Senin, 31 Maret 2014

Review 2014 #21: Kisah Peter Nimble dan Mata Ajaib

Judul: Peter Nimble and  His Fantastic Eyes
Penulis: Jonathan Auxier
ISBN : 978-602-03-0152-5
Halaman:  432 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga : Rp. 75.000,- 

Ada banyak raja, tidak ada pangeran
Burung-burung gagak berkeliaran dan samudra menarik diri.
Hanya orang asing yang akan membawa kelegaan,
Namun kegelapam berkuasa, kecuali ia...

Tak ada yang bisa menyangsikan kemampuan Peter Nimble dalam urusan mencuri. Tangannya sanggup membuka gembok apapun, bahkan saat tidur dan diikat ia akan secara spontan membuka ikatannya tanpa terbangun. Peter seakan terlahir untuk meloloskan diri dan membuka gembok atau kunci apapun di dunia ini.

Namun ia tak bisa membuka tabir masa lalunya. Ia hanya seorang anak yang ditemukan pelaut mengapung dalam sebuah keranjang bayi dekat kapal mereka. Di atas kepala bayi bertengger seekor burung gagak besar yang diduga telah mematuk habis mata bayi laki-laki tersebut. Para pelaut membunuh burung gagak dan menyerahkan bayi itu kepada aparat setempat.

Walau dianggap tak berguna, mereka harus memberi nama bayi tersebut maka muncul nama Peter Nimble. Peter hidup dengan menyusu dari seekor kucing sebagai balas budi karena Peter membunuh kutu-kutu yang hidup di tubuh sang kucing. Tak butuh lama bagi Peter untuk mandiri dengan cara mencuri padahal usianya masih sangat belia.

Suatu saat ketika sedang "bertugas", Peter tergoda mencuri  sebuah kotak yang berada di kereta penjaga keliling. Ternyata isinya tiga pasang benda bulat seperti telur yang terbuat dari emas, onix dan zamrud. Tanpa menyadari barang curiannya, ternyata Peter  telah mencuri tiga pasang mata ajaib. Ketika Peter memasang sepasang mata yang disangka telur tersebut ke rongga matanya, mendadak ia berada di dalam air dan selanjutnya hidupnya berubah dengan cepat.

Sepasang mata yang dipakainya membawanya pada sebuah petualangan tak terlupakan. Sekarang Peter bukalah Peter Nimble sang pencuri ulung lagi. Ia adalah Peter Nimbel bersama kesatria sahabatnya sedang merusaha memberikan pertolongan pada seseorang yang membutuhkan bantuan dengan cara mengirim pesan dan melembarnya ke laut hingga sampai ke Danau Galau bersama botol-botol pesan yang lain.

Peter bersedia menjawab permintaan bantuan berupa teka-teki aneh. Untuk itu ia harus berlayar hingga sampai ke Kerajaan yang Lenyap.  Konon, di kerajaan itu penduduk hidup damai dengan hewan yang bisa bicara dan berpikir seperti manusia. Bersama mereka membangun istana yang luar biasa indah. Butuh waktu yang lama untuk membangun istana itu, namun malam ketika akhirnya istana itu selesai seluruh tempat itu lenyap hilang tak berbekas.

Tidak ada yang tahu dimana letak kerajaan itu. Mereka akan berlayar dengan mengikat botol tempat pesan  ke haluan kapal dengan tali kecil sebagai petunjuk jalan. Begitu botol terpasang akan terdengar siulan pelan, bunyi angin yang mengenai mulut botol yang terbuka. Angin akan membawa mereka cukup dekat ke lokasi kerajaan itu. Mereka terus berlayar hingga sampai pada sebuah gurun pasir. 

Selanjutnya kita akan diajak berpetualangan bersama Peter dan kesatria sahabatnya. Banyak hal yang menghibur namun tetap pesan moral juga terkandung dalam buku ini misalnya bagaimana Peter harus tegar menghadapi segala cobaan hidup dan tidak mengeluh. Dan pastinya meremehkan dan menghina seseorang dalam kondisi tidak bsia melihat bukanlah perbuatan baik.

Tiga pasang mata yang ditermukan Peter ternyata memiliki kegunaannya masing-masing. Kapan saat yang tepat untuk menggunakan salah satu dari mata itu tidak ada yang tahu. Peter hanya perlu merasa saatnya sudah tepat untuk mempergunakan salah satu mata tersebut. Jika ia merasa saatnya belum tepat maka mata tersebut tidak akan berfungsi sebagaimana yang ia harapkan.

Ilustrasi buku ini hanya ada pada awal bab saja. Namun walau demikian ilustrasi yang ada cukup menawan. Jika diperhatikan secara seksama, ilustrasi itu merupakan inti dari bab tersebut. Andai Anda adalah tipe pembaca yang sering melewati halaman karena bosan atau ingin segera sampai pada akhir kisah, cukup nikmati ilustrasi yang ada saja. Meski demikian, cara membaca seperti itu tidak saya rekomendasikan.

Pembaca juga bisa memahami sebuah istilah karena langsung  diuraikan secara singkat. Misalnya pada halaman 53 disebutkan tentang flashback, "Ini istilah medis keren yang berarti mengingat sesuatu dari masa lalu kita." Pada halaman 229 disebutkan, "Mereka sempat menyaksikan Peter melakukan aksi Drowsy Dodger. Drowsy Dodger merupakan trik kuno ... tahun-tahun lalu; dalam trik itu jari-jarimu dilatih membuka simpul tali saat kau tidur...."

Saya memang menikmati kisah petualangan Peter, pada awalnya. Banyak hal yang mengundang rasa penasaran dak takjub akan kemampuan penulis menciptakan hal-hal fantasi. Namun memasuki halaman 250 saya sudah bisa menebak arah ceritanya. Rasa penasaran segera lenyap. Entah kenapa para penulis selalu begitu, kebanyakan begitu.

 Maksud saya,  setelah mengaduk-aduk rasa penasaran pembaca mendadak ada suatu hal yang membuat segala hal yang menarik tersebut menjadi sangat sederhana, penjelasannya sangat mudah. Kenapa semua hal harus berkaitan pada akhirnya? Tidak bisakah ada misteri yang tetap dibiarkan tak terpecahkan. Jika sudah membaca sampai halaman 250 pasti bisa memahami apa maksud ocehan saya dengan kenapa semua hal harus berhubungan dan misteri terpecahkan dengan sangat mudah. Semangat membaca saya langsun turun melewati halaman 250.

Setelah menempuh perjalanan jauh, selanjutnya Peter akan  berurusan dengan penguasa kejam yang menggulingkan saudara sendiri demi tahta. Bukan hal baru dalam dongeng, tapi masih bisa dinikmati. Pada bagian penguasa meracuni pikiran orang tua untuk tidak ingat pada anaknya ini membuat saya bergidik. Apakah pantas kisah ini dibaca oleh anak-anak? Bagaimana pun orang tua pada akhirnya memang akan ingat pada anaknya, penulis juga membuat adegan seperti itu. Tapi tetap saja hal itu tidak layak dimasukan dalam buku anak apapun alasan para orang tua lupa pada anak. Dalam kisah ini karena meminum ramuan teh dengan campuran tertentu setiap beberapa kali sehari.

Lalu ada bagian para orang tua yang tidak sadar mendapat perintah untuk menghabisi anak-anak yang disebut sebagai mosnter oleh Raja tersebut. Mengajarkan kekerasan pada anak? Adegan ini tidak layak bagi anak-anak. Apapun alasannya menyakiti seorang anak atau membuat orang tua menyakiti anak bukanlah hal yang bagus untuk dimasukan dalam buku bacaan anak. Bayangkan jika suatu saat ada orang tua yang menyakiti anaknya lalu mengatakan tidak sadar berbuat begitu. 

Atau anak yang bersikap tidak sopan dalam buku ini dengan alasan tidak tahu siapa mereka juga tidak bisa diterima. Pada halaman 241 disebutkan bahwa Raja takut pada anak-anak karena anak-anak tidak suka diperintah oleh siapa pun.  Lebih lanjut disebutkan bahwa orang dewasa bisa diintimidasi dan ditipu, tapi prinsip seorang anak jauh lebih kuat. Kalimat ini agak sedikit penakutkan seakan membenarkan bahwa wajar jika seorang anak membangkang karena tidak mau diperintah. Padahal kebanyakan perintah yang diberikan oleh orang tua adalah untuk kebaikan sang anak.

Selanjutnya ada kalimat yang menyebutkan, "... fakta yang juga menjelaskan kenapa anak-anak tidak memercayai para ibu tiri jahat dan guru-guru pengganti."  Tidak semua ibu tiri dan guru pengganti jahat. Kalimat ini seakan menanamkan pandangan bahwa setiap ibu tiri dan guru pengganti memiliki perilaku buruk dan cenderung kejam menyiksa anak-anak.

Jika yang dimaksud anak-anak lebih jujur sehingga tidak mudah diintimidasi mungkin bisa diganti bahasanya. Anak-anak memang selalu jujur. Ingat saja kisah Pakaian baru Kaisar hanya seorang anak yang mau menyebutkan kaisar telanjang dan mengaku tidak melihat apa-apa sementara seluruh negeri mengaku melihat aneka warna menawan dan betapa halusnya pakaian sang kaisar.

Perkelahian salah satu tokoh yang berusia belasan tahun dengan sang raja yang usianya jauh lebih tua juga menjadi hal yang tidak masuk akal. Ini memang kisah fantasi tapi bukan berarti bisa berfantasi dengan seluasnya tanpa landasan.

Jika biasanya kita menemuka kisah fantasi dengan burung Gagak sebagai tokoh yang menyebalkan dan membahayakan maka dalam buku ini justru terbalik. Gagak adalah burung yang setia pada pimpinannya. Begitu pimpinannya terbunuh dan digantikan dengan yang baru, maka seluruh koloni akan menunjukan kesetiaan pada pimpinan yang baru.

Buku ini mungkin lebih cocok dibaca bagi mereka yang sudah berpikiran matang bukan anak-anak atau remaja labih yang sedang mencari jati diri. Penerbit sebaiknya lebih memperhatikan terjemahan serta cerita sehingga lebih cocok untuk anak-anak  atau remaja jika benar buku ini ditunjukan bagi mereka. Terlepas dari itu saya memberikan bintang 3,5 saja.

Jika ingin lebih mengenal penulis silahkan mengunjungi http://www.thescop.com/ Luangkan waktu juga untuk berkunjung ke http://www.peternimble.com/ dimana kita bisa mengenai segala hal yang berhubungan dengan buku ini.

Now, there is a wonderful thing in this world called "foresight". It is a gift treasured above all others because it allows one to know what the future holds. Most people with foresight end up wielding immense power in life, often becoming great rulers or librarians.”
Jonathan Auxier 


Sumber gambar:
 http://www.peternimble.com
 http://www.thescop.com/
 http://www.kidsreads.com
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar