Selasa, 13 Maret 2018

2018 #5: Petualangan Ranala dan Lal

Penulis: Nellaneva
Penyunting: Sevy Kusdianita
Perancang dan perupa sampul: Day
ISBN:9786025469220
Halaman:364
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: Histeria
Harga: Rp 74.500
Rating: 3/5

Pernahnya merasa menjadi orang yang berada di tempat dan waktu yang salah? Begitulah yang dirasakan oleh Ranala. Ia merasa bukan tempatnya berada di Unit 41. Kegagalannya menempuh ujian Dinas Persatuan Unit sebanyak tiga kali membuatnya ingin melarikan diri. 

Padahal kedua orang tuanya adalah anggota Dinas Persatuan Unit yang begitu mengharapkan anaknya akan mengikuti jejak mereka. Lebih bagus jika memiliki karier yang cemerlang nantinya.ayangnya, Ranala sudah menghabiskan seluruh kesempatan yang ia miliki. Ia menjadi bimbang bagaimana harus menjalani kehidupan selanjutnya.

Apa mau dikata, nasib secara misterius membawanya ke tanah Dharitri, sebuah negeri yang tak pernah ia bayangkan ada sebelumnya. Kejutan masih berlanjut. Di sana ia bahkan berteman dengan seekor makhluk hibrida yang ia beri nama Lal.

Tak hanya itu, Ranala juga memiliki sebuah keluarga angkat yang hangat. Mereka menyembunyikan jati dirinya dengan rapi.  Untuk pertama kalinya, Ranala yang menyamar menjadi Aran, merasa berada di tempat yang tepat. Rumah baru yang selama ini ia cari-cari. 

Sayangnya, ketenangan hidup  yang ia peroleh di sana tak berlangsung lama. Ia harus melakukan beberapa hal yang membahayakan jiwa atas nama kemanusiaan.

Apakah itu?
Silakan baca sendiri buku ini ^_^

Tertarik membaca ketika melihat kovernya di web penerbit. Sinopsisnya sih biasa saja kalau buat selera saya (boleh kan orang punya selera yang beda ^_^). Tapi ilustrasinya sungguh menggoda.

Begitu ada kesempatan membaca (yups, saya  tidak beli melainkan memanfaatkan perpustakaan untuk membaca buku ini), mulainya membuka halaman pertama dengan bersemangat.

Bersemangat? Iya,  karena pernah ada yang menyebutkan buku ini bagus, layak dapat sekian bintang bla..bla..bla. Tapi entah kenapa kok saya merasa jenuh membacanya. Banyak hal yang tak perlu, justru diuraikan panjang lebar. Saya sudah mulai merasa bosan, padahal baru membaca beberapa bab saja.

Sempat tertunda baca hingga beberapa minggu karena kesibukan kantor, plus ada buku "selingkungan" yang lebih menggoda, akhirnya saya sukses menuntaskan dengan cara menjadikan satu-satunya bacaan yang dibawa saat keluar kota. jadi Suka atau tidak hanya bisa membaca buku ini ^_^.

Jika di depan saya merasa lelah dengan begitu panjang uraian, makin kebelakang terlihat ritme yang semakin cepat. Berkesan menulis ingin menjelaskan banyak hal secepat dan sejelas mungkin. Kontras dengan ritme berkisah pada awal cerita.

Hal yang paling membuat saya tidak suka pada kisah ini adalah adanya bagian yang menyebutkan tentang rencana adegan bunuh diri di halaman  awal, "Akhirnya keinginannya akan tercapai: cita-cita untuk mati. Sakitnya luar biasa tetapi setimpal."

Ada pula uraiannya di halaman 9, "Ranala pikir, pilihannya sudah benar. Antara mati karena tenggelam di sungai, atau tertangkap hidup-hidup lalu dihukum mati akibat ketahuan berinetraksi langsung dengan sungai."

Silahkan menyebutkan saya salah.  Persepsi saya jika ada orang yang tidak bisa berenang lalu ingin melompat di sungai, maka sama saja dengan bunuh diri. Bukan hal yang bagus untuk dibagikan pada remaja selaku sasaran pembaca buku ini.

Adegan yang menyebutkan bagaimana  Aran alias Ranala mendadak menjadi jago bertempur agak berlebihan menurut saya. Ya, mungkin saja ia memang memiliki keahlian bela diri agar bisa mengikuti  mengikuti ujian masuk Dinas Persatuan Unit, tapi jika mampu mengalahkan jagoan, sepertinya agak lebay. Meski sudah disebutkan bahwa ia mendapat pendidikan dari seorang yang juga ahli bela diri.

Para menyuka binatang hibrida mungkin bisa menemukan kenikmatan membaca buku ini. Ada beberapa bagian yang lumayan panjang membahas mengenainya. 

Idenya memadukan dua dunia yang bertolak belakang sebagai lokasi kisah lumayan bagus, meski untuk tokoh sepertinya berkesan datar. Karakter para tokoh tidak ada yang berkesan kuat, semua terasa sama saja. Hambar dan datar.

Oh ya, entah kenapa, saya menangkap ada aura  sombong (atau angkuh?) dalam buku ini. saya tidak bisa menjelaskan secara detail apa dan bagaimana. Saya merasa penulis "memaksa" saya menikmati kisah ini, menelan mentah-mentah kisah yang disajikan, tak perlu protes. Baca dan tutup mulutmu, saya yang membuat kisah, bukan dirimu. Kira-kira seperti itulah kesan yang saya rasakan.

Selain semangatnya hingga karya ini bisa diterbitkan, unsur  ala Indonesia yang diusung penulis bolehlah diapresiasi.  Menyebutkan Dayak dan permainan congklak diharapkan bisa meningkatkan rasa nasionalisme dalam diri remaja. Minimal berusaha mencari tahu via dunia maya mengenai dua hal yang disebutkan tersebut.

Dan, kedua tersebut yang membuat saya mau menyematkan bintang 3.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar