Selasa, 23 Februari 2021

2021 #6: Mengenal Sejarah Bahasa Indonesia

Judul:  Masa-Masa Awal Bahasa Indonesia
Penulis: Harimukti Kridalaksana
ISBN: 9786024335946
Halaman: 112
Cetakan: Pertama-April 2018
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Rating:

 "Setemtoenja perkata'an saja ini tidak bermaksud melepaskan poetri Indonesia ini dari dapoer. Akan tetapi ketjoeali didalem dapoer No.1 kita haroes toeroet memikirkan djoega, apa jang dipandang oleh kaoem lelaki."

 ~PEMBOEKA'AN CONGRES PEREMPOEAN INDONESIA OLEH TOEAN PEMOEKA, hal 83~

 Meski sehari-hari mempergunakan bahasa Indonesia, hafal  isi Sumpah Pemuda yang menyebutkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan,  namun belum tentu semua orang tahu bagaimana sejarah bahasa pemersatu bangsa tersebut.

Dalam lima bab serta 111 halaman, pembaca akan mendapat informasi mengenai sejarah Bahasa Indonesia secara lengkap. Mulai dari kelahiran bahasa Indonesia, Kongres Pemuda I, Kongres Pemuda II, hingga Kongres Bahasa Indonesia I.  Serta perbedaan antara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.

Mengkaji sejarah bahasa menurut buku ini bisa dikaji dalam tiga bidang ilmu. Pertama, prasejarah bahasa, kajian tentang masa lampau bahasa sebelum ia mempunyai aksara. Kedua, sejarah bahasa, kajian tentang masa lampau seluk-beluk bahasa sejak bahasa itu diungkapkan dengan aksara. 

Adapun yang ketiga adalah sejarah studi bahasa.  Merupakan kajian tentang perkembangan pandangan orang terhadap bahasanya,  yang tertulis dalam aneka dokumen, seperti buku pelajaran dan kamus.

Sebagian besar isi buku ini menitikberatkan  pada kajian masa lampau bahasa, yaitu sejarah bahasa. Pembaca akan diberikan berbagai paparan ilmiah  perihal sejarah pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.

Sehingga, jika  seseorang mendapati informasi yang menyebutkan bahwa  tanggal 2 Mei 1926 merupakan hari lahir bahasa Indonesia, dan pengusul nama adalah M. Tabrani,  sudah paham secara benar berdasarkan sejarah.

Terdapat juga informasi mengenai perbedaan antara dialek dan ragam bahasa.  Dialek merupakan variasi bahasa menurut penutur atau pemakai bahasa. Misalnya dialek Betawi, dialek Banyumasan.

Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian.  Ada dialek sosial, karena penggunanya berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan. Kemudian ada Idiolek,   merupakan ciri bahasa seseorang. Entah dari lafal, gramatik atau pemilihan kata.

Pada saat usulan Muh Yamin untuk mempergunakan  Bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu ditolak,  tidak membuat Bahasa Melayu punah. Beberapa daerah seperti Sumatra Utara, Kalimantan Barat, dan Riau masih mempergunakannya.  Demikian juga beberapa negara  tetangga.

Buku ini sangat perlu dibaca oleh para generasi muda agar paham dan makin mencintai bahasa pemersatu bangsa. Juga bagi para penikmat sejarah dan pemerhati bahasa, sebagai tambahan referensi.

Dari 111 halaman, uraian mengenai sejarah bahasa hanya 46 halaman,  Latar Belakang Pustaka 1 halaman, Indeks 3 halaman, Tentang Penulis 1 halaman. Dengan demikian Lampiran memerlukan  60  halaman. Ada baiknya bagian uraian lebih dipertajam lagi paparannya.

Meski demikian,  bagian Lampiran sungguh menarik. Ada tentang artikel atau cerita yang diambil dari  aneka media massa dan  tahun,  iklan, serta Pembukaan Kongres Perempuan Indonesia. Sepertinya saya lebih menikmati bagian ini ^_^.

Ada beberapa kalimat yang ada di halaman 22 bisa dikatakan agak mengganggu. Mengapa harus mempergunakan kata jasa?  Bukankah tiap sosok yang terlibat dalam Kongres Pemuda I dan II memiliki peranan dan jasa  bagi bangsa.

Harimukti Kridalaksana, sang penulis, memiliki nama lengkap K.P.H. Hubert Emmanuel Harimurti Kridalaksana Martanegara. Lahir di  Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, pada 23 Desember 1939. Merupakan  seorang pakar sastra berkebangsaan Indonesia. Beliau merupakan salah satu guru besar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia serta penggagas Pusat Leksikologi dan Leksikografi.


Rabu, 10 Februari 2021

2021 #5: Cerita-Cerita Dari Pulau Buru

Salah satu hal yang membuat saya betah bekerja di perpustakaan adalah karena saya bisa menikmati hobi dan digaji untuk itu ^_^. Meski  ada juga beberapa tugas yang saya kerjakan karena kewajiban he he he. Dibandingkan kesenangan yang diperoleh, hal tersebut tak bermakna banyak.

Salah satu tugas terbaru untuk tahun 2021 adalah  membuat anotasi koleksi perpustakaan berbahasa Indonesia, singkatnya resume sebuah buku. Bagi teman-teman  fungsional pustakawan, kegiatan tersebut mendapat angka kredit sebesar 0.008. Karena saya milih untuk tidak menjadi pustakawan, maka  anotasi tersebut sekedar memenuhi SKP semata.

Buku memang banyak, namun mencari buku yang pas merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Jika asal buku, tentunya pilihan saya jatuh pada novel dari pengarang favorit saya he he he. Tapi karena salah satu tujuan anotasi adalah juga mempromosikan buku tersebut, maka pemilihan buku perlu dilakukan dengan lebih bijak.

Kebetulan menemukan satu buku yang baru selesai disampul, sepertinya cocok untuk keperluan anotasi. Plus membuat review he he he.

No panggil: 398.212 
Judul: Antologi Cerita Pulau Buru 
Penyunting: Asrif, Nita Handayani Hasan 
ISBN: 9786022631774 
Halaman: 210 
Cetakan: Pertama-2019 
Penerbit: Kantor Bahasa Maluku
Rating:3/5

Mengusung semangat literasi,  Kantor Bahasa Maluku sebagai salah satu UPT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan program pelatihan menulis, penerbitan antologi cerita rakyat  serta gebyar literasi di Provinsi Maluku.

Pemerintah Kabupaten Buru menyambut kegiatan tersebut dengan menyelenggarakan program Gencar (Gerakan Bopolo Membaca). Salah satu wujud nyatanya adalah buku setebal  210 ini, 
Antologi Cerita Pulau Buru. 

Berisikan 37 cerita rakyat yang ditulis oleh para guru sebagai hasil dari pelatihan penulisan kisah rakyat. Walau kisah yang ada dalam buku ini belum mencakup seluruh cerita rakyat yang ada di Pulau Buru, namun diharapkan  mampu menjadi rujukan bagi penguatan pendidikan karakter siswa dan pengenalan jati diri. Tentunya juga untuk mengisi kekurangan tersediaan bahan bacaan terkait kisah rakyat dari Pulau Buru yang beredar di masyarakat umum.

Judul-judul kisah yang ada antara lain adalah Ular Siluman Gunung Tarawesi (Nurfia, S.Pd); Gunung Kakusang Garuda (Marwiah Polanunu, S.Pd); Misteri Sungai Waehaka (Kamaria, S.H); Persaudaran Nusa Laut dan Ambalau (Khatijah Suneth, S.Pd); Sebab Bernama Pantai Merah Putih (Ahmad  S.Pd); Teror Buaya di Teluk Namlea (Amrus Tahir,B.A); Tsunami Di Desa Lala (Lutfi Siompo); dan lainnya.

Keseruan membaca antologi adalah kita bisa membaca kisah secara acak. Dari Daftar Isi, pembaca bisa menemukan mana kisah yang akan dibaca terlebih dahulu. Atau jika ingin membaca dari halaman awal sampai akhir secara berurut juga tak ada masalah.

Kisah pertama yang menarik perhatian saya adalah 
Asal Mula Pohon Kayu Putih dari Muhamad Buton. Maklum, sebagai penggemar kayu putih garis keras, segala hal terkait kayu putih akan menarik perhatian saya ^_^. Apalagi, ini merupakan kisah dari daerah tempat asal kayu putih.

Sesuai dengan judul, isi kisahnya menceritakan tentang asal mula pohon kayu putih. Ada tambahan kisah tentang asal Pulau Pasir Putih, walau hanya satu paragraf saja. Pesan moral yang terkandung adalah  bahwa perbuatan baik akan berbalik memberikan kebaikan pada diri sendiri. 

Dalam kisah ini, pengembara yang mengobati luka burung garuda raksaksa mendapat pohon kayu putih yang disebut sebagai bahan obat-obatan. Ia semakin pandai meracik obat untuk menyembuhkan orang, namanya akan semakin terkenal. 

Sementara kisah Terpisahnya Pulau Nusa Laut Dan Pulau Ambalu oleh Alaam Ul-hag Manusamal, memberikan pesan agar jangan sampai terjadi pertengkaran karena hal sepele, sesuatu yang bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Jika tidak, bisa  terjadi hal-hal buruk dan rasa penyesalan yang tak  henti. 

Karena memperebutkan tanaman yang dinamakan sukun, kedua bersaudara tersebut saling membenci. Sifat egois sang kakak serta perasaan dendam sang adik membuat hubungan mereka kian menjauh. Sedih melihat hal tersebut, sang ibu berdoa agar keduanya disadarkan. 

Doa ibu mereka terkabul dengan terjadinya gempa yang membelah Pulau Nias dan pohon sukun menjadi dua. Sang adik dan setengah pohon sukun hanyut, sementara sang kakak tak bisa bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Kejadian tersebut menyadarkan keduanya, tapi sudah terlambat.

Ada beberapa kisah yang mengambil Elang sebagai tokoh. Setelah dibaca, ternyata kisah Elang Raksasa di Negeri Tifu oleh  Dwi Yuniar Marasabessy, S.Pd,  Elang Raksasa di Gunung Tanusan karya Aisah Papalia, S.Pd.
serta Elang Raksasa Penjaga Pulau Buru karangan Sudiati Manahaji memiliki kesamaan. Meski mengambil tema yang sama, namun cara menuliskan kisah ketiganya terlihat sangat berbeda.

Pulau Buru
Secara garis besar, karya para guru dalam buku ini perlu diapresiasi. Meski masih terdapat kekurangan, namun untuk mereka yang baru menyelesaikan pelatihan, sudah layak untuk dinikmati. Dengan sering menulis akan membuat mereka bisa menghasilkan karya yang lebih baik kelak.

Ada baiknya tim editor memantau kisah yang ditulis. Dengan begitu banyak kisah rakyat, akan lebih baik jika tidak ada kisah yang ditulis oleh lebih dari satu orang. Dengan demikian, akan lebih banyak kisah rakyat yang terdokumentasikan.

Ketentuan mengenai jumlah halaman sepertinya akan sangat berguna. Terlihat ada beberapa penulis yang begitu ingin segera menyelesaikan kisah, dilain cerita ada yang dibuat dengan banyak informasi yang tak terkait dengan kisah. Dengan adanya batas halaman, penulis bisa lebih tertata dalam menuliskan kisah. Apa lagi kebanyakan adalah penulis pemula.

Semoga buku ini bisa menyebar ke seluruh tanah air , sebagai salah satu cara memperkenalkan muatan lokal. Sehingga Pulau Buru bisa dikenal luas, tidak hanya sebagai pulau tempat pembuangan tahanan politik zaman orde baru.

Penasaran, sepertinya harus meluncur ke rak. Siapa tahu ada buku serupa dari daerah lain.


Sumber Gambar:
https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Buru







Senin, 08 Februari 2021

2021 #4: Keajaiban Konsultasi Dari Toko Kelontong Namiya

Judul asli: Keajaiban Toko Kelontong Namiya
Penulis: Keigo Higashino
Alih bahasa: Faira Ammandea
Editor: Pandam Kuntaswari
Ilustrasi sampul: Martin Dima
ISBN: 9786020648293
Halaman: 400
Cetakan: Pertama-Desember 2020
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 130.000
Rating:4/5

Dalam berbagai kasus, sebenarnya si pengirim surat sudah menemukan jawabannya. Mereka berkonsultasi hanya demi memastikan bahwa orang lain juga membenarkan keputusan mereka. Banyak di antara mereka yang kembali menulis surat setelah membaca balasan dariku, mungkin karena jawabanku berbeda dengan yang ada di benak mereka

~Keajaiban Toko Kelontong Namiya, hal 144~

Bagi mereka yang menikmati masa remaja tahun 1980-1990, mungkin pernah mendengar film  Back to the Future yang  dibintangi oleh Michael J. Fox, Christopher Lloyd, Lea Thompson, dan Crispin Glove. Film komedi petulangan fiksi ilmiah ini berkisah tentang seorang remaja yang tak sengaja melakukan perjalanan waktu. 

Banyak hal yang terjadi secara tak sengaja,  sehingga bisa membuat perubahan dimasa depan. Maka mereka selalu berhati-hati ketika kembali ke masa lalu. Salah satu bagian yang paling saya ingat adalah ketika seorang tokoh dari masa depan mendadak menjadi kaya raya di masa lalu. Hal ini membuat ia dan keluarganya dimasa depan juga menjadi kaya raya. 
 
Ternyata, ia menyimpan semacam buku  yang memuat informasi tentang pertandingan olah raga, baseball kalau tidak salah. Siapa pemenangnya, berapa point dan sejenisnya. Sehingga setiap kali ikut  taruhan,  ia akan menang. Penggalan kisah tersebut langsung muncul ketika saya selesai membaca buku ini. Bedanya penjelajah waktu dalam kisah  ini adalah sebuah surat.

Dalam lima bab dan 400 halaman, membaca akan mengikuti kisah tentang sebuah kotak susu di Toko Kelontong  Namiya yang mampu menimbulkan keajaiban. Keajaiban yang dimaksud adalah kegiatan konsultasi gratis yang berdampak besar pada kehidupan sipenanya.

Kisah ini dibuka dengan tiga orang remaja yang terpaksa mencari penginapan karena mobil yang mereka curi untuk menuju ke suatu tempat mendadak mengalami gangguan. Salah satu dari mereka teringat ada sebuah bangunan yang sudah lama kosong, ke sana mereka menuju. Bangunan tersebut, ternyata adalah Toko Kelontong Namiya.

Dari semula yang hanya ingin menghabiskan malam, ternyata mereka menemukan sebuah keajaiban terjadi. Melalui sebuah kotak susu, mereka menemukan ada surat permintaan bantuan menyelesaikan masalah. 

Semula,  sekedar iseng untuk menghabiskan waktu, mereka menjawab surat tersebut. Dengan berupaya berpikir bijaksana, saran yang diberikan merupakan hasil diskusi ketiganya.Belakangan, ketiganya mulai merasakan keanehan. 

Waktu seakan berhenti dalam rumah tersebut. Surat yang diterima seolah-olah berasal dari masa lalu. Mereka yang semula iseng, menjadi takut jika jawaban yang diberikan akan berpengaruh pada kondisi saat ini. Mereka sangat paham adalah tidak bijak jika mereka membocorkan suatu hal yang mereka ketahui akan terjadi dimasa depan terkait surat tersebut.

Misalnya, mereka takut harus memberitahukan bahwa Jepang akan mengalami masa sulit ekonomi. Karena hal ini bisa saja membuat si penulis surat melakukan suatu hal yang bisa mengubah sejarah. Padahal, jika mereka bisa mengatakannya, akan membuat sipengirim surat mengambil langkah yang paling tepat. Tanpa sadar, mereka telah menimbulkan koneksi antara masa lalu, saat ini  dan masa depan. 

Guna melengkapi kisah, pembaca juga disuguhi kisah tentang para penulis surat. Bagaimana kehidupan mereka sesungguhnya sehingga memutuskan untuk menulis surat tersebut.

Ada juga bagian yang mengisahkan tentang asal mula munculnya permintaan untuk menyelesaikan masalah ke Toko Kelontong. Semula konsultasi dilakukan oleh anak-anak sekitar kepada pemilik toko, Kakek Yuji.

Pertanyaan juga hal-hal yang sepele seperti bagaimana mendapat nilai bagus tanpa belajar. Jawaban masalah yang bersifat humor seperti itu  jawaban akan ditempel langsung di bawah surat pertanyaan.

Belakangan, orang dewasa juga mulai mengirimkan surat dengn meletakkan di kotak penyimpanan botol susu. Untuk masalah yang lebih serius, tentunya jawaban tidak akan ditempel di dinding

Bagi Kakek Yuji,  pada dasarnya mereka yang mengirim surat ke Toko Kelontong Namiya adalah orang-orang yang ingin menceritakan masalah mereka.

Jadi, apapun pertanyaan yang diberikan, walau disampaikan oleh orang iseng, tetap akan dijawab dengan serius dan pertimbangan yang panjang. Jangan sampai ia salah memberikan saran.

Apa yang dikhawatirkan oleh kakek pemilik toko terbukti benar. Bahwa sarannya akan berdampak pada kehidupan pengirim surat  mulai pada saat mereka menerima balasan. Jika tidak langsung  pada pengirim surat, maka pada orang terdekat mereka. Misalnya pada kasus wanita yang mengandung anak dari pacarnya yang sudah berkeluarga.

Para tokoh dalam kisah ini ternyata terhubung secara tak langsung. Seorang ibu yang meninggal akibat kecelakaan lalu anaknya dirawat di  rumah yatim-piatu. Di sana sang anak berteman dengan seorang gadis yang menjadi penyanyi terkenal guna mengenang jasa seorang penyanyi yang menyelamatkan adiknya dari kebakaran.

Kisah ini ditutup dengan adegan yang sungguh menyentuh. Ketiga remaja tersebut bisa mengetahui dampak dari saran mereka pada salah seorang pengirim surat. Hal tersebut membuat mereka sadar, bahwa jalan yang mereka lakukan adalah salah, walau tujuannya baik.

Keajaiban dalam kisah ini bisa bermakna dua hal. Pertama, bagaimana kehidupan seseorang bisa berubah setelah mengirimkan surat dan mendapatkan jawabannya. Kedua, bagaimana waktu bisa berhenti sehingga surat yang dikirim seseorang ketika masih remaja, bisa sampai ke tangan ketiga remaja  yang semula memberikan saran karena  iseng, saat itu sang remaja sudah menjadi pria dewasa. 

Meski bisa dikatakan ini merupakan kisah fantasi, namun pesan moral yang bisa diambil oleh pembaca sungguh luar biasa. Dimulai dari ketiga remaja yang merasa berguna ketika menjawab surat permintaan saran. Selama ini mereka merasa tak ada yang menghargai diri mereka, ucapan terima kasih atas saran yang disampaikan melalu jawaban surat membuat ketiganya merasa menjadi sosok yang berguna. 

Segala hal yang dipertimbangkan dengan seksama, jika tidak akan membawa dampak yang luar biasa. Demikian pemikiran pemilik toko kelontong. Ia takut sarannya akan berdampak kurang baik, sehingga sebelum memberikan saran, ia meminta informasi lebih lengkap sebagai dasar untuk memutuskan sesuatu.

Meski berlatar belajang Jepang, membaca tak perlu khawatir karena penerjemah sudah memberikan penjelasan mengenai istilah yang dipergunakan. Misalnya penjelasan mengenai ken di halaman 10, setara dengan 3,31 meter persegi.

Dalam situs Goodreads, terdapat  informasi bahwa ada 29 versi buku ini. Dari seluruh versi, terbitan Vietnam langsung membuat mata saya berbinar. Penuh dengan nuansa warna biru, seperti terbitan Gramedia he he he. Dari seluruh versi yang ada, versi Thailand yang menurut saya paling mendekati imajinasi saya tentang 
Toko Kelontong Namiya. 

Hem..., penasaran. Seandainya bisa mengirimkan surat permintaan konsultasi, apa yang akan kalian tanyakan?

Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com

Rabu, 03 Februari 2021

2021 #3: Kisah Kehidupan Seorang Gadis Minimarket

Penulis: Sayaka Murata
Penerjemah: Ninuk Sulistyawati
Editor: Karina Anjani
ISBN: 9786020644394
Halaman: 160
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Rating: 3.5/5

 Apakah saya  normal?

 Pertanyaan tersebut muncul begitu saya selesai membaca buku ini. Untuk bisa menyatakan diri kita "normal", maka perlu dipertimbangkan  versi "normal" mana yang akan kita ikuti.  Belum lagi versi yang kita pilih, tentunya memiliki banyak syarat yang harus dipenuhi untuk bisa dikatakan "normal".  Acapkali, sesuatu yang normal bagi dan beberapa orang, justru menjadi hal yang  aneh bagi orang lain.

Cara saya memperlakukan koleksi Little Women sebagai contoh. Dengan membungkus buku dengan plastik, lalu menempatkannya pada  boks plastik dengan  serap lembab, dan membuat semacam katalog, akan dianggap wajar bagi sesama penggila buku. Namun tidak begitu  anggapan  mereka yang kurang menyukai buku.

Demikian juga yang terjadi dengan Keiko. Baginya, kehidupan yang ia jalani adalah hal yang wajar. Daripada menangisi anak burung yang mati, lebih baik membawanya pulang untuk diolah menjadi makanan.  Ia tak paham kenapa  ibu dan temannya malah memilih untuk mengubur anak burung itu.

Normal baginya, ternyata tidak normal menurut orang tua, teman,  dan lingkungan sekitarnya. Mereka mempertanyakan kenapa wanita lajang berusia 36 tahun masing sendiri dan mau bekerja paruh waktu. meski awalnya bersikap masa bodoh, perlahan ia mulai merasa perlu menjadi "normal" sesuai standar orang lain.

 Diubahnya cara berpakaian mengikuti seseorang yang dianggapnya layak dicontoh, demikian juga cara berbicara. Meski berarti  Keiko harus  kehilangan ciri khas dirinya. Ia berusaha keras untuk bersikap "normal" dengan mengikuti standar yang berlaku pada masyarakt umum. Semua ia lakukan agar  bisa diterima menjadi bagian dari masyarakat.  

Bekerja paruh waktu selama 18 tahun sebagai pegawai minimarket,   merupakan hal yang normal untuknya. Terutama sekali karena  minimarket memiliki buku panduan.  "Aku bisa  menjadi pegawai toko berkat adanya buku panduan yang sempurna, dan tanpa panduan itu, aku sama sekali tak tahu bagaimana caranya menjadi manusia normal." Dengan demikian ia tak perlu mencari contoh untuk memenuhi standar normal, cukup dengan mengacu pada apa yang tertera pada buku panduan saja.  

Sekian lama  bekerja, membuat seakan-akan seluruh sel dalam tubuhnya sudah terkait dengan minimarket. Ia minum air mineral yang dibeli dari minimarket,  makanan yang ia masukkan dalam tubuh juga dibeli dari minimarket. Tak jarang, mimpinya juga terkait pekerjaannya di sana. Ia bahkan merasa bisa mendengarkan "suara" minimarket.

Bagian ini membuat saya agak penasaran. Kenapa pihak manajemen tidak mengangkatnya menjadi supervisor atau apalah namanya. Kenapa setelah sekian lama bekerja,  ia yang tak diberikan kesempatan untuk maju?

Apalagi pada bagian yang mengisahkan bagaimana ia secara otomatis menyusun barang di sebuah minimarket yang ia masuki sehingga membuat pembeli berbelaja barang yang semula tak terjual. Hal ini membuktikan pengalaman dan kompetensi dirinya yang sudah mumpuni. Hem..., mungkin saya yang kurang paham sistem pekerja di Jepang.

Kisah ini sebenarnya tak sesederhana dari yang kita bayangkan. Kelucuan yang ditampilkan dalam kisah ini menyimbangi keseriusan tema yang diangkat oleh penulis. Dimana pandangan masyarakat pada seseorang sering kali membuat kehidupan seseorang menjadi kacau. Seseorang yang terlihat atau memiliki pandangan berbeda, akan langsung menjadi sasaran perundungan.

Dari sisi kejiwaan, sepertinya apa yang dilakukan Keiko bisa disebut sebagai tindakan orang yang  mau keluar dari zona nyaman. Ia takut menghadapi banyak hal. Sehingga ketika ia sudah merasa nyaman berada dalam kondisi tertentu, maka ia tak ingin meninggalkan rasa kenyamanan yang ia miliki. Mereka yang belajar ilmu psikologi, tentu bisa menjelaskan lebih lengkap dari pada saya ^_^.

Sebagai pelengkap kisah, penulis menghadirkan tokoh Shiraha. Bisa dikatakan ia dan Keiko saling melengkapi. Shiraha yang semula juga bekerja paruh waktu di  minimarket yang sama.  Shiraha dipecat karena kerjanya yang dianggap tidak baik. Selama bekerja ia juga tak menunjukkan sikap yang terpuji.

Sesungguhnya ia hanya ingin mencari jodoh. Seorang perempuan yang mau mengurus dirinya, memberikan modal untuk ide usaha impiannya. Terutama sekali untuk menjawab pertanyaan banyak orang mengenai statusnya. Jika ada yang bertanya, maka ia bisa menjawab bahwa ia punya seorang kekasih.

Bisa dikatakan Keiko dan  Shiraha merupakan salah satu korban dari standar normal yang diciptakan masyarakat sekitar mereka. Tak masalah jika Shiraha adalah laki-laki pengangguran yang menumpang tinggal di tempat Keiko. Bagi keluarga dan teman mereka, yang penting Keiko memiliki pasangan.

Mendadak saya jadi teringat pada ucapan beberapa sahabat. Ada yang mengeluh karena sering ditanya kenapa belum juga hamil padahal sudah menikah selama sekian tahun. Stres akibat sering ditanya membuatnya menjadi berulang kali gagal hamil.

Sahabat yang lain, berkisah mendapat tekanan dari keluarga karena ia dan suaminya hanya memiliki satu orang anak. Mereka diharapkan memiliki anak banyak, terutama anak laki-laki supaya ada yang meneruskan nama keluarga. Kehidupan rumah tangga mereka yang selama ini harmonis menjadi sering muncul pertengkaran, terutama sehabis menghadiri acara keluarga.

Pada akhirnya, Keiko menerima keadaan dirinya yang dianggap abnormal. Seperti yang tertera di halaman 153. "Sekarang aku menyadari, aku lebih dari sekedar manusia: aku adalah pegawai minimarket. Sekalipun sebagai manusia aku abnornal, aku tak bisa lari dari kenyataan itu sekalipun tidak bisa menghasilkan banyak uang dan harus mati kelaparan. Semua sel di tubuhku ada untuk minimarket."

Ide kisah yang tak biasa ini membuat penulis mendapat BTBA Best Translated Book Award Nominee for Fiction Longlist (2019), Akutagawa Prize 芥川龍之介賞 (2016), 本屋大賞 for 9th place (2017)

Iseng, saya mampir ke situs Goodreads untuk melihat aneka kover buku ini. Versi terbitan Gramedia memang menarik, menawarkan nuansa seorang  pekerja keras yang menyerahkan keseluruh kehidupannya untuk menjadi pekerja teladan.

Sebuah buku yang perlu dibaca oleh kaum muda sehingga mereka bisa mengambil hikmah dari kehidupan Keiko. Juga oleh mereka yang ingin maju namun takut menghadapi berbagai tantangan.


Sumber gambar:
https://www.goodreads.com/

Jumat, 29 Januari 2021

2021#2: Panduan Membaca

Judul asli: How To Read a Book (Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca)
Penulis: Mortimer J. Adler, Carles Van Doren
Penerjemah: A. Santoso dan Ajeng AP
Editor: Irene Pontoh, Martin L. Sinaga, Sihol E. Manullang, Yanuarita Puji Hastuti
ISBN: 9791558604
Halaman: 530
Penerbit: PT Indonesia Publishing
Rating: 4/5

Menulisi buku merupakan  persetujuan  atau ketidaksetujuan pembaca dengan penulis. Itu adalah penghargaan tertinggi yang bisa pembaca berikan padanya.
~How To Read a Book, hal 57~

Kebiasan jelek menimbun  saya sepertinya tak akan hilang he he he. Membeli buku dan membacanya adalah dua kegiatan yang berbeda namun sama-sama menyenangkan untuk dilakukan. Apa lagi jika belanja buku tidak mempergunakan uang sendiri ^_^.

Salah satu timbunan saya adalah buku ini. Seingat saya, buku ini saya beroleh ketika pertama kali bergabung di kantor yang sekarang, sekitar tahun 2012-2013.  Ada yang memberi hibah  buku ini dalam jumlah yang lumayan untuk koleksi perpustakaan. karenanya jumlahnya sangat banyak,  beberapa ddimanfaatkan untuk dijadikan hadiah. Dan saya  salah satu yang beruntung mendapatkan satu eksemplar. 

Rasa bahagia menerima buku ini berbanding balik dengan semangat membacanya. Alasannya sederhana, karena judul buku ini memberikan kesan sebagai bacaan yang "berat" sementara saya sedang ingin membaca buku yang ringan dan menghibur. Maka tertimbunlah buku ini hingga tahun 2020 yang lalu, dibaca saat program Babat Timbunan dilakukan.

Secara garis besar, buku ini bisa dikatakan semacam tuntunan atau petunjuk teknis tentang cara membaca yang dianggap baik  sehingga tak saja menjadi suatu kegiatan yang  menyenangkan namun juga memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang banyak.

Dari  530 halaman, terbagi dalam empat bagian besar. Bagian pertama berisi tentang Dimensi Membaca. Terdapat uraian mengenai level membaca serta uraian mengenai level pertama serta kedua. Bagian kedua berisi mengenai level  ketiga dalam membaca yaitu Membaca Analitis.  Bagian keempat tentang pendekatan dalam membaca berbagai literatur.

Level membaca dimulai dari  Level Dasar/ Pemula/Pertama/Awal. Pada tahapan ini seseorang mulai  belajar mengenal huruf dan kata. Belajar memahami apa yang disampaikan melalui sebuah kalimat. 

Umumnya  level ini dilakukan saat seseorang memasuki sekolah dasar.  Walau beberapa taman kanak-kanak belakangan ini sudah mulai memperkenalkan aneka huruf dengan berbagai alasan.

Level kedua adalah Level Membaca Inspeksional/ Skiming/Pramembaca. Seseorang mulai bisa menjawab pertanyaan sederhana, seperti jenis buku apakah yang sedang ia baca? Apa perihal buku itu? Bagaimana strukturnya? Apa sajakah bagian-bagian buku tersebut?

Pada tahap ini, merupakan cara atau teknik  untuk menentukan yang terbaik dari sebuah buku dalam waktu yang sudah ditentukan, dengan kata lain waktu yang terbatas.  Cara kerjanya dengan membaca skimming secara sistematis dan superfisial.

Baca terus tanpa berhenti, abaikan hal yang tak dipahami. Konsen hanya pada yang Anda pahami. Tak perlu merasa bersalah karena tidak paham sehingga berkeras  mengulang supaya paham, ini merupakan hal yang menghalangi membaca.

Selanjutnya adalah Level  Membaca Analitis.  Merupakan kegiatan membaca secara menyeluruh atau membaca lengkap sehingga bisa mendapat pemahaman. Bedanya dengan level sebelumnya adalah pada waktu membaca. Pada level ini tidak ada  batasan waktu. Setelah membaca, ia bisa menunjukkan bagian buku, apa yang menjadi dasar seseorang menulis buku tersebut, bisa menemukan kata-kata penting penulis.

Level Sintopikal/Komparatif m
erupakan level tertinggi dalam membaca. Dalam level ini membuat seseorang sudah membaca banyak buku lalu menyandingkan topik-topik dari buku tersebut kemudian menghubungkan satu dengan lainnya.

Pada level ini terbagi menjadi dua tahapan. Pertama adalah persiapan. Kedua, membaca sintopikal itu sendiri.  Secara rinci hal tersebut bisa dibaca pada halaman 406-408 dalam buku ini. Perlu diingat, bahwa tiap level saling berhubungan. Untuk bisa sampai pada level tertinggi, seseorang harus mulai dari dasar terlebih dahulu, begitu seterusnya.

Setelah membaca buku ini,  saya  menjadi merasa bahwa selama ini cara membaca saya salah. Saya membaca sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan. Membaca fiksi memberikan tambahan pengetahuan, persoalan benar atau salah memang harus dipertimbangkan dengan matang.

Membaca dalam buku ini adalah suatu kegiatan yang serius dan membutuhkan tanggungjawab moral. Karena begitu selesai membaca, seyogyanya kita melakukan telaah pada  bacaan tersebut. Jika bermanfaat, maka harus dibagikan pada banyak pihak.

Kegiatan membaca cepat bisa jadi berguna jika tujuannya adalah untuk hiburan semata. Atau sekedar menambahkan jumlah buku yang sudah dibaca. Tapi perlu diperhatikan bahwa hal tersebut bisa membuat seseorang menerima begitu saja informasi yang disajikan tanpa memahami kebenarannya.

Buku ini juga perlu dibaca dengan perlahan agar bisa dipahami maknanya. Kendala memahami buku ini bukan pada hasil alih bahasa, namun pada materi yang begitu padat. Seakan segala hal  terkait membaca disampaikan semuanya dalam buku ini.

Beberapa bagian, terutama yang terkait tentang mencoret atau memberikan catatan pada buku yang dibaca pada halaman 57, langsung merasa sebal! Mungkin bagi penulis buku ini, mencoret buku adalah sebagai penghargaan. Tapi tidak begitu bagi saya.

Jika ada hal yang perlu mendapat perhatian khusus, maka saya akan memberikan tanda (dengan post it atau sejenisnya pada halaman tersebut), lalu menuliskan hal yang dirasa penting dikertas lain dan diselipkan pada plastik penyimpanan buku tersebut. Tentunya dengan menambahkan keterangan dari halaman berapa catatan tersebut diambil.

Meski buku ini membuat persepsi saya tentang membaca berubah, namun tak ada salahnya dibaca oleh banyak pihak yang mengaku gila baca. Sekedar mendapat tambahan wawasan tak ada salahnya bukan?

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com


Jumat, 01 Januari 2021

2021#1: Petualangan Perawat Sekolah Ahn Eunyoung

Judul asli: School Nurse Ahn Eunyoung
Penulis:Chung Serang
Penerjemah: Jingliana
ISBN: 9786020643625
Halaman: 272
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 85.000
Rating: 4/5



"Tidak. Buka baju kalian."

"Apa?"

"Ambil pisau cukur ini, lalu cukur bulu ketiak kalian."

"Ha?"

"Ih, tidak mau!"

...

"Tapi kami tidak mengerti maksud dari hukuman ini."

...

Pada zaman dulu, bulu ketiak adalah sayap yang harus dicabut. Setelah para pengkhianat tertangkap dan sebelum dimasukkan ke dalam minyak panas, bulu ketiak mereka akan dicukur lebih dahulu. Itulah hukuman yang paling memalukan di dunia.

~School Nurse Ahn Eunyoung, hal 70-71~ 

Apa yang ada dalam benak kalian jika mendengar kata perawat?
Baik, bagaimana dengan perawat sekolah?  Bagi saya, perawat sekolah adalah seorang tenaga kesehatan yang bertugas di UKS sekolah. 

Selain memberikan pertolongan pertama terkait kecelakaan yang terjadi di area sekolah, ia juga bertugas memberikan edukasi terkait kesehatan. Misalnya bagaimana mengatasi sakit kram saat datang bulan, bagaimana menjaga kebersihan wajah agar tidak jerawat, bagaimana mengatur pola makan sehat, dan sejenisnya.

Bagi perawat sekolah lain, mungkin gambaran saya akan tepat, minimal mendekati. Namun tidak bagi perawat sekolah Ahn Eunyoung dari  Sekolah M. Sosoknya sangat berbeda dengan gambaran yang saya uraikan di atas.

Ia suka  berkeliaran di area sekolah   dari pada duduk diam di ruang UKS. Dengan mempergunakan sandal bersol tebal (sebelum akhirnya mempergunakan sepatu olah raga) dan membawa pedang plastik warna-warni dan pistol BB, sosoknya jadi mudah dikenali.

Eunyoung memiliki kelebihan bisa melihat dan melawan hal-hal yang kasatmata. Tak heran jika ia sering bertingkah aneh menurut pandangan banyak orang, sesungguhnya ia sedang "membereskan" hal-hal yang bisa membawa dampak buruk bagi sekolah.

Sudah menjadi gosip umum yang menyebutkan ia menjalin  hubungan mesra dengan seorang guru Sastra Klasik yang kebetulan generasi pendiri sekolah, Hong Inpyo. Kepribadian dan penampilannya sangat bertolak belakang dengan  Eunyoung.

Untuk urusan penampilan, bisa dikatakan Eunyoung masuk dalam kategori "unik". Meski terlahir dengan kulit yang tak bagus, ia  tak menggunakan foundation dengan benar. Tak bercukur dengan benar, stoking yang dipakai selalu robek.  Kadang ia mempergunakan lipstik dengan warna begitu terang. Rambutnya dibuat keriting, diberi warna,  dan dipotong asal-asalan. Ia menyukai motif bunga.

Sementara Inpyo termasuk jenis yang suka merapikan diri. Ia selalu memastikan dirinya untuk mencuci muka sampai bersih, memberikan pelembap, dan mematutkan diri. Ia tak begitu  menyukai motif bunga. Baginya, orang-orang yang memilih motif bunga adalah orang-orang yang tidak berkelas dan tidak bisa memusatkan perhatian dengan benar.

Eunyoung digambarkan sebagai orang yang bersemangat, meski berusaha menghindari pertempuran jika tak perlu, namun ia tak ragu bertempur hingga akhir. Sementara Inpyo, pembawaannya lebih tenang. Dengan akses dan kepadaiannya ia lebih suka mencari informasi mengenai hal yang dihadapi sebelum bertempur secara langsung dengan musuh.

Meski berbeda, dengan cara yang unik keduanya saling melengkapi. Ketika seseorang melihat  Eunyoung sedang menembakkan pistol BB sambil menggenggam erat tangan Inpyo,  bisa dianggap mereka berdua adalah pasangan yang sedang mengerjakan hal konyol.

Padahal sebenarnya, Eunyoung sedang bertarung melawan sesuatu, sedangkan Inpyo memberikan energi yang ia miliki. Dengan bekerjasama  misi menghentikan kekacauan  yang terjadi  pun berhasil diselesaikan dengan baik.

Dalam buku ini terdapat sepuluh kisah. Antara lain Aku mencintaimu Jellyfish; Si Lucky dan Si Kacau; Tungau dan Murid Pindahan; serta Berpelukan di Tengah Pusaran Angin. Setiap kasih  disampaikan dengan cara yang unik dan menghibur. 

Secara keseluruhan, isi buku ini mengisahkan tentang upaya Eunyoung membereskan  berbagai kejadian terkait hal kasatmata yang terjadi di Sekolah M.  Bagaimana ia menghadapi siswa yang diduga terkait dengan hal-hal tertentu, membantu menyelesaikan kejadian yang menimpan sekolah, dan hal sejenis.

Selain hal umum yang bisa terjadi di sekolah akibat kenakalan remaja, ada juga topik, juga menyinggung hal agak sensitif. Misalnya tentang pandangan Inpyo terhadap hubungan antara sesama jenis, menerima murid dengan kemampuan agak kurang, atau adanya dugaan tindakan  negatif pihak lain  dengan cara membayar  shaman.

Favorit saya adalah kisah tentang Si Lucky dan Si Kacau. Bisa disebut merupakan kisah  paling konyol yang pernah saya baca. Konyol tapi  secara logika bisa saja,  menjadi suatu hal yang benar. Tak henti-henti saya tertawa.

Kelakuan kedua siswa yang dijuluki si Lucky dan Si Kacau memang khas kenakalan anak saat puber.  Masa puber sungguh adalah masa yang menyebalkan dan merepotkan, menurut  Eunyoung. Namun karena ada campur tangan hal lain, keduanya menjadi tak terkendali. Harus segera diatasi, tugas bagi pasangan Eunyoung dan Inpyo.

Cara menyelesaikan masalah keduanya sungguh tak terduga. Sungguh! Kalau saya menjadi Eunyoung, mungkin saya menolak melakukan solusi yang diberikan oleh  Inpyo. Cari cara lain, atau mencari bantuan orang lain untuk menyelesaikannya.

Seperti yang saya di atas, saya tak berhenti tertawa, tak hanya pada kisah Si Lucky dan Si Kacau namun seluruh kisah yang ada. Aneka kekonyolan yang timbul karena kelakuan kedua orang dewasa Eunyoung dan Inpyo, ditambahkan kelakuan murid-murid di Sekolah M terkait hal kasatmata menjadi hiburan segar.

Ada juga bagian yang membuat saya menjadi baper. Duh, kalau saya saja baper bagaimana dengan teman-teman yang menyukai adegan romantis. Pasti lebih baper lagi. Misalnya, ketika kedua tokoh utama dalam kisah ini berjalan-jalan sambil bergandengan tangan di sebuah tempat romantis (kalian baca saja  buku ini biar ikutan baper ^_^).

Terkait baper, urusan cinta memang menjadi bumbu dalam kisah ini. Porsinya tidak banyak alias tidak terlalu diekspos secara total karena memang bukan kisah romantis.  Tapi dengan cara yang unik, penulis membuat pembaca terbawa perasaan dan ingin keduanya menjadi sepasang kekasih.

Adegan bergandengan tangan sebagai contoh. Berapa lama keduanya bisa melakukan hal tersebut  tanpa menimbulkan rasa?Apakah  Eunyoung memang sedang mengisi baterai dalam dirinya dengan cara menarik energi dari Inpyo, atau keduanya tanpa sadar menikmati saat ketika tangan mereka saling menggenggam? Uhuk... banyak adengan yang bisa menimbulkan rasa baper tanpa sadar.

Membaca buku ini membuat tersadar, banyak hal yang terjadi di sekitar kita tanpa kita sadari. Mungkin saja suatu hal terjadi karena hal yang lain. Suatu peristiwa buruk, merupakan dampak dari peristiwa yang lain.  Maka sepatutnya kita lebih mawas diri dalam bersikap.

Sekedar pesan, saat mulai membaca, mungkin saja akan mengalami rasa tak nyaman,  seakan berrtanya pada diri sendiri, ini sebenarnya kisah tentang apa? Cara bercerita penulis yang unik, memang membutuhkan adaptasi bagi pembaca yang baru pertama kali membaca karyanya. Seperti saya he he he.

Setelah sukses melewati bagian awal, pasti bisa tertawa tanpa henti seperti saya. Perjuangan diawal terbayar dengan karya yang bagus. Oh ya, meski demikian, saya merasakan ada suatu hal kecil yang membuat buku ini kurang "mantap" untuk mendapat bintang 5. Berulang kali saya renungkan, tapi belum ketemu apakah itu.

Untuk urusan terjemahan, bagi saya kalimat yang disajikan mengalir dengan baik. Jika saya bisa tertawa, artinya saya menikmati hasil karya tukang alih bahasa. Sebuah hasil karya yang patut diacungi jempol. Tanpa hasil kerja kerasnya, tak mungkin saya dan pembaca lain bisa terpukau dengan kisah ini.

Mendadak saya jadi teringat kesan pertama ketika melihat kover buku ini. Semula saya mengira ini kisah yang terkait dengan dunia keperawatan. Suatu topik yang sangat relevan mengingat saat pandemi seperti ini tenaga kesehatan seperti perawat sangat berjasa. 

Tapi, beberapa "makhluk" yang melayang di sekitar tubuh perawat membuat saya mengira jangan-jangan ini kisah honor. Mungkin kisah tentang seorang perawat yang menghadapi aneka hal horor selama bertugas. Agar tak terlalu berkesan seram, makanya kover dibuat lebih jenaka.

https://seouljournal.com/

Semua "mungkin"ala saya ternyata salah semua ^_^. Bisa dibilang ini memang kisah terkait hal tak kasatmata alias makhluk gaib. Mungkin diharapkan menjadi kisah  fantasi honor, namun justru bagi saya menjadi kisah yang lebih menghibur. Kalau versi lokal, horor ala Suzanna.

Sesungguhnya saya ingin merekomendasikan buku ini untuk segala usia, minimal usia 15 tahun keatas. Tapi sepertinya pihak penerbit menganggap usia yang paling pas adalah 17 tahun. Mungkin beberapa adegan dianggap tidak layak untuk abg.

Sang penulis, Chung Serang (15 September 1984)  adalah penulis fiksi ilmiah dan fantasi Korea Selatan. Dia memenangkan Penghargaan Novel Changbi ke-7 pada 2013, dan Penghargaan Sastra Hankook Ilbo pada 2017. Sebelum debutnya, dia bekerja sebagai editor di Minumsa dan Munkandongne.

Beberapa sahabat menyebukan  telah menonton serial ini pada sebuah televisi berbayar. Ada yang menyebutkan menarik, ada yang menyebutkan aneh. Tergantung selera masing-masing. Tapi bagi saya, ini adalah buku yang paling pas untuk membuka tahun 2021!

Selamat Tahun Baru!!!!


Sumber gambar:
https://seouljournal.com/



Selasa, 29 Desember 2020

2020 #48: Nostalgia Kisah Lawas

Salah satu cara saya  agar tetap beraktivitas saat pandemi adalah dengan membereskan rak buku. Proyek ambisius yang membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Percayalah! Para penggila buku paham sekali maksud saya ini.

Salah satu alasan kenapa membutuhkan banyak waktu dan tenaga adalah, kadang saya berhenti ketika menemukan sebuah buku yang sepertinya menarik (lagi) perhatian saya. Coba diingat dapat dari mana, apakah sudah pernah dibaca, cek di GRI apakah ada versi lainnya, dan hal-hal sejenisnya. 

Bayangkan kalau 1 buku yang saya temukan menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk ritual tersebut. Berapa waktu yang akan dihabiskan jika saya menemukan 10 buku selama 1 hari saja!

Beberapa buku berikut ini, sengaja saya ulas secara singlat sekedar mengenang keseruan ketika membacanya. Siapa tahu, ada yang juga merasakan hal sama.

Judul: Menggulung Komplotan Penculik
Penulis: Dwianto Setyawan
Halaman: 91
Tahun terbit: 1979
Penerbit: Balai Pustaka
Rating: 4/5

 Empat orang sahabat berencana menghabiskan malam panjang di rumah salah satu dari mereka. Keempatnya adalah Iwan, Sutitik, Mandoko, serta Robin.

Iwan merupakan anak tunggal seorang jutawan namun tak pernah menunjukkan sifat manja atau egois. Robin yang berbadan gempal dan sering datang terlambat jika ada janji berkumpul, merupakan anak seorang direktur perusahaan obat dari Sumatra, ibunya keturunan Jerman. 

Sementara itu, Sutitik adalah anak seorang penjahit sederhana dengan 6 saudara, Demikian juga dengan Mandoko, ia tinggal di rumah dengan dua kamar bersama 4 adiknya. Terbayangkan, jika mereka tidur, posisinya persis ular melingkar. Ayahnya adalah pegawai kantor pos.

Rencanya empat sekawan tersebut menghabiskan waktu dengan riang sambil menikmati panganan yang disediakan. Kebetulan, malam ini kedua orang tua Iwan ada keperluan keluar rumah, sehingga mereka membaca kunci sehingga tak perlu menyusahkan anak-anak ketika pulang nanti

Mendadak, terdengar ketukan keras di pintu. Meski merasa heran, siapa yang mengetuk malam-malan begini, mereka dengan ceroboh membuka pintu, karena penasaran siapa yang begitu keras mengetuk pintu depan. Begitu pintu terbuka sedikit, sang pengetuk mendorong Iwan yang membuka pintu dengan kasar! 

Iwan dan Robin diculik! Mereka meminta uang tebusan sebesar Rp 12 juta Rupiah! Jumlah yang sangat besar untuk ukuran saat itu.  Penulis penyelipkan pesan moral pada bagian ini, agar  anak-anak diberikan pengarah untuk berhati-hati jika berada di rumah. Tidak membukakan pintu begitu saja.

Sepertinya penculik sangat tahu situasi rumah dan paham siapa saja yang ada saat itu. Buktinya hanya Iwan dan Robin yang diculik. Andaikata kita anak orang kaya, kita akan mereka culik juga, demikian pikiran Sutitik dan  Mandoko.

Akhir kisah bisa ditebak. Semuanya berakhir dengan baik, penculik tertangkap, Iwan dan Robin kembali dengan selamat. Sutitik dan Mandoko ikut membantu memecahkan misteri penculikan kedua sahabat mereka sehingga layak mendapatkan hadiah.

Untuk kisah tahun 1970-an, kisah ini lumayan seru. Saya membayangkan  jika diceritakan ulang dengan beberapa penyesuaian,  tetap masih  seru. Kepiawaian penulis menciptakan alur membuat kisah ini menjadi menarik.

Judul: Laki-Laki dan Mesiu

Penulis: Trisnojuwono
Halaman:116
Tahun terbit: 1971
Penerbit: Pustaka Jaya
Rating: 4/5

 Jika tidak salah, buku ini diterbitkan ulang oleh salah satu penerbit besar. Kovernya dibuat lebih menarik dengan aneka warna dan ilustrasi yang mengusung tema perjuangan. Meski melihatnya saya malah merasa terenyuh karena menggambarkan suasana pertempuran.

Versi yang saya baca merupakan ejaan lawas. Mungkin anak zaman sekarang tak banyak yang tahu bahwa nj adalah nydj dibaca j, tj adalah c, Hal-hal seperti itu yang membuat membaca buku ini menjadi tantangan tersendiri.

Terdapat  10 kisah yang bisa dinikmati dalam buku ini. Ada Tinggul; Kopral Tohir; "Dropping-zone"; Restoran; Sebelum Pajung Terbuka; Pak Parman; Pagar Kawat Brduri; Di Kaki Merapi; Rantjah;  serta Lewat Tambun. Kesamaan kisah-kisah tersebut adalah pada waktu peristiwa yaitu masa pascakemerdekaan.

Membaca kisah Dropping-zone yang ada di halaman  30, menimbulkan rasa haru. Akibat habisnya persediaan, beberapa tentara nekat meminta makan penduduk. Hal yang sangat dilarang oleh komandan mereka sebenarnya. Ada yang ketahuan melakukan hal tersebut, langsung mendapat teguran keras.

Menjadi tentara saat itu sungguh berat. Tidak saja harus menghadapi musuh secara fisik, namun juga harus kreatif dalam menghadapi kehidupan. Saya teringat kisah Oshin, dimana anak pertamanya meninggal bukan karena bertempur namun karena kehabisan bekal makanan (kalau tidak salah ingat).

Kisah Tingul  mendapat Hadiah Pertama majalah Kisah tahun 1956. Buku kumpulan cerpennya, Laki-laki dan Mesiu (1957), mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957/1958. Penghargaan yang patut diperhitungkan

Judul: Mentjahari Pentjuri Anak Perawan
Penulis: Soeman H.S
Halaman:98
Tahun terbit: 1961 (Cetakan ke-IV)
Penerbit: N.V. Nusantara
Rating: 4/5

 ,,Pada pendapat saja, djangan dahulu dikabarkan kepada polisi,"udjar Sir Djoon, ,,karena berurusan dengan polisi itu banjak susahnja. Tak boleh tidak kabar ini makin petjah kemana-mana. djadi memberi aib kita semua dan memberi malu tuan djua. Dan melemahkan tenaga kita; padahal polisi itu belum tentu mau bekerdja dengan sungguh-sungguh hati untuk keperluan kita...."

Kembali menikmati sebuah buku dengan ejaan lawas. Seorang gadis bernama Nona mendadak lenyap dari kamarnya. Diduga ia dibawa kabur melalui jendela rumah. Orang tua dan tunangannya panik mencari. Salah seorang yang dianggap keluarga-Sir Djoon, menawarkan bantuan untuk mencari keberadaan Nona. Bisa dikatakan ialah yang menjadi detektif dalam kisah ini.

Tapi jangan dikira cara penyelidikan yang dilakukan oleh Sir Djoon mirip dengan cara kerja detektif yang umumnya kita baca. Tak ada kaca pembesar, tak ada adegan duduk manis sambil merenung atau menyelidiki TKP, jelasnya tak ada juga adegan mempergunakan bank data untuk melakukan penyelidikan awal.

Saya menemukan banyak kalimat indah dalam buku ini. Misalnya, " Tak usah engkau sjak-sjak hati kepadaku."  Kemudian kalimat,"... tiada sebuahpun tanda bahkan alamat jang boleh menggerakkan hati, membersihkan kelamin manusia itu menjesali muhibat antara keduanja.  Sebaliknja antara kasih-mengasihi itu, tersimpullah tali tjinta bahagia tersepuh mati jang mungkin lekang diterik panas dan lapuk dilebat hujan...."

Sang penulis, Soeman H.S, bisa dianggap sebagai pelopor kisah detektif di tanah air. Meski cara berceritanya dipengaruhi  kisah detektif ala barat, namun ia memasukan unsul lokal dalam kisah. Misalnya dengan membuat sosok detektif yang  bertingkah laku sopan dan tak pernah berkata kasar.

Karya sang penulis yaitu Kasih Tak Terlarai (1929); Pertjobaan Setia (1931); Mentjahari Pentjoeri Anak Perawan 1932); Kasih Tersesat (1932); Teboesan Darah (1939); dan Kawan Bergeloet (1941). 

Sepertinya saya harus sering beberes rak, siapa tahu  masih banyak buku lawas  dalam dus yang belum saya bongkar ^_^.