Minggu, 28 Januari 2024

2024 #2: Misteri Rumah Aneh

Judul asli: Teka-Teki Rumah Aneh
Penulis: Uketsu
Alih bahasa: Eri Pramestiningtyas
Editor: Juliana Tan
ISBN: 9786020669960
Halaman: 224
Cetakan: Pertama-2023
Penerbit: PT Gramedia Pustaka
Harga: Rp79.000
Rating: 3.25/5

Apakah kau menyadari ada yang aneh pada pada rumah ini?
-Teka-Reki Rumah Aneh-

Dalam rangka menyambut kehadiran anak pertama, sepasang suami-istri memutuskan untuk membeli sebuah rumah.  Ketika melihat-lihat rumah yang ditawarkan, semula mereka menyukainya.

Namun yang menjadi ganjalan, bukan kondisi rumah maupun lingkungan, tapi tata letak ruang yang ada dalam rumah dua lantai tersebut. Terdapat ruang misterius di lantai satu, letaknya antara dapur dan ruang tamu.  B
elakangan malah ditemukan potongan mayat tanpa tangan kiri di dekat rumah tersebut. Seram!

Pasangan yang semula merasa tertarik membeli, meminta bantuan salah satu sahabatnya-dalam kisah ini menjadi narator,  untuk menyelidiki keanehan rumah tersebut. Karena merasa kurang paham  dunai arsitektur, ia meminta bantuan seorang arsitek bernama Kurihara-san, yang juga menyukai hal-hal berbau horor. 
https://www.goodreads.com/
book/show/199172713

Desain rumah yang aneh serta ditemukannya potongan tubuh manusia, menjadi inti kisah dalam buku ini. Kenapa desain rumah dibuat seperti itu? Apa manfaatnya? Kenapa penghuni rumah sebelumnya pergi begitu saja tanpa pemberitahuan? Siapa sosok anak laki-laki berwajah pucat yang dilihat tetangga  berdiri di jendela rumah?

Buku yang terdiri dari  4 bab ini menawarkan kisah yang disampaikan dengan cara unik. Bab pertama berjudul Rumah Aneh serta kedua-Denah Tak Lazim,  berkisah tentang desain rumah yang tak lazim.

Bab ketiga-Tata Letak Ruang dalam Ingatan, serta bab keempat, Keluarga yang Tebelenggu, mengisahkan tentang alasan mengapa desain rumah tersebut aneh, Termasuk jawaban misteri terkait kehidupan penghuni rumah tersebut.

Nyaris pada tiap halamannya tertera denah rumah, sehingga pembaca bisa berimajinasi.  Ditambah dengan semacam dialog antara narator-disebut aku,  dengan beberapa tokoh, membuat buku ini menjadi lebih cepat selesai dibaca dari yang saya perkirakan. 
https://www.goodreads.com/
book/show/62898936

Obrolan antara Aku dan Kurihara-san, misalnya, membuat pembaca berimajinasi tentang apa sebenarnya manfaat ruangan yang tak lazim dalam rumah itu, serta alasannya dibuat. 

Rasanya seru juga jika dalam dunia nyata ada 2 orang yang bisa dengan santai asyik bercakap-cakap tentang misteri seperti mereka berdua.

Dari awal, jika dicermati, penulis sudah memberikan petunjuk mengenai kegunaan ruang misterius yang ada di rumah itu. Sayangnya, saya malah mengira itu hanyalah imajinasi liar dari percakapan Aku dan Aku dan Kurihara-san.

Secara keseluruhan, buku ini menarik untuk dibaca, terutama bagi para menikmat kisah misteri. Jika teman-teman menyukai Conan dan Kindaichi, anggap saja ini salah satu modifikasi kisah mereka. Entah kenapa, saya menganggapnya sebagai Misteri Pembunuhan Ruangan tertutup, padahal tidak ada yang dibunuh di dalam ruangan he he he. 

Meski demikian,  gabungan antara cara penulis merangkai kata, dan imajinasi yang ditawarkan membuat pembaca mengharapkan jawaban atas misteri yang tidak biasa. 

Apalagi ketika terjadi ditemukan sebuah rumah dengan disain yang nyaris serupa, memiliki ruangan misterius. Misteri semakin berkembang, apakah kedua rumah tersebut berkaitan sama dengan lainnya?

https://www.goodreads.com/
book/show/156723825
Sayangnya jawaban atas semua misteri terlalu sederhana dan agak tak masuk akal. Tapi mungkin saja di Jepang-tempat novel ini berasal, hal tersebut umum terjadi. Padahal imajinasi saya terkait rumah yang dibuat dengan tata letak tak lazim ini sudah berkembang liar. 

Pada beberapa bagian, sepertinya misteri yang ada belum dipecahkan secara tuntas. Entah karena penulis sengaja membiarkan pembaca menemukan jawaban berdasarkan imajinasinya sendiri, atau memang dianggap tidak perlu untuk dibahas kembali.

Kadang, kepercayaan pada suatu hal melekat begitu kuat dalam benak seseorang. Jika sudah begitu, ia akan melakukan hal apa saja yang dirasa perlu atas nama keyakinan. Meski hal tersebut membahayakan nyawa orang lain, dan sangat tidak masuk akal. Begitukah kehidupan.

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com




























Selasa, 16 Januari 2024

2024:#1: Kisah Pak Tua Pengantar Buku Dan Gadis Kecil Bermantel Kuning

Judul asli: Door-to-Door Bookstore
Penulis: Carsten Henn
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Jia Effendie
ISBN: 9786026486998
Halaman: 302
Cetakan: Pertama-Oktober 2023
Penerbit: BACA
Harga: Rp 99.000
Rating: 4.5/5

Juru Antar Buku tanpa buku yang diantar dan kaki berjalan sungguh tidak bermakna
-Door to Door Bookstore, hal 270-

Para penikmat buku dari sebuah  kota yang terletak di selatan Jerman, mengenal sosok Carl Kollhoff, pria berusia 72 tahun yang mengenakan pakaian hijau dan topi kain, sebagai seorang Juru Antar Buku.

Setiap pukul 7 malam, setelah Toko Buku Gerbang Kota tutup, ia akan memulai patroli mengantarkan buku-buku pesanan dengan berjalan kaki mengelilingi kota.

Para pelanggan yang memesan buku sangat menikmati buku yang direkomendasikan oleh Carl. Mereka juga orang-orang yang dengan berbagai alasan tidak ingin meninggalkan rumahnya. Kehadiran Carl merupakan satu-satunya penghubung dengan dunia luar. 
Tanpa ada yang tahu, Carl memberi nama julukan bagi tiap pelanggannya sesuai dengan nama tokoh dari buku yang ia anggap sesuai karakter pelanggannya.

Suster Maria Hildegard merupakan salah satu pelanggannya. Ia adalah penghuni terakhir di biara. Setelah 519 tahun berdiri, Vatikan memutuskan agar  Ordo Benediktin dibubarkan, Suster Maria menolak untuk meninggalkan biara.  

Pihak  keuskupan telah melakukan berbagai upaya. Undang-undang gerejawi melarang adanya gusuran secara paksa, namun jika Suster Maria keluar atas kemauannya sendiri, ia tak bisa masuk kembali. Karena tak berani menanggung risiko,  alih-alih pergi ke toko buku,  Suster Maria memesan buku dengan mempergunakan jasa carl.
https://www.goodreads.com/
book/show/62016445

Carl bisa dikatakan menjalani kehidupan dengan bahagia. Ia menjalani hari-hari dengan melakukan hal-hal yang ia sukai. Bagi banyak orang, mungkin apa yang ia kerjakan tidaklah penting, layanan yang ia berikan dianggap tidak berguna dan sudah ketinggalan zaman, setidaknya begitu menurut Sabine Gruber-pemilik toko buku tempat Carl bekerja.

Begitulah  kehidupan, kadang terjadi perubahan yang tak terduga membawa perubahan dalam kehidupan. Suatu ketika, saat sedang menjalankan rutinitas mengantar buku, Carl bertemu dengan seorang anak perempuan berusia 9 tahun yang mengaku bernama Schascha, Tanpa alasan yang jelas, ia  bersikeras menemani Carl dalam mengantar buku.

Sepanjang perjalanan, Schascha banyak bertanya, sehingga membuat Carl mulai memikirkan banyak hal yang selama ini tak pernah ia pikirkan. Semula  ia merasa khawatir pelanggannya akan terganggu dengan kehadiran Schascha. Sekarang  Carl justru  merindukan keberadaan Schascha. 
Aku juga mengantarkan buku-buku yang tidak kusukai, atau yang tidak berkesan bagiku. Kau tahu, tidak semua buku cocok untuk semua orang. Tapi bahkan buku terbodoh pun bisa mematik pemikiran. Sedikit kebodohan tidak akan  membahayakan. Kau hanya perlu memastikan bahwa kebodohan iti tidak lepas kendali dan tersebar
-hal 160-
Pada akhirnya, Carl memang harus kehilangan banyak hal. Sahabatnya sekaligus mantan pemilik buku tempat ia bekerja, koleksi bukunya, hingga tugas  sebagai Jasa Antar buku.  Bahkan Schascha juga sempat mengilang sehingga membuat Carl kebingungan mencarinya.  Sebagai penggila buku, membaca bagian ini sungguh membuat hati terasa pedih.

Saya teringat ketika memutuskan keluar dari perpustakaan tempat saya bekerja lebih dari 10 tahun. Meninggalkan tempat kerja impian walau untuk sebuah mimpi yang lebih besar, tetap saja menorehkan luka di hati.

Syukurlah, semuanya berakhir baik bagi Carl. Ia mendapatkan banyak dukungan dari banyak pihak untuk dapat melakukan sesuatu yang membuatnya kembali bersemangat hidup. Dan semuanya berkat campur tangan Schascha.
https://www.goodreads.com/
book/show/59593827

Buku setebal 302 halaman ini tak hanya berkisah tentang bagaimana Carl menjalani hari-hari sebagai seorang Juru Antar Buku, namun juga menceritakan perkembangan karakter tokoh lain. Serta banyak yang bisa dijadikan bahan diskusi dengan sesama penggila buku.

Misalnya bagaimana Suster Maria pada akhirnya memutuskan meninggalkan biara atas nama kemanusian demi menolong seorang istri yang berulang kali mengalami KDRT, atau tentang seorang pemalu  bersuara merdu yang mendadak menjadi mampu bicara di hadapan khalayak ramai.

Bahkan pembaca juga bisa mengetahui mengapa Sabine Gruber selama ini selalu bersikap seolah-olah berusaha menjauhkan Carl dari ayahnya, hingga tidak memberi izin Carl untuk datang ke pemakaman sang ayah. 

Seandainya saya adalah Sabine Gruber, mungkin saja saya akan berbuat hal serupa setelah mengetahui dan mencoba memahami alasannya berbuat demikian pada Carl. Kadang kita bisa terkejut jika mengetahui bagaimana sesungguhnya isi hati seseorang.

Membaca kalimat yang tertera di halaman 19, membuat saya teringat perdebatan yang lumayan sering terjadi antara penggemar buku fisik dengan buku digital.
Buku cetak adalah sarana terbaik untuk mengabadikan pikiran dan cerita, menjaganya agar tetap segar hingga berabad-abad.
Bagi saya pribadi, semuanya tergantung pada individu masing-masing. Saya lebih memilih buku cetak karena merasa lebih nyaman, terutama ketika harus memberi tanda pada hal-hal yang dirasa penting.

Seperti yang dirasakan oleh Carl, dia mendapatkan kenyamanan dengan menyapukan ujung jemarinya di kertas dan dengan lembut membolak-balik lembarannya. Mungkin suatu saat saya juga akan sama sukanya dengan buku digital, siapa tahu? 

Atau percakapan antara Carl dengan Gustav  Gruber,  mantan atasannya. Menurut Gustav, banyak membaca tidak akan membuat seseorang menjadi intelektual. Banyak yang menganggap bahwa membaca buku tertentu akan memingkatkan intelektual seseorang. 

Bagi saya, membaca apa saja akan membawa dampak baik bagi diri kita. Bahkan membaca komik dan novel sekalipun. Karena dalam setiap bacaan pasti ada hal positif yang bisa kita ambil hikmahnya.

Dalam buku ini, Carl  menggolongkan pembaca  menjadi 3 golongan,  kelinci, kura-kura, dan ikan.  Golongan ikan adalah pembaca yang membiarkan dirinya terseret arus buku, dengan laju cepat dan santai. 

Kelinci adalah pembaca cepat, sigap melalap isi buku, namun dalam waktu singkat melupakan apa yang mereka baca beberapa halaman sebelumnya dan terus-menerus membalik halaman ke belakang untuk mengingat apa yang telah dibaca sebelumnya.

Sementara kura-kura juga membaca ulang halaman yang sudah lewat karena mereka membaca begitu lambat, dan membutuhkan waktu bulanan untuk menamatkan sebuah buku
https://www.goodreads.com/
book/show/62016445

Hem..., saya sepertinya adalah pembaca ikan. Namun jika buku yang saya baca ternyata kurang menarik (padahal awalnya saya begitu antusias membaca), saya bisa berubah menjadi kelinci atau ikan. Bagaimana dengan Anda?

Penulis kisah ini, memasukan Trio Detektif dan Lima sekawan dalam sebuah paragraf di halaman 272. Hanya sebuah paragraf namun mampu membangkitan memori masa kecil. Dalam situasi seperti yang  dialami Schascha, saya sepertinya juga akan bertindak hal yang sama.

Agak terkejut juga menemukan kalimat ini di halaman 30, "Saya membawakan buku barAndatuk Anda."  Saya menyakini ini adalah kesalahan ketika melakukan setting untuk dicetak, maafkan saya kurang tahu apa istilahnya. Karena tak mungkin sekelas Mbak Ian dan Sis Jia bisa melewatkan hal seperti ini. Terpaksa menurunkan 0,5 poin. 

Buku ini sangat cocok untuk dibaca dan menjadi koleksi mereka yang menyukai buku dengan tema buku, juga para penggila buku. Cocok juga dihadiahkan bagi mereka yang baru mulai tertarik untuk membaca. 

Untuk urusan kover, saya agak kurang suka dengan jaket buku. karena sosok Carl digambarkan menggunakan baju biru (entah kalau itu dianggap hijau). Pada kover, lebih mendekati imajinasi saya tentang Carl dan Schascha, terpenting lebih mendekati narasi yang ada dalam buku.

Saya sangat sepakat dengan kalimat pembuka dan juga yang tertera pada akhir buku, karena buku memerlukan seseorang untuk menunjukkan jalan. Mari berterima kasih pada mereka yang sudah membuat buku ini bisa berada dalam rak buku kita.

Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com



Rabu, 20 Desember 2023

2023 #33: Kisah Cinta Shahrzad dan Raja Khalid (Buku 2)

Judul: The Rose and The Dagger
Penerjemah: Mustika
Penyunting: Katrine Amadis Mawa
ISBN: 9786024241803 
Halaman: 486 halaman
Penerbit: POP 
Rating: 4/5

"Aku adalah putra ayahku-seorang monster dalam darah dan hak." Suara Sang Khalif tetap dingin, meskipun kata-katanya terdengar panas. "Aku tidak mengumbar ancaman kosong. Kau akan mengingatnya dengan baik."
-The Rose and The Dagger, hal 311-

Buku kedua ini jelas sangat berbeda dengan buku pertama. Pada buku pertama, penekanan pada pengenalan para tokoh dan ditutup dengan Shahrzad yang terpaksa mengikuti Tariq meninggal Khorasan  demi menghindari kekacauan lebih lanjut lagi.

Secara fisik Shahrzad memang berada dekat dengan Tariq, yang dianggap cintanya. Namun begitulah, cita cinta sudah ikut campur dalam kehidupan seseorang. Bukan Tariq yang ada dalam benaknya, namun Khalid.

Kejutan! Ternyata Shahrzad memiliki kemampuan sihir. Bagian  Shahrzad menaiki karpet terbang,  begitu dekat dengan Kisah 1001 Malam. Sayangnya urusan sihir ini hanya sedikit dikisahkan dalam buku. Sepertinya hanya sekedar melengkapi persyaratan disebut kisah fantasi. 

Misalnya bagian ketika Shahrzad menaiki karper terbang untuk menemui salah satu penyihir yang dia kira bisa membantu menghilangkan kutukan pada diri, hanya menghabiskan beberapa lembar saja jika dijumlah. Kalah jauh dengan urusan percintaan para tokoh utama. Urusan roman seperti lebih banyak berperan.

Justru kisah tentang ayah Shahrzad-Jahandar yang digambarkan melakukan sihir kuat dengan bantuan buku sihir kuno lebih banyak diceritakan. Dikisahkan, karena terdorong oleh rasa sayang seorang ayah pada anak perempuannya,  Jahandar mencuri sebuah buku sihir kuno. 

Dengan pengetahuan yang diperoleh dari buku tersebut. ia berniat menghancurkan seluruh Khorasan.  Seluruh bagian kota memang hancur cukup parah. Bahkan sang Khalif tak sungkan untuk membantu dan memberikan sumbangan bagi warga untuk membangun rumahnya kembali. Untunglah saat peristiwa tersebut terjadi Shahrzad sudah pergi bersama Tariq.

Sihir itu sungguh luar biasa hingga untuk mematahkan kutukan, juga diperlukan pengorbanan yang luar biasa. Begitulah cinta seorang ayah. Ketika ia tahu bahwa perbuatannya telah melukai hati sang putri, memisahkan dirinya dengan cinta sejatinya, maka tak ragu untuk menebus segala kesalahan demi kebahagian sang putri.

Mertua Khalid dulu mengutuknya karena dianggap ia telah membuat putrinya menderita. Selanjutnya ayah Shahrzad, juga melakukan hal yang sama. Sepertinya Khalid memang kurang beruntung jika berurusan dengan hubungan menantu-mertua.

Suatu peristiwa membuat Shahrzad, Khalid, dan Tariq harus bekerja sama. Dari kekasih menjadi sahabat, dari musuh jadi sahabat, dari dendam menjadi cinta. Sungguh perubahan yang tak terduga. Hidup memang unik.

Secara garis besar, kedua buku ini memang memukau, penulis piawai memainkan kata-kata. Sebagai pembaca saya cukup terbius dalam kisah cinta segitiga antara Shahrzad-Khalid-Tariq, hingga melupakan sedikitnya unsur fantasi dalam kisah ini.

Kisah intrik yang terjadi dalam kehidupan kerajaan, menjadi bumbu yang luar biasa dalam menikmati kisah ini. Cinta seorang ayah pada anaknya perempuannya yang begitu luar biasa, tapi dilain sisi juga ada ayah yang bersikap masa bodoh pada anaknya.  Demikian juga dengan urusan perebutan kekuasan, di mana-mana sama saja. Ada pihak yang merasa berhak dibandingkan yang lain.

Untunglah, kisah ini ditutup dengan hal manis. Setidaknya pembaca bisa merasakan ada kegembiraan dari ksiah yang cenderung berkesan suram ini.

Buku ini saya peroleh dari hibah seorang sahabat buku yang sedang beberes rak buku. Suatu keberuntungan buku ini bisa menjadi milik saya.
 


Minggu, 10 Desember 2023

2023 #32: Kisah Cinta Shahrzad dan Raja Khalid (Buku 1)

Sudah lama rasanya saya tak mengalami sensasi membaca seperti ini. Begitu terpukau dengan buku pertama hingga langsung menyabar buku kedua. Hanya memberikan jeda waktu beberapa menit setiap sekian jam, sekedar untuk memberikan mata istirahat.

Padahal, awalnya saya agak ragu membaca buku-buku ini, lihat saja ketebalannya. Buku tipe buku yang bisa dibaca sambil lalu, maksudnya dibaca sebentar lalu diletakkan dan baca lagi kapan-kapan.  Ternyata saya salah! Buku yang membius pembacanya!

Bisa dikatakan ini merupakan retelling dari Kisah 1001 Malam. Dalam kisah karangan Renee Ahdieh ini, terdapat 2 buku dengan kover berbeda.  
Buku pertama berjudul The Wrath & The Dawn dan buku kedua berjudul The Rose and The Dagger.  Karena tebal, komen dibagi menjadi 2 bagian ya,

Judul buku:
The Wrath & The Dawn
penerjemah: Mustika 
Penyunting Katrine Amadis Mawa
ISBN: 9786026208743 
Halaman: 447  
Cetakan: Pertama- April 2016 
Penerbit: POP 
Rating: 4/5

Ada perbedaan besar antara bermaksud melakukan sesuatu dan benar-benar melakukannya.
-The Wrath & The Dawn, hal  262-

Pada buku pertama-The Wrath & The Dawn,  bisa dikatakan  baru memperkenalkan para tokoh. Ada  Raja Khalid,  Shahrzad,  Tariq, Rahim, dan lainnya. Anggap saja buku ini merupakan pintu masuk menuju kisah yang sesungguhnya.

Shahrzad, bisa kita sebut sebagai tokoh utama perempuan, begitu marah bercampur sedih ketika mengetahui sahabatnya, Shiva,   telah menjadi salah satu  pengantin  Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan.

Umumnya  wanita akan berbahagia dan merasa bangga jika dipilih menjadi pengantin dari penguasa. Keluarga sang pengantin wanita akan melepas dengan tangis bahagia. Tapi tidak jika pengantin prianya adalah  Khalid. Para wanita justru berdoa agar tidak terpilih, sementara jika sampai terpilih maka keluarga akan melepas dengan berderai air mata kesedihan. 

Hal tersebut, bukannya tanpa sebab.  Setiap pagi, pengantin wanita meninggal dengan lilitan tali sutra di lehernya. Tak ada yang tahu alasan kenapa Khalid melakukan hal tersebut.  Dengan niat untuk membalas dendam,  Shahrzad mengajukan diri untuk menjadi pengantinnya.

Begitu mengetahui  hal tersebut, ayahnya-Jahandar, dan saudara perempuannya melarikan diri ke rumah Tariq, kekasih masa kecil Shahrzad guna mencari perlindungan. Tapi Tariq sudah pergi bersama temannya Rahim untuk melihat apakah dia bisa menghentikan kematian Shahrzad.

Seperti kisah 1001 malam, pada malam pernikahan, Khalid mendatangi Shahrzad menjelang fajar, dan dia mulai menceritakan kisah menarik kepadanya. Ketika fajar tiba, dia berhenti dan menolak untuk menyelesaikannya sampai malam berikutnya. Dia mendapat tambahan 1 hari untuk meneruskan kisahnya.

Perlahan, Shahrzad  menemukan ada sesuatu yang tersembunyi dari Khalif Khorasan itu. Tidak ada  monster yang berada dalam tubuh  pria berusia 18 tahun, hanya seseorang yang begitu kesepian dan menderita. 

Tanpa disadari mulai tumbuh cinta dalam hati Shahrzad, apalagi mata emas Khalid selalu menatapnya dengan hangat. Hubungan mereka semakin membaik, akhirnya terungkap alasan kenapa Khalid membunuh begitu banyak wanita.

Meski belum banyak memberikan informasi mengenai bagaimanakah kisah ini akan berlanjut, sepertinya rating 4/5 layak diberikan. Sebagai pembuka, buku ini sudah mampu membius saya selaku pembaca. Tidak ada detail yang bertele-tele, semua hal ada kaitannya. 

Kalimat favorit saya dalam buku ini ada di halaman 237, "Kita cukup kuat untuk menggenggam dunia dengan tangan kosong, tapi kita membiarkan laki-laki bodoh membuat kita gila." Begitulah cinta memang mampu membuat seseorang berubah menjadi orang lain.

Saya beramsumsi, warna merah sebagai kover dipilih karena dalam buku ini dikisahkan bahwa awalnya Shahrzad begitu marah dan menaruh dendam pada Khalid.  Merah adalah perwakilan rasa amarah Shahrzad,  juga amarah Khalid pada nasib yang harus ia jalani saat itu.

Kenapa Khalid merasa marah pada nasibnya? Silakan cari tahu dengan membaca buku ini he he he.


Kamis, 30 November 2023

2023 #31: Kisah-Kisah Kocak Till Eulenspiegel

Penerjemah: Nurul Hanafi
Penyunting: Gita Karisma
ISBN: 9786237543015
Halaman: 92
Cetakan: Pertama-2019
Penerbit: Penerbit Kakatua
Harga: Rp 50.000
Rating: 3.25/5

"Tuanku yang baik, ada satu hal yang harus saya sampaikan pada Anda. Yaitu bahwa karya lukisan saya tak bisa dilihat oleh mereka yang derajatnya rendah," kata Eulensoiegel.
-hal 24-

Buku setebal 92 halaman ini berisikan kisah tentang Till Eulenspiegel,  tokoh jenaka yang berasal dari cerita rakyat menengah Jerman. Kumpulan kisahnya diterbitkan dalam bentuk  Chapbook-buklet kecil yang dilapisi kertas, tahun 1515.  Di Inggris ia dikenal dengan nama Owlglass.

Penampilan  Eulenspiegel pada kover depan, menggunakan topi dengan lonceng pada ujungnya,  menyerupai  pelawak atau badut  istana. Hal ini bisa kita anggap sebagai tanda bahwa ia adalah orang yang tak bisa serius dan memiliki banyak akal.

Terdapat lebih dari 20 kisah dalam buku ini. Mulai dari peristiwa kelahirannya, masa remaja hingga, petualangannya saat dewasa. Judul kisah yang ada juga tak kalah unik. Misalnya, seluruh  judul mempergunakan awalan kata Bagaimana. 

Ada judul Bagaimana Semua Penduduk Dusun, Pria Maupun wanita, Mengeluhkan Perilaku Si Kecil  Eulenspiegel;  Bagaimana  Eulenspiegel Menjadi Dokter Gigi dan Dokter Umum; Bagaimana   Eulenspiegel Menanam Benih Berandal; dan Bagaimana  Eulenspiegel Menakuti Seorang Pemilik Losmen di  Eulenspiegel. Serta yang kisah yang paling terkenal Bagaimana  Eulenspiegel Mengajar Seekor Keledai untuk Membaca. 

Kisah Bagaimana Eulenspiegel Melukis untuk Count Hessen dan Meyakinkan bahwa Lukisan itu Tidak Bisa dilihat oleh Orang Berderajat Rendah, membuat saya teringat akan kisah  Pakaian Baru Raja dari  Hans Christian Andersen. 

Kedua kisah menyebutkan bahwa hanya orang-orang tertentu yang mampu melihat kasil karya mereka. Dalam kisah Eulenspiegel, karya yang dimaksud adalah lukisan  asal-usul para bangsawan Hessen dan permusuhan mereka dengan para raja Hunggaria hingga pangeran saat ini di dinding grand saloon istana seorang bangsawan.

Hanya mereka yang memiliki derajat tinggi yang bisa melihat lukisan tersebut. Seorang bangsawan yang agak terbelakang, berkata dengan jujur bahwa ia tidak melihat apa-apa. Akibatnya ia dianggap memiliki derajat rendah.

Sedangkan pada kisah  Pakaian Baru Raja, 2 orang tukang jahit yang menjajikan pakaian baru bagi raja, tapi hanya orang tertentu yang bisa melihat pakaian tersebut. Ketika raja memamerkan pakaian baru dengan pawai,  seluruh penduduk negeri berbohong dengan memuji keindahan pakaian raja agar tidak dikira orang bodoh. Hanya seorang anak kecil yang menyebutkan bahwa ia tidak mempergunakan apa-apa. 

Pada Bagaimana Eulenspiegel Membikin Petugas Jaga Kota Nurenberg Jatuh ke Sungai, bagian yang mengisahkan bagaimana  petugas jaga kota jatuh ke sungai karena akal bulus Eulenspiegel, hanyalah sedikit. Yang banyak justru bagaimana Eulenspiegel bisa berada di kota tersebut.

Semula Eulenspiegel  mengaku sebagai seorang pendeta yang sedang mengumpulkan sumbangan bagi pembangunan  gereja utnuk menghormati St. Brandonis.  Ia memanfaatkan upaya orang untuk menutupi perbuatan maksiat dengan menyumbang uang. 

Eulenspiegel berkata, siapa yang gemar bermakisat tidak akan mendapat berkah. Mereka yang ingin terlihat tidak memiliki dosa, berlomba memberikan sumbangan. Kembali, pundi-pundi uang Eulenspiegel terisi penuh.

Satu hal yang pasti, jika menyampaikan sesuatu pada  Eulenspiegel haruslah spesifik, jika tidak, ia akan mempergunakannya untuk berbuat hal konyol.

Contohnya, ketika ada yang berkata "Kau lihat kan, jendela-jendelanya yang rendah menghadap jalan? Masuklah sana, nanti aku menyusul!" maka Eulenspiegel masuk dengan cara menjebol  kaca jendela. Padahal yang dimaksud adalah agar Eulenspiegel masuk ke rumah yang memiliki jendela rendah, bukan masuk melalui jendela.

Walau setiap kisah hanya terdiri dari sedikit halaman, secara keseluruhan cerita dalam buku ini membuat tertawa. Tapi, ada juga yang membuat kesal akibat  membaca akal bulus Eulenspiegel. Begitulah. 

Kalimat, "Tapi dalam petualangan berikut, yang akan sampaikan, ia tidak bisa disalahkan, karena korban tingkah usilnya tak lebih baik dibanding Eulenspiegel, dan sama sekali tak layak mendapatkan simpati kita," pada halaman 11 membuat saya merenung. 

Apakah benar kita bisa bertindak usil pada orang yang juga suka usil, atau orang yang (dianggap) suka bertingkah tidak benar? Apakah melakukan hal tidak benar menjadi dibenarkan jika melihat siapa korbannya? Rasanya tidak pas saja, menurut saya.

Mungkin, tanpa kita sadari di sekitar kita saat ini juga ada orang-orang yang memiliki sifat seperti Eulenspiegel, maka kita perlu waspada. Tentunya tidak disarankan untuk berbuat hal yang seperti yang mereka lakukan, karena itu membuat kita menjadi tak berbeda dengan mereka.

Menghibur. Semoga yang membaca cukup bijaksana untuk menjadikan isi buku ini sekedar hiburan, dan tidak terinspirasi untuk melakukan kekonyolan yang sama.

Senin, 20 November 2023

2023 #30 : Kisah dibalik Kain Batik
















Penulis: Iwet Ramadhan
Editor: Cevilia Hidayat
ISBN: 9786028740326
Cetakan: Pertama-2013
Rating: 4.5/5
Halaman: 144
Penerbit:  Literati

Aneka buku tentang batik sudah berjejer dengan manis di rak buku saya. Beberapa, isinya kurang lebih nyaris sama, perbedaan yang ada hanya hal kecil. Tetap saja, saya tak bisa melawan godaan buku dengan tema batik.

Demikian juga dengan buku ini.
Ditawarkan dengan harga promosi, siapa yang tak tergoda. Untuk urusan isi, semula saya pikir tak berbeda dengan buku-buku lainnya. Ternyata saya salah, ada sesuatu yang spesial dari buku ini.

Pertama uraian tentang ketertarikan penulis pada batik, dibagikan dengan cara yang indah. Saat membaca, seolah-olah sedang mendengarkan kerabat bercerita tentang kisah hidupnya. Ada kedekatan emosial yang terbangun.

Kedua, contoh kain yang ditempelkan membuat buku ini memiliki ciri khas tersendiri. Memang tidak besar dan banyak, tapi pembaca menjadi lebih paham tentang apa yang diuraikan penulis. Hal ini, berarti harus ada pekerja yang secara khusus menempelkan contoh batik pada tiap buku. Totalitas.

Uraian tentang aneka motif membuat saya semakin paham. Kain dengan motif Ceplok Slobok dari Surakarta ini, sering dipergunakan untuk menutup jenazah. Dengan harapan agar arwah dapat menemui Penciptanya tanpa ada halangan apa pun. Konon kain motif  hanya dimiliki orang tertentu saja, sehingga sering dipinjamkan pleh pemiliknya.

Dalam proses pernikahan, motif  diibaratkan sebagai doa sehingga motif yang digunakan dipilih dengan teliti. Truntum dipakai oleh orang tua mempelai sebagai simbol harapan agar cinta kasih kedua pengantin tak akan pernah pudar.  Sedangkan pengantin mempergunakan motif Sido Mukti. Pagar ayu dan bagus mempergunakan motif Lereng atau Parang.                                                    
Rasanya sulit menghafalkan aneka motif batik. Penulis memberikan saran agar kita memperhatikan terlebih dahulu detail motifnya baru kombinasinya. Memang butuh waktu, tapi tak ada yang tak mungkin jika kita memang ingin belajar memahami batik.

Selain membuat pengetahuan saya tentang motif bertambah, ada juga uraian tentang batik Madura, yang jarang ada dalam koleksi buku saya.

Ternyata,  batik dibuat langsung tanpa pola. Semuanya menggunakan teknis tulis, yang membedakan adalah kehalusan motif serta jenis cating yang digunakan. Menarik bukan!

Meski mengusung nama sponsor yang dicetak pada bagian akhir, tetap saja ini buku yang menarik. Saya malah mengharapkan ada lebih banyak produsen yang berkeinginan menjaga kekayaan lokal dengan cara seperti ini.

Dengan berat hati terpaksa menurunkan nilai 0,5 karena pada beberapa bagian, pilihan huruf yang dipakai justru menyulitkan membaca walau secara estetika memang menawan.

Senin, 06 November 2023

2023 #29: Marketing Wise: Pendekatan Inkonvensional Terhadap Strategi Pemasaran Di Asia

Namanya penggila buku, tak akan pernah rak buku bisa tersusun rapi dalam jangka waktu lama. Ada saja yang membuat rak harus kembali berantakan. Entah karena ada buku baru yang berdatangan, buku yang habis dibaca ulang atau digunakan sebagai referensi dan belum dikembalikan ke tempatnya, memindahkan susunan buku, hingga dengan berat hari mengeluarkan koleksi untuk menyediakan tempat bagi buku baru.

Demikianlah akhir pekan kali ini dihabiskan dengan menyusun ulang rak, karena baru saja mengeluarkan sederet buku-buku marketing untuk dihibahkan pada anak wiradha (mahasiswa yang magang kerja di kantor). Sungguh kebetulan dia mengambil jurusan marketing, jadi bisa menampung buku-buku saya.

Sambil beres-beres, mendadak menemukan buku-buku yang layak diberikan komentar karena isi dan keunikannya. Salah satunya buku ini. Sambil baca ulang sekilas, menggali memori saat kuliah dahulu. 

Marketing Wise: Pendekatan Inkonvensional Terhadap Strategi Pemasaran Di Asia
Penulis: Sunny T.H. Goh, Khoo Kheng-Hor
Penerjemah: Grace Satyadi
ISBN: 9796946653
Halaman: 281
Cetakan: Pertama-2005
Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer
Rating: 5/5

Ternyata dulu pernah membaca buku ini tapi "melaporkan" dalam versi bahasa Inggris. 
Mencoba memasukan versi bahasa Indonesia-nya namun gagal terus, baiklah.

Ini merupakan salah satu buku yang membuat saya begitu terpesona dengan dunia marketing.  Urusan marketing sering dianggap sepele, apa susahnya menjual atau memasarkan suatu produk? Padahal tak begitu adanya.

Ketika baru lulus, banyak teman kuliah saya yang dengan bangga menyebutkan bahwa mereka telah diterima kerja sebagai marketing, ujung tombak perusahaan, kata mereka dengan jumawa.

Siapa yang tak akan begitu? Baru lulus diberikan tugas yang (menurut mereka) menentukan nasib perusahaan. Tugas mereka (katanya) adalah mengupayakan sekian banyak produk laku dalam sekian waktu. Sehingga perusahaan bisa bertahan, bahkan berjaya. Tentunya mereka akan mendapatkan konpensasi yang menarik.

Tak semudah itu! Walau kelihatan sepele, ternyata banyak juga yang tak bisa memenuhi target penjualan, berbuntut pemutusan kontrak kerja. Selamat datang di dunia nyata!

Membuat seseorang membeli produk atau jasa yang kita tawarkan butuh banyak faktor, tidak cukup mulut manis yang mengeluarkan banyak rayuan maut ^_^.

Buku ini,  membuka cara pandang saya hingga paham betapa kuatnya  merek sebuah produk sehingga orang selalu mengidentikan produk itu dengan kategori. Dan butuh banyak sumber daya dan strategi untuk bisa sampai pada titik tersebut.

Dulu, orang menyebut odol ketika membeli pasta gigi, seiring waktu berubah menjadi Pe***den*. Demikian juga pembalut wanita, semua akan menyebutkan s**t*x. Atau membeli air kemasan dengan menyebutkan A*ua, walau yang dibeli bukan merek tersebut.  Promosikan kategori, bukan merek, demikian menurut buku ini.

Sudahkan Anda tahu kenapa seseorang membeli produk yang Anda jual? Apakah Anda tahu bahwa sesungguhnya mereka tidak membeli produk tapi membeli solusi yang diberikan oleh produk yang Anda jual? Maka  tawarkan solusi, bukan produk.

Jadi, jangan menggaungkan sebuah alat untuk mengepel lantai dengan praktis karena Anda tak perlu berjongkok dan memeras pel dengan tangan.  Tapi promosikan sebuah alat pel yang membuat pinggang Anda tidak perlu merasa pegal dan tangan Anda tak akan kotor karena ada alat pel yang bisa dioperasikan sambil berdiri, bahkan menemani Anda berjogat sambil mendengarkan lagu.

Anda juga tak perlu merasakan kotornya air sisa pel, karena alat tersebut memiliki kemampuan untuk memeras air tanpa perlu Anda sentuh. Tinggal operasikan bagian tersebut, jika ingin mengepel lagi. Jika sudah selesai tinggal buang air sisa pel yang ada di ember, lalu simpan seluruh perlengkapan. 

Anda bisa mengepel kapan saja, bahkan sebelum berangkat ke kantor tanpa perlu khawatir pakaian kerja kotor. Dan waktu mengepel yang lebih singkat, membuat manajemen waktu Anda tak akan kacau.

Anggapan bahwa iklan harus mampu meningkatkan penjualan tidaklah benar. Iklan harus meyakinkan merek, terutama penetapan ancangannya agar tetap hidup dan merasuki pikiran pelanggan.

Inspiratif!

Selasa, 17 Oktober 2023

2023#28: Kisah Percintaan Loki Tua

Penulis: Yusi Avianto Pareanom
ISBN: 9786238845910
Halaman: 348 
Cetakan: Pertama-Juni 2023
Penerbit: Banana Publisher
Harga: Rp 125.000
Rating: 4/5

Kau tak bisa memilih terlahir di keluarga macam apa dan di mana. Tapi, kau bisa memutuskan siapa yang menjadi temanmu dan bagaimana kau menjalani kehidupanmu.
-Pengantin-pengantin Loki Tua, halaman 159-

Pertama kali mengetahui tentang buku ini, sempat penasaran apa hubungannya dengan Raden Mandasia si Pencuri Daging? Ternyata ini merupakan spin-off, cerita tentang tokoh yang merupakan bagian dari kisah lain. Bersama Sungu Lembu, Loki Tua merupakan tokoh pendamping dalam buku Raden Mandasia si Pencuri Daging. Komentarnya ada di sini.

Jika dalam kisah  Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi, tugas  Loki tua adalah memandu Raden Mandasia dan Sungu Lembu  ke Kerajaan Gerbang Agung. Dalam kisah tersebut, pembaca juga disuguhi aneka adu jurus dan perang.  Maka dalam buku ini mengisahkan tentang perjalanan hidup Loki Tua. Pastinya ada hubungannya dengan keterampilan memasak yang dimilikinya.

Kata "Pengantin-pengantin" langsung membuat saya  membayangkan polah Luki Tua yang luar bisa unik, terutama dalam urusan mendapatkan "Pengantin". Jika tidak karena ulahnya yang nyentrik, mana mungkin ia bisa  terikat kontrak memasak untuk seseorang selama 1 tahun penuh.

Benar saja, bagian awal sudah dibuka dengan  kekesalan Loki Tua karena tidak bisa memasak di tempatnya yang baru, Di sana, laki-laki haram masuk dapur. Memasak dianggap merupakan pekerjaan perempuan. Tentu saja ada pengecualian, tapi Loki Tua jelas tak masuk dalam kategori itu. Dilarang memasak baginya sama saja dengan melarangnya hidup! 

Menarik sekali mengikuti perjalanan hidup Loki Tua. Dia memang menikah dengan beberapa perempuan, sesuai dengan judul buku, tapi yang utama untuk disimak adalah bagaimana ia menghadapi berbagai peristiwa yang pada akhirnya mempertemukannya dengan para istri.

Hidup memang unik. Hari ini seseorang bisa begitu bahagia, esok ia bisa menjadi sosok yang paling sedih. Demikian pula dengan kisah kehidupan Loki Tua. Sesaat bahagia, dilain waktu ia begitu menderita. 

Satu yang pasti, Loki Tua bisa selamat dari berbagai bahaya serta mendapat kebahagian karena keahlianya memasak. Walau begitu, ia harus mampu menahan emosi karena kemampuan memasaknya juga yang nyaris membuatnya celaka.

Pada bagian yang mengisahkan tentang keberuntungannya mendapatkan 7 pisau dari seorang pandai besi, saya langsung teringat pada sebuah kisah sejarah. Karena terpikat dengan kisah hidup dan keahliannya memasak, Ki Ranggahasta memintanya untuk menjadi menantu. Sebuah kehormatan bagi Loki Tua.

Sayangnya, kebahagian tak lama bisa ia nikmati. Seorang perwira muda menagih keris yang dijanjian,  ia begitu marah, mengetahui alih-alih membuatkan keris pesanannya, Ki Ranggahasta  justru mendahulukan membuat pisau bagi orang asing. Ki Ranggahasta terbunuh dan mengeluarkan sumpah. Nah, tahu dong ini  mirip dengan kisah siapa.

Mereka yang mengalami masa kecil tahun 80-an, umumnya sering menonton video serial kungfu, dimana dalam beberapa seri disebutkan tentang Partai Pengemis. Para pengemis yang sering diremehkan orang, ternyata memiliki kemampuan bertarung yang tinggi. Urusan organisasi juga tertata rapi, sebagai penanda ketua mereka membawa tongkat dari batu giok.

Dalam kisah ini, juga ada kelimun juru masak Sumpit Merah. Para anggotanya mempergunakan sumpit berwarna merah, kedudukan mereka dalam perkumpulan ditandai dengan panjang warna merah pada sumpitnya.

Perkumpulan tersebut suka menantang juru masak rumah makan. Jika rumah makan kalah,  pamor mereka terjun bebas hingga mengakibatkan  kebangkrutan. Adu ilmu memasak ini menjadi tontonan  menarik warga sekitar. Juri dipilih orang yang netral seperti pengunjung yang mau bersantap. 

Kali ini mereka menantang rumah makan tempat Loki Tua bekerja, Selera Raja. Selama ini orang hanya mengenal Loki Tua sebagai pesuruh rendahan walau ia berada di sana atas saran seorang juru masak senior. Dari bukan siapa-siapa, mendadak ia naik pangkat menjadi juru masak mewakili Selera Raja. Bisa ditebak kelanjutan kisah pertempuran di sana.

Adu keahlian memasak membuat teringat kisah The Real Master Cooking dari Etsushi Ogawa. Urusan memasak tidak cukup hanya mampu meracik bumbu hingga menghasilkan bau masakan yang menggugah selera saja, banyak elemen lain yang juga harus diperhatikan.

Loki Tua membuat memasak menjadi sebuah seni, tak sekedar memenuhi kebutuhan perut saja. Sayuran yang dicuci dengan air berbeda, bisa menghasilkan rasa yang berbeda pula. Perhitungan waktu memasak daging bisa membuat rasa daging menjadi luar biasa walau hanya diberi bumbu sederhana.

Beberapa kali saya mendengar orang menertawakan pria yang memiliki hobi memasak, padahal memasak adalah keahlian dasar yang perlu dimiliki semua orang. Loki Tua adalah contoh nyata bagaimana keahlian memasak menyelamatkan hidupnya. Beberapa teman pria saya justru tertarik memasak dari kebiasaan  membantu ibunya berbelaja sayur di warung.

Dalam urusan menikah, sepertinya Loki Tua tidak beruntung. Kebahagiaan yang ia peroleh hanyalah sesaat. Sekian lama memendam rasa rindu pada istri yang tak pernah bisa ia temui. Penulis mengakhiri kisah tanpa membuat pembaca tahu bagaimana kehidupan Loki Tua selanjutnya, apakah bahagia atau menderita. Tergantung persepsi masing-masing pembaca setelah membaca bagian akhir kisah ini.

Sebuah buku yang menarik. Saya mengalami kesukaran membuat komentar karena banyak hal unik yang rasanya perlu dibagikan, tapi jika dibagikan semua akan membuat keseruan pembaca menikmati buku ini berkurang.


Selasa, 26 September 2023

2023 #27: Siapakah yang Datang ke Pemakamanku? Sebuah Perenungan

Penulis: Kim Sang-hyun
Penerjemah: Dewi Ayu Ambar Rani 
Penyunting: Andry Setiawan
ISBN: 9786237351542
Halaman: 168
Penerbit: Penerbit Haru
Harga: Rp 82.500
Rating: 3.75/5

"Siapa yang mengurus buku-bukumu kalau kau meninggal nanti?"

Kalimat tanpa basa-basi tersebut dilontarkan salah satu sahabat saya ketika reuni. Mulainya kami hanya bersendau gurau tentang masa lalu. Kemudian, saling mengajukan pertanyaan tentang hobi mengoleksi. Ada yang mengoleksi tas, helm, asesoris, korek dan lainnya. Saya jelas menyebutkan buku ^_^.

Entah bagaimana seorang sahabat mengajukan pertanyaan unik. "Jika kalian  nanti meninggal, siapa yang mengurus koleksimu?" Jawaban beragam. Pengoleksi tas  menjawab anak perempuannya dan menantunya kelak. Pemilik helm menjawab anak laki-laki, menantu. dan cucu. Jika tidak ada mereka, ia punya keponakan yang memiliki hobi sama. 

Hem..., saya bingung harus menjawab apa. Anak satu-satunya tak suka membaca, jangan-jangan koleksi saya habis dijual dalam hitungan bulan. Belahan Jiwa? Nanti dulu. Sepertinya si yayang juga punya masalah yang sama. Jadi ke siapa koleksi harus diserahkan?

Sebuah pertanyaan iseng yang membuat kehidupan saya berubah total! Jadi, saya harus mulai memikirkan siapa yang bakalan mendapat limpahan tugas untuk menjaga koleksi buku. Terutama koleksi Little Women yang saat ini sudah menyentuh angka 270-an.

Mendadak jadi teringat akan sebuah buku yang mengajukan pertanyaan serupa. kebetulan ada acara Patjar Merah yang menggelar aneka buku dengan potongan menarik. Plus ada kegiatan berbincang dengan penulisnya. Langsung cap-cus meluncur.

Buku ini, kurang lebih membahas hal-hal yang sepertinya sepela namun sebaiknya menjadi bahan perenungan. Terdiri dari 4 bab, dan sekitar 40-an sub bagian.  Hanya ada satu judul tulisan terkait kematian, yaitu  Kenangan dan Kematian di halaman 82.

Menjadi bagian Bab 02 Hati yang Hilang,  Kenangan dan Kematian, mengisahkan tentang perenungan penulis akan kematian. Bermula dari menonton film animasi Coco saat baru keluar dari rumah sakit, penulis jadi berpikir banyak hal. Apa yang akan dilakukan ketika kematian tiba? Bagaimana pemakaman dijalankan? Apakah orang akan ingat akan dirinya ketika ia sudah meninggal? 

Kemudian penulis teringat akan kakeknya yang sudah meninggal, suatu kematian yang mendadak akibat kelalaian orang lain. Ia teringat bagaimana sang kakek menunjukkan kasih sayang pada anak dan cucunya melalui perbuatan sederhana. Nama penulis juga pemberian sang kakek, yang merupakan harapan agar ia dapat bersikap penyabar, baik, dan bijaksana. 

Padahal, sebagai seorang penulis, Kim Sang-hyun sudah meninggalkan buku sebagai bukti keberadaan dirinya. Buku tentunya akan bermanfaat bagi banyak orang dengan cara yang unik. Maka, akan ada orang(-orang) yang mengenang dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
Banyak pengetahuan yang diajarkan kepada penulis. Banyak hal yang diberitahukan. Namun, sang kakek tak bisa memberitahukan kapan dan bagaimana beliau meninggal. Tak ada yang bisa tahu perihal kematian, misteri dunia. 

Saya menjadi ingat buku Psikologi Kematian 2 Menjemput Ajal dengan Optimisme dari Komaruddin Hidayat. Mendengar kata kematian saja sudah membuat tidak nyaman, tak terbayang  harus mempersiapkan diri dengan optimisme. 

Jika bisa, tentunya setiap manusia ingin hidup selamanya. Sayangnya, tak bisa begitu.  Yang perlu kita siapkan selain bekal kebaikan, adalah menjaga segala tingkah laku kita agar segalanya memudahkan kita kelak. 

Buku  tersebut membuat saya merenung, apakah sudah benar "jalan" saya. Apakah ada yang harus diubah, diperbaiki, atau bahkan dhilangkan jika salah. Silakan berkunjung ke laman ini  untuk mengetahui lebih lanjut tentang buku tersebut.

Tulisan Apa pun Kata Orang, Aku Harus Hidup sebagai Diriku Sendiri, menguraikan tentang seseorang yang mendapat gangguan melalui media sosial. Gangguan yang  dapat dikategorikan dalam pencemaran nama baik, memang pada akhirnya dapat diselesaikan melalu jalur hukum. 

Sebelum kasus selesai, kondisi korban patut mendapat perhatian. Aktivitasnya jelas terganggu, kejiwaannya juga. Untunglah kehadiran penulis sebagai seorang sahabat mampu membuat korban kuat menghadapi cobaan tersebut. 

Pembaca bisa mengambil hikmah dalam kisah ini. Bahwa seseorang dalam kehidupan ini, kadang membutuhkan keberadaan orang lain. Tak ada mungkin menyenangkan semua orang, jika ada yang tak menyukai kita, abaikan saja. Karena kita hidup bukan untuk membuat senang orang lain.

Judul buku ini memang mengundang perhatian, seperti yang disebut di atas, urusan kematian sepertinya malah mendapat porsi yang tak banyak.  Sebagian besar isi buku ini memuat bagaimana kita menjalani kehidupan dengan lebih makna. Sehingga, jika memang sudah waktunya, kematian kita tidak sia-sia. Apa yang kita pernah kerjakan selama hidup akan membawa manfaat bagi banyak orang. 

Walau bahasa yang dipergunakan dalam buku ini mudah dipahami, tapi untuk buku setebal 164 halaman ini, tidak disarankan untuk dibaca dengan sistem kebut. Baca satu tulisan, renungkan sejenak, ambil hikmahnya, kemudian baru lanjutkan membaca bagian yang lain.
https://www.goodreads.com/
book/show/48563456

Beberapa tulisan bisa saja sesuai dengan kondisi pembaca, atau pernah menjadi bahan renungan kehidupan. Jika sependapat, merupakan sebuah kebaikan, tapi jika tidak setuju dengan pendapat penulis, anggaplah sebagai hal yang wajar. Karena setiap individu memiliki pandangan masing-masing dalam menyikapi kehidupan ini.

Untuk urusan kover, ilustrasi seorang pria yang seakan-akan berada dalam gelas, dimana ternyata rumput tempat ia berbaring terdiri dari beberapa lapisan, membuat imajinasi pembaca berkembang. Saya jadi membayangkan sosok seseorang yang berada dalam peti mati. Sendiri, tak ada yang mengingat apalagi mengunjunginya. Tapi, dalam kematian ia terlihat tentram.

Kembali teringat sebuah buku, The Things You Can See Only When You Slow Down: Cara untuk Tetap Tenang dan Berkesadaran di Tengah Dunia yang Serba Cepat (bisa dilihat di sini). Banyak hal-hal penting yang terlewatkan tanpa kita sadari. Entah berapa banyak momen menarik yang kita abaikan tanpa sengaja. 

Ada waktu untuk kita sejenak menarik diri dari dunia dan merenungkan apa yang sudah kita capai, dan bagaimana upaya untuk mencapai keinginan yang belum bisa kita raih. Pertimbangkan potensi diri yang belum dikembangkan secara optimal, pikirkan upaya menekan kekurangan diri. 

Kembali, jadi bagaimana nasib buku-buku saya nanti? Pasrah, karena setelah saya tiada nanti, setidaknya jika anak tak bisa mengurus, ia bisa menjualnya untuk menyambung kehidupan. Anggap saya saya berinvestasi. terutama jika melihat harga buku koleksi saya dijual dengan harga fantastis pada beberapa situs daring.

Kalimat favorit saya dalam buku ini.
Lebih baik hidup dengan sukacita hari ini daripada hidup memikirkan kesalahan yang telah berlalu.
Buku yang akan membuat kita memandang dan menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda 

Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com
Koleksi pribadi