Senin, 04 Maret 2024

2024#3: Kisah Calon Pengantin Dewa Laut Terakhir

Judul asli: The Girl Who Fell Beneath The Sea
Penulis: Axie Oh
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Editor: Grace Situngkir
ISBN: 9786230046155
Halaman: 325
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Harga: Rp 115.000
Rating: 4/5

Rasanya mustahil aku bisa tertidur dengan ketegangan berdengung menyakitkan di balik kulitku. Namun, pada akhinya, aku dibuai dalam tidur yang penuh kedamaian, setiap debur  jantungku menggemakan debar jantung Shin.
-The Girl Who Fell Beneath The Sea, hal 184- 

Seperti gadis lainnya di desa tempat tinggal Mina, ia percaya bahwa  gadis yang terpilih sebagai pengantin Dewa Laut merupakan sosok yang spesial. Pemilihan calon penganti dilakukan dengan seleksi yang ketat.

Siapa yang terpilih, mengemban tugas meredakan kesedihan dan amarah Dewa Laut, sehingga badai berlalu serta  tidak ada lagi banjir. Sebuah kedamaian baru dimulai.  Tugas yang berat. Sebagai pernghormatan atas pengorbanannya, warga desa memperlakukan keluarga gadis terpilih dengan penuh hormat.

Mina tak mengira, saat prosesi pengantaran Pengantin Dewa Laut, ia terlibat dengan pelanggaran tiga peraturan.  Pertama, hanya seorang gadis yang boleh berada dalam perahu yang mengantarkan Pengantin Dewa Laut, Mina berada di kapal, Kedua, tidak boleh ada senjata,  Mina membawa pisau warisan sang nenek, Terakhir tidak boleh ada pendekar, tapi Joon-kakak Mina yang juga menjalin hubungan dengan si calon pengantin, diam-diam ikut ke kapal.
https://www.goodreads.com/book/show/
95558609-the-girl-who-fell-beneath-the-se
a

Rasa kasih sayang Mina pada sang kakak membuatnya ikut berada dalam perahu. Rasa kasih sayang jualah yang membuatnya merelakan dirinya menjadi Pengantin Dewa Laut,  meski dari sisi penampilan, ia jauh dibawah Shim Cheong-Pengantin Dewa Laut yang terpilih. ia tak ingin kakaknya bersedih kehilangan kekasih.

Ternyata menjadi Pengantin Dewa Laut tidak sesederhana yang Mina kira. Baru tiba di Istana Dewa laut, Mina sudah berurusan dengan beberapa Dewa yang menginginkan jiwanya dengan alasan untuk menyelamatkan Dewa laut. Berada di Dunia Arwah sebagai manusia memang membuat Mina menjadi rentan akan bahaya.

Kondisi Dewa Laut sendiri saat itu bisa dikatakan menyedihkan. Benang merah takdir yang menandakan jodoh antara Mina dan Dewa laut memang bisa diputuskan, tapi suatu keanehan terjadi. Benang merah takdir berubah begitu Mina menyentuh Shin, Panglima Perak yang menjadi penjaga Dewa Laut. Benang merah takdir sekarang mengikat Mina dan Shin.

Sampai segala urusan selesai, mulai dari mencari tahu siapa yang berniat mengambil jiwa Mina, kenapa begitu banyak arwah yang menyerang, hingga bagaimana menyadarkan Dewa Laut, Mina berada dalam perlindungan Shin. Ia bahkan menyebutnya sebagai pengantinya.

Dalam dunia paralel, Mina bisa bertemu dengan leluhurnya dengan persyaratan tertentu. Kehidupan di sana nyaris menyerupai kehidupan di alam manusia. Ada pasar, pekerja, istana, rumah para dewa, dan tentunya ada juga makhluk mitologi yang hidup.
Di bawah laut, naga terlelap
Apa yang diimpikannya?

Di bawah laut, naga terlelap
Kapankah dia terjaga?

Pada sebutir mutiara naga
Permohonanmu 'kan dibangkitkan

Pada sebutir mutiara raga
permohonamu 'kan dibangkitkan
Selain tentang kebudayaan Korea, diberikan juga informasi tentang makhluk mitologi. Pada halaman 149 misalnya, diterangkan tentang  berbedaan antara Imugi dan naga. Menurut buku Kitab Monster dan Makhluk-Makhluk Ajaib dari Penerbit Liliput, dalam dunia binatang fantasi, naga merupakan makhluk yang unik karena memiliki aneka variasi bentuk yang sangat kaya.

Sementara pada sebuah laman, menyebutkan bahwa Imugi membedakan dirinya sebagai entitas mirip ular yang memesona dan penuh teka-teki. Sering digambarkan sebagai ular raksasa. 

Beberapa pendapat lain menyebutkan bahwa Imugi adalah calon naga yang hidup hingga ribuan tahun, jika sudah waktunya maka ia akan berubah menjadi naga. 

Unsur roman berperan besar dalam kisah ini. Bagaimana Mina mengalami kebimbangan untuk memilih. Antara hatinya yang sudah tertambat pada Shin, atau Dewa Laut yang dianggap mampu menyelamatkan desa dan keluarga terkasihnya.

Kecintaan pada  keluarga juga diangkat sebagai tema dalam kisah ini. Kecintaan pada sang kakak membuat ia rela mengorbankan diri. Ada juga bagian yang mengisahkan bagaimana Mina dan kakaknya membuat sebuah tempat tidur bayi dari pohon favorit untuk hadiah bagi kakak tertua mereka. Ketika bayi itu lahir dan hanya menangis satu kali kemudian terdiam selamanya, mereka berdua membakarnya agar istri kakak tertua tidak teringat pada bayinya ketika melihat tempat tidur itu.

Bahkan, ketiga sosok yang selalu siaga membantu Mina dalam tiap kesempatan juga menunjukkan bagaimana kasih sayang bisa melewati rentang waktu. Sejak awal saya sudah menduga bahwa ketika pasti memiliki hubungan dengan Mina, dan ternyata benar. Senang rasanya mengetahui ada yang selalu menjaga kita.

Secara garis besar, buku ini mengajarkan bahwa hidup adalah pilihan.  Dalam menjalani kehidupan ini setiap orang memiliki hak untuk memilih. Mina berhak untuk memutuskan apakah menerima atau menolak lamaran kaisar. Dewi Bulan dan Kenangan memilih menjadi Dewi Perempuan dan Anak-Anak. Demikian juga dengan  Shim Cheong  yang memutuskan untuk merelakan cinta sejati demi keselamatan dan kehidupan warga desa, dan kesembuhan ayahnya.

Buku ini juga mengajarkan bahwa tak ada salahnya selalu berharap, karena harapan merupakan kekuatan yang mampu membuat seseorang untuk bertahan dan melakukan banyak upaya untuk meraih harapannya.

Sayangnya, karakter Mina, Shin, serta beberapa tokoh lagi kurang dikembangkan sehingga berkesan datar. Mini hanya digambarkan sebagai gadis yang merelakan dirinya untuk menjadi Pengantin Dewa Laut, dan berusaha menciptakan kedamaian di dunia arwah, tidak lebih. 

Sementara Shin, hanya dikisahkan sebagai seorang dewa yang sibuk menyelamatkan Mina, dan sering bertindak seolah-olah tidak memiliki perasaan. Bahkan pertempuran yang terjadi dimana kedua pengawal Shin terlibat, seakan dikisahkan datar, kurang menimbulkan efek ketegangan.

Saya nyaris memberikan bintang tiga, hingga sadar bahwa saya sudah membaca 2 bab terakhir lebih dari 3 kali. Bab-bab penutup ini ditulis dengan menarik, bisa dibilang menyentuh perasaan, sehingga saya menjadi terenyuh. Baiklah, bintang bisa nambah 1 nih. 
 
Dalam kisah ini, disebutkan Mina beberapa kali bercerita untuk menghilangkan kesedihan Dewa Laut. Dengan demikian kisah ini bisa dikategorikan dalam kisah berbingkai. Kisah tentang Tukang Kayu dan Bidadari, mengingatkan pada Legenda Joko Tarub.

Menurut sebuah laman, Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya mengandung cerita lain (pelaku atau peran dalam cerita itu bercerita).

Ketika sedang membaca buku ini, tak sengaja menemukan sobekan kertas yang diselipkan oleh pembaca sebelum saya. Buku yang saya baca merupakan milik Perpustakaan UI, sehingga bisa dipastikan pembaca sebelumnya adalah mahasiswa UI, yang menyukai kisah dalam buku ini dan memberikan rekomendasi.

Saya bisa paham kenapa ia melakukan hal tersebut. Ukuran huruf dalam buku ini terbilang kecil sehingga kurang nyaman untuk mata, apalagi untuk mata minus. Mungkin, dengan menulis komentar tersebut ia berharap pembaca akan terus melanjutkan hingga tuntas.

Buku ini layak dibaca untuk usia 18+. Terutama bagi mereka yang menyukai kisah fantasi dengan latar belakang budaya Korea. Para mahasiswa jurusan Sastra Korea juga disarankan untuk membaca, demikian juga para penyuka kebudayaan Korea.

Kisah ini yang dikategorikan dalam adaptasi bebas dari kisah rakyat Korea, The Tale of Sim Cheong, mendapatkan Goodreads Choice Award Nominee for Young Adult Fantasy & Science Fiction  pada tahun 2022 lalu.

Menghibur.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar