Minggu, 14 Juli 2013

Muara Kisah Kehidupan Alif


Judul : Rantau Satu Muara
Penulis : A. Fuadi
Editor: Danya Dewanti Fuadi, Mirna Yulistianti
ISBN : 978 979 22 9473 6
Halaman: 401
Penerbit : Gramedia
Harga: Rp 75.000


Alif bukan sosok yang sempurna.Kadang ia berkeluh-kesah saat terpuruk, kadang ia meratapi nasib yang belum beranjak membaik, dilain waktu ia juga tinggi hati akibat kemapanan yang membuatnya terlena.

Seperti saat ia dengan pongahnya menunda mencari pekerjaan dikarenakan tak ada media yang menolak tulisan yang ia kirim. Bahkan beberapa media berebut memuat buah pikirannya. Alif terbui dengan kenikmatan hingga pemutusan kolomnya pada sebuah media serta surat pembatalan rekrutmen pegawai diterima. Alif seakan terhempas ke dasar kehampaan.

Justru ketidaksempurnaan Alif yang membuat kisah ini menarik. penulis tidak membuat sosok Alif sebagai seorang super hero, namun mencoba menggambarkan Alif sebagai manusia seutuhnya dengan rasa rendah hati serta tinggi hati di lain waktu, merasakan bahagia suatu saat namun merintih pilu di lain waktu. Hidup Alif ternyata serupa dengan kehidupan pemuda lainnya, baik permen nano-nano.
  
Bukan Alif namanya jika masalah yang ia hadapi tidak menemukan titik terang, baik dengan bekerja keras atau nasib baik yang selalu datang berkat restu amak. Disaat semua jalan seakan tertutup baginya,  Alif kembali mendapat keberutungan,  ajakan bergabung menjadi wartawan pada Harian Derap, harian yang cukup vokal dan disegani kala itu. 

Selanjutnya, kita akan disuguhi aneka kisah sepak terjang Alif sebagai kuli tinta. Walau Alif pernah menjadi wartawan saat mondok, namun tidaklah sama dengan menjadi wartawan sebuah media nasional. Berbagai hal dirasakannya, apalagi saat itu sedang terjadi reformasi di tanah air. Dari berhadapan dengan sesama wartawan yang bekerja sebagai koreponden bagi penerbitan asing dimana pertimbangan  menulis berita adalah berita yang berkualitas dan bisa dijual ke pasar dunia bukan lagi karena pertimbangan kebaikan untuk negara dan rakyat, dimusuhi karena mengembalikan amplop saat meliput, mencari bahan pelengkap berita yang akan ditulis, cara mendekati narasumber yang alot hingga harus tidur dikantor karena tenggat yang kian mendekat. Bahkan ada juga kisah bagaimana Alif mensiasati gaji yang diterima dengan cara tidur di tempat yang tak dibiasa.

Sebuah kisah mengenai sahabat Alif yang mengembalikan kulkas hasil memenangkan  undian saat meliput sebuah departemen cukup menggelitik hati. Bagaimana bersemangatnya ia membawa kulkas ke kantor dengan bajaj walau harus mengalami mesin mogok, serta kesalnya ia saat harus mengembalikan benar-benar mengundang senyum. Kebijakan pantang menerima imbalan sering kali dimaknai hanya dengan penerima amplop saja. Demikian juga bagi Alif dan beberaap rekannya yang tergolong masih belia di dunia peliputan. Padahal bagi petinggi Derap, apapun wujudnya bahkan kulkas hasil undian yang sangat berguna bagi kantor pun dianggap menerima imbalan. Saya jadi ingat kawan-kawan wartawan saya, beberapa dengan tegas menolak imbalan apapun wujudnya, beberapa menerima dengan sungkan, yang lain menerima dengan bersyukur. Semua memang kembali pada tiap pribadi pada akhirnya.

Di Derap pula Alif menjadi korban panah asmara seorang gadis, Dinara. Awalnya memang sekedar kekaguman semata, namun saat tahu Dinara sudah hafal Surat Yaasin sejak SMP segalanya menjadi berubah. Alif terbuai pesona Dinara. Alif mungkin lupa, walau Jakarta dikenal menyajikan banyak kenikmatan dunia, masih banyak sosok yang cukup mawas diri dan tak terkira banyaknya orang tua yang giat menanamkan benteng agama dan budi pekerti pada anak-anaknya. Kebaikan ada di sekitar kita tanpa kita sadari keberadaannya.

Konsisten dan mengenali kemampuan diri, merupakan dua hal yang sangat menonjol dalam kisah ini. Alif boleh jadi seorang Sarjana Hubungan Internasional, namun pengalamannya di bidang jurnalistik tak bisa dipandang sebelah mata. Konsisten pada hal tulis-menulis dan terus meningkatkan kemampuan diri membuat Alif bisa maju dan sukses.

Demikian juga sosok Dinara. Berawal kekaguman pada sosok Tintin membuatnya ingin menjadi wartawan. Dinara konsisten pada keinginannya dengan memilih Jurusan Komunikasi UI sebagai tempatnya menimba ilmu. Ternyata selain saya dan beberapa sahabat, Dinara juga terkena "pengaruh" Tintin. Bedanya saya dengan sadar banting stir sementara Dinara konsisten pada keinginannya. Hidup penuh dengan pilihan, sekali memilih tak ada jalan kembali ke belakang.

Dinara pun telah memilih. Untuk perempuan yang terbiasa mandiri seperti dia, bukanlah hal mudah menjadi tergantung pada orang lain meskipun orang itu merupakan sosok yang sangat dicintainya. Dibutuhkan dua kepala dengan ego ditekan serendah mungkin untuk menyelaraskan banyak hal. Hanya dengan konsisten ingat pada tujuan mulia mereka maka banyak hal bisa diselesaikan dengan manis.

Salah satu tokoh, Mas Garuda juga menyiratkan hal yang sama. Konsisten bekerja keras demi orang tua dan calon istri di tanah air dilakoninya dengan sabar.  Tak pernah ia mengeluh. Sakit hatinya karena tidak bisa makan keju di tanah air dilampiskan dengan mencampurkan keju keseluruh masakannya. Sosoknya bagaikan kakak yang tak pernah Alif miliki.

Sayang peristiwa runtuhnya menara kembar meruntuhkan impiannya menyematkan sebuah cincin berlian bagi sang pujaan hati. Ada sedikit hal yang mengganjal rasa penasaran saya pada bagian Alif menemukan syal Mas Garuda diantara porak-poranda puing menara kembar. Syal yang gambarnya dilukis dengan kasih oleh ibunda Mas Garuda sendiri.  Jika itu merupakan syal kesayangan maka mustahil Mas Garuda melepasnya dari leher. Jika sampai terlepas dari leher tentunya ada sesuatu yang membuatnya terlepas. 

Sebagai perumpamaan, saya dan beberapa sahabat termasuk sering teledor soal kartu absen. kadang tertinggal, lupa meletakan, jatuh atau bahkan sehabis absen lupa mengambil. Salah satu cara yang kami lakukan adalah menggabungkan kartu absen dan kartu karyawan menjadi satu dan menggantungkannya di leher. Dengan bergurau teman-teman lain mengatakan bahwa jika kartu absen itu hilang artinya leher kami juga hilang. Seram memang terdengarnya tapi begitulah adanya.

Demikian juga kisah Mas Garuda, jika sampai terlepas maka tubuhnya atau bagian dari dirinya harusnya berada di dekat syal ditemukan. Kecuali ada hal lain seperti  ia melepasnya dan menggunakannya sebagai masker wajah. Apapun itu, penulis menggambarkan dengan menyentuh perasaan Alif kehilangan kakak yang tak pernah ada. Mengharukan. 

Dilain bagian, penulis membuat saya merasa cemburu berat terhadap keberuntungan Alif dan Dinara. Mereka bisa memiliki buku sisa display segerobak penuh ditambah entah berapa jinjing lagi. Dari toko buku ternama pula. Bagi para penggila buku, mendapat buku segerobak sama saja dengan mendapat harta karun. Tak heran jika Alif digambarkan "Tak Mau Rugi" dengan membawa gerobok yang pasti muat banyak buku. Ah, ternyata kadar kebahagiaan kita sama Lif. 

Dibandingkan buku pertama dan kedua, ada sesuatu yang "hilang" di buku ketiga ini. Penulis seakan terburu-buru menyelesaikan buku sekedar untuk memenuhi tuntutan masyarakat terhadap buku penutup trilogi ini. Greget seorang Fuadi tidak begitu terasa dalam buku ini. Mungkin begitu atau saya yang terlalu menaruh harapan besar pada sebuah karya pamungkas hingga lupa penulis juga manusia dengan segudang permasalahan. Secara pribadi, mulai saat ini saya tidak akan bertanya ,"Mana buku selanjutnya?" saat bertemu dengan teman-teman penulis. Semoga hal tersebut mengurangi kadar tekanan yang mereka alami.

Terlepas dengan segala kekurangan, buku ini masih memompakan semangat untuk maju. Layak dibaca oleh generasi muda.  Semangat Alif untuk mengikuti test dengan cara melalap aneka TOEFL, serta menjadikan Dinara sebagai teman berdiskusi patut diacungi jempol. Alif tahu bagaimana caranya meraih impian, dengan kerja keras dan semangat mantang mundur serta berdoa.

Bicara perihal muara, umumnya bersinggungan dengan sungai, laut, bahkan samudra. Akhir perjalanan sang air.  Secara harafiah bisa diasumsikan sejauh Alif melalang buana mendapatkan beasiswa dan bekerja, pada akhirnya kembali ke tanah air jualah. Tak heran jika gambar yang dipilih menggunakan warna hijau kebiruan, konon warna danau atau laut di luar negeri cenderung begitu. Sosok dua orang yang duduk di perahu bisa diasumsikan sebagai sosok Alif dan Dinara.      

Kadang, sesuatu yang sangat kita inginkan belum tentu yang terbaik bagi kita menurut Allah SWT. Alif pernah  tergetar hatinya oleh sosok Raisa yang anggun, namun sekarang ia menikmati kehidupan bersama Dinara yang ulet, spontan dan dinamis. Sosok yang cocok untuk mendampingi Alif yang kadang pemalu dan pendiam.

Dulu, Alif sangat kesal saat harus mondok. Andai ia tidak mondok belum tentu ia mendapat beasiswa dibanyak negara, mendapat pekerjaan yang membuatnya banyak melihat dunia dan berhubungan dengan para petinggi negara. Terpenting belum tentu ia bisa bertemu Dinara, tidak saja menjadi pasangan kerja namun juga pasangan mengarungi kehidupan ini.

Suatu saat  sedang membuat coretan impan di masa depan di perpustakaan kantor, Alif menemukan sebuah kalimat dari Konfusius , "Carilah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah lagi bekerja satu hari  pun." Kalimat sederhana  yang membuatnya kian terpacu. ia menyukai kegiatan tulis menulis, kegiatan yang sudah dilakukannya sejak dahulu. Konsisten pada kegiatan menulisnya, mencintai apa yang dilakukannya, dan percaya pada kemampuan diri diiringi doa orang tua membawa Alif terbang menuju kesuksesan seperti saat ini  

Man jadda wajada
Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil

Man shabara zhafira
Siapa yang bersabar akan beruntung

Man saara ala darbi washala
Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan

Hidup, bagaimana kita memaknai dan menjalaninya.
k

Tidak ada komentar:

Posting Komentar