Selasa, 29 Desember 2020

2020 #48: Nostalgia Kisah Lawas

Salah satu cara saya  agar tetap beraktivitas saat pandemi adalah dengan membereskan rak buku. Proyek ambisius yang membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Percayalah! Para penggila buku paham sekali maksud saya ini.

Salah satu alasan kenapa membutuhkan banyak waktu dan tenaga adalah, kadang saya berhenti ketika menemukan sebuah buku yang sepertinya menarik (lagi) perhatian saya. Coba diingat dapat dari mana, apakah sudah pernah dibaca, cek di GRI apakah ada versi lainnya, dan hal-hal sejenisnya. 

Bayangkan kalau 1 buku yang saya temukan menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk ritual tersebut. Berapa waktu yang akan dihabiskan jika saya menemukan 10 buku selama 1 hari saja!

Beberapa buku berikut ini, sengaja saya ulas secara singlat sekedar mengenang keseruan ketika membacanya. Siapa tahu, ada yang juga merasakan hal sama.

Judul: Menggulung Komplotan Penculik
Penulis: Dwianto Setyawan
Halaman: 91
Tahun terbit: 1979
Penerbit: Balai Pustaka
Rating: 4/5

 Empat orang sahabat berencana menghabiskan malam panjang di rumah salah satu dari mereka. Keempatnya adalah Iwan, Sutitik, Mandoko, serta Robin.

Iwan merupakan anak tunggal seorang jutawan namun tak pernah menunjukkan sifat manja atau egois. Robin yang berbadan gempal dan sering datang terlambat jika ada janji berkumpul, merupakan anak seorang direktur perusahaan obat dari Sumatra, ibunya keturunan Jerman. 

Sementara itu, Sutitik adalah anak seorang penjahit sederhana dengan 6 saudara, Demikian juga dengan Mandoko, ia tinggal di rumah dengan dua kamar bersama 4 adiknya. Terbayangkan, jika mereka tidur, posisinya persis ular melingkar. Ayahnya adalah pegawai kantor pos.

Rencanya empat sekawan tersebut menghabiskan waktu dengan riang sambil menikmati panganan yang disediakan. Kebetulan, malam ini kedua orang tua Iwan ada keperluan keluar rumah, sehingga mereka membaca kunci sehingga tak perlu menyusahkan anak-anak ketika pulang nanti

Mendadak, terdengar ketukan keras di pintu. Meski merasa heran, siapa yang mengetuk malam-malan begini, mereka dengan ceroboh membuka pintu, karena penasaran siapa yang begitu keras mengetuk pintu depan. Begitu pintu terbuka sedikit, sang pengetuk mendorong Iwan yang membuka pintu dengan kasar! 

Iwan dan Robin diculik! Mereka meminta uang tebusan sebesar Rp 12 juta Rupiah! Jumlah yang sangat besar untuk ukuran saat itu.  Penulis penyelipkan pesan moral pada bagian ini, agar  anak-anak diberikan pengarah untuk berhati-hati jika berada di rumah. Tidak membukakan pintu begitu saja.

Sepertinya penculik sangat tahu situasi rumah dan paham siapa saja yang ada saat itu. Buktinya hanya Iwan dan Robin yang diculik. Andaikata kita anak orang kaya, kita akan mereka culik juga, demikian pikiran Sutitik dan  Mandoko.

Akhir kisah bisa ditebak. Semuanya berakhir dengan baik, penculik tertangkap, Iwan dan Robin kembali dengan selamat. Sutitik dan Mandoko ikut membantu memecahkan misteri penculikan kedua sahabat mereka sehingga layak mendapatkan hadiah.

Untuk kisah tahun 1970-an, kisah ini lumayan seru. Saya membayangkan  jika diceritakan ulang dengan beberapa penyesuaian,  tetap masih  seru. Kepiawaian penulis menciptakan alur membuat kisah ini menjadi menarik.

Judul: Laki-Laki dan Mesiu

Penulis: Trisnojuwono
Halaman:116
Tahun terbit: 1971
Penerbit: Pustaka Jaya
Rating: 4/5

 Jika tidak salah, buku ini diterbitkan ulang oleh salah satu penerbit besar. Kovernya dibuat lebih menarik dengan aneka warna dan ilustrasi yang mengusung tema perjuangan. Meski melihatnya saya malah merasa terenyuh karena menggambarkan suasana pertempuran.

Versi yang saya baca merupakan ejaan lawas. Mungkin anak zaman sekarang tak banyak yang tahu bahwa nj adalah nydj dibaca j, tj adalah c, Hal-hal seperti itu yang membuat membaca buku ini menjadi tantangan tersendiri.

Terdapat  10 kisah yang bisa dinikmati dalam buku ini. Ada Tinggul; Kopral Tohir; "Dropping-zone"; Restoran; Sebelum Pajung Terbuka; Pak Parman; Pagar Kawat Brduri; Di Kaki Merapi; Rantjah;  serta Lewat Tambun. Kesamaan kisah-kisah tersebut adalah pada waktu peristiwa yaitu masa pascakemerdekaan.

Membaca kisah Dropping-zone yang ada di halaman  30, menimbulkan rasa haru. Akibat habisnya persediaan, beberapa tentara nekat meminta makan penduduk. Hal yang sangat dilarang oleh komandan mereka sebenarnya. Ada yang ketahuan melakukan hal tersebut, langsung mendapat teguran keras.

Menjadi tentara saat itu sungguh berat. Tidak saja harus menghadapi musuh secara fisik, namun juga harus kreatif dalam menghadapi kehidupan. Saya teringat kisah Oshin, dimana anak pertamanya meninggal bukan karena bertempur namun karena kehabisan bekal makanan (kalau tidak salah ingat).

Kisah Tingul  mendapat Hadiah Pertama majalah Kisah tahun 1956. Buku kumpulan cerpennya, Laki-laki dan Mesiu (1957), mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957/1958. Penghargaan yang patut diperhitungkan

Judul: Mentjahari Pentjuri Anak Perawan
Penulis: Soeman H.S
Halaman:98
Tahun terbit: 1961 (Cetakan ke-IV)
Penerbit: N.V. Nusantara
Rating: 4/5

 ,,Pada pendapat saja, djangan dahulu dikabarkan kepada polisi,"udjar Sir Djoon, ,,karena berurusan dengan polisi itu banjak susahnja. Tak boleh tidak kabar ini makin petjah kemana-mana. djadi memberi aib kita semua dan memberi malu tuan djua. Dan melemahkan tenaga kita; padahal polisi itu belum tentu mau bekerdja dengan sungguh-sungguh hati untuk keperluan kita...."

Kembali menikmati sebuah buku dengan ejaan lawas. Seorang gadis bernama Nona mendadak lenyap dari kamarnya. Diduga ia dibawa kabur melalui jendela rumah. Orang tua dan tunangannya panik mencari. Salah seorang yang dianggap keluarga-Sir Djoon, menawarkan bantuan untuk mencari keberadaan Nona. Bisa dikatakan ialah yang menjadi detektif dalam kisah ini.

Tapi jangan dikira cara penyelidikan yang dilakukan oleh Sir Djoon mirip dengan cara kerja detektif yang umumnya kita baca. Tak ada kaca pembesar, tak ada adegan duduk manis sambil merenung atau menyelidiki TKP, jelasnya tak ada juga adegan mempergunakan bank data untuk melakukan penyelidikan awal.

Saya menemukan banyak kalimat indah dalam buku ini. Misalnya, " Tak usah engkau sjak-sjak hati kepadaku."  Kemudian kalimat,"... tiada sebuahpun tanda bahkan alamat jang boleh menggerakkan hati, membersihkan kelamin manusia itu menjesali muhibat antara keduanja.  Sebaliknja antara kasih-mengasihi itu, tersimpullah tali tjinta bahagia tersepuh mati jang mungkin lekang diterik panas dan lapuk dilebat hujan...."

Sang penulis, Soeman H.S, bisa dianggap sebagai pelopor kisah detektif di tanah air. Meski cara berceritanya dipengaruhi  kisah detektif ala barat, namun ia memasukan unsul lokal dalam kisah. Misalnya dengan membuat sosok detektif yang  bertingkah laku sopan dan tak pernah berkata kasar.

Karya sang penulis yaitu Kasih Tak Terlarai (1929); Pertjobaan Setia (1931); Mentjahari Pentjoeri Anak Perawan 1932); Kasih Tersesat (1932); Teboesan Darah (1939); dan Kawan Bergeloet (1941). 

Sepertinya saya harus sering beberes rak, siapa tahu  masih banyak buku lawas  dalam dus yang belum saya bongkar ^_^.

 



























Senin, 23 November 2020

2020#47: Pamungkas Kisah Perpustakaan Kelamin
























Penulis: Sanghyang Mugni Pancaniti 
Editor: Arkamaya Muhammad 
ISBN: 9786021464930 
Halaman: 209 
Cetakan: Pertama-November 2020
Penerbit: Semesta 
Harga: Rp 65.000 
Rating: 4/5

Mana yang lebih penting bagimu? Kelamin atau buku? 
Bukan! Ini bukan pertanyaan edan. Coba tanya pada Hariang, mana yang lebih penting bagi dirinya? Kelaminnya, atau buku-buku sehingga ia bisa mendirikan sebuah perpustakaan? 

Jawabannya ada dalam Trilogi Perpustakaan Kelamin. Buku pertama berkisah tentang seluk-beluk dunia membaca, berjudul Perpustakaan Kelamin: Buku Dan Kelamin Dalam Pertaruhan. Komen recehan saya ada di sini. 

Buku kedua, yang judulnya membuat saya banyak mendapat lirikan aneh ketika membaca di kereta api, Perpustakaan-Dua-Kelamin: Buku Dan Dendam Yang Tak Terbalas, menceritakan proses penulisan kreatif Hariang. Bisa dilihat di sini

Buku terakhir ini, Akhir perpustakaan Kelamin: Sayang, Kamu Hanya Kehilangan Kelamin, Bukan Hidup! Secara garis besar mengulas tentang proses penerbitan karya Hariang. Tentunya dengan aneka bumbu yang membuat buku ini lezat untuk dinikmati. 

Sekedar mengingat bersama, dalam buku kedua, Hariang mempersembahkan sebuah buku sebagai mas kawin untuk Drupadi. Semula buku yang ia tulis dengan susah-payah memang hanya diperuntukan untuk dibaca beberapa orang saja, belakangan timbul keinginan untuk menerbitkannya sehingga lebih banyak orang yang membaca. Hal yang tak mudah, walau bukan berarti tidak mungkin dilakukan.

Apa yang ditulis Hariang adalah memoar. Memoar adalah kejujuran. Tempat di mana seorang penulis akhirnya bersedia mengurai luka-demi luka, berani mengatupkan najis demi najis yang lama terpendam, mengungkapkan pedih yang telah merenggut kedamaian, lalu merangkainya dalam diksi, kalimat, paragraf, alur, sampai menjadi sebuah cerita utuh (halaman 7). 

Tentunya tak semua orang ingin kejadian dalam hidupnya dikisahkan dengan terbuka pada orang lain. Meski Hariang tak keberatan, Drupadi awalnya menentang. Ia begitu mencintai Hariang sehingga tak ingin belahan jiwanya mendapat malu karena mengisahkan perjalanan kehidupannya yang tak bisa dibilang baik.

Kisah dibuka dengan cerita tentang perpustakaan milik sang ibu sudah dibuka kembali dengan segala perubahan yang mampu menumbuhkan minat belajar. Pabukon Kadeueuh. 

Khusus untuk peminjaman buku, ada peraturan yang harus diikuti, yaitu: 
1. Maksimal waktu peminjaman buku adalah 1 minggu; 
2. Dilarang mencoret, apa lagi membuat catatan pada buku yang dipinjam;
3. Dilarang memindahtangankan buku yang dipinjam, apalagi menjadikannya sebagai jaminan;
4. Dilarang keras melakukan fotokopi. Sebagian isi buku yang dipinjam boleh disalin ulang dengan tulisan tangan;
5. Dilarang keras menjadikan buku yang dipinjam sebagai bantal, kipas, sandaran punggung, alas berbaring, atau membunuh hewan; 
6. Dilarang melipat pinggiran/sudut buku. 

Jika ada yang kedapatan melanggar, ia akan mendapat sanksi membaca buku setebal 200 halaman secara nyaring di depan pengunjung perpustakaan. Duh bisa dower bibir kalau kena sanksi itu. 

Jadi pingin menambahkan poin 4. dilarang melakukan pindai kecuali dengan mempergunakan pindai  dengan tipe yang khusus untuk buku. Maklum, saya sering melihat mahasiswa melakukan hal tersebut. Tapi kok tidak ada pesan agar menjaga buku agar tidak basah ya? Padahal ini termasuk poin penting.

Sebagaimana buku-buku yang lalu, dalam buku ini juga banyak memuat tentang buku. Di halaman 11, terdapat lebih dari 20 baris berisi aneka judul buku tentang buku. Misalnya Penghancuran Buku dari Masa ke Masa (Fernando Baez); Pelarangan Buku di Indonesia: Sebuah Paradoks Demokrasi dan Kebebasan Berekspresi (Iwan Alaudin Yusuf dan kawan-kawan); Merupa Buku (Koskow); Libri di Luca: Perkumpulan Rahasia Pencinta Buku (Mikkel Biirkegaard); dan Gilkey si Pencuri Buku (Allison Hoover Bartlett). 

Melihat begitu banyak judul, saya jadi teringat akan beberapa buku yang sudah saya baca dan komentari. Ada rasa sedih juga mengingat ada buku yang diterbitkan oleh  sebuah penerbit yang sudah tutup. Semoga kelak ada penerbit lain yang menerbitkan ulang. 

Sementara di halaman 17, tercantum beberapa buku langka yang dibeli murah dari penjual langganan Hariang. Harganya lumayan murah jika dibandingkan dengan harga asli pasaran. Contohnya, disebutkan Di Bawah Bendera Revolusi Ir. Soekarno, cetakan pertama dihargai Rp 175.000. Sementara pada bursa buku daring, harganya jauh lebih mahal.

Pengetahuan yang diberikan sang ibu pada Hariang perihal fungsi bagian fisik buku serta sejarahnya, merupakan hal yang sepatutnya diketahui oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia terkait buku. Bisa editor, pustakawan, penggila buku, sekretaris di penerbit, bahkan penjual buku. Dengan demikian mereka akan semakin paham dengan apa yang mereka geluti selama ini. 

Kembali,  untuk menegaskan bahwa buku ketiga ini berisikan tentang proses penerbitan buku Hariang, terdapat uraian Kang Uni perihal berbagai kegiatan dalam penerbitan. Pembaca seakan diajak berurusan dengan hal-hal terkait dunia penerbitan buku. 

Meski berkesan sepele, sesungguhnya penulis sedang menjejeli pembaca dengan berbagai pengetahuan perihal penerbitan buku. Termasuk siapa saja yang terlibat dalam proses tersebut dengan tugasnya masing-masing. 

Kisah tentang orang-orang yang terlibat dalam cerita, seakan menguap. Padahal merekalah yang menjadi pelengkap jiwa kisah ini. Makin menuju akhir kisah, kejutan-kejutan mulai bermunculan. Emosi pembaca seakan-akan dipermainkan. Klimaksnya pada akhir kisah yang sangat jauh dari dugaan. 

Entah kenapa,  saya merasa penulis terlalu terburu-buru menutup kisah. Sedikit dipanjangkan dengan bumbu lebay ala anak sekarang, akan makin membuat dalam kesan yang ditinggalkan.  Jika Anda tipe pembaca yang selalu mengharapkan akhir bahagia, maka kali ini Anda akan kecewa. 

Ah! Saya juga agak kehilangan kata EDAN dalam buku ini. Porsinya sangat sedikit dibandingkan dua buku yang sebelumnya. Mungkinkan penulis takut pembaca akan merasa kenyang membaca kata edan sehingga mengurangi porsinya, atau ada alasan lain? Padahal  bagi saya, unsur edan justru ada pada buku ini.

Ada beberapa hal yang mengusik rasa penasaran saya. Mungkin saya yang agak kurang cermat membaca. Tapi seingat saya, pada buku kedua, pada halaman 158 disebutkan bahwa makam Kang Ulin ada di Cigendel (maafkan jika penulisan "e" kurang tepat). Sementara saat itu pada halaman 73 diceritakan Hariang dan Drupadi sedang ada di Lembang. 

Bagaimana ia bisa begitu cepat pergi ke makam lalu membongkarnya, kemudian kembali ke penginapan? Saya membutuhkan waktu untuk bertanya pada beberapa teman yang paham. Menurut mereka jarak antara kedua tempat tersebut bisa ditempuh antara 2-2,5 jam. Dengan demikian pergi pulang butuh waktu sekitar 4-5 jam, belum lagi urusan menggali kuburan.

Kemudian, mengapa harus menyebut ibu dan Drupadi tertelap? Bukankah saat itu sang ibu sedang berada di Arab? Tak mungkin beliau tahu apa yang sedang dikerjakan oleh Hariang. Menghitung waktu tempuh, plus waktu menggali dan menimbun kembali kuburan, sepertinya butuh waktu yang lumayan lama untuk melakukan semuanya.

Pada kover belakang buku ini tercetak tulisan "DICETAK TERBATAS" saya penasaran apa maksudnya? Jika kita melihat buku  Berguru pada Pesohor dari Diana AV dan Muhidin M Dahlan, setiap buku memiliki semacam nomor urut tersendiri. Sehingga buku tersebut memiliki nilai yang lebih, membuat tiap buku berbeda. 

Lalu apa yang membuat buku spesial sehingga perlu mencantumkan kalimat tersebut? Selain urusan kisah tentunya. Mungkinkah karena buku ini hanya dicetak sebanyak 400 eksemplar saja? Sedangkan jika stok sudah habis maka pembaca harus menunggu PO selanjutnya, sekitar tahun 2024. 

Bisa jadi! Campur tangan Hukum Permintaan dan Penjualan akan membuat buku ini menjadi buku yang langka.  Pada status FB penulis pada 4 hari lalu (sekarang Minggu, 15 November) tersisa hanya 57 eksemplar saja. Terbayangkan betapa cepatnya buku ini berpindah tangan. 

Sesungguhnya, hal yang paling ingin saya tanyakan adalah  tentang yang tertera pada halaman 193 baris ke-6. Bagaimana caranya ya? Iseng, saya coba melakukan di rumah. Butuh posisi khusus supaya semua bisa terlihat jelas. Belum lagi mempertimbangkan posisi colokan listrik. 

Secara garis besar, buku ini masih layak mendapat rating 4. Bagi mereka yang mengaku sebagai penggila buku, rasanya kegilaan Anda belum lengkap kalau belum memiliki dan membaca buku ini. Ilmu dan hiburan bisa kita peroleh dari membaca buku ini.

Kalimat favorit saya ada di halaman 86 ".... Mereka blilang, yang melipat-lipat halaman buku adalah orang bodoh. Lipatan itu tentu, dimaksudkan untuk menandai halaman yang sedang dibaca, atau halaman yang penting, tapi jika menyebabkan buku rusak atau terlipat, itu jadi perilaku yang amat buruk. Maka disusunlah tata cara menandai halaman yang dibaca, yaitu dengan adanya pembatas buku."

Hem..., kira-kira bagaimana kisah yang sedang disusun selanjutnya? Apakah jadi perihal sosok yang selama ini membentuk diri Hariang? Atau kisah lain. Saya menunggu saja.



Selasa, 17 November 2020

2020#46: Kota Perfect Dari Kacamata Violet Brown

Judul  asli:A Place Called Perfect
Penulis: Helena Duggan
Penerjemah:  Nadya Andwiani
Penyunting: Aprilia Wirahma
ISBN: 9786230402005
Halaman: 348
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Harga: Rp 85.000

Tiba-tiba, pekik menakutkan membelah malam. Tanaman-tanaman yang tadinya tidur membentangkan kelopak masing-masing untuk menyingkap massa bola mata merah dan memekik. Tanaman-tanaman itu melontarkan diri ke arah .... 

~A Place Called Perfect, halaman 167~

Pernahkan kalian begitu ingin membaca sebuah buku karena tergoda  iklan yang bersliweran? Begitu ingin membaca,  sehingga segala pertimbangan seakan tak penting? Kemudian, ketika akhirnya buku itu ada ditangan, rasanya tak ingin berhenti membaca sampai kisahnya tamat. Masa bodoh dengan situasi sekitar, kita seakan ikut dalam petualangan yang ada dalam buku itu.

Pernah?
Saya pernah. Untuk beberapa buku, misalnya Harry Potter, saya mengalami kehebohan sepert itu. Setelah lama tak mengalami sensasi serupa, melalui buku ini, kembali perasaan itu muncul. Mendengar ada info diskon 30% di sebuah toko kesayangan, segera saya hubungi marketing favorit saya. Ternyata, di tokonya tidak ada program itu. Masa bodoh! Saya tetap  membeli, padahal dihitung-hitung 30% dari harga jual lumayan juga.

Karena sesuatu dan lain hal, ia baru bisa mengantarkan buku pesanan saya jam 10 malam! Tidak masalah! Saya tunggu. Pada pukul 22.10 WIB buku mulai saya baca, setelah tentunya melewati protokol kesehatan terlebih dahulu. Sekitar dini hari ini, saya beranjak tidur dengan senyum bahagia, seperti Violet yang juga menemukan kebahagiannya kembali.

Kenapa bisa begitu? Hem..., mungkin karena saya begitu penasaran dengan kata kacamata yang ada di kover. Kemudian kisah yang mengusung kacamata sebagai tema bisa dibilang jarang. Sebagai pengguna kacamata,  ada kedekatan emosi yang membuat saya menjadi tertarik dengan kisah ini. Mungkin, jika Anda juga pengguna kacamata, Anda akan mengalami hal yang sama seperti saya. Meski seharusnya tak perlu alasan khusus untuk menikmati sebuah buku.

Violet Brown, ibunya-Rose, ayahnya-Eugene, pindah ke sebuah kota yang bernama Perfect. Sang ayah adalah seorang optalmonologi, seorang ahli bedah mata. Ia   mendapat penawaran yang begitu menggiurkan dari dua saudara kembar,  Edward dan George Archer. Namun untuk bisa mendapat pekerjaan itu, mereka harus bersedia pindah ke Perfect. Kesempatan sekali seumur hidup yang tak akan mereka lewatkan.

Kota Perfect, seperti arti kata tersebut, merupakan sebuah kota yang sempurna baik dari kondisi kota maupun kehidupannya. Nyaris tak bisa  ditemukan cela dari kota tersebut. Kehidupan berjalan sempurna dengan peraturan yang dibuat dan ditaati setiap orang. Sarana dan prasarana juga menjanjikan.

Faktanya ada satu kekurangan kota tersebut yang  membuat penguasa kota Edward dan George Archer membutuhkan jasa ayah Violet.  Tiap penduduk kota tersebut mempergunakan kacamata. Bukan sembarang kacamata, namun kacamata khusus yang membuat mereka bisa melihat kondisi sekitar. 

Setiap orang yang memasuki kota, perlahan akan mengalami penurunan penglihatan, menjadi buram.  Sudut-sudut visi akan mengabur, selanjutnya berakhir dengan kebutaan. Namun dengan mempergunakan kacamata khusus, mereka bisa melihat kembali.

Kacamata tersebut diproduksi oleh Edward dan George Archer,    berbentuk persegi dengan sepuh emas, mempergunakan lensa tipis berwarna rose. Lengan kacamata yang mengait di belakang telinga berbentuk datar, kotak dan persegi, kemudian menjepit sisi-sisi kepala pemakainya. Jika kacamata itu terlepas, maka mereka tak akan bisa melihat lagi. 

Bisa kita katakan, seluruh penduduk kota Perfect tergantung pada kacamata tersebut. Demikian juga dengan Violet dan keluarganya. Sehari setelah kedatangan mereka, seperti warga kota yang lain, mereka juga harus mempergunakan kacamata khusus tersebut. 

Entah kenapa, Violet merasa ada yang aneh dengan kota itu. Ia sering mendengar suara-suara tanpa wujud. Belum lagi sikap penduduk yang aneh menurutnya. Mereka seakan tidak hidup secara normal, tidak natural. Semua terlalu tertib sehingga menjadi janggal.

Tak ada yang percaya pada Violet. Setiap kali ia menyampaikan  rasa penasarannya, pasti ia dikira berhalusinasi, bahkan diduga menderita SAPDDK (Sindrum Anak Pemarah dengan Disfungsi Ketidakpatuhan sehingga harus diberikan obat untuk mengatasi hal terseebut. 

Ternyata Violet tidak sendiri. Ada anak lain yang juga merasakan hal yang sama, "Seperti yang kau bilang, hampir seolah-olah orang tua mereka bukanlah orangtua mereka lagi. Ada sesuatu yang melanda orang-orang di Perfect. Aku tidak tahu apa tepatnya, tetapi aku cukup yakin itu ada hubungannya dengan kacamata."

Keduanya berusaha memecahkan misteri yang ada di sana. Itu artinya mereka harus berurusan dengan pihak yang tak ingin rahasia kelam kota teersebut terungkap. Bahaya menjadi bayangan kedua anak tersebut. Meski seperti kisah yang lain, akhir kisah ini berujung bahagia, namun prosesnya sungguh luar biasa!

Menurut https://www.alodokter.com, Miopi atau rabun jauh adalah salah satu kelainan refraksi mata. Kondisi ini terjadi karena mata yang tidak dapat memfokuskan cahaya pada tempat yang semestinya, yaitu pada retina mata. Gejala utama rabun jauh adalah kaburnya penglihatan ketika melihat benda-benda yang jauh, misalnya tulisan di papan tulis atau rambu lalu lintas.

Sementara untuk kisah ini,  penjelasan kenapa penduduk kota mengalami kebutaan ada di halaman 17X.  Saya tak mungkin menuliskannya di sini, bisa merusak keseruan pembaca lainnya ^_^. Namun secara singkat, kacamata yang mereka pakai membuat mereka melihat segala sesuatu sesuai dengan yang diinginkan oleh pembuat kacamata. 

Dalam kisah ini, ada bagian yang mengingatkan  saya pada kisah Peter Pan, anak yang tak diketahui asal-usulnya. Dalam kisah ini, sosok tersebut  pada akhirnya akan mendapat kebahagiaan.

Kalimat di halaman 184 membuat saya teringat pada salah satu penulis kisah fantasi, "Imajinasi dapat dicuri dan disembunyikan, tetapi begitu dibebaskan dan diberi jalan, imajinasi akan selalu menemukan pemilik yang sebenarnya." Membaca kisah fantasi membuat kita menjadi berimajinasi hingga menjadi kreatif.

Nilai kekeluargaan sangat terasa dalam kisah ini. Dimulai dari upaya Violet untuk memecahkan misteri yang terjadi di kota agar bisa membuat kedua orang tuanya bersikap seperti sebelum menjadi penduduk kota Perfect. Upaya seorang wanita bertahan hidup demi pria yang dicintai dan menjaga keselamatan sang anak. Mengharukan.

Semula saya merasa bahagia ketika menemukan ada bagian yang mengisahkan tentang kegemaran warga Perfect minum teh. Disela-sela jam pelajaran, sambil mendiskusikan buku, sebut saja semua kegiatan yang terpikirkan, akan ada jeda untuk minum teh. 

Jika diperhatikan dengan seksama, pada kover juga terdapat gambar poci teh.  Belakangan, rasa bahagia berubah menjadi sedih. Kenapa? Baca buku ini, pasti kalian akan sependapat dengan saya. Oh, ya sekedar berbagi saja, komentar mengenai buku tentang teh  antara lain ada di sini. Sementara untuk seputar sejarah teh, silakan meluncur ke sini.

Pada halaman 335, ada adegan yang membuat saya tertawa, mirip adegan kartun, namun untuk situasi saat itu merupakan hal yang paling tepat. Disebutkan juga mengenai buku  The world's One Thousand Worst Eye Ailments. kira-kira apakah benar ada buku itu, atau hanya sekedar pelengkap cerita?

Sang penulis, Helena Duggan sering disebut tidak pernah dewasa karena begitu piawai meracik kisah seru untuk anak-anak. Banyak yang beranggapan hanya mereka yang bisa berpikir seperti anak-anak yang mampu menghasilkan suatu karya yang begitu menarik bagi anak-anak. Padahal kisah ini juga menarik bagi orang dewasa seperi saya lho. 

Mungkin benar, dalam diri seseorang selalu ada jiwa anak-anak yang terpendam. Dan jiwa anak-anak saya begitu menikmati kisah ini sehingga tak ragu merekomendasikan pada "anak-anak" yang lain. Informasi lebih lanjut mengenai penulis bisa dilihat pada tautan berikut.

Menurut data Goodreads, ada 3 buku dalam seri ini. Saya langsung was-was, khawatir hanya buku pertama yang terbit, sementara buku selanjutnya entah kapan akan muncul. Menunggu nasib baik penjualan buku pertama. 

Buku yang mengembangkan imajinasi saya. Mendadak jadi mengkhayal, bagaimana jika suatu saat kacamata yang saya pakai bisa untuk melihat....


Sumber gambar

1. https://www.goodreads.com







Sabtu, 14 November 2020

2020 #45: Kisah Rajni Sari Mencari Jati Diri

Penulis: Andry Chang
Penyunting: Grace Situngkir
ISBN: 9786230020575
Halaman: 200
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Harga: Rp  70.000
Rating:3.5/5

Tarianmu tadi bagus, Sari. Semua gerakanmu sempurna tanpa sedikit pun cacat cela. Tapi topeng keindahan itu tak bisa menutupi perlakuanmu kepada Putra Mahkota selama ini."

~Rajni Sari, halaman  23~

Bisikan sang Raja begitu menyakitkan hati Sari. Meski merupakan anak dari selir, ia juga adalah anak Raja yang mengharapkan kasih sayang dari ayahnya. Bukan keinginannya untuk dilahirkan sebagai anak perempuan dari selir, bukan berdarah bangsawan pula. Pedih hatinya. 

Sari memang suka menjahili adik tirinya, sang Putra Mahkota. Namun ia berharap setidaknya  sebagai ayah, sang Raja  juga berkenan mendengarkan  kisah dari versinya. Bukankan sebagai raja, ayahnya tidak boleh percaya begitu saja ucapan orang?

Nyaris Sari mengajukan protes. Namun, mengingat teguran sang ayah yang mengatakan bahwa sampai  beliau mendengar ada laporan tentang kelakuannya pada adik tirinya,  maka Sari dan ibunya akan diasingkan dari istana, ia memilih diam dan memendam  rasa sakit hati.

Demikianlah bagian awal kisah ini dimulai. Rasa sakit hati yang merupakan masalah terbesar pada tiap individu. Sebelumnya  pembaca juga dimanjakan  dengan adegan perkelahian seru antara kebaikan melawan kejahatan, sebagai pembuka kisah. Saya tak perlu bercerita panjang, nanti mengurangi keseruan kisah.

Pembaca sejak awal kisah  seakan digiring untuk beropini bahwa tokoh Ni Ayuning Sari-Sari,   dididik untuk menjadi jahat karena sang ibu merasa iri dengan kedudukan ratu yang tak bisa ia miliki. Persis dengan kisah  yang sering beredar selama ini.  Padahal, buku ini tak hanya menawarkan kisah standar seperti itu.

Dalam kisah ini, perang antara kebaikan melawan kejahatan,  tidak hanya terjadi antara mereka yang memiliki sifat jahat dengan yang yang berhati mulia. Tapi juga dalam diri seseorang. Bahkan dalam diri anak raja seperti Sari sekalipun. 

Sari harus memutuskan akan memihak pada kubu siapa.  Pilihan yang  menjadi sulit, mengingat musuhnya bukan orang  lain, tapi sosok yang dekat dengannya.  Tapi, ada ganjalan jika ia berada di pihak itu. Apakah jika terlahir dari seorang ibu yang memiliki perangai buruk, maka ia juga harus menjadi buruk? Pikiran  Sari dipenuhi dengan pikiran yang membutuhkan pertimbangan khusus.

Belum lagi,  kemunculan beberapa orang yang menyerangannya dengan kemampuan yang tak sembarangan.  Sari tak merasa memiliki musuh dan tak yakin ada keterlibatan ayahnya dalam hal itu. Lalu siapa sesungguhnya mereka? Berbagai hal  yang terjadi seakan menghambat langkahnya untuk meraih ketenangan hati. 

Untuk membuat kisah menjadi lebih seru,   penulis menghadirkan sosok seorang pria yang dipanggil Jaka. Perkenalan  keduanya terjadi  secara tak sengaja, namun karena sering terlibat dalam peristiwa yang terjadi di Rainusa, keduanya menjadi dekat hingga tanpa sadar muncul benih-benih kasih diantara keduanya.

Misi keduanya sekarang adalah mencari siapa dalang  dibalik semua kekacauan di Rainusa dan menumpasnya hingga tak ada lagi kekacauan di Rainusa. Juga mencari ibunda Sari yang menghilang dari istana. 

Seperti juga Sari, Jaka mendapat pencerahan  sehingga memahami banyak hal dalam kehidupan ini. Begitulah, kadang seseorang mendapat suatu hal berharga melalui cara yang unik.

Hal tersebut,  terlihat dalam  percakapan yang ada di halaman 86, "Tak hanya itu. Bila kau melalui jalan yang sama denganku, kau akan menemukan jati dirimu yang sebenarnya. Sama  seperti aku yang memilih untuk mensucikan diri dan hatiku, menjauhkan diri dari segala keinginan dan nafsu duniawi. Akhirnya, segala  dosa tercuci bersih dan jiwaku yang telah kembali suci terangkat ke Nirwana. Dan aku bisa berpindah antara alam bakan dan alam fana kapan saja, layaknya dewa. Itulah Aliran Hanomanji"

Seperti yang disebutkan pada blurd, terjadi pertempuran antara Barong dan Calon Arang. Bagian tentang Calon Arang membuat saya teringat pada buku  Kumpulan Cerita Asli  Indonesia Vol 10 dari penerbit yang sama. Bisa dikatakan  melalui kedua buku tersebut, ada upaya untuk merawat kekayaan budaya bertutur  dengan konten lokal.

Myths menurut   The Encyclopedia of Fantasy dari John Clute and John Grant, "....  Myths are thereby close to FOLKLORE...Myths are closely allied to legend-a collection of linked LEGENDS may become a culture's my mythology. Mitologi terkait dekat dengan legenda dan cerita rakyat.  

Mitologi merupakan hal yang menarik bagi saya. Hanya saja, sering timbul pertanyaan dalam diri. Kenapa dengan begitu banyak  legenda dan kisah rakyat,  sangat jarang penulis lokal yang menjadikannya sebagai ide cerita.  Agak cemburu juga dengan  beberapa mitologi,  bekat Rick Riordan keberadaannya makin berkibar. 

Setelah sekian tahun, Andry Chang dengan buku barunya seakan menjawab rasa kegalauan saya.  Kita akan diajak mengikuti kisah tentang Rajni Sari, seorang Putri Raja dari Rainusa. Meski bukan pewaris tahta,  Sari  juga mendapat pendidikan yang sama dengan sang Putra Mahkota.

Sosok Sari digambarkan cukup cerdik dalam menghadapi segala hal. Dalam menghadapi bahaya, ia mampu bertahan dengan  memadukan ilmu bela diri dengan tarian. Cantik dan pintar, dua perpaduan yang luar biasa. 

Namun rasanya masih ada sesuatu yang kurang. Meski digambarkan memiliki kecerdasan dan keterampilan yang tinggi, Sari juga digambarkan sebagai sosok manusia biasa yang memiliki kekurangan. Dari sisi penggambaran tokoh, semuanya sudah tepat. Tapi seakan ada hal yang kurang untuk membuat karakter Sari menjadi sosok yang kuat. Entah apa ya?

Oh ya, dalam kisah ini juga disinggung  tentang Tari Pendet di halaman 22 Tari Leging di halaman 43. Kedua tarian ini makin memperkuat nuansa lokal. kebudayaan Bali dalam kisah yang sebelumnya sudah diusung melalui pembatas buku dengan gambar barong. Bahkan jika saya tak salah, pakaian yang dipergunakan tokoh kita dalam kover depan juga menggunakan motif Bali.

Sayangnya, saya tak menemukan ada ilustrasi dalam kisah ini. Padahal sebagai penulis yang juga  bisa membuat ilustrasi, setidaknya buku ini bisa memasang sebuah ilustrasi sekedar pemanis kisah. Sehingga pembaca tak hanya menikmati racikan kata namun juga permainan garis yang memjadi ilustrasi.

Sebagai pelengkap, pada bagian belakang buku terdapat Daftar Istilah  dan Daftar Tokoh. Misalnya Leak adalah istilah bagi perempuan penyihir ilmu hitam, Rainusa adalah kerajaan mirip Bali di Terra Everna, sedangkan Rajni merupakan sebutan khas di Rainusa untuk Putri Raja.

Sedangkan Daftar Tokoh berisi nama para tokoh dan informasi mengenai sosok tersebut. Misalnya Airlangga merupakan Raja Madangkara yang jadi wali pelindung Ardani. Sedangkan Ardani merupakan Putra Mahkota, anak kandung Ratna. Ada lagi Mayadenawa, iblis langit yang pernah menguasai Rainusa.

Bagian lain yang juga menarik perhatian saya adalah Sambutan Sang Peramu Hikayat, Andry Chang di halaman 198. disebutkan, "Kisah ini juga adalah sejarah fiksi alternatif, yang berarti tokoh-tokoh sejarah dan legenda Nusantara memiliki alter egonya dalam versi Dimensi Everna.... Jadi, kisah ini hanya fiktif belaka, sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyinggung, meromantisasi, apalagi menistakan aejarah dan agama di Bali."

Penulis sudah menyebutkan secara jelas bahwa ini adalah fiksi. Dengan demikian ia berharap tak ada pihak-pihak yang merasa tersinggung. Kalau ada yang merasa tersinggung, sesungguhnya ia tak pernah berniat menyinggung.

Buku yang menjadi  juara favorit E-Novel Challenge Comico dan Elex, bisa menjadi alternatif bacaan akhir pekan. Menghibur dan memberi ilmu, perpaduan yang menjanjikan.









Sabtu, 07 November 2020

#44: Kisah Serdadu Schweik

Judul asli: Schweik Si Serdadu Lugu di Garis Belakang
Penulis: Jaroslav Hasek
Penerjemah: Anton WP
Ilustrasi: Joseph Lada
ISBN: 9786020947983
Halaman: 296
Cetakan: Kedua-Oktober 2018
Penerbit: Penerbit KATTA
Harga: Rp 75.000
Rating: 3.25/5

"Harus ada bajingan juga di dunia ini," kata Schweik, berbaring di kasur jeraminya. "Jika semua orang jujur satu sama lain, mereka segera mulai saling memukul hidung mereka."
~Schweik Si Serdadu Lugu di Garis Belakang, halaman 41~

Tokoh dalam kisah ini, Jacob Schweik, dianggap menderita gangguan jiwa. Sebenarnya  saya rancu, entah gangguan jiwa atau karena ia terlalu lugu Bisa juga  terlalu pandai sehingga bisa menemukan berbagai cara untuk keluar dari masalah.

Schweik sering berkata jujur jika ditanya perihal apapun,   yang celakanya justru disalahartikan oleh banyak orang sehingga menimbulkan berbagai masalah.  Guna membiayai hidup, Schweik berbinis jual-beli anjing.

Ketika sedang menghabiskan waktu di kedai minum, atas laporan seorang mata-mata Schweik ditangkap dengan tuduhan mengkhianati negara. Namun karena jawaban dan tingkah lakunya yang dianggap tak wajar, maka ia dibebaskan dengan alasan menderita gangguan jiwa alias gila sehingga tak tahu apa yang ia lakukan.

Saat  Kementrian peperangan Austria memanggil Schweik untuk masuk dinas militer ia begitu bersemangat. Hingga ketika encoknya kambuh, ia tetap ingin bergabung. Dengan menggunakan kursi roda ia mencegat rombongan tentara. Kelakukannya ini justru membuat ia dianggap ingin menghindari wajib militer.  Akibatnya ia dikirim ke tangsi militer.

Meski  seseorang yang dianggap idiot akan terlepas dari tuduhan pelanggaran, namun kasusnya akan beda jika terkait  Schweik. "Saya telah dikeluarkan dari militer karena idiot. Komisi khusus melaporkannya secara resmi sebagai idiot. Komisi khusus melaporkannya secara resmi sebagai idiot. Saya secara resmi idiot."

Tak ada yang percaya bahwa ia idiot, walau sudah ada laporan resmi mengenai hal tersebut. Belum lagi tingkah lakunya tak membuktikan ia seorang idiot. Schweik dianggap mampu menjalani hari-hari sebagai tentara seperti yang lain.

Di tangsi militer itu,  ia bertemu dengan pendeta militer bernama Otto Katz. Sang pendeta yang terpesona akan kemmapuannya yang membuat orang percaya dengan segala yang ia ucapkan, berikut tampilan wajah polosnya, mengangkat Schweik menjadi pesuruh pendeta.

Namun nasib ternyata masih suka bermain dengan  Schweik. Ia dijadikan  pembayaran taruhan saat sang pendeta bermain kartu dengan Letnan Lukash. Cerita tentang dirinya kembali bergulir, terutama keinginannya untuk selalu berbuat baik dan membantu Letnan Lukash meski hasilnya justru malah membuat celaka.  "Saya selalu  ingin berbuat untuk kebaikan Tuan,dan bukanlah kesalahan saya bila hasilnya tidak seperti yang kita harapkan.

Meski seru dan sering membuat tertawa,  ada beberapa bagian yang jika dikaji lebih dalam, merupakan sindiran bagi kondisi sosial dimasyarakat. Hanya karena dikemas dengan apik, banyak pihak yang tak merasa itu sebuah sindiran. 

Misalnya penggalan kalimat yang ada di halaman 52, "Seorang polisi seperti itu bisa berbuat jahat saat dia marah, dan saat dia lebih marah lagi dia akan tetap melakukan sesuatu." Silakan maknai sendiri ya ^_^.

Pada halaman tertentu, membaca kisah ini 
membutuhkan ekstra konsentrasi. Hal ini terjadi karena ada paragraf yang terdiri dari banyak baris kalimat. 

Sebagai contoh, pada halaman  24, ada 46 baris. Lalu di halaman 117 ada 34 baris.  Sementara di halaman 240, terdapat  50 baris.  Paragraf paling panjang ada di halaman 219-222 (dari halamannya saja sudah tergambar panjangnya kalimat), saya berhenti menghitung begitu mencapai angka 80. Sungguh membutuhkan konsentrasi bukan?

Namun demikian, ada juga paragraf yang hanya terdiri dari beberapa baris kalimat. Di halaman 21, 26, 189, 225 ,  dan 268 misalnya, terdapat paragraf yang hanya terdiri dari dua baris saja.  Sementara yang terdiri dari 3 baris,  sebagai contoh ada di halaman 119 , 144,  165,  dan 284.

Kisah yang berlatarbelakang perang antara Austria,  Ceko dan Jerman melawan Rusia, jauh dari unsur seram. Bahkan adegan tembak-menebak  antara dua belah pihak juga bisa dikatakan sangat minim. Lebih banyak kisah tentang kelakuan  Schweik seorang prajurit biasa. 

Untuk memanjakan pembaca, penerbit memberikan berbagai ilustrasi yang menarik pada tiap awal bab. Bisa dikatakan, ilustrasi tersebut merupakan gambaran singkat kisah  yang terjadi pada bab tersebut. 

Dari sisi alih bahasa, juga lumayan bagus. Tidak membuat saya harus mengulang membaca sebuah kalimat guna bisa memahami maksudnya. Semua mengalir lancar.

Schweik merupakan orang biasa yang justru lebih mampu membuat banyak perubahan dari kisahnya.  Menarik.

Sumber foto:
1. Web Penerbit KATTA
2. Buku Schweik Si Serdadu Lugu di garis Belakang

























Kamis, 29 Oktober 2020

2020 #43: Pengukur Bobot Dosa ala Indah Darmastuti



















Judul asli: Pengukur Bobot Dosa
Penulis: Indah  Darmastuti
ISBN: 9786020788050
Halaman: 97
Cetakan: Pertama- Oktober 2020
Penerbit: Marjin Kiri
Harga: Rp 50.000
Rating: 3.25/5

Tunggu empat tahun lagi

Kalimat tersebut muncul begitu  saja dalam benak saya ketika membaca biografi penulis, Mbak Indah. Biasanya saya jarang membaca bagian itu, terutama jika saya sudah cukup mengenal penulisnya. Namun karena hal tersebut ada pada bagian depan, tak sengaja jadi terbaca.

Butuh empat tahun untuk menghasilkan sebuah karya seperti ini, menurut saya. Namun sejauh yang saya pernah baca, karya Mbak Indah menawarkan sesuatu.yang berbeda dibandingkan buku-buku lain. Jadi sangat layak ditunggu.

Kenapa saya  bisa berpikir  begitu? Karena disebutkan tentang buku pertama yaitu Cundamanik (2012), buku kedua adalah Makan Malam Bersama Dewi Gandari (2016). Perhatikan tahunnya, 2012 dan 2016 Selisih 4 tahun bukan?  Mungkin baru pada tahun 2024, kita baru bisa menikmati  kumpulan cerita ala Indah lagi. 

Sesuai dengan temanya, kumpulan  cerita, pembaca bisa menemukan 13 cerita dalam buku ini. Mulai dari:  Dalam tubuhku; Tiga Lansia; Dentang Jam Besar di Sudut Ruangan; Mata Naga; hingga Seroja.

Saat menghitung cerita  saya berharap akan ada 14 kisah  supaya ada unsur angka 4. Jika kita mau menghitung  Riwayat Pembuatan sebagai bagian dari cerita, memang ada 14 kisah. Maksa sekali, agar bisa sebut cocoklogi he he he.

Cerita yang dijadikan judul buku ini, Pengukur Bobot Dosa, mengandung pesan moral yang menyentuh. Berkisah tentang kehidupan seorang penggali kubur bernama Pak Sukur. 

Setiap ada yang meninggal, maka  bisa dipastikan Pak Sukur yang mendapat tugas menggali kubur. Abaikan saja adegan penggalian kubur yang sering Anda lihat di layar kaca.  Ia tak perlu dibantu, hanya ia sendiri yang mengerjakan penggalian.

Lewat Pak Sukur juga, warga bisa mengetahui apa  yang dikerjakan seseorang ketika ia masih hidup. Jika Pak Sukur melakukan tugasnya dengan mudah, maka bisa diasumsikan sepanjang hidupnya sosok yang meninggal melakukan banyak kebaikan. 

Demikian juga sebaliknya. Maka, jika pekerjaan Pak Sukur menjadi berat, maka para warga dihimbau untuk mengingat kebaikan dari orang yang akan dikubur. Ini dianggap  dapat membantu meringankan pekerjan Pak Sukur. 

Tapi beda lagi urusannya , ketika dalam upaya mengingat kebaikan guna meringankan kerja menggali kuburan, Pak Sukur menyebutkan kebaikan seseorang adalah membuat istrinya-Bu Sukur sangat bahagia dan bersemangat menjalani hari-hari berat bersama dirinya. 

Warga tentunya penasaran, kenapa harus orang lain yang membuat istri Pak Sukur bahagia? Apa maksud dengan perkataan Pak Sukur tersebut? Lalu kenapa setelah mengingat kebaikan tersebut pekerjaan Pak Sukur seakan lebih mudah? Meski penasaran, tak ada warga yang berani bertanya pada Pak Sukur.

Dan warga hanya bisa menduga-duga selamanya. Apalagi ketika istri Pak Sukur meninggal. Pak Sukur tetaplah orang yang menggali kuburan, siapa lagi jika bukan dia? Bagian ini membuat pembaca akan menemukan  akhir kisah yang tak terduga. Sebuah kejutan menanti Anda!

Pesan moral yang bisa diambil, setiap orang  dalam kehidupan harus bertindak dengan bijaksana sehingga ketika saat meninggalkan dunia, ia dikenang karena kebaikannya bukan karena keburukannya. 

Tentunya hal ini juga membuat keluarga yang ditinggalkan juga ikut dikenal dari kebaikannya selama hidup dulu.

Dalam berkata, sebaiknya pilih kalimat yang bijak. Berkaca pada kalimat yang diucapkan Pak Sukur, tentunya malah menimbulkan pandangan aneh warga pada istrinya. Ia memudahkan penguburan seseorang tapi menimbulkan gunjingan tentang istrinya.

Bagi saya pribadi, cerita ini membuat saya merenung. Kira-kira jika dilakukan perhitungan, bagaimanakah bobot dosa saya. Apakah berat pada kebaikan, atau sebaliknya. Membuat saya bertekad untuk lebih mawas diri dalam bersikap dan berkata-kata.

Cerita Tiga Lansia, bisa dikatakan sebagai sindiran bagi kehidupan saat ini. Dahulu,  orang berlomba-lomba agar di rumahnya ada keberadaan orang yang dianggap sepuh. Ini merupakan pertanda bakti mereka. Dahulu mereka diurus sejak bayi, disekolahkan, hingga bisa mandiri. Sekarang sebagai wujud terima kasih, mereka merawat orang tua.

Namun, bergeser zaman, ada yang merasa mengurus orang tua tidak perlu dilakukan sendiri. Cukup membayar jasa penjaga orang tua. Entah apakah ini lebih baik dibandingkan yang mengirim orang tua mereka ke panti werda. Semuanya berpulang pada diri masing-masing.

Tokoh kisah ini, Punto, justru menitipkan ibunya hanya untuk sementara justru karena ia begitu mencintai ibunya. " Saya belum berkeluarga.Justru  karena itu saya perlu menitipkan ibu saya di sini agar punya teman. Karena saya tak tega meninggalkannya sendiri di rumah dan dijaga oleh orang bayaran yang tidak saya kenal sebelumnya. Karena menurut saya, itu akan membahayakan ibu saya. Ada tugas yang mendadak diserahkan pada saya selama seratus hari. Dan saya merasa tenang jika ibu saya mempunyai banyak kawan di tempat ini misalnya. Lalu sekarang tugas saya sudah selesai. Saya akan menjemputnya untuk saya bawa pulang."

Pilihan yang beresiko juga. Untung jika panti yang dipilih Punto memperlakukan ibunya dengan baik, bagaimana jika tidak? Entah mana yang lebih membahayakan sang ibu. Berada dalam pengurusan orang bayaran yang bersikap kurang baik, atau berada di panti yang pengelolanya bersikap tak baik pada penghuninya. 

Pada akhirnya,  Justru Punto yang harus menanggung kesepian karena sang  ibunya lebih memilih tinggal di panti jompo dari pada tinggal bersaman dirinya.  Sang ibu terlanjur merasa senang karena menemukan  banyak teman di sana dan tidak ingin pulang bersama Punto.

Bagian ini membuat saya teringat pada kisah Topi Hamdan karangan Auni Fa. Pada kisah tersebut digambarkan perlakuan kurang baik pengelola panti pada penghuninya. Mereka dikisahkan sering bersikap semena-mena. Ulasannya ada di sini.

Kembali, saya teringat pada Eyang NH Dini. Sebelum berpulang, beliau secara sukarela memilih tinggal di Wisma Lansia karena tak ingin menyusahkan kedua anaknya. Jadi bukan karena kedua anaknya tak mencintainya lagi.

Ada baiknya kita tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan jika tak tahu bagaimana sesungguhnya suatu hal. Dalam kasus Punto, bukan karena tak cinta ia mengirim sang ibu ke panti, justru karena rasa cintanya. Tapi bagi yang tak paham, ia akan dicap sebagai anak kurang ajar yang membuat ibunya menderita.

Agak heran juga kenapa penulis menyebut panti jompo bukan panti werdha. Sebenarnya sama saja, namun kesannya lebih sopan jika mempergunakan sebutan panti werdha. Namun kembali, berpulang pada pemilihan kata penulis. 

Kalimat  dari cerita Dalam Tubuhku di halaman 11, "Lalu kami menuju langit ketika matahari hampir tenggelam di balik bukit."Langsung membuat alam bawah sadar mengingat bagian akhir kisah Lucky Luke. 

Digambarkan Lucky Luke dan kudanya-Jolly Jumper pergi ke arah matahari tenggelam sambil menyanyikan sebuah lagu. Berikut penggalan lagu yang  diambil dari  kisah Tunangan Lucky Luke terbitan Indira,

I'am a poor lonesome cowboy
But it  doesn't bother me
Cause this poor lonesome cowboy
Prefers a horse for company
Got nothing against women
But i wave them all goodbye
My horse  and me keep ridin'
We don't like being tied...
(Claude Booling, Jack Fsihman)

Maafkan saya yang jadi merusak unsur romantis dalam cerita he he he. Mau bagaimana lagi, masa kecil saya banyak dihabiskan dengan menikmati kisah Lucky Luke.

Aneka tema yang dipilih sebagai ide kisah menunjukkan kekuatan kreativitas sang penulis. Dari tanaman, binatang, benda, hingga hubungan antar manusia, tak luput dari pengamatannya untuk diolah menjadi sebuah kisah.

Kover yang didominasi warna putih, meski berkesan sederhana namun sarat makna. Timbangan yang ada, tentunya sesuai dengan judul kisah, Pengukur Bobot Dosa. Dengan apa kita mengukur perbandingan dua hal jika tidak dengan timbangan?  

Warna merah bisa kita asumsi sebagai hati. Hati nurani kita yang berperan menentukan apakah kebaikan atau keburukan yang akan kita kerjakan. Apakah kita akan menjadi sosok yang dikenang karena kebaikan, atau keburukan, tergantung hati kita.

Bahkan benda bulat yang digambarkan dalam dua ukuran seharusnya membuat timbangan menjadi tak seimbang. Logikan akan condong ke arah yang berat. Tentunya ada pesan moral yang tersembunyi.

Tulisan Kumpulan Kisah juga menawarkan sesuatu yang berbeda. Sering kali pembaca enggan membeli buku dengan cap Kumpulan Cerpen. Perubahan kata meski bisa diartikan serupa, menawarkan hal baru bagi pembaca. Semoga trik ini bisa mendongkrak penjualan.

Secara keseluruhan, kisah dalam buku ini menghibur pembaca. Cocok dibaca saat menikmati senja sore atau menunggu kantuk sebelum tidur. Sangat tidak direkomendasikan dibaca selama perjalanan. Jangan sampai buku ini malah jadi pembawa virus covid bagi pemiliknya.

Semoga, sekedar dugaan saya semata. Bahwa untuk menikmati buku seperti ini  kita harus menunggu selama 4 tahun lagi.