Rabu, 05 Oktober 2022

2022 #26 Menikmati Kisah Agatha Christie

September adalah bulannya Agatha Christie. Maka, secara iseng saya memutuskan meminjam banyak buku AG dari koleksi perpustakaan kantor (tahu dong kantor yang saya maksud). 

Agatha Mary Clarissa Miller lahir pada 15 September 1890 dari keluarga kelas menengah atas  kaya di Torquay, Devon, Inggris. Merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan Frederick Alvah Miller dan  Clarissa Margaret  Miller née Boehmer. AG  meninggal dengan damai pada 12 Januari 1976, diusia 85 tahun, di rumahnya di Winterbrook House.

Karya pertamanya adalah sebuah cerita pendek berjudul The House of Beauty yang ditulis pada usia 18 tahun. Cerita tersebut belakangan berkembang menjadi Selagi Hari Terang atau While the Light Lasts and Other Stories.  Sosok Hercule Poirot dan Miss Marple merupakan tokoh yang sering ditemukan pembaca dalam karya AG. Meski demikian, ada juga pasangan detektif Thomas Beresford dan istrinya, Prudence , Harley Quin, dan Parker Pyne.

Atas kontribusinya pada dunia sastra, pada tahun 1971, AG diangkat menjadi Dame (DBE). Guinness World Records menyantumkan AG sebagai penulis fiksi terlaris sepanjang masa, novelnya telah terjual lebih dari dua miliar eksemplar. Dia juga merupakan penulis pementasan drama terlama di dunia yang berjudul The Mousetrap. Drama tersebut  ditampilan di Teater West End dari 1952 hingga 2020. Pertunjukan itu ditutup pada Maret 2020 karena Pandemi Covid-19. 

Sekedar berbagi tentang kisah yang saya baca.

Judul asli: Murder on the Links (Lapangan Golf Maut)
Alih Bahasa: Suwarni A.S
ISBN: 9789792266764
Halaman: 320
Cetakan: Kedelapan-Januari 2018
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Rating: 3.75/5

Manusia adalah makhluk yang bertindak  sesuai kebiasaan. Baik dalam hukum, dalam hidupnya sehari-hari, maupun di luar hukum.  Bila seseorang melakukan kejahatan, maka semua kejahatan lain yang dilakukannya pasti mirip benar dengan kejahatan yang pernah dilakukannya.

-Murder on the Links, hal 114-

Suatu hari, Poirot menerima surat permintaan bantuan dari seorang pria-Tuan Renauld. Ia mendesak agar Poirot segera menuju ke tempat tinggalnya Villa Genevieve, Merlinville, Perancis. Tak disebutkan secara spesifik dalam surat yang Poirot terima, hanya sang pengirim merasa nyawanya terancam, ada yang ingin membunuhnya. Kedatangan Poirot diharapkan dapat membantunya.

Sayangnya, Poirot datang terlambat! Tuan Renauld ditemukan tewas ditikam dengan pisau milik sang istri. Menurut pengakuan sang istri, malam itu ada beberapa orang yang menerobos masuk ke kamar mereka, lalu mendesak Tuan Renauld untuk menyerahkan sesuatu, Sang istri diikat dan disumpal mulutnya, sementara sang suami dibawa keluar kamar sebelum akhirnya ditemukan tewas.

Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa beberapa saksi mengakui mendengar Tuan Renauld menyambut kedatangan Nyonya Daubreuil yang reputasinya bisa dibilang kurang baik. Suasana menjadi kurang nyaman bagi banyak pihak, terutama ketika Jack Renauld-sang anak  tak sengaja mengetahui kekasihnya berada di tempat jasad sang ayah ditemukan. Kisah cinta menjadi bumbu dalam kasus ini. Apalagi hubungan Jack tidak disetujui oleh kedua orang tuanya.

https://www.goodreads.com/
book/show/22737904-
assassinato-no-campo-de-golfe
Misteri makin berkembang ketika ditemukan mayat kedua yang diduga dibunuh dengan cara yang serupa. Bukan Poirot namanya jika tidak menemukan petunjuk dari hal-hal yang diabaikan orang lain. Misalnya tentang jas atau jaket yang dipergunakan Tuan Renauld, terlihat lebih pendek. Kemudian sepotong pipa pendek dari timah yang sudah berubah warna yang ditemukan dekat mayat Tuan Renauld. 

Poirot dengan caranya yang unik tak diragukan lagi berhasil memecahkan misteri tersebut. Membaca bagaimana Poirot menyambungkan kepingan misteri merupakan keseruan tersendiri. Terutama jika ada bagian yang serupa dengan kesimpulan kita. Bagian  lain yang juga menyenangkan untuk dibaca adalah  sosok Kapten Arthur Hasting yang ikut mendapat bagian terkait kisah romantis. 

Buku ini merupakan buku kedua yang membahas tentang Poirot. Terbit pertama kali pada tahun 1923 oleh Bodley Head (London) dan  Dodd, Mead & Co. (New York). Sementara versi terjemahan,  Lapangan Golf Maut, pertama kali diterbitkan tahun 1985 oleh Gramedia dengan penerjemah Ny. Suwarni A.S.

Judul asli: Three Act Tragedy (Tragedi Tiga Babak)
Alih Bahasa: Mareta
ISBN: 9786020383682
Halaman: 288
Cetakan: Keenam-Agustus 2018
Penerbit: Gramedia  Pustaka Utama
Rating: 3.25/5

".... Kewajiban kita sebagai warga negara adalah melaporkan penemuan ini dengan segera pada polisi, Kita tak punya hak untuk menyimpannya sendiri."
-hal 121-

Kenapa diberi judul Tragedi Tiga Babak? Penasaran sekali saya ketika pertama kali menemukan buku ini. Ternyata hal tersebut terkait dengan tiga peristiwa yang terjadi, dimana ketiganya mungkin saja memiliki keterkaitan satu dengan lainnya.

Sir Charles Cartwright adalah seorang aktor kawakan yang memasuki masa pensiun. Ia ingin menghabiskan hari-hari di Crow's Net-rumah peristirahatan di tepi pantai dengan pemandangan pantai Loomouth yang menawan.

Suasana di sana tentram dan damai hingga suatu malam saat acara jamuan makan malam, seorang pendeta-Mr. Babbington  jatuh tersungkur setelah minum koktail. Dari hasil penelitian awal, ditemukan racun pada koktail yang ia minum. Kesimpulannya, ia  dibunuh!

Belum terpecahkan misteri tentang siapa pembunuh Mr. Babbington, terjadi lagi pembunuhan! Kali ini korbannya adalah dr. Bartholomew Strange, seorang spesialis syaraf. Ia meninggal ketika sedang meminum segelas anggur saat mengadakan acara jamuan makan malam. Diduga ia mengalami serangan stroke. Tapi hasil penyelidikan awal menunjukkan ia juga dibunuh, keracunan nikotin!

Dan kematian ketiga muncul secara tak terduga! Seorang pasien dr. Bartholomew Strange ditemukan keracunan nikotin melalui sekotak coklat yang ia terima. Hal ini makin terasa aneh mengingat selama ini menempati bagian yang jarang terkoneksi dengan dunia luar. Jadi bukan tanpa alasan ia mendapat kiriman coklat beracun.

https://www.goodreads.com/book/
show/11201881-tragedia-in-tre-atti
Tiga kematian dan tiga orang menyelidik, Mr. Satterhwaite, Sir Charles, dan Poirot dari jauh, seharusnya membuat kisah ini menarik. Entah kenapa, saya merasakan ada adegan yang dipaksakan. Kemudian ada juga kesan kasus diselesaikan dengan begitu saja, jauh dari ciri seorang AC.

Buku ini seakan menjadi pembuktian bahwa meski berada jauh, Poirot tetap bisa menyelesaikan sebuah misteri berkat kemampuannya melakukan deduksi. Paparan Poirot penuh gaya dalam menyelesaikan misteri tetap ada pastinya. Bertindak sebagai narator dalam buku ini adalah Mr. Satterthwaite.

Mendadak saya merasa tak asing dengan nama Mr. Satterthwaite, sosok yang digambarkan gemar mengamati walau tak secanggih Poirot. Ternyata Mr. Satterthwaite juga sempat menjadi bagian dari kisah AC yang berjudul Mr Quin yang Misterius (The Mysterious Mr. Quin). Saya sepertinya perlu membaca ulang kisah itu.

Kisah ini pertama kali diterbitkan di Amerika Serikat oleh Dodd, Mead and Company pada 1934 dengan judul Murder in Three Acts. Sementara di  Inggris diterbitkan oleh Collins Crime Club pada Januari 1935 dengan judul asli Tragedi Tiga Babak atau Three Act Tragedy

Hem... dari seluruh kisah AC, sepertinya belum semua saya baca. Baiklah, saatnya meminjam ^_^. 

Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com







                                                                                                                        

Sabtu, 24 September 2022

2022 #25: Ayo Membentuk dan Melatih Otak Buah Hati

Judul asli:
BRAIN SCULPTOR: Seni Membentuk dan Melatih Otak Anak
Penulis: Irine Phiter
Editor: Rina K. Agata
Ilustrasi: @Hhonhon
ISBN:9786230034206
Halaman: 234
Cetakan: Pertama-Agustus 2022       
Penerbit: Elex Media Komputindo
Harga: Rp 115.000
Rating: 3.5/5

Daya konsentrasi (attention skill) adalah kemampuan otak untuk memusatkan perhatian pada satu kegiatan atau sumber stimulus selama rentang waktu tertentu. 
-BRAIN SCULPTOR: Seni Membentuk dan Melatih Otak Anak, hal 19-

Menjadi orang tua, terutama ibu merupakan sebuah proses jangka panjang tak kesudahan. Sayangnya, tak ada sebuah buku pedoman atau petunjuk yang pas untuk menjadi orang tua. Memang, kita bisa menemukan berbagai buku terkait bagaimana mendidik anak dengan mudah. Tapi, manakah buku yang paling sesuai? 

Sebuah buku yang berisi, katakan saja perihal tips untuk mendampingi anak belajar secara optimal, mungkin sesuai dengan seorang anak, tapi tidak bisa diterapkan pada anak yang lain. Kadang, bahkan bisa diterapkan pada kakak namun tidak pada sang adik. Kenapa? Karena pada dasarnya setiap anak adalah unik.

Lalu apakah membaca buku ini juga merupakan sebuah kesia-siaan semata? Tentu tidak! Buku ini mengajak para ibu-disapa Moms (atau Mom), untuk mengembangkan kemampuan otak anak.  Hasilnya tentu tidak akan sama setiap anak, dalam hal ini tergantung bagaimana komitmen orang tua. Tanpa komitmen yang kuat, hasilnya tentu tidak akan optimal.

Terbagi dalam 10 bab, mulai dari Si Pemahat Otak: Otak yang Luasr Biasa; Susah Mengontrol Emosi (Emotional control); Bisa Baca Tapi Susah Paham (Reading comprehension); hingga Proyek Mahakarya. Dan tentunya ada  bagian Pengantar, yang sangat saya sarankan untuk dibaca  dipahami sebelum melangkah pada bab-bab selanjutnya, dan Daftar Pustaka yang bisa Moms jadikan referensi.

Mom pernah merasakan betapa lelahnya hari, karena buah mati rewel? Maka Mom perlu membaca Bab 5 yang berjudul Susah Mengontrol Emosi (Emotional control). Bab ini memberikan penjelasan mengapa seorang anak yang semula tenang mendadak meledak-ledak emosinya, apa penyebabnya, dan tips bagaimana Mom mengatasi hal tersebut.

Menurut buku ini, seorang anak memiliki tangki emosi. Jika tangki itu mulai  berkurang menuju kosong, maka ia akan menjadi cepat marah, berteriak-teriak sesuka hati, bertingkah rupa-rupa yang bisa membuat tangki emosi Mom juga terkuras. Kurang baik bukan?

Pada halaman 92, Mom bisa mendapat informasi kenapa si kecil bisa mengalami perubahan emosi secepat kilat. Selanjutnya pada halaman 94, Mom bisa menemukan bagaimana cara agar tangki emosi bisa terisi kembali.  Oh ya, Mom tak perlu khawatir, temperamen si kecil memang tak bisa diubah, namun bisa dilatih dan ditingkatkan kemampuan untuk mengontrolnya. 

Apakah Mom pernah membantu si kecil belajar? Misalnya meminta ia membaca suatu hal, kemudian Mom akan mengajukan pertanyaan. Ternyata, ketika Mom mengajukan pertanyaan, sedikit bahkan tak ada pertanyaan yang dijawab dengan benar, tak jarang si kecil hanya menggelengkan kepala tanda tak tahu jawabannya.

Merasa gemas bukan Mom? Padahal ketika ditanya, si kecil mengatakan sudah mempelajarinya dan paham dengan apa yang ia baca. Si kecil bisa saja langsung menangis dan merajuk karena tak paham apa yang terjadi. Ia yakin sudah membaca dan paham, tapi kenapa ketika Mom bertanya, semua hilang dari pikirannya.

Tak perlu merasa kesal Mom, jangan sampai tengki emosi Mom kosong. Bukan salah  cara Mom bertanya, bukan juga salah si kecil karena tidak belajar sungguh-sungguh.  Coba Mom simak Bab 7: Bisa Baca Tapi Susah Paham (Reading Comprehension) agar bisa mendapatkan solusi terbaik.

Membaca dan memahami bacaan menurut buku ini adalah dua hal yang berbeda. Pada halaman 144 Mom bisa menemukan Reading Pyramid. Dijelaskan bahwa membaca memang bisa diajarkan sejak dini, namun kemampuan untuk memahami dan menelaah bacaan merupakan proses yang membutuhkan sistem penunjang  dalam otak. Sistem tersebut belum tentu siap pada usia belia.

Disebutkan juga dalam buku Proust and the Squid, the Story and Science of Reading Bran karangan Maryanne Wolf, Reading Brain harus dibangun sejak dini sesuai dengan tahapan yang ada, sehingga seorang anak bisa memiliki dasar yang kuat untuk memahami bacaan.
Tingkat kemampuan membaca (reading grade level) menentukan kecepatan belajar seorang anak, juga mempengaruhi kapasitas membaca dan berpikirnya. Dalam jangka panjang, kemampuan membaca ini berpengaruh ke tingkat kecerdasan verbal (IO verbal).
-Brain Sculptor, hal 152-
Oh ya Mom, membaca setiap hari juga disarankan bagi orang dewasa lho. Sebuah riset membuktikan membaca setiap hari membuat orang dewasa memiliki kemampuan kognitif  otak yang lebih unggul serta mencegah demensia-penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat.

Coba diingat, berapa kali buah hati bersemangat untuk mengikuti kursus atau klub terkait cita-citanya, kemudian mundur? Misalnya semangat bergabung dalam sekolah sepak bola karena ingin jadi pemain bola, baru berlatih beberapa bulan, buah hati memutuskan untuk mengganti cita-citanya.

Lama-lama Mom merasa kewalahan. Berganti kursus butuh biaya tak sedikit, belum lagi perlengkapanya. Begitu buah hati mengatakan ingin mencoba hal baru, Mom langsung menolak, mengingat peristiwa-peristiwa lalu. 

Kenapa bisa begitu? Bacalah Bab 9: Mudah Menyerah. Jangan-jangan secara tak langsung Mom pernah melakukan hal yang membuat buah hati memiliki  fixed mindset. Baca ya Mom supaya paham he he he. Jangan khawatir, bisa kok diubah perlahan-lahan.

Kenapa dalam bagian awal bab ini Mom atau Moms menjadi Mama? Sebaiknya penulis konsistem mempergunakan panggilan. Lebih aman mempergunakan sapaan yang sama, tanpa mempertimbangkan sapaan untuk satu orang atau banyak orang. Menyapa dengan Mom, Moms, atau bahkan Mama.

Sebagai penggila buku, tentunya Mom ingin agar anak juga menyukai kegiatan membaca. Tak hanya menyukai membaca, namun juga paham dengan apa yang ia baca.  Dengan memahami apa yang ia baca akan menambah pengetahuan yang bermanfaat.

Dengan ilustrasi menawan, buku ini berkesan tidak  kaku, hingga menjadi menarik dan lebih mudah dipahamioleh pembacanya.Demikian juga dengan penggunaan bahasa, mudah dimengerti. Kalimat yang dirasa penting, dicetak dengan warna berbeda. Istilah asing langsung diberikan keterangan disampingnya.

Jenis dan ukuran huruf juga bisa dikatakan nyaman untuk dibaca. Moms yang tak memiliki banyak waktu namun tetap ingin membaca buku parenting, sangat tepat memilih buku ini.

Sekedar saran, jika buku ini dicetak ulang, nomor halaman sebaiknya diganti jangan warna putih. Memang terlihat cantik dan kontras dengan latar orange, namun kurang terlihat jika untuk nomor halaman.  Meski warna orange  sering disebut sebagai warna semangat, mungkin maksudnya agar Moms semangat membaca buku ini, warna halaman saja yang diganti dengan warna lain.

Hal lain yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini, walau usia anak saya sudah tidak mungkin untuk menjalani kegiatan pengembangan otak, adalah kata  Tea for Moms

Berdasarkan pengalaman pribadi dahulu, setiap membaca buku tentang parenting, saya harus meluangkan waktu khusus,  selalu was-was saat membaca, takut menemukan hal yang menyatakan bahwa yang selama ini saya lakukan adalah salah, yang benar adalah yang tertera dalam buku ini.

Bagian Tea for Moms, justru sengaja dibuat untuk diisi saat moms sedang santai, memanfaatkan me time dengan optimal misalnya. Ngeteh cantik sambil menulis jurnal, mempelajari tentang pertumbuhan otak menjadi lebih menyenangkan. 

Tea for Moms membantu agar Moms bisa mengetahui sejauh mana Moms sudah memahami isi buku. Kemudian, apa yang direncanakan untuk mempraktekkan petunjuk yang ada. Jika ternyata yang selama ini dilakukan kurang tepat, bagian ini bisa menjadi tempat untuk Moms melakukan intropeksi. Jika ada yang Moms belum pahami, jangan ragu untuk mecatat, jika ada kesempatan, maka moms bisa mencari tahu tentang hal tersebut.

Pada halaman xii disebutkan mengenai bagaimana cara memanfaatkan buku ini secara optimal.  Disebutkan bahwa tiap bab terdiri dari 4 bagian. Tapi yang disebutkan baru bagian uraian; bagian  The Brain Sculptor's Guide;  dan Tea for Moms. Satu lagi apakah?  Saya tidak menemukan bagian lain selain tiga bagian yang sudah disebutkan sebelumnya.

Buku ini diterbitkan pada awal pandemi. Saat itu, tugas mendidik anak yang selama ini dilakukan bersama antara orang tua dan para guru di sekolah mengalami perubahan. Bisa dikatakan buku ini membantu para orang tua untuk mendidik anak selama masa pandemi. Namun bukan berarti buku ini tak bisa dibaca dan diterapkan jika pandemi berakhir. Isi buku ini tetap relevan untuk dibaca dalam segala kondisi.

Sangat cocok untuk dibaca Moms sebagai tambahan referensi, juga untuk dijadikan hadiah bagi pasangan yang baru  saja memiliki buah hati. Cocok juga sebagai persiapan bagi pasangan yang sedang menyiapkan diri untuk memiliki anak.

Oh ya, buku ini juga boleh dibaca oleh para Pap sehingga bisa menjadi rekan Moms dalam mendidik anak. Paps jadi memahami apa yang sedang Moms lakukan dalam upaya membentuk dan mekatik otak buah hati sehingga bisa berkembang secara optimal.

Sumber Gambar:
Buku BRAIN SCULPTOR: Seni Membentuk dan Melatih Otak Anak

Jumat, 23 September 2022

2022 #24: Toko yang Menjual Mimpi

Penulis: Lee Miye
Penerjemah: Dwira Rizki
Penyuting: Jia Effendie
ISBN: 9786026486677
Cetakan:Ketiga-Juni 2022
Halaman: 290
Penerbit: BACA
Harga: Rp 85.000
Rating: 3.25/5

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
.....
.....
-Laskar Pelagi, Nidji-

Kalian tahu apa itu mimpi? Sejak usia berapa kalian tahu apa yang dimaksud dengan mimpi itu? Saya mengetahui kata mimpi pertama kali dari majalah Bobo. Pada salah satu kisah Keluarga Bobo dikisahkan Bobo, Coreng, dan Upik akan segera tidur, tak lama kemudian disebutkan bahwa mereka sudah bermimpi. Meski demikian, apa dan bagaimana mimpi itu sendiri baru saya pahami beberapa tahun setelahnya. 

Menurut KBBI,  mimpi adalah sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur; angan-angan.  Sesuatu yang dialami dalam tidur  sering kali dianggap sebagai pertanda bagi beberapa orang. Tak heran berkembang pengetahuan untuk mengartikan mimpi. Urusan percaya atau tidak akan makna mimpi tergantung pada masing-masing individu. 

Ternyata, mimpi bisa dibeli lho, silakan pergi ke Dallergut, toko penjual mimpi. Untuk menuju ke sana, kalian hanya perlu tidur.  Melalui tidur kalian akan memasuki desa pertokoan di sana bisa ditemui sejumlah food truck yang menjajakan masakan untuk membantu datangnya rasa kantuk, dan tentunya Toko Penjual Mimpi, Dallergut.

Menjadi karyawan di Dallegut bisa dikatakan impian Penny. Pada bagian  awal digambarkan bagaimana tegangnya Penny ketika akan mengikuti tes menjadi karyawan. Wawancara yang dilakukan oleh Dallergut langsung selaku pemilik, tidak mengajukan pertanyaan standar. Penny harus menjelaskan mengapa menurutnya mimpi adalah mencoba hal-hal yang tidak bisa dilakukan dalam kehidupan nyata, mimpi merupakan pengganti hal-hal yang mustahil.

https://www.goodreads.com/
book/show/58912839
Dari blurd, pembaca sudah bisa mengetahui bahwa Penny akan diterima kerja. Lalu apa gunanya pembaca diberikan informasi perihal wawancara Penny?  Penjabaran proses penerimaan Penny sebagai karyawan bisa dianggap cara penulis untuk menunjukkan betapa istimewanya Penny. Juga untuk memberikan gambaran awal bagaimana toko itu beroperasi.

Bisa dikatakan kisah dalam buku ini mengambil sosok Penny sebagai tokoh sentral. Bagaimana Penny melakukan kesalahan fatal pada hari pertama kerja, kegembiraannya menemani Dallergut menghadiri konferensi, hingga dipercaya mengambil produk uji coba.

Jalan yang dilalui Penny digambarkan selalu mulus. Bayangkan melakukan kesalahan pada hari pertama kerja hingga menyebabkan kerugian yang tidak sedikit, namun tidak mendapat sanksi. Saat mempersiapkan diri untuk tes menjadi pegawai, ada yang membantu memberikan gambaran tentang bagaimana tes berlangsung. Sungguh beruntungnya Penny!

Meski bisa dikategorikan dalam novel fantasi. cerita dalam buku ini lebih menyentuh pada kehidupan manusia dalam dunia nyata. Contohnya pemuda yang membutuhkan mimpi  yang mampu menggugah inspirasinya,  sehingga ia bisa menciptakan lagu seperti Yesterday   karya Paul McCartney. Penulis lagu mana yang tak pernah merasakan kehabisan ide, siapa yang tak ingin karyanya dikenang sepanjang masa?

Atau kisah tentang seekor anjing yang membeli mimpi tentang diajak jalan-jalan seluruh penghuni rumah karena mereka pergi lama sekali hari itu hingga ia merasa kesepian. Sejak memeilihara anjing, perasaan salah satu penghuni rumah menjadi lebih sensitif. Unik  ya,  pelanggan toko tersebut tidak hanya manusia namun juga hewan.
https://www.goodreads.com/book
/show/60800133-r-ya-d-kk-n-1

Oh, ya, apakah kalian pernah mengalami de javu?  Merasa  mengalami suatu kejadian yang sama atau pergi ke suatu tempat yang sama? Jangan-jangan tanpa disadari, kalian pernah membeli mimpi di Dallergut! Kalian membeli mimpi ingin pergi ke tempat idaman sebelum benar-benar bisa ke sana. Atau mimpi  mengalami suatu kejadian yang menggembirakan sebelum benar-benar mengalaminya. Bisa saja! Mereka yang berbelanja ke  sana tak akan ingat peristiwa tersebut saat bangun.

Tak melulu soal mimpi, sebenarnya buku ini juga memberikan tips bagaimana untuk berbisnis. Dalam beberapa bagian, dibahas bagaimana upaya  Dallergut dan para  manajer lantai untuk dapat  meningkatkan penjualan. Sementara, pada bagian yang mengisahkan perihal konferensi berkala produser dan pedagang mimpi  yang  juga membahas tentang bagaimana menekan kerugian. 

Mau tak mau, saya meringis membaca uraian di halaman 179. Disebutkan bahwa jumlah orang di kawasan Asia yang yang bergadang semalaman untuk  menonton Piala Dunia yang diselenggarakan di kawasan  Eropa, berdampak pada jumlah mimpi yang terjual saat itu.  Jika bergadang, maka orang tidak tidur, lalu bagaimana orang bisa membeli mimpi? 

Kenapa saya menangkap ada nada mengejek? Padahal menonton merupakan salah satu fantasi, suatu ketika negara Asia juga bisa mengikuti ajang tersebut. Seperti yang disebutkan penulis, mimpi dan fantasi berdampingan. Fantasi menjadi mimpi, dan tak ada yang mustahil dalam mimpi.

Layaknya kehidupan nyata, di sana juga ada ajang pemberian penghargaan, yaitu Penghargaan  Mimpi Akhir Tshun.  Ada penghargaan untuk  Pendatang Baru;  Produk Terlaris Bulan Desember; Tata Artistik Terbaik, Naskah terbaik; dan Grand Prix. 
https://www.goodreads.com/
book/show/59113181
 
Penasaran, bagaimana cara kerja mimpi yang dibeli dari Dallergut? Hanya disebutkan mereka yang membeli selanjutkan akan memasukan mimpi tersebut dalam tidur mereka. Jadi mereka akan bermimpi sesuai dengan mimpi yang mereka beli. Saya tak menemukan bagian yang menjelaskan proses memasukkan mimpi. 

Apakah sebelum tidur membuka kotak yang dibeli lalu mimpi  masuk ke otak melalui hirupan? Atau begitu mereka tertidur, isi kotak secara otomatis menguap masuk dalam alam mimpi?  Pada bagian awal disebutkan jika calon pembeli bisa melihat isi  kotak mimpi sebelum membeli, jadi bagaimana caranya? Bagaimana juga cara kerja untuk mimpi yang dikirimkan  anonim? Sepertinya saya harus menerima begitu saja bagian mimpi yang dibeli akan menjadi mimpi pembelinya.

Mungkin saya yang terlalu berharap banyak peristiwa fantasi, misalnya mimpi yang dialami dijabarkan dengan lebih panjang dan lengkap. Kemudian, ada komponen dalam mimpi tersebut yang terbawa dalam kehidupan nyata sehingga membuat kehidupan pemimpi mengalami banyak hal unik. Begitulah, walau ada, ternyata versinya tidak sebanyak yang saya duga.  

Sebenarnya saya sudah lama tertarik pada buku ini. Hanya saja, karena sudah berjanji pada diri sendiri akan membabat timbunan hingga menyisakan maksimal 5 buku baru membeli buku lagi, butuh waktu lumayan untuk bisa mendapatkan buku ini.  Sebagai bahan perbandingan berapa lama, buku yang saya miliki merupakan cetakan ketiga

Kisah yang menarik. Ide sederhana yang diolah menjadi sesuatu yang menarik. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan, saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh siapa saja yang merasa hidupnya tidak baik-baik saja dan bermimpi akan ada perubahan

Tak ada yang tak mungkin! 
Mimpi merupakan langkah awal seseorang untuk maju. Tak ada salahnya bermimpi, karena mimpi bisa menjadi kekuatan.

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com/








































Minggu, 11 September 2022

2022 #23: Bird Box: Upaya Menyelamatkan Diri Dengan Bantuan Burung-Burung

Penulis: Josh Malerman
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Yuli Pritania
ISBN: 9786023859634
Hal: 400
Cetakan: Pertama-September 2019
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 89.000
Rating: 4/5

Mengetahui batas pikiran manusia sama dengan mengetahui kekuatan penuh makhluk-makhluk ini. Kalau menyangkut pemahaman, maka akibat dari perjumpaan apa pun dengan makhluk-makhluk ini pasti sangat berbeda di antara dua orang. Batas pikiranku berbeda dengan batas pikiranmu

-Bird Box, hal 280-

Sangat paham bahwa buku dan film memiliki perbedaan dalam banyak aspek. Maka, sebuah buku yang diangkat menjadi film, atau sebuah film yang dijadikan buku, pasti memiliki perbedaan. Kenapa saya tetap ingin menikmati keduanya? Karena dengan menikmati kedua versi, saya bisa menikmati kisah dari dua sisi, sisi cetak dan sisi audiovisual.

Saya juga jadi bisa mengetahui bagaimana persepsi sesorang ketika mengubah sederetan kalimat panjang menjadi adegan dalam film. Atau, bagaimana mendeskripsikan suatu adegan menjadi sebuah kalimat efektif dan mudah dipahami

Buku ini, eh saya ralat, saya coba menggabungkan vesi cetak dan film. Dikisahkan mengenai seorang wanita yang membawa sepasang anak kecil mengarungi sungai selama sekian hari guna menuju sebuah tempat yang aman. 

Telah terjadi kekacauan sekitar 4-5 tahun lalu, dimana mendadak banyak orang melakukan bunuh diri setelah melihat "sesuatu". Bahkan ada yang juga membunuh orang yang berada di dekatnya. Hingga akhir  kisah, tak ada informasi lebih lanjut mengenai apa dan dari mana "sesuatu" itu berasal.

Dalam buku, hanya disebutkan burung-burung akan bertingkah aneh jika ada "sesuatu" berada di sekitar mereka. Sementara dalam film, ditambahkan infromasi "sesuatu' yang tak terlihat keberadaannya diikuti oleh angin. Dan tentunya juga burung-burung yang ramai menciap.

https://www.goodreads.com/
book/show/60421455

Rumah hanyalah tempat yang aman. Mereka yang berlindung dalam rumah menutup semua jendela atau  apa saja yang membuat seseorang bisa memandang ke luar. Untuk bertahan hidup, mereka harus memakai penutup mata ketika berada di luar rumah, bahkan ketika sedang mencari persediaan makanan.

Meski berada dalam rumah, bukan berarti mereka 100% aman dari bahaya. Bisa saja "sesuatu" berada di depan pintu rumah dan siap menyusup masuk ketika ada yang baru kembali dari mencari bahan makanan.

Mereka yang selamat belakangan tidak hanya berurusan dengan "sesuatu" tapi dengan orang-orang yang sudah dipengaruhi oleh "sesuatu" namun bersikap layaknya orang umum. "sesuatu" mempengaruhi mereka untuk membuat semakin banyak orang membuka tutup mata, atau memandang ke luar rumah, kemudian akhirnya bunuh diri

Demi keamanan, beberapa orang yang selamat mempergunakan burung-burung sebagai alarm keberadaan "sesuatu". Jika saya tak salah ingat, dalam film burung-burung  yang dipelihara oleh Malorie, diperoleh dari swalayan yang mereka jarah. Siapa yang mengira mereka membutuhkan bantuan burung-hewan berukuran kecil untuk bertahan hidup.

Meski agak aneh awalnya melihat tak ada yang protes ketika ia memilih membawa sangkar burung yang lumayan besar dibandingkan sekantong makanan misalnya. Kenapa tidak dibawa tanpa sangkar? Atau diganti sangkar yang lebih kecil. Pastinya bisa ditemukan di sekitar area swalayan.

Sementara dalam buku ini, pada halaman 173-174 dan 205, disebutkan bahwa burung-burung tersebut ditemukan  dalam kotak di garasi seorang pemburu. Mereka tak tahu jenis apa dan bagaimana burung-burung itu bisa bertahan hidup. Mungkin saja pemiliknya memberikan makan banyak.

Ketika mengarungi sungai, dalam versi film  baru burung-burung dimasukkan dalam kotak supaya lebih mudah dibawa. Bagian ini membuat saya mengira jika judul kisah diambil dari bagian yang mengisahkan tentang keberadaan burung-burung dalam kotak.
https://www.goodreads.com
/book/show/42110777-bird-box

Akhir kisah buku dan film sama-sama membahagiakan (sudah bisa diduga).  Baik Malorie, dan kedua anak kecil tersebut bisa mencapai tempat yang aman. Di sana mereka menemukan kenyataan yang mengejutkan! Tidak saja karena jumlah yang berada di sana terbilang banyak, namun juga bagaimana kondisi fisik mereka yang berhasil selamat! 

Oh ya, adegan orang yang mendadak bunuh diri dalam film, sempat membuat saya mengira ini menyerupai adegan dalam film atau buku The Cell karya Stephen King. Serupa tapi tak sama ternyata. Ada sesuatu, yang tak kasat mata yang mempengaruhi seseorang melalui pandangan. Sementara dalam Cell, pengaruh melalui jaringan telepon.

Namanya juga saya he he he. Bagaimana ketiga orang tersebut bertahan di sungai menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah mereka sama sekali tak pernah berhenti? Bagaimana urusan untuk buang hajat? Apakah tubuh mereka benar-benar mampu bertahan tanpa makan selama di sungai? 

Dalam buku saya temukan jawaban dari rasa penasaran saya. Misalnya pada halaman  239 ditulis,"Kakinya dibasahi kencing, air, darah, dan muntahan." Begitulah, salah satu manfaat menikmari versi film dan buku, saling melengkapi.

Kedua anak yang begitu patuh  sedikit meragukan bagi saya, karena umumnya anak-anak seusia itu pasti jarang bisa mengikuti perintah dengan baik dan benar dalam waktu yang lama. Andai dalam film dibuat keduanya sedikit melawan peraturan, tidak hanya dengan menyusul dan meninggalkan perahu. tapi sesuatu yang khas anak-anak. Seperti memaksa untuk makan sesuatu, atau minta sesuatu tentunya akan membuat kisah menjadi semakin seru ^_^.
https://www.goodreads.com/
book/show/44305641-bird-box

Tapi bisa saja pengalaman sekian tahun bersembunyi membuat keduanya menjadi sangat taat perintah. Apapun itu, bisa dikatakan keduanya menjadi kekuatan bagi si tokoh wanita untuk mampu bertahan menghadapi segala hal. Tentunya dengan bantuan burung-burung yang mereka pelihara.

Kembali, jadi teringat sebuah kisah.  Adegan bertahan hidup membuat saya teringat pada kisah The Revenant karangan Michael Punke masih dari penerbit yang sama. Bagaimana tokoh dalam kisah itu, Hugh Glass berupa bertahan hidup perlu diacungi jempol.

Baik Hugh Glass maupun Malorie, keduanya sama-sama berjuang keras untuk bertahan hidup, meski sumber kekuatan keduanya berbeda. Yang satu karena dendam, sementara yang lain untuk memberikan kehidupan lebih baik, terlepas dari marabahaya bagi kedua anak yang masih kecil. 

Bagian paling menyentuh bagi saya adalah ketika  wanita hamil yang selama ini tinggal bersama Malorie berhasil dibujuk untuk melihat keluar, ke jalanan, kemudian mulai terpengaruh untuk meloncat keluar dari lantai 2. Malorie dengan segala bujuk rayu berhasil membuat wanita itu menyerahkan bayinya sebelum melompat keluar. Memilukan!

Sebuah kisah yang menarik! Namun, jika diperhatikan dengan seksama, sebenarnya ide kisah yang diolah penulis adalah hal yang biasa, seputar bagaimana seseorang bertahan hidup. Kelebihan kisah ini adalah kemampuan penulis membangkitkan ketegangan pembaca sejak lembar pertama secara konsisten.

Apalagi kisahnya diceritakan dengan alur maju mundur. Film dibuka dengan adegan Malorie yang memberikan arahan keras pada sepasang anak kecil sebelum keluar rumah. Kemudian menuju pada adegan ketika Malorie sedang bercakap-cakap dengan adik perempuannya lalu pergi ke dokter bersama.
https://www.goodreads.com/
book/show/58987764-bird-box

Kekurangannya adalah detail kecil yang terlewat oleh penulis maupun pada film (pada film entah urusan sutradara atau penulis skenario?). Sebagai contoh, mobil yang dipakai untuk menjarah swalayan bisa dikatakan memiliki garasi yang tidak terlalu besar, kemana begitu banyak barang yang sudah mereka siapkan untuk dibawa? 

Kemudian, kenapa saat para tokoh turun dan mobil tidak terlihat mereka mengoptimalkan ruangan yang ada untuk membawa bahan makanan? Mereka melenggang turun seakan baru kembali dari belanja bulanan, bukan mencari persediaan makanan. Untuk yang tertarik menonton film, silakan simak dulu ulasannya di laman berikut.  

Bagaimana para tokoh bertahan hidup menujukkan bahwa kepandaian dan kebijaksanaan harus seiring dan sejalan. Waspada perlu, namun bukan berarti menjadi paranoid. Percaya sesama harus, tapi bukan berarti percaya membabi buta. Kerjasama menjadi perekat diantara mereka untuk bisa menghadapi segala rintangan.

Dalam situasi mendesak, manusia cenderung akan mengeluarkan segala potensi secara optimal. Sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka duga mampu dilakukan. Malorie, ternyata mampu mendayung selama sekian hari, ia mampu menjalani hari-hari dengan mempergunakan penutup mata yang menyebabkan penglihatannya menjad sangat terbatas.

Terlepas dari kekurangan yang ada (menurut versi saya lho), saya akan merekomendasikan kisah ini bagi mereka yang sedang butuh bacaan atau tontonan untuk memicu motivasi diri. Ayolah, Malorie dengan tutup mata saja bisa bertahan hidup, masak kita kalah! Tak ada yang tak mungkin selama kita yakin bisa dan mau berusaha.

Rasanya tak ingin meletakkan buku sebelum kisah berakhir. Novel Bird Box mendapat Bram Stoker Award Nominee for Best First Novel (2014), Shirley Jackson Award Nominee for Novel (2014), Goodreads Choice Award Nominee for Horror (2014), James Herbert Award Nominee (2015), This is Horror Award for Novel (2014).  Lumayan bukan?

Informasi pada laman mizanstore.com disebutkan bahwa penulis kisah ini adalah seorang anggota band The High yang beraliran rock.  Dalam Goodreads (di sini), disebutkan ada buku kedua dari kisah ini. Mari menunggu, apakah diterjemahkan juga oleh penerbit, atau kita terpaksa membaca versi bahasa Inggris, bagi yang mampu ^_^.

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com/








Minggu, 14 Agustus 2022

2022 #22: Menikmati Dua Kisah Klasik

Seperti penggila buku lainnya, urusan beres-beres koleksi sepertinya tidak akan pernah selesai.  Kalau selesai juga hanya sesaat. Baru selesai membereskan sebuah lemari,  hasil sortiran buku dari lemari tadi juga perlu dirapikan. 

Apakah akan masuk ke lemari yang lain, atau akan masuk dalam kardus buku untuk hibah? Apakah perlu dibetulkan jika ada kerusakan, atau dibiarkan apa adanya saja dulu? Pekerjaan yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan dalam waktu cepat.

Belum lagi diselingi dengan memori yang muncul terkait sebuah buku. Membuat kegiatan memilah terhenti dialihkan dengan membolak-balikan buku tersebut. Membaca sambil lalu beberapa halaman, mempertimbangkan apakah keputusan untuk mengeluarkan dari koleksi sudah tepat, atau  sebaiknya mengencarikan tempat di rak yang lain.

Hasil beres-beres yang lampau (maksudnya sangat lampau he he he) membuat saya menemukan dua buku klasik yang nyaris terlupakan. Seingat saya, semula ingin memasukkan datanya dalam Goodreads, namun karena ada kendala data buku yang kurang lengkap sehingga belum jadi saya kerjakan. Dan seperti biasa! Buku ini tertimbun saudara-saudaranya yang datang belakangan.

Buku dengan judul Kesombongan dan Prasangka karangan Jane Austen, bisa membuat penggila buku terpana sesaat. Memang ada karangan Jane Austen dengan judul itu? Saya pun berpikir seperti itu ketika pertama kali melihatnya di lapak buku bekas.

Namun ketika membaca nama tokoh dan beberapa paragraf awal, saya langsung yakin ini merupakan terjemahan dari Pride and Prejudice.  Mungkin saat itu sedang ada kebijakan mengalihkan bahasa semua judul, dugaan saya semata. 

Dalam 80 halaman, kisah yang  diceritakan kembali oleh Antonius Adiwiyoto, diterbitkan oleh P.T  Gramedia pada tahun 1976 dengan kode GM 76.086, buku ini merupakan bagian dari Seri Elang.  Sementara Seri Elang sendiri merupakan bagian dari Bacaan Remaja. Seri ini memuat aneka cerita khayal klasik. Dan tentunya juga disediakan ilustrasi yang memikat.

Kisah yang dipublikasikan pertama kali pada tahun  28 Januari 1813 ini menceritakan tentang kisah cinta  keluarga menengah Inggris di akhir abad ke-19. Antara  Elizabeth Bennet  dengan Fitzwilliam Darcy.  
Sumber: Buku  Kesombongan dan Prasangka
Keduanya bertemu tak sengaja pada sebuah pesta dansa. Mr, Darcy yang memiliki sifat tertutup dan menampilkan kesan sombong, tak sengaja melontarkan hinaan dan didengar oleh  Elizabeth. Bibit kebencian  dan aneka prasangka mulai muncul dalam hatinya. 

Meski sudah membaca beberapa versi, namun terbitan Gramedia kali ini tetap menarik untuk dibaca. Cara Antonius Adiwiyoto mengisahkan ulang bisa dikatakan cukup sukses. Melakukan pengurangan pada beberapa bagian cerita tanpa menghilangkan esensi kisah bukan hal yang mudah.

Selanjutnya, buku yang saya temukan adalah Julius Caesar karangan Shakespeare. Versi yang saya temukan terjemahan dari Asrul Sani, merupakan usaha penterjemahan sastra dunia yang dilakukan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1976. Bekerja sama dengan PT Dunia Pustaka Jaya, buku  setebal 130 halaman ini diterbitkan tahun 1979 dengan kode Seri: PJ 428 01 79. Suatu usaha yang patut diajungi jempol dan didukung.

Bentuknya bukan sebuah kisah namun semacam skenario drama perihal  konspirasi pembunuhan atas sosok Julius Caesar, sosok yang hidup pada abad pertama sebelum masehi. 

Meski demikian, pembaca tak akan mengalami kesukaran menkmatinya. Kembangkan imajinasi Anda, bayangkan saja sedang menonton sebuah pertunjukan. Apalagi  pada halaman awal, sudah diberikan informasi tentang siapa saja pelaku serta  peranannya dalam kisah ini. 

Sekedar tambahan pengetahuan bagi para pembaca buku ini, pada halaman kover belakang diberikan informasi tentang sosok  William Shakespeare. Mulai dari biodata seperti kelahiran, pendidikan, hingga status pernikahan. Dilanjutkan dengan informasi perihal karya-karya yang sudah dihasilkan.

Kedua buku tersebut sebenarnya bisa ditemukan dalam aneka versi terjemahan di tanah air, terutama sekali karena sudah masuk kategori bisa dicetak bebas. Bahkan jika kemampuan bahasa Inggris Anda lumayan, versi digital bisa ditemukan dengan mudah di internet secara gratis. Meski demikian, keduanya tetap akan berada lama rak buku ini saya karena keunikan judul serta asal muasal terbitnya.

Menarik!
Semoga masih ada buku-buku unik seperti ini dalam timbunan yang belum sempat dibongkar.



2022 #21: Membaca 12 Kisah Horor

Judul Asli: Minyak Bulan
Penulis: Amala Kh dan kawan-kawan
ISBN: 9786235393001
Halaman: 158
Cetakan: Pertama- Mei 2022
Penerbit: AT Press Jabodetabek
Harga: Rp 73.000
Rating: 3.25/5
 
Seperti  yang  sering  saya  sampaikan, biasanya  ketika membaca kumpulan  kisah, saya akan membaca Daftar Isi   kemudian  memilih  mana  kisah yang  akan dibaca terlebih dahulu. Begitu  seterusnya hingga seluruh kisah selesai dibaca.

Demikian juga dengan buku ini. Prinsipnya saja, hanya karena tak ada nama pengarang pada Daftar Isi, maka saya membaca dengan mencari karya penulis yang saya kenal terlebih dahulu. Kebetulan ada  2 orang, Falesha Libertalea Taufik alias Libby alias  Bob, dan Ruwi Meita. Kemudian dilanjutkan dengan membaca kisah lain yang judulnya terlihat menarik.

Kisah yang ditulis oleh Ruwi Meita, tak hanya sekedar kisah horor, tapi juga mengusung konten lokal tentang balian-tabib, dari pelosok Kapuas Hulu. Sang balian menciptakan Minyak Bulan melalui ritual panjang dan rumit dengan khasiat tak terbayangkan.

Mungkin hanya perasaan saya, sepertinya Ruwi tidak mengeluarkan semua kemampuannya dalam menulis cerita kali ini. Seakan ada yang ditahan. Mungkinkah untuk menghormati penulis-penulis lain yang baru mulai menulis kisah horor? Apapun itu, tentunya merupakan suatu kebanggaan bisa berada satu buku dengan penulis horor sekaliber Ruwi Meita. 

Memilih karyanya sebagai judul buku ini merupakan langkah cerdas yang layak diacungi jempol. Pertama untuk bersikap adil pada para penulis yang sedang dalam proses belajar,  tak ada karya yang diistimewakan dengan dijadikan judul. Kedua, hal ini juga berguna untuk promosi.

Bagaimana kedekatan Bob dengan Mama sudah diketahui khalayak luas.  Mereka bagai dua sahabat baik, besti-istilah zaman sekarang. Kedekatan itu terlihat dari kisah yang diangkat. Hanya saja,  aneka momen kedekatan yang sering ditampilkan dalam media sosial, berbeda jauh dalam kisah ini.

Dengan berbagai cara, Ma Bob digambarkan selalu ingin memberikan yang terbaik. Bunda Selalu Tahu yang Terbaik bagi anaknya. Hanya saja, cara yang ditempuh sungguh menakutkan! Jika ada yang mengatakan bahwa cinta seorang ibu luar biasa, maka  bacalah kisah ini. Cinta ibu yang luar bisa menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan bagi orang lain.

Tak perlu menduga-duga, ini sekedar kisah yang dibuat seorang anak dengan mengambil sosok orang tua sebagai tokoh. Kalau sampai ada yang menduga betapa "kejam dan menakutkannya" sosok Ma Bob, semata karena kesuksesan Bob menuliskan kisah.


Secara keseluruhan, buku ini memuat  12 kisah horor. Tiap kisah yang ada unik dan tak ada yang sama. Vellichor  (Revalinna Ranting) berkisah tentang kengerian  yang dirasakan seorang gadis yatim-piatu. Ia begitu takut seluruh pengetahuan yang ia peroleh dari buku-buku tua menghilang jika meminum obat yang kerap disodorkan suster.

Rencana (Tiana Yuthi) memberikan pembelajaran bagi pembaca, bahwa perbuatan baik juga harus dilakukan dengan bijak, jika tidak ingin disalahgunakan, Karena kejahatan bisa muncul dari mana saja dan dilakukan oleh siapa saja.  

Kisah Empat Puluh (Wesiati Setyaningsih)  menunjukkan bahwa cinta bisa ditunjukkan  dengan cara yang tak biasa.  Termasuk  demi menutupi keburukan orang terkasih, ia dibuat meninggal saat masih dianggap mulia oleh orang banyak. Begitulah cinta, indah tapi juga rumit.

Dimanakan pun kita berada, sepantasnya menjaga sikap, apa lagi jika berada di Ambuwaha (Amala Kh). Karya ini mengingatkan pada karya Hilman (kalau tidak salah)  yang sempat dimuat bersambung di majalah Hai. Berkisah tentang  para pendaki gunung yang dihukum karena memetik Edelweiss dengan sembarangan. 

Anak yang Bertemu Makhluk Kegelapan (Aulia Hazuki) memberikan peringatan keras agar kita jangan sembarang menyimpan, membuang, dan membaca dokumen seseorang. Karena kita tak akan pernah tahu akibat menyeramkan apa yang akan timbul. 

Ada orang yang mampu melihat suatu peristiwa dalam  benaknya, serta bisa membaca Tarot. Kartu yang Terbuka (Indy Shinta)  kadang bisa sangat menakutkan apalagi  jika yang dilihat adalah nasib buruk salah satu sahabat sendiri. 

Mungkinkah diri kalian juga diikuti oleh makhluk yang membawa Sial (Kana)? Coba ditelaah, jangan-jangan kesialan yang sering menimpa karena dampak dari perjanjian  luhur dahulu. Bukan kalian yang membuat perjanjian tapi kalian yang terkena dampaknya. Segera cari tahu agar kalian segera terbebas dari kesialan yang selalu menimpa.

Korban dari Ikatan Setan: Darah Perawan (Yozaf F. Amrullah) meninggal kehabisan darah dengan luka gigitan di pergelangan tangan kanan. Apakah muncul salah satu ilmu sesat  di Jawa Tengah? Sang pelaku bisa berada di antara kita. Waspadalah selalu!

Alih-alih merasa ketakutan, saya tertawa terbahak-bahak membaca kisah Dasar Gembul (Upiek Widowati). Jadi ingat film horor ala tanah air yang membuat penonton tertawa, bukan ketakutan mencekam. Unsur rasa takut berbaur dengan rasa geli. Unik!

Siapa yang bisa menebak kedalam duka Hati Mamak (Bayu Febri)? Sejak Bapak meninggal dibunuh perampok demi mempertahankan uang sepuluh juta yang akan dibelikan HP, kehidupan keluarga mereka tidaklah sama. Mamak seakan menerima semua hal dengan diam pasrah, tapi siapa yang bisa tahu bagaimana sesungguhnya isi hati Mamak?. Mata dibayar mata! 

Dari Kata Pengantar saya ketahui bahwa  Kelas Menulis Book Camp gelaran Himpenan (Himpunan Penulis Indonesia) melakukan pendekatan dengan metode pengalaman.  Mereka yang tergabung diajak untuk menjelajahi wilayah-wilayah penulisan baru guna memicu kreatifitas.

Menurut saya pribadi, dengan tidak mengesampingkan aneka metode pengajaran literasi lainnya, cara dengan learning by doing-dalam  Kelas Menulis Book Camp disebut metode pengalaman, memberikan keuntungan tersendiri dalam proses  belajar menulis yang dilakukan.

Umumnya, seseorang akan ingat apa yang menjadi kesalahan-dalam hal ini bisa kita sebut sebagai "hal yang kurang tepat" ketika  belajar menulis cerita. Ia akan ingat mana langkah yang harus diambil agar karyanya menjadi lebih baik, dengan mengingat "kurang tepat" yang pernah ia lakukan.

Metode ini juga bisa mengurangi waktu belajar yang diperlukan untuk menulis. Mereka langsung terjun menulis dengan bekal penulisan dasar. Tiap orang akan mengembangkan pengetahuan dengan caranya masing-masing, karena pada dasarnya tiap  orang adalah unik, demikian juga dengan cara mereka belajar dan menyerap pelajaran.

Secara keseluruhan, buku ini lumayan "mencekam" bagi mereka yang memiliki nyali kecil, sangat tidak disarankan untuk membacanya. Apalagi pada malam hari. Efek tidak bisa tidur, bahkan merasa ketakutan mendalam, bukan tanggung jawab penulis dan penerbit.

Ilustrasi yang mulai muncul pada kisah  Ambuwaha  sebenarnya agak mengganggu,  karena ilustrasinya berbentuk sama,  sementara kalimat yang diangkat berbeda. Sehingga berkesan monoton. 

Belum lagi sosok manusia jerami yang dijadikan ilustrasi lebih mengingatkan pada tokoh yang ada di kisah Penyihir dari Oz.  Dalam kisah itu, Boneka Jerami menemani perjalanan Dorothy demi memenuhi keinginannya memiliki otak. Ia digambarkan sebagai sosok yang riang. Bukannya merasa takut, melihatnya malah ingin tertawa.  Oh ya coretan perihal The Wizard of Oz  karya Frank Baum bisa menuju ke sini

Mungkin karena keterbatasan ilustrasi maka sebuah ilustrasi dipakai beberapa kali. Padahal bisa diakali dengan membuat ilustrasi berupa petikan kalimat yang dianggap paling menarik dari kisah, kemudian didesain dengan aneka bentuk huruf yang menimbulkan kesan seram. Tak ada yang akan sama.

Pada blurd terlihat penerbit memberikan "bocoran" dua kisah yang ada. Kisah yang dibuat oleh Ruwi Meita bisa djadikan ajang promosi  seperti yang disebutkan di atas, jika disebutkan juga nama penulisnya. Tapi alasan mengapa hanya mengambil 1 kisah dari  seluruh kisah yang lain, menjadi pertanyaan tersendiri. 

Akan lebih baik jika memberikan penggalan seluruh kisah yang ada. Jika tidak memungkinkan, cukup karya Ruwi Meita sebagai daya jual ditambah, atau hanya memberikan informasi perihal tujuan dan isi buku ini. Kalimat, "Kedua belas cerita dalam kumpulan cerita pendek...."

Oh ya, saya hanya menyebutkan nama satu penulis, sisanya disebutkan "dkk" karena begitulah cara penulisan informasi buku yang dibuat lebih dari 3 orang. Bukan berarti nama tersebut paling berkontribusi, namun karena nama penulis disusun berdasarkan abjad.  Umumnya ditulis 3 nama, maafken saya yang sedang malas he he he.

Sekedar mengingatkan,  horor menurut KBBI adalah sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri atau takut yang amat sangat. Selanjutnya disebutkan, berasa takut atau khawatir (karena melihat sesuatu yg menakutkan atau mengalami keadaan yang membahayakan). Sementara takut sendiri memiliki arti merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana; kondisi takwa; segan dan hormat; tidak berani (berbuat, menempuh, menderita, dsb).

Dalam laman geniusbeauty, disebutkan bahwa saat otak bereaksi terhadap kondisi menegangkan, ia akan menghasilkan energi tambahan yang mengaktifkan neurotransmiter (glutamat, dopamin dan serotonin). Sehingga tubuh berada dalam kondisi waspada untuk beberapa saat. 

Selain itu, sinyal ancaman yang melewati hypothalamus (bagian otak terkait sistem glandular di tubuh) akan menstimulasi kelenjar adrenal untuk memproduksi adrenalin, lalu menghasilkan opiates yang memiliki efek anestesi/ pembiusan. 

Saat reaksi phobic turun pada titik ini, akhir kisah dalam film memberikan pengalaman positif yang dapat diaplikasikan di kemudian hari. Kemudian ketika selesai proses 'horor' tersebut dan tubuh kembali lebih tenang, saaat itulah sistem imun menjadi lebih kuat untuk beberapa saat.

Sebuah buku yang layak dikoleksi.