Senin, 24 September 2012

Kisah Persahabatan Pegasus dan Putri Sylvi



Judul: Pegasus
Penulis: Robin McKinley
Penerjemah: Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Peyunting: Reni Indardini
ISBN: 978-979-433-689-2
Halaman: 496
Harga: Rp 78.000,-
Penerbit: Noura Books, Mizan Fantasi



The Mythical Flying Horse
 **Pegasus**


 I dream of the glorious days of old, when legends were more than stories told.
Where once the mighty Pegasus flew, his wings of white, his eyes of blue.


From Medusa's blood he did spring, a graceful, wise and gentle being.

Raised by the Muses and pure of heart for him, the gates of Olympus would  always part.

Tamed by man through a Goddess's betrayal, the Pegasus did cause the Chimera to fail.
But Man through treachery, ambition and greed, lost his bond with the magical steed.

Angered Gods put Him in their stable, there he became little more than a fable.
Carrying the weapons of the Gods, he longed to be free from their mighty rods.

The King of Gods then decreed that Pegasus would at last be freed.
Now he lives among the stars looking down on us from afar.

E. Sturdivant
(http://www.southcom.com.au/~seymour/pegasus/pegasus.htm)

Aku mendengarnya!

Sylvi baru bertemu dengan pegasus pendampingnya, Ebon,  saat upacara penyatuan ikatan. Konon jika ia baru mengenai segala hal seputar pegasus pendampingnya  saat upacara maka mantra pengikat akan lebih kuat dan berkhasiat begitu keduanya bertemu.  Namun anehnya begitu bertemua Sylvia dan Ebon bisa berkomunikasi lancar dengan menggunakan telepati layaknya dua sahabat karib. Padahal biasanya dibutuhkan jasa seorang  petutur atau penerjemah untuk menjembatani komunikasi antara manusia dan pegasus. Itu pun tidak menjamin kelancaran komunikasi diantara mereka.

Ebon dengan sosok  hitam tinggi dengan kaki kurus yang terlihat terlalu panjang untuk tubuhnya, dan berjenis laki-laki  memang terlihat kontras dengan sosok Putri Sylvi yang cenderung mungil.  Sylvi merupakan putri keempat dari Kerajaan Basiland. Sementara Edon adalah anak keempat dari raja pegasus dari  Rhiandomeer, di balik pegunungan Starcloud. Sesuai perjanjian, setiap anggota kerajaan akan mendapat pasangan  pegasus. Kadang  mereka tidak saling memahami dengan baik, namun tetap saja bereka terikat dengan penyatuan ikatan suci.

Seiring waktu, persahabatan keduanya kian erat. Sylvi bahkan menjadi manusia pertama yang diundang mengunjungi negara pegasus dan memasuki gua keramat mereka. Banyak pihak yang mempertanyakan kedekatan keduanya. Selama ini sangat jarang ada yang bisa saling memahami bahasa keduanya. Sebenarnya wajar saja jika seseorang tidak mengerti bahasa oral pegasus yang banyak konsunannya. Simak saja gwyyfvva terhormat, lalu inskawhaksha   musuh bebuyutanku. Bisa dibayangkan jika penerjemah saja bisa salah mengartikan apa lagi mereka yang tak memahami bahasa pegasus. Sylvia dan Ebon justru  bercakap-cakap dengan kedua bahasa dengan lancar.

Kunjungan Sylvia ke negara pegasus diharap mampu menjembatani perbedaan yang ada diantara mereka. Pegasus diharapkan bisa lebih mengerti apa yang diinginkan manusia serta memahami bagaimana manusia sebenarnya. Sementara itu Sylvia diharap mampu memberikan pencerahan bagi manusia bagaimana sebenarnya kehidupan pegasus. Sejak menginjakkan kaki di Rhiandomeer, Sylvia memandang pegasus dari sisi yang berbeda. Ia bahkan bisa mengerti mengerti dan bercakap-cakap dengan pegasus selain Ebon.

Berbagai pihak yang berusaha memisahkan keduanya sepertinya kian memiliki alasan yang kuat. Bukti-bukti juga sudah dikumpulkan. Sekarang tinggal menunggu saat yang tepat untuk menunjukannya pada khalayak. Persahabatan Ebon dan Sylvia terancam. Penulis masih akan membuat kita penasaran di buku kedua nanti.


Secara keseluruhan buku ini menawarkan tentang persahabatan manusia dan hewan. Dimana persahabatan suci bisa saja terjalin antara siapa saja dan dengan cara yang unik. Sylvia dan Ebon melanggar banyak aturan atas nama pershabatan, seperti terbang bersama malam hari. Bukan contoh yang baik memang, tapi rasa kebersamaan diantara keduanya patut diacungi jempol. Menarik memang, hanya saja terlalu banyak detail yang menurut saya tidak perlu. Mereka yang mengharapkan kisah "ramai" dengan aneka peperangan pasti akan kecewa, karena buku ini lebih menekankan pada persahabatan alih-alih peperangan.

Bagi mereka yang ingin mengetahu tentang pegasus, sangat disarankan untuk membaca buku ini.   Pegasus  merupakan sosok seekor kuda jantan bersayap yang merupakan putra Poseidon dan Medusa dalam mitologi Yunani. Pegasus membantu Bellerofon sang pahlawan dalam perlawanannya melawan Chimaera dan bangsa Amazon. Biasanya sosok Pegasus digambarkan dengan wujud kuda putih karena sosoknya sering dijadikan sebagai lambang kesucian.   Sungguh kontras,  karena dalam kisah ini kita bisa menemukan aneka warna kulit Pegasus.

Penyair Hesiod menghubungkan nama Pegasus dengan kata untuk "mata air", pēgē: " pegai Okeanos, dimana Okeanos dilahirkan. Dimanapun pegasus menghentakan kakinya ke bumi, munculah sumber mata air. Salah satunya adalah di Gunung Helikon, yang disebut Hippokrene ("mata air kuda"), dan Poseidon memerintahkan gunung tersebut agar tidak membengkak dengan nyanyian Muse;  Itu juga yang menyebabkan dalam kisah ini disebutkan jika Pegasus mendatangi suatu daerah maka daerah itu akan menjadi subur. Konon kotoran pegasus jika dipergunakan untuk pupuk akan menghasilkan buah dan sayuran berkualitas prima.

Tapi ada juga yang mendugaan bahwa  asal usul nama pegasus kemungkinan berasal dari kata dari Bahasa Luvian: pihassas, bermakna "petir". Hal ini sangat cocok jika menilik Pegasus juga disebut sebagai pembawa petir untuk Zeus

Sekedar mengingatkan, sosok pegasus berbeda dengan unicorn.  Unicorn adalah makhluk berwujud seekor kuda, dengan sebuah tanduk di dahinya (kata “cornus” dalam bahasa Latin dihubungkan dengan kata “horn” yang berarti tanduk dan “uni” yang berarti satu). Biasanya bulu Unicorn berwarna putih dan tanduknya berbentuk spiral. Unicorn dianggap makhluk yg paling murni, darahnya  dipercaya merupakan obat yang mujarab dan mampu membuat hidup abadi. Simak saja kisah HP.

Ada  beberapa hal yang mengganggu logika saya. Beberapa kalimat yang  mempergunakan istilah tangan contohnya.  Pada halaman 174, " Ebon mengambil batu kecil hitam-merah, menyelipkan dalam tas, melewatkan pita ke atas hidungnya dengan tangan, dan mengedikkan kepala..." TANGAN! Mungkin saya yang kurang mempunyai imajinasi tapi membaca uraian tangan yang ada dalam kepala saya adalah sepasang tangan yang ada di punggung pegasus. Tapi bukannya yang ada justru sayap yah. Apa maksudnya sayap itu juga berfungsi sebagai tangan. Atau malah kaki depan yang dimaksud dengan tangan? Saya benar-benar kurang memiliki imajinasi.

Pegasus yang menghias surai dan kepalanya saat ada peristiwa  penting atau perjamuan dikisahkan hingga dua atau tiga kali. Berkesan diulang-ulang. Lalu pada halaman 17 tertulis, "... meninggalkan beliau" bukannya Ahathin sedang berbicara dengan sang putri dan meminta ijin untuk meninggalkannya bersama dengan para pengawal di perpustakaan. Jika demikian bukannya akan lebih mengenai jika yang dipergunakan adalah kata "Putri" atau "Yang Mulia" alih-alih "Beliau"


Saya pribadi membutuhkan lebih dari dua hari untuk menuntaskan buku ini. Bukan karena topik atau cara bercerita penulis, namun lebih pada terlalu banyak detail yang justru membuat saya bosan.  Beberapa hal yang menurut saya tak perlu diuraikanpanjang lebar justru sering saya temui dalam buku ini. Apa lagi saya bukan pembaca yang terlalu memusingkan soal detail.

Jennifer Carolyn Robin McKinley lahir pada 16 November 1952. Saat ini Robin McKinley tinggal di Hampshire, Inggris bersama dengan suaminya yang juga penulis Peter Dickinson serta dua ekor anjing kesayangannya Chaos serta Darkness. Informasi lebih lanjut bisa diintip di
http://www.robinmckinley.com/

Penghargaan yang pernah diterima oleh Robin McKinley yaitu:
  • 1983 Newbery Honor for The Blue Sword.
  • 1985 Newbery Medal for The Hero and the Crown.
  • 1986 World Fantasy Award for Anthology/Collection for Imaginary Lands.
  • 1998 Phoenix Award Honor Book for Beauty
  • 2004 Mythopoeic Fantasy Award for Adult Literature for Sunshine

Karya-karya Robin McKinley antara lain:
  • Beauty: A Retelling of the Story of Beauty and the Beast (1978)
  • The Door in the Hedge (1981)
  • The Blue Sword (1982)
  • The Hero and the Crown (1985)
  • The Outlaws of Sherwood (1988)
  • Deerskin (1993)
  • Rose Daughter (1997)
  • Spindle's End (2000)
  • Sunshine (2003) Reissued in 2009.
  • Dragonhaven (2007)
  • Chalice (2008)
  • Pegasus (2010)
  • Shadows (Preliminary Title, forthcoming 2013)
  • Pegasus II (Forthcoming 2014)
 
Foto:
http://www.southcom.com.au/~seymour/pegasus/pegasus.htm
http://www.listal.com/robin-mckinley

3 komentar: