Minggu, 28 Juni 2020

2020 #24: Mantra Orang Jawa Ala Sapardi


Penulis: Sapardi  Djoko Damono
Penyelia naskah: Mirna Hasanbasri
ISBN: 9786020642932
Halaman:66
Cetakan: Pertama- Mei 2020
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 70.000
Rating:3.25/5

gerah serakah
aku terengah
wahai air
wahai angin
wahai Hyang Maha
siram aku
dengan hakekat-Mu
:
segala tawar
segala segar

Mantra Pengusir Gerah, halaman 56

Suatu saat, saya sedang menjalankan "tugas negara" ke Penerbit Gramedia. Di sana secara tak sengaja, saya mendapatkan info bahwa bakalan terbit  beberapa buku baru dari Sapardi. Mohon dirahasiakan, demikian pesan para sahabat. Baiklah. Setelah sekian lama, ternyata memang benar ada buku baru yang muncul, salah satunya buku ini.

Seperti tak ada yang meragukan kemampuan olah kata seorang Sapardi. Begitu disebutkan buku puisi-baca mantra, saya yang bukan penggemar puisi saja tertarik untuk membeli dan mengoleksinya. Iming-iming tanda tangan saat pemesanan awal juga menjadi salah satu faktor.  


Apa lagi seingat saya, buku ini pernah diterbitkan oleh salah satu penerbit. Saya makin penasaran dengan perubahan apa yang muncul dalam buku ini.  

Pasti ada perubahan, jika tidak bukan penebit Gramedia namanya. Mereka selalu menyajikan hal baru dalam tiap buku yang diterbitkan ulang siapa pun yang menuliskannya. Selalu ada hal berbeda yang ditawarkan sehingga saya tergoda untuk membeli.
Ketika akhirnya buku ini tiba, seperti dugaan saya,memang terdapat beberapa perubahan dalam buku ini dibandingkan buku sebelumnya. Tinggal mencari seperti apa perubahan yang terjadi. Bukan iseng, tapi begitulah kebiasaan saya jika membeli buku yang sama untuk kedua kalinya.

Terdapat lebih dari 50 mantra dalam buku ini, lebih banyak dibandingkan buku sebelumnya. Mulai dari asal-muasal manusia; bunyi & sunyi; biji mantra; mantra pengasih 1-9; mantra mengusai orang; mantra wewe putih; mantra batu terbang; sungai; hingga mantra menjelang tidur. 

Pada buku sebelumnya, Doa Hari Lahir,  diubah  menjadi Mantra Hari Lahir pada buku edisi baru. Lalu Makna Air menjadi Air pada edisi revisi.  Beberapa judul yang ada pada buku sebelumnya namun tidak ada pada buku edisi revisi antara lain Keteguhan; ilmu; mantra jayabrana; ajian semar mesem. 

Sementara pada versi baru pembaca akan menemukan mantra pengusir gerah; jopa-japu; mantra  wewe putih;  mantra menjelang tidur dan beberapa lagi.

Oh ya mantra yang ada pada kover, merupakan Mantra Mengeja Abjad dari halaman 24. Untuk mantra yang lain, sepertinya saya tak perlu memberikan banyak komentar. 

Dari sisi bahasa, terlihat rangkaian huruf yang dijalin menjadi sesuatu yang indah. Sementara dari sisi makna, jika dielaah lebih dalam, banyak hal yang terkandung dalam bait-bait tersebut.

Dari sisi ukuran buku, jelas mengalami perubahan yang signifikan. Ukurannya bertambah besar dibandingkan edisi yang lalu. Jika dulu bisa dimasukkan dalam saku, ukuran sekarang  tentunya butuh saku yang lumayan besar. 

Untuk kover,  batik dengan nuansa warna biru pastinya membuat saya bahagia. Urusan blangkon sempat membuat saya heran. Sepertinya bukan blangkon dari Solo. Ternyata dugaan saya benar, pada pengantar di halaman viii disebutkan dari mana asal blangkon tersebut.

Dari bagian tentang blangkon, saya memperoleh kesan bahwa seorang Sapardi pada dasarnya menerima segala perbedaan. Tidak banyak menuntut. Walau mengatakan "apa  pula bedanya" namun beliau tetap merasa perlu memberikan klarifikasi. Hem..., saya penasaran sepertinya ada kisah  dibalik blangkon pada kover.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mantra diartikan sebagai susunan kata yang berunsur puisi (seperti rima dan irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain. 


Sementara  menurut  majalah pendidikan.com. mantra adalah kumpulan kata-kata yang didukung oleh kekuatan mistis atau magis. Mantra juga termasuk dalam puisi lama, yang dalam masyarakat Melayu tidak dianggap sebagai karya sastra, tetapi lebih terkait dengan kebiasaan dan kepercayaan.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa mantra sering dianggap memiliki kekuatan. Mereka yang dianggap mampu merapal mantra, secara otomatis juga dianggap melakukan banyak hal terkait urusan gaib. 

Maka tak heran jika sejak awal buku, Sapardi  Djoko Damono sudah mengingatkan agar pembaca tak begitu saja percaya dengan hal-hal yang mungkin muncul dari membaca mantra tersebut. Beliau melihat dari sisi lain, dari keindahan bahasa. Namun bagi mereka yang percaya, silakan saja.

Seperti yang saya sebutkan di atas, saya bukan penikmat puisi yang fanatik. Tapi saya bisa menikmati karya ini. Jadi penasaran membaca buku barunya satu lagi. Berburu diskon ah ^_^.

























Selasa, 09 Juni 2020

2020 #23: Misteri Terakhir #1

Penulis: S. Mara Gd
ISBN: 9786020637112
Halaman: 448
Cetakan: Pertama- April 2020
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Rating: 4/5
Harga: Rp 98.000

Maestro memang mantap!
Semula saya sengaja  membeli buku pertama saja. Alasannya sederhana, timbunan yang lumayan tinggi di rumah. Selain itu,  dengan model yang dibagi menjadi tiga buku seperti ini, mungkin saja kisah sederhana sengaja dibuat panjang. Atau buku ini terdiri dari beberapa bagian yang bisa berdiri sendiri. Dugaan saya lho, ceritanya lagi sok tahu wkwkwk.

Ternyata saya salah!
Justru setelah tamat buku pertama ini, tak sabar segera membaca buku kedua dan ketiga.  Buku pertama ini bisa dikatakan sebagai landasan kisah, bagian pembuka. Beberapa tokoh diperkenalkan pada buku ini.  

Seperti biasa,  Daftar Pelaku sudah dicantumkan pada halaman 5-9. Lumayan banyak para tokoh, beberapa sudah bisa ditemukan dalam buku ini. Yang lain menunggu giliran pada buku selanjutnya. Ternyata lumayan banyak juga tokoh yang ikut berperan dalam misteri kali ini.

Kisah dimulai dengan pembicaraan pernikahan  kedua  anak gadis Kapten Kosasih. Selanjutnya terjadi juga pembicaraan perihal pernikahan antara putri Kapten Kosasih, Dessy dengan sahabat sekaligus tangan kanannya Gozali. 

Kisah percintaan yang lumayan unik juga. Bagian ini memberikan  isyarat bahwa keluarga Kapten Kosasih percaya akan kebesaran jiwa Gozali   walau dari sisi keuangan  bisa dikatakan biasa saja, cenderung sederhana malah. Namun kepribadian Gozali yang matang dianggap adalah "harta" bagi mereka.

Memasuki halaman  112-114  mulai timbul masalah yang bisa mengarah pada sebuah kasus. Sebelumnya pada halaman 109-110 terjadi pembicaraan beberapa tokoh mengenai suatu hal. Naluri penasaran saya mulai tergelitik, kenapa hal seperti itu mulai dibahas ya? Apakah mengarah pada suatu peristiwa besar kelak. Baiklah mari kita lanjutkan membaca!

Selain banyak kisah yang dibuat untuk menjadi landasan cerita pada buku kedua dan ketiga, banyak juga kisah tentang hubungan antar tokoh dalam buku pertama ini. Misalnya percakapan di halaman 72, tentang bagaimana seorang tokoh bisa menerima pasangannya berselingkuh disaat ini divonis menderita penyakit berbahaya.

"Pasangan itu harus timbal-balik, saling  memberi. Aku seperti spons, aku cuma bisa menyerap dan menyerap, aku nyaris tidak bisa memberinya apa-apa, aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan. Dia yang terus memberikan kasih dan kekuatannya padaku." Suatu pemikiran yang unik bukan? Umumnya seorang wanita akan merasa tersakiti dan marah ketika tahu suaminya berselingkuh.

Salah satu yang membuat saya penasaran adalah 
adegan percakapan sebelum tidur antara Kapten Kosasih dan istrinya di halaman 374, "Malah ya, Bu, kalau aku mendadak mati, aku bisa mati dengan tenang karen tahu si Goz pasti akan menggantikan tempatku sebagai pelindung dan pemimpin keluarga ini. Aku bisa mati dengan tenang karena tahu istri dan anak-anakku semua pasti bakal aman di tangannya. Aku yakin Goz akan membela keluarga ini dengan naywanya sendiri." Duh, kenapa saya punya perasaan tak enak mengenai percakapan ini ya?

Sama curiganya dan anehnya saya ketika menemukan ada orang yang bisa begitu saja akrab dengan orang lain di halaman 337. Saking mudah akrabnya, malah tokoh kita itu bisa  sampai mengakui berbohong peihal pengakuan telah memiliki pasangan yang sebelumnya ia sampaikan. Kurang pas saja rasanya, naluri saya merasakan bakalan ada kisah terkait adegan pertemuan kedua tokoh ini di pesawat udara.

Saya penasaran dengan kata mbodet di hal 255. "Itulah kalau mbodet. Kira-kira salah satu dari semua wanitanya ini yang membunuhnya," kata Kosasih. "Kalau memang demikian, aku cuman bisa bilang dia pantas mendapatkan ganjaran itu!" 

Oh ya saya menemukan ada pembahasan tentang mata-mata kelas dunia, Matahari disebut pada hal 168.Keren! Penulis bisa memasukkan suatu unsur pengetahuan sehingga pembaca tak hanya terhibur namun juga pendapat ilmu.

Baiklah..., mari kita lanjut buku selanjutnya!
Jika buku pertama saja sudah menawan, bagaimana selanjutnya!