Sabtu, 14 Juli 2012

Racikan Cinta dalam Lenggong Gadis Pakarena



Penulis: Khrisna Pabichara
Penyunting: Salahuddien Gz
Ilustrasi: Yudi Irawan
ISBN: 978-979-17998-6-7
Halaman: 180
Penerbit: Dolphin

Hari-berganti hari, malam pun menjelang mengisi relung-relung hati nan indah
Berat rasanya meninggalkan keindahan itu,
Kini Cinta ini teruji

Saat semua kita lalui bersama,
Kolaborasi dua insan yang sedang dilanda asmara dahana,
Dendang nyanyian surgapun tak mampu membendung
Saat keikhlasan dua hati berpadu

Kekasih hatiku, tak pernah lelahku menyayangmu

*Memo Cintaku pagi td*

Guru kimia saya saat di bangku sekolah menengah  atas menyatakan bahwa segala hal dalam kehidupan ini merupakan sebuah rangkaian  rekasi kima dengan hubungan sebab-akibat sebagai penjelasannya. Segala hal merupakan hubungan sebab-akibat dengan alas an yang bisa dijelaskan secara berantai.

 Ungkapan tersebut sungguh kontras dengan pendapat seorang Khrisna Pabichara yang menyatakan bahwa “Cinta tak mengenal kata tetapi.”Khirsna Pabichara menuangkan empat belas kisah pendek untuk memperkuat ungkapannya. Baginya tak ada yang tak mungkin jika berurusan dengan hati. Sebuah hal sederhana lewat ulasan tangannya menjadi sesuatu yang tak biasa. Membuat kita merenung akan hakiki cinta itu sendiri.

Gadis Pakarena adalah sebuah kisah percintaan  antara seorang anak pribumi dengan seorang gadis keturunan Tionghoa. Kehadirannya sebagai perempuan keturunan  pertama di sekolah menengah kerawitan satu-satunya di belahan timur nusantara. Layaknya kisah Romeo and Juliet keduanya menjalani kisah terlarang. Dia dipanggil Gadis Makarena karena kepiawiannya dalam hal menari. Setiap tahun, di Wuhan saat musim semi pada hari dan bulan yang sama mereka berjanji untuk bertemu. Sayangnya itu hanya angan semu belaka.

Mereka tidak bisa memadukan kasih justru karena faktor kondisi. Dari nama tokoh perempuan dalam kisah ini, Kim Mei langsung mengingatkan saya pada peristiwa kerusuhan Mei. Pemiilhan nama ini entah dimaksud untuk mengingatkan kita agar lebih mawas diri atau agar pembaca teringat pada kasus Me 2008 seperti saya.

Mengawini ibu mengisahkan tentang  rasa sakit hati seorang anak laki-laki, Rewa terhadah ayahnya. Sepanjang hidupnya, ia sering melihat perlakuan kejam sang ayah kepada ibundanya.  Sementara sang ibu sama sekali tidak membalas bahkan cenderung pasrah.  Baginya, “ Mencintai itu pekerjaan abadi, Nak, tak pernah selesai”    

Ia membalas dendam dengan  meniduri setiap perempuan yang diinginkan ayahnya menjadi ibunya. Perempuan pilihan sang ayah bukan sembarang perempuan, harus perempuan dengan nama depan N. Jika anda memiliki nama depan N ada baiknya waspada.

Kisah ini merupakan kisah favorit saya. Selain ide uniknya juga karena banyak kata-kata bijak yang bisa ditemukan di sana. Kata bijak berupa petuah dari sang ibu untuk anak laki-lakinya. Misalnya kalimat, " Bakti itu, Nak, adalah saudara kandung kepatuhan." Lalu kalimat, "Jika ingin menerima yang terbaik, Nak, berikan juga yang terbaik." Masih banyak kata-kata lain yang sejenis.

Kisah dengan judul  Selasar,  Lebang dan Hatinya serta   Pembunuh Parakang, merupakan rangkaian sebuah kisah. Pertama dikisahkan mengenai  seorang pria yang ditinggal kekasih hatinya satu bulan sebelum menikah, kisah Selasar. Kisah yang dipandang dari sudut Tutu, pria yang merana kehilangan kekasihnya.

Kisah Lebang dan Hatinya  berkisah dari sisi Natisha Daeng Lebang. Mengapa ia pergi meninggalkan Tutu satu bulan sebelum pernikahan dilangsungkan. Apa alasannya serta bagaimana kondisinya saat ini. Adapun kisah  Pembunuh Parakang merupakan kisah dari sudut Rangka, sosok yang menjadi dalang semua peristwa.

 
Secara keseluruhan kisah yang ada beragam jenisnya. Setiap kisah  menawarkan saripati yang berbeda.  Latar belakang juga berbeda. Kalau pun ada yang sama dikarenakan adanya kesinambungan kisah seperti kisah Selasar,  Lebang dan Hatinya serta   Pembunuh Parakang. Cinta yang diramu oleh Daeng yang satu ini juga mengetengahkan cinta untuk keluarga. Sungguh sebuah harmoni yang menawan.

Uniknya setiap kisah dimulai di halaman kanan. Sisi kiri  digunakan untuk mencantumkan sepenggal kalimat yang mencerminkan isi kisah. Ilustrasi yang menawan di halaman belakang memberikan nuansa mewah. Kesan kontemporer terasa kental. Idenya juga unik membuat yang melihat bisa merasakan jiwa dari kisah tu.

2 komentar:

  1. "harus perempuan dengan nama depan N" :O apa tidak ada toleransi?

    BalasHapus