Selasa, 20 Desember 2011

Dunsa, Antara Bakti dan Durhaka


Judul             : Dunsa
Pengarang    : Vinca Calista
Penyunting   : Jia Effendie
Penyelaras   : Ida Wajdi dan Fenty Nadia
Pewajah Isi  : Aniza Pujiati
ISBN             : 978-979-024-492-4
Halaman       : 453
Penerbit        : Atria

Anure vutar nakhalak retkatgna yhalil abmek! Gnugag nilapasa ugnephaluc numeknak iskay nemnaipot urpraga ini anugrebkat hubuti kusam! Anure vutar iskasgna yhalpu dihil abmek! Ukuta rgnugag nayhalil abmek!

Beberapa sahabat saya sudah mulai menguliti  kisah ini. Belakangan buku ini  memang sedang gencar dibicarakan. Bahkan saat MATA GRI  2011 yang lalu, buku ini menjadi rebutan saat keberadaannya sebagai buku hadiah diumumkan.

Sepertinya kisah  mengenai buku ini sudah diketahui banyak orang. Maka izinkan saya menguliti dari sisi lain.

Pertama saya hanya bisa bilang MENYEBALKAN!
Betapa tidak...., buku ini hadir saat saya sedang kejar tayang urusan kantor sehingga tertunda untuk membacanya. Tapi... terus terang duet dua oknum, Jia dan Ida sudah menjadi  jaminan buat saya, ada ”sesuatu” di buku ini. Nekat mencuri-curi waktu untuk membaca, malah kian MENYEBALKAN karena saya sering kehilangan sensasi keseruan  cerita. Akhirnya diputuskan untuk begadang guna menuntaskan buku ini tanpa disela apapun!  Setelah kejar tayang semalam, harus menyebutkan lagi kata MENYEBALKAN!  Kenapa enggak dibaca dari kemarin he he he

Idenya sungguh patut dipuji!  Seorang anak yang harus bertarung dengan ibunya, bahkan harus membunuhnya demi kebaikan orang banyak.. Bagaimana juga  seorang ibu adalah tetap menjadi ibu. Walau Phi, panggilan untuk Merphilia, tokoh kita sudah dimantrai agar melupakan masa lalunya, tapi ia  tetap tidak mengubah sebuah fakta  bahwa ia  memiliki seorang ibu yang kebetulan harus bersebrangan. Membunuh berarti menyelamatkan banyak orang, tapi di sisi lain berarti berbuat dosa besar dengan menyakiti seorang ibu yang selama sembilan bulan menjaga dalam kandungan.

Akan lebih mengusik emosi pembaca jika Phi dibuat  tidak begitu saja pasrah akan :”takdir” yang disandangnya. Mungkin dengan membuatnya merasa penasaran dan mencari tahu siapa ibunya, tidak hanya puas  dengan cerita dari pihak istana dan  Bruzila pengasuhnya. Sisi ini harusnya bisa diolah dengan lebih menarik.tidak hanya adegan perkelahian saja  antara Ratu Merah dan Phi yang selalu kelihatan begitu bernapsu membunuhnya.

Tokoh Bruzila sepertinya kurang diberi peran kecuali sebagai seseorang yang mengasuh Phi. Kalau pun sedikit menonjol hanya betapa besar pengaruhnya pada Phi  dihalaman  sekian he he he Begitu juga dengan beberapa tokoh yang sepertinya hanya  sebagai bumbu penyedap saja. Jadi berkesan seperti sinetron kolosal.

Kisah di halaman  322-323 sebenarnya sedikit membingungkan saya, bagaimana bisa  benda itu ditemukan dengan begitu mudahnya? Bukannya Ratu Veruna seharunya sudah mengantisipasi hal tersebut dengan melakukan penjagaan yang ketat dan sejenisnya? Andai saja ini bisa dikembangkan, kisah Dunsa bisa lebih dari satu buku.

Kisah kasih antara tokoh utama  memang selalu menjadi bumbu penyedap. Begitu juga kisah kasih Phi. Sudah tertebak bahwa kelak akan ada bagian yang menyebutkan bagaimana Phi dijodohkan dengan pangeran Z tapi justru menjalin cinta terlarang dengan pangeran Q.  Sikap mereka yang bersikap acuh tak acuh pada status mereka membuat pembaca langsung bisa menebak kemana hubungan mereka akan dibawa (alah!)

Belakangan ini penulis kisah fantasi sering menambahkan data pendukung seperti peta dan silsilah guna membantu pembaca kian menikmati cerita. Dalam Dunsa kita akan menemukan peta serta silsilah keluarga kerajaan. Peta yang ada persis dengan penggambaran penulis mengenai suatu lokasi. Konsisten dan sangat teliti. Saat membaca sebuah lokasi, saya langsung terbayang  dengan peta yang ada di  halaman awal buku. Membuat saya kian berasa ikut bersama mereka dalam kisah ini, berada  di sisi Pangeran  Skandar (gak mau rugi cari yang guanteng)

Lain  lagi untuk urusan silsilah, selain tidak nyaman dibaca, saya harus menduga-duga perbedaan kotak yang satu dengan yang lain, yang menandakan si pemilik nama masih hidup atau sudah meninggal. Coba ada penjelasannya dan font lebih nyaman pasti lebih menyenangkan untuk dibaca.

Penjabaran penulis mengenai suatu hal langsung di kalimat berikutnya sungguh sangat membantu pembaca menikmati kisah yang ada. Misalnya perihal  Zauberei dihalaman  tiga puluh, lalu Oro-Roku  di halaman 10-11. Disana ditulis, “  Kabarnya mereka terkena Kutukan Ora-Roku…. Ora-Roku adalah monster ular raksaksa berkepala enam yang legendari  dan dianggap telah punah.”  Pembaca tidak perlu bolak-balik  mengintip  glosarium agar mengerti apa itu Ora-Roku.

Di  akhir buku  ternyata terdapat  glosarium, sayang kurang lengkap. Andai perihal Ora-Roku dan lainnya juga dicantumkan kembali di glosarium tentu akan lebih membantu menikmati kisah ini, terutama bagi mereka yang menikmati kisah tidak dengan sekali baca. Maklum begitu banyak makhluk dan tumbuhan yang ada  Usul jahil, bagaimana jika diciptakan sebuah suplemen yang berisi  hal-hal yang ada di Dunsa, seperti hewan, tumbuhan, mosnter dan sebagainya. Jika ditambah dengan ilustrasi tentu kian seru. Oh yah  makhluk fantasi favorit saya adalah  Wyattenakai.
Satu lagi kelebihan buku ini, penulis tidak  latah membangun sebuah dunia seperti  LOR, HP dan lainnya. Unsur lokal  juga  ditawarkan disini. Lebih baik hanya sedikit dari pada tidak ada sama sekali.

Secara garis besar kisah ini diramu dengan apik. Semuanya  mengalir dengan manis, walau ada kekurangan di sana-sini tapi cukuplah tertutup dengan kelebihan yang disajikan. Hanya kadang  perpindahan  sebuah peristiwa atau lokasi masih kurang manis sehingga  terasa janggal seakan ada bagian yang dibuang. Harry K. P, Bonmedo Tambunan, Andry Chang awas... ada pesaing baru!

Setelah Tasaro dengan bahasa Kedalunya, buku ini juga menawarkan sebuah bahasa khusus yang membuat kisahnya kian seru.Hem ada artinya atau sekedar permainan huruf yahhh 

Saat membaca nama-nama di belakang saya baru sadar nama saya tidak ada di sana. Sepertinya saya sudah melakukan preorder. Tapi biarlah, enggak penting. Toh buku ini mendarat dengan manis atas jasa Bapak Peri Buku a.k.a M Dyan Prianto.

Apa lagi yahhhh?
Sementara itu dulu lah....

Ekzh ierebu aziam admal-as ekzh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar