Senin, 21 Mei 2012

Kisah dibalik 2 S Dahlan Iskan



Penulis : Khrisna Pabichara
Penyunting: Suhindrati Shinta & Rina Wulandari
Penyelaras Aksara: Emi Kusmiati
Ilustrasi Isi:  Sweta Kartika
Desain Sampul: Tyo/RAI studio
ISBN : 9786029498240
Halaman : 392
Penerbit : Noura Books
Harga: Rp 62.500

Kisah dalam buku ini membuat saya sejenak merenung. Seorang  anak dari dusun yang sudah “mentas”  tidak malu akan masa lalunya. Dengan  santainya beliau mengakui bahwa sepatu kets baru dimiliki saat kelas 3 Aliyah. Kontras sekali dengan kondisi beliau saat ini, jika mau toko sepatu pun bisa dibelinya.  Mungkin itu sebabnya beliau lebih sering menggunakan sepatu kets yahh (tebakanku sih).

Beliau juga tidak malu mengakui pernah bersekolah disebuah sekolah yang kurang popular. Saat ini sekolah mana yang bakalan menolak anak-cucunya, tidak ada! Atau bagaimana Dahlan kecil harus melakukan sesuatu yang terlarang demi adik terkasih. Sekarang ia bisa membelikan apapun yang diinginkan adiknya. Bahkan beliau mengakui betapa seringnya mengalami kelaparana saat kecil.

Sementara sahabat eh  teman eh  bukan  kenalan saya saat sekolah dulu sudah tidak mau mengenal  teman-temannya. Saya anggap saja kenalan karena sahabat  tidak akan bersikap begitu, tidak juga sikap seorang teman. Jika ada yang menghubungi atau mendatangi kantor  sering kali dianggap sebagai seseorang yang ada maunya. Salah satu  sahabat saya bercerita  saat diwawancarai media ia mengatakan untuk tidak usah mengusik kehidupan masa lalunya. Ia seakan menyembunyikan masa lalunya. 

Sosial media hanya untuk “teman”  pilihan, apalagi nomer telepon dan sejenisnya. Padahal kadang ia dihubungi untuk sebuah kegiatan reuni yang jika ditinjau dari sisi bisnis bisa saja mendatangkan sebuah kesempatan. 

Sungguh berlawanan dengan dengan sosok Dahlan  Iskan. Padahal dia baru "segitu" saja

Berharap saja ia ingat bahwa dunia berputar.

Sudahlah… kembali ke  buku yuk ^_^

----------->
se.pa.tu
[n] (1) lapik atau pembungkus kaki yg biasanya dibuat dr kulit (karet dsb), bagian telapak dan tumitnya tebal dan keras: -- kulit; -- rendah; -- tinggi; (2) sesuatu yg menyerupai sepatu

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/sepatu#ixzz1vWCAYaWd

Hanya dua hal yang merupakan impian  Dahlan kecil saat itu, 2 S.  Sepatu dan sepeda.  Bagi anak remaja saat ini, sepatu sudah bukan barang mewah lagi. Seorang anak bisa memiliki dua, tiga bahkan puluhan sepatu. Sementara Dahlan butuh perjuangan keras hanya untuk mendapatkan satu sepatu yang bukan baru lagi. Tapi justru perjuangan mendapatkannya  yang membuat sebuah sepatu menjadi barang berharga bagi beliau. Saat bisa membeli sepatu, justru sepatu bekas yang dibelinya dengan sebuah alasan mulia, berbagi.

Sedangkan sepeda didapat dengan cara yang lebih mudah, kredit.  Walau bagaimana kondisi sepeda itu, tetap saja butuh waktu untuk membelinya. Uang menjadi sebuah kata yang  menyeramkan bagi keluarga mereka.  Setiap ripis, sebutan eyang saya untuk sen harus dipertimbangkan dengan sangat cermat. Terlalu cermat bagi saya.

Walau memiliki beberapa domba, tidak berarti Dahlan Kecil dan Zain adiknya bisa terlepas dari bahaya kelaparan. Mereka tidak dengan mudahnya menukar domba dengan beras. Sudah sering mereka harus menahan lapar .  Begitu laparnya sehingga  saat ada sesuatu yang bisa dimakan, bahkan makanan sederhana sekalipun, bagi mereka seakan mendapat harta karun.

 Mendadak saya seakan mencium bau opor ayam yang terasa sangat menggoda selera , padahal saya bukan penyuka opor ayam. Penulis mampu menggambarkan betapa nikmatnya Dahlan kecil dan Zain menikmati opor ayam, makanan yang bagi saya bukan hal mewah. Menyentuh.

Sejak pertama mengintip draf naskah, isi buku ini sudah menyentuh. Kehidupan seorang “besar” ditulis apa adanya tanpa ada yang ditutupi.  Penulis seakan ingin mengatakan biar bagaimana Dahlan Iskan juga manusia biasa yang harus berjuang keras untuk bisa menjadi seperti saat ini. Siapapun bisa menjadi seperti beliau asal mau berusaha, bekerja keras, berdoa dan mampu melihat peluang.  Tentunya tak ketinggalan restu orang tua.

Restu orang tua dan keluarga, sepertinya setiap langkah Dahlan Iskan selalu mengacu kesana. Sekolah dipilih sesuai dengan keinginan orang tua, walau memang biaya menjadi pertimbangan. Bahkan untuk kuliah pun Dahlan tidak akan pergi  jika tidak mendapat restu bapaknya.  Saat teman-temannya menyantap makanan lezat dengan nikmat, Dahlan kecil justru tidak kelu, tidak mampu menelan makanan karena teringat sang adik belum makan. Setelah tahu  sang adik juga mendapat “jatah”  demikian juga bapaknya baru ia bisa makan lahap.

Sebenarnya selain dua hal tersebut, persahabatan juga mewarnai harti-hari Dahlan kecil. Betapa persahabatan membuat segala hal menjadi mudah jika dipikirkan bersama. Tak ada yang tak bisa  jika seluruh sahabat bersatu padu. Bahkan dalam kenakalan pun mereka bersatu, kompak. Kadang, dalam persahabatan ada perselisihan, tapi itu membuat persahabatan yang ada kian kental.

Buku ini serat dengan makna kehidupan. Lebih tepatnya memaknai  kehidupan secara sederhana , nrimo tapi bukan berarti pasrah. Berkompromi  merupakan hal yang dilakukan oleh mereka sekeluarga dalam banyak hal.Keluarga Dahlan kecil mengajarkan banyak prinsip hidup. Misalnya seseorang harus bertanggung jawab pada setiap perbuatannya, simak kasus sepeda milik  Maryati, teman Dahlan. Tengok kisah  di halaman 102,  Dahlan kecil sudah mampu melihat jauh ke depan dibandingkan yang lain.

Beberapa bagian dari buku ini membuat saya  kian mensyukuri apa yang saya miliki, termasuk masa kanak-kanak yang lebih beruntung.  Penulis menggambarkan sebuah peristiwa dengan menawan. Apa adanya, justru itu yang menjadi daya tarik kisah ini, sederhana dan apa adanya. Beberapa bagian dan tokoh memang  fiktif, tapi terlepas dari itu buku ini menarik.

Walau judulnya mengenai sepatu, tapi kisah seputar sepeda juga banyak terdapat dalam buku ini. Cerita seputar sepatu yang ada tak kalah menariknya.  Bahkan jika dicermati, kita bisa melihat gambar sepeda dengan jelas di kover depan buku ini. Hanya saja sepertinya sepatu lebih mendominasi buku ini. 

Saya sedikit penasaran pada penyebutan jam di halaman 367. Sepertinya itu bukan jam sebelas deh. Konfermasi dari  beberapa pihak membenarkan dugaan saya. Apa kita yang salah yahhh, mereka menggunakan dialek setempat atau bagaimana. Penasaran.

Dahlan Iskan adalah  Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara  lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951.  Memulai sebagai  calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda, sejak tahun 1982 hingga sekarang memimpin surat kabar Jawa Pos Khrisna Pabichara sang penulis telah menghasilkan empat belas buku hingga saat ini, termasuk Mengawini Ibu: Senarai Kisah yang Menggetarkan.

Masih ada dua buku lagi dalam seri ini.  Surat Dahlan mengisahkan bagaimana membangun  media serta kegiatan  berbisnis. Dalam buku ketiga,  Kursi Dahlan mengisahkan kesuksesan  memimpin PLN serta kegiatan  sebagai menteri BUMN. Tak sabar menanti, jadi kecanduan sepertinya.

Untuk saya yang bukan penggemar autobiografi, bintang 3,5 sepertinya layak.
Direkomendasikan untuk dibaca karena mampu membuat pembaca lebih mensyukuri apa yang telah dimiliki selama ini serta berbagi semangat berjuang dalam menjalani hidup ini.

 Foto:
finance.detik.com/read/2012/05/08/120907/1911883/1034/dahlan-iskan-hemat-listrik-paling-besar-itu-jam-1600-2200

7 komentar:

  1. Jadi gak sabar nunggu bukunya sampai di rumah

    BalasHapus
  2. Karena penulisnya sekaliber Mas Khrisna, saya lebih percaya kredibilitasnya. Otherwise, maaf kalau saya biasanya skeptis ttg otobiografi tokoh politik yg bukan historis.

    Tapi tenang aja, my smile is always ready 4 everyone ;D

    BalasHapus
  3. huwaaaaa... Pengeeeen :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Vandis saya juga bukan pembaca tipe gini. Sekedar selingan yang menyenangkan

      @Sinta & Ady Ahmed, semoga beruntung, selamat menikmati

      Hapus
  4. Kapan y buku keduanya muncul?, cepetan mas Khrisna!!

    BalasHapus
  5. Saya bukan maniak novel, namun benar adanya seperti pd review.. kita akan melahap lembar demi lembar... inspiratif banget..

    BalasHapus
  6. Bahkan beberapa orang besar tidak selalu punya masa kecil yang indah

    BalasHapus