Jumat, 25 Januari 2019

2019#2: Kisah Sari Gadis Bersampur Merah


Penulis: Intan Andaru
Penyunting: Dwi Ratih
ISBN: 9786020621951
ISBN Digital: 9786020621968
Halaman: 216
Penerbit: PT Gramedia  Pustaka Utama
Harga: Rp 70.000
Rating: 3/5

Podo nonton, pudak sempal ring lelurung Ya, pendite pudak sempal, lambeyane para putra Para putra, kejalan ring kedung Lewung Ya, jalang jala sutra, tampange tampang kencana

Kembang Menur, melik-melik ring bebentur Ya, sun siram alum, sun petik nyirat ati Lare angon, gumuk iku paculana Tandurana kacang lanjaran, sak unting ulih perawan

Kembang Gadung, sak bulung ditawa sewu Nora murah nora larang, kang nowo wong adol kembang Wong adol kembang sun barisno ring Temenggungan Sun iring Payung Agung, labeyane mebat manyun

Kembang Abang, selebrang tiba ring kasur Mbah Teji balenana, sun enteni ning paseban Paseban Agung, kidemang mangan nginum Sleregan wong ngunus keris, gendam gendis kurang abyur

~Lagu Podo Nonton~ 
Sumber: Kanal3.wordpress.com

Walau dikatakan berulang kali jangan menilai buku dari kover, tetap saja kover merupakan hal pertama yang membuat saya tergoda membaca buku ini. Selain gambar yang menawan perpaduan merah dan biru, judul kisah ini membuat saya berimajinasi sebelum mulai membacanya.  Tepatnya pada kata Sampur  Merah.

Sari bukan  sekedar anak perempuan biasa.  Bapak Sari merupakan dukun suwuk yang lumayan terkenal di kampung.   Ia juga sering diajak bapaknya mencari kodok guna menambah penghasilan keluarga.  Meski penghasilan mereka tak menentu, tapi masih bisa dikategorikan lumayan.

Berulang kali ia  melihat wajah gembira tamu yang berhasil mendapatkan bantuan bapak,  wajahnya ikut ceria, karena bakal ada tambahan uang untuk jajan.  Meski demikian tak selalu warga yang mempergunakan jasa  bapak meninggalkan amplop.  Kadang bapak juga menolak amplop yang diberikan.  Sering pula ia  menemukan wajah kecewa warga yang gagal mendapat bantuan bapak, nyaris sama dengan  wajah kecewanya karena gagal mendapatkan tambahan uang jajan. 

Semula kehidupan mereka penuh warna ceria. Namun kebahagian direnggut paksa. Berbagai isu tentang adanya dukun santet mulai meresahkan warga. Belum lama, seorang  dukun suwuk kenalan bapak dihabisi secara brutal oleh warga. Istri paman Sari juga sudah mengusulkan pada suaminya  agar mau membujuk untuk bapak  pindah demi keselamatan dirinya dan keluarga. 

"Suruhlah kakangmu pergi dari kampung. Kemarin Pak Muhidin dibunuh. Kalau seorang dukun suwuk sepertinya dianggap dukun santet, bisa jadi kakangmu kayak  gitu juga," demikian ucapnya.  Sebuah ketakutan yang menjadi kenyataan menakutkan!

Warga membawa paksa bapak. Sari tak bisa melupakan tatapan terakhir bapak. Ia terus berontak dalam gendongan paman, ia hanya ingin menolong  Bapak yang dibawa paksa warga. Bagian ini mampu membuat saya merasa pilu.

Seberapa ngilu? Simak kalimat  ungkapan rasa pedih anak yang melihat bapaknya disiksa warga  berikut ini," Aku berteriak sekencang-kencangnya memanggil Bapak hingga kurasakan tenggorokanku serak. Kulepas rengkuhan ibu. Kukejar Bapak sebisaku. Kutarik pakaian orang-orang yang mengambilnya. Kupukuli kaki mereka."

Belum merasa pilu? Lanjutannya masih ada, "Yang dapat kutangkap dari Bapak adalah tatapan mata terakhirnya-seperti penuh ketakutan, penuh kesedihan, penuh ketidakberdayaan, dan entah apa lagi arti tatapan matanya yang dapat membuat dadaku terasa ngilu."

Meski sang bapak sudah tiada, dan situasi mulai berangsur normal, Sari tetap penasaran siapa sosok yang bertanggung jawab pada kematian bapak. Ia membuat daftar nama-nama yang ia anggap berperan serta pada pengeroyokan bapak. 

Daftar tersebut ia bagikan kepada kedua sahabatnya Rama dan Ahmad. Ahmad selalu bersedia membantu mencari informasi perihal nama-nama yang ada dalam daftar tersebut. Sementara Rama, seakan tidak peduli. Sari bahkan pernah menemukan sobekan daftar milik Rama di tempat sampah. Pedih hatinya ketika melihat sobekan itu.

Mengambil lokasi Banyuwangi serta tahun peristiwa dari 1994-2012, pembaca akan diajak mengikuti perjalanan hidup Sari. Dari seorang anak SD hingga menjadi seorang penari gandrung. Tentunya juga mendapat gambaran mengenai bagaimana kehidupan masyarakat saat itu dengan berbagai masalah sosial yang menggelitik rasa kemanusiaan.

Kisah persahabatan yang kemudian menjadi kisah cinta, menjadi bumbu penyedap karya ini.  Dari tiga anak kecil berkembang menjadi dua pria dewasa dan satu wanita muda. Segala kecerian, duka, amarah dan pengorbanan menjadi satu. Tak selamanya cinta  masa kecil berarti terus memiliki saat dewasa. Demikian juga sikap diam, bisa menjadi cinta yang mengubah banyak hal.

Pembaca juga bisa mendapatkan informasi mengenai seni gandrung yang berasal dari Banyuwangi.  Pada hal 131 misalnya, pembaca diberikan pemahaman mengenai beda antara penari gandrung dengan gandrung. Walau bisa dikatakan seorang gandrung pastilah penari gandrung juga. Tapi penari gandrung belum tentu gandrung. Tak mudah menjadi seorang gandrung. Ada ritual yang harus ditempuh. Untuk informasi  lebih lanjut mengenai seni gandrung, bisa dilihat di sini.

Jika menilik judul, seharusnya bagian tentang sampur mendapat porsi lebih. Namun saya justru hanya menemukan bagian yang bisa dikatakan relatif kecil. Sebagian besar kisah malah ditekankan pada upaya Sari mencari informasi mengenai orang yang berada dalam daftar nama orang yang terkait penganiayan bapak. Meski memang ada keterkaitan upaya tersebut dengan sampur merah.  Dalam upaya memecahkan misteri penyebab bapaknya terbunuh, Sari mendapatkan sampur merah. Mungkin karena itu, penulis memberikan judul "Perempuan Bersampur Merah."

Seperti yang saya sebut sebelumnya, kata Sampur Merah menggelitik rasa ingin tahu saya. Sampur seingat saya   (sewaktu masih kena wajib menari ketika kecil),   merupakan selendang yang dililitkan di pinggang atau disampirkan di bahu dan dipergunakan untuk menari. Sementara kata "merah" mungkin hanya penyebutan warna semata.

Sepertinya imajinasi saya yang terlalu liar, tapi membaca blurd serta judul, saya mengira akan ada unsur mistis yang diangkat penulis. Dalam artian ada suatu ritual yang harus ditempuh Sari untuk bisa mendapatkan sampur tersebut. Meski sempat dikatakan bahwa Sari dianggap layak mewarisi sampur merah milik seorang  gandrung senior karena bakat terpendamnya.

Konon sampur itu yang memilih pemiliknya, dan yang memilikinya dianggap akan menjadi gandrung yang mumpuni.  Namun dalam kisah, hanya sesekali disinggung mengenai kemampuan Sari menari dengan mempergunakan sampur merah tersebut.   Saya mengira bakalan ada kejadian-kejadin tidak biasa yang muncul ketika ia mempergunakan sampur tersebut. Meski buntutnya nanti sekedar kebetulan, tapi bisa membuat kisah lebih menggigit.  Penulis seharusnya bisa menambahkan kesan dramatis dengan memberikan kesuksesan Sari sebagai penari gandrung.

Bagian ini bisa lebih diracik lagi.  Sampur  merah tidak hanya diserahkan begitu saja, atau kebetulan berada di lemari bajunya, juga tidak hanya dipergunakan untuk beberapa kali menari saja mengingat asalnya yang spesial.

Seperti umumnya penulis, pasti memiliki rasa cinta pada buku. Kecintaan penulis akan buku terlihat pada kalimat di halaman 179," Kudengar Ahmad sedang merantau demi mempelajari bisnis penyewaan buku. Ia datang dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari ide. Karena di kota sana banyak penyewaan buku yang kadang-kadang digabung dengan kafe atau warung kopi." Sebuah upaya pengembangan usaha yang dirintas Ahmad.

Sari, Rama dan Ahmad, semula mereka hanyalah tigga anak kecil yang mengisi hari dengan banyak canda dan tawa. Justru para orang tua yang membuat kehidupan mereka berubah. Membuat tawa menjadi tangis, membuat rasa iba menyaru dengan cinta, dan membuat hidup damai menjadi kenangan.


Sebagai wacana tambahan, mari disimak tari gandrung berikut ini.












2 komentar:

  1. Jadi pengen baca juga. Apalagi ada nilai lokal yang disisipkan. Tambah menarik saja

    BalasHapus
  2. Sepertinya kita perlu lebih banyak penulis yang mengolah konten lokal dalam karyanya

    BalasHapus