Jumat, 11 Mei 2018

2018#10: Kisah Dibalik Topi Hamdan

Penulis: Auni Fa
Editor: Iswan Heriadjie
Ilustrator: Prabowo
ISBN: 9786029251401
Halaman: 346
Cetakan: Pertama-November 2017
Penerbit: Metamind
Harga: Rp 45.000
Rating: 3.25/5

Bicara tentang cinta tak akan pernah ada habisnya. Akan selalu muncul sebuah kisah cinta yang baru, padahal kisah yang lain belum berakhir. Begitulah, selama masih ada putaran bumi, maka masih akan ada terus bermunculan aneka kisah cinta.

Buku ini, dengan caranya sendiri mengajak kita mengikuti kisah cinta seorang wanita yang tak pernah habis dari seorang pria bernama Hamdan. Apa? Ah, tak selalu kisah cinta itu antara sepasang kekasih yang dilanda badai cinta. Ini kisah cinta suci, kasih sayang seorang ibu pada anak laki-lakinya. Kisah tentang bagaimana seorang anak bisa bertahan hidup dengan selalu mengenang kasih sang ibu.

Hamdan mungkin terlalu kecil untuk paham tentang makna kehidupan. Mengapa sang ibu justru menikah lagi dengan pria yang tak pernah bersikap baik.  Hamdan ikut merasakan siksaan. Selain harus berbagi semua miliknya secara paksa dengan adik tiri yang manja,  ia juga  sampai putus sekolah dan nyaris membusuk di penjara.

Dia hanya paham  sang ibu begitu mencintainya. Hamdan selalu berusaha untuk bisa bertahan dalam segala cobaan karena ingat aneka dongeng sang ibu.  Perlahan, ia juga mulai menceritakan dongeng-dongeng sang ibu pada orang terdekat yang menurutnya sangat membutuhkan.

Dan saya sebal, sungguh sebal karena penulis mampu membuat saya menintikkan air mata haru. Sejak awal, walau sudah digambarkan hidup dalam situasi yang serba sulit, tetap saja ada bagian yang membuat saya merasa sangat kasihan akan nasib Hamdan. Penulis membawa penderitaan Hamdan pada klimaks yang tak terduga. Sungguh, saya jadi ingin memeluk dan mengusap punggung Eyang Hamdan sebagai tanda menguatkan.

Awalnya, penulis membawa pembaca pada situasi seakan sedang membaca novel tentang ratapan anak tiri. Belakangan penulis justru membuat betapa anak tiri tersebut lebih beruntung dari pada Ramdan. Perasaan pembaca seakan diaduk-aduk tak karuan. Sedih, marah, kecewa plus bumbu bahagia. Lho kenapa? Bukan bocoran kisah, tapi begitulah umumnya akhir kisah tentang anak tiri^_^. Setelah menderita sekian lama akhirnya akan merasakan kebahagian dan kenikmatan hidup.

Beberapa hal sedikit mengusik rasa penasaran saya. Halaman 28 sebagai contoh. Tertulis, " Hamdan tak mau merusak sifat itu dengan menelantarkan dua saudara tirinya." Kenapa dua saudara tiri? Bukankah hanya ada adik tirinya saja? Atau ayah tiri juga dianggap saudara? Tentunya makna saudara dan ayah jelas berbeda. Akan lebih pas jika ditulis saja ayah dan adik tirinya.
Lalu bagaimana nasib satu-satunya orang yang bisa dikatakan sebagai keluarga  Ramdan? Tak ada kelanjutan kisahnya. Menilik kisah ini, harusnya mereka akan langsung mendekati Ramdan bak burung bangkai siap memakan bangsa. Sekarang ia sudah punya uang banyak, perlu dimanipulasi agar mau membagikan hartanya, kurang lebih begitu jika mengikuti kisah ala sinetron lokal. Hal yang sama seperti dilakukan oleh adik dan bapak tirinya dulu.

Ada satu bagian yang seakan menyindir kondisi hukum di tanah air. Pada halaman 44 tertulis, "Kau tahu, Pak... sebenarnya di zaman sekarang ini, Siapa yang bisa bayar, itu yang menang." Suaranya lirih, namun kalimat itu serasa lebih tajam dari belati.

Dengan mengambil pola bercerita pendek namun padat tiap bagian, pembaca akan sedikit sekali menemukan bagian yang sia-sia, bagian yang seakan dipaksakan ada dalam kisah. Cara penulis bercerita bisa dikatakan mengalir lancar.

Sayangnya, bagian akhir dibuat sedikit lebay ala sinetron lokal (baiklah, saya memang kurang suka dengan sinetron lokal). Walau sedih, sepertinya apa yang dilakukan oleh sang tokoh pembantu wanita (maksudnya tokoh yang muncul belakangan dan mulai memberi warna dalam kisah ini) agak tidak sesuai dengan kepribadiannya. Maaf, saya tidak bisa menyebutkan apa, nanti dikira spoiler, baca makanya  ^_^.


Banyak kisah fabel-kisah mengenai binatang yang bisa ditemukan dalam buku ini. Dalam kisah fable, binatang bertindak seakan-akan manusia baik dari tingkah laku, sifat, dan lainnya. Tujuannya untuk memberikan pendidikan moral bagi pembacanya.

Kisah yang ada di halaman 61 sebagai contoh. Penulis mengisahkan tentang semut yang memiliki sifat pantang menyerah.
"Kau tahu, Nak, bahwa untuk ukuran sekecil semut pun, Tuhan telah menggariskan hidup yang menakjubkab. Dengan perjuangan, doa, dan sabar, Tuhan memberikan jalan Ong untuj menentukan kelompok semut yang sejenis dengannya. Maka, kalau kita sebagai makhluk yang paling mulia di jagat ini, sudah pasti Tuhan lebih menyayangi kita. 

Saya penasaran dengan yang disebut dengan topi pelukis, topi yang merupakan produk dari Eyang Hamdan dan sahabatnya.  Kenapa ada yang menyebutkan topi flat copet pelukis. Kok sepertinya tak enak saja ada kata copetnya. Jika masih ada yang penasaran, coba perhatikan secara seksama kover, ada penampakan seorang pria tua menggunakan topi.Bisa kita asumsikan itu adalah Eyang Hamdan dengan topi pelukisnya.

Secara keseluruhan, pembaca akan mendapat banyak pesan moral yang bisa menggugah rasa cinta pada orang tua, kasih sayang dan sifat memaafkan, serta semangat untuk hidup. Meski untuk itu, pembaca juga harus bersabar membaca bagian yang mengisahkan betapa kesengsaraan gemar menghampiri tokoh kita, Hamdan.

Membaca judul asli yang lumayan panjang, ada rasa iseng untuk mengotak-atik judul menjadi lebih singkat tapi pas menggambarkan keseluruhan isi kisah. Tapi apa ya...? Ada usul?


Sumber gambar:
https://www.tokopedia.com/grahagaya
Dokumentasi pribadi penulis

Senin, 23 April 2018

2018#9: Misteri Hilangnya Wanita di Kabin Sebelah

Judul asli: Women in Cabin 10
Penulis: Ruth Ware
Penerjemah: Reni Indardini
ISBN: 9786023852840
Halaman: 484
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 84.000
Rating: 3,5/5

AKU TIDAK INGAT MEMIKIRKAN apa sewaktu tenggelam. Aku hanya ingat akan cemburan yang melinukan tulang-tulang saat aku jatuh ke laut dan suhu dingin air yang melumpuhkan. Aku juga ingat akan rasa panik yang mengaduk-aduk perutku saat arus menyambarku dan menyeretku ke bawah.

Lo Blacklock sudah lama menginginkan tugas yang menurutnya menyenangkan, meliput suatu perjalanan dengan fasilitas mewah. Suatu kemewahan yang harus dibayar dengan menulis artikel pesanan.  Akhirnya, kesempatan yang  ia tunggu datang jua. Kebetulan, salah satu staf yang biasa mendapat tugas tersebut sedang cuti. Dan ia adalah kandidat pengganti utama.

Bisa dikatakan perjalanan tersebut  sekaligus hiburan baginya. Ia sangat butuh hiburan guna menghilangkan, minimal mengurangi trauma yang dialami ketika rumahnya disatroni maling. Nyaris ia celaka ketika memergoki sang maling beraksi. beberapa saat ia tak berada tidur karena trauma. Kapal pesiar sepertinya merupakan tempat yang cocok untuk niatnya itu. Lagi pula bahaya apa yang bisa mengancamnya di lautan lepas?

Harapan tinggal harapan. Justru di sana ia malah mengalami berbagai kejadian yang tak menyenangkan. Tak sengaja ia mendengar ada orang yang terjatuh ke laut. Naluri jurnalistiknya terusik. Penasaran ia keluar dari kabin, tak ada siapa-siapa, ia hanya menemukan bercak darah.

Sayang tak ada yang mau percaya. ocehannya. Wajar, menimbang kondisinya yang dianggap depresi serta  malam sebelumnya  ia dalam pengaruh alkohol. Pihak keamanan kapal berusaha bersikap sopan dengan melakukan penyelidikan sesuai laporannya. Penyelidikan tanpa hasil.

Tak ada sosok yang menghilang dari kapal. Dari kru hingga penumpang semuanya sesuai dengan daftar yang ada. Persoalan makin runyam karena ternyata tak ada yang menempati kabin nomor sepuluh yang terletak di sebelah kabinnya. Semua orang juga bersikeras mengatakan kabin tersebut kosong, padahal Lo sangat yakin sempat berbicara dengan wanita yang mengaku menginap di sana.

Lalu siapakah sosok wanita misterius itu? Siapa juga sosok yang jatuh ke laut malam itu? Mungkinkah ada hubungan antara kedua wanita tersebut? Nalurinya terusik untuk menyelidiki. Bukan hal mudah,  ada yang berusaha menghalanginya. Nyaris saja nyawanya ikut melayang  ketika melakukan penyelidikan.

Novel ini terdiri dari delapan bagian, tiap bagian menyajikan peristiwa yang mendebarkan. Dimulai dengan bagian yang mengisahkan tentang perampokan di tempat Lo, situasi di kapal pesiar, kondisi ketika Lo disekap, hingga ia menikmati malam romantis dengan sang kekasih.

Bagian awal sudah menawarkan suasana mencekan pada pembaca. Adegan maling yang memasuki rumah Lo cukup membuat was-was. Penulis menggambarkan dengan apik kengerian yang dirasakan oleh Lo. Bagian menjadi landasan kuat agar pembaca bisa memahami bagaimana depresinya Lo.
 Jangan terkecoh dengan beberapa bagian yang seakan-akan membuat kisah selesai dengan sederhana. Waspadalah!  Banyak hal tak terduga yang menanti Anda. Kisah ini tak sesederhana judul yang ditampilkan. Urusannya lebih rumit dan membutuhkan seorang pemikir ulung.

Bagi pencinta kisah detektif, tentunya akan paham bahwa kadang sebuah hal kecil menjadi kunci jawaban dari misteri yang ada. Demikian juga dengan kisah ini, banyak petunjuk yang terbaran dan siap untuk ditelaah. Sekedar informasi, perhatikan seksama apa yang diuraikan di halaman 14x

Dengan hanya melihat kover, pembaca akan langsung bisa menebak ada sebuah kasus pembunuhan yang terjadi di atas kapas pesiar. Hal ini bisa terbaca dari ilustrasi air yang seolah berwarna merah dan berada di sekitar kapal. Merah sering dianalogikan sebagai darah, dan jika ada darah yang membanjir seperti itu maka bisa dipastikan sudah terjadi sebuah tindakan pembunuhan.

Ada suatu paragraf  yang menyebutkan dengan gamblang merek suatu produk kecantikan. Tepatnya pada halaman 73, "Dia mundur sambil menutup pintu dan kemudian muncul lagi sambil membawakan setube maskara Maybelline...." Penasaran saja, kenapa sampai disebutkan secara jelas begitu. Apakah ada pesan sponsor? Jika ini memang iklan terselubung, layak diberi jempol.

Meski demikian, hal ini juga bisa memberikan kesan negatif, sebagai kosmetik yang terkait tindak kejahatan dalam sebuah buku. Namun menilik kebiasaan manusia pada umumnya, justru akan banyak pembaca yang ingin tahu seperti apa maskara tersebut. Lumayan untuk membuat penasaran pembaca.

Awalnya saya sempat agak enggan membaca kisah ini. Lebih karena merasa kenapa harus menemukan tokoh dengan kondisi teler, kebanyakan minum keras. Belakangan beberapa buku yang saya baca menampilkan karakter seperti itu.  Membuat saya merasa bosan. Untunglah, mulai melewati nyaris 1/4 buku karakter utama tokoh mulai berkembang menjadikan kisah lebih menarik.

Secara garis besar, buku ini layak dibaca sebagai hiburan bagi mereka yang menyukai kisah thriller dan misteri. Kita juga bisa mendapat pembelajaran mengenai bagaimana semangat Lo untuk bertahan hidup. Belakangan ia malah mendapat hadiah tak terduga dari seseorang yang ternyata mengagumi semangatnya untuk hidup.
Meski demikian saya tidak memberikan 4 bintang karena ada adegan yang kesannya dipaksakan. Entahlah, bagi saya situasi penyiksaan yang dialami oleh Lo, harusnya membuat ia kehabisan tenaga, apa lagi obatnya tak diminum teratur. Sehingga agak aneh ketika mendadak ia bisa memiliki kekuatan untuk melakukan banyak hal, meski kadang dalam kondisi terjepit seseorang bsia memiliki kekuatan yang tak terbayangkan.

Oh ya, dalam buku ini juga disebutkan mengenai buku yang disukai leh Lo, Winnie The Pooh. Kebetulan penerbit ini juga mengemas ulang kisahnya. Ada dua kisah yang diterbitkan, berikut tautan untuk buku Winnie The Pooh, dan bagi buku The House of Pooh Corner. Tautan menarik terkait kisah ini ada  di sini. Ternyata, sebuah buku cerita bisa membuat lawan menjadi kawan.

Saya sedang berusaha mengingat, entah di buku apa dan kapan, sepertinya saya pernah membaca kisah serupa. Mungkin dalam salah satu kisah Poirot, atau kisah yang lain. Jika Anda sudah selesai membaca  kisah ini dan berhasil menemukan kisah yang serupa, tolong kabari saya ya. Penasaran.


Sumber gambar:
 http://goodreads.com