Selasa, 21 Juli 2020

2020 #27: Menikmati Kisah Jlitheng Dan Kawan-Kawannya

Judul asli: Si Jlitheng: Dongeng Bocah Abasa Jawa
Penulis:Impian Nopitasari
Ilustrasi : Nai Rinaket
ISBN: 9786237721215
Halaman: 52
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: Babon
Harga: Rp 75.000
Rating:4/5

"Dhuh Gusti, nelangsa temen awak mami. Becik kulo pejah kemawon Gusti, tinimbang urip nggih mboten semangat, dados sanggane liyan,"

~ Si Jlitheng, halaman 42 ~

 Sebuah buku anak dengan mempergunakan bahasa Jawa, Menarik! Menurut saya, salah satu cara melestarikan bahasa lokal adalah mengajarkan bahasa tersebut pada generasi muda (iya... saya sudah mulai agak menua wkwkwk). Tentunya diperlukan cara mengenalkan dan media pembelajaran yang sesuai dengan minat generasi muda saat ini.

Buku karya Jeng Impian, merupakan salah satu cara unik yang bisa ditiru. Dalam buku setebal 52 halaman ini, pembaca akan diajak menikmati 4 kisah fabel dalam bahasa Jawa. Ada kisah Dongenge Pitik karo Bebek; Kodhok lan Bekicot; Ndara Anyar;  dan Si Jlitheng. 

 Kisah yang ada merupakan kisah fabel.  Sebuah kisah yang menampilkan tokoh binatang sebagai tokoh utama. Binatang tersebut memiliki karakter seperti manusia. Ada yang mendapat peran antagonis serta prontagonis. Meski demikian tidak ada penjelasan terperinci mengenai sifat para tokoh dalam kisah fabel.

 Tujuan penulisan fabel biasanya untuk  menggambarkan situasi sosial di masyarakat. Kisah dibuat untuk memberikan pesan moral kepada pembaca mengenai bagaimana sebaiknya bersikap dalam kehidupan, terutama dalam hubungan sosial dalam  masyarakat.

Kisah ini menjadi cerminkan kehidupan masyarakat yang sering merasa iri dengan orang lain.  Tidak puas dengan kondisinya. Ada orang yang merasa iri dengan tetangga yang bisa berbelanja aneka daging. Nyaris tiap hari  tetangga mereka makan daging. Ia lupa jika kondisi keluarganya yang sering makan sayuran bergantian dengan daging membuat tubuh mereka lebih bugar.

Kisah Ndara Anyar, mengajarkan kita untuk selalu bisa beradaptasi dengan lingkungan di manapun kita berada.  Mimi dititipkan  majikannya kepada sebuah keluarga terpercaya untuk beberapa hari. Kesalahan utama si pemilik (menurut saya) karena ia hanya menitipkan Mini saja, ia lupa membawakan makanan yang  biasa dimakan Mimi sejak kecil.

Bagian ini mengajarkan kita untuk bisa memandang segala peristiwa dari banyak sisi, tidak hanya dari satu sisi saja.Yang dipikirkannya adalah siapa yang harus menjaga Mimi, tak terpikirkan bagaimana Mimi makan.

Terbiasa makan dengan makanan kucing kemasan membuat Mimi tak terbiasa diberikan makanan rumah. Perlahan ia memang bisa beradaptasi hingga akhirnya malah merasa sedih ketika pemiliknya menjemput.

Sang pemilik rumah yang dititipi Mimi juga mengajarkan kita bahwa menyayangi sesama makhluk hidup adalah hal yang mulia. Mereka rela ikan lauk makannya disantap Mimi yang sudah sekian lama tidak mau makan. Walau untuk itu mereka hanya bisa makan dengan sayur dan sambal saja. Mengharukan.

Selain menikmati kisah yang walau sederhana namun penuh dengan karifaan, pembaca juga diajak menikmati ilustrasi yang menawan dalam buku ini. Gambar yang ada seakan hidup. Anak-anak pasti menyukai ilustrasi yang ada, bahkan orang dewasa mustahil tidak meliriknya.

Sayangnya, buku ini hanya memberikan tulisan dalam bahasa Jawa, tidak ada huruf Jawa-nya. padahal kalau sekalian kan seru! Usul bolehkan, siapa tahu bakalan cetak ulang. Untuk selanjutnya dibuat dengan mempergunakan aksara Jawa, kemudian di bawahnya ada tulisan dalam bahasa Jawa. Terdapat juga tulisan dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Tujuannya agak mereka yang bukan berasal dari suku Jawa tetap bisa menikmati kisah karena tersedia  bacaan dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya bahas Inggris tentunya buku ini bisa dijadikan semacam tanda kasih bagi tamu-tamu asing. Plus memperkenalkan budaya Jawa   ke seluruh penjuru dunia.

Bangga rasanya jika menemukan buku ini berada dalam katalog salah satu perpustakaan yang ada di luar negeri. Ditambah ketika melihat banyak yang meminjamnya. Buku ini  menjadi  representatif kebudayaan kita di luar negeri. Duh ya, saya kan jadi menghayal.

Pembeli adalah raja. Tentunya sudah sering kali kita mendengar kalimat seperti itu. Bagi penjual, pesan yang terkandung adalah untuk bersabar jika menghadapi pembeli. Secerewet apapun tetaplah bersabar mendengarkannya, selalu tersenyum. Layanan dia layaknya seorang raja.


Dari sisi pembeli, kalimat tersebut sering disalah artikan menjadi kebebasan untuk bertindak semena-mena pada pejual. Mereka raja, wajib dilayani. Sering kali ada yang bertindak diluar kewajaran, misalnya dengan minta ditunjukan aneka  warna dan motif di toko kain, namun batal membeli dengan alasan tidak ada yang cocok.

Karena saya pembeli buku ini, maka saya adalah raja. Dengan begitu, saya bisa meminta Jeng Impian selaku penulis untuk menorehkan cap bibir dan jempol di halaman depan. Kenapa tidak tanda-tangan? Sudah biasa itu, sudah satu lemari penuh saya memiliki buku dengan tanda tangan penulis. Cap bibir dan jempol lebih otentik bagi saya.

Jahil? Sedikit sih.
Tapi untuk buku seperti ini, layak kok dibeli untuk dikoleksi dan dibagikan sebagai tanda kasih.









Jumat, 10 Juli 2020

2020 #26: Ketika Seseorang dari Surga Menelponmu














Penulis: Mitch Albom
Alih bahasa: Julanda Tantani
ISBN: 9786020311418
Halaman: 424
Cetakan: Kedua-Agustus 2019
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Rating:4/5

Sampai hari ini aku tak tahu alasannya. Itulah yang terjadi ketika orang-orang terlalu cepat meninggalkan kita, bukan?  Kita selalu mempunyai begitu banyak pertanyaan.

~Telepon Pertama Dari Surga, halaman 408~

Sebuah buku menarik  versi saya, jika mampu membuat penasaran dan  bersemangat membaca. Rasa penasaran tersebut terus bertahan hingga nyaris setengah buku. Itu versi saya, mungkin orang lain memiliki  versi yang berbeda. Tak ada ketentuan pasti mengenai sebuah buku yang patut dianggap menarik.

Demikian juga buku ini. Judul memang alasan awal saya tertarik membacanya. Saya membayangkan (dasar tukang ngayal) ada satu atau beberapa orang yang beruntung bisa berhubungan dengan sosok tercinta yang sudah berpulang, entah bagaimana caranya. Dari ilustrasi pada kover, saya berasumsi telepon yang menjadi perantara.

Perlu diingat, hal tersebut muncul begitu saja dalam kepala saya sebelum sempat membaca blurd. Ternyata kisahnya tak berbeda jauh dengan apa yang saya bayangkan. Beberapa orang yang dianggap terpilih bisa berbicara dengan kerabat yang telah meninggal melalui telepon. Baik telepon genggam atau telepon rumah biasa.

Bagaimana perasaan Anda ketika seseorang yang sudah meninggal mendadak menghubungi melalui telepon dan mengatakan bahwa ia berada di surga? Aneka perasaan campur anduk bermunculan, setidaknya bagi Tess Rafferty, Jack Sellers, Katherine Yellin, Eddie Douke, Anesh Barua, Jay James,  Elias Rowe,  serta Elwood Jupes

Setiap Jumat,  telepon-telepon tersebut  berdering. Hanya pada hari Jumat, tidak akan berbunyi di hari lain. Dering telepon menjadi hal yang sangat mereka nantikan.  Apalagi pembicaraan cenderung berlangsut singkat, sering mendadak sambungan telepon putus begitu saja. 

Pesawat telepon atau telepon genggam menjadi barang yang sangat berarti. Penjualan telepon genggam tipe tertentu meningkat tajam! Bahkan ketika terjadi kebakaran pada salah satu rumah penerima telepon, ia berteriak histeris meminta pemadam kebakaran menyelamatkan telepon rumah. Bukan rumah ya, hanya TELEPON RUMAH.

Mereka yang bisa berhubungan, merasa mendapat kesempatan  emas untuk menyelesaikan hal-hal yang belum tuntas. Minimal menyatakan betapa mereka sangat menyayangi sosok yang telah berpulang. Bahwa kepergian mereka sangat memukul keluarga, hal seperti itulah.

Beberapa dari mereka, memanfaatkan kesempatan untuk bertanya lebih lanjut mengenai kehidupan di "sana". Bagaimana rasanya tinggal di sana,  bagaimana perasaaan kerabat yang sudah meninggal ketika menemukan diri mereka berada di "sana". Pembicaran sentimentil berubah menjadi pemuas rasa penasaran.

Nyaris seluruh warga kota percaya akan  hal tesebut  kecuali Sullivan Harding- Sully. Baginya sangat tidak masuk akal sang istri bisa mengubungi dirinya. Pasti ada sesuatu hal yang bisa dijelaskan dengan logika kenapa hal tersebut bisa terjadi.  

Singkatnya, walau ia yakin suara yang ia dengar adalah suara sang istri, namun ia menolak berbicara.  Kepada sang anak ia juga mengatakan bahwa hal itu bohong belaka, Meski demi kebahagian sang anak ia terpaksa membiarkannya membawa ponsel mainan dengan harapan sang ibu akan menghubunginya juga.

Ia mulai menemukan titik terang  di halaman 251. Untuk bisa menperoleh informasi yang diinginkan, ternyata tak mudah. Terlalu banyak warga yang begitu meyakini keberadaan hubungan dengan Surga. Ia justru dianggap aneh ketika menolak menerima hal tersebut.
https://www.ilmusiana.com

Segala hal makin menjadi rumit ketika media juga ikut berperan. Pada bagian ini, pembaca akan diberikan gambaran bagaimana peran sebuah media dalam kehidupan masyarakat. Tak heran jika media, pers tepatnya,  dinggap sebagai salah satu kekuatan. Apalagi dizaman internet saat ini. Kisah dalam buku ini contohnya.

Senang juga mengetahui bahwa  pada akhirnya Sully menemukan pemecahan kasus ini dengan melakukan penyelidikan di perpustakaan. Dengan bantuan pustakawan yang handal, bisa dikatakan ialah yang menjadi kunci mengungkap seluruh kisah ini.  Keseruannya bisa dibaca di halamana 14x he he he.

Sebenarnya saya agak kurang suka dengan pemaran bagian cara Sully menemukan penyebab dari peristiwa yang menggegerkan kota. Digarap dengan sangat sederhana, terlalu simpel. Berlawan dengen kehebohan kisah tentang efek telepon tersebut bagi warga. Diumpakan sebuah hal besar ternyata hanya disebabkan suatu hal sepele saja.

Secara garis besar, buku ini menawarkan kisah yang unik. Tentang bagaimana warga sebuah kota meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Penulis dengan apik membuatnya sebagai suatu hal yang diyakini bersama, tanpa menyinggung agama atau kepercayaan warga.

Untuk memperjelas keragaman tokoh, beberapa tokoh  dibuat dengan memiliki latar belakang budaya yang sengaja dibuat berbeda. Mereka menjadi satu karena percaya akan kehadiran telepon dari surga. Telepon tersebut membuang segala perbedaan yang ada.

Pembaca juga akan mendapat informasi mengenai bagaiman perkembangan telepon. Sejak mulai diciptakan oleh Alexander Graham Bell, usahanya meyakinkan orang untuk mendengarkan paparan dan mencoba penemuannya, hingga akhirnya telepon dipatenkan. Sebuah selingan yang digarap dengan apik. 

Mari kita abaikan berbagai informasi yang menyebutkan bahwa Alexander Graham Bell bukanlah orang pertama yang menemukan telepon. Agar bisa lebih menikmati kisah, mari kita setuju saja dengan hal tersebut ^_^. 

Kisah ini membuat saya jadi paham kenapa banyak orang yang was-was data pribadinya  bisa dicuri melalui telepon. Sepertinya sudah tidak ada yang rahasia lagi di zaman internet. Teknologi ternyata juga membuat celaka jika tidak dipergunakan dengan bijak. 

Pada bagian belakang buku, saya menemukan ada cetakan yang agak aneh. Selama ini cetakan selalu dibuat dengan posisi ada di tengah halaman. Tapi  pada buku ini seakan batas area dilanggar. Agak tidak biasa. Entah ini untuk seluruh buku atau hanya pada buku yang saya miliki.

Begitulah, penulis yang satu ini cukup pandai mengaduk-aduk emosi saya ketika membaca karyanya. Ikut menangis ketika terbayang seorang anak sibuk memeriksa telepon genggam mainannya, berharap sang ibu menghubunginya di sana. Ikut tersenyum puas ketika penjahat mendapat hukumannya.

Mari mencari buku lainnya di perpustakaan ^_^.







Kamis, 02 Juli 2020

2020 #25: Menikmati Mahakarya S, Mara Gd (Mengandung Spoiler)

Penulis: S. Mara Gd
Penyunting: Ramayanti
Buku Kedua:
ISBN: 9786020637129
Halaman:  480
Harga: Rp 103.000
Buku Ketiga:
ISBN: 9786020637136
Halaman: 424
Harga: Rp 95.000
Cetakan: Pertama-April 2020
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Ada hari baik di mana semua keinginan kita terpenuhi. Ada hari buruk di mana semuanya tidak ada yang kena. Begitulah hidup. Ngak ada yang bisa enak terus. 

~ Misteri Terakhir, Buku kedua, halaman 363 ~

Akhirnya buku pesanan saya tiba juga!
Buku kedua dan ketiga dari kisah  penutup rangkaian misteri  Kapten Kosasih dan Gozali. Sedih juga berpisah dengan kedua tokoh tersebut. 

Membacanya cepat, membuat komentarnya yang lama, bingung musti komentar seperti apa. Rasanya seperti membaca buku perpisahan dengan Miss Marple,  Sleeping Murder (Pembunuhan Terpendam). Serta membaca The Curtain (Tirai) dan mengetahui bahwa itu kisah terakhir Poirot.

Buku ini mempergunakan setting tahun 1990-an. Dugaan saya tahun 1997, karena pada satu bagian kisah menyebutkan tentang  peritiwa meninggalnya Lady Diana.  Bagi mereka yang lahir  tahun 2000-an mungkin kurang begitu mengenal sosok ibu dari Pangeran Willian dan Pangeran Harry, tapi mereka yang mengalami masa remaja tahun 1990-an pasti mengenalnya.  Lebih lanjut mengenai Lady Diana bisa dilihat di sini.

Kisahnya mengenai pembunuhan seorang yang terjadi pada sebuah kamar hotel. Pada pipinya tertinggal bekas lisptik. Kasus tersebut belum terungkap telah muncul usaha pembunuhan tokoh yang lain. Hal tersebut membuat bingung Kapten Kosasih dan Gozali. Untuk lebih jelas mengenai  buku pertama, buku kedua, dan buku ketiga langsung klik saja ya. 

Para tokoh yang sudah dikenalkan pada buku pertama, semakin banyak bermunculan pada buku kedua. Pembaca bisa mulai menemukan hubungan beberapa hal yang semula kabur pada buku pertama. Semuanya semakin terlibat jelas hubungannya pada buku ketiga. 

Bisa dikatakan semua pertanyaan, rasa penasaran saya terjawab pada buku ketiga. Bocoran sedikit,  saya menemukan jawabannya pada halaman tiga ratus tujuh puluh satu. Mungkin pembaca yang lain pada halaman yang berbeda, siapa tahu?

Tapi untuk bisa merasakan kepuasan membaca sebuah mahakarya seorang S. Mara Gd, tetaplah membaca dari  buku pertama hingga ketiga. Jangan langsung membaca buku ketiga.  Perasaan penasaran, sensasi membaca buku ini tidak akan kalian temukan jika langsung membaca buku terakhir. Seninya adalah membaca secara berurutan, dan tersenyum puas  ketika dugaan terbukti benar, serta bahagia menemukan akhir kisah yang tak terduga.

Kembali, saya bingung bagaimana harus membuat catatan buku ini. Kita diajak menikmati bacaan yang terlihat sekali dipersiapkan dengan maksimal oleh penulis. Tiap hal dipersiapkan dengan rinci. Rasanya berbeda dengan membaca buku-buku karyanya yang lain. 

Meski demikian, karena sudah lumayan akrab dengan karya beliau, saya makin bersemangat ketika beberapa petunjuk bermunculan.  Misalnya ketika membaca di buku kedua halaman 255, " Aku diajak bapak itu mengelola rumah makannya." Ketika salah satu tokoh mengaku berasal dari sekolah yang sama dengan anggota keluarga Viliandra di buku kedua halaman 422. Makin jelas  terlihat hubungannya pada halaman tiga puluh dan empat puluh sembilan di buku ketiga.

Demikian juga rasa penasaran pada salah satu adegan di buku pertama,  yaitu ketika   Viliandra yang menyamar sebagai sekretaris Adwin Saran meminta resepsionis untuk menghubungi kamar suaminya, saya memiki banyak pertanyaan dan dugaan pastinya. Namun semuanya terjawab melalui percakapan antara Kosasih dan Gozali di halaman 356 baris ketiga dan keempat buku kedua. Hore! Dugaan saya tepat!

Tokoh yang semula digambarkan kurang beruntung mulai saya rasakan berubah. Terutama ketika terjadi adegan ajakan makan malam pada halaman 281. Kemudian ketika Bambang menanyakan pekerjaan bagi adiknya di  233. Akhir kisah bahagia bagi diraih tokoh tersebut. Hidup memang penuh dengan misteri.

https://www.goodreads.com/
Selain menawarkan kisah misteri, buku ini juga memberikan kisah mengenai kehidupan keluarga Kapten Kosasih yang sederhana namun bahagia. Jauh dari urusan harta. Meski kondisi keluarga bisa dikatakan sekedar cukup, sang kapten tetap bekerja secara profesionalisme. 

Hal ini tercermin dari penolakan jamuan yang akan diberikan salah satu rumah makan ketika ia melakukan penyelidikan ke sana. Menolak jamuan di  270-271  merupakan tanda profesionalisme. Ia tak mau menerima sesuai walau hal sepele, khawatir kemudian hari muncul permintaan timbal-balik karenanya.

Pada buku ketiga, saya memenukan beberapa kata yang sangat akrab terdengar. Ada  mencep di halaman 39, nggelundung di halaman 43, wong di halaman 59. Ada juga kata yang belakangan baru saya sadari maknanya, seperti  bontotin di halaman 153, serta mengoroki di 230.

Secara tak langsung, penulis mengenalkan tentang bahasa lokal-bahasa Surabaya-an bagi pembacanya di seluruh tanah air. Salah satu cara merawat dan melestarikan budaya lokal. Hanya saja, sebaiknya juga diberikan catatan kaki makna kata tersebut. Sehingga semua pembaca jugabisa paham maknanya.

Saya merasa lega karena akhirnya Gozali dan Dessy menemukan kebahagiaannya. Sempat ada rasa khawatir juga mengingat beberapa tokoh mengalami kegagalan dalam urusan cinta. Belum lagi komentar miring yang dilontarkan mengenai perilaku tokoh yang bercinta dalam kisah ini.

"Seorang ibu memang jarang bisa melihat kekurangan pada anak-anaknya sendiri, Kos. Di mata seorang ibu, semua anaknya itu pasti baik-baik seperti malaikat, " kata Gozali.

Ternyata Kapten Kosasih masih "ada" hingga akhir kisah. Pembicaraannya dengan sang istri pada buku pertama hanyalah pembicaraan sepasang suami istri sebelum tidur semata. Saya sempat khawatir, mengira kalau.... Beginilah kalau pembaca sok tahu ^_^.

Kalimat yang paling saya sukai ada di buku ketiga, halaman  170, " Mungkin tidak semua perlu dimengerti. Mungkin ada hal-hal yang hanya perlu diterima saja." Jawaban diplomasi Dessy ketika Gozali bertanya kenapa ia yang dipilih untuk menjadi pasangan hidup.

Bagian Epilog diawali dengan paragraf yang menyentuh. Sungguh penutup kisah yang manis dan dipersiapkan dengan maksimal. Saya jadi melo membaca salam perpisahannya.

Semoga, dengan selesainya kisah ini tidak membuat penulis berhenti berkarya. Siapa tahu muncul tokoh baru dalam bentuk cerpen. 

=====

Curhatan hati ^_^
Saya menemukan buku S. Mara Gd secara tak sengaja. Cetakan yang saya miliki dengan ciri khas latar hitam dan ilustrasi, sekilas mirip dengan buku Agatha Christie. Penasaran saya kenapa ada buku serupa namun pengarangnya berbeda.

Godaan memiliki makin besar terutama ketika itu sedang ada obralan buku terbitan G. Dengan bermodal uang simpanan, saya beli beberapa buku tersebut. Belakangan malah jadi keterusan berburu.

Ternyata, S. Mara Gd dahulu adalah penerjemah kisah Agatha Christie.  Tentunya hal ini mmbentuk cara berpikir hingga mampu menciptakan novel misteri versinya sendiri. Strategi marketing yang cerdik dengan mencetaknya mirip buku AC.

Semoga ada cetak ulang buku-bulu karyanya yang lain kelak.




Minggu, 28 Juni 2020

2020 #24: Mantra Orang Jawa Ala Sapardi


Penulis: Sapardi  Djoko Damono
Penyelia naskah: Mirna Hasanbasri
ISBN: 9786020642932
Halaman:66
Cetakan: Pertama- Mei 2020
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 70.000
Rating:3.25/5

gerah serakah
aku terengah
wahai air
wahai angin
wahai Hyang Maha
siram aku
dengan hakekat-Mu
:
segala tawar
segala segar

Mantra Pengusir Gerah, halaman 56

Suatu saat, saya sedang menjalankan "tugas negara" ke Penerbit Gramedia. Di sana secara tak sengaja, saya mendapatkan info bahwa bakalan terbit  beberapa buku baru dari Sapardi. Mohon dirahasiakan, demikian pesan para sahabat. Baiklah. Setelah sekian lama, ternyata memang benar ada buku baru yang muncul, salah satunya buku ini.

Seperti tak ada yang meragukan kemampuan olah kata seorang Sapardi. Begitu disebutkan buku puisi-baca mantra, saya yang bukan penggemar puisi saja tertarik untuk membeli dan mengoleksinya. Iming-iming tanda tangan saat pemesanan awal juga menjadi salah satu faktor.  


Apa lagi seingat saya, buku ini pernah diterbitkan oleh salah satu penerbit. Saya makin penasaran dengan perubahan apa yang muncul dalam buku ini.  

Pasti ada perubahan, jika tidak bukan penebit Gramedia namanya. Mereka selalu menyajikan hal baru dalam tiap buku yang diterbitkan ulang siapa pun yang menuliskannya. Selalu ada hal berbeda yang ditawarkan sehingga saya tergoda untuk membeli.
Ketika akhirnya buku ini tiba, seperti dugaan saya,memang terdapat beberapa perubahan dalam buku ini dibandingkan buku sebelumnya. Tinggal mencari seperti apa perubahan yang terjadi. Bukan iseng, tapi begitulah kebiasaan saya jika membeli buku yang sama untuk kedua kalinya.

Terdapat lebih dari 50 mantra dalam buku ini, lebih banyak dibandingkan buku sebelumnya. Mulai dari asal-muasal manusia; bunyi & sunyi; biji mantra; mantra pengasih 1-9; mantra mengusai orang; mantra wewe putih; mantra batu terbang; sungai; hingga mantra menjelang tidur. 

Pada buku sebelumnya, Doa Hari Lahir,  diubah  menjadi Mantra Hari Lahir pada buku edisi baru. Lalu Makna Air menjadi Air pada edisi revisi.  Beberapa judul yang ada pada buku sebelumnya namun tidak ada pada buku edisi revisi antara lain Keteguhan; ilmu; mantra jayabrana; ajian semar mesem. 

Sementara pada versi baru pembaca akan menemukan mantra pengusir gerah; jopa-japu; mantra  wewe putih;  mantra menjelang tidur dan beberapa lagi.

Oh ya mantra yang ada pada kover, merupakan Mantra Mengeja Abjad dari halaman 24. Untuk mantra yang lain, sepertinya saya tak perlu memberikan banyak komentar. 

Dari sisi bahasa, terlihat rangkaian huruf yang dijalin menjadi sesuatu yang indah. Sementara dari sisi makna, jika dielaah lebih dalam, banyak hal yang terkandung dalam bait-bait tersebut.

Dari sisi ukuran buku, jelas mengalami perubahan yang signifikan. Ukurannya bertambah besar dibandingkan edisi yang lalu. Jika dulu bisa dimasukkan dalam saku, ukuran sekarang  tentunya butuh saku yang lumayan besar. 

Untuk kover,  batik dengan nuansa warna biru pastinya membuat saya bahagia. Urusan blangkon sempat membuat saya heran. Sepertinya bukan blangkon dari Solo. Ternyata dugaan saya benar, pada pengantar di halaman viii disebutkan dari mana asal blangkon tersebut.

Dari bagian tentang blangkon, saya memperoleh kesan bahwa seorang Sapardi pada dasarnya menerima segala perbedaan. Tidak banyak menuntut. Walau mengatakan "apa  pula bedanya" namun beliau tetap merasa perlu memberikan klarifikasi. Hem..., saya penasaran sepertinya ada kisah  dibalik blangkon pada kover.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mantra diartikan sebagai susunan kata yang berunsur puisi (seperti rima dan irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain. 


Sementara  menurut  majalah pendidikan.com. mantra adalah kumpulan kata-kata yang didukung oleh kekuatan mistis atau magis. Mantra juga termasuk dalam puisi lama, yang dalam masyarakat Melayu tidak dianggap sebagai karya sastra, tetapi lebih terkait dengan kebiasaan dan kepercayaan.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa mantra sering dianggap memiliki kekuatan. Mereka yang dianggap mampu merapal mantra, secara otomatis juga dianggap melakukan banyak hal terkait urusan gaib. 

Maka tak heran jika sejak awal buku, Sapardi  Djoko Damono sudah mengingatkan agar pembaca tak begitu saja percaya dengan hal-hal yang mungkin muncul dari membaca mantra tersebut. Beliau melihat dari sisi lain, dari keindahan bahasa. Namun bagi mereka yang percaya, silakan saja.

Seperti yang saya sebutkan di atas, saya bukan penikmat puisi yang fanatik. Tapi saya bisa menikmati karya ini. Jadi penasaran membaca buku barunya satu lagi. Berburu diskon ah ^_^.

























Selasa, 09 Juni 2020

2020 #23: Misteri Terakhir #1

Penulis: S. Mara Gd
ISBN: 9786020637112
Halaman: 448
Cetakan: Pertama- April 2020
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Rating: 4/5
Harga: Rp 98.000

Maestro memang mantap!
Semula saya sengaja  membeli buku pertama saja. Alasannya sederhana, timbunan yang lumayan tinggi di rumah. Selain itu,  dengan model yang dibagi menjadi tiga buku seperti ini, mungkin saja kisah sederhana sengaja dibuat panjang. Atau buku ini terdiri dari beberapa bagian yang bisa berdiri sendiri. Dugaan saya lho, ceritanya lagi sok tahu wkwkwk.

Ternyata saya salah!
Justru setelah tamat buku pertama ini, tak sabar segera membaca buku kedua dan ketiga.  Buku pertama ini bisa dikatakan sebagai landasan kisah, bagian pembuka. Beberapa tokoh diperkenalkan pada buku ini.  

Seperti biasa,  Daftar Pelaku sudah dicantumkan pada halaman 5-9. Lumayan banyak para tokoh, beberapa sudah bisa ditemukan dalam buku ini. Yang lain menunggu giliran pada buku selanjutnya. Ternyata lumayan banyak juga tokoh yang ikut berperan dalam misteri kali ini.

Kisah dimulai dengan pembicaraan pernikahan  kedua  anak gadis Kapten Kosasih. Selanjutnya terjadi juga pembicaraan perihal pernikahan antara putri Kapten Kosasih, Dessy dengan sahabat sekaligus tangan kanannya Gozali. 

Kisah percintaan yang lumayan unik juga. Bagian ini memberikan  isyarat bahwa keluarga Kapten Kosasih percaya akan kebesaran jiwa Gozali   walau dari sisi keuangan  bisa dikatakan biasa saja, cenderung sederhana malah. Namun kepribadian Gozali yang matang dianggap adalah "harta" bagi mereka.

Memasuki halaman  112-114  mulai timbul masalah yang bisa mengarah pada sebuah kasus. Sebelumnya pada halaman 109-110 terjadi pembicaraan beberapa tokoh mengenai suatu hal. Naluri penasaran saya mulai tergelitik, kenapa hal seperti itu mulai dibahas ya? Apakah mengarah pada suatu peristiwa besar kelak. Baiklah mari kita lanjutkan membaca!

Selain banyak kisah yang dibuat untuk menjadi landasan cerita pada buku kedua dan ketiga, banyak juga kisah tentang hubungan antar tokoh dalam buku pertama ini. Misalnya percakapan di halaman 72, tentang bagaimana seorang tokoh bisa menerima pasangannya berselingkuh disaat ini divonis menderita penyakit berbahaya.

"Pasangan itu harus timbal-balik, saling  memberi. Aku seperti spons, aku cuma bisa menyerap dan menyerap, aku nyaris tidak bisa memberinya apa-apa, aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan. Dia yang terus memberikan kasih dan kekuatannya padaku." Suatu pemikiran yang unik bukan? Umumnya seorang wanita akan merasa tersakiti dan marah ketika tahu suaminya berselingkuh.

Salah satu yang membuat saya penasaran adalah 
adegan percakapan sebelum tidur antara Kapten Kosasih dan istrinya di halaman 374, "Malah ya, Bu, kalau aku mendadak mati, aku bisa mati dengan tenang karen tahu si Goz pasti akan menggantikan tempatku sebagai pelindung dan pemimpin keluarga ini. Aku bisa mati dengan tenang karena tahu istri dan anak-anakku semua pasti bakal aman di tangannya. Aku yakin Goz akan membela keluarga ini dengan naywanya sendiri." Duh, kenapa saya punya perasaan tak enak mengenai percakapan ini ya?

Sama curiganya dan anehnya saya ketika menemukan ada orang yang bisa begitu saja akrab dengan orang lain di halaman 337. Saking mudah akrabnya, malah tokoh kita itu bisa  sampai mengakui berbohong peihal pengakuan telah memiliki pasangan yang sebelumnya ia sampaikan. Kurang pas saja rasanya, naluri saya merasakan bakalan ada kisah terkait adegan pertemuan kedua tokoh ini di pesawat udara.

Saya penasaran dengan kata mbodet di hal 255. "Itulah kalau mbodet. Kira-kira salah satu dari semua wanitanya ini yang membunuhnya," kata Kosasih. "Kalau memang demikian, aku cuman bisa bilang dia pantas mendapatkan ganjaran itu!" 

Oh ya saya menemukan ada pembahasan tentang mata-mata kelas dunia, Matahari disebut pada hal 168.Keren! Penulis bisa memasukkan suatu unsur pengetahuan sehingga pembaca tak hanya terhibur namun juga pendapat ilmu.

Baiklah..., mari kita lanjut buku selanjutnya!
Jika buku pertama saja sudah menawan, bagaimana selanjutnya!




Rabu, 20 Mei 2020

2020 #22: Mendalami Resensi

Judul asli: Inilah Resensi: Tangkas Menilik dan Mengupas Buku
Penulis: Muhidin M. Dahlan
ISBN: 9789791436601
Halaman: 256
Cetakan: Pertama- Februari 2020
Penerbit: I: BOEKOE
Harga:Rp 65.000
Rating:3.75/5

"Tak ada resensi buku tanpa lewat praktik membaca.... Meresensi adalah menuliskan kembali apa yang tersirat maupun tersurat dalam buku yang dibaca."
~Muhidin M. Dahlan~

Urusan meresensi bagi beberapa orang merupakan hal yang rumit. Sementara bagi yang lain, semudah mengedipkan mata.  Membuat resensi sebenarnya tak terlalu sulit, hanya butuh hanya latihan dan membaca buku pedoman bagaimana membuat resensi agar bisa menghasilkan karya yang  makin baik.

Salah satu buku yang bisa dibaca adalah Inilah Resensi:Tangkas Menilik dan Mengupas Buku besutan Muhidin M. Dahlan. Dalam 256 halaman, pembaca akan mendapatkan informasi langkah-langkah untuk membuat resensi. 

Selain itu, juga akan ditemukan bagaimana cara agar pembaca bisa menikmati dan menyerap inti buku. Dengan demikian ia bisa membuat sebuah resensi yang baik. Karena dengan paham dan menikmati sebuah buku, seseorang bisa menceritakan ulang dengan lebih baik berikut memberikan informasi kelebihan dan kekurangan dari buku ini dengan lebih obyektif.

Guna membuat pembaca lebih mudah memahami, penulis memberikan contoh resensi dari berbagai buku yang dibuat oleh perensesi. Hal ini membuat teori yang diberikan menjadi mudah dipahami karena tersedia contoh menerapannya secara langsung.

Buku ini juga memuat beberapa padanan istilah yang dipergunakan seperti  peresensi alias pengupas alias penilik buku. Ir.Sukarno, Presiden pertama kita menyebutnya sebagai tilikan, semacam apresiasi bagi buku yang dibaca. 

Pada salah satu bagian, disebutkan bahwa untuk menarik minat maka buatlah judul yang menarik perhatian. Misalnya dengan mempergunakan kata-kata yang bombastis. Setelah orang tertarik membaca judul, umumnya akan meneruskan dengan membaca isinya.

Saya jadi teringat resensi yang dibuat oleh beberapa sahabat. Setiap orang memiliki cirinya masing-masing. Tak ada yang salah atau benar menurut saya. Tak ada yang paling baik, karena tiap tulisan memiliki pembacanya masing-masing.

Jangan lupa untuk selalu ingat perbedaan antara blurd, sinopsis serta resensi. Blurd merupakan  konten promosi yang ada di bagian belakang buku. Tujuannya agar  calon pembaca merasa tertarik akan isi buku tersebut.

Sementara sinopsis merupakan versi singkat dari isi buku. Untuk buku non fiksi, akan disebutkan tujuan penulisan buku serta apa yang ingin dicapai dari membaca buku itu, ditambah dengan uraian singkat tentang isi buku. Jika buku itu novel, maka akan dijelaskan inti kisah, latar belakang peristiwa, awal mula konflik hingga solusinya. 

Resensi merupakan tanggapan pribadi atas isi sebuah buku. Umumkan akan disebutkan kelebihan serta kekurangan dari buku itu, dengan alasan yang masuk akal dan jelas.  Akan dicantumkan juga beberapa referensi terkait topik yang dibahas jika memungkinkan. Tergantung pada si pembuat resensi.

Penulis-Muhidin M. Dahlan, membuat buku ini berdasarkan pengalamannya selama ini. Tiap orang tentunya mempunya pengalaman yang berbeda. Tentunya mempunya tips dan triks yang membuat bagaimana karyanya diminati banyak orang,

Muhidin M. Dahlan lahir  pada 12 Mei  1978 di Donggala, Sulawesi Tengah. Ia juga merupakan seorang  Guru Utama di program Kelas Menulis Kreatif yang diselenggarakan Radio Buku. Pendiri Yayasan Buku Indonesia dan  databuku.id ini bisa melalui surel di gusmuh12@gmail.com atau twitter  @warungarsip | @radiobuku, atau laman MUHIDINDAHLAN.RADIOBUKU.COM.

Beberapa karyanya antara lain; Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (2003); Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan (2009);  Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku (2009); Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku (2011); Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor (2016).














Senin, 04 Mei 2020

2020 #21: Kisah Petualangan Raffles Holmes & Co.

Penulis: John Kendrick Bangs
Penerjemah: Armyanti Aprellia
Editor: Anton WP
ISBN: 9786237245292
Halaman: 144
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: BukuKatta
Harga:Rp 55.000
Rating: 3.75/5

Jika kulakukan dengan cara Raffles saja, aku bisa saja menjadi milyuner di dunia yang berlimpahan uang dan kemewahan ini, karena orang-orang kaya di sini sangat teledor-tapi jika begitu ke mana perginya hati nuraniku? Di sisi lain, jika hanya menggunakan cara Holmes, aku akan mati kelaparan, tapi dengan kombinasi itu-ah-ada cukup uang, Sobatku, dengan sedikit ketenangan hati.

~Raflles Holmes &Co, hal 49~

Serupa dengan Sherlock Holmes yang membutuhkan Dr  John A Watson  untuk menuliskan kisah-kisahnya,  Arthur J. Raffles  yang membutuhkan Harry "Bunny" Manders.  Atau  Hercule Poirot  yang  didampingi Kapten Arthur Hasting.  Maka wajarlah jika seorang  campuran Holmes dan Raffles juga membutuhkan pendamping untuk bisa mendokumentasikan kegiatannya. Setiap tokoh besar memiliki pendamping, demikian juga dengan seorang Raffles Holmes.
   
Entah bagaimana dunia harus menerima,  ketika seorang detektif  jatuh cinta dan menikah dengan seorang anak pencuri budiman. Dua sosok yang berlawanan menjalin hubungan keluarga melalui sebuah pernikahan. Belum jelas "jalur" mana yang dipilih oleh anak keturunan mereka. Tentunya akan menarik untuk disimak.

Dalam versi ini, disebutkan bahwa Holmes jatuh cinta pada putri tunggal Raffles-Maejorie. Mereka bertemu ketika Holmes sedang menyelidiki sebuah kasus.  Cinta mengalahkan segalanya, Holmes menikahi Maejorie dan kasus ditutup tanpa penyelesaian. Sebuah hal yang tak biasa mengingat selama ini seorang Holmes selalu bisa menyelesaikan kasusnya,

Pernikahan tersebut melahirkan sebuah anak laki-laki yang dikenal dengan nama Raffles Holmes. Buku ini menawarkan sesuatu yang unik, kisah yang disampaikan langsung dari mulut Raffles Holmes  dan dicatat oleh Mr Jenkins seorang penulis. Terdapat 8 kisah mengenai  sepak terjang Raffles Holmes sendiri,  1 kisah mengenai pertemuan dirinya dengan Jenkins, serta kisah mengenai asal mula  dirinya.

Kisah favorit saya adalah kisah Nostalgia Nervy Jim Si Penjambret di halaman 97. Pertemuan tak sengaja antara  Raffles Holmes  dengan Nervy Jim, yang semula mengira ia adalah Sherlock Holmes tokoh yang membuatnya dipenjara,  membuat Holmes berada dalam sebuah petualangan yang tak terduga. 

Ternyata Nervy Jim lebih menyukai kehidupannya di penjara. Ia tak usah memikirkan bagaimana cara mencari makan, di mana ia tinggal, semua kebutuhan terpenuhi.  Maka muncul permintaan anehnya agar Holmes muda membuatnya dipenjara. Bukan Raffles Holmes jika tidak bisa memecahkan masalah tersebut.

Ketika itu, hukuman untuk pencuri lumayan lama. Dengan berada lama di penjara maka kehidupan Nervy Jim akan terpenuhi  sekitar 5-15 tahun, lumayan lama juga.  Ironi bukan, ketika tempat yang paling aman dan nyaman bagi seseorang justru berada di tempat yang tak diinginkan oleh kebanyakan orang. 

Dari kisah-kisah yang disampaikan, terlibat sekali bagaimana Holmes mewarisi kecerdikan ayahnya. Tak ada masalah yang tak bisa ia selesaikan. Ditambah seperti juga Holmes dan Raffles, ia memiliki kepandaian menyamar yang sangat mumpuni. Unsur Raffles dalam dirinya muncul dalam upaya mencari keuntungan dalam tiap tindakan. 

Contohnya, bagaimana ia tak sengaja berada dalam Kasus Kamar 407. Kecerdikannya membuatnya tahu sedang terjadi sebuah tindak kejahatan. Dengan melibatkan diri dalam kasus tersebut, ia tak hanya membantu pihak lain menggagalkan sebuah kejahatan, tapi juga mendapat keuntungan bagi dirinya.

Atau jika perlu, Raffles Holmes menciptakan sebuah kasus, seperti Kasus Tanda Terima Bagasi Kuningan, lalu dengan cerdiknya mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri. Sisi baiknya muncul ketika ia membagi dua keuntungan yang ia peroleh dari aksinya dengan Jenkins. 

Jika menilik kisah kemunculan J.A Raffles, keberadaannya diciptakan pada tahun 1898 oleh EW Hornung,  ipar dari Sir Arthur Conan Doyle. Raffles diciptakan sebagai sosok yang berlawan dengan Holmes. Seorang olahragawan profesional,  ramah dan menarik, namun ternyata adalah pencuri profesional yang hanya mencuri milik si kaya. Doyle sendiri yang menyarankan agar Raffles dipertahankan  sebagai sebuah seri.

Memadukan dua sifat yang berbeda dalam satu orang tentunya akan menjadi suatu kisah yang seru. Selain kisah pemecahan misteri, pembaca juga akan disuguhi bagian pertentangan batin dalam sosok Holmes Raffles. Bagian ini  paling menarik

Untung ada Jenkins! Keberadaan Jenkins tak hanya menjadi juru catat kisah Raffles Holmes, namun juga menjadi penjaganya. Ia harus memastikan sisi Raffles dalam diri Raffles Holmes  tidak menguasai dirinya.   Dengan kata lain Jenkins harus selalu mengingatkan agar sahabatnya itu tidak melakukan perbuatan yang menyimpang. Contohnya ada dalam kisah  Kasus Stomacher Berlian Mrs Burlingame.

Lebih jelas, simak yang tertera di halaman 38, " Raffles dalam diriku juga mengatakan demikian, tapi Sherlock Holmes yang ada dalam nadiku berkata lain-aku tak bisa menyimpannya,..." Meski sukses memecahkan misteri pencurian benda berharga, godaan tetap saja muncul.

Pada halaman 39, terlihat jelas pertentangan batin dari seorang anak yang berasal dari dua "jalur" yang sangat bertentangan. "Dari sisi ayahku," katanya serasa mendesah. "Dari sisi ibuku, itu sedikit sulit." Tugas  Jenkins  tidaklah semudah yang ia kira.

Dari sudut pandang saya, tak hanya Raffles Holmes yang mendapatkan keuntungan dari penjualan kisah-kisah yang dicatat oleh Jenkins.  Keduanya saling memberikan keuntungan. Sebenarnya, menurut saya Jenkins lebih mendapat keuntungan dari sisi keuangan. Tak hanya royalti yang ia bagi berdua dengan Holmes, tapi juga mendapat keuntungan dari kiprah Holmes memuaskan sisi Raffles dalam dirinya.

Pembaca akan menemukan banyak paragraf dengan kalimat yang panjang. Paragraf yang ada di halaman 55 sebagai contoh. Terdiri lebih dari 20 baris. Kemudian pada hal 103, terdapat lebih dari 60 baris. Butuh konsentrasi ekstra untuk menamatkan sebuah paragraf seperti itu. Tapi percayalah, usaha sepadan dengan hasil.

Kover buku ini juga menarik. Kesannya mewah dengan nuansa abu-abu dengan ilustrasi gambar beberapa pernak-pernik seperti siluet wajah, pipa, topi dan kaca pembesar yang langsung mengingatkan saya pada sosok Sherlock Holmes. Sementara untuk sosok Raffles, saya masih belum yakin mana yang bisa merepresentasikan dirinya.

Mungkin karena pembaca kita lebih sering dicekoki dengan sosok Holmes. Sementara pengenalan akan sosok Raffles selama ini tak seperti Holmes. Seingat saya baru ada beberapa buku  terjemahan yang beredar dengan mengusung Raffles sebagai tokoh utama.

Bacaan yang cocok bagi segala umur mulai lagi remaja. Bagi mereka yang menyukai kisah detektif,  buku ini wajib dibaca karena Anda akan menemukan trik yang tak biasa. Apalagi fans berat  kisah-kisah Sherlock Holmes, buku ini wajib dibaca. Sosok Raffles Holmes menyerupai ayahnya Sherlock Holmes namun dalam versi yang lebih sesuai dengan jiwa anak muda. 

Sang penulis, John Kendrick Bangs (27 Mei 1862 - 21 Januari 1922) diakui sebagai penulis satire ternama Amerika di zamannya, dan pelopor Fantasi Bangsian modern, aliran penulisan fantasi yang menceritakan kehidupan sesudah kematian dalam seluruh atau sebagian plotnya. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1906.

Buku ini mengembalikan sensasi membaca yang sempat hilang beberapa waktu lalu. Melalui buku ini, membaca tak hanya sekedar mengisi waktu luang, memenuhi target RC di GRI, atau mengurangi timbunan yang terbengkalai. Buku ini menimbulkan lagi rasa penasaran melahap tiap halaman, tersenyum puas ketika suatu kisah tamat. Semangat membacaku bangkit kembali melalui buku ini. 

Spektakuler