Selasa, 18 Agustus 2015

2015 #70:693 KM di Atas Tandu

Judul asli: 693 KM Jejak Gerilya Sudirman
Penulis: Ayi Jufridar
Penyunting: Hermawan Aksan
Penyelaras aksara: Nunung Wiyati
Penata aksara: Axin M
Desain sampul: d.a.a
ISBN: 978-602-1306-07-9
Halaman: 328
Cetakan: Pertama-januari 2015
Penerbit: Nourabooks
Harga: Rp 59.000

Kupanggil Alfiah dan kuminta ia mengembuskan asap tingwe yang harum ke wajahku. Aku tahu Alfiah tak senang melakukannya, tapi karena rasa cintanya, ia juga tidak berani menolak permintaanku. Ini seperti jebakan kenikmatan dalam sebuah dosa.
.....
.....
.....
Dalam sekejab aroma khas penuh nikmat menyerbu wajahku, campuran antara rasa gurih tingwe dengan napas harum Alfiah yang masuk melalui hidung, mungkin sebagian aroma tersisa di sana sebelum melekat kuat di dalam otak. Kurasa lebih nikmat dibandingkan dengan asap yang kuhirup dari mulutku sendiri. Andai aku tahu rahasia ini sejak dulu....

"Terima kasih, Bu. Kamu melakukannya dengan benar."

Bagian ini pada prolog sangat menyentuh hati saya. Seorang perempuan yang begitu tulus mencintai suaminya hingga tak menolak permintaan sang suami meski tidak suka melakukannya. Pengabdian seorang istri pada suami terkasih. Lelaki yang beruntung itu adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman. 

Dari buku ini kita akan diajak mengikuti gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman sejauh 693 km yang ditempuh selama tujuh bulan.  Tujuannya sangat jelas, menyerang pos-pos pertahanan Belanda. Jika semula kita ditaklukan dengan politik Divide et impera atau Politik pecah belah, maka sekarang para pejuang memecah belah pertahanan Belanda dengan menyerang kantong-kantong pertahanan Belanda sehingga kekuatan terbagi, hal ini memudahkan untuk merebut kekuasan.



Divide et impera atau Politik pecah belah  adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat. (https://serbasejarah.wordpress.com)

Perjuangan beliau dan pasukannya sudah sering digaungkan. Betapa  berat medan yang dilalui, bahaya yang harus dihadapi, pengkhianatan dari bangsa sendiri, belum lagi urusan logistik dan lainnya. Bagian yang paling diingat oleh setiap anak bangsa adalah saat beliau sakit dan harus ditandu saat memimpin gerilya. Replika tandu beliau bisa kita ditemui di museum. 

Jangan dikira duduk ditandu merupakan hal yang  mudah.  Ternyata merupakan hal yang melelahkan, bagi yang mengangkat tandu tentunya serta yang duduk di tandu itu.  Bergoyang-goyang sepanjang perjalanan tentunya bukan hal yang nyaman, apa lagi saat harus menghindari musuh. Mereka yang dengan iklas membantu mengangkat tandu adalah  para sukarelawan, penduduk  dari desa-desa yang dilalui.

Jika medan yang dilalui  makin berat, beliau harus mengandalkan kedua kakinya untuk melangkah. Ada kalanya dengan sangat terpaksa mengandalkan kaki pengawal pribadi yang mengendongnya.

Sosok beliau yang sangat bersahaja membuat banyak prajurit yang tidak pernah bertemu menangkapnya dengan alasan keamanan.  Semula  mereka menangkap  sekelompok orang yang mengaku TNI , dan menahan seorang Mantri Guru. Sosok Mantri Guru terlihat  kurus, mempergunakan mantel hijau , peci serta sandal jepit.

Betapa terkejutnya pimpinan mereka, Mayor Zainal Fanani ketika hendak mengintrograsi Mantri Guru.  Begitu melihat wajah Mantri Guru, Fanani langsung menabik dengan penuh penghormatan. Gerakan tangan dan posisi tubuhnya bukan saja gerakan raga yang sudah terlatih, melainkan lahir dari ketulusan jiwa, seolah hatinya juga memberikan penghormatan.  Tak ada yang mengira saat itu, bahwa panglima besar sendiri turun memimpin perang.

Sosok Mantri Guru yang ternyata adalah panglima besar tidak menunjukan amarahnya. Justru beliau bisa memaklumi perbuatan yang didasari atas pencegahan dan keamanan itu. Kehadiran beliau menambah semangat para prajurit.

Secara garis besar, buku ini mengisahkan sosok seorang Jenderal Besar Sudirman dari sisi yang lebih manusiawi. Kisah bagaimana ia tidak mau mengganti pakainya saat menghadiri upacara di Istana misalnya. Beliau tidak ingin mengganti pakaian yang dikenakannya meski bisa membuat para pejabat yang hanya bertugas di belakang meja merasa kegerahan akan aromanya, karena pakaian itu memiliki rasa kedekatan dengan para pejuang yang sudah gugur di medan pertempuran.

Nama besar beliau diabadikan menjadi nama jalan, gedung, universitas dan masih banyak lagi. Semuanya sebagai wujud penghargaan anak bangsa atas perjuangan beliau yang tak kenal pamrih.

Disinggung juga dalam buku ini tentang Perjanjian 
Roem-Roijen, perundingan yang membuat Jenderal Sudirman merasa kecewa pada sikap pimpinan yang dirasa lemah. Beliau memilih jalur bergerilya di lapangan, sementara pemimpin yang lain memilih jalur diplomasi.

Perjanjian ini dimulai sejak tanggal 14 April 1949 hingga  ditandatangani pada  7 Mei 1949 di  Hotel Des Indes,  Jakarta.  Nama perjanjian ini mengacu pada nama kedua kepala delegasi. Mohammad Roem dari Indonesia serta Herman van Roijen dari Belanda.  Perjanjian ini sangat alot sehingga memerlukan kehadiran Bung Hatta dari pengasingan di Bangka. 



Hasil pertemuan ini adalah:
  • Angkatan bersenjata Indonesia akan menghentikan semua aktivitas gerilya
  • Pemerintah Republik Indonesia akan menghadiri Konferensi Meja Bundar
  • Pemerintah Republik Indonesia dikembalikan ke  Yogyakarta
  • Angkatan bersenjata Belanda akan menghentikan semua operasi militer dan membebaskan semua tawanan perang

Ternyata pada tanggal 22 Juni sebuah pertemuan diadakan dan menghasilkan keputusan:
  • Kedaulatan akan diserahkan kepada Indonesia secara utuh dan tanpa syarat sesuai Perjanjian Renvile  pada 1948
  • Belanda dan Indonesia akan mendirikan sebuah persekutuan dengan dasar sukarela dan persamaan hak
  • Hindia Belanda akan menyerahkan semua hak, kekuasaan, dan kewajiban kepada Indonesia
 
Membuat novel dengan latar belakang sejarah bisa dijadikan pilihan untuk mengenalkan sejarah pada kaum muda.  Gaya bahasa novel yang lebih luwes  cocok dipergunakan guna menyampaikan sebuah fakta sejarah tanpa bermaksud menggurui. Beberapa bagian kisah dalam buku ini terasa lambat, tapi masih dalam tahap bisa diikuti. 

Semoga novel seperti ini makin banyak meramaikan dunia buku di tanah air. 
Dan makin banyak generasi muda yang membacanya sehingga kecintaan akan sejarah bangsa kian terpupuk

Dirgahayu Negeriku!!!
Dengerin ini yuk....


Sumber gambar:
http://inperri.blogspot.com
http://goenaar.blogspot.com

https://commons.wikimedia.org/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar