Selasa, 01 Oktober 2013

The Bliss Bakery Trilogy #2: A Dash of Magic



FB 19 September 2013 pukul 13:12
Penulis:  Kathryn Littlewood  
Penerjemah: Sujatrini Liza
Penyunting: @pureanugroho
Penyelars Aksara: Aini Zahra, @kaguralian
Penata Aksara: Garislingkar
ISBN: 978-979-433-811-7
Halaman: 312 
Penerbit:  Mizan Fantasi
Harga: Rp 49.500,-

SUNGGUH LUAR BIASA! 
Perpaduan hal yang sangat kusukai dan hal yang tak kusukai

Aku sangat mengagumi warna biru. Jika bisa,  semua hal terpenting harus biru, kecuali uang tentunya he he he. Betapa jatuh hatinya aku saat melihat buku pertama seri ini. FULL BIRU dari kover hingga halaman samping yang juga diberi warna biru. Begitu juga saat menemukan buku keduanya.  HIDUP BIRU!

Yang tak kusukai, sebenarnya sih karena tidak bisa makanya jadi tidak suka,  kegiatan memasak. Well aku memang bukan wanita telatan yang jago meracik aneka resep. Secara teoritis, aku sering memberikan saran bagi teman-temanku yang jago memasak, hasilnya sungguh luar biasa. Tapi jangan suruh aku yang membuat. Bisa-bisa masak air saja gosong!

Namun walau aku tak suka (eh belum suka) memasak aku bisa memahami betapa pentingnya arti buku  resep bagi Rosemary Bliss. Apa lagi buku tersebut memuat aneka resep yang walau tidak akan bisa dimasak di dapur kalian karena bumbu-bumbu rahasia mereka, dijamin bisa membawa efek luar biasa bagi yang memasaknya. Rose memilih kehilangan ketenaran dan pujian dari pada kehilangan cinta keluarganya dengan menjadi pengikut Bibi Lily yang sangat ingin menguasai dunia melalui masakan (standar sifat tokoh jahat).

Bibi Lily sekarang  menjadi seorang pesohor. Apapun yang menyangkut Lily pasti laris manis. Dari sekedar iklan spatula hingga acara bincang-bincang. Popularitasnya tak terbendung. Nyaris seluruh televisi menyiarkan wajahnya.    30 Menit Sihir Lily menjadi acara memasak siang hari dengan rating tertinggi dalam sejarah siaran televisi. Bahkan  bumbu rahasia yang belum memikili ijin  untuk produknya. Karena sekarang ia adalah seorang pesohor maka orang melihat wajahnya dan tanpa ragu melakukan pembayaran.

Rose dan ibunya menghabiskan sepanjang pekan untuk mencoba semua resep 30 Menit Sihir Lily dan menambahkan sejumput bahan sihir yang diklaim sebagai bahan sihir Lily ke setiap masakan. Bahan sihir berbentuk bubuk kelabu kebiruan itu berbau seperti roti bakar gosong. Setiap menyentuh adonan, maka akan timbul suara mendesis dan mengeluarkan nama bibinya, Liiiilyyyy. 
Sejak buku resep milik keluarga mereka dicuri oleh Bibi Lily, banyak terjadi perubahan. Belakangan jalan-jalan di Calamity Falss terasa dingin dan kelam bahkan saat musim semi sekalipun. Mrs Havegoods kekurangan daya kreatifitasnya. Liga Pustakawati mengistirahatkan bus tur. Mr Bastable dan Mrs Thistle-Bastable kehilangan hasrat satu sama lain. Suasana menjadi suram seakan tak ada jiwa kehidupan di sana. 

Buku resep tersebut hanya ada dua di dunia. Yang satu sekarang berada di tangan Bibi Lily, sementara salinan satunya berada di tangan sesepuh keluarga. Selama ini keluarga Rose menjaganya dengan sangat hati-hati mengingat banyak pihak, selain Bibi Lily yang ingin mencurinya  untuk kepentingan pribadi

TIDAK MUNGKIN! Sangat tidak mungkin jika kalian menyarankan untuk mengambil salinan Bliss Cookery Booke yang satu lagi. Masalahnya bukan  tempat tinggal kerabat yang menyimpan buku itu, tapi bahasa yang dipergunakan untuk menulis. Salinan buku tersebut mempergunakan bahasa Sassanian. Bahasa yang dipergunakan oleh Suku Dukun kuno di Bulan Sabit Subur. Sejauh ini kakek buyut Balthazar baru berhasil menerjemahkan sembilan resep!

Tak ada cara lain!
Rose harus merebut kembali buku memasak itu. Salah satu cara gila yang mampir di kepalanya adalah menantang Bibi Lily  lomba memasak. Rose harus mengalahkan Bibi Lily di Gala des Gateaux Grands. Lomba adu memasak tingkat dunia. Jika menang maka Bibi Lily harus mengembalikan buku yang dicurinya. 

Belajar dari pengalaman Rose, dan Ty memaksa Bibi Lily membuat dan memakan Rugelach Tanpa-Ingkar. Dengan bumbu rahasia air liur peri,  maka siapa saja yang memakannya pasti tidak akan mengikari perjanjian yang telah dibuat.

Jangan tanya bagaimana seru dan menengangkannya acara lomba masak tersebut. Berbagai cara ditempuh keduanya untuk menang. Rose beberapa kali tergoda untuk melakukan hal buruk seperti  mencuri buku tersebut. Hal ini dikarenakan ia sering kali merasa terintimidasi melihat aksi sang bibi. Karyanya sungguh spektakuler sementara ia merasa hanya mampu membuat makanan sederhana dengan penyajian yang juga sederhana sekali. Sementara Bib Lily tak perlu ditanya, segala hal dilakukan agar menang.

Seharusnya Rose tak perlu  cemas. Seluruh keluarga mendukungnya, bahkan sang kakek buyut bersedia ikut dengannya demi membantu menemukan dan menerjemahkan resep yang cocok. Ia tak perlu takut akan tidak adanya bumbu rahasia yang cocok atau keterampilannya yang masih jauh di bawah sang bibi. Rasa percaya seluruh keluarga bahwa Rose pasti bisa membereskan kekacauan yang menurutnya diakibatkan kebodohannya,  serta kasih sayang yang diberikan seluruh keluarganya justru  menciptakan bumbu rahasia paling hebat. itulah inti sebenarnya dari memasak ala Bliss. Sungguh bagian yang paling menyentuh.

Selama lomba, Rose berjuang demi Booke dan menghentikan Bahan Sihir Lily, sedangkan bagi Lily yang penting adalah memenangkan lomba. Rose berjuang demi keluarga dan kotanya. Sementara Lily berjuang demi ambisinya.

Buku ini benar-benar menghibur saya. Baru menyimak isi bukunya saja saya sudah sangat tertarik. Ada Kucing yang Pandai Bicara, Tantangan Tak lazim, Kucing yang Menendang Sarang Tawon, Merayu Batu, dan lainnya

Saya tertawa lepas saat membaca bagian tentang pengumpulan aneka bumbu rahasia. Ternyata Mona Lisa tidak tersenyum. Hantu pun bisa malu dan bersemu merah di wajah. Rayuan tetap rayuan bahkan jika yang harus  dirayu adalah batu. Bahkan demi bumbu rahasia mereka ikut merayakan ulang tahun di kuburan.

Dibandingkan dengan buku pertama, buku kedua ini kian menawan. Penulis mengaduk-aduk perasaan kita. Ikut bahagia saat Rose menemukan bumbu rahasia dengan susah payah, sedih karena masakannya nyaris membuatnya dikeluarkan dari lomba. Terpenting merasakan semangat kebersamaan keluarga mendukung Rose. Seluruh keluarga bahu-membahu membantu Rose dengan sepenuh hati. Dukungan mereka merupakan kekuatan bagi Rose

Bagian yang menyentuh hingga saya seakan berubah menjadi lebai, menintikkan air mata ada di bab lima belas. Sungguh mengharukan. Segala hal yang dilakukan dengan kesadaran untuk kepentingan sesama pasti akan mendapat ganjaran yang  menyenangkan.

Kekurangannya bagi saya hanyalah pada bagian resep. Seperti buku yang pertama, buku ini juga memuat bagian yang mengisahkan tentang latar belakang lahirnya sebuah resep dengan bumbu khusus. Masalahnya kali ini beberapa bagian itu dicetak dengan lebih tipis dan halus, sehingga sedikit susah bagi mata minus saya membacanya. Atau karena mata saya yang bermasalah . 

Setelah sekian lama berurusan dengan mitologi, sang terpilih, pembawa pesan, penyhir dan sejenisnya. Senang rasanya menemukan sebuah kisah fantasi yang berbeda. Kekuatan dan keunikan kisah ini justru dari hal sederhana, memasak dan makna keluarga.

Hemmmm, ini ada kelanjutannya ngak yahhh. 

1 komentar: