Minggu, 24 Maret 2013

Serat Gatholoco




"Boleh ya grandnie?" regek seorang remaja terdengar dari dalam perpustakaan pribadi di sudut halaman.

"Aku khan selalu ingin berada disaat grandnie mengeluarkan buku dari koleksi." kembali rengekan terdengar
Sementara wanita paruh baya yang dipanggri grandnie hanya terseyum saja tanpa memberikan jawaban.

Saat itu, salah satu kerabat pemilik rumah mewah nan asri di ujung jalan akan segera menikah. Sebagai kerabat tentunya mereka pasti ikut mempersiapkan segala sesuatunya. Dari membantu menyebarkan undangan hingga urun rembuk soal dana. Tak ketinggalan kesibukan menyiapkan aneka hadiah yang akan diberikan bagi calon pengantin.

Wanita paruh baya itu  akan memberikan hadiah berupa buku mengenai kehidupan berumah tangga. Bukan sembarang buku, tapi buku yang dikeluarkan dari koleksinya. Artinya buku itu merupakan buku yang spesial dilihat dari isi dan harganya, demikian juga yang akan menerimanya.

Ritual memberikan buku selalu menjadi hal yang menyenangkan untuk diikuti. Karena selalu saja diikuti dengan petuah-petuah yang disampaikan dengan guruan tapi syarat makna, petuah yang dikaitkan dengan makna yang terkandung dalam buku itu.

Sang cucu kesayangan, walau setiap awal tahun selalu mendapat hak istimewa, mendapat buku baru dengan ritualnya tetap saja selalu ingin berada di perpustakaan pribadi milik sang grandnie saat mendengar ada seseorang yang akan mendapat hadiah buku. Biasnya sang grandnie selalu memberi izin saat ia menyatakan keinginannya untuk berada disana. Namun entah kenapa untuk kali ini sang grandnie tidak langsung memberikan anggukan kepala tanda setuju, membuat sang cucu kesayangan penasaran akan buku apa yang dikeluarkan sebagai hadiah kali ini.

"Puja jiwaku, mereka sudah datang," suara halus belahan jiwa sang grandnie terdengar dari arah pintu.  Sekilas orang akan menemukan wajah keras dan kaku terpatri di sana. Namun mendengar kelembutan suaranya saat berbicara dengan sang grandnie serta sikapnya, tak ada yang meragukan betapa besar cintanya pada sang grandnie

"Boleh yah eyang aku ikut mendengarkan?" rengek sang cucu kesayangan kembali terdengar. Kali ini kepada pria yang baru datang  Rupanya ia memanfaatkan situasi dengan baik. Sang grandnie hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum, maklum dengan kecerdikan sang cucu.  Sudah pasti  sang eyang akan meluluskan permintaannya, seperti juga permintaan yang lain.Artinya ia juga harus meluluskan permintaan sang cucu kesayangan. Karena apapun yang diputuskan oleh pria itu akan dikutinya dengan patuh.

Sepasang calon pengantin segera memberi salam dengan hangat. Mereka merasa tersanjung bisa berada dalam perpustakaan pribadi itu. Tak sembarang orang mendapat izin  untuk berada di sana. Segera mereka duduk di sofa nyaman yang terletak di tengah ruangan.

"Bagaimana persiapan kalian?"tanya wanita paruh baya itu sambil menatap sepasang pengantin di hadapannya. Dengan bersemangat keduanya bercerita tentang persiapan yang nyaris selesai semuanya, sesekali wanita paruh baya itu bertanya hal sepele yang dijawab  antusius keduanya.

"Apa kalian sudah memahami makna surga katut neraka nunut?" tiba-tiba pria yang dipanggil eyang itu bertanya. Selama ini ia hanya mendengarkan dengan seksama pembicaraan yang berlangsung,  tangannya tak lepas menggenggam erat tangan wanita paruh baya yang duduk di sebelahnya. Sepasang calon pengantin tersebut terdiam sesaat sebelum memberikan anggukan kecil.

"Buku ini juga terkait secara tak langsung dengan perihal itu," ucap wanita paruh baya sambil menyodorkan sebuah buku. Sang calon pengantin pria menerimanya dan bergegas  membuka halaman awal bersama calon istrinya.
 
Pengarang : Damar Sashangka
Penyunting : Salahuddien GZ& Endah Sulwesi
Halaman : 395
ISBN : 9789791799898
Penerbit : Dolphin

"Pilihan tepat!" seru sang eyang sambil terseyum mesra ke wanita paruh baya.

"Mungkin belahan jiwaku, cintaku bersedia membantuku memberitahu mereka apa isi buku ini?" tanya wanita paruh baya itu sambil tersenyum.

"Pasti istriku!" jawab sang eyang dengan bersemangat.

"Buku ini ditulis dalam bentuk puisi, tembang macapat. Isinya tentang seorang pria yang bernama Gatholoco, putra Raja Suksmawisesa dari Kerajaan Jajarginawe. Parasnya sungguh buruk rupa,simak saja kalimat berikut,
 Êndhek cilik remane barintik, tur aburik wau rainira, ciri kera ing mripate, alis barungut têpung, irung sunthi cangkême nguplik, waja gingsul tur pêthak, lambe kandêl biru, janggut goleng sêmu nyênthang, pipi klungsur kupingira anjêpiping, gulu panggêl tur cêndhak.
Berpostur pendek dan kecil dengan rambut keriting, kulit wajahnya kasar, bermata kera (arah pandang mata yang tidak normal), alisnya tebal dan bertemu ujung keduanya, hidung pesek mulut maju, gigi gingsul besar berwarna putih, bibirnya tebal berwarna biru, janggut tumpul (tidak runcing) dan melebar jelek, pipinya kempot bentuk daun telinga maju (seperti telinga gajah), sedangkan leher besar dan pendek.
lanjut sang eyang sambil menunjukan halaman yang memuat kalimat tersebut.

"Dalam perjalanannya Gatholoco ditemani punakawan bernama Dharmagandul. Secara harafiah arti Gatholoco sama dengan Dharmagandul. Identik pula dengan lingga, kelamin laki-laki, lambang yang dipergunakan sebagai simbol dari hati nurani, naluri, serta sering pula dijadikan ekspresi kesakralan, kekuatan mistis dan kejujuran gerak bathin. "papar sang eyang panjang lebar.

"Sepanjang perjalanan, Gatholoco bertemu dengan banyak orang yang diajaknya berdebat. Dari makna najis dan haram; mana yang lebih dahulu   antara wayang, dalang, blencong serta kelir; hingga banyak hal. Buku ini memberikan pelajaran bagaimana seharusnya seorang bersikap dalam kehidupan ini. Menjalankan ajaran agama dengan hati yang iklas serta pemahaman yang dalam bukan hanya karena kebiasaan.Sebagai contoh dalam Serat Gatholoco: 5:4-6 berisikaan tentang Shalat Sejati, mengajak kita lebih memahami makna Shalat bukan sekedar melakukan gerakan saja. Dengan memahami maka kita akan lebih khusuk menjalankannya, Terdapat juga  nasihat tentang asal muasal hidup, bagaimana manusia mengenal sang Pencipta serta pemahaman masalah proses kehidupan spiritual, "lanjutnya lagi.
 
Sepasang calon pengantin menyimak dengan seksama setiap kata yang ducapkan. Sementara sang cucu kesayangan terlihat berusaha memahami uraian yang disampaikan. Maklum untuk usia ABG pembicaraan ini sedikit berat.

"Masih ingat  saat ke tempat grandnie kerja dulu? Ada simbol Lingga dan Yoni disana. hal tersebut juga bisa ditemukan dalam buku ini, tapi uraian lengkapnya nanti jika kamu sudah lebih dewasa," ucap sang wanita paruh baya pada cucunya sambil tersenyum.

"Untuk kalian, buku ini juga memberikan pengajaran mengenai ajian asmaragama,  serta memberikan kenikmatan kepadanya tanpa harus bersentuhan, ada juga sarana dan ramuan untuk meningkatkan kualitas hubungan badan tentunya juga ada metode spiritual untuk memperoleh keturunan sesuai yang diharapkan. Sumbernya dari Serat Kawruh Sanggama, Serat Nitimani, Serat Panitisastra, Serat Widyakirana, Serat Jitabsara, serta Serat Prinbon,"lanjutnya lagi

"Itu sebabnya grandnie ragu mengijinkan kamu tadi ikut mendengarkan, karena buku ini harus dipahami dengan hati yang tulus tanpa prasangka buruk serta oleh mereka yang sudah memiliki kematangan jiwa," terang sang wanita paruh banya sambil terseyum ke arah cucu kesayangannya.

"Kitab Gatholoco  sempat membuat heboh dan dilarang beredar. Seorang dosen Jurusan sastra Daerah Universitas Sebelas Maret, Drs Wakit Abdullah, M.Hum dalam  Tafsir Gatolotjo menyebutkan, " Kitab Gatolotjo sempat bikin heboh. Bukan hanya bahasanya yang porno, tetapi intisarinya juga bertentangan dengan agama. Gatolotjo tidak kalah sadis dibandingkan Ayat-ayat Setan karya Salman Rushdie yang menghebohkan itu. Gatolotjo juga sempat dilarang pemerintah. Dan hampir semua umat Islam setuju. Berbahaya jika dipublikasikan kepada umum, tetapi untuk kalangan terbatas sah-sah saja." Maka tak heran jika  buku ini hanya dicetak 3.000 saja.Grandnie kalian langsung memesan beberapa. Kalau tidak salah sekarang hanya tertinggal sedikit dikoleksi grandnie. Kalian pasti sangat spesial sehingga buku langkan ini diberikan," papar sang eyang sambil terseyum. Wajah sangarnya sesaat lenyap digantikan wajah pria paruh baya yang penyayang. Wajah sepasang calon pengantin tampak sumringah, merasa mendapat kehormatan menjadi sosok yang diistimewakan.


"Yang ada dalam buku ini hanyalah pengetahuan semata, bagaimana hasil serta persepsinya tergantung bagaimana setiap individu menyikapinya. Terpenting pahami dengan seksama dan jangan ragu mendiskusikannya berdua, karena ketika kalian sudah menikah maka yang satu adalah belahan jiwa yang lainnya," tambah sang eyang sambil berdiri menandakan pembicaraan telah selesai.

Sepasang pengantin dan cucu kesayangan mereka ikut berdiri lalu berjalan menuju pintu keluar perpustakaan pribadi itu.

"Sebentar nak!" suara sang eyang terdengar menghentikan langkah cucu kesayangan.

"Ada baiknya kamu mulai membaca Tafsir Gatolotjo ini," katanya sambil menarik sebuah buku dari rak. Selain dirinya tak ada yang berani mengambil dan memindahkan buku dari rak tanpa persetujuan pemiliknya, sang grandnie.

"Betul, baca dengan pikiran terbuka, ambil intisarinya sebelum kelak kamu siap menerima salah satu buku Gatholoco seperti yang tadi. Moga-moga masih lama waktu itu tiba" sambung wanita paruh baya itu sambil terseyum.

Wah terima kasih sekali eyang dan grandnie!" sang cucu kesayangan berseru dengan gembira. Diberikannya pelukan singkat kepada kedua sosok paruh baya yang ada di depannya lalu ia bergegas keluar sambil membalik-balikan halaman buku yang baru diterimanya. 

"Waktu berjalan cepat yah puja jiwaku. Entah sudah berapa kali kita diskusikan buku itu tapi tetap saja ada ada sesuatu yang bisa kita bahas," kata pria paruh baya itu sambil menatap mesra wanita yang duduk di sebelahnya.

"Berkenan menemani aku berdendang puja jiwaku?" tanya pria paruh baya itu dengan halus. Wajah sang wanita paruh baya itu bersemu merah sesaat. Walau sudah tidak muda lagi, namun mereka masih tetap mesra hingga membuat iri yang melihatnya.

"Pasti belahan jiwaku, membuatmu nyaman adalah kehormatan bagiku," jawabnya sambil berdiri bergegas mematikan lampu di perpustakaan.

Keduanya berjalan beriring mennggalkan perpustakaan pribadi menuju rumah induk.
Keduanya tak menyadari ada dua pasang mata yang mengikuti mereka dengan iri, mata kedua calon pengantin yang ternyata masuh duduk di kursi taman dekat perpustakaan.

"Sayang, lihat mereka. Walau sudah sepuh tapi tetap mesra," kata  calon pengantin pria.
"Iya sayang," jawab calon pengantin wanita. "Aku ingin seperti mereka, jika buku ini bisa membantu kenapa tidak kita baca dan pahami," lanjutnya lagi. Calon pengantin pria mengangguk dengan cepat tanda setuju. Keduanya terlihat asyik membaca isi buku Gatholoco.

Sementara, di bagian lain rumah itu, sang cucu kesayangan asyik berselancar di dunia maya  mengumpulkan informasi seputar buku yang baru diperolehnya, Tafsir Gatolotjo.

Buku tidak pernah ada yang buruk isinya, hanya mungkin belum menemukan pembaca yang tepat serta bagaimana persepsi setiap individu yang membacanya.




3 komentar: