Minggu, 25 Juni 2023

2023 #18: Kisah Rin Sang Dewi Api

Penulis: R.F. Kuang
Alih bahasa: Meggy Soedjatmiko
Editor: A. Mustik
ISBN: 9786020668826
Halaman: 672
Cetakan: Pertama-2023
Penerbit: Gramedia Pustaka
Harga: Rp 189.000
Rating: 4.25/5

Rin mengeraskan suara dan bicara, kali ini tanpa gemetar. "Pergilah dan katakan pada keluarga kalian mereka telah selamat. Beritahukan pada mereka bahwa orang-orang  Mugen tak bisa lagi menyakiti kalian. Dan saat mereka bertanya siapa yang melepaskan belenggu kalian, katakan bahwa Koalisi Selatan sedang bergerak ke seluruh Kekaisaran dengan Phoenix di depan. Katakan pada mereka kita akan merebut kembali tanah air kita."
-Sang Dewi Api-

Pada buku pamungkas ini, pembaca akan diajak mengikuti bagaimana perjuangan Rin untuk memenangkan semua pertempuran yang ia hadapi. Tidak hanya bertempuran melawan musuh, tapi juga bagaimana memenangkan pergulatan dalam dirinya.

Apa yang dilakukan Rin, bagi sebagian penduduk mungkin dianggap merupakan salah satu jalan untuk bisa mati sebagai lelaki. Mati dalam upaya menjaga kehormatan wanita, penduduk desa, serta kedaulatan setempat. Tapi ada juga yang menganggap bahwa kepatuhan akan memberikan banyak kelonggaran. Dan cara yang ditempuh Rin justru akan mengakibatkan lebih banyak kerugian. 

Kondisi Rin semakin menurun dibandingkan dari yang digambarkan pada buku kedua. Ditambah dengan pengkhiantan dari sekutunya, seakan semua kemampuan dan tenaga Rin dikuras habis.  Meski sudah banyak kehilangan orang yang dicintai, Rin bertekat tak akan mundur hingga ia meraih kemenangan.

Jika dulu Rin harus berusaha keras menahan kemampuan membakarnya, pada buku ini ia mulai merasakan kenikmatan membumihanguskan apa saja yang ia mau.  
https://www.goodreads.com/
book/show/57507278-p-on-cy-b-g
Ia tak sungkan mengambil keputusan yang mengakibatkan nyawa  penduduk sipil melayang, asalkan ia dan pasukannya bisa meraih kemenangan. Padahal sebelumnya ia sangat khawatir perang akan berdampak pada warga sipil. 
Rin layak mendapat julukan Sang Dewi Api karena kekuatan api yang ia hasilkan dari tangannya.

Mantan musuh yang kini menjadi sekutunya, Maharani, juga menganggap Rin tak perlu sungkan mengambil langkah yang dirasa perlu demi kemenangan.
"Berhentilah berpura-pura peduli soal etika. Itu memalukan. Di satu titik, kau bakal harus meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau berada di atas benar dan salah. Moralitas tidak berlaku untukmu."
Rin dalam buku ini bukanlah Rin yang lalu. Ia bukan sekedar gadis dari  Akademi militer yang ada di Sinegard semata, atau seorang jendral. Rin  seakan berupaya keras menunjukkan, bahwa walau hanya dengan satu tangan, ia masih bisa menciptakan api yang membara. Ia  harus mampu bertahan! Rin selalu ingat pelajaran yang diberikan Altan, Mati itu gampang. Hidup jauh lebih berat. Duh ini sepertinya menjadi kalimat favorit saya. 

Selain itu, Rin juga masih tidak mengizinkan dirinya untuk berpikir tentang syamanisme. Dengan demikian ia tak bisa melatih syaman-syaman baru. Padahal, keberadaan mereka bisa dikatakan sangat membantu kemenangan Rin selanjutnya. Kekuatan 1 syaman bisa menggantian lumayan banyak prajurit. 

Rin mulai sadar, perang tidak akan berakhir dengan ia mengakhiri Federasi.  Perang hanya terus menumpuk luka-luka kecil hingga akhirnya meledak menjadi luka baru yang menganga. Dan Rin memiliki luka baru yang menganga akibat setiap kali menjanjikan kesetian, malah dimanfaatkan dan  mendapatkan pelecehan integritasnya!


Beberapa tokoh baru bermunculan, namun ada juga tokoh yang disebutkan meninggal dalam peperangan. Ada tokoh yang seakan bangkit dari kematian. Rin yang sudah tak tahu harus bagaimana, setuju untuk melakukan hal yang paling berbahaya, membangunkan Kaisar. Ia berharap bisa mendapatkan sekutu. Untunglah ia segera sadar, jika tidak, sama artinya ia mendapat satu lagi  musuh.
https://www.goodreads.com/
book/show/62215997-yanan-tan
r

Meski dibaca perlahan-lahan, pada akhirnya akan selesai juga. Ternyata membaca buku ini membutuhkan waktu lebih lama dari yang saya perkirakan. Bukan soal ketebalannya, namun isi ceritanya yang seakan-akan membawa efek psikologis yang luar biasa. 

Penulis dengan keahliannya meramu kata-kata membuat pembaca seolah berada dalam pikiran Rin. Pembaca bisa merasakan juga sakit hati, putus asa, hingga kelelahan yang dirasakan Rin. Ketika merasa ikut lelah seperti Rin, maka saya berhenti membaca selama 1-2 hari.

Hal tersebut, ditambah dengan akhir yang tak terduga, membuat saya menurunkan 1 bintang. Duh kenapa akhirnya harus dibuat seperti itu sih, hiks. Rin dan teman-temannya telah berjuang untuk menyelamatkan negara dan bangsa dari mereka yang ingin berbuat jahat dengan melakukan penaklukan. Apakah semua yang mereka lakukan tidak bisa mendapat sedikit penghargaan, minimal dengan tidak membuat akhir kisah yang menyesakkan.

Namun, dengan mempertimbangkan banyak hal, seperti kisah yang menarik serta banyaknya kalimat bijak yang bisa dijadikan bahan perenungan, maka saya menambah 0,25 pada rating yang ada. Sehingga rating akhir adalah 4.25/5.

Kitay yang semula hanya sahabat Rin, sekarang menjadi sauhnya. Beberapa percakapan menunjukkan ada rasa diantara keduanya. Namun tak ada sama sekali adegan romantis dalam buku ini. Hingga adegan Rin  yang mengalami mimpi buruk dibangunkan oleh Kitay yang tidur disebelahnya, tak ada adegan mesra tertulis. 
Ambil apa yang kaumaui, tatapan itu berkata. Untuk itu aku akan membencimu. Tapi aku akan mencintaimu selamanya. Aku tak bisa tidak, mencintaimu.
-hal  656-

Adegan yang bisa dianggap adegan mesra antara Kitay dan Rin, ada di halaman 27. Ketika Kitay mengecup bahu Rin. Hanya itu,  mungkin pelukan singkat dilain waktu, serta upaya saling memahami dan memberikan pujian. Segala terkait perasaan yang ada terpendam dalam dalam hati Rin. Ia tak melupakan pedihnya tusukan Nezha, tak ada tempat untuk cinta hingga urusan selesai. Entah kapan itu.
https://www.goodreads.com/book/
show/59478495-die-erl-serin

Nezha memang akan mendapat peranan lagi dalam buku ketiga, walau tak sebanyak yang lalu. Bagaimana Nezha tetap bersikap baik pada Kitay selama menahannya, menunjukkan bahwa mereka sadar perbedaan yang ada tak sebanding dengan makna persahabatan dimasa lalu.

Hubungan Nezha dan Rin, bisa dikatakan sebagai hubungan hate and love. Kadang mencintai, kadang membenci. Tapi diantara keduanya ada rasa saling menghormati. Nezha akan berkata apa adanya pada Rin, tak ada yang disembunyikan. Maka Rin, bisa menganggap apa yang dikatakan oleh Nezha adalah hal yang mengandung kebenaran walau menyakitkan.

Oh ya, sekedar mengingatkan, untuk komentar buku pertama bisa dilihat pada laman berikut. Sedangkan untuk buku kedua ada di sini. Saya membaca kedua komentar yang pernah saya buat sebelum menikmati buku ketiga ini. Supaya lebih terasa gregetnya. Maklum, jarak terbitnya lumayan juga.

Pada halaman 311 disebutkan tentang Qilin atau Kirin. Menurut laman berikut,  Qilin adalah mahluk mitologi asal Asia Timur (Tiongkok/China) yang wujudnya digambarkan mirip dengan naga. Qilin identik dengan tampilannya yang hanya memiliki satu tanduk, seperti unicorn. Konon, qilin juga memiliki ciri khas berupa perut yang berwarna kuning, punggung yang memiliki banyak warna, berkepala naga, tetapi bertubuh rusa atau harimau.

Selanjutnya disebutkan bahwa  kemunculannya seringkali dianggap sebagai pertanda kelahiran atau kematian seorang bijak atau penguasa termasyhur. Apakah ini menjadi petanda bagi Rin?

Buku  yang mendapat Goodreads Choice Award Nominee for Fantasy (2020) sangat direkomendasikan bagi mereka yang menyukai kisah fantasi dengan latar belakang sejarah. Para penikmat fiksi sejarah, terutama terkait China, bisa menjadikan buku ini sebagai alternatif bacaan. 

Iseng mengunjungi Goodreads, menemukan lumayan banyak versi terbitan buku ini. Hem..., saya sepertinya paling suka dengan kover dari penerbit  Falco dengan bahasa Danish,   selanjutnya disusul dari  ─░thaki Yay─▒nlari, Turkish. Apakah perlu mengoleksi juga seperti Little Women he he he.


















Kamis, 15 Juni 2023

2023#17: The Road to Wigan Pier

Penulis: George Orwell
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Editor: Anastasia Mustika W
ISBN:9786020669007
Halaman: 300
Cetakan: Pertama-2023
Penerbit: Gramedia  Pustaka Utama
Harga: Rp 85.000
Rating: 3/5

Agaknya mereka, dan para lelaki itu, merasa bahwa laki-laki akan kehilangan kejantanannya kalau ia melakukan pekerjaan perempuan hanya karena dia sedang menganggur.
-The Road to Wigan Pier, hal 106

George Orwell alias Eric Arthur Blair merupakan sosok sastrawan Inggris yang dikenal melalui  karyanya Nineteen Eighty-Four dan Animal Farm.  Sebelum kemunculan kedua buku tersebut, ada karya yang juga menarik untuk dibaca, The Road to Wigan Pier. Merupakan karya nonfiksi yang diterbitkan pada tahun 1937. 

Buku ini terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama  merupakan laporan atas pengamatan George Orwell tentang kehidupan para kelas pekerja sebelum Perang Dunia II. Sedangkan bagian kedua, bisa dikatakan merupakan esai pandangannya tentang kehidupan kelas menengah serta pandangannya terhadap sosialisme.

Kisah ini dibuka dengan penggambaran tentang tempat tinggal Orwell selama melakukan pengamatan  di Wigan Pier, sebuah kamar yang ditempat bersama dengan 4 orang lain. Sesak memang, tapi hanya itulah yang mereka mampu. Tuan Brooker dan istri merupakan pemilik penyewaan kamar  yang juga memiliki usaha Toko Babat. Dulu ia juga seorang pekerja tambang.
https://www.goodreads.com
/work/editions/1034643

Orwell juga mengunjungi tambang terdekat untuk mengamati proses  penambangan dan bagaimana batu bara didistribusikan. Bukan tempat kerja yang nyaman pastinya. Langit-langit  tambang yang rendah, debu, serta gas membuat Orwell membutuhkan waktu seminggu untuk memulihkan kondisinya. Padahal ia hanya berada beberapa jam saja berada dalam tambang.

Bayangkan bagaimana kondisi para pekerja tambang! Mereka harus berada dalam situasi seperti itu selama 12 jam setiap hari! Bayaran yang mereka terima juga terbilang rendah. Otomatis membuat kehidupan mereka juga tak bisa dikatakan baik, jika kata buruk dianggap terlalu kejam.

Bagaimana kehidupan sosial serta kondisi lingkungan juga digambarkan dalam buku ini. Bahkan hasil pengamatan Orwell menghasilkan temuan bahwa kondisi keuangan para penambang cukup memprihatinkan. Mereka sering kali mendapatkan penghasilkan lebih rendah dari yang diperkirakan. 

Maka banyak yang hanya mampu menyewa satu kamar  dengan beberapa tempat tidur untuk bersama, sampai ada yang menyewa satu tempat tidur untuk berdua, demi melakukan penghematan pengeluaran. Bab yang lain, menceritakan tentang kondisi pada  kota-kota industri di utara Inggris.

Salah satu bab secara khusus membahas tentang  makanan yang dikonsumsi oleh para penambang dan keluarganya. Banyak yang memilih membeli makanan lezat namun rendah gizi. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu penghiburan dalam menjalani kehidupan yang serba sulit. Maka masalah kekurangan gizi menjadi hal yang lazim ditemukan di sana saat itu.
https://www.goodreads.com/book/
show/9737442-la-strada-di-wigan-pier

Bagian kedua, seperti yang disebutkan di atas, berisi solusi yang sarankan oleh Orwell untuk mengatasi kondisi kemiskinan yang melanda masyarakat saat itu. Ia yakin bahwa solusi yang paling tepat adalah dengan mengubah sistem kelas Inggris.

Orwell yang berasal dari kelas menengah mengakui bahwa sejak kecil ia dicekoki prasangka kurang baik terhadap kelas pekerja sejak usia muda, suatu hal yang menurutnya harus diubah segera.

Ia mengajak semua orang untuk menganut dan menerapkan sosialisme guna memberantas kemiskinan, serta fasisme yang mulai menguasai Eropa pada tahun 1930-an.

Menurut laman berikut, secara umum, sosialisme bisa diartikan sebagai pemahaman yang bertujuan mencapai kemakmuran negara dengan jalan melakukan usaha kolektif dan membatasi kepemilikan individu maupun swasta. 

Disebutkan juga bahwa kaum borjuis yang memiliki modal dan alat produksi membuat kehidupan ekonomi mereka melesat sehingga memiliki tingkat kesejahteraan yang sangat baik. Sedangkan kaum proletar dengan gaji yang rendah harus hidup dalam kemiskinan dan bermukim di lingkungan kumuh.

Kesenjangan sosial ekonomi yang semakin besar memunculkan sifat individualisme sehingga akhirnya memicu adanya gerakan revolusi sosial. Tujuan dari revolusi tersebut adalah untuk mengubah sistem ekonomi sehingga bisa menguntungkan masyarakat umum dan bukan hanya sekelompok orang saja.
https://www.goodreads.com/book/
show/39703667-drumul-spre-wigan-pier

Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa sosialisme yang berkembang bertujuan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat dengan kepemilikan alat produksi bersama sehingga tidak dikuasai swasta atau individu. Sosialisme kemudian menjadi induk dari beberapa ideologi lainnya, seperti komunisme.

Para penikmat karya George Orwell sangat disarankan untuk membaca buku ini. Buku yang diberikan lambang mawar merah, menandakan bacaan klasik. Juga direkomendasikan dibaca oleh mereka yang menyukai bacaan klasik.

Para mahasiswa yang sedang mempelajari perihal ekonomi serta yang mempelajari kehidupan sosial di Inggris, sangat direkomendasikan untuk membaca buku ini sebagai buku pendamping.

Demikian juga mereka yang tertarik pada topik ekonomi dan sosiologi, direkomendasikan untuk membaca buku ini. Bagaimana George Orwell mengutarakan idenya di bab dua, menarik untuk disimak.

Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com




Jumat, 02 Juni 2023

2023 # 16: Memahami Proses Penerbitan Sebuah Buku

Judul buku: Di Balik Lembaran Buku
Penulis: Bayu
Ilustrator:  Andy Suhandi
Halaman: 56
Cetakan: Kedua-1993
Penerbit: PT Kebayoran Widya Ripta
Rating: 4/5

Buku yang baik sebenarnya bisa dibedakan menjadi dua. Buku yang baik dalam arti mengenai isi buku, dan kedua: buku yang baik dalam masalah bentuk buku
-Di Balik Lembaran Buku, hal 17-

Seperti Penggila Buku pada umumnya, saya juga tergoda jika menemukan buku yang memuat tentang buku dan "teman-temannya". Entah asal mula buku, daftar buku yang wajib dibaca, perpustakaan ter...,  tentang toko buku, bahkan katalog buku yang dijual, juga menarik minat saya.

Buku yang satu ini saya temukan di lapak daring dengan harga setara dengan 8 lembar uang kertas dengan nominal  terkecil, diluar ongkos kirim yang sekitar Rp 6.000, murah bukan?

Awal kisah dimulai dengan rasa penasaran beberapa murid dari kelas IIA SD Harapan terhadap seorang guru Bahasa Indonesia-Bu Marni nama beliau, yang  tak pernah lepas dari buku.  Saat senggang, selalu diisi dengan membaca. Seakan-akan membaca adalah candu baginya.

Buku yang dibaca juga beragam, menilik dari judul buku yang mereka lihat. Ada tentang biografi dan autobiografi tokoh-tokoh dunia. Kadang, membawa buku tebal tentang sejarah, atau bertema pendidikan. Lain waktu, buku dengan judul bahasa Inggris yang dibawanya. Hal ini menunjukkan ia tak hanya membaca satu jenis buku saja.

Suatu siang, saat masa ulangan umum, ada jam kosong di  kelas IIA. Kepala Sekolah memberikan instruksi pada  Bu Marni untuk mengisi kekosongan di kelas tersebut, dengan pertimbangan  Wali Kelasnya tak masuk karena sakit.

Menuruti permintaan murid-murid, Bu Marni mendongeng tentang buku.  Apa faedah gemar membaca buku, bagaimana mencari buku yang baik, bagaimana cara agar bisa mencintai buku  hingga bagaimana proses pembuatan sebuah buku. 

Murid-murid semakin merasa penasaran tentang bagaimana proses penerbitan sebuah buku, lebih spesifik lagi pada proses cetak sebuah buku. Bu Marni mengajak murid-murid untuk mengadakan studi wisata, kebetulan 2 minggu lagi akan libur semester.  Tujuannya kali ini adalah ke perusahaan penerbitan buku.

Hari kedua liburan semester, 30 murid dan 2 guru dengan riang gembira berangkat menuju Yogyakarta mempergunakan bus. Sepanjang perjalanan anak-anak ramai bersendau gurau sambil menikmati pemandangan.

Setelah tiba di Yogyakarta, mereka tidak langsung menuju ke perusahaan penerbitan. Tapi mampir ke beberapa tempat lain, yaitu Keraton Yogyakarta, Gedung Agung atau Gedung Negara, Museum Perjuangan, serta Taman Siswa. Mumpung sedang Di Yogyakarta, sekalian  saja mengunjungi beberapa tempat.

Akhirnya mereka sampai pada tujuan akhir, alasan melakukan studi wisata, perusahaan penerbitan buku. Di sana mereka disambut oleh direktur langsung yang didampingi oleh 2 orang staf. Setelah perkenalan singkat, murid-murid diajak berkeliling pabrik.

Selama berkeliling, murid-murid mendapat penjelasan mengenai proses penerbitan sebuah buku. Mulai dari bagian redaksi yang bertugas memeriksa karya yang akan diterbitkan, ruang lay-out,  penjelasan mengenai cara kerja mesin cetak, serta proses penjilidan buku.

Sebagai pelengkap, setelah menjamu makan siang seluruh rombongan, Pak Direktur juga memberikan informasi tambahan  tentang penemuan mesin cetak oleh Johann Gutenberg, termasuk bagaimana cara kerjanya.

Sebagai oleh-oleh kunjungan, setiap murid termasuk guru, mendapatkan 3 buah buku.  Tentunya semua merasa senang. Oleh-oleh yang sangat berguna. Sepanjang perjalanan pulang, semua murid terpaku pada bacaannya masing-masing.
Membaca itu nikmat dan kalau sudah terbiasa rasanya senang. Sehingga kalau sehari saja tidak membaca, hati merasa sedih 
Secara keseluruhan, isi buku ini terbagi menjadi 6 bagian. Mulai dari Bu Guru Marni si Kutu Buku; Buku Sebagai Kebutuhan Utama; Sebuah Studi Wisata; Mengunjungi Tempat-Tempat Bersejarah;  Bagaimana Cara Mencetak Buku; serta John Gutenberg Penemu Mesin Cetak.

Pada halaman 13, disebutkan kelas yang harus diisi oleh Bu Marni adalah kelas IIA. Namun pada halaman 14, Bu Marni menyebutkan bahwa anak-anak tersebut sudah kelas V.  Kekeliruan kecil yang mengganggu, menunjukkan penulis kurang teliti dan kurang konsisten dalam menjaga alur kisah.

Mencermati kisah, sepertinya yang tepat memang kelas V. Karena murid kelas 5, usia antara 10-12  tahun (saat buku ini dicetak belum ada ketentuan masuk SD minimal 7 tahun), tentunya sudah bisa melakukan pengamatan pada lingkungan dan mengambil kesimpulan dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. 

Seperti mereka mengamati  Bu Murni hingga menarik kesimpulan beliau suka membaca,  kemudian timbul penasaran mengenai kegemaran sang guru. Berlanjut dengan rasa ingin tahu tentang bagaimana proses penerbitkan sebuah buku.

Bagian yang menceritakan bagaimana murid-murid studi wisata ke perusahaan penerbit buku, membuat saya sebagai Penggila Buku merasa  iri.  Apalagi tiap anak dan guru mendapatkan 3 buah buku secara gratis! Duh, kenapa zaman saya sekolah tidak ada studi wisata ke tempat seperti itu.

Dalam buku disebutkan jarak sekolah ke  perusahaan penerbit  yang ada di Yogyakarta hanya 90 kilomter, diperkirakan dapat ditempuh lebih kurang selama 2 jam. Saya jadi penasaran, mencari tahu kira-kira di mana lokasi sekolah tersebut. Tentunya sekolah dalam kisah ini adalah fiktif, tapi bisa diasumsikan itu tempat tinggal penulis, sehingga tahu perkiraan waktu tempuh ke Yogyakarta.

Sebenarnya saya kurang suka dengan perkataan arogan siswa di halaman 28, sayangnya juga disejui oleh guru. 
" Bagaimana, Anak-anak. Ada yang merasa mengantuk?" Tanya Pak Hudori.

"Tidak ada, Pak,"

"Wah, kalau mengantuk sama saja artinya dengan tidak tamasya, Pak," jawab yang lain.

"Kalau memang ada yang mau tidur, lebih baik  tinggal saja di rumah. Tak perlu ikut kita."

"Ya, benar, Anak-Anak. Sekali kita mengadakan perjalanan wisata jangan sia-siakan waktu. Mari kita nikmati pemandangan ....!" ujar Pak Hudori lagi.

Mungkin penulis lupa, ada anak yang mabuk kendaraan. Untuk bisa melakukan perjalanan jauh, mereka mengatasinya dengan minum obat anti mabuk perjalanan. Namun, efek samping dari obat itu adalah rasa kantuk yang hebat hingga membuat ai peminum jadi tertidur.

Jadi bukan tak mau menikmati pengalaman, namun ada hal lain yang menyebabkan seorang anak tertidur sepanjang perjalanan. Mohon penulis lebih bijak. Bisa diganti dengan kata-kata yang berupa saran, bukan seakan menghakimi.

Walau tak menyediakan blurd, dari kover buku serta judul buku saja, para pembaca sudah bisa menebak bahwa ini adalah buku  yang isinya tentang seputar buku. Perpaduan warna ceria makin membuat buku ini menarik untuk dibaca.

Sebenarnya, isi buku ini tak hanya menceritakan tentang proses penerbitan sebuah buku saja, tapi secara tak langsung juga memberikan informasi tentang kesetaraan kedudukan wanita. Uniknya, hal ini justru disampaikan oleh murid laki-laki sebagai bahan ejekan untuk teman perempuannya yang dianggap sudah ketinggalan zaman. Seperti yang tertera di halaman 10.
"Wah, repot!" ujar Rudi mencela. "Rupanya pendapat kalian berdua ini kolot ya! di Zaman sekarang wanita bukan hanya di dapur dan di rumah atau mengasuh anak-anak. Di jaman modern ini kedudukan wanita sudah sejajar dengan pria...."
Seperti yang tertera di bagian awal, buku ini merupakan bagian dari Proyek/Bagian Proyek Penyediaan  Buku Bacaan Anak-anak Sekolah Dasar Inpres No 6 Tahun 1984 Tahun Anggaran 1993/1994.  Maka tak heran jika ada tulisan yang menyebutkan buku inj dilarang untuk diperdagangkan alias tidak boleh diperjualbelilan.

Jika sekarang berada dalam lapak buku daring, bisa jadi  akibat terkena proses penyiangan. Buku-buku yang dianggap sudah tidak layak koleksi lagi, dikeluarkan agar ada tempat untuk buku baru. Sayang sekali, tapi beruntungnya saya.

Melihat stempel perpustakaan sekolah yang ada di halaman depan buku, mungkin saja hal ini terjadi. Semoga buku-buku penggantinya adalah buku yang sejenis dalam perpustakaan sekolah tersebut.

Saya masih bisa melihat nomor panggil buku ini, dari label yang tidak terkelupas sempurna di kover. Nomor panggil 813 bay d menunjukkan bahwa buku ini berada dalam kelas 813 menurut DDC (Dewey Decimal Classification)-sistem klasifikasi  untuk buku, 813 adalah kategori Indonesian Fiction/Fiksi Indonesia, Prosa Indonesia. 

Menurut laman ini,  yang termasuk kelaskan di sini prosa karya Angkatan Balai Pustaka (St. Alisjahbana, dkk), Angkatan Pujangga Baru  (Marah Rusli, dkk), Angkatan '45 (Idrus, dkk), prosa karya Angkatan '66 (Goenawan Mohamad, dkk), novel religius  (contoh: Ayat-ayat Cinta/Habiburrahman El-Shirazy,  Laskar Pelangi/Andrea Hirata, Di Bawah Lindungan Ka'bah/Hamka), periodesasi sastra fiksi dan prosa Indonesia pada umumnya. Termasuk cerita pendek/cerpen, cerita bersambung/cerbung, novel Indonesia

Adapun untuk kata  bay diambil dari nama penulis, yaitu Bayu. Sedangkan d diambil dari huruf pertama dari kata yang menjadi judul buku ini, Di. Jadi ada arti dalam nomor dan angka yang ditempelkan di buku. 

Secara keseluruhan, buku tipis ini ternyata "tebal" isinya. Mereka yang termasuk Penggila Buku atau tertarik pada dunia buku, para pekerja dunia buku, serta para mahasiswa dengan jurusan terkait, dianjurkan untuk membaca agar tahu bagaimana proses penerbitan sebuah buku. 

Para guru juga disarankan untuk membaca buku ini, sehingga bisa mendapat tambahan informasi mengenai bagaimana proses penerbitan sebuah buku. Juga menjadi inspirasi untuk memilih lokasi tujuan studi wisata.

Begitulah jodoh para Penggila Buku dengan koleksinya, kadang melalui jalan yang unik. 

Sumber Gambar:
Buku: Di Balik Lembaran Buku









Kamis, 01 Juni 2023

2023 #15: Kisah Putri Ofelia Dari Kerajaan Bawah Tanah

Judul asli: Pan's  Labyrinth
Penulis: Guillermo Del Toro & Cornelia Funke
Penerjemah: Endang Sulistyowati
Penyunting: Febriani
ISBN: 9786230412547
Halaman: 248
Cetakan: Pertama-2023
Penerbit: Bhuana Sastra
Harga:  Rp 105
Rating: 3.5/5

"Ayah kandungmu meminta kami untuk membuka  portal di seluruh dunia agar kau bisa kembali. Ini portal yang terakhir." Faun menunjuk sumur tempat mereka berada. "Sebelum kau diizinkan kembali ke kerajaan, kami harus memastikan jiwamu masih murni dan kau belum menjadi manusia seutuhnya. Untuk membuktikannya," Faun meraih tasnya "Kau harus menyelesaikan tiga tugas sebelum bulan purnama."
- Pan's  Labyrinth, hal 50-

Spanyol, pada tahun 1994, Ofelia dan ibunya, harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh menuju sebuah pabrik penggilingan tua  tempat markas ayah tirinya-Vidal berada. Bukan perjalanan yang menyenangkan bagi Ofelia, pastinya. Demikian juga dengan sang ibu yang  sedang hamil besar. 

Ofelia tidak menyukai ayah tirinya. Ia bahkan memberikan julukan si Serigala. Yang diperhatikan oleh si Serigala hanyalah kehamilan ibunya, ia sangat berharap itu anak laki-laki. Bahkan jika terjadi sesuatu saat proses melahirkan, perintah si Serigala sudah sangat jelas, selamatkan si bayi.

Ofelia juga tak paham mengapa ibunya harus menikah lagi setahun setelah ayahnya meninggal. Kenapa juga ia tak boleh  membaca buku dongeng dan percaya sihir ada. Menurut sang ibu,  ia terlalu tua untuk semua itu. Ofelia menjadi amat merindukan ayahnya.
https://www.goodreads.com/book/
show/56161014-el-laberinto-del-fauno

Ayah Ofelia sering memberinya buku. Kadang-kadang, ia juga membuatkan baju untuk buku-bukunya.  Bagi Ofelia, buku bisa memberitahukan banyak. Ia bisa mendapat informasi tentang dunia, binatang, tumbuhan, bahkan bintang. Buku bisa menjadi jendela, pintu bahkan sayap untuk terbang  jauh.

Ternyata  Ofelia bukalah anak perempuan biasa. Ia bisa melihat peri! Peri tersebut seakan minta agar Ofelia mengikutinya masuk ke dalam labirin yang ada di dekat sana. Dalam labirin, ia bertemu dengan Faun yang mengatakan bahwa sesungguhnya ia adalah putri dari Kerajaan Bawah Tanah. 

Ia bisa kembali ke istana ayahnya  jika bisa menyelesaikan tiga tugas sebelum bulan purnama. Ofelia yang begitu merindukan ayahnya langsung menyanggupi persyaratan tersebut. Benarkan ayah Ofelia adalah seorang raja, atau tukang jahit yang selama ini ketahui?  Baca saja sendiri he he he

Tugas yang diberikan untuk Ofelia bisa dikata gampang-gampang susah. Ia harus fokus jika ingin menyelesaikan seluruh tugas.  Salah satu tugas, yang melarangnya untuk makan apapun di sebuah tempat, membawa ingatan pada kisah Percintaan Hades dan Persefon. 

Akibat memakan setengah buah delima maka selama setengah tahun ia akan hidup di dunia bawah-tempat orang mati, setengah tahun lagi, hidup bersama ibunya. Banyak yang menghubungkan hal ini dengan pergantian musim.

Sayangnya, ia gagal pada tugas kedua tersebut. Meski hanya dua butir anggur, Ofelia sudah memakan sesuatu. Hai! Tapi ia adalah seorang anak kecil yang sedang merasa sedih dan khawatir akan kondisi ibunya, tak bisa disalahkan juga jika ia berbuat salah tanpa sadar.

Tak hanya melanggar larangan itu, ia juga membuat peri yang mendampinginya celaka. Ofelia sungguh menyesal, ia sangat ingin bertemu dengan keluarganya di dunia bawah. Untunglah ia mendapat satu kesempatan lagi.
https://www.goodreads.com/book
/show/49510503-pan-s-labyrin
t







Selain kisah tentang Ofelia, pembaca juga dimanjakan dengan sesuatu hal yang berhubungan dengan kisah. Misalnya kisah Penjilid Buku di halaman 162. Kisah ini berhubungan dengan asal mula buku yang diberikan oleh Faun kepadanya.

Selain itu, tentunya ada urusan dengan kaum pemberontak. Jika tidak, untuk apa si Serigala membuat kamp militer di sana. Ia sangat percaya diri bisa menghalau seluruh pemberontak yang ada. Meski demikian,  sesungguhnya tanpa disadari, ia juga merasakan ketakutan 
Kematian adalah kekasih yang  ia takuti. Hanya ada satu cara untuk mengatasi ketakutan itu-menjadi algojo kematian.
Begitulah.  Semula kisah ini seakan merupakan kisah pengantar tidur, sebuah kisah dengan akhir yang menggembirakan. Kisah dengan akhir si jagoan menang, tokoh utama wanita menemukan pangeran impiannya, atau kisah dimana semuanya berakhir dengan baik-baik saja. Ternyata tidak sesederhana itu.

Semakin ke belakang, semakin begitu banyak kesedihan serta kematian, emosi pembaca seakan diaduk-aduk ketika menemani Ofelia disetiap waktu. Kematian dan kesedihan seakan menjadi racikan utama kisah ini. Demikian juga ketika mengetahui bagaimana sikap para pendukung pemberontak pada si Serigala. Perbuatan yang sangat patriotik!

Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari kematian. Kematian berkuasa di mana saja. 

https://www.goodreads.com/
book/show/54735801-pans-labyrinth
Jika pernah membaca serial atau menonton film Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe, tentunya akan ingat adegan dimana Lucy bertemu dengan makhluk yang berjalan menyerupai manusia, namun memiliki tanduk menyerupai kambing. Itulah Faun.

Menurut Kitab Monster Dan Makhluk-Makhluk Gaib  yang disusun oleh Anasrullah,  Faun sering dikaitkan dengan Satyr tetapi lebih lembut. Merupakan makhluk jahat dengan kaki, telinga dan ekor rusa. Wajah dan tubuhnya berwujud pemuda tampan. Hem..., tapi kenapa dalam buku ini digambarkan sebagai tokoh yang bijak ya? 

Para penggemar film atau buku Harry Potter tentunya sudah mengenal dengan Mandrake atau Dudaim. Tanaman ini akan menjerit jika dicabut.  Maka saat mempelajarinya, para siswa diharuskan mempergunakan tutup kuping. Dalam buku Kitab  Makhluk-Makhluk Khayali karangan Jorge Luis Borges dan Margarita Guerrero, bahwa mencabut tanaman ini berarti menghadapi risiko musibah mengerikan. 

Selanjutnya disebutkan juga bahwa  disarankan mempergunakan anjing terlatih untuk mencabutnya. Si anjing mati, tapi daunnya bisa digunakan sebagai narkotik, obat pencahar, dan untuk keperluan sihir.

Jadi, terbayangkan kengerian apa yang terjadi jika Ofelia mempergunakannya untuk mengobati kondisi ibunya yang terus memburuk, lalu seseorang membuang Mandrake ke perapian?  Semua Ofelia lakukan karena ia percaya sihir bisa membantu ibunya, apakah sekarang sihir akan membuatnya celaka? 

Salah satu bagian  yang mengisahkan mulut tokoh antagonis dalam buku ini disobek mulutnya hingga pipi, jadi membuat teringat adengan Patih Sangkuni yang mulutnya disobek oleh Bima dalam Perang Baratayuda. 

Pada kover belakang buku ini, sudah dicantumkan batas untuk membaca, yaitu 17+. Mempertimbangkan isi buku yang sebagian besar penuh dengan hal negatif (kekejaman, keangkuhan, siksaan, dan sejenisnya), sepertinya hal tersebut sesuai.

Para penyuka kisah fantasi terutama penikmat dark fantasy akan menyukai kisah ini. Seorang gadis kecil yang hidup dimasa perang, dan merasa kehilangan kasih ibunya setelah sang ayah meninggal dunia. Bimbang antara mencintai atau membenci adiknya yang belum lahir karena dianggap membuat ibunya menderita, Dan ia selalu dipaksa untuk percaya bahwa sihir itu tidak ada. 

Bertentangan dengan Ibu Ofelia, saya tak akan melarangnya membaca buku dongeng, karena dongeng bisa membuat imajinasi berkembang. Seorang bijak pengatakan bahwa dalam diri setiap orang dewasa ada sosok anak kecil, mungkin karena itu saya paham rasanya menjadi Ofelia yang dilarang membaca dongeng,

Jika Anda penyuka kisah yang berakhir dengan biasa-biasa saja, alias akhir yang standar, maka kisah ini bukan untuk Anda. Tapi, jika Anda mengharapkan sesuatu unik, maka buku ini cocok untuk Anda.

Sebagai tambahan referensi, silakan menuju ke sini dan ini. Semoga semakin tertarik untuk membaca dan membeli ^_^.

Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com

Sumber Film:
https://www.youtube.com