Senin, 05 Mei 2014

Review 2014 #26: Surat Untuk Muthia Esfand tentang Assassin's Creed: Forsaken

Sudut Bumi 2014

Dear Muthia Esfand


Bagaimana khabarmu saat ini?  Terima kasih tak terhingga akan kiriman bukumu beberapa waktu yang lalu. Sungguh menawan. Buku setebal 520 halaman ini selesai dalam waktu yang lama. Sebelum kisahnya selesai, aku sungguh  tak ingin menutupnya. Kalau pun aku berhenti membaca,  itu karena harus melakukan aktivitas seperti berjalan dari stasiun kereta ke kantor,  pergi ke kamar kecil  dan sejenisnya. Hanya saja......, aku butuh waktu agak lama  untuk membuat reviewnya.


Aneh? Memang begitu adanya.

Bukan! Bukan aku berbohong mengenai keseruan kisah ini.!
Hanya saja..., aku butuh waktu untuk mengilangkan residu keseruan kisah ini. Ada saat aku begitu berinding ketakutan membaca sebuah adegan, lain waktu aku seakan  menangisi nasib tokoh utama. Tapi ada juga saat aku menemukan diriku memiliki pemikiran dan mungkin saja bertindak sama seperti yang dilakukan tokoh utama dalam buku ini. Agak menakutkan bagi diriku sendiri jadinya. Perasaan bercampur aduk saat membaca buku ini.

Jika tidak mengganggu waktumu, ingin sekali kubagi kesan setelah membaca buku tersebut. Sekedar mengingatkan, buku yang aku terima memiliki data sebagai berikut:

Judul: Assassin's Creed : Forsaaken
Penulis: Oliver Bowden
Penerjemah: Melody Violine
Penyunting: Puti Amaranta
Penyelaras Akhir: Muthia Esfand
Penata Letak: Erina Puspitasari
Pendisain Sampul: Kiki Maryana
ISBN: 978-602-7689-73-2
Halaman: 520
Penerbit: FANTASIOUS
Harga: Rp 89.000

 Buku ini merupakan intisari dari jurnal  seseorang yang  bernama Haytham Kenway. Jurnal tersebut dimulai sejak ia kecil hingga akhir hayatnya. Ditulis antara tahun1735 hingga 1774. Catatan kehidupan seseorang selama 39 tahun sejak berusia 10 tahun tentunya penuh warna.

Haytham Kenway, yang berarti elang muda  merupakan anak satu-satunya dari  Edward Kenway. Sebenarnya masih ada  kakak tiri perempuannya, namun bagaimana juga ia yang harus bertanggung jawab atas keluarga. Setidaknya ia selalu berusaha menenuhi pesan ayahnya untuk menjaga sang ibu.

Seperti saat terjadi penyerangan tepat pada hari ulang tahun kesepuluhnya, Haytham membunuh seseorang guna melindungi sang ibu dan dirinya. Membunuh demi kelindungi diri bukanlah hal yang sepele walau hanya itu satu-satunya pilihan. Tapi bayangkan bagaimana beban yang harus ditanggung anak usia sepuluh tahun, pengalaman membunuh dan melihat ayahnya mati terbunuh. 


Seorang pembunuh

Demikanlah sekarang diri Haytham di mata sang ibu. Terakhir ia melihat sang ibu, ada sinar kecurigaan di matanya. Sesuatu yang menyerupai kebencian. Saat Haytham membunuh pria yang hendak membunuh sang ibu, ia berubah di matanya. Haytham bukan lagi anak laki-laki yang dipangku ibu. Ia sudah menjadi seorang pembunuh. Meski demikian,  Haytham melakukannya untuk menepati janji dengan sang ayah untuk selalu menjaga ibu. Itu yang penting, ia sudah memenuhi janjinya.

Para ver de manera diferente, primero debermos pensar diferenre
Agar bisa melihat dengan cara yang berbeda, pertama-tama kita harus berpikir dengan cara yang berbeda.

Begitulah Haytham  selanjutnya. Ia bukan lagi seorang anak kecil yang sedang berlatih pedang atau bermain prajurit. Ia sekarang  berada dalam pengawasan seorang kesatria Templar untuk dilatih  dan ditempa sehingga menjadi seorang Templar sejati.  Ia begitu menjiwanya kalimat "Kita bergerak dalam Gelap, untuk melayani Terang" 

Apa yang diajarkan oleh tutornya sungguh berbeda dengan apa yang selama ini diajarkan oleh ayahnya, seorang Assassin. Haytham merasakan ketakjuban, kekaguman yang amat besar pada sang ayah  sehingga kadang seakan dikendalikan. Ia merasa harus menandinginya, dewasa dalam bayang-bayang kebesaran sang ayah. Pada sang tutor, Haytham menghormati semua ajarannya atas dasar keinginan kuat untuk membalas dendam.

Dibesarkan dengan dua prinsip yang bertolak belakang, Templar dan Assassin membuat Haytham tumbuh menjadi pribadi yang unik.  Amarah dan dendam akan pembunuh sang ayah serta keinginan untuk mencari orang yang bertanggung jawab atas penculikan sang kakak tiri membuat Haytham kuat. Amarah berubah menjadi kekuatan. Walau tak begitu dekat dengan sang kakak tiri, bagaimana pun juga ia merasa wajib mencari sang kakak yang diculik. Rasa sayang bukanlah dasar tindakannya, tapi  karena  nilai-nilai tanggung jawab akan  keluarga yang ditanamkan sang ayah.


Seiring waktu, Haytham kian menjadi seorang pria dengan akar Assassin dan kepercayaan Templar.  Ia juga sudah menyerahkan hatinya pada seorang wanita Mohawk. Oleh karena ia sangat ingin menyatukan kedua ajaran yang bertentangan tersebut. Satu sisi mewakili masa kecilnya, satu sisi lainnya merupakan diri Haytham di masa sekarang. Bukan hal yang mudah ternyata.

Dear Muthia,
Buku ini sungguh unik. Terutama memberikan pesan moral kepada kita tentang nilai-nilai sebuah keluarga. Haytham menikmati masa kecilnya dengan bahagia dan mendapat banyak pengajaran bagi bekalnya kelak. Keluarga yang tercerai-berai menjadi kekuatan baginya untuk menuntut balas tak perduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Saat ia berkeluarga pun, ia juga harus memutuskan nasib sang anak. Kata hati dan rasa sayang kadang lebih menang dari pada logika,

Beberapa adegan pembunuhan yang dilakukan tanpa perasaan oleh Haytham membuat saya merinding. Tapi entah mengapa saya merasa apa yang dia lakukan bisa diterima dalam situasi peperangan seperti itu.  Saat peperangan, sepertinya orang hanya memiliki dua pilihan, membunuh atau dibunuh. Sungguh  tak heran jika ada yang menyebutkan perang itu kejam.


Walau emosi seakan tercabik-cabik saat membaca kisah kehidupan Haytham, seperti  ada sesuatu yang kurang. Memang saya bisa merasakan kepedihan hati,  rasa amarah dan kesal hingga rasa kebas saat membunuh. Namun tetap saja ada rasa yang kurang. Jiwa dari buku ini seakan tidak ada. Ibarat masakan, kita bisa menikmati masakan nikmat segala macam bumbu, namun terasa kurang nikmat karena tiada rasa garam.
 
Menurut info yang saya baca,  buku ini dibuat berdasarkan sebuah game. Game yang tidak hanya mengandalkan kekerasan tapi juga mengambil aneka lokasi bersejarah sebagai setting pertempuran. Memang ada unsur kekerasan dalam game tersebut. Tapi ada juga pelajaran sejarah yang bisa diambil. Mungkin dengan mengurangi unsur kekerasan sedikit  dan menambah bobot pengetahuan sejarah, game tersebut bisa jadi sebuah permainan yang layak direkomendasikan.

Secara garis besar, buku ini sangat menghibur. Mungkin perlu ditambahkan tulisan untuk 17+ mengingat beberapa adegan kekerasan. Mungkin dalam game banyak terdapat adegan kekerasan dengan visualisasi darah dan bagain tubuh yang terpotong, pemain tinggal menerima apa yang sudah divisualisasikan. Dalam buku, yang ada uraian kata-kata sehingga pembaca akan berimajinasi dalam memvisualisasikan  ungkapan kata-kata menjadi sebuah kejadian.

Oh ya Muthia,
Pembatas buku yang disertakan dalam buku ini sungguh menawan. Ide untuk membuatnya bisa berdiri tegak sungguh mengagumkam. Dengan melihat pembatas buku saja, pembaca bisa tergoda untuk membaca buku ini lebih lanjut. Minimal akan memiliki pertanyaan, siapakah sosok Haytham Kenway itu? Memang pada sinopsis sudah disinggung tentang sosoknya. Tapi hal itu juga membuat rasa ingin membaca kian besar. bagaimana nasib si kecil Haytham Kenway selanjutnya?

Sementara melihat sosok Connor Kenway juga mengundang rasa ingin tahu. Sosoknya memang sama dengan yang ada di kover muka, tapi apa hubungannya dengan Haytham Kenway? Lalu mengapa keduanya memiliki nama keluarga yang sama, Kenway? Pertanyaan itu sempat timbul di benak saya. Setelah mulai membaca buku ini, pertanyaan kian bertambah menjadi kapan giliran Connor muncul dan beraksi?


Aku ingin membuat sebuah pengakuan ,
Dahulu aku pernah tertarik untuk membeli seri Assassin's saat pertama kali terbit. Seseorang sahabat yang juga penggemar kisah fantasi menyatakan buku ini tidak cukup bagus untuk dibaca. Sialnya aku menyetujui penilaiannya dan tidak jadi membeli. Setelah membaca buku ini aku sungguh menyesal! Seandainya sejak dahulu sudah membaca seri ini.

Sudah cukup lama aku menyita waktumu.
Semoga kesan yang aku tangkap dalam membaca buku tersebut bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam menerbitkan kisah-kisah selanjutnya. Aku, tentunya sangat berharap mendapat satu eksemplar lagi.


Salam buku



TR








2 komentar:

  1. review yang unik sekaligus menarik.
    saya baru mau membaca buku pertamanya..

    BalasHapus
  2. @Stevensitongan thx
    Ini juga buku pertama yang saya baca
    jadi menyesal ngak baca dari dulu.

    BalasHapus