Selasa, 03 November 2026

2026 #11: The Ending Writes Itself

Penulis: Evelyn Clarke
Penerjemah: Muthia Esfand
ISBN: 9786340523621
Cetakan: Pertama-Agustus 2026
Halaman: 387
Penerbit: Aruna Books
Harga: Rp 115.000
Rating: 4/5

"Kami memberikan salah satu dari kalian kesempatan untuk menyelesaikan buku terakhir Arthur Fletch ... untuk menyempurnakan busur Petrarch ... untuk menuliskan Tamat!"
Hal 47

Sebagai penggila buku, mengetahui ada  buku tentang dunia penerbitan  setelah Yellowface karya RF Kuang,  tentunya akan sangat  tergoda untuk memasukan dalam timbunan (semoga tidak terlalu lama ditimbun).  Ditambah, tukang ahli bahasa merupakan sista yang sudah cukup lama  malang melintang di dunia buku tanah air. 

Judul buku, langsung mengingatkan pada salah satu karya Agatha Christie-And Then There Were None, versi terjemahan sudah diterbitkan oleh penerbit G dan sempat membuat ramai karena dianggap rasis sebelum diganti.  

Kisah dibuka dengan berkumpulnya beberapa penulis di Pulau Skelbrae. Mereka dipilih khusus oleh Arthur Fletch, salah satu penulis misteri tersohor dan terlaris di dunia (ceritanya).  Ada pasangan  Malcolm & Sienna Buchanan (Penn Stonely), Jaxon penulis sci-fi, Millie Mitchell penulis YA Fantasi, Kenzo Gray penulis horor, serta  Priscilla RenĂ©e Fox.  

Baru sampai halaman  awal saya sudah dibuat penasaran. Ternyata dari  seluruh tamu undangan yang hadir, hanya Priscilla  yang baru pertama kali dikontrak untuk menerbitkan karyanya. Sungguh kontras dengan penulis lain yang sudah memiliki banyak karya dan penggemar. Hem... siapa dia sebenarnya? Kenapa dia dipilih?

Lanjut,  para penulis tersebut diberikan waktu 72 jam untuk bisa menyelesaikan  ending dari karya terakhir Fletch. Dengan iming-iming satu juta dolar plus 1 juta dolar lagi dalam bentuk kontrak penerbitan, siapa yang tidak tergoda dengan dua juta dolar!

Semula setiap orang bersemangat menghadapi persaingan yang akan terjadi, hingga satu demi satu para penulis ditemukan dalam kondisi tewas. Suasana kian mencekam hingga akhirnya tersisa 1 orang! Apakah benar ia pembunuhnya? Bagaimana ia melakukan pembunuhan, merupakan hal yang menjadi tanda tanya. Bagian ini benar-benar membuat ingat pada buku karya AC.

Akhir kisah memang bisa ditebak, tapi menebak siapa yang menjadi  terakhir selamat, atau siapa pelakunya merupakan keseruan tersendiri.  Singkatnya, sosok yang terakhir bertahan untuk bisa keluar dari pulau walau dalam kondisi luka, ternyata orang yang sama sekali tidak diduga. Setidaknya ia lebih beruntung hanya terluka dibanding kehilangan nyawa. 

Sementara pelaku kejahatan, benar-benar sosok yang tak terduga mampu melakukan hal seperti itu. Buku ini mengajarkan bahwa seseorang bisa menjadi sosok yang berbeda. Untuk itu perlu selalu waspada pada orang yang tak dikenal, dalam kasus ini pertama kali bertemu,agar tidak terjadi hal-hal yang menakutkan.

Setelah dikaji lebih jauh, ternyata, urusannya tidak hanya terkait dengan hadiah yang dijanjikan tapi ada hal yang lebih besar. Ada niat jahat pelaku untuk memiliki salah satu barang kesayangan dari Arthur Fletch.

Ohya, terkait siapa pemenangnya, silakan baca sendiri.  Banyak kejutan yang muncul dalam buku ini. Silakan mencoba menebak, namun jika tidak tepat janganlah kecewa.

Saya sempat mencoba membayangkan bagaimana situasi di pulau tersebut. Sepertinya lumayan mewah.  Bahkan para penulis disediakan kertas yang senada dengan warna dinding kamar tempat mereka menginap. Luar biasa sekali perlakuannya. 

Penulis buku ini, Evelyn Clarke, sebenarnya merupakan gabungan nama dari VE Schwab dan Cat Clarke. Meski ditulis oleh 2 orang, jalan cerita buku ini mengalir tanpa terlihat ditulis oleh 2 orang yanng berbeda. Setidaknya bagi saya, entah bagi pembaca yang lain.

Sempat iseng mencari informasi terkait buku ini di Goodreads. Tenyata sebagian besar mengambil  kover serupa dengan yang terbit di Indonesia. hanya ada 2  dari 36 edisi yang menggunakan kover berbeda. Penasaran juga kenapa banyak penerbit yang memilih kover yang sama.

Ketika mendiskusikan buku ini dalam sebuah acara bersama teman-teman sesama penggila buku beberapa waktu lalu, banyak yang sependapat bahwa melalui buku ini banyak informasi terkait dunia penerbit di luar negeri terkuak, termasuk kasus berseterunya 2 penulis besar. 

Buku yang unik.

Sumber Gambar:
Dokumentasi Klub Buku Depok



Senin, 02 November 2026

2026#10: Istri Jenderal Dudi

Penulis: Titie Said
ISBN: 99796665743

Cetakan: Pertama-2000

Halaman: 238

Penerbit: Balai Pustaka 

Rating: 3/5


"Aku benci laki-laki yang tak bertanggung jawab! Lelaki yang menghindari anaknya sendiri. Lelaki yang memper***a perempuan. Lelaki yang mengabaikan hak perempuan dan anak!"

-hal 162-


Membaca judul kisah, saya menduga kisahnya tentang romantika kehidupan seorang  Jenderal (yang bernama) Dudi. Ternyata lebih menekankan pada sosok bernama Maharani.  Seorang wanita cantik yang memiliki karier cemerlang yang menjadi istri Jenderal Dudi.


Sebenarnya mereka bedua kerap bertemu tanpa sengaja di suatu kedai kopi di hotel bintang 5 (sepertinya saya tahu hotel mana yang dimaksud). Interaksi keduanya terjadi ketika orang yang ditunggu keduanya ternyata membatalkan janji. Jenderal yang digambarkan ramah, mengajak Maharani untuk menikmati hidangan yang ia pesan.


Jangan harap ada kisah romantis sejak awal  Maharani yang memiliki trauma masa lalu, bersikap dingin. Ia bahkan mengabaikan aneka bunga mahal yang dikirimkan untuknya.


Nyaris saja Maharani membuat perusahaan rugi karena mengira tawaran bisnis yang disampaikan Jenderal  Dudi sekedar gurauan, mengingat adanya larangan bagi tentara dan polisi untuk berbisnis.


Pembaca mungkin mengira kisah antara keduanya berakhir dengan manis, keduanya hidup dalam bahagia. Tak semudah itu. Sang penulis menghadirkan sosok lain dalan kehidupan Maharani. Kali ini segalanya berlawannya sang jenderal. 


Bagaimana Maharani seorang wanita karier cemerlang memutuskan ke mana hatinya akan berlabuh, menjadi hal yang menarik untuk disimak. Apalagi ketika sebagai aktifis perempuan ia mengetahui bahwa dirinya  menjadi korban permainan cinta. Apakah benar begitu? Atau sekedar salah paham semata?


Sang penulis, Titie Said (1935–2011) merupakan seorang penulis dan jurnalis  asal Indonesia yang dikenal melalui berbagai karya novel dan cerpen. Nama Titie Said sendiri sebenarnya merupakan nama pena  dari namanya Sitti Raya Kusumowardani. 


Buku ini saya temukan eh jastip dari ajang pameran buku internasional beberapa waktu lalu. Harga yang tertera sangat murah membuat tak perlu berpikir panjang untung jastip. Belakangan, saya baru sadar betapa beruntungnya saya mengingat nama penulis, penerbit dan kelangkaan buku berdasarkan tahun terbit.


Cocok dibaca oleh mereka yang menyukai karya penulis. Bagaimana cara beliau mengusik rasa penasaran dan mengaduk emosi pembaca, sangat menawan.







Selasa, 18 Agustus 2026

2026 #9: Panggung Sandiwara Matahari

Judul asli: Seribu Bintang Menyinari Matahari
Penulis: Yudhi Herwibowo
ISBN 10: 6238371706
ISBN 13: 9786238371709  
Halaman: 304
Cetakan: Pertama-Juni  2026 
Penerbit : Baca
Harga: Rp 111.000
Rating: 3.75/5

"... hidupku  telah menjadi panggung sandiwara  bagi diriku sendiri."
-hal 211-

Semula, kedatangan Jepang yang mengaku sebagai saudara tua Indonesia   untuk "membantu" mengusir Belanda  pada tahun 1942 disambut dengan gembira. Apalagi  Jepang menggunakan propaganda mengizinkan pengibaran bendera Merah Putih dan menjanjikan kemerdekaan. 

Tak sedikit rakyat yang mengaitkan kedatangan Jepang dengan  ramalan  Jayabaya, yang memerintah sekitar tahun 1157.  Ramalan itu kurang lebih berbunyi, "Akan datang bangsa berkulit kuning dari Utara, berperawakan tidak tinggi, pendek pun juga tidak. Mereka itu nanti akan menduduki tanah Jawa, tetapi hanya seusia tanaman jagung. Dan akan kembali ke negerinya sendiri, sedangkan tanah Jawa akan kembali dikuasai anak negeri sendiri pula."

Namun seiring waktu, ternyata Jepang tidak sebaik yang terlihat.  Kekejaman mereka makin menjadi, membuat kehidupan masyarakat saat itu  menjadi tidak mudah.   Apalagi  sejak Jepang ikut campur  urusan panggung sandiwara. Tak hanya naskah yang akan ditampilkan harus diperiksa terlebih dahulu, dalam setiap pertunjukan wajib menyisipkan pesan propaganda.

Pertunjukan yang dianggap berbahaya bisa berakibat penangkapan pemilik kelompok sandiwara. Para pemain juga mengalami perlakuan tidak menyenangkan. Tengok Nyonya Besar Liam Jia  yang harus merelakan harga dirinya dicabik-cabik Tuan Nakamura- dari Sendebu (Departemen Propaganda Jepang)  agar bisa menemui dan membebaskan suaminya dari tahanan. 

Tapi, ada juga yang nekat memanfaatkan kondisi tersebut guna kepentingan pribadi. Sadira salah  satunya. Ia mendadak menjadi pemeran utama menggantikan primadona panggung yang mengundurkan diri, wajahnya tercetak lebar dalam brosur yang disebarkan. Beberapa peristiwa misterius menimpa pemain lain yang dianggap tidak sejalan dengannya, menimbulkan kecurigaan ada campur tangan Tuan Nakamura

Tak hanya itu. Dulu, demi mendapat peran yang lebih besar ia rela melakukan hal yang tak masuk pikiran nalar, menggoda suami  Gayatri yang selama ini menganggapnya sahabat! Sadira sangat ingin terkenal sebagai pemain sandiwara,  masa bodoh bagaimana caranya.

Sadira juga Gayatri semula adalah sama-sama pemain dari kelompok Sandiwara Matahari. Hubungan persahabatan antara Gayatri dan Sadira cukup unik, bukan tidak mungkin malah pembaca sendiri pernah berada dalam hubungan seperti itu. Salah satu tulus bersahabat hingga akan melakukan apa saja demi sahabatnya, sementara yang lain memandang sebelah mata. 

Demi mendapatkan 2 tiket menonton sandiwara bersama Sadira, Gayatri melakukan hal yang tak terduga. Bagi Sadira apa yang dilakukan Gayatri adalah hal yang menjijikan, sementara bagi Gayatri  apapun akan ia lakukan demi dapat menonton bersama orang yang dianggapnya sahabat. Ironi.

Padahal Sadira bisa dengan mudah menonton sandiwara tanpa bantuan Gayatri. Ia hanya perlu meminta uang pada ayahnya, yang dengan mudah memberikan apa yang diminta putri semata wayangnya. Seperti saat Sadira menjadi pemain utama, karcis  laku keras diborong ayahnya untuk dibagikan pada para relasinya.  

Selain berkisah tentang kegiatan sandiwara, para tokoh juga mendapat  "jatah"  minimal satu bab  berisi informasi tentang diri mereka. Dengan demikian pembaca bisa semakin memahami bagaimana karakter setiap tokoh yang ada dalam kisah ini. Ada Gayatri primadona Matahari, Ari Sabda penulis naskah cerita, serta Tuan  Tan Yang dan Liem Jia pasangan pemilik Matahari. 

Penasaran dengan salah satu tokoh belia yang beberapa kali disebut pada bagian awal. Berharap mendapatkan banyak peran dalam kisah ini. Pada bagian Epilog memang memegang peranan penting dalam cerita, tapi hanya itu. Sayang sebenarnya, bisa dikembangkan menjadi tokoh yang menarik.

Tukang pembuat cerita dalam kisah ini digambarkan sebagai sosok yang sengaja menyelipkan pesan perjuangan dalam cerita sebagai wujud dukungan. Kehidupannya dibayangi ketakutan diburu Jepang untuk dihabisi. Sayangnya bagian ini juga kurang banyak mendapat porsi. 

Oh ya, tentunya ada unsur roman dalam kisah ini. Percintaan antara Gayatri dan suaminya serta pasangan Tuan  Tan Yang dan Liem Jia menjadi 2 kisah yang paling saya sukai. Gayatri menjadi bukti bahwa cinta pada suami memang butuh pengorbanan besar, termasuk meninggalkan apa yang ia cintai, menjadi pemain. Meski cinta, ia tetap mempertahankan harga diri. Begitu mengetahui suaminya berkhianat, tak ada kata kompromi, perpisahan harus terjadi.

Sementara untuk pasangan Tuan  Tan Yang dan Liem Jia, akhir yang mengharukan. Keduanya menjadi korban perjuangan kemerdekaan secara tak langsung. Begitulah kehidupan, tak selalu adil. Semoga pengorbanan keduanya akan selalu diingat oleh dunia panggung sandiwara saat itu.

Mas Yud mengambil seting kisah  zaman Jepang berada di tanah air, salah satu hal yang sering dibahas terkait saat itu adalah jugun ianfu. Benar dugaan saya, terdapat juga alur kisah yang bersinggungan dengan hal itu. Seingat saya, beberapa kali Mas Yud memang memasukan jugun ianfu dalam bukunya.

Dibandingkan buku Mas Yud lainnya, buku ini memuat cukup banyak catatan kaki. Jika dicermati, catatan kaki tersebut tidak saja memperjelas tentang hal yang ada dalam cerita, tapi juga memberikan tambahan pengetahuan seputar kondisi saat penjajahan Jepang. 

Contohnya,  pada halaman 15 disebutkan tentang koran yang menjadi sumber pemberitaan utama untuk surat kabar lainnya di Jawa. Informasi tentang Ibu Sud sebagai ketua bidang seni dan suara Keimin Bunka Shidosho di halamana 22.  

Sedangkan catatan kaki di halaman 90, memberikan informasi tentang asal mula  pengunaan mata uang rupiah setelah sebelumnya menggunakan uang kertas gulden. Sejak dulu, Mas Yud memang tidak pernah tanggung jika terkait urusan riset untuk bukunya. 

Ketika mendengar buku terbaru Mas Yud mengambil topik tentang sandiwara, saya jadi teringat pada beberapa nama pesar pemain sandiwara dan kelompok sandiwara pada zaman dahulu. Saat itu ketika hiburan masih terbatas,  penampilan mereka sangat ditunggu masyarakat. Tak heran jika Jepang memanfaatkan untuk propaganda.

Sebagai penanda bab, halaman dicetak dengan latar hitam. Unik memang, namun membaca tulisan yang ada membutuhkan ekstra tenaga. Jika dicetak ulang, pilihan warna yang digunakan untuk kalimat yang ada di halaman itu sebaiknya diubah. Dicari yang lebih sesuai.

Secara keseluruhan, kisah dalam buku ini menarik untuk dinikmati. Hiburan dan ilmu didapati secara bersamaan. Tema  yang diangkat cukup unik. Beberapa bagian kisah, masih bisa dielaborasi lagi. 

Saya mendapatkan bonus booklet yang mengisahkan tentang salah satu kelompok sandiwara yang juga disebutkan dalam kisah. Isi booklet tersebut sangat membantu menjembatani penggalan kisah terkait kelompok sandiwara lain  yang diuraikan dalam kisah.  Mungkin jika dijadikan bab utuh, kurang panjang, namun digabung dengan bab lainnya, kurang berhubungan.

Melalui buku ini, terlihat bagaimana setiap individu bisa ikut  berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan, wujudnya juga bisa beragam sesuai dengan kemampuan masing-masing. Salah satu buku yang bisa menjadi pilihan bacaan dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan ke-81.



Sabtu, 27 Juni 2026

2026 #8: Sesesat Apakah Kamu?

Judul asli: Sesat
Penulis: Naomi Midori
ISBN: 9786235467443
Halaman: 250
Cetakan: Pertama-Mei 2026
Penerbit: Haru
Harga: Rp 97.000
Rating: 3.5/5

Matikan indra.
Matikan indra
-hal 94-

Di sebuah pulau dengan akses sangat  terbatas, kehidupan penghuni di sana sangat berbeda dengan pulau lain pada umumnya.  Seluruh penghuni pulau memeluk agama X. Mereka harus tunduk secara mutlak pada Pamasa, pemuka agama X tertinggi. Konon Pamasa merupakan titisan Sang Agung.

Tak ada pertanyaan atau alasan melanggar. Berani bertanya, berarti siap untuk menerima hukuman bahkan kematian. Punya alasan untuk tidak mematuhi aturannya, mati menjadi hal yang paling diinginkan dibandingkan menerima siksa. Bahkan mencintai orang lain pun harus dengan izin Pamasa. 

Sebagai gambaran betapa Panama dikultuskan,  air bekas ia gunakan, termasuk mencuci hal kotor yang keluar dari tubuhnya, dijadikan sebagai komoditi tak ternilai. Penduduk percaya air tersebut membuat mereka hidup lebih lama dan bersih dari dosa.

Meski demikian, ada saja orang yang nekat memiliki padangan berbeda. Kedal, misalnya. Ia pernah menyampaikan agar memercayai sesuati harus dengan mempergunakan otak. " Jangan mabuk agama. Percaya  sih percaya, tapi pakai otak jugalah. Belum tentu yang kau yakini itu adalah kebenaran" katanya pada Ale yang sangat mematuhi Pamasa. 

Begitulah. Pamor Pamasa sangat kuat,  ia bisa mengubah aturan semaunya. Tak ada yang pernah tahu bagaimana wujud Kitab Sasar, kitab suci agama X. Mereka hanya tahu apa yang disampaikan Pemasa.  Jika ada perubahan, disebutkan dilakukan Pamasa atas petunjuk Sang Agung. Tak ada yang berani membantah.

Selesai membaca, saya merasa unsur kultus kurang banyak disampaikan. Peristiwa di bab  Bukan Agamaku, Bukan Tuhanku, alih-alih menggambarkan sidang terhadap ketaatan pada Pamasa, bagian tersebut seakan menunjukkan bagaimana seorang diktaktor sedang menghukum pemberontak atau warga yang tak setia.

Pada bagian awal, pembaca bisa menemukan peta Pulau X, sehingga bisa lebih membayangkan tempat terjadinya suatu peristiwa. Tapi setelah selesai membaca, sepertinya  seluruh peristiwa hanya terjadi di beberapa tempat tertentu saja. 

Bagaimana kehidupan penduduk di sana disampaikan penulis dari sudut pandang  Ale dan Dhatya secara bergantian. Pada tiap bagian awal, juga dicantumkan sesuatu yang dianggap sesuai dengan isi kisah dalam bab tersebut.  Kisahnya seperti apa? Siapakah sesungguhnya Ale dan Dhatya? Silakan baca sendiri he he he.

Secara keseluruhan, buku ini cukup menarik. Kalau ada kekurangan, untuk saya, masih bisa dikoreksi pada cetakan ulang nanti. Tanpa mengubah alur cerita hanya mempertegas beberapa hal saja. Konon penulis mendapat ide dari peristiwa yang dialami sendiri,  tentunya akan mudah untuk "menambal"  bolong yang ada. 

Selain urusan ilustrasi yang sangat menarik, sayang jumlahnya terbatas, bagian kuis yang hasilnya menentukan apakah seseorang layak menjadi umat di Pulau X, layak dicoba. Minimal untuk menguji diri  bagaimana bersikap jika menjadi salah satu tokoh dalam kisah  (buat saya lho).

Dan...,saya bukan masuk dalam golongan yang ideal buat jadi penghuni Pulau X, walau nyaris masuk kategori  orang yang dibutuhkan Pulau X. Ternyata, selisih 1 pilihan bisa mempengaruhi banyak hal. 

Batas toleransi setiap individu pada sesuatu yang dianggap menakutkan atau menjijikkan tidaklah sama. Ada yang menganggap ilustrasi wajah pada kover sangat menakutkan, seram setiap kali melihat.  Lainnya menyebutkan menjijikkan,  setiap memandang akan merasa mual.  Tapi, ada juga yang menganggap menarik, karena sesuai dengan apa yang digambarkan dalam kisah.

Cara penerbit  menempelkan semacam stiker pada wajah yang dianggap menyeramkan atau menjijikkan, merupakan cara marketing yang menarik. Pertama, calon pembeli akan merasa penasaran dengan apa yang ada di balik stiker. 

Nekat berusaha mencabut stiker, merupakan hal yang bisa dikatakan sia-sia, karena stiker ditempel pada plastik pembungkus buku yang rasanya akan susah untuk dilepas. Memaksa sama saja merusak, artinya harus membeli. Setidaknya bagi saya yang berusaha mencoba beberapa kali namun gagal. Penasaran? Beli dan copot stikernya untuk tahu apa yang ada di baliknya.

Kedua, cara ini juga membuat penjual buku secara daring tidak terkena sanksi memasang sesuatu yang dianggap mengganggu atau tidak sesuai dengan ketentuan. Jika sampai ada yang dianggap melanggar ketentuan, toko bisa dilarang beroperasi beberapa waktu, bayangkan kerugian yang muncul. Bukan untung, malah rugi gara-gara kover yang tak biasa.

Ketiga, dengan memberikan semacam penutup tambahan, bisa membuat orang yang melihat merasa penasaran, bahkan bisa saja bertanya. Saya  mengalami wkwkwk. Beberapa kali saya ditanya sedang membaca apa ketika terlihat memegang buku ini di perjalanan ke kantor dengan kereta api. 

Dan kesekian kalinya,  orang yang bertanya akan menunjukkan ekspresi terkejut setelah melihat kover sesungguhnya. Percaya atau tidak, beberapa kemudian menganggap lucu karena menyamarkan wajah sesuatu yang menyeramkan  atau menjijikkan  di balik sosok binatang yang dianggap imut.

Jika diperhatikan, pada pojok kanan atas tertera kata Iyamisu yang disusun secara unik. Sebagai pengingat diri, Iyamisu merupakan  sub-genre misteri Jepang dengan fokus pada psikologi gelap manusia. Yang dibahas bukan bagaimana sebuah peristiwa terjadi, tapi mitos kejam dan kelam yang menjadi dasar kejahatan dalam sebuah peristiwa.

Pembaca akan merasa tidak nyaman, gelisah, merinding, namun tetap ada rasa penasaran untuk terus membaca genre ini. Itu sebabnya, pada bagian awal buku, penerbit sudah mencantumkan "Penafian" bagi pembaca. Jadi, pastikan mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum membaca buku genre ini.

Saya? Biasa saja rasanya. Bukan karena mati rasa, namun setiap selesai membaca buku, biasanya saya "menetralkan" diri dengan melakukan hal-hal lain sehingga seluruh kisah menguap.  Sangat jarang kisah yang masih melekat dalam ingatan setelah selesai dibaca.

Itu sebabnya, ketika akan membuat komentar, saya perlu membaca ulang halaman yang diberi tanda sebagai pemanggil memori. Itu juga yang membuat saya tidak bisa selalu ingat nama  tokoh dan alur dari buku yang pernah saya baca.

Ketika sedang menyiapkan komentar ini, saya berusaha mencari informasi terkait buku yang biasanya ada di halaman awal, seperti ISBN, nama editor, dan sejenisnya. Ternyata tidak ada. Agak heran juga, biasanya data terkait buku adalah hal yang penting untuk dicantumkan. 

Jadi, berani mencoba bacaan yang berbeda?



Senin, 15 Juni 2026

2026 #7: Kisah kehidupan Perempun di Desa

Penulis: Marie Ovink-Soer
Penerjemah Titik Andarwati
QRCBN: 62-1677-3366-623
Cetakan: Pertama-2026 
Halaman: 132 
Penerbit: BukuKatta
Harga: Rp 65.000
Rating: 4/5
Sabarlah, jangan putus asa; yang hilang bisa kembali, dari kematian akan lahir kehidupan baru.
-hal 105-
Terkadang, ketika sedang berada di sebuah desa dimana terdapat  makan keluarga di Jawa Tengah, ada rasa penasaran untuk tahu bagaimana kehidupan masyarakat di sana dahulu. Seiring dengan perkembangan zaman, tentunya terdapat perbedaan dengan kehidupan saat ini.

Dahulu, ada semacam sungai kecil dengan air jernih. Senang rasaya main air sambil melihat ibu-ibu melakukan aktivitas di sana. Sekarang, sungai itu sudah kering, tak ada lagi aktivitas di sana. Mungkin, banyak penduduk yang sudah lupa pernah ada sungai di sana.

Salah satu cara  untuk bisa mengetahui bagaimana kehidupan di suatu tempat atau pada suatu waktu, adalah dengan membaca catatan yang ditulis oleh seseorang yang hidup di sana atau pada suatu waktu. Seperti juga buku ini, Kehidupan Perempuan di Desa. Mengingat tempat tinggal penulis, kemungkinan besar desa yang dimaksud adalah Jepara dan sekitarnya.

Sesuai dengan judulnya, buku setebal 132 halaman ini dibagi dalam 9 kisah tentang bagaimana kehidupan masyarakat di Hindia Belanda-sebutan untuk Indonesia dulu  pada tahun 1901-an di Indonesia. Mulai dari Kehidupan Perempuan di Desa; Istri seorang Zendeling; Anak Gembala Kerbau; Jalan-jalan Senja; Sebuah Proefsnit (Pemotongan Percobaan); Hujan Pertama; Sendiri di Rumah; Kebakaran di Kampung; dan Keberanian Margo.

Pada kisah pertama yang juga menjadi judul buku ini, Kehidupan Perempuan di Desa, pembaca akan mengikuti kisah kehidupan seorang wanita bernama Wagini. Ibunya meninggal ketika melahirkannya, sang ayah meninggalkan Wagini ke kota besar ketika berusia 2 tahun. Wagini hidup bersama sang nenek. 

Mengingat usia nenek, Wagini diharapkan segera menikah. Calon sudah ada, hari baik sesuai dengan kelahiran kedua calon pengantin sudah dihitung, tinggal memanggil ayah Wagini untuk pulang dan menikahkan anaknya. Nenek bisa menghabiskan hari-hari dengan tenang.

Wagini menikah dengan lelaki yang usianya dua kali lebih tua. Wajah suaminya baru ia ketahui ketika bersanding. Setiap kali melihat suaminya mendekat, Wagini langsung lari bahkan bersembunyi, Sebagai gadis belia yang dipaksa menikah, begitulah keadaan rumah tangganya. Untung sang suami bersabar dan tidak memaksakan kehendak. 

Beruntung, mertua Wagini bisa memahami kondisi dirinya. Tak terhitung berapa kali ia menasehati anaknya untuk sabar dalam menghadapi Wagini yang terbilang anak-anak. Wagini seakan menemukan kasih ibu pada mertuanya.

Suatu peristiwa tak terduga membuat suami Wagini meninggal. Ia hanya bisa menghibur mertua dan saudaranya, sementara tak ada air mata yang keluar. Begitulah, bagaimana ia bisa mencintai sosok yang ditakuti dan selalu dihindari?

Waktu berjalan, hingga suatu saat Wagini mulai tumbuh menjadi wanita yang bisa merasakan cinta. Tak takut untuk bertegur sapa dengan lelaki yang menarik hatinya. Wagini dewasa tak takut menjalani komitmen pernikahan.
Jantung Wagini berdegup kencang. Andai ia berani melarikan diri, menjauh dari nasib yang menantikannya! Tetapi ke mana ia harus pergi, siapa yang akan menolongnya?
-hal 18-
Rasanya gemas membaca kisah Wagini, tapi begitulah kehidupan saat itu. Perempuan yang belum menikah pada usia tertentu  dianggap membawa malu. Selain itu, menikah seorang anak dianggap "memindahkan" tanggung jawab pada suami.    Bayangkan anak kecil dipaksa menikahi pria dewasa!  Kalau terjadi sekarang, bisa-bisa keluarga wanita dilaporkan ke KPAI. 

Jadi ingat kisah Nujood, gadis yang dipaksa menikah dan menjadi janda pada usia 10! Untung Wagini tidak mengalami KDRT seperti Nujood. Atau ada namun tidak ada yang mengetahui? Entahlah! Penulis tidak menceritakan hal tersebut. Kisah Nujood bisa dibaca di  sini

Semula, saya mengira isi buku ini mengambil sosok perempuan sebagai tokoh, namun ternyata 9 kisah yang ada tidak semua mengambil perempuan sebagai tokoh utama. Kisah Anak Gembala Kerbau mengangkat kehidupan seorang anak laki-laki bernama Kacong. Penulis menceritan kehidupan Kacong mulai sejak usia 4 tahun hingga ia berkeluarga dan memiliki anak. 

Secara garis besar, jumlah halaman tiap kisah tidaklah sama. Kisah paling panjang adalah Anak Gembala Kerbau, sementara Kebakaran di Kampung menjadi kisah yang paling  pendek. berkisah teorang gadis kecil tak sengaja menyalakan api dekat dinding bambu yang segera terbakar begitu lidah api menyentuh.

Bagaimana orang berusaha menyelamatkan barang yang dipergunakan untuk bertahan hidup dan kebutuhan pokok, menjadi bagian yang menyentuh. Pada kisah ini juga disebutkan tentang nelayan yang baru pulang melaut dan menemukan rumahnya hangus terbakar. 

Selesai membaca buku ini, saya jadi membayangkan kehidupan di desa yang saya sebutkan di atas.  Zaman boleh berubah, namun ada beberapa hal yang tak akan berubah dalam kehidupan. 
https://www.instagram.com/bukukatta/

Seluruh isi buku disampaikan dari sudut pandang seorang wanita belanda yang merupakan salah satu sahabat R.A Kartini- Marie Ovink-Soer. Sebagai istri  Asisten Residen Jepara, Marie tinggal dekat dengan kediaman orang tua Kartini. Ia sering menghabiskan waktu bersama dengan Kartini dan kedua adiknya.  Melalui Marie, Kartini mengenal feminis Belanda. 

Buku yang menarik dibaca bagi mereka yang tertarik untuk mengetahui tentang perkembangan kehidupan masyarakat di desa, terutama pada tahun 1901.

Sumber gambar:
https://www.instagram.com/bukukatta


Sabtu, 23 Mei 2026

2025 #6: Kisah Kehidupan Oba Yozo

Penulis: Osamu Dazai
Penerjemah: Nurafifah
ISBN: 9786340491364 
ISBN 10: 6340491367
Halaman: 150
Cetakan: Pertama-Maret 2026
Penerbit: Sigma Publishing
Harga: Rp 59.000
Rating: 3.25/5

Kehidupan manusia sepertinya dipenuhi dengan kebohongan timbal balik yang murni dan ceria-ketika orang saling menipu tetapi tidak ada yang merasa dirugikan atau bahkan menyadari bahwa mereka sedang menipu.
- No Longer Human, hal 18-

Niatnya saya  sedang berusaha mengembalikan semangat membaca kemudian menulis komentar tentang buku yang dibaca. Minimal sebulan sekali membuat catatan di blog, walau tak sebanyak dulu. Kalau sekedar membaca dan memberikan komen 2-3 kalimat di GRI tetap dilakukan,  Tak sengaja menemukan buku ini ketika mengikuti klub buku di Depok.

Kisah dibuka dengan  komentar yang diberikan seseorang tentang foto wajah seorang anak laki-laki. Kemudian ia membandingkan dengan foto ketika anak laki-laki tersebut menjadi remaja, sekitar SMA. Terakhir ketika wajah dalam foto berubah menjadi wajah seorang pria tua dengan wajah datar, kesan suram terpancar dari foto tersebut.

Tokoh dalam buku-Oba Yozo memiliki keluarga yang bahagia dan memperlakukannya dengan baik. Namun ia merasa ada yang berbeda. Ia merasa kesulitan mengungkapkan keinginan dan jati diri. Ia takut dengan relasi dan intraksi yang terjadi antar manusia.

Misalnya ketika ayahnya bertanya oleh-oleh apa yang diinginkan, ia takut ayah kecewa jika ia menolak tawaran ayan. Ia juga takut telah membuat ayah kecewa karena tanpa sadar setuju untuk meminta buku sesuai saran kakak. Padahal ia ingin dibawakan semacam topeng, dan merasa ayahnya juga sangat ingin membawakannya. Dilain sisi, ia sangat suka membuat orang-orang di sekitarnya tertawa.
https://www.goodreads.com/
book/show/25026263-decl-nio-de-um-homem

Oba juga merasa tertekan jika harus mengikuti rutinitas dalam kehidupan. Berkumpul sambil makan bersama keluarga menjadi hal yang mengganggu baginya. Ia bahkan bertanya-tanya kenapa manusia harus makan tiga kali sehari? 

Seperti wajah yang ada di foto, kehidupan Oba berubah seiring bertambahnya usia. Kondisinya bisa dikatakan semakin memburuk seiring waktu. Ia bahkan mengalihkan diri pada hal-hal yang justru mengakibatkan kondisinya memburuk.. Semakin ia berusaha menjadi seperti orang lain, semakin hilang jati dirinya, semakin ia tidak "menyerupai orang".

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian besar, yang berkisah tentang kehidupan tokoh sejak usia belia hingga meninggal. Membuat teringat tiga foto yang dibandingkan pada awal kisah. Ada yang menyebutkan buku ini semacam autobiografi bahkan wasiat sang penulis. Hal ini dikarenakan bagian akhir kisah muncul tak lama sebelum ia memutuskan bunuh diri.  Jika benar, terbayang berapa berat kehidupan yang ia jalani. 

Pada bagian pengantar dari seorang psikolog, bagaimana kehidupan suram tokoh dikupas secara tuntas dari sisi keilmuan. Mungkin, diantara kita ada yang berusaha bersikap baik-baik saja dalam menjalani hidup, padahal sesungguhnya sedang tidak baik. Begitulah kehidupan ini. 

Semula, saya merasa memilih buku tipis untuk penyemangat menulis komen adalah pilihan yang tepat. Siapa yang mengira halaman yang sedikit justru memberikan kesan menyedihkan yang mendalam. Alih-alih selesai membaca dalam sekali duduk, buku ini baru selesai dalam 2 hari membaca..
https://www.goodreads.com/book/show/
60811026-i-nsanl-m-yitirirken

Mengingat isi buku yang berkesan suram, agak heran juga menemukan kover versi bahasa Turki yang ada di laman Goodreads. Nuansa yang teduh rasanya sangat bertolak belakang dengan apa yang tercantum dalam buku.

Kover yang mengusung gambar topeng, sebagai iustrasi bagaimana Oba bersikap dalam menjalani kehidupan, memakai topeng untuk menutupi seiapa dirinya, merupakan kover yang umum dipakai dalam beberapa negara. Demikian juga dengan wajah sang penulis kisah, misalnya dipergunakan sebagai kover untuk edisi Perancis dan Italia.

Bingung juga mau mengomentari apa tentang isi buku ini. Bagi  mereka yang mencari cerita yang tak biasa, buku ini layak dipertimbangkan. Hanya saja, jangan memaksa menyelesaikan buku ini dalam waktu singkat. Nikmati saja dengan santai,

Oh ya, buku ini sudah masuk dalam domain publik sejak 1 Januari 2019. Hal ini berlaku karena  menurut undang-undang hak cipta yang berlaku di Jepang,  masa berlaku hak cipta hingga 70 tahun setelah penulisnya meninggal-penulis meninggal pada tahun  1948.

Dari seluruh kemuraman yang disajikan, ada 1 bagian yang sedikit membuat saya tersenyum. Bagian   yang menceritakan tokoh utama berlangganan lebih dari 10 majalah anak laki-laki serta membaca berbagai buku dari Tokyo secara rahasia. Sungguh jadi merasa iri! Saat saya kecil, majalah anak-anak sangat minim jumlahnya. Ketika punya anak, pilihan makin sedikit. Sempat ada koran untuk anak-anak, sudah langganan beberapa bulan eh yang terbit hanya edisi pertama! 

Menarik.

Sumber gambar:
Goodreads

Minggu, 10 Mei 2026

2026#5: Biografi Penulis Little Women : Louisa May Alcott

Judul: Scribbles, Sorrows, and Russet Leather Boots: The Life of Louisa May Alcott
Penulis: Liz Rosenberg 
ISBN-10: ‎0763694355
ISBN-13: ‎978-0763694357
Cetakan: Pertama-Oktober 2021
Halaman: 432
Penerbit: Candlewick
Rating: 3.5/5

I will do something by-and-by. Don't care what, teach, sew, act, write, anything to help the family; and i'll be rich and famous and happy before I die, see if I won't!
-Louisa May Alcott-

Biasanya saya jarang membeli buku tentang biografi seseorang, kecuali ada yang sangat spesial atau hadiah. Penulis yang satu ini, jelas sangat spesial. Little Women karyanya membuat saya sampai memiliki Puri Little Women, sebutan para sahabat untuk tumpukan koleksi saya yang berjumlah sekitar 300-an.

Buku ini juga saya peroleh via jastip BBW tahun lalu. Sang jastip mengerjakan semuanya sendiri, dari promosi, mencari buku titipan, hingga pengiriman. Jadi wajar jika butuh waktu untuk bisa sampai ke rak eh ke timbunan saya. Jadi bukan model jastip yang mengamankan sekian buku dengan harapan laku kemudian menaruh di sembarang tempat jika tidak laku.

Nyaris lupa buku ini, jika tak sengaja melihat promosi BBW dimana seorang pembaca dengan bangga memamerkan belanjaannya, boxset Little Women dan buku ini. Namanya juga saya ^_^ penganut Hukum Kekekalan Timbunan garis keras, yang penting punya dulu baca urusan belakangan.

Dalam buku setebal 432 hal ini, biografi Louisa terbagi menjadi 21 bab ditambah dengan epilog. Dimulai dengan Duty's Child Arrives, The Temple School, Heaven's So Far Away, Union Hotel Hospital, A Little Romance, Illness and Charity, dan Glimpse of Heaven. 
https://id.wikiquote.org/
wiki/Louisa_May_Alcott

Jangan berharap akan menemukan banyak kecerian dalam buku ini. Sesuai judulnya, buku ini berkisah tentang perjalanan hidup Louisa May Alcott.  Kehidupannya ketika muda bisa dikatakan serba pas, jika  kata miskin dianggap  terlalu kejam. Tapi kasih sayang antar keluarga menjadi kekuatan bagi mereka untuk bertahan hidup. Untunglah masa tuanya keadaan menjadi lebih baik. 

Pada bagian awal banyak dibahas tentang kedua orang tua Louisa. Gemes juga rasanya, untuk apa dipaparkan panjang lebar. Ternyata berhubungan dengan bab-bab selanjutnya.

Louisa May Alcott lahir pada 29 November 1832, meninggal 6 Maret 1888  dari pasangan Abigail May dan Amos Bronson Alcott. Merupakan anak kedua dari empat bersaudara. 

Agar bisa memperoleh uang. si kecil Louisa melakukan banyak pekerjaan tanpa pilih-pilih.  Pekerjaan  sebagai perawat rumah sakit saat Perang Saudara membuatnya terkena pneumonia-paru-paru basah. Pengobatan saat itu belum seperti saat ini, obat  yang ia minum ternyata mengandung merkuri. Efek sampingan yang harus ia tanggung sepanjang sisa hidup.

Kondisi tersebut tidak membuatnya putus semangat. Jika semula menulis hanya untuk sekedar mengumpulkan receh, selanjutnya ia menulis dengan sungguh-sungguh. Tak hanya demi bertahan hidup, tapi juga membantu keluarganya dan orang-orang yang membutuhkan.

Bagaimana ia bertahan pada saat sulit dan bangun kembali ketika jatuh, menjadi hal yang layak ditiru. Saya jadi teringat pada bagian kisah di mana karya Jo sempat dianggap buruk. Ia tetap bertahan menulis karena menyukai kegiatan menulis.

Salah satu bukunya yang laris adalah Little Women. Bermula dari penerbitnya-Thomas Niles yang meminta agar Louisa menulis buku khusus untuk anak perempuan. Semula Louisa ragu, namun akhirnya setuju untuk menulis. 

Little Women mengambil tokoh dari keluarga atau orang yang dekat dengannya, termasuk untuk sosok Laurie, Dan tentu saja, ia menjadi Jo dalam kisah tersebut.  Setelah Little Women diterima baik oleh masyarakat, barulah muncul kelanjutannya Good Wives, Little Men,  dan Jo's Boys.

Kisah Little Women sudah beberapa kali diangkat ke layar lebar. Belum lagi versi animasi. beberapa karya dibuat berdasarkan inspirasi dari Little Women. Jika film etrsebut dibuat saat Louisa masih hidup, bukan tak mungkin urusan naskah film juga dikerjakan olehnya.

Meski  tak banyak, ilustrasi yang ada dalam buku ini lumayan menghibur. Saya paling menyukai ilustrasi yang ada di halaman 332, sebelum Bab Marmee. Saya asumsikan ilustrasi tersebut menggambarkan Louisa sedang berbincang dari hati ke hati dengan ibunya yang biasa disebut Marmee. Mimik wajah yang dibuat  sendu, seakan menandakan ada hal serius yang mereka diskusikan.

Kalimat pembukan yang saya tulis, diucapkan Louisa pada usia yang bisa terbilang belia, lima belas  tahun. Pada usia 15, ia sudah memiliki tekat  kuat untuk menjadi suport sistem bagi keluarganya. Jadi terpikir, apa yang sedang saya kerjakan pada usia 15 tahun.

Sumber gambar:
https://id.wikiquote.org/wiki/Louisa_May_Alcott
Koleksi pribadi


 

Selasa, 21 April 2026

2026#4: Kisah tentang Kami

Penulis: Yevgeny Zamyatin
Penerjemah: Titik Andarwati
Editor: Setyaningsih
ISBN:9786238023288
Halaman: 268
Cetakan: Pertama-Agustus 2025
Penerbit: bukukatta
Rating:3.75/5

Aku... Apakah mungkin  otak-ku, sebuah mekanisme yang presisi, bersih, berkilauan seperti kronometer tanpa setitik debu pun di atasnya ini sudah ...? Ya, sekarang memang sudah di dalam otakku, seperti bulu mata di mata.
-hal 49-

Pada suatu masa, ratusan tahun setelah penaklukan dunia, di Negara Bersatu kehidupan secara matematis berjalan dengan sangat  teratur sesuai dengan jadwal yang disusun. Indivualisme dihapus, kehidupan diawasi. Segalanya sempurna.

Salah seorang insinyur mesin-kurang lebih demikan sebutannya jika hidup di zaman sekarang, bertugas merancang Integral-sebuah pesawat ruang angkasa, mulai membuat semacam jurnal.  Ia berencana untuk membawa jurnal tersebut dalam perjalanannya.
  
Jangan membayangkan jurnal tersebut seperti jurnal yang dibuat sekarang, ada aneka ornamen. Jurnalnya hanya berbentuk  catatan, tapi walau begitu dari  catatan tersebut banyak hal yang bisa diketahu tentang kehidupan saat itu. Oh ya, tokoh kita dalam kisah ini dipanggil dengan D-503.

Alih-alih mencantumkan tanggal, jurnal yang ditulisnya mencantumkan "catatan" yang diikuti dengan nomor, misalnya Catatan Dua Puluh, Catatan Tiga Puluh Enam. Pada bagian awal, terdapat 1-3 baris kalimat yang bisa dianggap sebagai inti dari catatan tersebut.  Bagi saya, kalimat-kalimat  tersebut tidak mudah dipahami, sebaiknya baca catatan yang ada secara lengkap untuk bisa paham makna dari kalimat pembuka.

Walau kehidupan terkesan menjemukan, D-503 ternyata juga memiliki kekasih! Nama untuk kekasih D-503 adalah O-90. Layaknya sepasang kekasaih, mereka juga memiliki waktu bersama, tentunya sesuai dengan jadwal yang sudah disusun terlebih dahulu.O-90 sangat ingin memiliki anak, namun karena tinggi badannya dianggap kurang, maka pemerintah melarangnya memiliki anak. 

Kehidupan sepertinya berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh penguasa Negara Bersatu. D-503 juga bersikap  loyal dan menjalankan kebijakan dengan antusias. Tapi, semuanya berubah sejak bertemu  dengan I-330, seorang wanita unik.

Pesona I-330 begitu kuat, ia menawarkan hal yang tak biasa. D-503 mulai mengalami mimpi, sesuatu yang dianggap sebagai penyakit. D-503 yang semula adalah warga taat berubah menjadi sosok yang berbeda. Tak hanya berhubungan dengan kaum pemberontak, tapi juga melakukan hubungan ilegal sehingga O-90 bisa memiliki anak.

Catatan Empat Puluh, merupakan catatan terakhir. D-503 mengisahkan bagaimana ia akan menjalani sebuah proses guna mengembalikan dirinya kembali menjadi warga yang taat. Juga dikisahkan bagaimana ia menceritakan pada Sang Dermawan-pimpinan tertinggi, tentang pemberontakan yang akan dilakukan oleh I-330 dan teman-temannya. 

Lalu, bagaimana nasib O-90 setelah ia dinyatakan hamil ilegal? Bagaimana juga kelanjutan perjuangan I-330 untuk menyatukan  masyarakat yang terbelah? D-503 juga sepertinya berada dalam bahaya, bagaimana kondisinya? Semuanya bisa ditemukan dalam buku ini. Beli dan baca yaaa.

Membaca buku ini, pada awalnya sekedar menikmati keseruan kisah, makin lama, emosi mulai terbawa. Misalnya saja ketika membaca tentang kegalauan hati D-530 yang tercantum pada Catatan Dua Puluh Enam.

Seandainya aku memiliki seorang ibu seperti orang-orang dulu-ibuku, milikku, yang baginya aku bukanlah Pembangun Integral, bukan D-530, bukan sekedar molekul dari Negara Bersatu, tetapi hanya sepotong manusia hidup, bagian dari dirinya sendiri, sebuah bagian yang teinjak, tercekik, yang terbuang....
-hal 250~
Seperti yang tertera di kover, buku ini digadang-gadang sebagai buku  buah karya maestro distopian. dunia. Sekedar sebagai pengingat bersama, distopia adalah  sebuah kisah dengan konsep masyarakat yang penuh dengan penderitan, penindasan, serta  ketakutan. Singkatnya, kehidupan di sana  sangat buruk.

Sekedar iseng mengunjungi situs Goodreads, menemukan  informasi bahwa rating untuk kisah ini adalah 3,88 dan sudah ada 808 versi dari kisah ini. Dalam bahasa Inggris, kisah ini diberi judul We, sementara versi bahasa Indonesia mempergunakan judul Kami. Sejauh ini, baru ada 3 versi dari penerbit lokal.
https://www.goodreads.com/
book/show/8092385-nosotros

Untuk kover, saya langsung terpesona dengan versi bahasa 
Spanish; Castilian dari penerbit  Lectorum / LD Books. Benar-benar seperti imajinasi saya tentang sosok D-503.

Pada kover versi ini,  tercantum ilustrasi yang saya asumsikan adalah tokoh utama kita D-503. Dalam versi yang saya baca, sepertinya ilustrasi yang ada di kover sengaja dibuat  agar pembaca merasa penasaran dengan sosok dengan nomor yang tertera. Untuk D-503, tidak  bisa saya katakan sesuai dengan imajinasi. Kenapa tertera O-09, bukannya O-90 ya? Kemudian ada R-13, kenapa I-330 malah tak ada ya? Padahal kalau ketiga tokoh utama (menurut versi saya) ada di sana, bisa memicu rasa penasaran.

Mengutip yang tertera di situs penerbit, Yevgeny Zamyatin, penulis Rusia yang nyaris dilupakan. Sepanjang kariernya, ia menulis esai, drama, dan fiksi pendek, yang seringkali menggunakan gaya eksperimental. Meskipun menghadapi sensor yang signifikan, ia tetap menjadi suara independen yang memperjuangkan kebebasan artistik.  Novelnya yang paling terkenal Kami, membuatnya disebut-sebut sebagai The Father of Dystopian Literature.

Sebenarnya buku ini sudah saya baca setengah, kemudian tertinggal di rumah teman. Baru beberapa hari lalu  sempat mengambil dan meneruskan membaca.

Menarik


Sumber garmbar:
https://www.goodreads.com