Sabtu, 17 Juli 2021

2021 #26: Penerbangan Malam

Penulis: Antoine de Saint-Exupery
Penerjemah: Anton WP
ISBN: 9786237245544
Halaman: 116
Cetakan: Pertama-2021
Penerbit: bukuKatta
Harga: Rp 50.000
Rating: 3/5



Detik-detik berlalu dengan lambat, mengalir pergi seperti darah yang surut. Apakah mereka masih terbang? Setiap detik membunuh sebuah harapan. Aliran waktu memusnahkan  kehidupan. Seperti selama dua puluh abad ia menghancurkan sebuah kuil,merembes melalui batu granitnya, dan mengurai kuil itu menjadi reruntuhan, demikianlah selama berabad-abad kehilangan dan air mata menjejali setiap detik, mengancam para penerbang.
~Penerbangan Malam, halaman 103~
 
Mungkin banyak yang belum pernah  mengetahui dan membaca buku ini. Namun nama pengarangnya, Antoine de Saint-Exupéry tentunya sudah terkenal melalui kisah The Little Princes (Le Ptit Princes),  serta Wind, Sand and Stars  (Terre Des Hommes) yang juga mengambil tema penerbangan.

Buku ini berkisah tentang  pos udara pertama yang melayani pengiriman antar kota di benua Amerika. Saat itu (kisah ini muncul pertama kali tahun 1931), peralatan belum secanggih sekarang. Para pilot harus mengandalkan cahaya bulan serta bintang ketika cuaca cerah. Jika badai tiba, keberuntungan yang diharapkan.

Pengiriman pos dilakukan pada malam hari. Hal ini bertujuan untuk mengisi kekosongan pengantaran yang dilakukan oleh kereta  api dan kapal laut pada siang hari. Penerbangan tersebut bukannya tak berisiko. Hanya pilot yang memiliki kecakapan dan nyali besar yang berani melakukan penerbangan pada malam hari.

Fabien, salah satu pilot yang menjadi tokoh dalam kisah ini digambarkan sebagai satu dari sedikit pilot yang memiliki kecakapan dan keberanian. Ia membawa pos udara Patagonia dari ujung selatan ke Bunos Aires.  

Suatu ketika  ada informasi badai akan datang, namun Fabien enggan mengubah jadwal penerbangan. Dia terjebak badai! Dengan segala upaya, ia berusaha untuk bertahan. Harapannya untuk hidup sangat besar. Apalagi  ia baru saja melangsungkan pernikahan enam minggu lalu.

Selain Fabie,  ada sosok Rivière sebagai salah satu tokoh dalam kisah. Ia bertugas untuk memastikan setiap penerbangan sesuai jadwal. Setiap pesawat diharapkan bisa  tinggal landas dan kembali dengan aman. Sosoknya digambarkan sebagai orang yang keras dan tegas. 

Ia yakin bahwa sikapnya sudah tepat. Tak perlu ramah-tamah, justru harus menjaga jarak agar para bawahan mau bekerja dengan disiplin yang tinggi demi keamanan dan keselamatan jiwa mereka. Walau dalam lubuk hati paling dalam, ia sangat mencintai anak buahnya.

Malam ketika terjadi badai, Rivière merasakan firasat yang aneh. Tak biasanya ia ragu akan banyak hal. Ternyata firsatnya benar. Pesawat pos yang dipiloti oleh Fabie mendadak hilang dari pantauan. Baginya ini merupakan pukulan berat.

Apalagi ketika harus berhadapan dengan istri Fabien yang datang mencari informasi, ia merasa menjadi sosok yang lemah. Untunglah  sang istri  memiliki kepriabadian yang kuat sehingga Rivière tak perlu menemui wanita dengan derai aiar mata

Dalam dua puluh tiga bab, pembaca diajak untuk mengikuti aneka peristiwa yang terjadi seputar kegiatan pos udara saat itu. Dari berbagai peristiwa yang terjadi hingga bagaimana sikap para tokoh dalam menghadapi aneka kejadian.

Penulis banyak mempergunakan kata-kata kiasan yang diramu sedemikian rupa sehingga membuat pembaca terbuai dalam permainan kata yang dipergunakan. Imajinasi pembaca juga perkembang sesuai dengan persepsi masing-masing.

Misalnya kalimat yang ada di halaman 70," Malam tak bertepi,pikir pilot itu, tak ada tempat berlabuh (karena setiap bandara tampaknya tak bisa dicapai), tidak pula mnuju fajar menyingsing. Dalam satu jam dua puluh menit bahan bakar akan habis. Cepat atau lambat dia harus membabi0buta di lautan kegelapan. Ah, kalau saja dia bisa mellaui ini sampai siang hari!"

Dari sisi terjemahan, kalimat yang ada mengalir dengan baik. Saya tak perlu membaca dua kali sebuah kalimat untuk bisa memahami apa maksudnya. Bahkan untuk kalimat yang berisi kiasan. Penerjemah telah mengalih bahasa buku ini dengan baik.

Saya pernah tak sengaja membeli buku yang saya kira berisi tentang  pos udara. Karena pada kover tertera  Use The Air Mail: The Fastest Mail di BBW ketika pertama kali menggelar acara di Indonesia dengan harga lumayan murah jika dilihat dari isi yang penuh warna dan sampul    hardcover menawan.

Ternyata judul yang benar adalah Fly Now! oleh Joanne Gernstein London. Iseng mengecek Goodreads, saya menemukan judul yang sama dengan cpver yang berbeda. Lengkapnya ada di sini.   Buku tersebut  berisi tentang aneka koleksi poster dari Smithsonian National and Space Museum. Didalamnya juga ada tentang pos udara.

Sumber gambar: 
https://www.goodreads.com



 





Selasa, 13 Juli 2021

2021 #25: Dargona

Tanggal: 21 Juli  XZ14
Status: Segera
Kepada:  1. Uwais Inspirasi Indonesia
              2. Ordo Buntelan
              3. Pembaca Novel Fantasy Indonesia
              4. Bogger Buku Indonesia 
              5. Para Pelindung Buku 
              6. Ordo Pembenci Kisah Seri yang Tidak  
                  Tamat
Dari: Kepala Perpustakaan  Fantasi  Federasi
Perihal: Buku Dragana (Buku pertama dari Trilogi Sang Gallant)

Salam!

Belum lama ini, sebuah buku setebal 400-an halaman tanpa sengaja tertimbun di bagian seleksi buku untuk pengembangan koleksi. Untuk mengurangi dampak yang timbul karena buku ini terlalu lama berada di sana, maka seorang petugas telah diberikan tugas  khusus untuk menelaah dan memberikan komentar terkait buku tersebut dalam tempo tak terlalu lama.

Berikut laporan dari petugas tersebut:


Judul buku: Dragana
Penulis: Jufan Rizky
Editor:Funky
ISBN: 9786026677969
Halaman: 455
Cetakan: Kedua- Oktober 2018
Penerbit: Uwais Inspirasi Indonesia

Pada suatu masa ketika cadangan gas alam dan minyak bumi habis, akan muncul sebuah energi baru bernama vidra. Kemunculannya tentu membawa dampak  perubahan pada banyak hal. Salah satunya membuat bumi mengalami perubahan sehingga menjadi sebuah planet berbeda, dikenal dengan nama Zenna.

Buku  yang terbagi dalam  tujuh bagian ini (Prolog; Pembunuhan; Penyerangan Girima; Rahasia-rahasia; Perpecahan; Setelah; dan Epilog) berkisah mengenai sebuah konflik yang terjadi antara dua negara, Irion dan Hashin yang terdapat di Zenna. Konflik tersebut dipicu dengan terbunuhnya presiden Irion.

Membaca kisah ini membutuhkan banyak tenaga ekstra. Pertama, kondisi buku yang lumayan rapuh sehingga membuat beberapa halaman mudah lepas. Bagi pembaca seperti saya, yang menganut paham membaca di mana saja serta kapan saja, tentunya kurang nyaman harus membawa buku seperti ini. 

Solusinya adalah meletakkan buku ini di meja kantor dan dibaca saat senggang. Sialnya, beberapa kali buku ini tertutup berkas-berkas tebal sehingga nyaris terlupakan. Untunglah program beres-beres meja tahunan membuat buku ini ketemu kembali.

Pada awal kisah, saya mulai merasa kelelahan. Penulis terlihat begitu bersemangat memberikan informasi mengenai  Zenna dan latar belakang para tokoh yang jumlahnya lumayan banyak. Seakan penulis mengeluarkan segara kemampuan untuk menciptakan suatu dunia dan isinya sebagai setting kisah.

Sungguh beruntung saya menemukan glosarium. Sehingga ketika menemukan beberapa hal yang tak saya pahami bisa langsung merujuk glosarium. Meski ada beberapa kata yang saya  cari tidak tersedia di sana, namun  masih bisa dipahami apa maksudnya.

Bagi mereka yang bukan pembaca sabar, mungkin akan segera meletakkan buku ini begitu membaca bab awal. Padahal, jika mau bersabar, makin kebelakang, kisahnya lebih bisa dinikmati. Hal ini menjadi catatan penting bagi penulis untuk buku-buku selanjutnya.

Beberapa rekan sejawat mengatakan bahwa buku ini merupakan sebuah karya scifi-distopia. Sekedar mengingat, BestScienceFictionBooks.comdistopia adalah dunia fiksi yang lebih buruk dari dunia yang kita tinggali saat ini, di mana kontrol sosial yang ada di bawah ilusi masyarakat yang sempurna. Kesemuanya diciptakan oleh kontrol perusahaan, teknologi, agama, atau lainnya.

https://www.goodreads.com
Supaya mendapat gambaran lebih jauh, saya mencoba melakukan studi literatur mengenai buku ini di situs Goodreads, tepatnya pada laman  ini. Ternyata buku ini pernah terbit dengan kover yang berbeda beberapa saat lalu. 

Dibandingkan dengan  kover buku yang saya baca, versi terdahulu terlihat lebih sederhana. Hanya mengandalkan persepsi pembaca terhadap senjata yang ada. 

Sementara pada buku yang lebih baru, terlihat adanya tokoh yang dijadikan sebagai ilustrasi. Pesan perihal kisah dalam buku ini lebih jelas tersampaikan dibandingkan dengan buku sebelumnya. Pembaca minimal sudah bisa menerka bahwa akan ada bagian yang mengisahkan tentang pertempuran perembutan kekuasan.

Bagi pembaca yang mengharapkan ada peritiwa sihir ala Harry Potter atau perebutan kekuasan dan melawan musuh seperti Lord of The Ring, atau ingin ada adegan romantis ada Stardust-Neil Gaiman, buku tidak memberikan hal ini semua. Kisah yang ditawarkan berbeda.

Setiap buku, pasti mengandung kelebihan dan kekurangan. Hal utama yang patut dipuji adalah konsisten penulis dalam mengembangkan kisah dan karakter para tokoh. Setiap karakter berkembang secara baik, tak ada yang tertukar. Bagaimana penulis menjaga semua tetap berada sesuai jalurnya sungguh luar biasa, mengingat aneka konflik yang terjadi.

Secara garis besar, buku ini layak dimasukkan dalam koleksi sehingga bisa dinikmati oleh banyak pihak. Serta sangat disarankan untuk menjadi buku bacaan pad Akademi Pendidikan Pemimpin supaya menjadi  pembelajaran  agar lebih berhati-hati dalam bersikap dan menghormati pimpinan.
























2021 #24: Hidup Jangan Dibuat Ribet

Judul asli: Stop Mempersulit Diri: 60 Cara Menikmati Hidup yang Lebih Sederhana
Penulis: Diyan Yulianto
Editor: Arin Vita
ISBN: 9786237333593
Halaman: 166
Cetakan: Pertama-2021
Penerbit: Cemerlang Publishing
Harga: Rp 49.000
Rating: 3.25/5

Sebuah buntelan dengan warna kuning mendarat di rak buku saya. Warna cerah langsung menarik perhatian. Membaca judul buku ini, otomatis membuat saya teringat pada buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Masa Bodo Amat. Komen seputar buku ada di  sini.

Kata sederhana yang ada pada judul, bisa bermakna banyak pada pembaca. Pada bagian awal, penulis sudah memberikan informasi tentang perbedaan antara hidup sederhana dan hidup bersahaja. Hidup sederhana menurut penulis tergantung dari cara berpikir seseorang.

Menurut  KBBI daring, sederhana/se·der·ha·na/ a 1 bersahaja; tidak berlebih-lebihan: hidupnya selalu --; 2 sedang (dalam arti pertengahan, tidak tinggi, tidak rendah, dan sebagainya): harga --; 3 tidak banyak seluk-beluknya (kesulitan dan sebagainya); tidak banyak pernik; lugas. Sementara bersahaja/ber·sa·ha·ja/ a sederhana; tidak berlebih-lebihan.

Sesuai dengan judul, terdapat 60 cara yang bisa dilakukan guna menikmati hidup lebih sederhana sehingga kehidupan ini tak menjadi berat dengan segala hal yang seharusnya tak perlu dijadikan berat.

Dari 60 langkah tersebut, antara lain Jangan Menyesali Masalah; Omongan Orang Tidak akan Melukaimu; Rebahan itu Perlu; Bacalah Karya Sastra; Kecewa itu hal yang Biasa; Kecewa itu Hal yang Biasa; Jangan Gampang Baper; Melambat di Dunia yang Bergerak Cepat; dan sebagainya.

Meski terlihat banyak, 60 cara, namun sesungguhnya jika dicermati, tanpa sadar beberapa langkah mungkin sudah sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, mungkin lebih difokuskan atau diperbaiki sedikit.

Langkah  Kurangi Tumpukan Barang, Perbanyak Pengalaman sebagai contoh. Kurang lebih langkah ini mengadopsi metode KonMarie. Jika ada yang lupa, ulasan bukunya ada di sini Atau Seni Hidup Minimalis dari  Francine Jay. Ulasannya bisa dibaca di sini.

Pada intinya, cara ini mengajak pembaca untuk membebaskan diri dari keterikatan pada benda-benda yang sesungguhnya sudah tak dibutuhkan. Kadang, kita membeli bukan karena butuh atau perlu namun karena ingin. Demikian juga ketika menyimpan, kadang dilakukan karena kenangan yang ada pada barang tersebut, bukan pada manfaat.

Sesekali, Kritik Memang Harus Diabaikan. Kita memang sering disarankan untuk mau mendengarkan kritik orang. Tujuannya agar kita bisa lebih memperbaiki diri. Namun, kadang kritik yang terlalu banyak justru membuat kita menjadi bingung. Tak tahu harus berbuat apa. Mana yang terbaik.

Maka, mengabaikan sebagian kritik adalah salah satu cara untuk bisa menata diri. Kritik adalah saran, bukan kartu mati. Belum lagi kritik yang hanya sekedar bertujuan untuk menjatuhkan saja. 

Cara Memberi untuk Diberi  sangat tepat jika dilakukan bersamaan dengan Perhatikan Jika Kamu Ingin Diperhatikan. Cara ini mirip dengan salah bagian dari buku The Seven Habits of highly edective People dari Steven R. Covey. Bisa dilihat di sini.

Jangan Lupa Ngopi, baiklah. Karena saya tak suka ngopi maka saya ganti dengan Jangan Lupa Ngeteh. Maksudnya adalah agar kita berhenti sejenak dari segala aktivitas. Hilangkan rasa penat, jadikan saat minum sebagai waktu yang berkualitas untuk merenung dan memikirkan langkah-langkah yang harus diambil dalam kehidupan.

Saya sangat setuju dengan Turuti Passion-mu, Tetapi Jangan Berhenti dari Pekerjaan. Maksud saya, tak semua orang bisa beruntung menjadikan passion sebagai matapencarian. Lalu, apa harus meninggalkan passion atas nama demi hidup? Tentu tidak!

Passion adalah salah  satu hal yang membuat hidup menjadi lebih bermakna. Tapi jangan sampai hidup kita menjadi kacau hanya karena terlalu bersemangat mengecar dan mengembangkan Passion  hingga mengalami kesulitan dalam hidup.

Kuncinya adalah pengaturan waktu. Kita bisa bekerja dengan baik dan mencapai prestasi kerja yang memuaskan, tapi juga memanfaatkan waktu luang sebaik mungkin untuk passion.  Bahkan passion bisa menjadi salah satu caramenghilangkan kejenuhan pekerjaan. Selaras dan seimbang.

Misalnya, diwaktu senggang seorang karyawan bank menekuni hobi menggambar. Seiring waktu, ia mulai belajar melukis. Tiap akhir pekan ia mengasah keterampilannya melukis. Setiap hari sebelum tidur ia mencari refrensi tentang  segala hal terkait melukis atau lukisan sekitar 30 menit. Akhirnya ia bisa mengadakan pameran lukisan dan menjualnya dengan harga yang lumayan.

Beberapa cara, jika ditelaah lebih lanjut bisa digabung dengan cara yang lain, sehingga jumlahnya tidak 60. Misalnya Jangan Lupa Ngopi bisa digabung dengan Jangan Lupa untuk Berhenti serta Melambat di Dunia yang Bergerak Cepat.

Sementara Kita bergerak Dengan Kecepatan yang Berbeda bisa disatukan dengam Rebahan itu Perlu dan Me Time itu perlu.  Sedangkan Jangan Pernah Lupa untuk bersyukur bisa disatukan dengan Wayahe Ngopi (Saatnya Ngopi) dan Kurangi Mengeluh.

Atau bisa juga menggabungkan Miliki Jurnal atau Buku Diari dengan Tuliskan Bebanmu, Kadang itu Bisa Membantu.  Sehingga jumlah cara yang disarankan bisa menyusut. Hal tersebut terkait dengan angka 60 yang ada di kover.

Angka tersebut bisa membuat seseorang menjadi enggan untuk membaca. Secara psikologis, membayangkan 60  cara rasanya sungguh berat. Padahal, tidak harus 60 cara dilakukan. Sudah bisa melakukan  beberapa cara sudah bagus.

Jika dari 60 baru melakukan 10, bisa membuat seseorang merasa sungguh berar jalan yang harus ditempuh untuk bisa hidup bersahaja supaya bahagia. Walau sebenarnya dengan 60 cara membuat seseorang bisa memilih mana cara yang paling pas dengan dirinya.

Sayangnya, penulis tidak merekomendasikan minimal berapa cara yang harus dilakukan seseorang untuk dapat menikmati hidup yang lebih sederhana guna mencapai kebahagian. Apakah harus 60 cara, atau cukup 1 cara, atau harus gabungan beberapa cara.

Terlepas dari itu semua, bagaimana  kita menikmati hidup, kita sendiri yang tentukan. Apakah mau mengisi dengan hal yang bermanfaat, mau santai tapi bahagia, bahkan jika mau dibuat ribet. Pilihannya ada pada Anda.

Sang penulis buku, Diyan Yulianto, adalah pencipta Hukum Kekekalan Timbunan yang  menjadi fenomenal dalam dunia buku. Dikenal sebagai King of Timbunan, karya-karyanya layak menjadi tambahan timbunan Anda.








Sabtu, 10 Juli 2021

2021 #23: Perjalanan Mustahil Samiam

Penulis: Zaky Yamani
Editor: Karina Anjani
ISBN: 9786020648613
Halaman:361
Cetakan: Pertama-2021
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 97.000
Rating: 3/5


Jawa;
Cawan;
Buku catatan.

Tiga hal yang membuat saya rela mengeluarkan  sisa voucher  THR untuk membeli buku yang tak ada dalam Daftar Belanjaan kali ini. Harga buku yang nyaris setara dengan nominal yang saya miliki, seakan tak bermakna banyak (belanja pakai voucher tapi sombong he he he).

Kata Jawa, saya temukan pada blurd. Tertulis, "... Peta Orang Jawa,... di suatu tempat bernama Jawa." Sementara urusan cawan dan buku catatan, tergambar pada kover. Mau tak mau, kover  membuat saya menghampiri tumbukan buku ini. Selain itu, judulnya membuat saya ingat buku Balthasar's Odyssey: Nama Tuhan Yang Keseratus. Bisa dibaca di  sini

Bah! Rasa agak menyesal menghabiskan sisa voucher untuk buku ini  mulai muncul. Gara-gara iseng, tak seperti biasanya, saya mencari  informasi tentang penulis. Dan menemukan kata "... dirancang untuk menjadi sebuah trilogi."

Dirancang, kurang lebih saya pahami sebagai direncanakan. Jika sudah begini, sering kali saya harus menaham kecewa karena beberapa penulis hanya mampu menyelesaikan satu buku saja. Semoga kali ini berbeda, penulis berkomitmen menuntaskan hingga buku ketiga.

Kisah ini dibuka dengan semacam pengantar dari Prof. Barend Hendrik van Laar. Ia mengisahkan tentang perburuan buku-buku langka yang berisi tentang perjalanan seorang  pria bernama  Samiam Nogueira-dibaca Sang'iang yang lahir di Lisboa, Portugal  sekitar tahun 1513.

Selanjutnya, buku berkisah tentang kehidupan Samiam pada tahun 1543. Dalam hal ini, ia  bertindak sebagai narator. Banyak hal yang menimpa dirinya pada kurun waktu tahun itu. Tahun yang penuh warna.

Untuk mengisi waktu luang, ia rajin menuliskan buku harian. Isinya tak hanya mengenai apa yang ia alami dan  rasakan hari itu, juga menyangkut  cerita terkait keluarganya. Maka tak heran jika alur kisah kadang seakan tidak langsung tuntas.

Hal itu dikarenakan tokoh kita sedang mengisahkan suatu peristiwa, dimana untuk memperjelaskan suatu bagian, membutuhkan  kisah yang lain lagi.  Biasanya ditandai dengan kalimat seperti, "Sekarang akan aku lanjutkan  dulu bagaimana aku menjalani hidup di masa mudaku."

Suatu ketika, nasib membuatnya memiliki Peta Jawa. Sejak itu, ia mulai merasakan  keganjilan. Ada sesuatu berwujud bayangan hitam yang acap  kali muncul dan memberikan aneka pesan.   Seperti, Penuhi takdirmu, Nak! Penuhi takdirmu! Baca peta itu; Teruslah ke timur. Jangan ikuti petunjuk orang-orang, kau akan tersesat terlalu jauh. Ikuti hata hatimu, teruslah ke timur! 

Belakangan, ia mengetahui bayangan tersebut bisa jadi adalah salah satu leluhurnya yang dikenal dengan nama Pero. Ia semakin penasaran ketika menemukan nama serupa dalam surat-surat ibu kandungnya. 

Pada bagian awal, penulis memberikan informasi yang lumayan padat mengenai  silsilah keluarga Samiam. Meski berkesan bertele-tela, saya menduga bagian ini mengambil peranan penting bagi keseluruhan kisah. Terutama pada buku-buku selanjutnya. 

Kisah ini juga digambarkan memiliki kaitan dengan Ordo Kesatria Kuil-Knights Templar. Pantas ada lambang ordo tersebut secara samar pada salah satu bagian kover. Jadi terbayangkan bukan bagaimana cerita ini akan berkembang nantinya.

Bagi mereka yang menyukai sejarah, akan menemukan keseruan dalam membaca buku ini. Banyak informasi terkait sejarah yang disampaikan dalam kisah ini. Saya yang bukan menyukai sejarah cukup bisa menikmati.

Dari buku pertama ini, selain soal sejarah, pembaca juga bisa mendapat banyak hal unutk dipetik manfaatnya. Misalnya situasi politik yang membuat munculnya Porto de Graal, kehidupan masyarakat Spanyol sekitar tahun 1543, dan bagaimana perdagangan rempah-rempah pada saat itu.

Membaca buku pertama ini, lumayan membuat saya tertarik mengikuti petualangan Samiam. Walau ada kekurangan pada beberapa bagian, lebih karena cara bercerita terlalu panjang menurut saya. Silakan beli dan baca supaya bisa mengetahui bagaimana perjalanan nasib tokoh kita ini ^_^.

Oh ya, kembali ke soal kebiasaan tokoh kita menulis buku harian. Hal tersebut membuatnya merasa hidup menjadi lebih ringan. Ia bisa mengeluarkan segala perasaannya. Selain itu, menurut  tokoh yang lain, "Menulis buku harian adalah menuliskan sejarah. Suatu hari nanti anak-cucumu bisa melihat zaman kita hidup lewat mata kita sendiri."

Bagian lain yang menarik, adalah peranan para wanita dalam kisah ini. Dengan cara yang unik, penulis memberikan porsi lumayan besar bagi wanita. Mereka digambarkan memiliki karakter yang kuat, dimana mereka bersinggungan dengan Samiam baik langsung maupun tidak. 

Tanpa mereka, Samiam seakan tak mampu melakukan banyak hal. Terutama sekali, dalam buku pertama ini ia digambarkan sebagai sosok yang labil. Tak tahu harus bersikap bagaimana, keras kepala dengan menuntut pnjelasan disaat yang kurang tepat, hingga tak tahu apakah ia jatuh cinta atau tidak pada tunangannya.

Secara keseluruhan, untuk sebuah buku yang dirancang akan diterbitkan dalam bentuk trilogi, buku ini sudah mampu membuat pembaca untuk tidak berhenti membaca. Racikan katanya membius.

Lalu kenapa saya hanya memberikan bintang 3? Saya memberikan bintang 3 karena ini belum ada kelanjutannya. Bintang sebenarnya untuk seri ini akan muncul ketika seri ini sudah terbit semua dan sudah saya baca. 

Jadi, kira-kira kapan saya bisa membaca buku selanjutnya? Semoga kata dirancang menjadi sudah siap terbit dalam waktu dekat ^_^.




Sabtu, 03 Juli 2021

2021 #22: Menikmati Esai Tentang Literasi Anak

Judul asli: 
Kitab Cerita: Esai-esai Anak dan Pustaka
Penulis: Setyaningsih
Editor: Irfan Sholeh Fauzi
ISBN: 9786236650295
Cetakan: Pertama- Maret 2021
Penerbit: Babon
Rating: 3,5/5

Sastra anak adalah sastra yang dibunyikan.
~ Kitab Cerita: Esai-esai Anak dan Pustaka, hal 61~

Sebuah paket mendarat beberapa waktu yang lalu. Nama pengirim Setyaningsih. Saya agak bingung, sepertinya tak barang yang saya pesan, apa lagi buku. Tak ada juga staf penerbit  yang saya kenal dengan nama tersebut. Penasaran, langsung buka paket.

Saya baru ingat!
Beberapa waktu yang lalu Mbak Sanie mengadakan GA dengan hadiah buku dari penulis bernama Setyaningsih. Ternyata beliau langsung yang mengirim paket buku plus sebuah pouch cantik dengan warna yang membuat saya tersenyum sumringah.

Memandang kover, saya berimajinasi adegan permainan petak umpat. Sosok perempuan dengan wajah kesal dan memegang senter, saya asumsikan sebagai kakak. Sementara anak laki-laki yang bersembunyi sambil tertawa, adalah adik laki-laki. Sang adik begitu jago bersembunyi sehingga sang kakak terus mencari dengan kesal sampai malam tiba.

Tiba-tiba, saya mendapat ide baru. Bagaimana kalau sebenarnya sang adik yang bermain terlalu asyik hingga lupa waktu hingga malam. Sang kakak ketiban tugas mencari, padahal ia sedang asyik melakukan sesuatu. 

Dengan kesal ia mencari sang adik untuk pulang bersama, sementara yang dicari justru bersembunyi, kesempatan untuk bermain lebih lama lagi dengan sekedar iseng menggoda sang kakak.

Dua anak kecil yang seakan menikmati masa anak-anak tanpa beban. Suatu hal yang sepertinya agak susah mengingat anak zaman sekarang sudah dibebani dengan aneka les demi prestasi dari kacamata orang tua dan lingkungan.

Membuka halaman pertama, agak kecewa juga karena tak ada tanda tangan penulis. Tanda tangan membuat buku lebih personal. Namun, saya tetap bersyukur menjadi 1 dari sekian banyak orang yang bisa mendapatkan paket menawan ini.

Dalam 12 esai besutan Setyaningsih dan 1 Catatan Belakang dari  Ayu Primadini, pembaca seakan diajak untuk masuk dalam dunia literasi anak. Secara pribadi, saya tekenang pengalaman membahagiakan terkait literasi saat masih kecil. Mungkin benar kata orang bijak, pada dasarnya ada sosok anak-anak pada tiap diri orang dewasa.

Esai (Piknik)Di Perpustakaan, membuat saya teringat pada kegiatan Lomba Menggambar dan Mewarnai yang diadakan di kantor. Juga kegiatan dengan tema Dolanan Tradisional Anak-anak. 

Perpustakaan yang biasa tenang mendadak ramai dengan celoteh anak-anak. Untuk sementara kakak-kakak mahasiswa terpaksa menahan diri untuk tidak berkomentar karena keramaian yang ada. Mereka harus menerima, begitulah dunia anak-anak yang selalu ceria di mana saja berada. 

Tak hanya sekedar berlomba atau menikmati dolanan, mereka juga diberikan pengetahuan dasar tentang perpustakaan, serta diajak berkeliling. Aneka komentar lugu muncul. Dari betapa bedanya dengan perpustakaan sekolah mereka, luasnya gedung yang membuat bisa leluasa bermain, kenapa ada berbagai ruangan, serta adakah buku cerita yang mereka inginkan. 

Minimal mereka sudah mendapat hak untuk piknik ke perpustakaan, tak hanya menikmati aneka tempat pariwisata yang bisa dilihat dari sejumlah stiker yang ditempel di mobil. 

Andai banyak perpustakaan juga melakukan kegiatan yang mengundang minat orang tua untuk membawa anaknya ke perpustakaan, literasi anak bisa menjadi suatu hal yang berkembang dengan leluasa.

Esai Anak-anak Enid Blyton, membuat saya malu pada kelakuan konyolku beberapa waktu lalu. Sejak kecil, nama Agus Setiadi begitu melekat pada kenangan sebagai sosok yang bertanggungjawab membuat masa kecilku ceria dengan  kisah-kisah Enid Blyton. 

Bagaimana anak-anak keluarga Kirrin mengisi liburan menjadi sebuah imajinasi tersendiri bagi saya yang hidup di kota besar. Sungai dan pedagang es krim jalanan, hanya bisa dilihat ketika saya sedang berada di Solo. 

Untunglah limun, atau bagi saya sejenisnya, masih bisa saya peroleh melalui penjaja makanan di sekolah. Kadang, saya membayangkan sedang menikmati limun sambil duduk-duduk santai di Pulau Kirrin. Penghayal tingkat tinggi ^_^. 

Begitu internet memasuki negara tercinta ini, saya mencoba mencari tahu seperti apa wajah seorang Agus Setiadi. Begitu banyak wajah yang muncul dari satu nama, sebelum akhirnya menemukan yang sesuai. Sambil menatap layar monitor, ucapan terima kasih dari jauh langsung disampaikan. 

Bahkan seorang Soesilo Toer juga pernah meramaikan khasanah kisah anak melalui beberapa karyanya, dengan kekuatan perpaduan  kemalangan dan kemujuran.

Kisah persahabatan Henki dan Meneer Kleber membawa pembaca pada berbagai kisah imajinasi zaman perang. Melalui penuturan Meneer Kleber rasa nasionalisme anak-anak diharapkan menjadi lebih kuat. 

Secara keseluruhan, buku ini sangat perlu dibaca oleh mereka yang aktif dalam literasi anak, seperti penulis, penerbit, dan pendongeng. Mereka yang juga tertarik dengan dunia literasi secara umum juga disarankan untuk membacanya.

Bagi para orang tua, buku ini bisa menjadi referensi bagaimana memilih bacaan yang bemutu bagi anak. Sementara bagi para psikolog, buku ini bisa menjadi tambahan pengetahuan mengenai bagaimana buku bisa berdampak pada perkembangan kejiwaan anak.

Selain membangkitkan memori  bagi saya, buku ini memberikan banyak informasi terkait literasi anak, salah satu sisi literasi yang selama ini jarang saya kunjungi selain sekedar mengulang bacaan saat kecil.

Termasuk bagaimana kendala dan upaya para penggiat literasi dalam mengembangkan literasi bagi anak-anak. Ternyata tidak  mudah! Apa lagi saat sekarang, saya bisa merasakan betapa sulit dan rumitnya hanya sekedar untuk membuat seorang anak tertarik membaca. Bahkan anak dari penggila buku sekalipun!

Tambahan kata menarik juga saya peroleh dari buku ini. Sebagai seorang esai, tentunya pilihan kata yang dipergunakan dalam menyusun kalimat sudah dipertimbangkan dengan seksama sehingga mampu menyampaikan makna sesuai dengan keinginan. Beberapa kata yang jarang saya temui, menggoda saya untuk mengintip KBBI daring. Cara seru belajar bahasa.

Tapi, sebentar! Saya menemukan kata 2 di bagian dalam buku, Kitab Cerita: Esai-esai Anak dan Pustaka 2 Apakah artinya ini merupakan buku kedua? Kalau begitu, saya musti berburu mencari buku pertama.

Matur nuwun Mbak Sanie dan Mbak Setyaningsih. Mengenang saat kecil bisa jadi membangkitkan imun tubuh saat pandemi seperti ini. Sehat selalu agar bisa terus berkarya.










Selasa, 29 Juni 2021

2021 #21: Tragedi Kisah Cinta Toyib dan Siti

Penulis: Eka Kurniawan
Editor: Mirna  Yulistianti
Desain sampul & ilustrasi: Umar Setiawan
ISBN: 9786020653242
Halaman:60
Cetakan: Pertama-2021
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 50.000
Rating: 5/5

Jodoh  antara buku dengan pembacanya, kadang melalui cara yang unik untuk bisa bersatu. Setiap perjodohan memiliki kisah yang unik dan layak dikenang.

Jodoh saya dengan buku ini misalnya. Entah karena terlalu sibuk (terlalu banyak nonton dan baca maksudnya ^_^) atau kelupaan memesan, saya terlewat prapesan buku ini. Padahal salah satu sahabat saya sudah  memberikan informasi jauh hari.

Untung salah satu toko buku langganan saya masih memiliki stoknya. Langsung meluncur dan meminang buku ini plus beberapa buku lainnya dengan memanfaatkan voucher sisa lebaran jatah kantor. Namun, apa daya, ketika salah satu toko daring menawarkan versi  tanda-tangan, ikutan beli juga. Versi satunya bisa buat GA.

Secara garis besar, buku ini bercerita tentang kisah cinta antara Toyib dan Siti. Sejak usia belia Toyib sudah menyukai Siti. Layaknya seorang remaja yang jatuh cinta, ia juga melakukan berbagai hal guna menarik hati Siti, seperti pergi ke sekolah dan pulang bersama. Atau memberikan hadiah anak ayam yang akan dipelihara Siti hingga siap disembelih saat malam Lebaran. Keluarga mereka juga bersahabat. 

Di kampung mereka, kekeringan mulai menjadi bagian hidup walau tak diinginkan. Suatu ketika, akibat kekeringan, terjadi hal yang membuat kedua keluarga tersebut  saling menjaga jarak.  

Toyib tak bisa leluasa bertemu Siti lagi.  Sementara Siti juga tak berupaya untuk menemui Toyib Keduanya menjauh karena keadaan. Keluarga juga tak berani campur tangan pada kelanjutan kisah kedua.

Ada sebuah sumur  di lembah yang menjadi harapan air bagi warga kampung. Meski harus menggali selama 20 meter dan tak mendapatkan air melimpah, tapi lebih baik dari pada tak ada apa-apa. Di sana, warga  tanpa sengaja sering bertemu  ketika mengambil air.

Demikian pula dengan Toyib dan Siti. Pertemuan pertama yang kemudian disusul dengan sejumlah pertemuan lagi di sana. Seakan  keduanya berupaya mengganti waktu yang telah mereka lewati.

Nasib seakan mempermainkan kisah cinta kedua anak manusia tersebut. Ketika hubungan keluarga juga mulai membaik, urusan perut demi menyambung kehidupan menjadi alasan permisahan mereka untuk kedua kali.

Kembali, sumur mempertemukan keduanya. Keduanya seakan saling memiliki selama berada di sumur. Waktu seakan terhenti di sana, memberikan kesempatan bagi kisah cinta keduanya. Meninggalkan sumur, berarti, kisah cinta mereka berakhir untuk hari itu. Hingga esok, keduanya bertemu di sumur untuk menuliskan tentang cinta mereka satu hari lagi. 

Meski keluarga dan  warga banyak yang mengetahui kebiasaan keduanya menghabiskan waktu di Sumur, tak ada seorang pun yang memberikan komentar atau sekedar memberikan peringatan mengingat status keduanya.  Entah karena merasa kasihan dengan kisah cinta keduanya, atau begitu berat kehidupan membuat mereka bersikap masa bodoh dengan lingkungan sekitar selama tak mengganggu kepentingan mereka.

Buku yang hanya terdiri dari 60 halaman dengan huruf yang lumayan memanjakan mata alias besar, mampu mengaduk-aduk perasaan pembacanya melalu kisah cinta kedua anak manusia tersebut. 

Latar belakang kehidupan penduduk yang semula makmur karena air melimpah, kemudian menjadi terpuruk karena kekeringan akibat kekurangan air sehingga banyak warga yang pindah ke kota, membuat semakin suram suasana.

Akhir kisah percintaan keduanya justru membuat saya memiliki banyak pertanyaan. Bagaimana nasib Siti ketika Toyib kembali menjauh darinya? Kenapa keduanya tak mengikat janji sehidup-semati ketika semua hal yang menghalangi sudah tak ada? Masih banyak kenapa yang muncul dalam benak saya. 

Awalnya saya sempat tertawa membaca nama Toyib diberikan pada tokoh utama kisah ini. Maklum, terlalu sering mendengar lagu perihal Bang Toyib yang tak pulang-pulang. Berharap kisah cintanya tak sama dengan Bang Toyib. Ternyata, tak berbeda, tragis.

Ada beberapa alasan kenapa buku ini layak dibaca serta dikoleksi.  Buku ini dijual dengan model yang cukup unik. Selain jaket buku yang merupakan  bagian dari ilustrasi, tersedia semacam  amplop yang bisa dianggap sebagai tempat penyimpanan buku.

Konon Sumur hanya dicetak 5.000 eksemplar, dimana 3.000 melalui prapesan dengan tanda tangan. Masih ada 2.000  buku untuk dimiliki yang tersebar di berbagai toko buku.
 

Walau stok buku tersebut habis, belum tentu akan dicetak ulang lagi. Bisa dikatakan buku ini akan langka kelak. Penerbit menjajikan hal tersebut, yang bisa dibaca pada pembatas buku. Apakah benar atau sekedar sarana promosi, kita lihat nanti. 

Nama besar penulis sebagai nomine Man Booker International Prize 2016 dan peraih Prince Claus Laureate 2018 juga menjadi hal yang membuat buku ini layak dibaca dan koleksi.  

Tak ada salahnya kita mendung penulis lokal dengan potensi internasional, walau pada akhirnya selera juga yang akan mengambil peran untuk membeli dan membaca buku ini. 

Selanjutnya, ilustrasi buku ini sungguh luar biasa. Semua jempol saya berikan bagi Umar Setiawan selaku desain sampul dan ilustrasi. Kesan kekeringan dan kesusahan yang melanda kampung tersebut terlihat sekali melalui perpaduan warna yang bernuansa gelap. 

Gambar favorit saya adalah adegan ketika Toyib dan Siti bertemu dan saling pandang di sumur. Tak perlu banyak kata, gambar yang ada sudah bercerita tentang banyak hal yang terjadi antara kedua. Pembaca seakan diajak berimajinasi memahami bagaimana kehidupan dan percintaan kedua tokoh kita itu.

Meski demikian, saya agak terganggu dengan penempatan tulisan "BUKU INI MILIK" yang terletak pada bagian belakang amplop. Kenapa harus ada tulisan itu? Seakan membawa saya melihat buku anak-anak, dimana para orang tua akan menuliskan nama anak mereka. Atau anak yang mulai belajar menulis, bersemangat menuliskan namanya.

Menurut KBBI daring, sumur/su·mur/ n 1 sumber air buatan, dengan cara menggali tanah; perigi: -- bor; 2 lubang yang sengaja dibuat menembus lapisan tanah untuk memperoleh air, minyak, atau gas; 3 lubang hasil pengeboran, baik dalam tahap eksplorasi maupun eksploitasi; 4 Geo bangunan hidraulis berupa lubang yang digali ke dalam bumi yang memungkinkan penyadapan air secara ekonomis dari akuifer. Lengkapnya bisa dilihat di sini

Kisah ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris dengan judul The Well. Pembaca bisa menemukannya di  antologi Tales of Two Planets yang diterbitkan oleh Penguin Books pada 2020. 

Bintang 4,75 dengan 1 bintang khusus untuk ilustrasi. 
Sebuah buku yang layak dibaca dan dikoleksi, minimal untuk saya ^_^.

----
Membuat komentar untuk buku yang hanya terdiri dari 60 halaman, tanpa membocorkan kisah, merupakan tantangan tersendiri. Semoga sesuai dengan harapan.


Kamis, 24 Juni 2021

2021 #20: Tentang Aneka Kursi

Judul: Chairs: 1,000 Masterpieces of Modern Design, 1800 to the Present Day
Project Consept: Charlotte & Peter Fiesti
ISBN-10:1906863091
ISBN-13: 9781906863098
Halaman: 768
Cetakan: April 15th 2012 
Penerbit: Goodman/Fiell
Rating: 3/5

Bagi banyak orang, fungsi kursi adalah sebagai sarana untuk duduk. Namun seiring waktu,  tidak hanya sebagai tempat duduk, kursi juga dipergunakan sebagai salah satu perabotan rumah tangga yang diletakkan untuk mengangkat gengsi pemiliknya. 

Buku ini terbagi dalam beberapa bagian. Pada bagian introduction, pembaca akan mendapat informasi mengenai perkembangan desain kursi. Misalnya, bagaimana perang berpengaruh pada penyediaan bahan baku yang berujung pada  perubahan desain kursi. Atau ketika terjadi krisis bahan bakar.

Aneka desain kursi yang ada dibedakan menjadi 12 bagian besar.  Desain tahun 1800, 1900, 1910, 1920, 1930, 1940, 1950, 1960, 1970, 1980, 1990, serta 2000. Terdapat pula index yang berisi informasi mengenai nama sosok yang mendesain sebuah kursi dan karyanya, yang disusun bersadarkan abjad.  

Lalu ada Bibliography dan Picture Credits.  Sementara Acknowledgements berisi semacam ucapan terima kasih pada mereka yang terlibat pada upaya penerbitan buku tersebut.

Secara garis besar, buku ini dapat menjadi inspirasi untuk mereka yang ingin memiliki kursi dengan model yang tak umum. Membantu para perancang perabotan rumah tangga untuk mendapat ilham dalam mendesain.

Untuk ibu rumah tangga yang ingin melakukan perubahan suasana pada rumah, buku ini bisa menjadi inspirasi untuk memilih kursi yang sesuai dengan  kebutuhan dan tema.

Secara tak langsung, buku ini menjadi semacam sumbangsih dokumentasi mengenai bagaimana perkembangan kehidupan sosial pada rentang waktu tertentu, dilihat dari aneka bentuk kursi  sebagai perabotan rumah tangga yang muncul saat itu.

Inspiratif.
Asal ingat pesan para sespuh, jangan lupa berdiri jika keenakan duduk ^_^.

Sumber gambar:
Buku Chairs: 1,000 Masterpieces of Modern Design, 1800 to the Present Day