Senin, 16 November 2015

2015 #87: Petualangan Magnus Chase

Judul asli: Magnus Chase and the Gods of Asgard
Penulis: Rick  Riordan
Penerjemah: Reni Indardini 
penyunting:Rina Wulandari
Penata aksara: CDDC
Ilustrasi rune: Michelle Gengaro-Kokmen
ISBN : 9786023850204
Halaman: 636
Cetakan: Pertama-Oktober 2015
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 96.000

"Salah rumah?" Kurasa tidak. Kau hendak menginap di sini."

"Eh... apa?"
"Kau sudah mati, kan?" kata pria itu.
"Ikut aku. Akan kuantar kau ke resepsionis."

Bagaimana rasanya   bangun di sebuah lobi hotel khusus bagi yang sudah meninggal? Atau melihat video saat dirimu sedang meregang jawa diputar depan khalayak banyak? Melihat diri sendiri berada dalam peti mati dan dalam dandanan yang jauh dari keren?  Hancur lebur, kacau dan bingung. Begitulah  kurang lebih perasaan Magnus Chase. 


Alih-alih merayakan ulang tahun ke-16 tahun pada 13 Januari, ia justru harus meregang nyawa karena suatu hal yang jauh dari nalar. Magnus  harus menerima fakta bahwa ia bukanlah sembaran gelandangan, ia merupakan anak blasteran dari seorang dewa Nordik, 
Dewa Frey.


Jelas Magnus bingung dengan perubahan dratis dalam kehidupan  kematian dirinya. Ia hanya tahu dongeng Nordik pengantar tidur yang dibacakan sang ibu saat kecil. 
Sekarang ia bagian dari kisah itu. Dan ia memegang peranan lumayan penting dalam peristiwa Ragnarok. Ia bisa saja menjadi pukulan telak bagi kejahatan dan mengundur Ragnarok atau malah mempercepat. 


Semuanya makin membingungkan bagi Magnus ketika ia menyadari ia berada di Valhalla, surga bagi pendekar yang mengabdi pada Odin raja para dewa. Valhalla merupakan tempat latihan sebelum Ragnarok tiba. Para pahlawan yang berada di sana sering melakukan kegiatan tempur, mereka bisa saja meninggal LAGI. Tapi jangan khawatir besoknya mereka sudah ada di Valhalla lagi.

Ada lima ratus empat puluh pintu menuju ke sembilan dunia di Valhalla. Mereka terpilih masuk Vahalla karena keberanian dan kehormatan pribadi, bukan karena garis keturunan. Lalu apa yang membuat Magnus layak berada di sana? Hal ini menimbulkan perdebatan sengit.

Apa lagi ketika 
para Norn membacakan ramalannya,

Tak pantas dipilih, tak pantas mati,
Seorang pahlawan, tapi tak sanggup diemban
Valhalla
ke Timurlah mentari bergerak, sembilan hari lagi.
Dan Pedang Musim Panas-lah yang membebaskan 
si buas dari belenggunya

Walau masih bingung dengan situasi yang dihadapi, Magnus harus siap memenuhi takdirnya. Ia membutuhkan bantuan untuk itu. Dan bantuan ia dapat dari sumber-sumber yang sungguh tak terbayangkan. 

Luar biasa! Bahkan hal yang sepertinya biasa di sekitar kita bisa menjadi sesuatu yang luar biasa dan membantu Magnus menjalankan misi utamanya alam buku ini. Ih.. sepertinya saya harus mulai berhati-hati jika memandang sebuah tugu peringatan, menikmati bau laut bahkan ketika melihat sampah yang ada di air.

Awalnya kisah berjalan agak lambat bagi saya. Beberapa bagian hanya mengisahkan tentang sosok Magnus yang sibuk berpindah tempat dan berbicara dengan banyak pihak terkait Ragnarok. Juga aneka usaha untuk mempererat hubungan sesama rekan satu tim. Pembaca seakan diajak ikut bingung bersama dengan Magnus. Belakangan menjelang seperempat sisa buku baru muncul adegan perang yang saya tunggu. Arah cerita juga menjadi lebih jelas.

Dan kesemua kelambatan kisah terbayar dengan aneka keseruan. Hal-hal yang semula menyebalkan, maksudnya semula dianggap tidak pernting buat apa disampaikan sehingga berkesan mempertebal halaman, ternyata ada hubungannya meski saya tetap beranggapan beberapa seperti tak berguna.

Pertama kali mendengar tentang kisah ini, saya langsung teringat akan  koleksi cergam yang ada di lemari buku. Salah satunya seri Valhalla berjudul Taruhan Odin karangan Peter Madsen. Buku tersebut membuat saya lebih bisa memahami kisah ini.

Untuk lebih menikmati cerita, saya justru menyarankan agar membaca glosarium terlebih dahulu. Memang dalam kisah juga sudah disebutkan, misalnya saat pertama kali menyebutkan tentang Valhalla maka akan diuraikan apa itu Valhalla. Begitu juga dengan istilah lainnya. Pada bagian glosarium, istilah-istilah diberikan penjelasan lebih panjang hingga pembaca yang sama sekali belum mengetahui tentang mitologi Nordik  bisa lebih memahami dalam mengikuti kisah.


Kover yang mengusung sosok seorang remaja pria dan pedang di dekatnya saya asumsikan sebagai tokoh utama dan senjata andalannya dalam kisah ini. Hewan didepannya saya perkirakan seekor serigala semacam sahabat  seperjalanan si tokoh. Ternyata saya salah, dalam buku ini sahabat perjalannya bukan serigala. Bahkan dalam sinopsis disebutkan serigala yang membunuh ibu Magnus. Tapi kenapa kesan yang saya tanggap Magnus dan serigala bersatu padu menghadapi musuh yang sama? 


Meski beberapa bagian memberikan nuansa kelam, terutama bagian dewa yang memiliki banyak anak blasteran, ada beberapa hal yang bisa membuat saya tertawa. Saya tertawa karena gambaran sosok Thor. Dengan rambut merah bahu, janggut merah keriting dan lengan binaragawan sungguh berbeda dengan yang ada dalam benak saya setelah membaca beberapa buku. Lalu perihal Thursday merupakan plesetan Hari Thor serta serial televisi yang paling digemari oleh Thor, Game of Thrones.

Urusan Rune sepertinya sudah sering ada dalam review saja yang lain. Sumbernya  dari buku berjudul Kearifan Purbakala untuk Abab Baru: RUNE, Rahasia Batu-batu Beraksara dari penerbit Kharisma.


Disebutkan bahwa Rune berarti rahasia maupun bisikan, mencerminkan kenyataan bahwa arti batu-batu ini sudah diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya secara lisan.   Ada beberapa abjad runik yang diambil dari berbagai budaya yang berbeda, Yang paling umum digunakan adalah Elder Futhark atau Abjad yang Lebih Tua. Kata Futhark sendiri diambil dari huruf-huruf utama keenam rune pertana. Feoh, Ur, Thorn, Ansur, Road, dan Kenn.  


Sementara dalam buku ini disebutkan bahwa Rune merupakan abjad lama Viking. Tiap huruf menyimbulkan sesuatu yang hebat.  Rune ibaratnya adalah kode genetik alam semesta (hal 114).

Namanya juga kisah yang mengusung tema pahlawan, pasti banyak petuah yang ada dalam buku ini. Ada satu yang sangat saya suka di halaman 112,
"Seseorang pernah memberitahuku bahwa pengorbanan seorang pahlawan harus muncul secara spontan-reaksi heroik yang tulen ketika menghadapi krisis. Munculnya harus iklas, dari hati, tanpa mengharapkan imbalan." 
Iklas. sebuah kata sederhana tapi susah untuk diterapkan.

Tak sabar menunggu buku berikutnya.
Kira-kira Magnus ketemu jodoh tidak ya di sana, nasib para kurcaci yang menemaninya bagaimana, lalu misi rahasia apa yang akan mereka emban. Penasaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar