Selasa, 23 November 2021

2021 #36: Kisah Pasukan Buzzer

Penulis: Chang Kang-Myoung
Penerjemah: Lingliana
ISBN: 9786020653785
Halaman:286
Cetakan: Pertama-2021
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 95.000
Rating: 3.25/5

Begitulah cara kerja dunia. Orang yang terlihat kuat tidak akan disentuh, sementara orang yang terlihat lemahlah yang selalu diserang.

~Pasukan Buzzer, halaman 140~

Ketika kuliah dulu, berulang kali dosen menyebutkan bahwa orang yang  bisa menguasai dunia adalah yang menguasai informasi. Seiring waktu, salah satu cara menyebarkan informasi adalah melalui  internet. Maka, bisa kita simpulkan, siapa yang pandai dan menguasai internet, maka ia bisa dikatakan menguasai dunia melalui berbagai sisi, misalnya bisnis 

Di Korea,  banyak terdapat perusahaan yang membutuhkan jasa pemasaran virtual. Perusahaan tersebut diharapkan mampu mempromosikan sebuah produk melalui internet, termasuk melalui situs  yang tertutup untuk umum serta meningkatkan tanggapan akan produk tersebut.

Tim Aleph yang terdiri dari Sam-goong  sebagai ketua, 01810  si jenius computer dan internet, serta Chatatkat yang pandai menulis. Menangkap peluang tersebut dengan mendirikan sebuah perusahaan pemasaran virtual. 

Awalnya mereka mengunjungi berbagai usaha dengan menawarkan  menaikkan peringkat perusahaan dalam pencarian real time.  Seiring waktu, mereka juga ahli dalam memaksimalkan propaganda untuk memancing minat orang pada sebuah produk.  

Mereka juga menawarkan solusi terkait ulasan buruk atau komentar negatif yang muncul. Bahkan melakukan serangan cyber jika dibutuhkan.  Singkat kata, tim ini akan melakukan apa saja yang diminta klien asal jasa yang dibayarkan sesuai.

Suatu ketika, Tim Aleph menerima pekerjaan dari sebuah perusahaan yang meminta mereka untuk menghancurkan sebuah situs bernama Kafe Jumda dalam   waktu satu bulan. Jika berhasil mereka akan mendapat imbalan sebesar sembilan puluh juta won

Sejak itu segala sesuatu dalam kehidupan mereka berubah. Klien yang satu ini bersedia mengeluarkan uang banyak agar tujuannya tercapai.Bagi ketiga pria muda, ini merupakan peluang untuk mendapatkan kesempatan uang banyak.

Ketika berhubungan dengan nitizen, tentunya membutuhkan kesabaran agar tidak terpancing emosi serta kecerdikan untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Bagi Tim Aleph, ini seakan bermain-main. Mereka menyukai fakta bahwa mereka dapat mengendalikan opini publik.

Ternyata kecerdikan mereka harus berhadapan dengan kelicikan dan kekuatan pihak lain. Tugas yang semula seakan mudah  dan menyenangkan untuk dikerjakan, belakangan menjadi berbahaya bagi keselamatan jiwa ketiganya.  

Kisah ini ditulis dengan cara yang tak biasa. Beberapa sahabat yang juga membaca buku ini menyebutkan bahwa untuk menikmatinya, kita harus membaca dengan pikiran yang juga berbeda.  

Semula kita disuguhi aneka fakta tentang sepak terjang tim ini. Kemudian mendadak muncul versi tanya jawab antara  seseorang bernama Lim Sang-jin dengan Chatatkat.

Tidak ada penjelasan siapakah  Lim Sang-jin, kenapa ia melakukan wawancara dengan Chatatkat. Baru pada bagian akhir kisah, kita menemukan hubungan antara keduanya, serta mengapa Lim Sang-jin melakukan wawancara. 

https://en.wikipedia.org/wiki/
Chang_Kang-myoung

Informasi yang disembunyikan penulis tentang hal ini, membuat pembaca bisa kebingungan dalam memahami kisah. Akhir kisah yang membuat saya berkomentar, "Oh, ternyata begini kejadiannya" menggambarkan bahwa  kisah ini tidak seperti persepsi saya.

Meski saya tidak mendapatkan kisah yang heboh dengan aneka peristiwa menyeramkan (kecuali pada bagian tertentu saja), namun tetap memberikan gambaran bagaimana sebuah opini bisa dibentuk sehingga memberikan keuntungan bagi sebuah perusahaan. 

Cara-cara yang dilakukan mungkin dianggap tidak manusiawi, namun terbukti efektif namun sering dijumpai dalam dunia maya. Kekejaman dalam dunia maya yang sering dibicarakan orang, dipaparkan dengan cara yang unik oleh penulis. 

Jejak digital memang tidak bisa dihapuskan bagaimana juga caranya. Bisa disembunyikan sesaat, namun bisa dimunculkan  jika dibutuhkan. Hanya perlu mencari di tempat yang tepat dan dengan keahlian mencari tententu saja.

Bagian ini, membuat saya berharap banyak orang yang lebih bijaksana dalam menggerakkan jarinya di dunia maya. Tak perlu merasa rendah diri disebut tidak eksis, asal tidak mencelakan diri sendiri dan orang lain.

Meski kisah dalam buku ini adalah fiktif, namun ada beberapa bagian kisah yang diangkat dari kisah nyata. Sebagai mantan jurnalistik, cara bercerita sang penulis terlihat sekali mengandung unsur penyelidikannya. Terlihat sekali dalam catatan kaki.

Catatan kaki dalam buku ini terbilang banyak, sekitar 50-an. Hal ini perlu dilakukan agar pembaca pemahami kejadian yang terkait dengan topik yang sedang dibahas.  Contohnya, catatan kaki nomor 35 di halaman 103 menjelaskan tentang  Tablo, seorang rapper Korea yang pernah dituduh memalsukan ijazah dari Stanford  University, A.S

Sedangkan yang dimaksud dengan kartu keamanan di halaman 111 adalah kartu dengan kata sandi untuk melindungi informasi pribadi dan transaksi dari virus, yang dipergunakan pada saat melakukan internet  banking. Sementara yang dimaksud dengan Ryu Hyun-jin dalam catatan kaki no 26 adalah pemain bisbol profesional Korea.

Judul-judul  bab pada novel ini juga unik.  Bab 3 misalnya, berjudul Amarah dan kebencian adalah cara paling ampuh untuk memancing emosi publik. Sementara bab 9 berjudul, Seorang pemenang tidak akan ditanyai apakah kata-katanya benar atau tidak.

Jika dicermati, sebenarnya pembaca sudah mendapatkan pelajaran  singkat mengenai pemasaran virtual dalam judul bab.  Pada  judul bab yang berbunyi, Propaganda berhubungan dengan kreasi dan imanjinasi  yang produktif,  memberikan pengajaran bahwa kreasi dan imajinasi harus dipadukan agar bisa menghasilkan sebuah propaganda yang tepat sasaran.

Demikian juga kalimat yang ada dalam kisah. Seperti  yang ada di halaman 199, " Karena itulah kami membuat strategi. Strategi ini tidak punya nama, tapi untuk memudahkan, kita sebut saja strategi kamera tersembunyi."

Kalimat tersebut memberikan pembaca pengetahuan tentang sebuah strategi yang bisa dilakukan dalam memanipulasi opini, terutama kaum muda yang cenderung progresif. 

Karya yang diterjemahkan langsung dari bahasa Korea ini,  mendapat penghargaan  Sastra Perdamaian Jeju 4.3 pada tahun 2015 layak dibaca oleh mereka yang tertarik pada pemasaran virtual  serta mereka yang tertarik pada dunia maya.

Pada laman hot.liputan6.com, disebutkan bahwa  buzzer adalah sebuah jasa atau orang yang dibayar untuk mempromosikan, mengkampanyekan, atau mendengungkan sesuatu. 

Selanjutnya disebutkan bahwa istilah buzzer ini telah ada sejak lama, namun di Indonesia istilah ini baru mulai mencuat setelah pemilu 2019. Dulunya, buzzer lebih sering digunakan sebagai strategi pemasaran suatu brand untuk produknya. 

Kalimat favorit saya,

Selasa, 16 November 2021

2021 #35: Catatan Pengelana Tentang Penjaja Buku

Judul asli: The Bookstore traveler
Penulis: Ngadiyo
Editor: M. Fauzi Sukri
ISBN: 9786239106409
Halaman: 356
Cetakan: Pertama-September 2019
Penerbit: Diomedia
Harga: Rp 145.000
Rating: 3/5

Satu lagi penerbit tutup!
Satu lagi toko buku tutup!
Habis semua!

Kalimat yang tanpa sengaja selalu saya ucapkan ketika mendapat info ada toko buku ada penerbit yang berhenti beroperasi. Beberapa penerbit bahkan sudah menghentikan  semua kegiatannya  sebelum masa pandemi. 

Sedih rasanya kehilangan "rumah kedua". Mereka tak hanya sekedar penerbit dan toko buku, bagi saya mereka yang ada di dalamnya adalah keluarga kedua. Berasa di sana, saya merasa nyaman, seakan pulang ke rumah.

Tak selalu kunjungan ke penerbit untuk buntelan, kadang malah mengantarkan panganan kecil. Jika   ke toko buku, bisa saja bukan untuk  mengharapkan voucher atau membeli sesuatu, bisa saja memberikan souvenir sehabis mengisi acara di kantor.

Jadi, walau bukan penerbitan atau toko buku milik saya, sedih rasanya jika mendapatkan kabar ada yang tutup. Makin melow ketika membayangkan bagaimana si A yang baru saja punya anak, bagaimana si Z yang sedang mempersiapkan pernikahan. 

Ketika menemukan sebuah buku yang berisikan tentang bagaimana para pedagang buku bisa bertahan hingga saat ini, langsung semangat membaca. Siapa tahu ada ide yang bisa dibagikan pada rekan-rekan. Apalagi mendengar ada yang malah mau membuka toko  buku saat situasi begini. Nekat, tapi perlu didukung!

Dalam lebih dari 300 halaman, sang penulis akan mengisahkan bagaimana  kesan yang diperoleh dari mendatangi (baik daring maupun luring)  berbagai toko buku yang ada. Total ada 18 toko buku yang berada di Jakarta, Yogyakarta, Surakarta, serta Ambon.

Pembaca memang akan mendapatkan berbagai tips serta trik bagaimana toko-toko tersebut berusaha bertahan saat ini. Kebijakan apa yang harus diambil pengelola, bagaimana sejarah berdiri, kejayaan, hingga situasi saat ini. 

Raja Murah acap kali menjadi sasaran pengunjung tiap kali ada bazar atau pameran buku. Menganut prinsip menjual buku harus murah, tidak menjual buku bajakan, selalu menambah gudang, serta melakukan pameran buku di mana-mana, menjadikan Raja Murah dikenal dan terpercaya. 

Jatuh-bangun mendirikan Raja Murah membuat Ahmad Fanani-si pemilik pada akhir tahun 1990-an menjadi nomor satu di Shopping Center Yogyakarta. Bisa dianggap sebagai Rektor di sana. Seru! Ada Rektor Dunia Buku!

Pandemi covid-19 sepertinya tak begitu berdampak pada Dema Buku. Menurut beberapa pembeli, tampilan Instagramnya selalu menarik. Mereka yang disebut sebagai kaum milenial merupakan pelanggan tersebut.

Bagaimana Steven Sitongan, yang lebih dikenal dengan nama Ksatria Buku jatuh bangun membuat toko buku di Ambon sangat layak diajungi jempol! Dulu, ketika sama-sama masih aktif di komunitas bloger buku, ia paling aktif mengusulkan ide-ide.

Saya masih ingat, salah satu ajakannya untuk  ikut menulis  keroyokan, membahas sebuah topik. Saya sangat yakin, kelak toko bukunya serta podcast akan semakin maju dan membawa makna sendiri bagi dunia literasi.

Buku yang menarik secara ide. Sayangnya, semuanya disajikan  dalam bentuk   skrip  wawancara. Penulis mengajukan pertanyaan, lalu narasumber menjawab. Apa yang ditanyakan, dan jawabannya ditulis langsung.

Mungkin karena saya masih terkenang dengan cara Muthia Esfand bercerita dalam Dari Toko Buku ke Toko Buku, komentar saya ada di sini, saya membayangkan akan menemukan sebuah buku dengan cara penyajian yang serupa. 

Padahal, jika penulis mengolahnya menjadi sebuah tulisan bukan skrip wawancara mentah, tentunya akan banyak hal yang bisa dibahas. Misalnya ketika membahas tentang prinsip BISA yang dianut oleh Pak Thomas, memilik Sekawan-toko buku di Solo.

Saya malah lebih menikmati  tulisan yang ada di halaman 331. Karena semua hasil wawancara disajikan dalam sebuah narasi yang menarik. Sepertinya malah pingin usul, supaya bagian ini yang dikembangkan, lalu bagian wawancara dipersingkat dan dijadikan lampiran saja.

Pembaca juga bisa menemukan aneka foto  narasumber dan lokasi yang dimaksud dalam buku ini. Sangat terinci. Setiap membahas satu penjual, penulis juga akan menyisipkan foto-foto  guna mendukung apa yang diuraikan. 

Meski sempat mengucapkan kata nasis hi hi hi, karena sebagian besar foto yang ada mengusung wajah sang penulis. Tapi ini juga bisa dijadikan sebagai ajang pembuktian bahwa memang penulis mendatangi tempat yang disebutkan, bukan hasil comot data sana-sini saja.

Jadi kangen Gramedia Slamet Riyadi dan Gladek. Andai tak pandemi, rasanya pingin ke sana lalu melakukan tapak nilas tempat yang disebutkan dalam buku ini. Seru pastinya! Siapa tahu kalau berbelanja sambil mengajak Ngadiyo bisa dapat diskon he he he.

Sempat heran juga menemukan ada foto dengan keterangan Titin. Siapakah Titin? Pertanyaan tersebut muncul begitu menemukan foto seseorang bernama Titin di halaman 18.  Karena  uraian yang ada dalam halaman itu dan sebelumnya sama sekali tidak menyebutkan informasi terkait dengan sosok yang bertama Titin itu.

Baru di halaman  30 saya mendapatkan informasi terkait siapakah Titin itu. Sekedar saran, sebaiknya ilustrasi diletakkan tak jauh dari uraiannya. Demikian juga dengan beberapa foto yang lain.


Melalui buku ini, diharapkan mereka yang ingin menekuti usaha jual-beli buku bisa mendapatkan referensi  bacaan dari sumber yang terpercaya. Mereka yang menjadi narasumber buku ini sudah terbukti ketangguhannya dalam urusan jual-beli buku.

Dengan banyaknya penerbit yang mengajak menjadi reseller,  atau aneka ajang obralan yang  menawarkan buku murah sehingga  untuk besar jika laku dijual lagi, sepertinya perlu dipertimbangkan dengan seksama apakah Anda memiliki kemampuan untuk itu. Atau hanya sekedar kesenangan sesaat karena berhasil menjual beberapa eksemplar buku.

Pada akhir kita, sebagai pembaca kita akan mendapat tips belanja buku dari penulis. Tips ini tentunya dibuat berdasarkan pengalamannya selama menyusun buku ini.

Pesan untuk jangan membeli buku bajakan, sangat perlu kita ikuti. Berapa banyak nasib pekerja dunia buku yang bergantung pada buku orisinil yang kita beli. 

Jika memang tak ada dana untuk membeli buku, tunggulah saat ada acara diskon. Atau beli prapesan. Jika tidak bisa sama sekali membeli, manfaatkan perpustakaan. Lebih baik dari pada membeli buku bajakan.

Bagi para penggiat literasi dan penggila buku, buku ini bisa menjadi semacam nostalgia akan keberadaan beberapa toko buku. Juga agar lebih memahami kenapa semakin sulitnya menemukan bacaan.

Sang penulis, Ngadiyo, adalah CEO dari Diomedia. Penggiat penulisan memoar ini bisa dihubungi di IG ngadiyo_official siapa tahu ada yang tertarik membeli atau ikut menulis antologi.

Merapal doa, semoga kondisi perbukuan kembali normal dalam waktu dekat. Aamiin

Minggu, 17 Oktober 2021

2021 #34: Kisah Nora Seed Dan Perpustakaan Tengah Malam

Judul asli: The Midnight Library-Perpustakaan Tengah  Malam
Penulis: Matt Haig
Alih Bahasa: Dharmawan
ISBN: 9786020649320
Halaman: 368
Cetakan: Kedua-Agustus 2021
Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 105.000
Rating:4/5

Yang penting bukanlah apa yang kaupandang, melainkan apa yang kaulihat
~The Midnight Library-Perpustakaan Tengah  Malam, hal 308~

Nora  Seed merupakan seorang gadis yang tak siap menghadapi perubahan dalam hidup. Ia akan mengalami depresi terkait situasi baru. Ia takut menjadi pusat perhatian dan malu disebut memiliki dada kekar ketika karier renangnya bersinar.  

Dengan tegas  ia mengatakan pada ayahnya, ia tak mau berenang lagi, meski hal itu bisa membuat ayahnya kecewa. Sungguh sayang, ia bahkan berpeluang ikut olimpiade.

Bisa dikatakan Nora takut akan hal yang mungkin terjadi,   ia takut pada masa depannya. Ketika bandnya mulai dilirik produser rekaman. Ia takut perubahan,  maka ia memutuskan  keluar yang berakibat kemarahan anggota yang lain. 

Ia takut menikah dan memiliki anak sehingga memutuskan hubungan dengan kekasih lamanya. Karena ia takut akan semakin.depresi. Mengurus dirinya saja ia tak mampu, apa lagi mengurus anak!

Sejauh ini, hanya perpustakaan sekolah dan seorang pustakawati bernama Mrs Elm yang bisa membuatnya lebih tenang. Baginya perpustakaan adalah suaka kecil peradaban. 

Mrs Elm juga yang mendampinginya ketika mendapat khabar ayahnya meninggal hingga ibunya menjemput bersama sang kakak, yang duduk terdiam di kursi belakang.

Kisah  dimulai dengan aneka kesialan yang menimpa Nora hari itu. Akhirnya ia memutuskan sudah tak ada gunanya ia hidup! Mati merupakan jalan yang paling baik baginya. 

Maka ia mempersiapkan diri untuk mati,  bahkan ia sudah meninggalkan catatan bagi siapa saja yang mungkin menemukan tubuh tak bernyawanya. Ia berdiam diri, bersiap menyambut kematian.

Tengah malam, alih-alih kehilangan nyawa, ia mendapati dirinya berada dalam suatu tempat yang penuh dengan buku. Semuanya berwarna  hijau dengan aneka gradasi. Tidak ada warna selain hijau. 

Selain gradasi warna,  ketebalan buku adalah hal yang berbeda. Tingginya sama semua. Oh, tidak ada judul buku dan nama pengarang di punggung buku. Aneh.

Ternyata ia berada di Perpusatakaan Tengah Malam. Dan ada Mrs Elm di sana! Setidaknya seseorang yang menurutnya adalah Mrs Elm. Meski bingung, Nora teringat perasaan amannya berada di perpustakaan sekolah bersama Mrs Elm dahulu.

Ia adalah sumber daya dari perpustakaan itu. Selama perpustakaan itu ada maka Nora  akan dijauhkan dari kematian. Lupakan ide untuk bunuh diri. Ia harus memutuskan bagaimana ia ingin hidup. 

Dan tiap buku yang ada mewakili masa depan yang mungkin akan ia miliki. Untuk itu ia harus memilih dengan bijak, masa depan seperti apa yang ingin ia jalani. Nora mulai memilih buku dan melihat seperti apa kehidupannya yang lain.

Setiap kehidupan yang ia lalui sepertinya selalu saja berakhir dengan hal yang tidak menyenangkan. Mungkinkah karena ia salah memilih buku seperti yang tertera  di halaman 247? Atau ada faktor lain?

"Setiap kehidupan mengandung berjuta-juta keputusan. Beberapa besar, beberapa kecil.  Tetapi setiap kali satu keputusan menumbangkan keputusan lainnya, hasil akhirnya akan berbeda. Variasi-variasi yang tak bisa diubah terjadi, yang pada gilirannya mengarah pada variasi-variasi lain lagi. Buku-buku ini merupakan portal ke semua kehidupan yang mungkin saja kaujalani."

The Midnight Library-Perpustakaan Tengah  Malam, hal 48~

Memang tak ada kehidupan yang sempurna, namun pada salah satu buku, tentunya ada satu kehidupan yang sangat layak untuk ia jalani. Ia hanya harus menggali diri lebih dalam dan berkompromi pada rasa takutnya.

Aneka kehidupan yang dilalui Nora mengingatkan adegan film serial Star Trek perihal dunia paralel. Seseorang bisa jadi penjahat di dunia ini  namun menjadi raja dermawan di dunia lain. 

Juga pada buku Pilih Sendiri Petualanganmu: Lorong Waktu. Pada akhirnya setiap orang bertanggung jawab pada pilihannya. Apakah menuju masa depan, masa lampau, atau tetap berada di zamannya.

Meski mengusung buku sebagai bagian dari kisah, tapi  kisah ini sangat berbeda dengan kisah dalam serial Inkworld besutan Cornelia Funke.Tentunya juga berbeda dengan  Perpustakaan   Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken karangan Jostein Gaarder, atau kisah  Alcatraz Versus the Evil Librarians dari  Brandon Sanderson

Meski seseorang telah memberikan bocoran kisah, tetap saja diri ini masih mengira kisahnya antara gabungan Inkworld dan Pilih Sendiri Petualanganmu: Lorong Waktu, plus beberapa adegan seru dari  Alcatraz Versus the Evil Librarians. Sangat jauh ternyata.

Membaca buku ini seakan tidak membaca sebuah novel. Saya seakan membaca sebuah buku  motivasi diri, semacam self help. Kenapa saya hidup? Untuk apa saya hidup? Bagaimana seharusnya saya menjalani kehidupan ini? Jawabannya ada dalam buku ini.

Pembaca juga bisa mendapat banyak hikmah dari kisah ini. Misalnya bagaimana Nora yang semula sudah merasa bahagia dalam sebuah kehidupan, ternyata tak bisa tinggal lebih lama di sana.

Dan ketika ia sudah kembali ke Perpustakaan Tengah Malam, maka ia tak bisa kembali pada kehidupan yang sudah ia pilih.  Sekali kehidupan dilewati artinya ia harus mencari buku lain untuk dilihat. Marah dan kecewa tidak ada gunanya. 

Ia sadar,  kehidupan ini  tergantung bagaimana ia bersikap dan memilih menjalaninya.  Kehidupan yang ia sukai,  bisa saja ia temukan dalam kehidupan nyata jika ia memilih untuk menjalani kehidupan seperti itu.

Apa yang dialami Nora selama ia melihat aneka kehidupan, membuat kita  merenung bahwa pada dasarnya kita hidup untuk diri kita, dengan jalan yang kita pilih. Bukan hidup untuk mimpi dan harapan orang lain.

Seperti juga Nora, semoga mereka yang membaca kisah ini menjadi lebih menghargai kehidupan. Memandang kehidupan dari sisi yang lebih bermakna serta menjalaninya dengan lebih bahagia.

Para penggila buku, mereka yang merasa hidup seakan tak berpihak padanya, sangat dianjurkan membaca buku ini. 

Meski berkesan serius, tak sengaja saya jadi tertawa ketika menemukan kata tahi angin. Tepatnya dalam kalimat di halaman 93094.  "Nah, kau lihat? Kadang-kadang penyesalan sama sekali tidak  sesuai fakta. Kadang-kadang penyesalan cuman..."Mrs  Elm mencari-cari istilah yang tepat dan menemukannya. "Cuman tahi angin."

Judul per bagian juga tak kalah mengundang senyum. Msialnya ada Frustasi karena Tidak Menemukan Perpusatkaan Pada Saat Kau Betul-Betul Membutuhkannya,  Buat Apa Menginginkan Semesta Lain kalau Yang Ini Ada Anjingnya? Sungguh menghibur.

Sang tukang alih bahasa perlu diberikan ajungan jempol. Mengalihkan kisah seperti ini, tentunya tidak mudah. memilih kata yang tepat sehingga membuat pembaca tidak bosen, namun tidak keluar dari pakem kisah, memerlukan keahlian tersendiri.

Untuk urusan kover, saya mengintip aneka  versi  buku ini di situs Goodredas. Buku yang sudah diterbitkan dalam 106 edisi ternyata menyajikan aneka kover yang menarik. Penggila buku seperti saya seakan dimanjakan dengan pemandangan indah.

Susah untuk memilih mana cover favorit saya. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada versi bahasa Italia  info lebih jelas di Goodreads ada di sini. Sementara laman resmi penerbit ada di sini. Siapa tahu ada yang iseng ingin mengumpulan versi ini dalam aneka bahasa ^_^.

Pada tahun 2020, karya ini mendapat pernghargaan Goodreads Choice Award for Fiction.  Informasi seputar sang penulis bisa dilihat di http://www.matthaig.com. Untuk IG  @maarzhaig. Ternyata sudah lumayan banyak karyanya. Sejauh ini sudah diterjemahkan  sebanyak 40 bahasa.

Hem.... kalau memasuki Perpustakaan Tengah Malam, ingin juga tahu bagaimana kehidupan saya jika memilih menjadi.... Saya memang bersyukur berada dalam kehidupan sekarang, tidak seperti Nora yang sampai  ingin bunuh diri. 

Tapi jika  ada peluang untuk mengetahui apa yang terjadi jika saya melakukan pilihan yang berbeda, misalnya tidak pindah kerja di perpustakaan, tentunya akan sangat menggoda. Asal,  jika ternyata hasilnya membuktikan pilihan saya salah,  tak timbul penyesalan. Tapi sepertinya susah ya ^_^.

Jadi teringat kalimat yang ada di bagian awal buku, "Di antara kehidupan dan kematian terdapat sebuah perpustakaan yang jumlah bukunya tak terhingga. Tiap-tiap buku menyediakan satu kesempatan untuk mencoba kehidupan lain yang bisa dijalani sehingga kau bisa melihat apa yang terjadi kalau kau mengambil keputusan-keputusan berbeda... Akankah kau melakukan apa pun secara berbeda jika kau mendapat kesempatan untuk membatalkan penyesalan-penyesalanmu? Benarkah kehidupan lain akan jauh lebih baik?"

Bagaimana dengan kalian? Tergoda memasuki Perpustakaan Tengah Malam?














Jumat, 15 Oktober 2021

2021 #33: Ketika Sang Informan Beraksi

Judul asli: The whistler-Sang Informan
Penulis: Jhon Grisham
Penerjemah: Ariyanti E. Tarman
Editor: Jimmy Simanungkalit
ISBN: 9786020635880
Halaman:460
Cetakan: Pertama-2020
Harga: Rp 115.000
Rating: 3/5

"Tak ada yang namanya kepercayaan sepenuhnya, Ibu  Hakim. Dan seringnya, orang yang paling kau percayai adalah orang yang akan menggorok lehermu jika mendapat harga yang sesuai."

~Sang Informan, hal 349~

Seorang wanita  kulit putih bernama Lacy Stoltz   serta seorang pria kulit hitam, Hugo Hatch ditemukan dalam kondisi mengenaskan akibat ditabrak pikap yang melewati  garis pembatas di wilayah  suku Tappacola di Brunswick Country lewat tengah malam.

Apa yang mereka lakukan di sana? Berbagai spekulasi muncul. Terutama sekali karena selama ini pekerjaan keduanya di Dewan Kode Etik Yudisial-DKEY Florida bisa dikatakan jauh dari bahaya.

Menyelidiki hakim yang diduga melakukan kecurangan semestinya tak berbahaya, setidaknya begitu menurut Lacy hingga sebuah kecelakaan  menimpa  Hugo dan dirinya. Kecelakaan itu mengakibatkan dirinya luka parah. Suatu keajaiban ia berhasil sembuh.

Segalanya bermula dari  seseorang yang menghubunginya dan mengaku memiliki bukti-bukti perihal penerimaan suap yang dilakukan oleh seorang hakim di Florida. Jumlahnya fantastis hingga bisa dianggap sebagai korupsi terbesar dalam sejarah. 

Orang yang menghubungi Lacy,  Greg Myers adalah mantan pengacara yang mengaku mendapat informasi dari seorang  informan yang ingin namanya tetap anonim.  Mengingat siapa musuh yang dihadapi, sang informan merasa hal itu sangat perlu dilakukan.

Siapa pun harus waspada jika berurusan dengan organisasi  yang dikenal sebagai Mafia Pantai, pemilik kasino besar yang berada di tanah milik Penduduk Asli Amerika. Mereka tak segan berbuat kasar guna memastikan kasino tetap beroperasi dengan lancar.

Suka atau tidak, kasino itu memberikan pemasukan yang tak sedikit. Penduduk Asli mendapatkan bagian dari operasionalnya. Belum lagi pihak-pihak yang memanfaatkan kasino dengan cara "merekayasa pembukuan". 

Meski enggan, pihak Lacy harus bekerja sama dengan FIB guna menyelesaikan kasus tersebut. Karena ternyata ada kasus pembunuhan yang terkait dengan sang hakim dan kasino.

Bahaya tidak saja mengancam  sang informan, Lacy serta seluruh pengacara yang tergabung dalam DKEY, namun juga para pelaku kejahatan bagian dari Mafia Pantai.  Tiap orang yang terlibat, juga menjadi ancaman bagi yang lainnya. 

Ada peraturan mendasar yang berlaku di sana. Misalnya mereka harus melakukan apa yang diperintahkan, selalu tutup mulut, hanya percaya pada orang yang berada dalam jajaran atas, dan terutama jangan coba-coba untuk berkhianat. Dampaknya  tak hanya pada diri sendiri tapi juga pada keluarga. Pelik!

Jadi bayangkan bagaimana upaya yang harus  FBI lakukan untuk bisa memaksa anggota mafia buka mulut. Ada yang dengan suka rela "bernyanyi" demi keringanan hukuman dan kehidupan baru melalu programperlindungan saksi. Ada yang memilih  tetap bungkam.

Bagian yang  mengisahkan bagaimana sang hakim terduga tindak  korupsi  mengamankan uangnya lumayan cerdik. Ia menutupi jejak dengan membelanjakan uang yang ia terima untuk  aneka perhiasan,  novel-novel terkenal edisi pertama yang menjadi langka seiring waktu, kristal kuno, serta lukisan kontemporer.

Hem... saya jadi berhayal. Jika ini kisah nyata, sang hakim bisa jadi membeli versi pertama buku Little Women yang menyentuh angka sekian puluh juta Rupiah di salah satu situs dagang daring.

Ia juga pandai bersikap. Jika berada diantara rekan kerja, maka ia akan mempergunakan busana yang bisa saja. Tapi ada kalanya ia tergoda untuk memamerkan koleksi pakaian dan perhiasan indahnya.

Guna menghindari kecurigaan, sang hakim membatasi hubungan dengan staf.  Setiap 18 bulan, ia akan mengganti sekretarisnya. Hanya satu orang yang bisa dikatakan bekerja cukup lama dengannya. Dan nyawa orang tersebut juga berada dalam bahaya.

Menghubungi informan yang anonim butuh kesabaran. Lacy  sangat menghargai waktu karena ia adalah seorang pengacara. Dilain sisi, ia juga belajar bersabar dalam tugas penyelidikan. 

Meski sekedar bumbu, tokoh kita, Lacy mendapat bagian porsi romantis walau tak banyak. Cukup  untuk membuat kisah menjadi lebih hidup saja. walau bagaimana juga, Lacy merupakan sosok wanita muda yang menarik.

Sebenarnya saya sudah lama ingin membeli buku ini, selain memang menyukai karya penulis yang satu ini, tukang ngeditnya adalah salah satu sahabat saya dalam dunia literasi.  jadi kangen saat siaran berdua beberapa waktu lalu.

Namun, setelah membaca hingga 100-an halaman, saya merasa kehilangan semangat untuk menuntaskan membaca buku ini. Pastinya buku ini tidak seperti harapan saya, yang menduga  bakalan banyak adegan  pertemuan rahasia antara Lacy dengan  si informan.

Kemudian pertemuan itu banyak menimbulkan kejadian menegangkan. Tidak hanya soal kecelakaan Lacy, pembobolan rumah, serta upaya pembunuhan. Tapi juga ada hal-hal menegangkan lainnya, meski tak perlu seseru ala Don Brown.

Intinya, saya merindukan unsur dramatis serta cara bercerita yang tak bertele-tele. Bagi saya, cara penulisan John Grisham telah mengalami perubahan sejak awal saya membaca kisahnya dulu.

Peran Lacy juga seakan sebagai pembuka langkah pengungkapan kasus semata. Setelah itu, biarkan urusan ditangani oleh pihak lain, walau harus diakui lebih kompeten. Dalam hal ini FBI.

Keluarga Hugo yang digambarkan sebagai keluarga besar  dengan anak bayi yang sering menangis tak terkendalikan, agak mengganggu saya. Apalagi sampai meminta bantuan  Lacy untuk ikut menjaga bayi ditengah malam. 

Mulailah cocoklogi berdasarkan hal yang diyakini oleh masyarakat kita.  Biasanya akan ada sesuatu dengan orang tua, begitu yang sering saya dengar. Saya sok tahu dengan menerka bakalan terjadi pada dengan Hugo atau istrinya.

Walau rasanya lucu juga, mana mungkin seorang  John Grisham yang tinggal di Amerika juga percaya hal tersebut. Dan saya menemukan jawabannya di halaman 140-an. Ternyata begitu maknanya. Baca ya biar tahu he he he.

Saya bingung membaca kalimat di halaman 345,  "Ia dan  Phyllis bisa berkeliling dunia daam perjalanan yang mewah sambil menertawakan orang-orang Indian itu." Apakah masudnya, "Ia  dan  Phyllis bisa berkeliling dunia dalam perjalanan yang mewah sambil menertawakan orang-orang Indian itu." 

Oh ya, saya jadi penasaran dengan yang disebut dengan UU RICO dalam kisah ini. Dalam https://www.greelane.com, disebutkan, "Sebagai bagian penting dari Undang-Undang Pengendalian Kejahatan Terorganisir , yang ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden Richard Nixon pada tanggal 15 Oktober 1970, Undang-Undang RICO memungkinkan jaksa untuk menuntut hukuman pidana dan perdata yang lebih berat untuk tindakan yang dilakukan atas nama organisasi kriminal yang sedang berlangsung — the raket. Meskipun digunakan terutama selama tahun 1970-an untuk menuntut anggota Mafia, hukuman RICO sekarang lebih banyak dijatuhkan."

Disebutkan juga, "Akhirnya, orang-orang yang dihukum karena kejahatan RICO Act harus menyerahkan kepada pemerintah setiap dan semua hasil atau properti yang diperoleh sebagai akibat dari kejahatan tersebut, serta kepentingan atau properti yang mungkin mereka miliki dalam perusahaan kriminal." 

Saya jadi memikirkan bagaimana nasib buku-buku edisi pertama yang selama ini dimiliki si hakim. Apakah dijadikan barang sitaan dan disimpan sebagai barang bukti saja. Atau apakah dimanfaatkan disumbangkan ke perpustakaan. Informasi lengkapnya bisa dibaca di sini

Lumayan dapat tambahan ilmu. Walau hanya bintang 3, setidaknya saya sudah membaca karya penulis favorit saya ini he he he.

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com


Kamis, 07 Oktober 2021

2021 #32: Coaching & Mentoring Research: A Pratical Guide

Keuntungan kerja di perpustakaan adalah tak pernah kehabisan buku untuk dibaca. Masalahnya hanya mau baca atau tidak he he he. Aneka buku pengayaan seperti novel, pengetahuan umum, dan sejenisnya bercampur dengan buku teks kuliah, melambai-lambai untuk ditengok ^_^.

Kadang, saya menemukan sebuah buku teks juga menarik untuk dibaca. Apa lagi topik tersebut masih merupakan yang jarang diangkat menjadi sebuah buku. 

Biasanya, saya bisa tergoda untuk menjadikannya sebagai bahan pembuatan anotasi/abstrak informatif. Salah satunya buku ini, Coaching & Mentoring Research: A Pratical Guide.

Foto: Moethia A
Penulis: Lindsay G, Oades dkk
Editor: Susannah Trefgame
ISBN:9781473912977
Halaman:256
Cetakan:Pertama-2019
Penerbit: Sage Publishing
Rating: 3/5

Anda sudah terbiasa melakukan penelitian. Hasil karya Anda sering kali dianggap sebagai trobosan baru. Dampaknya, banyak yang mulai meminta Anda untuk menjadi pembimbing penelitian mereka. Padahal selama ini Anda belum pernah mendampingi seorang peneliti, karena Anda sendirilah penelitinya.

Jangan khawatir! Dalam buku setebal 256 halaman ini, Anda akan mendapat gambaran, serta trik dan tips bagaimana  memahami peran  pembimbing penelitian dalam konteks pengajaran  dan pendampingan, beberapa fase proses penelitian dan tinjauan umum dari penelitian kualitatif dan kualitatif.

Dengan menggunakan pendekatan yang mudah dipahami,  serta aneka studi kasus, buku ini akan membuat    tugas Anda menjadi semakin lebih mudah dilakukan. 

Terdiri  dari 4 bab, mulai dari Becoming a Researcher in Coaching and Mentoring hingga  Qualitative and Mixed Method for Coaching and Mentoring Research, akan memudahkan Anda untuk  memahami isi buku  serta melakukannya.

Bagian atau dalam buku ini disebut part,  misalnya Part II phase of the research proses di halaman 45, terdiri dari sembilan bahasan. Mulai dari choosing a research methodology, reviewing literatur. research proposals, hingga dissemination of research. Tiap part terdiri dari beberapa sub part lagi.

Selain itu, pada awal sub part  sudah disampaikan apa inti dari sub part tersebut. Sebagai contoh, part III quantitative methods for coaching and mentoring research, pada sub part 27 survey designs hal 141, setelah judul disebutkan bahwa bagian ini berisikan  what are the different types of cross-sectional survey design.

Tak ketinggalan apa yang harus dicapai setelah selesai membacanya. Dalam sub part ini  terdapat 4 hal. Antara lain adalah describe key types or survey-based research designs. 

Entah apakah buku ini akan muncul dalam versi bahasa Indonesia. Tentunya akan sangat membantu jika ada penerbit yang bersedia melakukan alih bahasa untuk topik yang masih jarang diangkat ini.

Lindsay G Oades PhD adalah  seorang professor serta direktur  the Centre for Positive Psychology University of Melbourne. Australia.  Christine Leanne Siokou PhD adalah seorang peneliti di the Centre for Positive Psychology University of Melbourne. Australia , sementara Dr  Gavon R. Slemp (Psy. D, BA, Hons) adalah pengajar senior di lembaga yang sama. Dengan keahlian mereka, tentunya Anda akan bisa mendapat banyak ilmu dari membaca buku ini.



Senin, 13 September 2021

2021#31: Menikmati Karya R.L Dalam Koleksi Kantor

Kejutan!
Ketika sedang mencari buku untuk membuat tugas  anotasi/abstrak informatif,  saya menemukan buku ini baru selesai disampul, siap untuk diletakkan dalam rak koleksi. Buku karangan R.L. Stine!

Dengan nomor panggil 813 STI c, buku ini  merupakan buku pengganti dari mahasiswa yang menghilangkan buku. Demikian data yang tercantum pada informasi perihal buku ini di halaman depan. 

Saya jadi penasaran, buku apa yang dihilangkan sehingga harus diganti dengan buku ini. Agak curiga juga sebenarnya. Janga sampai buku langka yang dihilangkan (atau katanya hilang?) lalu diganti buku ini. Maafkan saya, ada pengalaman buruk soal buku penggantian he he he.

Sesuai dengan judulnya, Saat-Saat Seram, buku  setebal 192 halaman ini berisi 10 kisah yang menyeramkan. Mulai dari Kepala Labu, Nightmare Inn, Mayat,  hingga Tatapan Hantu.

Dengan ISBN  979655457 serta terbit tahun 1999, buku ini sudah menawarkan sesuatu yang berbeda pada masa itu. Pada tiap awal kisah, ada semacam pengantar dari penulis mengenai dari mana ide  kisah tersebut muncul.

Bagian dari kisah Topeng Hitam, mengingatkan saya pada salah satu film tentang permainan kuno yang membawa pemainannya memasuki dunia lain. Menegangkan!

Permen Alien berkisah tentang seorang anak yang mendadak diangkat menjadi ketua klub Alien. Semula ia bukan siapa-siapa, bahkan termasuk anak yang sering mengalami perudungan karena bentuk fisik tubuhnya.

Sebuah klub mendadak mendatangani dan menawarkan jabatan sebagai ketua klub. Tentunya sang anak langsung merasa ini kesempatannya untuk membuktikan kemampuan diri. 

Benarkah demikian? Lalu apa hubungannya dengan perman yang dibagikan setiap kali rapat? Apa hubungan barat badannya dengan ajakan menjadi ketua klub? Begitulah....

Ide kisah didapat penulis dari promosi perekrutan anggota saat tahun ajaran  baru. Ada klub yang membuka keanggotaan dengan mudah, ada yang melakukan perekrutan dengan cara diam-diam. 

Mendadak saya teringat kalau ada buku-buku sejenis dalam koleksi publik. Yang dimaksud dengan koleksi publik adalah koleksi yang boleh dipinjam oleh masyarakat umum yang sudah menjadi anggota. Jumlah koleksinya memang masih terbatas. Tapi lumayan beragam.

Sepertinya seru jika kali ini saya membuat anotasi/abstrak  informatif dari buku seperti ini. Penyegaran  dari baca buku berat.  Berikut beberapa buku yang saya buat anotasi/abstrak  informatif:

Judul asli: The Cataluna Chronicle: The Deadly Fire
Judul The Cataluna Chronicle: Mobil Maut
Ahli bahasa: Hidayat Saleh
ISBN: 979220105X
Halaman: 184
Cetakan: Pertama-2003
Rating: 3.25/5

Dalam tiga bagian, pembaca akan diajak mengikuti bagaimana balas dendam masa lalu antara dua orang berlanjut hingga masa depan, William Parker dan Catherine.

Bagian pertama berkisah tentang asal mula mobil ini. Dalam data Goodreads, buku ini merupakan buku ketiga dari The Cataluna Chronicles. Namun pada bagian awal, tetap diberikan sedikit informasi mengenai info asal mula buku ini.  

Bagian ini juga menceritakan tentang kecelakaan yang menimpa Stan McCloy ketika balapan dengan mempergunakan mobil maut The Cataluna.  Keluarga McCloy melakukannya karena iming-iming pembayaran besar untuk itu. Dan mereka sangat membutuhkan dana segar!

Bagian kedua berkisah tentang adik Stan-Buddy McCloy  yang terpukul dengan kematian sang kakak. Dilain sisi, ia merasa sang kekasih Sarah Franklin jatuh cinta pada pria lain.  Mereka sepakat untuk balapan dengan mobil masing-masing. Untuk menarik perhatian Sarah, ia berniat menggunakan The Cataluna meski kakaknya-Sean berusaha keras melarang.

Sedangkan bagian ketiga berisi tentang pertempuran kembali antara William dan Catherine. Sosok William menjelma menjadi orang lain untuk bisa mengalahkan Catherine yang dengan ilmunya menyatu dengan mobil maut The Cataluna. 

Bagian ini ditutup dengan kemenangan pada salah satu pihak. Benarkah begitu? Atau hanya  sekedar jalan untuk membuka kisah selanjutnya?Kalian tahu sekali bagaimana penulis kita ini he he he.

Judul asli: The Abominable Snowman of Pasadena (Goosebumps, #38)
Judul: Misteri Manusia Salju
Ahli bahasa: Hendarto Setiadi
ISBN: 9786020317069
Halaman:168
Cetakan: Keempat-November 2018
Rating: 3.25/5

Jordan Blake, 12 tahun  dan sang adik Nicole tinggal bersama ayah mereka Garrison Blake seorang fotografer di Pasadena, California. Kedua orang tuanya bercerai, sang ibu tinggal di Pennsylvania.

Jordan sangat ingin melihat salju apalagi ketika cuaca di Pasadena  sedang panas-panasnya. Untunglah! Berkat sang ayah yang berhasil memotret beruang coklat di Wyoming, mereka mendapat kesempatan untuk pergi ke Alaska. Ke tempat  salju berada!

Majalah Wilderness ingin ayah Jordan membuat foto tentang Manusia Salju yang dianggap misterius. Jordan dan adiknya mendapat izin untuk ikut menemani sang ayah.

Ternyata usaha memotret manusia salju tidaklah semudah memotret sekawanan beruang. Banyak rintangan yang mereka hadapi. Tidak hanya alam namun juga pemandu mereka yang mendadak meninggalkan mereka karena takut akan sosok Monter Berbulu alias Manusia Salju.

Jordan dan Nicole tanpa sengaja diburu Manusia Salju.  Untunglah mereka berhasil lolos. Sepertinya keberuntungan berada di pihak mereka. Dari semula dikerjar Manusia Salju mereka justru berhasil membawanya ke Pasadena. Siap untuk diteliti.
https://www.theguardian.com

Benarkah begitu? Atau hanya keberuntungan sesaat? Bagaimana menurut kalian?

Buku ini terdiri dari dua kisah, Misteri Manusia Salju serta sebuah kisah tipis berjudul Rahasia Kepala Terpenggal.Meski tipis, jangan diragukan ketengan yang disajikan oleh kisah tersebut.

Sang penulis,  Robert Lawrence Stine dikenal sebagai R. L. Stine  adalah seorang  penulis Amerika. Dengan sasaran pembaca kaum muda, ia sering disebut sabagai Stephen King dari sastra anak-anak melalui novel fiksi horor populer,seperti  seri Goosebumps, Rotten School, Mostly Ghostly, The Nightmare Room dan Fear Street.

Stine telah menerima banyak penghargaan, termasuk beberapa Nickelodeon Kids' Choice Awards dan Disney Adventures Kids' Choice Awards, dan dia telah dipilih oleh anak-anak sebagai salah satu penulis favorit mereka dalam program Read Across America NEA. Dia tinggal di New York, NY.

Untuk lebih lanjut seputar penulis, bisa berkunjung ke laman http://www.rlstine.com

Sumber gambar:
https://www.theguardian.com/









Kamis, 09 September 2021

2021 #30: Fakta Keren

Judul: Fakta Keren
Oleh: @FaktaKeren
ISBN: 9789792293357
Halaman: Cetakan: 2013
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Rating: 4/5

Sungguh buku yang sangat menghibur! Menaikan imun saat membacanya.  Buku ini justru saya temukan dalam dus sumbangan. Karena tertarik membaca isinya, maka disisihkan dulu. Dus sumbangan saya ganti buku lain.

Isi buku ini terdiri dari beberapa bagian. Mulai dari Fakta Unik, Fakta Manusia, Fakta Lucu, hingga Fakta Fobia dan Penyakit. Keseluruhan ada 9 jenis fakta. Jumlah halaman tiap fakta tidaklah sama. Tbal atau tipisnya tergantung dengan informasi yang diperoleh oleh tim penyusun. 

Misalnya  pada bagian Fakta Honor dan Fakta Film, hanya terdiri dari beberapa lembar saja. Sementara untuk Fakta Unik malah terdiri dari 60 halaman. Serupa dengan Fakta Manusia yang terdiri lebih dari 40 halaman.

Beberapa fakta membuat saya merenung. Misalnya tentang aneka perangkat elektronik untuk hiburan seperti XBox dan PlayStation yang dibuat di China, namun dilarang sejak tahun 2000. 

Apakah artinya mereka sudah memprediksi bahaya yang timbul dari penggunaan perangkat tersebut?  Mereka tetap memprodukasi atas dasar bisnis namun bukan berarti menerima risiko efek dari penggunaannya.

Dulu, sebenarnya masih hingga saat ini,  saya sering diingatkan agar rajin mencuci rambut. Karena kutu sangat suka hidup di rambut yang kotor. Pernah rambut saya penuh kutu ketika pulang dari kemping! 

Ketika mandi dan mencuci rambut, di hamduk terlihatlah sejumlah kutu. Panik! Langsung membeli obat kutu yang saat itu masih merupakan barang yang mudah didapati. Tak hanya saya, beberapa anggota keluarga yang berinteraksi juga ikutan memakai demi berjaga-jaga.

Dugaan sementara, mungkin salah satu teman setenda saya malas cuci rambut, apalagi  di gunung udara dingin membuat orang enggan berurusan dengan kramas.

Tapi pada bagian Fakta Unik di halaman 87 justru disebutkan bahwa kutu rambut sebenarnya lebih suka hidup di kulit kepala bersih. Duh, jadi bagaimana ini?

Tahu  boneka yang menjadi artis virtual, muncul pertama pada tahun 1987? Siapa lagi kalau bukan Barbara Millicent Roberts alias Berbie. Dengan ukuran tubuh 39-23-33 inci setara 99-58,5-84 cm, tinggi 215 cm, maka artinya ia memiliki leher 2 kali lebih panjang dari manusia normal.

Sampai buku ini terbit, tahun 2013, hanya ada 2 pabrik Barbie di dunia. Yaitu di China dan Jababeka. Meski demikian, Barbie masih merupakan mainan mahal bagi anak-anak Indonesia.

Tak heran, beberapa orang yang kreatif membuat tiruannya dan menjual dengan harga yang jauh lebih murah. Lengkap dengan pakaian, asesoris dan perlengkapan lainnya yang dipasangkan dengan Barbie. 

Cara ini lumayan ampuh bagi para ibu untuk mensiasati urusan belanja mainan. Sering kali saya menemukan sebuah boneka Barbie menggunakan pakai produksi lokal yang sering dijual di tukang mainan dengan harga sangat jauh dari pakaian versi asli. Meski demikian, Barbie tetap memiliki penggemarnya sendiri.

Fakta Lucu yang menyebutkan bahwa belajar atau membaca buku di wc sambil mengedan membuat informasi paling cepat menyerap, sungguh menginspirasi. 

Dan sepertinya tak ada penggila buku yang  papyrophobia, takut pada kertas. Kalaupun ada yang gemasr membaca tapi mengalami papyrophobia, sekarang sudah tersedia buku digital yang bisa dinikmati melalui gawai.

Meski menarik, sayangnya fakta sering disampaikan tidak runtun sehingga hubungannya menjadi bisa terlupakan. Informasi yang ingin disampaikan jadi terpotong.

Misalnya menyebutkan bahwa sangat berbahaya jika seorang astronot buang gas ketika masih memakai pakaian astronot. 

Untuk itu mereka dilarang mengkonsumsi kacang sebelum menjelajah ruang angkasa. Kurang lebih begitu yang tertera di halaman 213.

Kemudian setelah menyajikan beberapa fakta lain, muncul lagi fakta terkait bau kentut. Di halaman 230 disebutkan bahwa Makan kacang dapat  menajamkan bau kentut.

Isi buku ini dirangkum dari "cuitan" @faktakeren yang memiliki pengikut lebih dari 900.000 saat buku ini dicetak.

Membaca buku ini, membutuhkan teknik tersendiri. Tiap hari, saya hanya membaca satu hingga dua halaman. Tertawa membaca fakta unik yang disajikan, atau merenung memikirkan apakah fakta  yang disajikan tersebut sungguh benar.

Tapi saya lebih banyak tertawa, sehingga sangat bermanfaat untuk imun tubuh saya. maka saya berusaha membacanya selambat mungkin. Sungguh, buku yang unik!