Sabtu, 20 Juli 2013

Membuat Foto Hebat Ternyata Mudah

Judul: Pintar Eksposur, Panduang Lengkap Membuat Foto Hebat dengan 
          Kamera Apa Saja
Penulis: Bryan Peterson
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Hasman Ado
Pewajah Isi: Harsyid Aulia
Pewajah Sampul: Wildan A.R
ISBN: 978-979-024-578-5
Halaman: 184
Penerbit: Prigel Books
Harga: Rp 77.500

Perkembangan  ilmu pengetahuan membuat kehidupan kita kian berwarna. Dulu tidak pernah terbayangkan seseorang bisa membawa komputer kemana-mana, sekarang tengok kanan-kiri, bak iklan minuman dimana saja, kapan saja seseorang bisa menggunakannya. Saat saya belajar fotografi, perlu perjuangan panjang untuk bisa menghasilkan sebuah foto lumayan, belum bagus masih lumayan. 

Mulai dari  memastikan film sudah terpasang dengan benar, mengatur keseimbangan cahaya, menggulung film, dibawa untuk diproses menjadi negatif alias klise terakhir dicetak. Berapa kali kecewa karena hasil kurang maksimal disebabkan komposisi kurang pas, pencahayaan terlalu gelap, foto tidak fokus,  sudah tak terhitung lagi jumlahnya.  Dari satu rol film bisa saja hanya menghasilkan dibawah sepuluh foto yang menawan. Sekarang setiap orang yang memegang kamera bisa mengklaim dirinya sebagai seorang fotografer dengan hasil foto  lumayan dari sisi pencahayaan.

Buku ini mengajak setiap pemilik kamera DSLR  untuk bisa membuat aneka foto menawan dengan program M tanpa perlu khawatir. Ada lima hal penting yang dibahas dalam buku ini seputar eksposur, hal terpenting dalam fotografi. Pembahasan pertama mendefinisikan eksposur, kedua mengenai Aperture, lalu mengenai Shutter  Speed, Kecepatan Rana, disambung mengenai Cahaya, terakhir membahas mengenai Filter, Teknik Khusus dan lampu Flash.

Secara sederhana eksposur bisa dikatakan  seberapa banyak, seberapa cepat serta bagaimana tindakan cahaya yang masuk ke material fotosensitif. Terang atau gelapkah foto yang dihasilkan? Cerah atau gelap mengacu pada seberapa banyak cahaya yang terekam.

Eksposur yang merupakan kombinasi sederhana dari tiga faktor utama, yaitu; aperture atau bukaan diafragma, shutter speed atau kecepatan rana serta ISO (ada juga yang lebih menyukai menggunakan istilah ASA). Perpaduan ketiganya dikenal dengan istilah Exposure Triangle.

Dahulu guna memudahkan saya dan teman-teman belajar,  kami diminta membayangkan ada sebuah lubang tempat cahaya masuk di lensa, namanya Aperture. Lubang itu tertutup oleh enam buah bilah logam. Istilahnya adalah "f-stop"  Misalkan kita  menentukan pada angka 4, maka artinya adalah f/4.  Lalu bayangkan ada cahaya yang masuk dalam hitungan detik. Karena kita menggunakan f/4 maka artinya lingkaran tersebut dibuka menjadi 4 bagian. Kemudia kita mengganti menggunakan f/11, maka artinya lubang tersebut akan terbuka menjadi 11 bagian. 

Jika diperhatikan tentunya  potongan dari lubang yang dibagi menjadi 4 bagian akan lebih besar dari potongan yang dibagi menjadi 11 bagian . Semakin kecil angka f-stop maka semakin besar bukaan. Demikian juga sebaliknya, semakin besar angka f-stop maka semakin kecil bukaan. Makin besar bukaan tentunya membuat cahaya yang masuk makin banyak.

Pelajaran selanjutnya, saya dan teman-teman diminta membayangkan ada sebuah bagian lagi yang disebut Sutter Speed, kecepatan rana dilambangkan
dengan S. Penyebutannya biasanya adalah 1/S detik. S disini bisa angka 2, 25.30 dan sebaginya. Bagian ini bertugas mengatur berapa cepat, cahaya masuk dalam satu detik. Jika 1/25 detik artinya lamanya cahaya yang masuk adalah 1/25 detik. Dengan demikian 1/25 tentunya lebih cepat  dari 1/2 detik.   Semakin besar angka S, maka akan bertambah cepat cahaya masuk

Ada dua kondisi dimana Shutter Speed harus menjadi skala prioritas, yaitu; ketika obyek bergerak; serta ketika melakukan pemotretan dalam situasi rendah cahaya tanpa menggunakan bantuan tripod (kaki tiga) guna menyanggah kamera. Hal ini perlu dilakukan jika ingin menangkap gerakan dalam sebuah foto. 

Misalnya saat ingin membuat air yang mengalir menjadi seakan diam, maka yang harus dilakukan adalah menyetel Shutter Speed cepat terlebih dahulu. Tentunya jangan melupakan juga unsur jarak antara pemotret dengan subjek, arah mana subjek bergerak serta penggunaan lensa.

ISO atau ASA  merupakan kadar seberapa sensitif  sebuah film terhadap cahaya. Semakin rendah angka atau jumlah ISO yang tertera berarti semakin rendah juga kadar sensitifitas. ISO tinggi biasanya dipergunakan untuk mendapatkan Shutter Speed yang cepat dalam kondisi lingkungan yang kurang cahaya bahkan gelap.

Filter  Polarisasi merupakan filter yang wajib dimiliki setiap fotografer. Gunanya adalah untuk mengurangi silau dari permukaan reflektif seperti kaca, logam serta air. Kadang seorang fotografer harus melakukan pemotretan di tengah hari karena cahaya sangat kasar, untuk itu filter polarisasi bisa sedikit membantu. Hal itu dikarenakan matahari berada langsung di atas kepala.

Dibandingkan dengan buku yang lain, buku ini lebih mudah dipahami.  Apalagi penerjemah juga menggunakan  kalimat yang lugas sehingga pembaca bisa memahami dengan cepat. Tak heran jika buku ini sudah mengalami beberapa kali cetak dan penulisan ulang. Konon penjualannya juga cukup menggembirakan.

Aneka teknik yang diajarkan juga tidak rumit. Pembaca bisa langsung mencoba dan menghasilakan foto-foto spektakuler layaknya fotografer profesional. Misalnya bagaimana cara membuat foto dengan latar belakang buram, lalu membuat komedi putar seakan berhenti berputar, membuat motor yang melaju kecil seakan meninggalkan awan tipis dan masih banyak lagi.

Contoh-contoh yang diberikan oleh penulis membuat pembaca bisa lebih memahami teori yang diberikan. Pembaca bisa mengetahui perbedaan menggunakan f/28, f/4, f/16 dengan lebih jelas, bagaimana hasil sebuah foto dengan pencahayaan yang kurang, pas atau berlebih.

Buku ini layak dipelajari oleh mereka yang tertarik untuk menggeluti dunia fotografi serta ingin lebih mengoptimalkan penggunaan kamera pribadi hingga mampu menghasilkan foto-foto menawan dengan mudah dan menyenangkan. Selamat mencoba!


*melirik timbunan klise, enaknya diapakan yahhhhhh*







 

2 komentar: