Senin, 03 April 2017

2017 # 22: Curhat Seorang Bara

Sudut bumi 20XZ

Cintaku, 
Belahan jiwaku
Bagaimana kabarmu di sana? Semoga cuaca buruk tidak membuat kesehatanmu terganggu. Sepertinya sudah lama kita tak saling berbagi kisah mengenai buku yang kita baca. Kesibukan kita masing-masing membuat waktu yang tersisa sangat sedikit. Semoga bukan menjadi kebiasaan buruk kelak.

Kali ini giliranku bercerita terlebih dahulu ^_^
Ada sebuah buku yang sebenarnya bukan jenis buku yang akan aku buru. Meski begitu, ada sesuatu yang menarik sehingga aku mencoba menikmati. Satu hal utama yang menjadi daya tarik adalah begitu cepatnya kuota preorder buku ini tercapai. Hanya dalam jangka empat hari sebanyak  500 eksemplar sudah habis dipesan. Konon penerbit harus membuka kloter kedua karena permintaan yang besar, jumlahnya juga sebanyak 500 eksemplar lagi! Entah memang mereka penggemar karya penulis atau tergoda dengan bonus  pouch serta tanda tangan penulis. Faktanya buku ini laris manis.

Rencananya, aku akan menerbitkan uraianku dalam bog. Tolong baca dan kritik aku seperti yang biasa kau lakukan cintaku. Dan aku tentunya sudah menyiapkan diri untuk menerima masukanmu yang umumnya mampu membuat mataku panas he he he. 

Luka Dalam Bara, buku  yang akan aku ulas kali ini. Buku tersebut merupakan buntelan dari penerbit.  
Penulis: Bernard Batubara
Penyunting: Teguh Afandi
Ilustrasi sampul & isi: @alvinxki
ISBN: 9786023852321
Halaman: 108
Cetakan: Pertama-Maret 2017
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 49.000
Rating: 3.25/5

Dear Diary..,
Hari ini aku senang sekali, karena......

Pernah mengalami masa seperti itu? Punya sebuah catatan harian tempat mencurahkan segala rasa. Buku tempat mencatat itu sering disebut diary atau catatan harian,  menyimpan segala hal tentang kita, termasuk hal yang paling pribadi atau  hal yang paling dirahasiakan. Sehabis mencatat segala hal segera menyimpan buku tersebut di tempat yang aman takut ada yang membaca. Karenanya, beberapa buku memiliki gembok dan kunci. Seakan pemiliknya ingin menjaga seluruh rahasia hati yang tercurah di sana.

Urusan menulis catatan harian malah sempat menjadi topik hangat di tahun 80 hingga 90-an. Salah satu radio swasta dengan target pendengar anak  muda menyiarkan catatan harian dari pendengar yang sengaja dikirimkan, tentunya dengan menyamarkan nama dan lokasi peristiwa. Ada juga yang disiarkan setiap malam dengan tokoh seorang anak muda, Catatan Si Boy. Informasi lengkapnya di tautan berikut. Belakangan kisah ini dibuat versi baru dengan menyesuaikan kondisi saat ini informasinya di sini. Wah jadi ketahuan berapa usia saya nih.

Demikian juga dengan buku ini. Memang buku ini tidaklah terkunci layaknya buku harian pribadi seseorang,  namun bisa dikatakan ini merupakan diary-catatan harian seorang Bara.  Isi buku ini bukanlah sebuah novel, cerita pendek atau sepenggal puisi, namun semacam curahan hati seorang Bara tentang segala hal yang ia rasakan.   

Agar pemahaman sama, untuk buku ini saya sebut curhatan saja ya. Silahkan jika ada yang mau menyebut dengan istilah lain. Beberapa curhat dibuat sederhana, hanya membutuhkan setengah halaman. Tapi ada juga yang cukup panjang, misalnya curhat dengan judul Cerita Kecil Tentang Kartu Ucapan, Tempat yang Tua, dan Bagaimana Kita Diselamatkan oleh Benda-Benda Mati. Judulnya saja sudah panjang. Pembaca akan menemukan curhat yang lumayan panjang, mulai dari halaman 31 hingga 40.

Penyampaian curhat juga beragam. Ada yang disajikan seperti tulisan  catatan harian biasa, tapi ada yang berbentuk tanya jawab dengan tokoh imajiner ciptaan Bara. Menilik isinya, tentunya merupakan kesenangan tersendiri. Siapa yang tak tergoda membaca catatan harian orang lain? Meski tahu terlarang, namun perasaan penasaran dan ingin tahu kadang memenangkan pertarungan bathin. Untuk buku ini, kita tak perlu sembunyi-bunyi mengintip isinya, Bara bahkan rela membagikannya dengan pembaca.

Sosok Bara dikenal sebagai penulis kisah yang mampu melelehkan hati banyak orang, terutama kaum hawa. Maka terbayangkan bagaimana isi catatan hariannya. Emosi pembaca akan dibuat naik turun seperti roller coaster.  Supaya tidak penasaran, saya kutip kalimat yang ada di halaman 20, "Aku jatuh cinta pada kata-kata. Aku ingin mencintai seseorang yang mencintai kata-kata. Aku ingin menyayanginya melalui kata-kata. Aku ingin mendalami kita pada kata-kata. Aku dan kamu menemukan kita pada kata-kata. Aku mengembarai hatimu dengan menelusuri kata-katamu...." 

Tuh kan...., tidak saja penggemar buku yang meleleh karena banyak adegan seputar buku  dalam kisah ini, namun juga mereka yang baru mengenal karya Bara akan ikut lumer hatinya.  Pemilihan kata yang digunakan  serta susunan kalimatnya selalu tepat untuk menggambarkan suasana hatinya saat itu tanpa berkesan lebay ala ABG.

Tidak hanya isi, kover buku ini juga bercerita tentang hal yang mampu membuat hati pembaca terusik. Selain warna biru, warna kesukaan saya yang mendominasi kover buku, ilustrasi juga menarik. Amplop yang dipegang pria itu, penuh dengan hati yang ditadah sang wanita. Bagi saya maknanya sang pria memberikan banyak cinta dan perhatian bagi sang wanita. Dan sang wanita menerimanya dengan tulus sehingga kisah cinta keduanya menjadi begitu indah. Wah saya ikutan baper nih ^_^.

Begitu juga dengan ilustrasi yang ada dalam buku ini. Beberapa gambar mengingatkan pada masa kecil ketika telepon masih merupakan barang mewah, anak-anak kecil membuat telepon  versi mereka untuk bermain. Memanfaatkan kaleng dan benang mereka bergaya seolah-olah sedang berbicara melalui telepon. Keseruan yang tak dimiliki anak zaman sekarang.

Bagian yang menyebutkan betapa bahagianya Bara mendapatkan buku-buku bermutu yang tak dijual di kotanya sungguh menyentuh perasaan. Sebagai orang yang tinggal di kota besar, eh baiklah minggir sedikit, kemudahan mendapatkan buku merupakan suatu keuntungan. Meski begitu banyak juga yang mengeluh, namun tak akan mengalami seperti Bara.

Beberapa bagian agak sulit saya ikuti. Sebenarnya hal tersebut dikarenakan saya tak tahu ujung atau awal mula situasi yang diceritakan Bara. Saya seakan langsung ikut nimbrung percakapan dua orang tanpa tahu topik apa yang mereka bicarakan. Saya harus meraba-raba terlebih dahulu dari percakapan keduanya. Begitulah resiko jika mengintip catatan harian seseorang, kita tak tahu awal mula kenapa ia memiliki perasaan seperti itu. 

Seluruh isi buku ini bersumber dari blog  pribadi Bara, ada di sini. Mungkin sekedar curahan hati, bisa juga merupakan  ungkapan perasaan bagi seseorang. Hem... jadi penasaran siapakan sosok yang mampu mengusik hari seorang Bara.  

Sekali lagi, sosok Teguh Effendi saya temukan ikut andil munculnya karya ini. Tanpa campur tangannya, mana kita tak akan menikmati karya seorang Bernard Batubara dalam bentuk yang berbeda. Jadi penasaran habis ini ide apa lagi yang ia punya. 


Cintaku,
belahan jiwaku
Jika Bara mengatakan, " Aku menyukaimu karena kamu menyukai benda-benda tua, hal-hal yang telah lewat dan terlupakan oleh orang-orang." Maka aku aakan mengatakan padamu, "Aku menyukaimu karena kamu suka memberikan perhatian pada hal-hal kecil yang bahkan aku sendiri tak menyadari menyukainya. "

Bara ingin bertambah tua bersamanya, ingin terus tertawa bersamanya. Sementara aku, ingin selalu menjadi bayanganmu agar selalu bisa bersama setiap saat.

Tak sabar ingin segera bertemu denganmu

TR

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar