Halaman: 123
Tahun terbit: 1974
Penerbit: PT Sinar Hudaya
Penerbit: PT Sinar Hudaya
"Wahai kaca
Kaca yang ada dekat jendela
Adakah beta
Wanita tercantik
dalam negeri?"
-hal 57-
Sepertinya tidak ada anak, yang tak mengenal kisah Snow White. Cerita tersebut sebenarnya sudah lama dikenal di kawasan Eropa. Berkat upaya Jacob dan Wilhelm Grimm mengumpulkan kisah rakyat dan dongeng, kisah tersebut tetap bisa dikenal hingga saat ini. Kisah tersebut semakin terkenal sejak Disney mengadopsinya dalam bentuk buku cerita bahkan film.
Ketika penjual daring langganan saya posting buku ini, langsung gercap masukan dalam list belanja. Pertama, saya merasa ini merupakan salah satu versi awal dari terjemahan kisah Snow White yang ada di tanah air. Kedua, melihat ketebalan isi, sepertinya buku ini tidak hanya berkisah tentang bagaimana si ibu tiri mencoba membunuh dengan apel, versi yang jarang ada.
Menarik!
Kita mulai dari Prakarta, yang memuat pengantar dari penerbit. Menurut penerbit, buku ini diterbitkan memenuhi anjuran Internasional Book Year, menerbitkan bacaan yang baik dan sehat bagi anak-anak. Sosok Adam Saleh dianggap sebagai individu yang pendidik yang sudah berpengalaman mendidik anak dari SD hingga SMA.
Ketika mencari informasi terkait buku, saya menemukan bahwa buku ini merupakan terjemahan dari bahasa Jepang dengan judul Shirayukihime, terbitan tahun 1965 dari Kodansha Ltd. Disebutkan juga bahwa ilustrasi dibuat oleh Makoto Sakurai.
Lanjut untuk isi. Dalam buku versi ini, tokoh utama diberi nama Puteri Putih Salju, terjemahan dari Snow White. Mungkin karena buku ini diterbitkan pada tahun 1974 dimana judul diterjemahkan sesuai dengan arti sesungguhnya. Entahlah, tapi rasanya jarang saya menemukan terjemahan kisah ini menjadi Puteri Putih Salju, umumnya terjemahan menjadi Putri Salju. Untuk selanjutnya, guna memudahkan saya akan menyebut Puteri Putih Salju dengan PPS.
Seperti yang saya duga, dalam kisah ini ibu tiri mencoba membunuh PPS sebanyak 3 kali. Pertama dengan menyamar sebagai nenek tua yang menjual perhiasan. Semua ia menawarkan kalung cantik, namun kalung berubah menjadi tali yang mencekik PPS dengan kuat. Ketika para kurcaci berhasil melepaskan tali tersebut, PPS sadar kembali.
Kali kedua, ibu tiri menjajakan sisir yang telah diberi racun ular. Dengan dalih menyisir rambut PPS, sisir tersebut ditancapkan sampai menembus kulit kepala. Bisa ular bekerja, sang putri pingsan. Untungnya berkat pengobatan dari para kurcaci PPS bisa selamat.
Terakhir, dengan apel beracun.Sepertinya ibu tiri percaya diri ia tak akan dicurigai dengan kembali menyamar sebagai nenek penjual. Hati PPS yang lembut membuatnya bisa ditipu dengan kata manis ibu tiri yang menyamar. Agak sebal juga saya dengan PPS sudah 2 kali nyaris kelaka. sudah diingatkan untuk waspada masih juga tertipu, hadehhh.
Kali ini segala upaya para kurcaci untuk membangunkan PPS tidak berhasil. Akhirnya para kurcaci menempatkannya dalam keranda kaca sehingga mereka masih bisa melihatnya. Belakangan, tidak hanya mereka namun binatang dan banyak orang tertarik untuk melihat PPS yang berwajah cantik seolah tertidur pulas dalam keranda kaca. Dan seperti yang ada di film he he he, seorang pangeran tertarik padanya.
Bedanya, dalam buku ini pangeran berniat membawanya ke kerajaan. Dalam perjalanan, terjadi kecelakaan kecil yang membuat tubuh PPS terlontar keluar. Akibatnya apel beracun yang masih ada dalam mulut muntah keluar. Hal ini membuatnya menjadi sadar dan membuka mata.
Jadi jelas ya, dalam versi ini bukan kecupan mesra pangeran yang membuatnya terbangun, tapi muntahnya apel beracun dari mulut PPS. Andai tidak ada kecelakaan dalam perjalanan, bisa saja PPS tetap dalam kondisi seperti saat ia ditemukan pangeran.
Akhir kisah, ibu tiri yang kejam mengalami celaka sehingga kakinya selop berapi alias selop yang dipanaskan dalam bara api. Ia mati tersungguh di kaki PPS. PPS dan pangeran hidup berbahagia.
Seingat saya, semoga tidak salah, dalam versi Grim Bersaudara, ibu tiri memang sengaja dipakaikan sepatu yang terbuat dari bara api sehingga ia melonjak-lonjak kepanasan-dalam buku disebut menari, hingga meninggal kelelahan,
Secara garis besar, kisah dalam buku ini lebih menyerupai versi Grim Bersaudara. Terkesan kelam dan suram. Versi Disney dibuat selalu untuk memberikan akhir kisah yang bahagia bagi para penikmat kisah PPS. Mungkin juga mempertimbangkan sebagian besar pangsa pasarnya adalah anak-anak jadi perlu melakukan penyesuaian.
Beberapa kata yang dipergunakan dalam buku ini mungkin bisa dianggap kasar saat ini, namun dahulu begitulah adanya. Misalnya para kurcaci disebut sebagai orang cebol. Kata yang belakangan dihidari untuk digunakan.
Diawal disebutkan ada ilustrastor yang ikut andil dalam buku versi asli. Ternyata ilustrasi tersebut juga ada dalam buku ini. Walau bukan berwarna namun cukup memberikan kesan unik. Tata letaknya juga dibuat dengan cara yang unik memberikan pengalaman membaca yang berbeda.
Sepertinya saya perlu mencari buku-buku sejenis untuk menambah koleksi.
Sumber gambar;
Buku Putri Putih Salju























