Senin, 07 Januari 2013

Inside Coca-cola: Coca-cola dari Masa ke Masa

Pengarang : Neville Isdell dan David Beasley
Penerjemah : Daniel Purba
Editor: Niken Hananti, Resmaulina Aruan, Rizal Pahlevi Hilabi
ISBN : 978-602-7596-17-7
Halaman:247
Penerbit : Esensi ( Erlangga Group)

Sekali sebuah buku mengenai perjalanan minuman ringan yang dikenal dengan nama Coca-cola menuju sukses. Kali iini buku yang ditulis oleh  Neville Isdell dan David Beasley mengisahkan tentang kesuksesan Coca-cola sebagai penyelia kebahagian, purveyor of happines. Tengok semua iklan produk ini, pasti menggusung suasana ceria dalam lingkungan keluarga, sahabat bahkan kehidupan sehari-hari.

Sebagai sebuah produk yang cukup lama bertahan, banyak yang mengira bahwa kondisi perusahaan baik-baik saja tidak ada masalah yang signifikan. Padahal kondisi di dalam perusahaan sedang morat-marit. Neville Isdell ditunjuk sebagai CEO keduabelas dengan beban kerja yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan Jack Welch yang mumpuni terpaksa mengakui ia tidak memahami dunia minuman ringan.

Coca-cola diproduksi dengan racikan rahasia. Hanya segelintir orang yang mengetahui racikan itu, bahkan CEO Coca-cola sendiri tidak mengetahu apa racikan itu. Racikan tersebut dibuat di beberapa pabrik di dunia kemudian dicampur dengan bahan-bahan lainnya untuk membentuk konsentrat yang kemudian diproses menjadi sirup dan mengirimkan ke pabrik pembotolan untuk diproese lebih lanjut hingga sampai ke tangan konsumen.

Entah benar atau tidak, sahabat saya yang hobi menyusuri dunia menyebutkan rasa Coca-cola di tiap negara yang dikunjunginya berbeda. Contoh paling nyata, menurutnya rasa minuman ini di negara kita lebih manis dibandingkan dengan negeri tetangga, Malaysia. Perbedaan rasa ini dimaksudkan untuk mengikuti seleras masyarakat di negara dimana Coca-cola dipasarkan. Teknik pemasaran ini pernah digunakan oleh sebuah makanan cepat saji, sayangnya kurang berhasil.

Sebagai sebuah produk yang cukup lama bertahan, banyak yang mengira bahwa kondisi perusahaan baik-baik saja tidak ada masalah yang signifikan. padahal kondisi di dalam perusahaan sedang morat-marit. Neville Isdell ditunjuk sebagai CEO keduabelas dengan beban kerja yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan Jack Welch ya mumpuni sekali pun harus mengakui ia tak mengerti soal minuman ringan.

Buku ini mengisahkan betapa beratnya perjuangan san CEO membangkitkan Coca-cola hingga berada di posisi saat ini. Mulai dari memacu para sales hingga setiap botol Coca-cola memiliki tempat di rak penjualan di seluruh dunia, bagaimana cara menghadapi suatu masalah di negara yang berbeda hingga memanfaatkan momen khusus guna promosi, Olimpiade misalnya.


Startegi produk yang beragam tanpa meninggalkan rasa dasar Colca-cola juga dilakukan. Misalnya dengan meluncurkan Coca-cola Zero yang memiliki rasa nyaris serupa dengan diet Cola. Perlu diingat, SERUPA tapi TIDAK SAMA. Sebuah perbedaan kecil saja dalam produk bisa membuat konsumen memiliki penilaian yang berbeda. Sebagai rasapenghormatan bagi para konsumen, pihak Coca-cola berusaha memenuhi selera konsumen yang beragam.

Tengok juga kisah bagaimana pabrik pembotolan di India harus terkena dampak negatif karena penyusutnya persediaan air tanah. masyarakat sekitar menganggap pabrik tersebutlah yang membuat persediaan air menipis. Dengan berbagai cara pihak manajemen setempat dengan sang CEO berhasil membuktikan bahwa mereka bukan penyebab menipisnya persediaan air tanah. Justru mereka membantu melakukan penghematan.

Tidak banyak yang tahu bahwa Ahli farmasi John Stith Pemberton dari Columbus, Georgia berupaya mengembangkan anggur kola perancis tanpa alkohol,   dikarenakan Atlanta dan Wilayah Fulton meloloskan undang-undang larangan terhadap penjualan minuman keras pada tahun. Minuman tersebut diberi nama  "Coca-Cola" karena ia mengandung daun koka dari Amerika Selatan yang mengandungi kafein. Setiap gelas mengandungi lima ons daun koka.

Penjualan perdana dilakukan  di "Farmasi Jacob" di Atlanta, Georgia pada 8 Mei 1886.  Saat, hanya sembilan gelas dijual pada setiap hari.  Pemberton mengiklankan minuman itu pertama kali pada 29 Mei di Jurnal Atlanta. Penjualan dalam bentuk botol pertama kali dilakukan pada 12 Maret  1894, dan dalam bentuk kaleng aluminium pertama kali pada 1955. Pembotolan Coca-Cola yang pertama dilaksanakan di perusahaan Biedenharn Candy di Vicksburg, Mississippi, pada tahun 1891. Pemiliknya Joseph A. Biedenharn.

Pada perang duia ke-2 berlangsung,  Coca-Cola mendapat tempat di hati para tentara Amerika yang terjun ke medan perang. Coca-cola memberikan minuman gratis kepada tentara Amerika Serikat. Para tentara sangat menyukai minuman itu karena mengingatkan pada rumah mereka. Coca-Cola membuat banyak kilang pembotolan di luar negeri untuk memastikan minumannya dapat dikirim ke prajurit-parjurit yang sedang berperang.  Saat itu coca-cola menjadi minuman yang identik dengan gaya hidup masyarakat Amerika


Selama lebih dari 100 tahun,  Coca-Cola telah berulang kali melakukan peremajaan pasar.   Kunci sukses bagi peremajaan tersebut adalah mau menerima perubahan (rebuild) serta berkonsentrasi pada permintaan pasar dengan memperhatikan produk inti dan pembelian inti, lalu melakukan investasi pada keahlian inti agar menguasai kemampuan inti baru (renew). Serta memperluas keunggulan melalui leveraging. Dengan kerjasama, strategi yang bagus serta sikap menghargai karyawan, produk ini mampu bertahan.

Gara-gara seorang pilot melempar botol minuman ke jendela, maka sebuah desa di Afrika (jika tidak salah) yang semula tentram menjadi kacau. Botol minuman tersebut terjadi sangat membantu pekerjaan sehari-hari. Ada yang mempergunakan sebagai alat menggiling adonan, untuk memecah biji bahkan untuk bermain. Botol itu menjadi rebutan seluruh suku. Seorang anggota suku yang bijak ingin pergi ke ujung dunia dan mengembalikan botol yang "jatuh dari langit" agar desa itu kembali tentram. Botol itu adalah botol Coca-cola. Ini merupakan inti film The God Must Be Crazy. Terbukti produk Coca-cola menempuh segala cara promosi agar bertahan. Luar biasa

Jadi ingat tugas saat kuliah Manajemen Pemasaran dulu....
Coba sudah ada buku ini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar