu bagaimana polah para penimbun buku? Mereka membiarkan sebuah buku tergeletak tanpa dibaca.
Sang penulis mengungkapkan sebuah fakta bahwa buku-buku dihancurkan bukan oleh  ketidaktahuan awam atau kurangnya pendidikan, melainkan justru oleh kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing. Dan ini bisa menjelaskan fenomena di Indonesia ketika profesor, pejabat pemerintah, bahkan penerbit sendiri ikut-ikutan membakar buku.  


Uraian ini mengingatkan saya pada kisah seorang sahabat tentang sebuah konsersium kagetan yang dibentuk untuk membeli buku-buku yang dikeluarkan dari perpustakaan. Mereka sengaja membentuk konsersium itu guna menahan keinginan salah satu pebisnis yang ingin membeli buku-buku itu untuk dijadikan bubur kertas! Penghancuran buku dengan alasan untuk menciptakan buku baru.
  
Sebuah kalimat berikut mengganggu pikiran saya, "Ada ratusan kajian mengenai asal mula buku dan perpustakaan, tapi tidak ada satupun sejarah mengenai penghancurannya."  Sepertinya penghancuran buku adalah hal yang harus ditutupi. Padahal dengan memahami kenapa ada penghancuran kita bisa mengupayakan agar hal itu tidak terjadi.

Penghancuran buku dilakukan dengan atau tidak sengaja. Misalnya tentang penghancuran Perpustakaan Zahiriya. Pada 1108 pasukan Perang Salib menghancurkan Perpustakaan Zahiriya di Damaskus, lebih dari 3 juta buku dimusnahkan.  Setahun setelahnya, tepatnya pada  Juli 1109  dibakar 100.000 volume dari Perpustakaan Islam yang terkenal di Tipoli.

Urusan penghancuran  buku masih berlanjut. Ketika  Kontantinopel jatuh tahun 1453  pasukan Turki di bawah komando Sultan Muhammad al-Fatih menghancurkan patung-patung, gereja, dan buku.  Selama tiga hari mereka melakukan penghancuran. Permata yang menempel di buku dicongkel, sekitar 120.000 manuskrip dibuang kelaut dengan diikat terlebih dahulu. Manuskrip yang isinya tidak sejalan dengan  pandangan para pengikut Nabi Muhammad(hal 107).

Dunia mengetahui peristiwa penjarahan Museum Arkeologi Bagdad pada 12 April 2003. Tiga puluh koleksi hilang, lebih dari empat belas ribu koleksi kecil raib dan hancurnya ruang pamer. Tanggal 14 April sejuta buku di Perpustakaan Nasional di bakar, begitu juga Arsip Nasional. Rekam sejarah dalam bentuk buku, manuskrip bahkan sekeddar hasil penelitian raib dalam hitungan waktu

Perlu dibedakan antara kata "Hilang" dan "Musnah" walau sulit dibedakan dalam sejarah buku. Kadang sebuah karya hilang karena dimusnahkan, dan kadang musnah karena hilang atau belum ditemukan.  Dalam KBBI,  hi·lang v 1 tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan: tiba-tiba benda itu -- dr pemandangannya;.... Sementara musnah /mus·nah/ v 1 lenyap; binasa: segala hartanya -- dimakan api; 2 hilang....

Uraian pada halaman 154 mungkin bisa diartikan sebagai makna diduga musnah ternyata ditemukan.
Al-Quran berbahasa Arab pertama  dicetak oleh  Paganini pada tahun 1537. Konon diberangus atas dasar instruksi langsung Paus. Selama ratusan tahun diyakini tidak ada cetakan yang tersisa, namun  pada tahun 1987  Angela Nuvono  menemukan satu ekslempar tersisa di dunia, tersimpan dalam perpusatakaan Fratri Minori de San Michele di Isola, Venesia."

Upaya penyelamatan buku pernah dilakukan oleh seorang perempuan berdarah Swabia, Wiborada dari biara Saint Gall, Swiss. Ia mendapat penampakan tentang penghancuran buku. Sehari sebelum serangan, pada dini hari 1 Mei 926, ia mengukur buku-buku koleksi perpustakaan. Penyerbuan memang berhasul dihalau tapi kebakaran yang terjadi cukup besar. Wiborada ditemukan tergeletak terluka parah di atas gundukan tanah dimana buku-buku dikubur. Atas tindakan beraninya, ia mendapat gelar Santa. Santa pelindung para pecinta buku.

Pada zaman Yunani kuno, buku adalah selembar papirus yang digulung, panjangnay bervariasi. Saat itu buku disebut Biblos sementara membaca disebut anagnosis berarti baca bersama. Sementara itu tindakan membuka gulungan papirus untuk membaca disebut annelitto. 
Dalam http://www.talkmen.com/articles/read/811/7-pembakaran-buku-bersejarah disebutkan berbagai peristiwa tentang pembakaran buku. Diantara ada buku dengan huruf  Braile yang dimusnakan atas dasar rasa takut jika guru-guru yang memiliki penglihatan normal tidak akan dibutuhkan lagi oleh para murid tunanetra, karena mereka berhasil membaca melalui huruf Braille.

Buku tentang penghancuran buku ini berisikan tiga bagian utama. Bagian Pertama: Dunia Kuno, Bagian Kedua: Dari Byzantium Hingga Abad ke-19, Bagian Ketiga: Dari Abad  ke-20 Hingga Sekarang. Setelah itu ada uraian tentang Pascawacana: Penghancuran Buku dalam Cerita Fiksi. 

Guna menulis buku ini Fernando Baez melakukan penelitian selama belasan tahun untuk melihat sejarah pemusnahan buku dari zaman dahulu, mulai dari Byzantium, Mesir, Yunani dan Romawi hingga saat ini. Uraian tentang catatannya lebih dari lima puluh halaman. 

Seorang mahasiswa sejarah mengajukan  pertanyaan “Mengapa manusia menghancurkan buku?”, kepada sang penulis karena menganggap ialah pakarnya. Tergelitik oleh pertanyaan itu, ia pun menyusun kajian ini. Merentang dari awal peradaban tulis hingga kasus-kasus kontemporer, inilah kajian sejarah global pertama tentang bibliosida (penghancuran buku) dari masa ke masa. Sebuah pertanyaan yang tidak memiliki jawaban pasti.

Kover buku ini sungguh menarik. Dibuat seolah-olah buku ini terbakar, lengkap dengan bagian yang bolong seakan habis dilalap api. Sisi kanan dibuat seakan kertas tersebut mulai terbakar api meninggalkan kesan hangus dengan bentuk tak beraturan. Sementara ilustrasinya menggunakan buku-buku yang seakan terbakar. Halaman belakang juga tak ketinggalan terkena sentuhan habis terbakar walau tidak seheboh halaman muka. Walaupun untuk itu saya mengalami sedikit kesulitan untuk menyampulnya, tapi kover buku ini menawan. Langsung menyampaikan inti dari hal-hal yang terkandung dalam buku.

Butuh waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Bukan karena buku ini merupakan buku sejarah atau kajian budaya tapi karena isinya. Isinya membuat emosi saya tercampur aduk. Sedih saat mengetahui sebuah buku dihancurkan karena sama artinya menghancurkan pikiran seseorang, buah karya seseorang. Gembira saat tahu sebuah buku tersimpan aman dan telepas dari behaya penghancuran. Mengutuk mereka yang menghancurkan buku, karena sama artinya mereka menghancurkan perabadan.

Seperti yang saya uraikan di atas. Scara pribadi buku ini membuat saya jadi berpikir akan koleksi saya.  Apakah dengan menyimpan saya juga telah melakukan penghancuran buku?
Apakah review saya membuat sebuah buku musnah
Entahlah, yang pasti saya sedang belajar berbagi.

------

THX buat Sis Ira atas buku ini.
Isinya benar-benar bikin merinding hiksss
Tapi perlu dibaca untuk kita yang mencintai buku


Sumber gambar
http://www.dw.de/aksi-pembakaran-buku-10-mei-1933-di-jerman/a-16803353
http://www.chine-chinois.com/sylvain-en-chine/ascension-declin-dynastie-Qin




































7 komentar:

  1. Memang ya,, buku itu lebih dari sekadar "harta", tetapi juga "senjata", kadang aku juga agak gimana gitu kalau meminjamkan buku inginnya menyimpannya, mengoleksinya secara pribadi. Ah, tapi nggak apa-apalah, toh kayak nikmat lainnya, kalau terus bersyukur, bukunya nambah dalam artian ada yang baru, nambah wawasan lagi dah. Pada akhirnya berbagi buku satu cara agar nggak ada penghancuran, kan bikin cerah, cuma butuh waktu memang. Hhehehe jadi pengen ngebaca, historikal bgt nih bku!

    BalasHapus
  2. saya sudah membaca buku ini sejak akhir tahun yang lalu dan sampai skrg belum tamat karena kebanyakan mikir dan sibuk belajar sejarah melalui buku itu. Buku ini muatan sejarahnya beraaaatt bin lengkap. Ah, saya harus angkat topi pada Fernando Baez untuk semua ilmu yan dia rangkum dalam buku ini.

    Cover buku ini pun jadi cover terfavorit saya di 2013 (^_^)v

    BalasHapus
  3. Makin hatihati kalo bikin repiu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya rasa review yang jujur tetap yang utama hanya saja lebih baik kita bersikap adil, mbak.
      Jadi jangan cuma review jelek2nya tapi juga baik2nya. Kalau dari 5 aspek 4nya kurang menarik ya sampaikan, tapi sebutkan juga 1 aspek yang menurut kita bagus.
      Dengan begitu pilihan tetap ada di pembaca review kita.
      Karena kita menyampaikan kekurangan dan kelebihan masing-masing buku (^_^)

      Itu menurut saya lho, mbak. Sebab saya sejak awal sangat sadar bahwa para penulis itu jauh lebih hebat dari saya karena saya sendiri hanya bisa bermimpi jadi penulis dan sampai sekarang belum terwujud. Jadi mereka yang bukunya berhasil masuk ke toko buku bagi saya pribadi patut saya hargai usahanya.

      Hapus
  4. Haduh, punya saya masih ditimbunan :'(

    BalasHapus