Senin, 31 Agustus 2020

2020 #36: Investigasi Guna Menimbulkan Efek Jera Ala Tsugaeda

Judul : Efek Jera
Penulis: Tsugaeda
ISBN: 9786237502692
Hal: 344
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: One Peach Media
Harga: Rp 107.000
Rating: 3.25/5

Orang-orang ini terlalu berkuasa dan kaya untuk dimintakan pertanggungjawabannya lewat proses hukum biasa. Mereka selama ini tidak tersentuh. Maka kami punya rencana, untuk memaksa mereka bertanggung jawab. Untuk memberikan edek jera

~Efek Jera, hal 59~

Seorang pemuda berusia 19 tahun  bernama Dio, tak pernah mengira kehidupannya akan berubah dalam waktu singkat. Semula ia hanyalah seorang pedagang VCD bajakan di sebuah  petakan yang terletak dekat dua kampus  di kawasan Depok. Kehidupan yang lumayan normal seperti umumnya masyarakat.

Dalam waktu singkat, ia  berubah menjadi salah satu tim yang dilatih oleh mantan tetangga yang sudah seperti ayahnya-Om Jon,  begitu ia menyapa sosok yang dikagumi.  Tujuannya untuk  menjalankan misi rahasia, menghancurkan yang suka menghancurkan orang.

 Dio diajak bergabung dengan perusahaan rintisan baru  yang membakar singsasana mereka yang selama ini tak tersentuh hukum. Ia dianggap orang yang suka menghancurkan perusahaan. Sosok yang sesuai dengan kebutuhan kantor tempat Om Jon sekarang bergabung.

Semula Dio agak ragu, namun karena Om Jon yang mengajak, ia mulai tertarik. Sudah lama Dio tak bertemu dengan Om Jon. Banyak pelajaran kehidupan yang ia peroleh dari Om Jon.  Sebelum pindah tugas, Om Jon sempat berpesan, " Kalau takdir Allah menentukan, suatu hari kita pasti akan bertemu lagi. Jaga ibadahmu dan terus berlatih jurus-jurusmu. Dan tetaplah senang membaca. Karena itu yang akan membantumu kelak."

Membaca merupakan satu-satunya pesan Om Jon yang masih dilakukan oleh Dio.  Terbukti, berkat kesukaannya membaca Dio jadi paham banyak hal. Unik juga, hidup serampangan namun menjadi anggota beberapa perpustakaan.

Sebuah maskapai,  Penida Airways, disebutkan  memiliki banyak skandal dan permasalahan. Bertarif murah, membuat maskapai ini banyak dipergunakan. Sungguh sayang pelayanan yang diberikan Penida Airways seringkali mengecewakan.

 Konsep Low Cost Carrier-LCC harusnya tetap dibarengi dengan keselamatan dan layanan secara profesional bagi penggunanya. Bagi karyawan, perlakuan juga harus diberikan secara adil dan manusia.  Faktanya tidak begitu.

Banyak masalah yang muncul, bahkan seorang pilot meregang nyawa. Meski demikian, sungguh aneh maskapai tersebut tetap bisa bertahan dalam dunia penerbangan nasional!  Dio diajak bergabung untuk membuka tabir misterius yang ada dalam maskapai tersebut.

Semakin lama membaca kisah ini, Penida Airways mengingatkan saya pada salah satu maskapai di tanah air. Murah,  tapi selamat nanti dulu. Begitu gurau banyak orang mengenai jasa yang diberikan.  Sementara bagian yang mengisahkan   beberapa karyawan  melakukan diskusi terkait nasib mereka, mengingatkan saya pada kasus dalam dunia penerbangan yang sempat marak di twitter.

Sosok Dio yang digambarkan agak cereboh oleh penulis, sungguh pas dengan cerita. Hayulah! Apa yang bisa kita harapkan dari remaja usia 19 tahun yang mendadak disiapkan menjadi semacam agen rahasia? Terlepas dari fakta ia menyukai bacaan berbobot. Tentu ada keteledoran yang ia lakukan. Apa lagi ini tugas pertama.  Bagian ini membuat kisah lebih terasa manusiawi. Jagoan tak selalu sempurna.

Selain Dio, ada tiga orang lagi tokoh dalam kisah. Salah satu nama tokoh, membuat saya merasa  akrab, sepertinya pernah dengar. Ternyata masih terkait dengan kisah lainnya. Untung sebelum membuat ulasan, saya sempat membaca ulasan dua buku sebelumnya. Bisa ketebak siapa  yang saya maksud? Baca ulasan buku di sini. . Sekalian, jika tertarik membaca komentar buku lain  dari penulis mampir ke  sini.

Baiklah, jadi  seperti yang sudah disebutkan, ada 3 orang lagi dalam kisah ini. Tiap tokoh memiliki karaktek dan peranan yang unik dalam kisah ini.  Om Jon yang purnabakti TNI AD dengan pangkat tinggi, sosok yang sudah seperti ayah bagi Dio. Lalu seorang konsultan keuangan  dengan harta berlimpah-Makarim. Perihal sosok Pak Makarim, disebutkan Dio secara lengkap di halaman 39.

Terakhir, ada seorang gadis  misterius bernama Dinta.  Mungkin saja, pada buku selanjutnya justru Dinta yang menjadi tokoh utama. Mengingat kecenderungan penulis melibatkan karakter pada buku sebelumnya di karya baru. Tokoh Dinta juga merupakan favorit saya

Kenapa? Karena dalam kisah ini digambarkan bagaimana  ketenangan serta kecerdikan Dinta dalam mengatasi segala masalah. Ia digambarkan selalu dalam kondisi dengan persiapan yang optimal. Ada rencana A, dan ada Rencana B sebagai cadangan. Bukan tidak mungkin, ia juga sudah menyiapkan Rencana C, D, bahkan E.

Bahkan Dinta pula yang sukses mempersiapkan rencana cadangan kepulangan Dio Ia juga membukan pikiran Dio dengan mengatakan, " Di Indonesia ini Dio, daripada punya tenaga dalam, lebih baik punya orang dalam." Terbukti benar, ketika Dio mencari tumpangan untuk kembali ke Jakarta. Ia hanya perlu menyebutkan nama "orang besar" kenalannya, urusan transportasi yang semula rumit menjadi sangat mudah.

Penyebutan beberapa daerah yang cukup dikenal pembaca, akan menimbulkan kedekatan emosional. Jakarta, Depok, Semarang, hingga Korea. Apa lagi penjabarannya lumayan akurat. Penulis lumayan teliti melakukan riset sebelum membuat buku ini.

Ada beberapa hal yang membuat saya penasaran.  Untuk sosok yang tinggal  di dekat  rel kereta, rasanya aneh jika Dio justru memilih bus sebagai sarana transportasi. "Baru saja tadi aku turun dari bus kota di komdak lalu berjalan di bawah terik matahari ke situ."

Kenapa tidak kereta api? Saya masih berprasangka baik. Mungkin dari Pondok Cina naik kereta lalu menyambung bus. Atau menggunakan bus karena lebih praktis walau jarak tempuh menjadi lebih lama. Tapi ketika disebutkan pulang juga menggunakan bus, hingga terbawa jauh, seperti  menjadi makin aneh. 

Tengok saja yang tercetak di halaman 50-51, "Sampai-sampai aku tak sadar dengan perjalananku. Seharusnya aku oper bus kota yang ke arah Depok. Namun, karena keasyikan melamun, aku malah terdampar di Senen. Akhirnya butuh waktu lebih lama untuk pulang sehingga baru sampai Depok ketika matahari sudah tenggelam."

Apakah mendadak Dio kehilangan ingatan akan getaran kereta api yang lewat dekat bedengnya? Jika tidak  kenapa tidak naik kereta dari  Stasiun Senin ke Depok? Bukan lebih murah dan lebih cepat? Bagian ini lumayan mengusik saya.

 Disebutkan bahwa  Dio mengalami perubahan besar dalam hidupnya pada  tahun kedua SMA. Saya asumsikan usianya sekitar 16-17  tahun. Sampai usia 18-19 ketika ia mulai berjualan DVD bajakan, tentukan banyak hal yang terjadi.  Dari ia memperoleh modal untuk  menyewa bedeng dan berjualan?

 Meski game dan program bisa diperoleh melalui internet, tapi dari mana uang untuk menyewa bedeng? Tentunya pemiliknya meminta uang muka didepan untuk sekian bulan sewa. Lalu darimana uang untuk membeli PC dan DVD kosong?  Butuh modal juga untuk itu.

Saya penasaran, jadi bagaimanakah nasib  keluarga Dio? Hanya disinggung sekilas untuk memperjelas kepribadian Dio. Menjadi korban ketidakadilan dari orang berkuasa tentunya berdampak besar bagi keluarga. Selanjutnya bagian ini seakan menguap.

 Dalam kisah, saya sempat berasa aneh dengan bagian yang dimuat di halaman 184. Apakah Dio tak sadar ia sudah dijebak? Atau mungkin ini hanya dugaan saya saja karena terlalu sering membaca kisah detektif. Ternyata dugaan saya benar! Ada runtutan kisah yang mengempar dari kejadian tersebut. Ini agak mengecewakan saya, karena dari dua buku yang lalu,  tebakan saya selalu salah.

Dari kover buku ini, sebenarnya pembaca sudah bisa menduga isi dari buku. Kata investigasi bisa diartikan sebagai suatu penyelidikan tentang suatu hal atau suatu perkara. Ilustrasi kapal terbang yang ada bisa kita maknai bahwa investigasi yang dilakukan berkaitan dengan pesawat udara. Entah para pilot, perusahaan penerbangan, atau hal lain, intinya terkait dengan dunia penerbangan.

Saya tak pandai eh maksudnya tak bisa menggambar, namun ilustrasi pesawat yang ada terlihat agak kurang pas menurut versi mata saya. Sayapnya bergesan lentur. Alih alih gambar spesawat yang terbang gagah,  saya malah jadi terbayang kepakan sayap burung yang luwes dan lentur.

 Secara tak sengaja, ketika mengamati kover,  ilustrasi bangunan yang ada di pojok kanan bawah mengingatkan pada menara kontrol pesawat yang ada di Halim Perdanakusuma.  Terlalu fanatik dengan kisah Tintin, Penerbangan 714 sepertinya.

Dibandingkan dengan dua buku sebelumnya,  serasa ada yang berbeda. Seolah-olah kita makan masakan yang dibuat dari koki yang sama, namun ternyata rasanya  berbeda. Meski begitu, nuansa rasa Tsugaeda alias Ade Agustian masih terasa kental. 

Ketegangan berhasil dibangun, walau seperti yang saya sebut di atas, rasanya kurang maksimal. Topik yang diangkat selalu unik. Andai buku ini muncul tahun lalu, saat ada peristiwa heboh terkait sebuah maskapai, tentunya lebih seru lagi.

Keputusan penulis untuk mencetak buku ini pada penerbit indie, merupakan keputusan yang berani. Mungkin ia ingin bisa bebas mengeluarkan  daya  kreasinya tanpa ada bayang-bayang kesuksesan dua  buku sebelumnya. Suatu langkah berani.

Penulis juga memberikan tambahan pengetahuan tentang Korea Selatan. Dari penginapan, transportasi, kehidupan masyarakat yang lebih banyak merupakan warga senior, hingga makanan. Siapa tahu ada yang mau ke sana kelak.

Soal pesan moral, tentunya ada dalam buku ini. Meski tugas Dio selesai dalam waktu singkat, bahkan cenderung dibuat agak dipaksakan sehingga berkesan buru-buru, tentunya tetap ada hikmah yang bisa diambil. Salah satunya, tak selamanya kejahatan bisa terus merajalela. Jika saat ini bukan Anda yang menumpas, tetaplah yakin suatu saat akan ada pihak yang akan membuat kejahatan tersebut kalah dari muka bumi.

Meski Dio merasa malu akan pandangan masyarakat, namun apa yang ia lakukan juga tak tepat. Meninggalkan ibu dan saudaranya menghadapi segala hal hanya berdua, bukanlah hal yang bijak. Bagaimana pun kondisinya, seharusnya kita tetap bersama dengan keluarga guna memecahkan masalah yang ada.

Sekedar mengingatkan, pesawat terbang yang dapat dijalankan dengan mesin menurut buku Dari "Si Kumbang" Hingga "Tetuko" karangan Dahlan Sjazh, adalah hasil temuan Wright bersaudara pada tahun 1903. Namun pesawat tersebut hanya mampu mengudara selama 12 detik dengan jarak tempuh 36,5 meter saja.

Bagi yang penasaran bagaimana pesawat terbang bisa naik ke udara meski memiliki bobot yang sangat berat, bisa menemukan jawabannya dalam buku ini. Dari "Si Kumbang" Hingga "Tetuko" karangan Dahlan Sjazh

Disebutkan bahwa untuk dapat naik ke udara, pesawat memerlukan gaya angkat. Gaya angkat itu dimungkinkan oleh kedua sayapnya yang merentang. Jika kita perhatikan agak teliti, maka kedua sisi sayap pesawat terbang itu mempunyai bentuk yang berbeda. Sisi sayap bagian atas berbentuk lengkungan, sedangkan bagian bawah agak rata.

Jika mesin dihidupkan maka pesawat itu akan bergerak ke depan. Dengan demikian sayap pesawat akan menembus udara, yang mengalir melalui sisi atas dan sisi bawah sayap pesawat.

Bentuk sayap sisi atas yang melengkung dan lebih tinggi itu membentuk pula aliran udara yang melengkung. Ia akan menghisap udara ke atas sedangkan udara pada sisi bagian bawah akan mendorong pula ke atas. 

Inspiratif bukan?
Dari menikmati sebuah kisah konspirasi, pembaca-minimal saya, menjadi tertarik untuk mengetahui beberapa hal terkait pesawat udara. Tak jarang penulis yang menciptakan sebuah kisah, sekaligus membuat pembacanya ingin belajar sesuatu hal. Dapat hiburan, dapat ilmu.

Semoga karya selanjutnya tidak memerlukan waktu lama lagi untuk terbit.


Sumber gambar:

Buku Dari "Si Kumbang" Hingga "Tetuko" karangan Dahlan Sjazh

-------------
Akhirnya, saya menemukan buku tentang pesawat di salah satu lapak buku daring. Lumayan ada tambahan informasi bagi pembaca. Hutang lunas sudah! he he he.












































1 komentar:

  1. menarik ulasannya. SEbagaimana kakak terganggu dengan detail2 cerita Tsugaeda, saya juga terganggu dengan "keberatan" kakak soal ilustrasi sayap pesawat. Sayap pesawat memang lentur. Tentu tidak bisa mengepak seperti burung. Tapi sayap pesawat bisa bengkok. Kok bisa? Aneh??

    Justru sayap dirancang bisa bengkok supaya tidak patah. Dan di kover ilustrasi tersebut tingkat bengkoknya sayap juga realistis kok. Emang kayak gitu sebenernya sayap pesawat kalo lagi terbang. Bengkok. Ga percaya? Cek ini aja...

    https://www.youtube.com/watch?v=OLP7i1jQBh4&ab_channel=SISITERANG

    BalasHapus