Rabu, 20 Mei 2020

2020 #22: Mendalami Resensi

Judul asli: Inilah Resensi: Tangkas Menilik dan Mengupas Buku
Penulis: Muhidin M. Dahlan
ISBN: 9789791436601
Halaman: 256
Cetakan: Pertama- Februari 2020
Penerbit: I: BOEKOE
Harga:Rp 65.000
Rating:3.75/5

"Tak ada resensi buku tanpa lewat praktik membaca. Bahkan, meresensi adalah salah satu modus membaca paling intim; tak hanya melibatkan emosi, tapi juga inetelktual dan keterampilan merumuskan ulang lewat tulisan pemikiran yang tersaji dalam buku. Meresensi adalah menuliskan kembali apa yang tersirat maupun tersurat dalam buku yang dibaca."
~Muhidin M. Dahlan~


Buku  Inilah Resensi:Tangkas Menilik dan Mengupas Buku (2020) memberikan wawasan mengenai bagaimanakah seharusnya resensi itu dibuat sehingga menarik untuk dibaca. Selain itu, diberikan juga beberapa tips agar pembaca bisa lebih menikmati buku yang dibaca. Karena sejatinya resensi baru bisa dilakuan setelah membaca sebuah buku.

Disajikan dengan beragam rekaman resensi-resensi dari  para peresensi/pengupas/penilik buku, bahkan karya Sukarno-Hatta, buku ini menjadi makin mudah dipahami. Pembaca bisa langsung melihat bagaimana aplikasi  teori yang disajikan  dalam praktik membuat resensi.

Membuat sebuah resensi, Sukarno menyebutnya sebagai tilikan, bisa dianggap sebagai apresiasi bagi buku yang dibaca.  Membuat resensi berarti Anda melakukan rekontruksi ide  tulisan. Termasuk menuliskan hal yang tersurat serta tersirat.  Namun untuk membuatnya menjadi sebuah  resensi  yang menarik, tentunya dibutuhkan trik sehingga tulisan yang Anda buat bukan sekedar rangkuman atau salinan buku semata.

Buku yang dibuat berdasarkan pengalaman dua dekade lebih penulis dalam dunia resensi  dapat mengenai bagaimanakah membuat resensi yang baik juga menarik untuk dibaca, antara lain;
1. Apa yang dimaksud dengan resensi;
2. Bagaimanakah membuat judul resensi yang menarik;
3. Tips membuat paragraf awal yang menarik;
4. Trik membuat uraian yang berbobot namun tidak membosankan;
5. Bagaimana mengakhiri resensi dengan menawan.

Sebelum mulai, apakah Anda sudah tahu apa yang dimaksud dengan  blurd, sinopsis serta resensi? Meski sering disebut dalam dunia buku, namun ketiganya merupakan hal yang berbeda.  Blurd  biasanya dipergunakan oleh penerbit untuk memancing rasa ketertarikan pembaca. Ditempatkan pada bagian belakang buku. Isinya berupa  penggalan kisah yang dianggap menarik tanpa membocorkan keseluruhan kisah yang ada dalam buku.

Sinopsis merupakan ringkasan kisah atau alur secara lengkap. Biasanya ini untuk  novel. Mulai dari awal kisah, konflik yang ada, hingga penyelesaian konflik. Dijelaskan juga siapa saja tokoh yang ada berikut karakternya, setting, dan hal lain yang ada dalam kisah. Bisa dikatakan sinopsis adalah versi  singkat dari buku.

Resensi sendiri berasal  dari bahasa Latin yaitu revider/recensere/recensio yang berarti menimbang atau menilai sebuah  buku. Umumnya resensi akan berisi informasi seputar buku, hal utama yang dibahas dalam buku, serta penilaian seseorang pada kelebihan dan kekurangan  isi buku secara berimbang.

Melakukan resensi sama halnya dengan upaya untuk memahami isi sebuah buku dengan itens serta memberikan umpan balik atas buku tersebut. Untuk dapat melakukan resensi, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah membaca serta memahami buku yang akan diresensi. Jelas bukan, bahwa membaca merupakan inti dari kegiatan meresensi.

Untuk itu,  ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu merencanaan bacaan Anda ( misalnya pemilihan topik, penulis, tahun terbit),  fokus dan dalam membaca bacaan yang sudah direncanakan hingga tidak timbul keinginan untuk membaca buku lain; serta membagikan apa yang kita telah baca (bisa dengan cara membagikan kutipan yang dianggap penting dari buku  tersebut)

Judul bisa disebut sebagai  pintu masuk dalam menikmati sebuah resensi. Judul pula yang akan menjadi penentu apakah karya kita akan dibaca  dan dinikmati oleh orang lain. Melalui pemilihan judul yang tepat pula resensi yang dibuat akan diterima atau ditolak untuk dimuat dalam media massa. Maka pembuatan judul harus dilakukan dengan seksama agar mampu membangkitkan minat baca.

Pergunakan kata yang menghasilkan  judul spektakuler, kata-kata bombastik. Kata kerja yang menimbulkan kesan menggelegar juga bisa digunakan, misalnya kata "Mengungkap". Langsung pada hal yang ingin disampaikan, tak usah basa-basi. Hal ini akan membuat pembaca merasa penasaran hingga tertarik membaca resensi yang dibuat.  

Setelah Anda berhasil "menjerat" membaca melalui judul, maka langkah penting selanjutnya adalah membuat sebuah paragraf  yang mampu membuat pembaca tetap tertarik sehingga terus membaca resensi sampai tamat.   Dalam buku ini, penulis memberikan beberapa model penulisan paragraf awal yang bisa Anda pertimbangkan. Mungkin Anda bahkan bisa membuat modifikasi.

Jika buku yang Anda resensi terbit memiliki sejarah tersendiri, misalnya sudah cetak ulang sekian kali, atau dalam rangka memperingati suatu peristiwa, maka hal tersebut bisa dicantumkan sebagai paragraf awal.  Sehingga pembaca memahami kelebihan dari buku yang Anda resensi. Misalnya, "Kisah XX merupakan bagian dari seri Z, hingga saat ini sudah mengalami cetak ulang hingga 6X

Anda sudah sukses membuat judul yang mampu menarik minat pembaca, disusul dengan paragraf pertama yang menggoda, sekarang tugas Anda adalah membuat narasi  penuh. Paragraf-paragraf yang ada merupakan pendalaman resensi, ulasan dari buku tersebut. Bisa juga  ditambahkan  informasi  terkait buku tersebut dari sumber lain.

Bacalah dengan teliti buku yang akan diresensi, carilah bagian yang paling penting, inti dari buku. Kemudian ceritakan ulang dengan bahasa Anda, berikut alasan kenapa bagian tersebut dianggap penting menurut versi Anda.  Jika Anda merasa hanya perlu fokus pada 1 hal yang dianggap penting saja, maka ulaslah dengan lebih mendalam  point tersebut.

Jika yang Anda resensi adalah buku biografi, maka sangat penting untuk mengulas point yang membuat tokoh tersebut mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Mainkan sub judul jika dianggap perlu. Ungkapkan juga kisah-kisah yang Anda anggap paling menarik,  hal ini juga berguna jika Anda meresensi buku  kisah inspiratif.

Ketika Anda membaca buku, pada halaman awal , walau ada yang meletakkan pada halaman terakhir, terdapat beberapa informasi seputar buku. Mulai dari nama pengarang, editor, ISBN, waktu terbit, halaman, ukuran buku, edisi, penerbit, bahkan ada yang mencantumkan harga. Informasi dalam halaman  tersebut bisa kita sebut sebagai  identitas dari buku, Kolofon.

Saatnya mengakhiri resensi yang Anda buat.  Paragraf terakhir harus dibuat dengan apik sehingga memberikan kesan mendalam bagi pembaca resensi tersebut.  Umumnya paragraf penutup berisi kesimpulan dari resensi.  Anggap menjadi bagian pamungkas dari keseluruhan uraian yang ada. 

Paragraf akhir bisa juga menyebutkan siapa yang paling tepat membaca buku ini.   Bisa dilihat dari tema,  isi, penyajian buku, hingga harga jual. Misalnya. " Mengingat isinya, buku ini sebaiknya dibaca oleh...".  Coba cari  tahu, buku ini merupakan sumbangsih penulis bagi siapa saja?  Hal tersebut bisa diolah menjadi paragraf penutup. 

Kritik merupakan hal yang juga sering ditemukan dalam penutup resensi.  Kritik bisa dilakukan melalui pendekatan keilmuan yang dimiliki oleh penulis. Misalnya mengapa menerima point A dan menolak point B, kenapa menerima pemikiran si Z dan menolak si Q.  Telaah  kriteria dasar yang dilakukan oleh penulis.

Selain kritik, tentunya pujian bisa menjadi penutup resensi.  Puji hal paling menonjol dari buku tersebut, contohnya tema yang tak biasa. Perlu diperhatikan,  pujian dilakukan dengan  porsi yang tepat. Jangan sampai Anda dikira sebagai agen pemasaran buku tersebut karena memberikan pujian yang terlalu berlebihan.

Cocok dibaca oleh pembaca yang ingin membuat resensi  baik untuk keperluan pribadi maupun secara profesional, para mahasiswa jurusan sastra, para guru dan dosen Bahasa Indonesia, para pustakawan, dan tentunya bagi para  pembaca yang tertarik  akan dunia penulisan

Muhidin M. Dahlan lahir  pada 12 Mei  1978 di Donggala, Sulawesi Tengah. Ia juga merupakan seorang  Guru Utama di program Kelas Menulis Kreatif yang diselenggarakan Radio Buku. Pendiri Yayasan Buku Indonesia dan  databuku.id ini bisa melalui surel di gusmuh12@gmail.com atau twitter  @warungarsip | @radiobuku, atau laman MUHIDINDAHLAN.RADIOBUKU.COM.

Beberapa karyanya antara lain; Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (2003); Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan (2009);  Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku (2009); Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku (2011); Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor (2016).










Senin, 04 Mei 2020

2020 #21: Kisah Petualangan Raffles Holmes & Co.

Penulis: John Kendrick Bangs
Penerjemah: Armyanti Aprellia
Editor: Anton WP
ISBN: 9786237245292
Halaman: 144
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: BukuKatta
Harga:Rp 55.000
Rating: 3.75/5

Jika kulakukan dengan cara Raffles saja, aku bisa saja menjadi milyuner di dunia yang berlimpahan uang dan kemewahan ini, karena orang-orang kaya di sini sangat teledor-tapi jika begitu ke mana perginya hati nuraniku? Di sisi lain, jika hanya menggunakan cara Holmes, aku akan mati kelaparan, tapi dengan kombinasi itu-ah-ada cukup uang, Sobatku, dengan sedikit ketenangan hati.

~Raflles Holmes &Co, hal 49~

Serupa dengan Sherlock Holmes yang membutuhkan Dr  John A Watson  untuk menuliskan kisah-kisahnya,  Arthur J. Raffles  yang membutuhkan Harry "Bunny" Manders.  Atau  Hercule Poirot  yang  didampingi Kapten Arthur Hasting.  Maka wajarlah jika seorang  campuran Holmes dan Raffles juga membutuhkan pendamping untuk bisa mendokumentasikan kegiatannya. Setiap tokoh besar memiliki pendamping, demikian juga dengan seorang Raffles Holmes.
   
Entah bagaimana dunia harus menerima,  ketika seorang detektif  jatuh cinta dan menikah dengan seorang anak pencuri budiman. Dua sosok yang berlawanan menjalin hubungan keluarga melalui sebuah pernikahan. Belum jelas "jalur" mana yang dipilih oleh anak keturunan mereka. Tentunya akan menarik untuk disimak.

Dalam versi ini, disebutkan bahwa Holmes jatuh cinta pada putri tunggal Raffles-Maejorie. Mereka bertemu ketika Holmes sedang menyelidiki sebuah kasus.  Cinta mengalahkan segalanya, Holmes menikahi Maejorie dan kasus ditutup tanpa penyelesaian. Sebuah hal yang tak biasa mengingat selama ini seorang Holmes selalu bisa menyelesaikan kasusnya,

Pernikahan tersebut melahirkan sebuah anak laki-laki yang dikenal dengan nama Raffles Holmes. Buku ini menawarkan sesuatu yang unik, kisah yang disampaikan langsung dari mulut Raffles Holmes  dan dicatat oleh Mr Jenkins seorang penulis. Terdapat 8 kisah mengenai  sepak terjang Raffles Holmes sendiri,  1 kisah mengenai pertemuan dirinya dengan Jenkins, serta kisah mengenai asal mula  dirinya.

Kisah favorit saya adalah kisah Nostalgia Nervy Jim Si Penjambret di halaman 97. Pertemuan tak sengaja antara  Raffles Holmes  dengan Nervy Jim, yang semula mengira ia adalah Sherlock Holmes tokoh yang membuatnya dipenjara,  membuat Holmes berada dalam sebuah petualangan yang tak terduga. 

Ternyata Nervy Jim lebih menyukai kehidupannya di penjara. Ia tak usah memikirkan bagaimana cara mencari makan, di mana ia tinggal, semua kebutuhan terpenuhi.  Maka muncul permintaan anehnya agar Holmes muda membuatnya dipenjara. Bukan Raffles Holmes jika tidak bisa memecahkan masalah tersebut.

Ketika itu, hukuman untuk pencuri lumayan lama. Dengan berada lama di penjara maka kehidupan Nervy Jim akan terpenuhi  sekitar 5-15 tahun, lumayan lama juga.  Ironi bukan, ketika tempat yang paling aman dan nyaman bagi seseorang justru berada di tempat yang tak diinginkan oleh kebanyakan orang. 

Dari kisah-kisah yang disampaikan, terlibat sekali bagaimana Holmes mewarisi kecerdikan ayahnya. Tak ada masalah yang tak bisa ia selesaikan. Ditambah seperti juga Holmes dan Raffles, ia memiliki kepandaian menyamar yang sangat mumpuni. Unsur Raffles dalam dirinya muncul dalam upaya mencari keuntungan dalam tiap tindakan. 

Contohnya, bagaimana ia tak sengaja berada dalam Kasus Kamar 407. Kecerdikannya membuatnya tahu sedang terjadi sebuah tindak kejahatan. Dengan melibatkan diri dalam kasus tersebut, ia tak hanya membantu pihak lain menggagalkan sebuah kejahatan, tapi juga mendapat keuntungan bagi dirinya.

Atau jika perlu, Raffles Holmes menciptakan sebuah kasus, seperti Kasus Tanda Terima Bagasi Kuningan, lalu dengan cerdiknya mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri. Sisi baiknya muncul ketika ia membagi dua keuntungan yang ia peroleh dari aksinya dengan Jenkins. 

Jika menilik kisah kemunculan J.A Raffles, keberadaannya diciptakan pada tahun 1898 oleh EW Hornung,  ipar dari Sir Arthur Conan Doyle. Raffles diciptakan sebagai sosok yang berlawan dengan Holmes. Seorang olahragawan profesional,  ramah dan menarik, namun ternyata adalah pencuri profesional yang hanya mencuri milik si kaya. Doyle sendiri yang menyarankan agar Raffles dipertahankan  sebagai sebuah seri.

Memadukan dua sifat yang berbeda dalam satu orang tentunya akan menjadi suatu kisah yang seru. Selain kisah pemecahan misteri, pembaca juga akan disuguhi bagian pertentangan batin dalam sosok Holmes Raffles. Bagian ini  paling menarik

Untung ada Jenkins! Keberadaan Jenkins tak hanya menjadi juru catat kisah Raffles Holmes, namun juga menjadi penjaganya. Ia harus memastikan sisi Raffles dalam diri Raffles Holmes  tidak menguasai dirinya.   Dengan kata lain Jenkins harus selalu mengingatkan agar sahabatnya itu tidak melakukan perbuatan yang menyimpang. Contohnya ada dalam kisah  Kasus Stomacher Berlian Mrs Burlingame.

Lebih jelas, simak yang tertera di halaman 38, " Raffles dalam diriku juga mengatakan demikian, tapi Sherlock Holmes yang ada dalam nadiku berkata lain-aku tak bisa menyimpannya,..." Meski sukses memecahkan misteri pencurian benda berharga, godaan tetap saja muncul.

Pada halaman 39, terlihat jelas pertentangan batin dari seorang anak yang berasal dari dua "jalur" yang sangat bertentangan. "Dari sisi ayahku," katanya serasa mendesah. "Dari sisi ibuku, itu sedikit sulit." Tugas  Jenkins  tidaklah semudah yang ia kira.

Dari sudut pandang saya, tak hanya Raffles Holmes yang mendapatkan keuntungan dari penjualan kisah-kisah yang dicatat oleh Jenkins.  Keduanya saling memberikan keuntungan. Sebenarnya, menurut saya Jenkins lebih mendapat keuntungan dari sisi keuangan. Tak hanya royalti yang ia bagi berdua dengan Holmes, tapi juga mendapat keuntungan dari kiprah Holmes memuaskan sisi Raffles dalam dirinya.

Pembaca akan menemukan banyak paragraf dengan kalimat yang panjang. Paragraf yang ada di halaman 55 sebagai contoh. Terdiri lebih dari 20 baris. Kemudian pada hal 103, terdapat lebih dari 60 baris. Butuh konsentrasi ekstra untuk menamatkan sebuah paragraf seperti itu. Tapi percayalah, usaha sepadan dengan hasil.

Kover buku ini juga menarik. Kesannya mewah dengan nuansa abu-abu dengan ilustrasi gambar beberapa pernak-pernik seperti siluet wajah, pipa, topi dan kaca pembesar yang langsung mengingatkan saya pada sosok Sherlock Holmes. Sementara untuk sosok Raffles, saya masih belum yakin mana yang bisa merepresentasikan dirinya.

Mungkin karena pembaca kita lebih sering dicekoki dengan sosok Holmes. Sementara pengenalan akan sosok Raffles selama ini tak seperti Holmes. Seingat saya baru ada beberapa buku  terjemahan yang beredar dengan mengusung Raffles sebagai tokoh utama.

Bacaan yang cocok bagi segala umur mulai lagi remaja. Bagi mereka yang menyukai kisah detektif,  buku ini wajib dibaca karena Anda akan menemukan trik yang tak biasa. Apalagi fans berat  kisah-kisah Sherlock Holmes, buku ini wajib dibaca. Sosok Raffles Holmes menyerupai ayahnya Sherlock Holmes namun dalam versi yang lebih sesuai dengan jiwa anak muda. 

Sang penulis, John Kendrick Bangs (27 Mei 1862 - 21 Januari 1922) diakui sebagai penulis satire ternama Amerika di zamannya, dan pelopor Fantasi Bangsian modern, aliran penulisan fantasi yang menceritakan kehidupan sesudah kematian dalam seluruh atau sebagian plotnya. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1906.

Buku ini mengembalikan sensasi membaca yang sempat hilang beberapa waktu lalu. Melalui buku ini, membaca tak hanya sekedar mengisi waktu luang, memenuhi target RC di GRI, atau mengurangi timbunan yang terbengkalai. Buku ini menimbulkan lagi rasa penasaran melahap tiap halaman, tersenyum puas ketika suatu kisah tamat. Semangat membacaku bangkit kembali melalui buku ini. 

Spektakuler

Rabu, 29 April 2020

2020 #20: Menikmati Aneka Kisah Mitologis Dari Tanah Air

Judul asli: Dewi Duri dan Cahaya Kunang-kunang: Sehimpun Cerita Mitologis
Editor: Triyanto Triwikromo
ISBN: 9786024812669
Halaman: 192
Cetakan: Pertama-Februari 2020
Penerbit: KGP
Harga: Rp 65.000
Rating: 3.5/5

"Agnum su tubhyam varuna svadhavo, hrdi stoma upasritas cid astu sam nah kseme sam u yoge no astu, yuyam pata svastibhih sada nah."

Semoga pujaan ini berkesan pada-Mu, O Maruna yang bebas. Semoga kami selamat dalam beristirahat, semoga kami selamat dalam bekerja. Lindungi kami dengan berkahmu.

~Mantra pemujaan terhadap dewa samurera, air, dan langit Maruna,  Kesatria Pulau Garam, Mega Fitriyani, halaman  59~

Sebenarnya sudah lama sejak saya tahu bahwa Mas Yudhi Herwibowo memenangkan Sayembara Penulisan Cerpen Mitologi yang diselenggarakan oleh Universitas Ivet Semarang pada tahun 2018. Namun baru pada tahun 2020 karyanya bersama karya beberapa penulis lain bisa dinikmati dalam bentuk buku.

Dalam buku ini, terdapat 16  kisah yang dikemas ulang dari mitos  yang ada di tanah air hingga menciptakan sebuah mitos baru. Beberapa kisah sudah mengalami penyesuaian dengan kondisi saat ini. Tentunya dengan tujuan agar mudah diterima oleh pembaca.

Karya Mas Yudhi yang berjudul Dewi Duri, sepertinya tak perlu diberikan komentar lagi. Karena pembaca bisa membaca ulasannya dari sang editor pada halaman xxii-xxv, lumayan panjang bukan? Bisa dianggap sebagai wujud pertanggungjawaban panitia mengapa memilih  Dewi Duri sebagai pemenang pertama.

Secara singkat, kisah tersebut memberikan sebuah jawaban kenapa tangkai bunga mawar dipenuhi duri. Ciri khas Mas Yud berupa akhir yang bisa beragam, tergantung pemahaman pembaca, diberikan istilah apera aperta oleh editor. Mengacu pada ungkapan Umberto Eco  dalam The Role of the ReaderJika ingin lebih jelas, silakan baca catatan kakinya di halaman xxv ^_^.

Demikian juga dengan kisah Mengapa Kunang-kunang Sudah Tak Ada Lagi karya Prihadi Kurniawan, serta  kisah Ketika  Bumi Berbentuk Kubus karya Rio Johan. Sebagai pemenang sayembara, keduanya juga mendapat ulasan yang lumayan panjang pada esai yang dibuat oleh sang editor.

Sementara untuk karya lainnya seperti Sadam dan Sadam  (Sudya Gemilang), Perang Anak-anak  Langit (Ruwi Meita), Perihal Tiga  Butir Telur Dewa Antaboga di Dalam Hikayat Dendam Ular dan Katak Sawah (Guntur Alam), Kesatria Pulau Garam  (Mega Fitriyani), Nenekku Buaya (Munar Muhtar), Dewi Pohong (Mira Tri Rahayu) dan lainnya, diberikan ulasan singkat saja.

Kisah Perihal Tiga  Butir Telur Dewa Antaboga di Dalam Hikayat Dendam Ular dan Katak Sawah, memporak-porandakan hikayat Dewi Sri yang selama ini dikenal masyarakat. Bagi para petani Dewi Sri adalah pelindung bagi padi yang mereka tanam, karena padi adalah penjelmaan dari Dewi Sri.
Tapi dalam kisah ini, justru Dewi Sri menjadi ular sawah, sementara padi merupakan dua saudara kembarnya yang buruk rupa dan jahat.

Jika pada umumnya seorang ibu akan melakukan apa saja demi keselamatan anaknya, maka dalam kisah ini justru sang ibu lebih mementingkan keselamatqn dirinya hingga rela membunuh  anaknya sendiri. Meski setelah itu ia menangis makam  anaknya selama beberapa waktu.

Membaca kisah Nenekku Buaya dari Munar Muhtar, mengingatkan pembaca akan Teori Darwin. Digambarkan bahwa binatang berevolusi untuk bisa bertahan hidup.  Dimulai dari   buaya yang berusaha mencari sumber makanan baru,  beberapa berevolusi menjadi seba (monyet), kemudian dalam kisah ini ada yang berevolusi menjadi  tau (manusia).

Meski digambarkan bahwa tau,  seba,  dan buaya merupakan satu keturunan yang berevolusi, dikisahkan kenapa buaya tidak suka jika ada tau dan seba  yang memasuki daerah kekuasaannya. Seba bisa dikatakan cukup tahu diri dengan berusaha seminim mungkin berurusna dengan buaya.

Tapi tidak dengan tau. Seiring jumlah yang bertambah, tau bahkan mulai menguasai tempat tinggal seba. Bahkan mulai memasuki wilayah buaya hingga mengakibatkan  kemarahan mereka.  Kisah yang unik.

Pada bagian akhir buku, terdapat semacam informasi seputar penulis yang karyanya ada dalam buku ini. Beberapa nama menyajikan informasi yang lumayan padat. Tapi ada juga penulis yang hanya diberikan informasi tempat di mana ia tinggal saja.  

Umumnya para penulis  memang sudah memiliki pengalaman yang mumpuni untuk bisa meraih penghargaan dalam sayembara ini. Namun terdapat juga beberapa penulis yang usianya terbilang muda. 

Hal ini sungguh menggembirakan! Minimal melalui kegiatan ini, sudah  muncul beberapa penulis muda berbakat yang masih memiliki banyak waktu untuk terus mengembangkan kariernya  dalam dunia penulisan.

Buku ini juga akan memanjakan pembacanya dengan aneka ilustrasi yang menawan. Tiap kisah dilengkapi dengan satu halaman penuh ilustrasi hitam-putih. Untuk kover, diambil dari ilustrasi Dewi Duri dengan sentuhan warna sehingga lebih menarik  minat pembaca yang melihatnya. Saya paling suka ilustrasi di halaman 119, dari kisah Dewa Hutan dan Kutu Api (Abdul Hafedz Mubarak).

Saya  juga terhibur hingga tertawa, ketika membaca kalimat di halaman 117. Terdapat kalimat yang menyebutkan merek sebuah alat rumah tangga plastik kenamaan, Tupperware. Begitu terkenalnya hingga menimbulkan fenomena dikalangan ibu rumah tangga, sehingga penulis menjadikannya sebagai salah bagian dari cerita Dewi Hutan dan Kutu Api.

"Perhatikan," bisiknya kemudian, "Tupperwere!" dan dalam sekejap kertas mantera itu berganti wujud menjadi sebuah benda kotak dengan warna mencurigakan. "Ini dapat digunakan untuk menyimpan makanan agar tetap segar dan tidak mudah rusak."

Secara keseluruhan, kisah yang ada akan membuat pembaca mendapat bacaan dari sisi yang berbeda. Mitologi memang masih jarang dilirik penulis untuk diolah menjadi kisah menarik. Maka sayembara ini sungguh merupakan langkah awal yang layak diacungi jempol.


Oh ya, bagi mereka yang masih kurang paham mengenai apa itu mitologi, bisa diintip pada KKBI, tepatnya di sini.  Jadi ingat  juga beberapa kalimat dalam  dalam Classical Mythology karangan Mark P.O Morford dan Robert J. Lenardon. 

Disebutkan bahwa Myth is a comprehensive (but not exclusive) term for stories primarily concerned with the gods and humankind's relations with them. Saga, or legend (and we use the words interchangeably), has a perceptible relationship to history; how-ever fanciful and imaginative, it has its roots in historical fact.These two categories underlie the basic division of the first two parts of this book into "The Myths of Creation: The Gods" and "The Greek Sagas: Greek Local Legends." Interwoven with these broad categories are folktales, which are often tales of adventure, sometimes peopled with fantastic beings and enlivened by ingenious strategies on the part of the hero; their object is primarily, but not necessarily solely, to entertain. Fairytales may be classified as particular kinds of folktales, defined as "short, imaginative, traditional tales with a high moral and magical content;" a study by Graham Anderson identifying fairytales in the ancient world is most enlightening.

Sebuah buku yang layak berada dalam rak buku penggemar kisah mitologi.



Senin, 27 April 2020

2020 #19: Jakarta Ketika Saat Itu


Judul: Djakarta Dewasa Ini
Halaman: 295
Tahun Terbit: 1957
Penerbit: Djawatan Penerangan Kota Praja Djakarta Raya
Rating:3/5

Indonesia sedang berjuang melawan Covid-19. Banyak yang bisa kita lakukan untuk membantu. Cara yang paling  adalah dengan diam di rumah. 

Dengan diam di rumah maka Anda membatasi interaksi dengan orang lain, hal ini akan memutus mata rantai penyebaran virus. Mudah bukan? Hanya diam di rumah saja saja telah berbuat sesuatu bagi bangsa tercinta.

Kita harus pandai mensiasati keadaan hingga tidak merasa jenuh di rumah. Bagi saya penggila buku, cara yang paling budah adalah membereskan rak buku dan membabat habis timbunan yang selama ini hanya dipandang saja he he he.

Maklum, sebagai penganut Hukum Kekekalan Timbunan, yang utama adalah timbun dulu, baca kemudin. Saat ini menjadi waktu  yang tepat untuk mulai babat timbunan. Sekaligus  menatanya dalam rak.Tak sengaja, saya menemukan ini. Sepertinya menggoda, mari kita baca.

Saya agak ragu, ini majalah atau buku? Melihat isinya yang banyak memuat aneka iklan, layak disebut majalah. Namun melihat artikel yang ada lalu melihat tulisan  Isi Buku, bisa jadi ini adalah buku.

Sementara kita anggap saja ini adalah buku yang dicetak dengan mengandalkan banyak iklan untuk menutupi biaya cetak. Bukankah sekarang saja banyak buku seperti itu? Kita sebut buku saja kalau begitu.

Ternyata pada Kata Pengantar, penasaran saya terjawab. "....Dan achirnya kepada para pemasang iklan tidak lupa pula kami haturkan terima kasih." Pantas, banyak sekali iklan yang ada. Iklan yang ada begitu beragam, ada iklan tentang kantor lelang, pabrik roti, bank, pabrik kapal,  hotel, perusahan import-export, dan banyak lagi. Ukurannya juga beragam dari satu halaman penuh hingga 1/4 halaman.

Secara garis besar, buku ini berisi tentang aneka informasi mengenai  Jakarta sebagai Ibukota negara. Disajikan dalam bentuk  8 artikel utama yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Upaya melakukan alih bahasa artikel merupakan hal yang patut diacungi jempol. Hal ini bermanfaat guna mengenalkan keberadaan Jakarta bagi warga asing.

Tata letak yang kurang tepat membuat saya mengira tak semua artikel diterjemahkan. Susunannya semua artikel dalam bahasa Indonesia dahulu, baru terjemahan dalam bahasa Inggris. Namun ternyata setelah artikel Sedjarah Ringkas,  langsung diletakkan artilel versi bahasa Inggrisnya, History.

Upaya melakukan alih bahasa artikel merupakan hal yang patut diacungi jempol. Hal ini bermanfaat guna mengenalkan keberadaan Jakarta bagi warga asing, apalagi ketika buku ini terbit pada tahun 1957, situasi Indonesia belum seperti saat ini. Sayangnya, ilustrasi berupa foto yang ada dalam artikel bahasa Indonesia tidak ditemukan dalam versi alih bahasanya. Demikian juga sebaliknya.


Pada   bagian buku, terdapat  informasi alamat-alamat  yang dianggap perlu diketahui oleh masyarakat luas. Misalnya alamat Menteri Kabinet XVIII, Kelurahan, Perwakilan Luar Negeri, Organisasi Pedjuang Daerah, Bank, hingga Toko Keriting  Rambut dan Perusahaan Bunga, dan masih banyak lagi. Bahkan ada nama, alamat dan serta nomor telepon wartawan perwakilan kantor berita asing.

Pada artikel pendidikan, diuraikan mengenai jumlah sekolah yang ada di Jakarta saat itu. Sekolah rakyat (baik negeri atau swasta-disebut partikelur dalam buku ini) jumlahnya bertambah dengan signifikan, naik nyaris  3 kali lipat sejak zaman  penjajahan Belanda.

Disebutkan juga mengenai minat yang tinggi untuk memasuki perguruan tinggi. Hal ini membuat bermunculan berbagai perguruan tinggi dan akademi swasta yang diakui oleh pemerintah.  Demikian juga kementrian yang mengadakan akademi, jumlahnya lumayan banyak.

Sedangkan pada bagian Sedjarah Singkat, pembaca akan diingatkan  mengenai asal mula kota Jakarta. Dimulai dari nama Sunda Kelapa aebagai pelabuhan Kerajaan Padjajaran, Djajakarta,  kedatangan Jan Pieterzoon Coen,  diadakannya trem asap pada tahun 1818, pembentukan Sekolah Tinggi Kehakiman tahun 1924, Stovia pada tahun 1927, hingga  pembacaan proklamasi tahun 1945.

Dimulai dengan tiga  iklan satu  penuh, lalu gambar pohon kelapa di pinggir pantai, pembaca akan diajak menyelusuri Jakarta dalam arti yang berbeda dengan kondisi saat ini. Bagi mereka yang lahir sesudah tahun 1957, ini bisa menjadi informasi yang berguna. 

Bahkan jika kita perhatikan iklan yang ada secara seksama, kita bisa mendapat gambaran mengenai kondisi sosial pada saat itu. Apa usaha yang sedang berjalan, kebutuhan masyarakat, hingga  bagaimana iklan yang menarik saat itu.


Harap dimaklumi, karena buku ini dicetak dengan dana dari pemasangan iklan, maka sangatlah wajar jika lebih banyak iklan dari pada artikel yang ada dalam buku ini. 

Oh ya, saya juga menemukan beberapa gambar sebagai pemantas. Misalnya gambar Kampus FKUI di Salemba, Danau Lembang, kebun nanas dan jeruk di Pasar Minggu, serba beberapa foto menarik lagi.

Melihat tulisan Perpustakaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya pada kover, saya merasa agak heran kenapa buku ini bisa berada dalam timbunan saya. Sebenarnya berada dalam timbunan hasil IRF yang diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia beberapa tahun lalu. 

Dugaan saya, buku ini dianggap majalah lalu tak ada yang ingin mengadopsinya. Akhirnya buku ini terdampar ditimbunan buku yang saya bawa pulang. Pada akhir kegiatan, buku-buku yang tersisa di meja bookswap memang disumbangkan pada beberapa taman bacaan. Entah  bagaimana ini bisa berada dalam timbunan saya.

Anggap sajalah memang jodohnya  buku ini ada pada saya.












Minggu, 19 April 2020

2020 #18: Kisah Perjalanan Sebilah Keris Sakti

Judul asli: Sang Keris
Penulis: Panji Sukma
ISBN: 9786020638577
Halaman:110
Cetakan: Pertama-Februari 2020
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 65.000
Rating: 3.25/5

Sensasi baru kembali kau rasakan. Sepintas kau teringat dengan sensasi itu, sebuah sensasi saat kau digunakan tuanmu untuk menusuk seorang raja yang dianggap sebagai keturunan Wisnu, darah raja itu mengalir melewati dirimu dan sejak saat itu kau tak pernah lagi menikmati merasakan sensasinya. 
~Sang Keris~

Suatu saat,  tanpa sengaja saya melihat foto tentang peluncuran buku yang merupakan Pemenang Kedua Sayembara Lomba Dewan Kesenian Jakarta 2019  di laman FB Mas Teguh Afandi.  Penasaran juga dengan judul yang cukup unik.

Sejauh ini,  saya percaya akan rekomendasi buku yang  beliau berikan. Mungkin saja, rekomendasi dilakukan terkait tugasnya sebagai editor. Namun ketika secara pribadi saya tanyakan bagaimana tanggapannya tentang kisah ini, dan mendapatkan jawaban yang makin membuat penasaran, segera buku ini menambah panjang daftar belanja.

Keteledoran saya yang membuat buku ini tertumpuk sehingga terlewat untuk segera dibaca. Tapi begitulah jodoh saya dengan buku ini, ketika mencari bacaan ringan sebelum tidur, buku ini menampakkan dirinya ^_^. 

Dengan ilustrasi wajah  yang nyaris memenuhi seluruh kover, dan dominasi warna bernuansa coklat, buku ini akan mampu  membuat penikmat buku 
setidaknya melirik tumpukan buku ini saat dipajang di toko  buku. 

Jika diperhatikan dengan seksama, ilustrasi wajah yang terpasang menjadi pertanda setting kisah dalam buku ini. Sejak zaman kerajaan  Jawa kuno hingga saat ini. Oh ya, ilustrasi keris justru tersembunyi pada bagian dalam. Begitu pembaca membuka plastik pembungkus buku, akan terasa ada bagian kover yang  sengaja ditekuk. Di sanalah ilustrasi tokoh kita tercetak dengan menawan. 

Sebagai sosok yang dibesarkan dalam budaya Jawa, saya tentunya mengenal keris. Dalam artian saya tahu  wujud keris, bagaimana cara merawat, serta makna keris dalam kehidupan. Walau tak cukup mendalam, tapi cukup untuk menghargai proses pembuatan sebuah keris dan memahamai maknanya dalam kehidupan.

Kata "Keris" pada judul jugalah yang menjadi  pemikat  utama untuk membaca buku ini.  Maafkan minimnya pengetahuan saya seputar bacaan yang pernah diterbitkan, namun saya belum pernah menemukan dan membaca  kisah yang menjadikan sebilah keris sebagai tokoh utama (jika ada yang tahu tolong kabari saya ya). Tentunya buku ini menawarkan sesuatu yang beda dari versi saya. 

Setelah membaca,  saya jadi tahu, ini bukan  kumpulan cerpen dengan benang merah keris. Tapi merupakan sebuah buku yang menjadikan keris 
Kanjeng Kyai Karonsih  sebagai tokoh utama  dengan rentang waktu peristiwa dari zaman Kerajaan Jawa Kuno, Majapahit hingga Indonesia pada abad 21. 

Dengan halaman yang hanya seratusan, banyak hal  yang menjadi serba tanggung bagi pembaca pencinta detail seperti saya. Tiap bab menyajikan kisah yang berbeda dengan kisah yang lain, sehingga tiap kisah  menurut saya bisa dikembangkan menjadi kisah yang lebih menarik lagi. 

Ketika saya membaca pertanggungjawaban juri pada blurd,  "... beberapa dapat berdiri sebagai cerita  tersendiri...." ternyata apa yang saya rasakan ketika membaca buku ini serupa dengan penilaian dewan juri. Siapa tahu, kelak  penulis mengembangkan beberapa bab menjadi kisah yang lebih  menarik lagi. Apa saja bisa terjadi bukan?

Konsekuensinya tentu akan menambah jumlah halaman yang ada pada tiap bab, secara otomatis menambah keseluruhan jumlah halaman buku. Maka harga  jual tak akan menjadi seperti yang sekarang. Karena perubahan  ketebalan buku otomatis  akan berpengaruh pada harga jual. 

Dari Buku Tosan Aji: Pesona Jejak Prestasi Budaya
oleh Prasida Wibawa
Sementara itu, penerbit juga harus memperhatikan tingkat kemampuan daya beli masyarakat, pada lagi dalam situasi seperti sekarang. Suatu hal yang mungkin akan menjadi pertimbangan penerbit jika ingin melakukan cetak ulang dengan revisi. Kembali, siapa tahu? Optimis sajalah kita ^_^.

Keris Kanjeng Kyai Karonsih diceritakan merupakan keris yang memilki kesaktian luar biasa. Kadang ia sukarela membantu sang pemilik, dilain waktu ada rasa enggan untuk melakukan sesuatu. Keberadaanya berpindah-pindah dari seorang empu, preman pasar, raja, penari, hingga terpasang di sebuah museum. Bahkan ada saatnya ia tak berwujud keris. 

Para tokoh yang lumayan banyak, mengikuti kisah yang beragam ada 15 kisah membuat para tokoh mendapat "jatah" tampil yang sangat singkat. Sepertinya saya  baru mulai akrab  beberapa tokoh, cerita sudah berganti dengan tokoh baru lagi.  

Saya coba mengingat beberapa nama tokoh, yang muncul adalah nama Lembu Peteng, Arya Matah, Ki Ageng Mangir, Ki Narto Sabdo, Suji, Raden Patah serta Perempuan Perancis. Tak banyak ternyata.

Beberapa nama mengusik ikatan saya akan cerita yang pernah saya dengar atau baca. Lembu Peteng misalnya. Kisahnya lumayan sering dibagikan dalam berbagai bentuk. Kisah romantis antara Ki Ageng Mangir dengan putri musuhnya juga kerap disampaikan secara lisan, kebenarannya memang masih harus dikaji ulang.  Atau sosok dalang legendaris Ki Narto Sabdo yang selalu sukses memukau penonton  ketika beraksi.

Jika telaah lebih lanjut, Keris Kanjeng Kyai Karonsih mewakili watak manusia dalam kehidupan. Ketika ia merasa besar kepala dan tersanjung ketika berhasil membantu seseorang menjadi raja, mirip dengan sifat seseorang yang menjadi sombong ketika meraih kedudukan tertentu.

Lain waktu, ketika ia dianggap sudah berjasa dan disimpan dalam tempat khusus di ruang senjata, bahkan sang raja sudah mulai jarang menemuinya, ada rasa tercampakkan. Sangat mirip dengan banyak orang yang mendadak merasa kehilangan wibawa ketika sudah memasuki masa purna bakti. Perlakuan orang dirasakannya berbeda ketika ia masih menjabat.

Selain mendapat hiburan dengan membaca kisah ini,  penulis memberikan banyak informasi mengenai kebudayaan  Jawa bagi pembaca. Bentuknya bisa dalam penyebutan sesuatu hal dalam sebuah kalimat lalu dijelaskan dalam catatan kaki, atau menjadikannya sebagai bagian dari setting kisah. 

Penyebutan empat unsur besi alam yang ada dalam keris pada halaman 6 misalnya, merupakan contoh pemberikan informasi budaya Jawa yang langsung 
melekat pada kisah. Demikian juga  pada halaman 38.  Ketika  Empu Jati Kusuma  sedang meminta Dewi Sasmitarasa  menjelaskan  mengenai bagian keris.

Untuk pengenalan yang diberikan sebagai catatan kaki, biasanya berupa ungkapan atau istilah yang sering dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, bisa dilihat pada halaman 1, yaitu berupa catatan kaki untuk kata wilah-besi sumber suara pada gamelan, serta demung-salah satu nama inatrumen gamelan. 

Bagi pembaca yang kurang memahami bahasa Jawa, catatan kaki  yang ada memang sangat membantu untuk memahami kisah. Meski beberapa kata terkait keris sebenarnya sudah menjadi kata umum yang bisa dilihat di KBBI. 

Namun dengan jumlah yang lumayan banyak, kesannya terlalu berlebihan saja. Saya melihat ada 90 catatan kaki. Luar biasa bukan! Dilain sisi, hal ini 
menciptakan suasana Jawa yang kental dalam kisah. 

Membaca buku ini membuat saya jadi teringat akan buku Sejarah Keris  dari Arief Staifuddin Huda. Disebutkan pada halaman 45, bahwa  kata keris tertua tercatat pada prasasti  Tukmas yang ditemukan di Karangtengah yang berangka tahun 650 M.  Sementara itu, masih dari buku yang sama, pada halaman 29 terdapat gambar  parung Bhairawa  Sumatra Barat, dimana pisau yang digenggam menurut  Karsten Sejr Jensen adalah  cikal bakal keris.
Dari Buku Petunjuk Praktis Merawat Keris
oleh Ki Dwidjosaputroption

Membaca nama beberapa empu, saya teringat akan semacam daftar nama empu  dan hasilnya dari buku Tosan Aji: Pesona Jejak Prestasi Budaya karangan Prasida Wibawa di halaman 58-59. Lumayan banyak juga ternyata. 

Meski keris sudah cukup dikenal dalam masyarakt, namun tak semua orang tahu mengenai bagaimana cara yang benar membuka dan menyarungkan keris. Apalagi membawanya. Membuat saya membuka buku Petunjuk Praktis Merawat Keris dari Ki Dwidjosaputra. Ternyata ada langkah tertentu yang harus dilakukan. 

Secara singkat, menurut saya ini merupakan sebuah novel yang menawarkan alur non-liner bagi pembaca yang mencari bacaan unik. Apakah Anda berani menikmati sebuah kisah yang tak biasa?

Sumber gambar:
1. Tosan Aji: Pesona Jejak Prestasi Budaya oleh Prasida Wibawa
2. Petunjuk Praktis Merawat Keris oleh Ki Dwidjosaputro





Selasa, 07 April 2020

2020 #17: Kisah Hilangnya Sang Pangeran



Judul asli: Misteri Hilangnya Pangeran Oleomargarin
Penulis: Mark Twain & Philip C. Stead
Ilustrasi: Erin Stead
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Yuli Pritania
ISBN: 9786232420809
Halaman: 156
Cetakan: Pertama-Januari 2020
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 98.000
Rating:3.25/5

"Biji-biji ini hanya boleh ditanam dalam keadaan sangat genting. Lalu, tunggu hasilnya dengan percaya diri. Biji-biji ini harus ditanam pada musim semi, disiram pada saat fajar dan tepat tengah malam. Rawatlah terus-menerus, pertahankan hati yang murni. Hindari keluhan. Ketika sekuntum bunga muncul, santaplah. Itu akan mengeyangkanmu, dan kau tidak akan pernah merasakan kekosongan lagi."

~Misteri Hilangnya Pangeran Oleomargarin~


Punya seorang ayah yang jago mengarang memang menjadi keuntungan tersendiri bagi anak-anaknya. Demikian juga bagi putri-putri Mark Twain. Mereka memilih sebuah gambar lalu meminta sang ayah bercerita berdasarkan gambar tersebut.


Suatu ketika mereka memilih gambar anatomi tubuh dan meminta sang ayah menceritakan sebuah kisah. Guna menghibur keduanya, Mark Twain membuat kisah tentang Johnny si bocah ajaib yang memiliki biji sihir. Sayangnya kisah itu hanya berupa draf saja, Twain tak sempat menyelesaikannya menjadi sebuah kisah utuh.

Berkat  campur tangan  Pbilip serta Erin Stead, kisah tersebut bisa diselesaikan hingga menjadi sebuah buku  cantik. Keduanya telah memenangkan  Caldecott Medal melalui A Sick Day for Amos McGee. Info lebih lanjut tentang penghargaan tersebut bisa dilihat di 
sini.

Buku yang terdiri dari  11 bab dengan aneka ilustrasi yang menawan, mengajak kita menikmati sebuah kisah unik.  Tentang seorang anak laki-laki bernama Johnny tinggal bersama kakeknya dan seekor ayam betina yang memiliki nama unik, Wabah dan Kelaparan. 

Suatu ketika sang kakek memerintahkan Johnny untuk menukar ayam dengan sesutu yang bisa mereka makan. Alih-alih makanan, Jhonny malah menukarkannya dengan biji-biji berwana biru. Petualangan tak terduga  dimulai sejak ia menerima biji tersebut.

Sesuai instruksi, ditanamnya biji-biji dengan penuh kasih sayang. Ia berharap dari biji-biji tersebut tumbuh sesuatu yang bisa menyelesaikan urusan perutnya selama ini. Tak sabar ia menunggu saatnya panen tiba. Ternyata Biji-biji tersebut membuatnya bisa memahami bahasa hewan. 

Semula ia hanya merasa senang dan bahagia bisa hidup dan bercakap-cakap dengan banyak hewan. Ia tak mengira pengetahuan tersebut tenyata  berguna untuk memenangkan sayembara mencari Pangeran Oleomargarin yang hilang. Bukan tugas yang mudah, tapi Johnny mendapat bantuan dari para hewan.

Maafkan ingatan saya yang agak lambat. Kisah Johnny  menukarkan ayamnya dengan dengan biji yang dianggap tidak berharga oleh sang kakek, membuat saya berusaha mengingat kisah yang serupa. Tentang seorang suami yang menukarkan barang bawaannya dengan sesuatu sepanjang perjalannya ke pasar. 

Sementara bagian Johnny mampu memiliki keahlian bisa bahasa hewan, menyeret pikiran saya pada kisah Dr Dollitle. Meski berbeda kisah namun kemiripannya terlihat. Terutama bagian dimana para hewan bersatu membantu Johnny.

Bagi mereka yang menyukai kisah dengan tema binatang, maka buku ini sangat layak dijadikan koleksi. Apalagi dengan buku yang dicetak secara hard cover, buku ini akan menjadi koleksi yang menarik terutama bagi mereka yang menyukai karya-karya Mark Twain.

Sebenarnya saya tidak yakin apakah kisah ini bisa dinikmati oleh anak-anak. Meski ilustrasinya sangat memanjakan mata, namun urusan kalimat yang tersusun menjadi kisah sepertinya perlu mendapat pertimbangan ulang.

Jelas bukan salah penerjemah. Kita memang tidak bisa berharap mendapatkan kisah yang spektakuler dari kisah yang diselesaikan oleh orang lain. Apa lagi penulis awal dan yang menyelesaikan sama sekali tak pernah bertemu (jelas itu!) sehingga persepsi keduanya tentang suatu hal belum tentu sama.

Mungkin juga karena pada beberapa bagian kisah diselingi dengan  diskusi imajiner antara Mark Twain dengan Philip Stead. Bagian ini agak mengganggu kenikmatan membaca. Mungkin maksudnya agar pembaca bisa paham mengapa bagian tersebut dibuat demikian.

Untunglah ilustrasi yang sungguh menawan mampu menutupi segala kekurangan yang ada. Gambar yang ada seakan hidup. Saya bahkan merasa dari tiap ilustrasi yang ada, penbaca bisa menciptakan sebuah kisah pendek sendiri.

Jika Anda termasuk orang tua yang masih membacakan kisah bagi anak sebelum tidur, buku ini bisa dijadikan pilihan sebagai buku dongeng sebelum tidur. Bisa saja Anda justru terinspirasi dengan gambar yang ada dan penciptakan sebuah kisah versi Anda dan anak.

Walau dicetak dengan huruf dan gambar timbul pada kover, latar belakang warna putih memberikan kesan yang agak suram. Andai dibuat dengan memilih latar yang lebih cerah, tentunya akan makin menarik untuk dilihat. Anak-anak juga akan makin menyukainya.

Terlahir dengan nama  Samuel Langhorne Clemens  pada 30 November 1835. Ketika Perang Saudara pada tahun 1860, ia memutuskan mengubah namanya menjadi Mark Twain yang berarti dua depa dalamnya, sebuah istilah yang dipergunakan awak kapal sungai bila mengukur kedalaman air.

Mark Twain meninggal 21 April 1910 pada umur 74 tahun. Beberapa karyanya yang paling terkenal adalah The Adventures of Huckleberry Finn, The Adventures of Tom Sawyer, The Prince and the Pauper, A Connecticut Yankee in King Arthur's Court serta satu buku non fiksinya, Life on the Mississippi.

Sumber gambar:
Buku Misteri Hilangnya Pangeran Oleomargarin