Kamis, 08 Oktober 2020

2020 #40: Kisah Megamendung Kembar

Penulis: Retni SB
Editor: Ike Pudjawati
ISBN: 9786020332307
Halaman: 30
Petakan: Pertama-2016
Penerbit: PT Gramedia Pustaka
Rating: 3.75/5

Wong urip iku... nggawa nasibe dewek-dewek. Jadi lakoni bae.
(Orang hidup itu... membawa nasibnya masing-masing. Jadi jalani saja)

Jangan memaksa diri, nanti malah jadi penyakit

Perjalan kehidupan, kadang unik. Tak ada yang pernah tahu apa dan bagaimana kehidupan ini. Jalani saja semuanya dengan iklas, karena itulah yang terbaik yang diberikan oleh Sang Pencipta. Kurang lebih demikian makna yang bisa dipetik dari pandangan hidup tokoh dalam kisah ini, Embah Sinur, seorang tokoh pembatik.  Embah dari Awie.

Siapa yang  mengira, kehidupan Awie berubah begitu ia memutuskan untuk  menjenguk Embah di kampung. Sekedar berkunjung seminggu melepas rindu, berubah menjadi menetap dan melakukan banyak hal yang tak akan pernah dibayangkan oleh seluruh kelaurga besarnya,

Seluruh kisah dalam buku ini terbagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama mengenai sosok Awie. Dikisahkan bagaimana Awie yang merupakan seorang desainer jempolan mulai merasakan kejenuhan bekerja di tempatnya sekarang.

Suasana kerja sudah sangat tidak konduksif baginya. Perubahan suasana seperti berlibur ke rumah Embah di Kampung Kalitengah, Cirebon, sepertinya bisa membantu untuk meningkatkan kembali suasana hatinya.

Awie memutuskan untuk membangun lagi kejayaan batik milik Embah. Hal tak mudah mengingat selama ini pengetahuannya tentang batik sangat minim. Ia harus banyak belajar, tak hanya belajar membatik, menarikan jari-jarinya di atas kain mori dengan lincah.Tapi juga belajar falsafah laku urip-cara hidup, sebagai manungsa-manusia. Hal ini yang membuat batik Embah memiliki nuansa berbeda setiap kali Awie membelai batik buatan Embah.

Bagian kedua mengenai Embah. Kisah mundur ke  sekitar tahun 1948. Berkisah mengenai bagaimana perkembangan industri batik saat itu. Suasana yang mulai rawan seiring dengan khabar  angin yang menyebutkan bahwa Belanda akan kembali menduduki Indonesia, hingga kisah cinta beliau.
Batik itu jagatnya Sinur. Dia akan selalu merasa terpanggil dan rindu untuk menggerakkan canting-cantingnya di atas mori . 
Bagi Embah, batik adalah napasnya, kehidupannya. Pembaca benar-benar dibuat seolah-olah berada di dekat  Embah muda. Ketika ia menemukan cinta, tercampakkan,  dan membuka usah batik sendiri. 

Kekuatan kisah bisa disebutkan justru berada pada bagian ini. Segalanya digambarkan dengan sangat pas, seakan-akan saya sedang menikmati sebuah film dimana Embah adalah tokoh utamanya, semua begitu tergambar dengan jelas.  

Sementara bagian terakhir merupakan penutup yang berisikan aneka pertanyaan  yang muncul pada 2 bagian sebelumnya. Tentang bagaimanakah cinta  masa lalu pada akhirnya harus berakhir, bagaimana asal mula munculnya Megamendung kembar,  Terpenting,  jawaban kemana hati  Awie berlabuh. Apakah pada teman masa kecil, atau teman mencari jawaban atas Megamendung kembar .

Berbeda dengan bagian sebelumnya,  pembaca disuguhi perihal beberapa hal yang  kesannya hanya sebagai pelengkap semata.  Seakan sekedar menjawab  berbagai pertanyaan yang muncul.  Aura penulis yang begitu menonjol pada bagian dua, seakan menguap pada bagian ini.  

Ada beberapa bagian yang mampu menguras air mata pembaca karena merasa terharu. Andai bagian ini diolah dengan lebih maksimal lagi, tentunya akan menghasilkan bagian pamungkas yang lebih menawan lagi. Menjadi gong yang "berbunyi" lebih nyaring sebagai tanda penutup kisah.

Para penyuka kisah roman, akan sangat menyukai bagian ini. Sedikit bocoran, pada halaman 133 dan  309  Embah mengajarkan bahwa cinta sejati itu ada, cinta tak harus memiliki. Menyentuh. Siapkan saputangan Anda! 

Megamendung yang menjadi judul kisah ini, bukanlah batik Mengamendung biasa. Motif awan memiliki 9 gradisi warna biru dengan dasar merah.  Mulai dari warna putih hingga biru tua. Hal menyalahi pakem, karena Megamendung biasanya memiliki 7 gradisi. 

 Panduan warna tersebut langsung membuat saya teringat pada plastik belanja salah satu toko batik yang ada di kawasan Trusmi. Dasar plastik putih, tulisannya merah bercampur biru, sedangkan megamendung yang ada diberi warna biru.

Menurut pakem leluhur, Megamendung diciptakan  dengan gradasi tujuh. Hal ini dianggap sakral, karena  menyimbolkan tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang. Serta untuk menggambarkan lapisan lagit di jagat raya dan lapisan tanah di bumi, tujuh lapis.  Kalaupun saat ini ada yang membuat hanya sedikit, satu, tiga atau lima, adalah guna menyingkat waktu.

Jika mengacu pada kisah, saya jadi bertanya-tanya kenapa kover buku ini bukan berwarna merah agar mirip dengan warna Megamendung yang menjadi inti kisah. Untuk hiasan di pinggir, diberikan warna biru. Jumlah lapisan tidak perlu sama, hanya sekedar mengambil kemiripan saja. Meski, dengan  warna yang sekarang juga sudah pas. Gambar canting dan lainnya membuat kesan tradisional terasa sekali.

Secara keseluruhan, menurut saya  kisahnya cenderung sederhana. Namun penulis mampu membuat kisah sederhana ini menjadi sesuatu yang luar biasa indah. Belum lagi, aneka pengetahuan seputar membatik yang begitu kental dalam buku ini, membangkitkan suasana tradisional yang indah. 

Tak perlu khawatir, pengetahuan yang dibagikan penulis sebenarnya hanya bersikap pengetahuan umum saja tapi patut dipuji. Karena bisa dikatakan hal ini merupakan salah satu cara memperkenalkan seni batik pada masyarakat luas dengan cara yang unik, melalui novel. Juga untuk melestarikan kesenian tersebut.

Oh ya, jika pembaca tak paham dengan istilah yang dimaksud, penulis juga memberikan penjelasannya, tak pelit ilmu. Sebagai contoh, di halaman 57, disebutkan tentang  nyolet-memberi warna dengan kuas atau kayu berujung  spon pada ragam hias berukuran kecil,  nganji-pemberian kanji setelah kain dicuci tapi tidak semua batik memerlukan proses ini.

lalu ngemplong-penghalusan permukaan kain dengan jalan dipukul-pukul dengan alat pemukul dari kayu agar kain tidak kaku dan mudah menyerap malam dan warna, nyelup-memberi warna pada kain dengan teknik pencelupan, serta nglorod-membuang malam yang sudah tidak diperlukan lagi dari kain agar motif batik terlihat.

Selain itu juga ada beberapa kata yang menggunakan bahasa daerah. Sering kali saya tertawa lebar ketika menemukan kata-kata tersebut. Pembaca juga bisa  ikut tertawa bersama saya, karena penulis memberi tahu mengenai arti kata tersebut. 

Contohnya di halaman 192, "Emak dan Bapak sama ternganganya. Lupa mingkem sekian lama."Makna atau arti harafiah mingkem oleh penulis diartikan sebagai mengatupkan bibir pada catatan kaki. Paham dong kenapa saya tertawa he he he.

Ada juga penggunaan bahasa daerah yang langsung diberikan maknanya dalam kalimat. Misalnya yang ada pada halaman 256. Tertetulis, "Ini sudah bagus. Kalau tiap hari membatik, pasti bisa lebih bagus lagi. Tangan jadi lanyah.  Lanyah. Terampil karena terbiasa." Jadi selain mendapat pengetahuan perihal batik, pembaca juga mendapat tambahan kosakata bahasa daerah.

Penulis juga menggambarkan bagaimana suasana di Kampung Kalitengah, Trusmi,  dan sekitarnya. Tidak saja bagaimana kehidupan masyarakat, namun juga  kuliner serta keindahan alam. Beberapa bagian yang mengisahkan Awie menikmati makanan tradisional setempat, bisa membuat air liur kita  menetes. Jadi pensaran kapan-kapan jika berada di daerah sana untuk menikmati kuliner yang sering disantap Awie.

Keunikan lain dari buku ini, ada pada pemberian nomor halaman. Tidak seperti buku pada umumnya, nomor halaman tidak diletakkan di bagian bawah halaman. Namun diletakkan di  bagian pinggir tengah halaman. Sejajar  baris. Kecuali untuk halaman pertama setiap awal bagian, posisinya tetap pada bagian tengah bawah halaman.

Buku yang layak direkomendasikan bagi banyak pihak.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar