Senin, 23 November 2015

2015 #92: Got Set A Watchman

Penulis : Harper Lee
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahaini & Esti Budihabsari
Penyunting: Tim Redaksi Qanita
Proofreader: Emi Kusmiati
Desainer sampul: Glenn O'Neil
Ilustrator sampul: Getty Images & iStockphoto
Penata sampul: Dodi Rosai ISBN : 9786021637883
Halaman: 288
Cetakan: Pertama- September 2015
Penerbit : Qanita
Harga: Rp 74.000

Selama aku hidup, aku tidak pernah bermimpi bahwa hal seperti ini akan terjadi. Namun ini terjadi. Aku tidak bisa bicara kepada seseorang yang telah membesarkanku sejak aku berumur dua tahun... ini terjadi saat aku duduk di sini, dan aku tidak bisa mempercayainya. Bicaralah kepadaku, Cal. Demi Tuhan bicaralah kepadaku. Jangan duduk saja seperti itu!"

Seorang gadis, Jean Louise Finch sedang berlibur  dari New York ke kampung halamannya, Maycomb, Alabama  dengan mempergunakan kereta api. Ia dijemput oleh Henry Clinton, sahabat sejak kecil dan tangan kanan ayahnya.  Sang ayah, Atticus Finch  merupakan seorang pengacara dan mantan legislator negara. Ia jarang menerima kasus kriminal. Satu-satunya alasan ia menerima adalah karena ia tahu bahwa kliennya tidak bersalah.  Dan ia pernah membela seorang pemuda kulit hitam karena tidak tega membiarkannya dipenjara akibat pembelaan setengah hati di pengadilan.

Tak butuh waktu lama bagi Jean untuk mengetahui banyak yang telah berubah selama ia pergi.  Tidak hanya wajah kota tapi juga penghuninya. Bahkan ia menyaksikan sendiri sang ayah terkasih yang selalu menjadi idolanya  terutama sejak sang ibu berpulang, telah menjadi sosok yang rasis. Tidak hanya ayahnya, Henry juga berubah.  

Suatu hari, seorang anak kulit hitam mengemudikan mobil  melawan arus pagi buta di Quarters dan menabrak Mr. Healy  yang sedang menyeberang jalan sampai tewas di tempat. Meski ada khabar Mr Healy menyeberang saat mabuk, tapi masyarakat tidak bisa menerima begitu saja kejadiaan itu, terutama warga kota kulit putih. Mulainya terjadi percikan-percikan diantara masyarakat.

Anak tersebut ternyata cucu dari Calpurnia, seorang kulit hitam yang mengurus Jean sedang berusia dua tahun.  Baginya Calpurnia bisa dianggap sebagai pengganti sosok ibu. Atas pertimbangan itu Jean mengunjungi rumah keluarga Calpurnia. Di sana ia harus mengalami rasa sakit hati. 

Mereka memang menghormatinya dan menyambut kedatangannya, tapi Jean merasa bagaikan sosok dari planet lain di sana. Meski mengaku tidak membenci Jean dan keluarganya akibat tekanan yang mereka terima, Calpurnia sendiri lebih banyak bersikap diam, seakan mengacuhkan dirinya. 

Bagi saya, buku ini bernuansa sangat kelam. Mungkin karena isu rasis kental sekali. Dengan mengambil setting tahun 1950, sepertinya memang  kondisi masyarakat seperti itu. Tapi membacanya dalam buku ini membuat ketenangan jiwa saya terusik, hingga bisa memahami bagaimana kegalauan hati Jean.

Perihal rasis merupakan isu yang ramai dibicarakan bisa dibaca pada halaman 277, "Satu-satunya perbedaan yang kau lihat dari satu manusia dengan manusia lainnya adalah perbedaan yang kau lihat dari satu manusia dengan manusia lainnya adalah perbedaan fisik, kecerdasan, watak dan semacamnya. Kau tak pernah diajar untuk memandang seseorang berdasarkan ras, padahal ras adalah isu panas zaman ini. Kau masih tak bisa berpikir secara rasial. Kau hanya melihat manusia." 

Butuh waktu lama bagi saya untuk menuntaskan buku ini. Sebentar-sebentar berhenti dengan jeda yang lumayan lama, harian.  Entah kenapa, susah sekali menghilangkan sosok Jean Louise sebagai seorang wanita dewasa. Dalam benak saya, sudah sangat terpatri sosok seorang anak perempuan kecil berusia 6 tahun.  Selain itu, makna dalam buku ini membutuhkan pemahaman ekstra. Tapi begitu kita bisa menemukan intinya, buku ini menawarkan sebuah kisah yang mengagumkan.

Tak heran jika buku To Kill a Mockingbird memenangkan Pulitzer Award 1961, jika naskah sebelum diolah saja sudah bagus apa lagi jika ada campur tangan editor. Terlepas dari aneka kabar miring tentang kemunculan naskah ini.

Sebenarnya saya masih punya satu rasa penasaran.  Andai saya bisa bertanya pada pihak yang menerbitkan buku ini, pertanyaan justru akan saya berikan pada sang editor. Apa yang menyebabkan ia meminta Lee menulis kisah ini dari sisi pandang seorang anak kecil? Apakah karena anak kecil sering kali dianggak sosok yang polos? Atau ada alasan lainkah? Cuman bisa bertanya-tanya dalam hati.

Jadi ingat  sepenggal bait lagunya John Lennon sehabis baca buku ini. ... A brotherhood of man. Imagine all the people sharing all the world...





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar