Rabu, 15 Juni 2016

2016 #63: Kisah Tentang Saya dari Bloomington

 Judul asli: Orang-orang Bloomington
Penulis: Budi Darma
Penyelaras aksara: Nunung Wiyati
Penata aksara: Axin
Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah
ISBN: 9786023850211
Halaman: 316
Cetakan: Pertama-Mei 2016
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 58.000
Rating: 3.75/5

Di dalam hutan inilah dua bintang masing-masing menginsyafi dirinya sebagai binatang, dan memperlakukan lawannya sebagai binatang.

Tunggu...!
Biarkan saya menarik napas sejenak. Gemas dan melelahkan juga ternyata ketika berurusan dengan tokoh Saya dalam buku ini. Bukan  mau membedakan kebiasan orang berdasarkan jenis kelamin, tapi biasanya, sekali lagi biasanya, sosok yang usil, suka mencampuri urusan orang, pengadu, comel di sekitar saya adalah sosok perempuan. Ibu-ibu yang mengisi hari dengan mengamati sekitar, dijamin mereka bisa menjadi informan tercanggih jika berurusan dengan tetangga. Tapi, dalam buku ini semua hal itu justru merupakan kebiasaan tokoh Saya yang berjenis kelamin pria! Tidak ada larangan, hanya tak biasa saja. 

Buku setebal  316 ini mengajak pembaca menikmati kisah tentang Saya.  Tokoh utama dalam buku ini, tidak diberi nama hanya dipanggil dengan Saya. Hal ini dikarenakan penulis pengambil porsi selaku tokoh utama sekaligus narator. Membaca buku ini, seakan-akan kita sedang mendengarkan seorang sahabat sedang bercerita. 

Cara penulis menciptakan sosok Saya dengan kepribadian uniknya patut diberi acungan jempol. Tiap sosok Saya yang ada pada cerita seakan-akan begitu nyata dengan karakternya yang kuat.

Tokoh Saya, dalam buku ini melakukan hal-hal yang sungguh luar biasa jahilnya menurut saya. Jahil dalam arti menyebalkan. Misalnya ia berupaya membeli teropong khusus guna mengamati seseorang, bolak-balik melewati halaman orang agar bisa mengetahui kondisinya, melaporkan halaman tetangga yang dianggap tidak terawat dengan nama palsu. 

Beberapa perbuatannya bahkan merupakan perbuatan menjurus jahat, seperti menaruh binatang kecil dan  merusak ban mobil . Meski begitu, layaknya manusia umum, ada juga sisi baik dari tokoh Saya. Saat ia bersedia berbagi kamar dengan seseorang sebagai contoh. Begitulah hidup, ada sisi baik dan buruk pada setiap hal.

Entah mengapa, saya merasa sepertinya ada hubungan kekerabatan antara Saya dan Ove, tokoh dalam buku karangan Fredrick Backman. Sama-sama menyebalkan, mau tahu urusan orang, comel, tapi memiliki rasa sayang pada sesama dengan caranya sendiri.

Dari tujuh kisah yang ada yaitu Lelaki Tua Tanpa Nama, Joshua Karabish, Keluarga M, Orez, Yorrick, Ny. Elberhart dan Charles Lebourne, saya memberikan jempol terutama pada kisah Orez dan Charles Lebourne. Mungkin pembaca yang lain menyukai kisah lainnya. Salah satu kekuatan kisah dalam buku ini adalah kedekatan kisah dan sosok Saya dalam kehidupan sehari-hari. 

Kisah Orez mengajarkan tanggung jawab pada apa yang sudah diputuskan. Sebelum menikah Saya sudah diberitahu tentang silsilah keluarga calon istri yang kurang baik. Namun ia tetap memutuskan untuk menikahi dan memiliki anak, sementara Hester juga setuju untuk dinikahi dan bertekat menjaga kandungannya. Meski ada hal lain yang menjadi pendorong mereka menikah, seperti yang tercetak di halaman 100. " Tapi napsu binatang sudah terlanjur menggebu dalam  nadi-nadi saya." Apapun alasannya, mereka menikah. Maka mereka berdua harus bertanggung jawab pada pilihan itu.

Sosok Orez mungkin saja mengalami Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD). Bukan sesuatu yang tidak bisa ditangani saat ini, namun banyak orang tua yang ingin memiliki tongkat sihir lalu membuat anaknya menghilang. Bukan, bukan karena tidak sayang namun karena sudah tidak tahu bagaimana harus berbuat dan bersikap. Seperti itulah Hester Price dan Saya. 

Sekedar berangan-angan, kisah ini pasti bisa menjadi kisah inspiratif yang mengharukan jika dijadikan sebuah buku sendiri. Bagaimana kedua orang tua Orez berupaya berkompromi dengan keadaan anaknya. Mereka tak perlu lagi berpindah tempat kerja dan rumah karena ingin menutupi keberadaan Orez. Mereka akhirnya bisa menerima Orez sebagai bagian dari kehidupan yang harus mereka jalani, bukan kutukan. 

Dari beberapa cerita,benang merah yang bisa saya tangkap adalah perihal sakit. Entah kenapa, sepertinya tokoh Saya gampang sekali menderita suatu penyakit, atau merasa menderita. Ia sampai harus memeriksakan dirinya karena merasa takut tertular oleh Joshua atau saat mengunjungi seseorang mendadak juga merasa sakit. Mungkin, jika tidak sedang usil mengamati tetangga, mengasihani diri karena sakit adalah kesukaan tokoh Saya.

Ada dua hal yang terkait puisi dalam buku ini. Semoga saya tidak salah hitung. Pertama pada kisah Joshua Karabish, tokoh Saya mengirim puisi yang dibuat Joshua atas namanya dan  mendapat hadiah atas puisi tersebut. Kedua pada kisah ny. Elberhart, tokoh Saya penulis puisi atas namanya dan mencoba mengirim ke berbagai penerbit.

Biasanya, judul kumpulan cerpen mempergunakan salah satu kisah yang dijagokan, kisah andalan. Tapi tidak dalam buku ini, Diberi judul Orang-orang Bloomington karena kisah ini merupakan hasil pengamatan penulis  terhadap kehidupan di Bloominton, meski ada kisah yang tidak ditulis di sana.

Bloomington merupakan sebuah kota di wilayah selatan negara bagian Indiana. Kisah ini merupakan karya penulis selama menjadi mahasiswa Indiana University dengan sponsor The Ford Fulbright. Melalui karya ini,  Budi Darma berhasil menyabet penghargaan S. E. A. Write Award 1984 dari Pemerintah Thailand.

Pada situs berikut, terlihat bahwa buku ini sudah mengalami beberapa kali cetak dengan penerbit yang berbeda sebelum akhirnya Noura Books menerbitkan ulang. Penasaran saja, perbedaannya dimana ya? Meski kisah tidak mengalami perubahan, namun namanya beda penerbit biasanya ada sesuatu yang berbeda. 

Serius, saya jadi kepikiran kalau sosok Saya dan Ove berada dalam satu kisah bagaimana jadinya, pasti pembaca bisa gulung koming karena gemas. 


Sumber gambar:
https://www.goodreads.com




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar