Rabu, 12 Mei 2021

2021 #14: The Last Spell Breather

Penulis: Julie Pike
Penerjemah: Primastuti Dewi
Penyunting: Sari Mulia Eri
ISBN: 9786230401497
Halaman: 
Cetakan: Pertama-2021
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Harga: Rp 82.000,-
Rating: 3/5

"Memangnya kau pikir kenapa mereka disebut 'Mantra'? Kalau saja salah eja maka sihirnya tidak akan bekerja. Menyalin adalah cara yang paling aman."

~ hal 9~

Tertarik pada promosi buku ini pada sosial media, saya berharap akan bertemu dengan penyihir yang mendadak kehilangan buku sihirnya sehingga mengalami kesulitan. Tentunya penyihir yang dimaksud adalah penyihir pemula alias anak magang ^_^. Ternyata saya salah.

Seorang gadis remaja bernama Rayne hidup bersama ibunya di Penderin, sebuah desa yang dikelilingi oleh pembatas kaca guna melindungi desa dari aneka monster yang berkeliaran di sekitarya. Di sisi lembah terdapat pegunungan yang diselimuti salju.

Sang ibu yang berprofesi sebagai Pembaca Mantra merupakan posisi yang penting dalam kehidupan di desa mereka. Bisa dikatakan nyaris  seluruh penghuni desa mendapat bantuan dari Pembaca Mantra. Misalnya menghilangkan batuk dan sakit tenggorokan dan menggemukan apel sisa panen untuk bisa dijadikan stok makanan. .

Sebagai putri satu-satunya Rayne diharapkan bisa menggantikan sang ibu. Untuk itu ia harus belajar dan berlatih dengan tekun. Artinya ia harus keluar dari sekolah, kehilangan waktu bermain dengan teman-teman, dan banyak hal lain. 

Belum lagi urusan membuka buku Mantra yang membuatnya merasa tidak nyaman. Jika pada kisah Harry Potter yang terkenal, penyihir akan mengayunkan tongkat sambil membaca mantra, tidak demikian dengan Rayne.

Pertama ia akan membuka perkamen. Kemudian ia akan menarik napas panjang dan meniupkannya pada kata-kata sihir yang ada pada gulungan itu. Kata-kata sihir  melompat dan berputar-putar kemudian mendarat pada tujuan untuk berfungsi. Isi parkamen diperoleh dengan menyalin buku Mantra milik sang ibu. 

Semula kehidupan di desa berjalan dengan tenang. Setiap penduduk bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing.   Gara-gara kecerobohan Rayne, buku Mantra milik ibunya menjadi rusak! 

Banyak mantra yang berada dalam buku menjadi tidak bisa berfungsi dengan baik. Efeknya  terlihat dalam waktu yang tak lama. Penduduk desa yang pernah mendapat bantuan dari Pembaca Mantra mengalami hal-hal aneh. Seakan efek baik dari mantra yang mereka terima berbalik jadi membawa efek buruk.

Gawat!
Mau tak mau buku Mantra harus diperbaiki. Bersama Tom sahabatnya, Rayne berusaha menyusul ibunya yang pergi menuju ke Perpustakaan Agung. Semakin cepat ia bertemu dengan samg ibu makan  semakin cepat juga buku Mantra diperbaiki. 

Berbagai peristiwa membuat perjalanan kedua anak tersebut menjadi tidak mudah. Monster yang selama ini mereka kira hanya isapan jempol para orang tua ternyata benar-benar ada! 

Belum lagi, ada pihak-pihak yang sangat ingin merebut buku Mantra milik ibunya. Ternyata ada rahasia besar keluarga yang selama ini disembunyikan oleh sang ibu. Sungguh urusannya  berkembang lebih dari sekedar memperbaiki buku Mantra semata.

Mengingat usia kedua tokoh yang bisa dikatakan belia, rasanya  janggal juga ada anak yang memiliki pemikiran seperti itu. Mungkin di negara tempat penulis hal tersebut bisa diterima. Tapi namanya cerita, kita nikmati saja.

Buku yang diperuntukan bagi pembaca usai 15 tahun keatas ini nenberikan pesan moral yang dibalut dalam sebuah kisah. Contohnya sosok Grostesque raksasa yang selama ini menjaga buku mantra milik ibu,  bebas dari tuganya sebagai bagian dari perjanjian kerjasama  dengan Rayne. 

Akibatnya buku Mantra bisa dibuka oleh siapa saja, sementara sebelumnya hanya bisa dibuka oleh orang tertentu dengan cara  yang menyakitkan. Hal ini membuat kondisi buku Mantra makin rawan dari pencurian.

Bagian ini memberikan pelajaran, bahwa dibalik setiap tindakan ada konsekuensi yang timbul.  Karena ingin segera bertemu ibunya maka Rayne harus rela melepaskan Grostesque yang selama ini menjaga buku Mantra tanpa berpikir bagaimana keamanan buku tersebut kelak tanpa penjagaan Grostesque.

Pada beberapa bagian, disebutkan bahwa sang ibu memanggil  dengan sebutan "cinta". Mungkinkah terjemahan harafiah dari kata love dalam versi aslinya? Atau ini merupakan sebuah petunjuk terkait kisah? Silakan tebak he he he.

Di bagian akhir, pembaca akan menemukan Daftar Kata-kata yang berisikan tokoh; aneka mantra; dan nama lokasi dalam kisah. Misalnya A pruning Spell-Mantra untuk Memangkas Tanaman; Spell of Summoning-Mantra Pemanggil; Little Jack-Si kecil Jack; Word Master-Ahli Kata; Dictionary Room-Ruang Kamus; dan lainnya.

Dalam buku ini, melalui bagian Perangkat Untuk Membuat Mantra, pembaca diajak untuk lebih mengetahui sinonim suatu kata agar bisa membuat Mantra yang paling sesuai. Ini sangat membantu anak-anak dalam memahami tata bahasa.

Secara keseluruhan, buku yang  versi aslinya terbit tahun 2019  ini sangat cocok dibaca untuk anak remaja, meski begitu, bimbingan orang tua untuk menjelaskan beberapa peristiwa yang terjadi juga sangat diharapkan.

Bagi orang tua yang ingin memberikan hadiah buku pada anaknya, atau untuk keponakan, buku ini layak dibaca. Hanya saja, untuk saya yang usianya sekian kali lipat dari 15 tahun, kisahnya menjadi memiliki banyak bolong-bolong he he he.





 




Kamis, 29 April 2021

2021 #13: Misteri Gadis yang Menyusup

Judul asli: Sang Penyusup
Penulis: Anna Snoekstra
Alih bahasa: Lingliana
ISBN: 9786020642918
Halaman: 304
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 85.000,-
Rating:3.5/5

Pergilah sekarang juga atau hal itu akan terjadi lagi
~Sang Penyusup, hal 225~

Ketika  sedang mencari buku yang bisa direkomendasikan untuk pengembangan koleksi kantor, mendadak saya menemukan buku ini. Membaca blurb yang ada, membuat saya langsung teringat pada kisah The Stolen Child karangan  Keith  Donohue. Lebih lengkap ada di sini

Seorang gadis Rebecca Winter-Becky atau Bec,  menghilang pada tahun 2003 dalam perjalanan pulangnya dari halte bus. Ia menyelesaikan jadwal kerja malamnya di Mac Donald's di Manuka,  Canberra pada 17 Januari 2003.  

Sebelas tahun kemudian, polisi menangkap seorang gadis yang mengutil dan mengaku sebagai Bec yang diculik sebelas tahun lalu.  Secara fisik ia begitu mirip dengan sosok yang hilang, hanya butuh penegasan dari  test DNA.

Bukan! Ini bukan spoiler lho, karena pada blurd sudah dikisahkan mengenai hal tersebut.  Seorang gadis yang kebetulan memiliki wajah  yang mirip dengan Bec, mencari upaya menyelamatkan diri dari penjara dengan mengaku menjadi sosok yang hilang sekian tahun lalu. 

Bagian ini agak mengganggu menurut saya. Ia mengetahui soal Bec dari menonton acara televisi Wanted bersama sang pacar. Ketika ditanggap, ia lalu memanfaatkan pengetahuan yang ia peroleh guna keselamatan dirinya. 

Berarti ingatannya lumayan kuat untuk bisa mengingat informasi yang pernah ia dapat secara menyeluruh. Umumnya, orang dalam keadaan terdesak memang bisa melakukan hal-hal luar biasa. 

Tapi jika sampai mengingat begitu banyak informasi mengenai orang lain yang sama sekali tak pernah dikenal  dalam rentang waktu yang lumayan lama, agak tak masuk akal untuk saya.

Gadis itu harus menyakinkan banyak pihak bahwa ia adalah Bec. Termasuk polisi yang  selama ini menyelidiki kasus hilangnya Bec.  Kapten Vincent Abdopilis yang sekian tahun berusaha memecahkan misteri hilangnya Bec, berusaha keras memaksanya untuk memberitahukan siapa pelaku penculikan, apa yang terjadi selama ia diculik. Apa saja yang bisa ia ingat, siapa yang ia lindungi?

Ternyata urusannya tak sesederhana yang ia kira. Semula, ia mengira dengan mengambil identitas Bec, ia bisa menikmati kehidupan nyaman, minimal untuk sementara waktu sebelum memutuskan langkah lebih lanjut terkait hidupnya.

Kenyataannya, keluarga Bec yang terdiri dari ayah, ibu dan dua adik kembar laki-laki tidaklah seperti yang ia duga. Bec asli diceritakan mengalami banyak hal aneh sebelum menghilang. Misalnya terdapat bercak-bercak darah kering di tangannya ketika bangun pagi.

Bec kw merasakan sikap mereka agak aneh. Seolah-olah ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Ia menduga hal itu dikarenakan kecanggunan tidak bersama selama 11 tahun. Mungkin mereka butuh waktu untuk membiasakan diri lagi, begitu dugaannya.

Keanehan lain juga terjadi. Bec kw merasa ada yang mengutit dirinya. Bahkan suatu ketika ia ditemukan terjatuh di jalan. Meski penolongnya mengatakan ia terjatuh karena sengatan matahari, namun ia tahu bahwa ada yang memukul kepalanya. 

Ditambah pesan singkat yang masuk ke telepon genggamnya berasal dari. nomor yang tak ia kenal dan penuh dengan nada ancaman. Apakah Bec asli menjadi sasaran kebencian sebelum ia menghilang? Atau ada yang mengetahui kebohongan Bec kw? Hem, penasaran juga ^-^.

Meski konon di dunia ini setiap orang memiliki 7 kembaran, namun bagaimana bisa polisi terkesan begitu mudah dibohongi? Pertama perihal dengan mudahnya ia mengaku sebagai Bec dengan memanfaatkan kemiripan yang lumayan banyak.

Apalagi Rebecca Winter yang asli berusia 17 tahun saat menghilang artinya pada tahun 2013 ia berusia 27 tahun. Sementara penirunya baru berusia 24 tahun. Tentunya seiring bertambahnya usia seseorang, terjadi  perubahan fisik tapo tak akan menghilangkan ciri khas dirinya.

Kedua,  Polisi menerima saja rambut yang diberikan sebagai sampel untuk mencocokkan DNA. Bahkan tak membantah penolakan Bec kw melalui petugas medis ketika mereka berupaya mengambil sampel darah.

Bagaimana mungkin Polisi bisa begitu saja percaya dan bersikap kurang hati-hati? Mereka menerima rambut yang diberikan oleh Bec palsu tanpa memastikan bahwa itu rambut asli dari dirinya.

Bagian yang mengisahkan Bec kw bertemu dengan sahabat Bec asli, menjadi lumayan menarik. Meski samar, sang sahabat memberikan isyarat ada yang berbeda dengan dirinya dibandingkan saat sebelum menghilang. 

Bisa dikatakan, Bec kw secara keseluruhan mampu memerankan peran sebagai Bec dengan baik. Tak hanya memanipulasi Polisi yang menangkapnya,  membuat keluarga Bec menerima kehadirannya walau masih menjaga jarak, bahkan membuat seseorang jatuh cinta.

Dan alasan trauma akibat penculikan, merupakan hal yang paling sering dijadikan alasan Bec kw dalam upaya membela diri saat terpojok. Terbukti cukup manjur untuk beberapa saat.

Membaca buku ini perlu sedikit ketekunan serta tentunya kesabaran. Karena dikisahkan secara bergantian antara tahun 2003 dan 2014, beberapa hal seakan tak berhubungan dengan kisah. Padahal jika dicermati, hal tersebut merupakan informasi mengenai peristiwa yang sesungguhnya terjadi terhadap  Bec.

Kesabaran membaca, akan membuahkan hasil ketika sampai pada halaman 262. Segala peristiwa misterius, mulai terjawab. Hal-hal yang semula samar menjadi lebih jelas. Sungguh tak terduga!

Pesan moral yang disampaikan penulis, semoga menjadi pelajaran bagi banyak orang. Mungkin kita bisa berpura-pura menjadi anggota keluarga yang hilang, namun belum tentu hal tersebut membebaskan kita dari masalah.

Bisa saja, justru kita berada dalam bahaya besar ketika mengubah jadi diri menjadi keluarga yang hilang. Kita tak pernah tahu bagaimana sesungguhnya diri seseorang.

Meski  ternyata kisah dalam Only Daughter/ Sang Penyusup berbeda dengan kisah yang ada dalam The Stolen Child, namun keduanya mampu menciptakan ketegangan serta rasa penasaran bagi  yang membacanya.

Meski demikian, ada beberapa bagian yang masih menjadi pertanyaan saya. Misalnya alasan para penjahat berbuat seperti itu. Apakah karena gangguan jiwa, terpicu oleh apa? 

Akhir kisah dibuat ala Hollywood sungguh menyebalkan. Pembaca dibiarkan berimajinasi mengenai bagaimana sesungguhnya kondisi serta kondisi sang peniru. Juga bagaimanakah nasib Rebecca Winter yang asli.

Sumber Gambar:
http://www.goodreads.com

Selasa, 13 April 2021

2021 #12: Satria Buku Berkelana dari Toko Buku ke Toko Buku

Judul asli: Dari Toko Buku ke Toko Buku
Penulis: Muthia Esfand
Penyunting: Rahma Tsania Zhuhra
ISBN: 9786239608774
Halaman: 522
Cetakan: Kedua-2021
Penerbit: SunsetRoad
Harga: Rp 125.000 (softcover)
Rating:4/5

... tetap akan ada orang-orang yang lebih suka datang ke toko buku karena mencari suasana yang hanya bisa mereka dapatkan ketika berada di tengah kepungan rak-rak buku dengan aroma khasnya. Melihat sendiri pilihan-pilihan buku dengan mata kepala mereka langsung, sembari merasakan lewat sentuhan jemari, lalu senyum yang terbit mantap sesudahnya setelah yakin dengan buku mana yang akan dipinang menjadi miliknya....

~Dari Toko Buku ke Toko Buku, hal 452~

Setiap penggila buku pasti memiliki kisah tersendiri ketika memasuki sebuah toko buku, surga dunia menurut mereka. Ada kisah yang menyertai  perjalanan mereka menuju dan pulang dari toko buku, kesan yang diperoleh selama berada dalam toko buku, buku yang ditemui,  hal-hal unik yang ada dalam toko buku, bahkan mungkin jatuh cinta dengan sosok yang ditemui dalam toko buku tersebut.

Meski banyak kisah yang bisa dibagi, namun sangat sedikit literatur yang mengangkat  tema toko buku.  Saya beruntung miliki  satu, hasil berburu di BBW,  yaitu Long-Established and The Most Fashionable Book Shops terbitan Braun  Publishing AG.

Ketika  Muth bercerita tentang keinginannya menerbitkan buku perihal perjalanannya ke aneka  toko buku, saya  langsung wanti-wanti berpesan agar segera mengabarkan jika buku tersebut jadi. Karya yang layak dinanti.

Setelah sekian  purnama berlalu, akhirnya kepastian buku tersebut terbit mulai beredar ramai. Kelalaian saya yang membuat tidak bisa memiliki edisi pertama. Tapi lebih baik terlambat dari pada tidak bukan? Oh ya karena tak sabar membaca, maka saya memesan versi softcover yang lebih dulu tersedia.

Dalam lebih dari 500 halaman, Muth mengajak saya (tentunya pembaca lainnya) untuk bersama-sama mengunjungi beberapa toko buku  yang berada lebih dari 10 negara plus sebuah negara imajinasi yang justru membawa keberuntungan baginya.

Karena ini merupakan kisah  perjalanan Muth, maka saya merasa tak ada salahnya membaca secara acak. Mau bagaimana lagi, perjalananya ke Barcelona tahun 2020  lalu  yang paling membuat saya penasaran. Maklum ada gula dibalik teh manis wkwkwk.

Kebetulan saya memiliki sepupu yang bertugas di sana. Dengan hobi jalan-jalan dan makan, saya yakin ia bisa cocok dengan Muth. Tak ada salahnya mengenalkan mereka berdua, siapa  tahu bisa halan-halan seru bersama.  

Agak memalukan juga, saya nyaris 20 tahun tak bertatap muka dengannya. Sementara Muth malah bisa menginap di apartemen dan menikmati makan seafood bersama. Membaca  bagaimana penampilan sepupu tersayang  membuat Muth  merasa terlindungi dan hangat, membuat saya ketawa geli.

Dengan kepiawaian Muth berkisah, kita akan dibuat seolah-olah sedang berada di sampingnya. Ikut was-was ketika paspor dicek di bandara Inggris dan perbatasan Slovenia,  bahagia plus sedikit iri ketika ia mendapat tote bag di Daunt Books, ikut menjadi murid tak resmi Hanif,  kelelahan bekerja, dan masih banyak  hal menarik lainnya.

Selain berkisah tentang kesan yang diperoleh ketika mengunjungi toko buku, Muth  juga mewakili curahan hati para pekerja dunia buku dan pembaca, saya agak curiga ini juga curahan hatinya ^_^

Misalnya kecenderungan penulis yang menolak mengubah konsep buku karena karyanya sudah dibaca jutaan kali di salah satu situs. Kalimat di halaman 129 tersebut sukses membuat saya juga merasa menjadi orang yang nyinyir karena menolak membaca buku dengan level sudah dibaca sekian kali.
Bincang Buku Pertama

Bagaimana Muth terkagum-kagum pada pramuniaga toko di Knihkupectvi Fantasya di  Praha sangat bisa dipahami. Kadang penjaga toko buku hanya sekedar menjalankan kewajibannya tanpa melakukannya dengan hati.  Ditanya mengenai suatu judul buku,  jawabannya sangat standar. Sama dengan tak  semua orang yang bekerja di perpustakaan cinta buku.

Saya jadi teringat, sempat mendengar tentang Universitas Hamburger (atau nama sejenis), di sana diajar bagaimana seseorang bisa menyajikan hamburger dengan kematangan daging yang sempurna,  bagaimana mengiris sayuran sehingga sesuai dengan ukuran hamburger, ada juga bagaimana memasak kentang goreng sehingga  renyah.

Hal-hal yang mungkin dianggap konyol bagi orang lain namun penting bagi mereka yang bekerja terkait urusan makanan cepat saji. Kalau saya tak salah ingat, sebuah gerai cepat saja dengan lambang M yang membuat pelatihan tersebut agar staf bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Dan staf yang mengikuti pelatihan melakukannya dengan senang bukan sekedar memenuhi kewajiban tugas.

Banyak  juga informasi mengenai keunikan sebuah negara bisa kita temui dalam buku ini. Ada jurusan Studi Beruang di Universitas Ljubljana dikarenakan di sana masih terdapat banyak beruang sebagai contoh.  Muth  terlihat berusaha memasukan pengetahuan dalam tiap kisah yang ia tulis, tak melulu soal toko buku semata.

Kegalauan Muth di halaman 323, perkara yang bisa diatasi dengan mudah.  Saya ingin membisikan nama Andry Chang pada Muth. Seorang penulis muda yang mengambil tokoh mitologi lokal sebagai tokoh utama dalam karyanya. Bisa dikatakan ia menggali dan memodifikasi  mitologi lokal dengan tujuan memperkenalkan kontan lokal  pada kaum muda.

Perihal menjadikan buku sebagai altar ego sepertinya penyakit para penggila buku. Kebiasaan pamer belanjaan buku atau timbunan seakan menjadi penyakit yang tak ada obatnya. Tak heran Muth juga membahas hal tersebut di halaman 325.  Belakangan banyak orang yang mulai membedakan antara hobi membaca serta hobi belanja buku. Ada-ada saja 
Oleh-oleh kartu nama yang unik

Beberapa nama yang sangat saya kenal juga muncul dalam buku ini. Ada Jenny, lalu  Ulin yang sempat menemani Muth mengantri  penandatanganan buku, lalu ada Mbak Lina yang sabar menunggu Muth menonton episode terakhir seri favoritnya di sebuah gerai cepat saji. Edan si Muth!

Ternyata saya kurang begitu mengenal Muth selain urusan buku. Kejutan! Ia juga menyukai teh seperti saya. Pastinya dia tertawa ketika sepupuku tersayang di Barcelona 
menitipkan teh sebagai oleh-oleh.

Oh ya melipir soal oleh-oleh. Bagi banyak mulut iseng, berkata minta oleh-oleh adalah suatu kewajiban. Mereka tak tahu betapa susahnya orang harus berbelanja khusus untuk itu. Belum lagi dana yang dikeluarkan. Maka meminat oleh-oleh, selain cerita dan foto memang sangat disarankan.

Ada yang berkata, kan saya titip uang. Menurutmu berapa besar koper yang dibawa? Belum lagi jika titipanmu tak kira-kira beratnya. Usahakan jangan merepotkan orang saat ia berpergian. Jika dibawakan sesuatu, apapun itu terimalah sebagai tanda kasih.

Kembali pada buku Muth ^_^. Buku ini juga memberikan inspirasi bagi banyak penggila buku. Misalnya perihal seorang pemilik toko buku yang juga menyukai bir. Ia sempat memberikan tur vitual toko bukunya saat launching buku ini. Banyak peserta yang antusias bertanya, dan juga menyampaikan keinginan untuk membuka toko buku sendiri jika ada kesempatan.

Ketika ia menunjukkan beberapa buku dengan tema Indonesia, serta buku karya Eka Kurniawan yang diterbitkan dengan bahasa setempat, banyak peserta yang tak menduga hal tersebut.  Ikut bangga rasanya, budaya kita bisa berada di negara yang jauh.

Seperti Tom sahabat Muth, salah satu alasan saya  meninggalkan pekerjaan lama untuk bekerja di perpustakaan adalah guna mencapai impian setiap penggila buku, bekeja di antara buku. Meski saya tak menganjurkan orang lain berbuat segila saya he he he.
Secara garis besar, buku ini sangat bisa dinikmati oleh segala usia. Para penggila buku, atau mereka yang tertarik pada dunia penerbitan dan buku, sebaiknya membaca buku ini. 

Muth juga memberikan contoh bahwa pertemanan bisa membawa kebaikan juga keberuntungan. Dalam buku ini, ia bisa leluasa menginap di rumah sahabat sehingga menghemat biaya. Bahkan ia bisa mendapat kemudahan hanya karena menyukai serial yang sama. Meski demikian, waspada tetap harus dilakukan ya.

Kekurangannya ada pada ilustrasi yang dibuat berwarna hitam-putih saja. Padahal jika dibuat berwarna pada beberapa bagian tentunya akan menarik lagi (sialnya belakangan muncul pre order dengan halaman berwarna!).

Penjilidan lumayan rapi meski seperti lapisan plastik pada cover kurang rapi sehingga mengakibatkan  mudah copot, terutama jika buku sering dibawa-bawa. Dengan ketebalan buku, sesungguhnya ini bukan buku yang ramah untuk dibawa bepergian.

Ada baiknya Muth juga berbagai pengalaman lebih mendalam mengenai jalur yang dilalui menuju sebuah toko buku. Misalnya naik pesawat ke mana, kemudian disambung  dengan mempergunakan bus jurusan apa, jika perlu sertakan map perjalanan.  Bagaimana mendapatkan tiket murah. Memang infomasi tersebut sudah ada namun kurang lengkap.

Kira-kira, apakah akan muncul versi selanjutnya? Misalnya tentang toko buku di negara Asia? Kita tunggu! 

























Jumat, 19 Maret 2021

2021 # 11: Menikmati Puisi Anak-anak Enid Blyton

Judul asli: Bisikan Anak-anak
Penulis: Enid Blyton
Penerjemah: Liswindio Apendicaesar
ISBN: 9786237245537
Halaman: 60
Cetakan: Pertama-Februari 2021
Penerbit: bukuKatta
Rating:3.5/5

Suatu hari aku menemukan sesosok peri
Di secangkir teh milikku
Dia hampir tenggelam
Dan sungguh basah terlalu

Aku mengangkatnya dan mengeringkannya
Lalu bertanya apakah dia menetap;
"Oh, tidak," katanya, "Aku tidak bisa."
Dan dia pergi terbang dalam sekejap

Once I found a fairy
In my cup of tea.
She was nearly drowned
And wet as wet could be.

I picked her out and dried her
And asked her if she'd stay;
"Oh, no," she said, "_I mustn't_,"
And off she flew away.

~Kekecewaan, halaman 8~

Para penggila buku yang menghabiskan masa anak-anak serta remaja pada era 80-90 bisa dikatakan cukup mengenal sosok Enid Blyton. Minimal pernah membaca satu dari sekian banyak buku yang dihasilkan.

Dalam buku Berkelana Lewat Buku; Kisah Tujuh Penulis, terdapat uraian seberapa besar pengaruh seorang Enid Blyton pada karier kepenulisan mereka-para kontributor buku. Untuk komentar buku tersebut bisa dibaca di sini.

Maka, keberadaan sebuah buku puisi yang ditulis oleh penulis yang sama layak mendapat sambutan meriah dalam dunia perbukuan. Apa lagi buku tersebut disebutkan sebagai buku pertama dalam karier kepenulisan seorang Endi Blyton.

Terdapat lebih dari 20 puisi dalam buku ini,  antara lain Rosamunda; Melihat Peri; Kupu-kupu Aneh; Baju Rok yang Indah;  Kolam Sunyi; Sebelum Makan Pagi; Angin Kegembiraan; Pukul Enam; Angin yang Riang Gembira; Disuruh Tidur;  dan  Akhir Bahagia. 

Buku Bisikan Anak-anak

Setiap puisi yang ada unik, bisa dikatakan tak ada yang mirip satu dengan yang lain. Semuanya mengusung suasana gembira serta menggugah rasa imajinasi pembaca. Hal ini sesuai dengan alasan penulis membuat buku ini, yang bisa ditemukan pada bagian Prakata.

Disebutkan bahwa berdasarkan pengalamannya mengajar, anak-anak bersuka cita dalam dua jenis puisi. Pertama adalah puisi jenaka atau lucu, tentunya versi lucu dari sisi anak-anak bukan dari sisi orang dewasa. 

Selanjutnya adalah puisi imajinatif, juga dari sudut anak-anak, dengan cara pandang jernih dan fantasiah. Tanpa unsur-unsur tersebut maka puisi tersebut tak akan menarik bagi anak-anak.

Jika ditelaah lebih lanjut, terdapat empat puisi yang menyinggung tentang teh, yaitu Kekecewaan;  Berkunjung; Siang ini; serta Bulan di Waktu Minum Teh. Berbeda dengan di negara kita, acara minum teh merupakan kebiasaan orang Inggris yang masih dilakukan hingga saat ini.

Dalam beberapa buku serinya seperti Lima Sekawan dan Sapta Siaga, sering dikisahkan bagaimana anak-anak  yang menjadi tokoh utama kisah menikmati acara minum teh sore dengan aneka makanan melimpah.

Terdapat juga empat judul yang mengandung kata Peri,  yaitu Melihat Peri; Kalung Peri; Jam Tidur Para Peri; serta Musik Peri.  Sementara judul yang terkait dengan alam imajinatif  atau alam fantasi  adalah Balon Sang Penyihir; Orang Kecil di Atas Bukit; Kurcaci yang Nakal;  serta Kesalahan si Hantu Kecil. 

Oh ya, saya tidak menemukan puisi berjudul Goblin pada Daftar Isi. Letakkan antara  Sebelum Makan Pagi serta Jam Tidur Para Peri. Saya menemukan puisi tersebut ketika mencari puisi Jam Tidur Para Peri yang ditulis pada Daftar Isi berada pada halaman 17. Ternyata halaman 17 berisi puisi Goblin, sementara puisi yang saya cari ada di halaman 20. 
https://en.wikipedia.org/wiki/Child_Whispers#
/media/File:ChildWhispers.jpg

Dengan demikian secara keseluruhan terdapat 29 puisi dalam buku ini, bukan 28 seperti yang ada dalam Daftar Isi.  Bisa jadi catatan penerbit untuk edisi kedua^_^ .

Karena bukan novel atau buku non fiksi, maka membaca buku ini saya lakukan dengan memilih acak judul yang menarik terebih dahulu. Selesai membaca satu puisi, pilih judul yang lain, baca lagi. Demikian seterusnya hingga semua puisi dibaca.

Puisi Baju Rok yang Indah, menceritakan tentang seorang anak yang mengagumi koleksi pakaian (dalam puisi disebut baju rok) sang ibu yang tersimpan dalam lemari. Ia mengisahkan tentang bagaimana cantiknya sang ibu dengan aneka beberapa pakaian.

Namun, ternyata dibalik kekagumannya tersebut, ada kekecewaan karena ia tak bisa sembarang memeluk sang ibu karena bisa membuat pakainnya kusut. Ia paling bahagia ketika sang ibu berkebun dengan mempergunakan overall. Saat itu ia bisa memeluk dan bermain dengan leluasa bersama ibu. 

https://www.allyoucanbooks.com/
ebook/child-whispers-enid-blyton

Bunga Poppy mengisahkan tentang pemberontakan seorang anak yang kesal karena rambutnya dikepang erat oleh pengasuh. Dengan kesal ia membuka kepangan dan menghias rambutnya dengan bunga poppy. Kemudian ia berjalan pulang sambil membiarkan bunga poppy berguguran dari rambutnya.

Rasa suka cita muncul ketika membaca puisi yang ada. Padahal sangat jelas saya bukanlah anak-anak lagi, meski pepatah mengatakan ada diri anak-anak pada tiap orang dewasa. Dengan demikian tujuan penulisan puisi dalam buku ini sudah sesuai dengan tujuan pembuatannya. Memang penulis yang luar biasa.

Menerjemahkan puisi bukanlah hal mudah.  Beberapa kalimat mungkin terasa janggal, namun hal tersebut harusnya bisa dimaklumi. Upaya Liswindo Apendicaesar  layak mendapat apresiasi. Hal tersebut  juga pernah disampaikan oleh Joko Pinurbo  selaku supervisi penerjemahan  buku Pesan Sang Mentari saat peluncuran buku tersebut. Lebih lengkap terkait buku tersebut bisa dibaca di sini

Untuk urusan kover, rasanya perlu memberikan ucapan selamat pada Satriya Adhi selaku pembuat. Warna hijau  yang mendominasi kover  berpadu harmoni dengan wara kuning, putih, serta coklat. Sosok anak perempuan yang dibuat tampak belakangan juga kelihatan pas. Mantap!
https://en.wikipedia.org/wiki/Enid_Blyton#/
media/File:Enid_Blyton_2.jpg

Tapi setelah beberapa kali melihatnya, saya jadi bertanya-tanya kenapa tidak dibuat gambar anak perempuan dan anak laki-laki? Atau malah gambar beberapa anak? Sekedar menandakan buku ini layak dibaca oleh anak  perempuan dan anak laki-laki.  

Keberadaan peri pada kover juga menandakan bagaimana anak-anak diberi kesempatan untuk mengembangkan imajinasi dengan bebas. Dugaan saya, ilustrasi peri yang dominan dengan warna kuning terinspirasi dengan  warna tubuh peri Tinkerbell yang berpinar-pinar akibat debu peri dalam kisah Peter Pan.

Dalam The Encyclopedia of Fantasy oleh John Clute dan John Grant, disebutkan bahwa fairies become populer in 19th-century UK painting... Bisa jadi hal ini juga yang membuat Enid Blyton mengambil sosok peri dalam puisinya.

Masih perihal cover, tulisan Enid Blyton sepertinya mengambil jenis huruf yang sudah mencari ciri khas penulisan namanya. Semoga tak ada masalah dengan hak cipta seperti kasus tulisan pada sebuah produk susu kemasan beberapa waktu lalu.

Pada laman berikut disebutkan bahwa puisi adalah satu di antara bentuk karya sastra yang banyak disukai karena disajikan dalam bahasa yang indah dan sifatnya imajinatif. Puisi juga dianggap sebagai rangkaian kata-kata yang menggambarkan perasaan penulisnya. 

Pesan yang ingin disampaikan penyair dirangkai dengan kata-kata yang indah, yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Bahkan, bahasa dalam puisi juga berbeda dengan bahasa karya sastra lainnya, seperti drama atau prosa. Hal tersebut yang membuat banyak orang menyukai puisi.

Diuraikan juga salah satu unsur puisi yaitu citraan atau imajinasi dipakai untuk memancing imajinasi dari pembaca. Pengarang puisi bakal memakai kata yang biasa dipakai untuk mengungkap pengalaman imajinasinya. 

Pengunaan kata yang mudah dipahami anak-anak serta susunan kalimat yang tak terlalu panjang, langsung pada sasaran tanpa menghilangkan keindahan kata membuat  puisi yang ada dalam buku ini menjadi sebuah bacaan ringan yang menyenangkan. Cocok dibaca oleh semua usia.

Di laman berikut, disebutkan masih ada beberapa buku puisi lain karya Enid Blyton. Semoga penerbit berbaik hati menerbitkan karya yang lain. Siapa tahu, ada edisi ekseklutif , sebuah buku yang terdiri dari seluruh puisi Enid Blyton. Siapa tahu ^_^.

Sumber Gambar:
https://en.wikipedia.org
https://www.allyoucanbooks.com
https://en.wikipedia.org


Minggu, 14 Maret 2021

2021 #10: Menyingkap Kejahatan Fu-Manchu

Judul asli: MISTERI DR. FU-MANCHU
Penulis: Sax Rohmer
Penerjemah: Dina Bigum
Penyunting: Avifah Ve
ISBN: 9786024079277
Halaman: 332
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: Laksana
Harga: Rp 75.000,-
Rating: 3.5/5

Ini perangkap lalatku.... 
Dan akulah Dewa Kehancuran

~Misteri DR. Fu-Manchu, hal 286~

Sebuah buntelan kado hadiah ulang tahun dari Dion mendarat dengan sukses beberapa waktu yang lalu. Buku yang belakangan ini ramai menjadi bahan pembicaraan karena kisahnya yang bisa dikatakan berbeda dengan buku sejenisnya.

Sepasang penyelidik,  Sir Denis Nayland Smith serta Dr Petrie berhadapan dengan  penjahat luar biasa yang dikenal dengan nama Dr. Fu-Manchu.  Sir  Denis Nayland Smith merupakan   komisaris polisi kolonial di Burma yang diberikan kekuasaan  untuk meminta bantuan  dari segala pihak  dalam menjalankan misinya. Sedangkan  Dr Petrie adalah sahabat lama Sir Denis Nayland Smith.

Sementara  Fu-Manchu merupakan  funolog ulung.  Manusia yang super jenius. Ia begitu memiliki wibawa yang kuat sehingga meski sosoknya tak terlihat berada di sebuah ruangan,  keberadaannya tetap bisa dirasakan oleh mereka yang pernah bersinggungan dengannya.

Alih-alih mengandalkan senjata api, ia lebih sering mempergunakan pengetahuan dalam melaksanakan aksinya. Aneka binatang buas yang dilatih, penemuan yang mampu membuat seseorang menjadi seakan-akan meninggal, atau hilang ingatan. Serta tak ketinggalan bantuan alap-alap terkait tugas yang berhubungan dengan fisik.

Secara garis besar, kisah dalam buku ini berkisar mengenai bagaimana upaya duo detektif  Sir Denis Nayland Smith serta Dr Petrie dalam upaya menggagalkan seluruh misi  Fu-Manchu. 

Beberapa tokoh yang dianggap bisa menghambat tujuannya telah disingkirkan dengan berbagai cara. Sementara  yang lain, dibawa paksa ke negara tirai bambu untuk dimanfaatkan kepakarannya, tanpa ada yang menyadari. 

Seperti yang sudah diperingatkan oleh narator di halaman 7,  sosok Sherlock Holmes dan Dr Watson langsung muncul dalam ingatan saya. Berbeda dengan Mr Holmes yang digambarkan nyaris sempurna dalam segala tindakan (menurut saya sih), Smith tidak selalu selangkah di depan. Ada kalanya ia salah melakukan perhitungan sehingga berakibat cukup fatal bahkan membahayakan jiwanya. 

"Dia tersendak-tercekik, tidak bisa bicara dan aku merasakan dia bergeser di peganganku-ditarik keluar dari jendela-ditarik menuju ajalnya!" Demikian yang tertera di halaman 175  sebagai gambaran situasi antara hidup-mati yang ia hadapi.

Uraian mengenai sebuah gerakan rahasia yang disampaikan oleh Nayland Smith, membawa saya pada kenangan membaca kisah Empat  Besar dari Agatha Christie (silakan mampir).  "Apakah ada orang yang menyadarkan Barat akan kebangkitan Timur, yang akan mengajari si tuli bagaimana cara mendengar, si buta melihat, bahkan jutaan orang hanya menantikan pimpinan mereka?"

Demikian juga dengan sosok seseorang  wanita yang berusaha mencari perlindungan untuk kerabatnya pada Dr Petrie. Serupa dengan sosok pembantu setia para tokoh utama dalam Empat Besar, yang pada akhirnya berbalik mendukung Holmes.

Kisah Tiga Bintik pada salah satu kisah Holmes  begitu mirip dengan kasus rencana pembunuhan yang  berhasil mereka gagalkan. Memang binatang yang dipergunakan untuk membunuh  berbeda, namun ada kemiripan teknis antara kedua kisah.

Masih pada kasus yang sama, ucapan salah satu korban  yan membuat bingung kedua detektif, ternyata terpecahkan dengan sangat mudah. Pengucapan "tangan" dan "semut" memang mirip.  Tangan merah diartikan sebagai red hand, sementara yang dimaksud adalah semut merah-red ant, jika diucapkan memang mirip.  Apalagi yang mengucapkan dalam kondisi antara hidup-mati, sementara yang mendengarkan juga tak begitu menangkap dengan jelas. 

Agar paham maksudnya. saya perlu membaca kalimat tersebut dua kali, kemudian mengalih bahasa. Sekedar saran, sebaiknya ada catatan kaki  berupa kata yang dimaksud dalam bahasa Inggris dan Indonesia agar mudah dipahami maknanya oleh pembaca.

Terlepas dari urusan kemiripan, kisah ini membuat pembaca terbawa dalam suasana menegangkan. Cara-cara  Fu-Manchu  dalam upaya menjalankan rencananya membuat kagum dan perasaan ngeri bersamaan. Untung saya bukan musuhnya. Bagi saya, sosoknya lebih menyerupai tokoh utama dari pada pasangan detektif kita.

Saya menemukan ada kata lelayu, misalnya yang ada di halaman 238. Mencoba cari di KBBI ternyata tidak ada. Sepengetahuan saya, seperti juga yang diungkapkan oleh https://apaitu.web.id, lelayu  berasal dari bahasa Jawa. Menurut laman ini, lelayu berarti kabar duka, atau berita mengenai seseorang yang meninggal. 

Kenapa tidak mempergunakan kata dalam bahasa Indonesia saja? Jika tujuannya untuk mengungkapkan tentang pengumuman kematian. Padahal di kalimat awal sudah disebutkan,  "Aku membaca berita kematian orang itu, dan memandang pengumuman lelayu panjangnya, tetapi sekedar  membacanya." 

Terbit sejak tahun 1913, karya ini sudah diangkat menjadi ke layar lebar. Konon masih ada beberapa buku lajutannya (saya sudah menduga ketika membaca akhir yang dibuat dengan tak tuntas). Semoga bisa segera diterjemahkan.

Sekedar iseng, jika kita ketik judul Misteri Dr. Fu-Manchu pada laman goodreads  (di sini, maka terlihat ada 401 edisi. Lumayan banyak juga ya. Ini bisa dianggap sebagai tanda bahwa buku ini  sejak pertama kali terbit sudah memiliki banyak  penggemar. 

Menarik!

Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com





 



Senin, 08 Maret 2021

2021 #9: Berkelana Bersama 7 Penulis Lewat Buku

Judul: Berkelana Lewat Buku; Kisah Tujuh Penulis
P
enulis: Murti Bunanta dan kawan-kawan
Editor:Murti Bunanta, Danny I, Yatim, Remon Agus
ISBN: 9786023413218
Halaman: 104
Cetakan: Pertama- Januari 2021
Penerbit: Bestari 
Rating: 3.5/5

Begitulah kalau jodoh, pasti akan datang juga, 

Maksud saya, jodoh dengan buku he he he. Buku  Berkelana Lewat Buku, beberapa kali muncul di FB Mas Keff dan Mas Banu. Keduanya mempromosikan buku tersebut sebagai salah satu kumpulan kisah dimana mereka ikut menyumbangkan tulisan.

Tertarik? Jelas sekali.  Adalah hal yang menarik bagi saya untuk bisa mengetahui bagaimana seseorang bisa begitu terikat dengan buku. Apa buku yang begitu berpengaruh dalam kehidupannya, sejak kapan mulai mencintai kegiatan membaca, bagaimana cara mengasah keterampilan menulis, bahkan kenapa seseorang hanya berakhir sebagai pembaca aktif dan tak beralih menjadi penulis. 

Kali ini, menimbang begitu banyak tugas membaca yang harus saya lakukan,  membuat buku ini masuk dalam daftar tunggu, alias kapan-kapan saja dibeli dan dibaca jika tugas utama sudah bisa diatasi dengan baik. Niat dulu yang utama.

Kembali, ternyata saya berjodoh dengan buku ini he he he. Jeng Vita, salah satu rekan di kantor, menawarkan saya membaca buku ini  beberapa waktu lalu. Kebetulan kami sama-sama WFO. Saya menawarkan sebuah buku koleksi saya untuk dipinjam. Dan ia menawarkan buku ini.

Karena tahu kecepatan membaca saya (padahal sudah menurun jauh), saya diberikan waktu sampai jam 15.00 WIB untuk membacanya. Harap maklum bukan pelit, karena sesungguhnya ia sedang membaca buku ini juga. 

Baiklah! Kesempatan emas jangan sampai terlewatkan. Mungkin saja, jika saya tidak berusaha meluangkan waktu buku ini tak akan pernah saya baca. Sungguh rugi!

Dalam 104 halaman, saya diajak mengikuti bagaimana tujuh orang yang berpengaruh dalam dunia buku mengenal dan mencintai buku. Berkisah mengenai  buku pertama yang  dibaca serta buku-buku yang dibaca sejak remaja hingga saat ini. Diuraikan juga sejauh mana sebuah buku  berpengaruh serta  mengubah hidup mereka. 

Tiap orang membuat satu tulisan, maka terdapat tujuh kisah dalam buku ini. Dimulai dari Semasa Kecil Sampai Tujuh Puluh Tahun Kemudian (Murti Bunanta); Saya Dibawa Jalan-jalan ke Perpustakaan Kota (Danny I); Iklan Baris, Lisan, dan Fiksi  (Ari Ambarwati); Buku-buku yang Menemani Masa Kecil Saya Sehingga Remaja (Iksana Banu);  Dari Si Kuntjung ke Hikayat Putri Penelope (Jane Ardaneshwari); Nenek, Api, dan Tabah (Kurnia Effendi); hingga Senang Membaca (Mudji Sutrisno SJ).

Sekilas memang mirip seperti memoar atau tulisan mengenai kenangan akan masa kecil hingga saat ini terkait buku dan kegemaran membaca. Namun jika ditelaah lebih lanjut, banyak hal menarik yang bisa kita ambil hikmahnya.

Misalnya mengenai pertanyaan  yang sering muncul terkait minat baca anak. Pembaca tidak bisa ditemukan jawabannya dalam buku ini. Tidak ada ulasan menurut pakar atau tips yang jitu guna meningkatkan minat baca anak. Yang ada, adalah contoh langsung bagaimana sebuah keluarga membuat anak menjadi gemar membaca.

Mengenalkan buku sejak dini adalah kunci.Bisa ditarik  benang merah dari beberapa kisah, melalui dogeng yang disampaikan oleh ibu atau nenek, muncul ketertarikan untuk bisa membaca. Keluarga mendukung kegemaran membaca dengan menyediakan sarana berupa bahan bacaan. 

Jika tidak bisa menyediakan sarana karena sesuatu dan lain hal, minimal tidak ada cemohan atau larangan untuk membaca, meski banyak orang tua yang menganggap membaca selain buku pelajaran adalah hal yang kurang baik.

Saat itu majalah anak-anak lumayan beragam. Ada Kuntjung, Ananda, Bobo, Expo,  serta majalah Hai, Aneka, Gadis untuk mereka yang beranjak remaja. Belakangan sempat ada koran anak,   dengan harapkan para anak yang sering melihat orang tuanya membaca korang, terpicu untuk juga mau membaca. Sayang koran itu bernasib sama seperti majalah anak yang lain.

Mendadak saya jadi teringat pada masa kecil saya. Saya hanya berlangganan Bobo, namun sekolah sering menawarkan membeli majalah Kuntjung. Guru membawa majalah tersebut ke kelas dan bertanya apakah ada siswa yang mau membeli? Jika mau, bisa dibayarkan besok. 

Kemudahan  plus pesan yang disampaikan pada para orang tua saat pengambilan rapor, membuat nyaris seluruh siswa dalam kelas membeli majalah itu. Saya yang paling semangat he he he.

Tak hanya majalah, buku cerita seperti Tintin dan serial kalangan Enid Blyton memegang peranan yang besar pada kegemaran membaca mereka. Rasa ingin tahu terpicu, rasa haus akan bacaan tak juga terpuaskan.

Keberadaan perpustakaan, taman bacaan bahkan tempat menyewa buku menjadi salah satu sarana yang mendukung kegemaran membaca. Sayangnya saat ini keberadaan taman bacaan bahkan tempat menyewa buku menjadi hal yang langka untuk ditemui. Kalau pun ada, koleksinya sangat terbatas.

Secara umum, buku ini perlu dibaca bagi para orang tua yang ingin menanamkan kegemaran membaca pada anak. Bagi para pendidik, buku ini bisa menjadi referensi bagaimana menumbuhkan minat baca. Sementara untuk para penggila buku, buku ini menjadi buku yang layak dikoleksi.

Selain uraian yang menarik untuk dibaca, ilustrasi yang muncul pada awal tiap kisah juga menarik untuk disimak. Sayangnya jumlah ilustrasi agak terbatas, padahal dengan adanya ilustrasi akan semakin membuat visual halaman di buku menjadi lebih menarik.

Beberapa nama mungkin asing bagi pembaca, namun jika dilihat pada bagian belakang, terdapat uraian mengenai para penulis dalam buku ini. Tak kenal maka tak sayang, tak ada salahnya mencoba mengenai sosok para kontributor buku ini.


Ternyata sosok Murti Bunanta tidak lebih gila dari saya! Ada sekitar 50-an versi Bawang Merah dan Bawang Putih yang ia miliki. Jika dilihat dari kisah, mungkin akan lebih susah mengoleksi versi ini dari pada Little Women. Karena LW dicetak dalam banyak negara, sementara kisah Bawang Merah dan Bawang Putih lebih terbatas.

Inspiratif!