Sabtu, 16 Juli 2022

2022 #19: Study in Mikrolet

Penulis: Agung Al Badamy
Editor: Selfietera
Halaman: 207
Cetakan: Pertama-Oktober 2017 
Penerbit:  Phonex Publisher
Rating: 3.25/5

Hanya di tempat yang gelap sempurna, kita mampu melihat berkas cahaya.
-Study in Mikrolet, hal 105-

Buku dengan kover hitam ini juga saya peroleh dari Mas Teguh. Suatu kebetulan! Mengingat buku beliau juga didominasi dengan warna hitam. Judulnya unik, jika diterjemahkan secara harafiah menjadi Belajar di Mikrolet.

Semula saya agak ragu membaca buku ini, karena mengira termasuk buku yang biasanya dibuat untuk konsumsi remaja, ala percintaan alay. Ditambah melihat ilustrasi  mobil yang ada, jauh dari bentuk mikrolet yang dijadikan judul kisah. Jika kisahnya terkait mikrolet, kenapa ilustrasinya bukan mikrolet?

Iseng, mencoba menilik ke GRI. Ternyata ada versi lain. Ratingnya lumayan juga.  Versi yang ada di GRI sudah mempergunakan mikrolet sebagai ilustrasi. Lengkap dengan ISBN. Saya tak tahu apa berbedaan dengan yang saya miliki, namun tak ada salahnya mencoba membaca. Jika ingin mengintip versi lainnya bisa meluncur ke  sini.

Setelah Persembahan, dalam Daftar isi terlihat bahwa buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama diberi judul Undangan Kematian, yang terdiri dari beberapa sub bagian, antara lain Belajar di Mikrolet;  Petualangan Beruang Merah; Jengkol Sang Ahli Mesin; Undangan Kematian; hingga Drama Terakhir.

Sementara bagian kedua diberi judul Semarang-Sidoarjo. Terdapat 6 sub bagian, mulai dari Pak Erot;Teka-teki di Sidoarjo; Mbah Maherel, hingga Pesta Pura Durjana. Ditambah Epilog dan informasi tentang penulis.

Dikisahkan seorang pria muda-Gaston  tergesa-gesa duduk dalam mikrolet di bagian depan. Sang supir menyodorkan helm full face padanya. Suatu perbuatan yang aneh, apa gunanya helm dalam mikrolet? Ternyata memang sangat berguna jika sang supir mengemudi ala pembalap formula.

Chilock, demikian nama sang supir ternyata seorang pengamat ulung. Ia bisa mendapat informasi tentang seseorang dari hanya mengamatinya saja. Misalnya, ia tahu di mana seorang penumpang akan turun walau ia tak memberitahukan. 

Bersahabatan keduanya yang baru seumur jagung, berkembang kian menarik. Terutama ketika Gaston menemani Chilock memecahkan sebuah misteri pembunuhan atas ajakan detektif sahabatnya. Gaston yang sejak awal sudah kagum akan kemampuan deduksi Chilock kian dibuat terpesona.

Apalagi ternyata, dalam peristiwa yang sedang diselidiki tersebut, ada sosok lain yang juga memiliki kemampuan deduksi seperti Chilock. Sayangnya keduanya ternyata memiliki urusan dimasa lalu yang kurang menyenangkan.

Bagian pertama cukup menghibur. Misteri yang dibuat lumayan membuat penasaran, walau ada beberapa hal yang membuat saya harus membaca ulang beberapa uraian.  Terutama pada bagian pemecahan. Ada penjelasan yang mendadak begitu saja muncul, padahal sebelumnya tak pernah disinggung.

Sementara untuk bagian kedua, entah bagaimana meski disebutkan memang perlu dibuat, kesannya terlalu dipaksakan. Kalau pun harus dibuatkan bagian khusus yang membahas tentang salah satu sosok dalam kisah, tak perlu melebar menjadi sekian banyak halaman.

Semangat membaca  saya yang semula begitu berkobar-kobar, langsung luluh ketika membaca bagian kedua. Seakan penulis berupaya menunjukkan kemampuan menulisnya melalui  penjelasan banyak hal sedetail mungkin. Padahal ada beberapa hal yang sebaiknya dibiarkan begitu saja.

Asal mula kedua tokoh utama juga diuraikan dalam buku ini. Termasuk apa yang membuat Gaston mendadak bisa berada dalam mikrolet yang dikemudikan oleh Chilock. Keberanian Gaston untuk menerima tawaran tinggal sementara di tempat Chilock menunjukkan betapa  galau dan kacau perasaannya, hingga mau diajak tinggal bersama orang tak dikenal.

Kisah dalam buku ini, mengingatkan pada pasangan Watson dan Holmes, serta  persahabatan antara Kapten Arthur Hastings dan Hercule Poirot.  Alamat kost Chilock disebutkan Jalan Bakery nomor 122A, kamarnya berada di lantai 2. Sementara itu  Inspektur Gembret sahabatnya, mengingatkan pada Inspektur Japp.

Tapi, ada juga bagian yang mengingatkan saya pada Detektif Kogoro Mouri yang  dikenal sebagai Kogoro Tidur karena dianggap memecahkan misteri sambil tidur. Ia merupakan karakter fiksi dalam anime dan manga Detektif Conan. Meski Poirot juga melakukan pemaparan misteri dengan gaya mengumpulkan semua orang yang dianggap terlibat.

Jelas tidak bisa menyalahkan penulis jika mengambil ide dari kedua pasang tokoh detektif kenamaan tersebut. Para pencinta kisah detektif sudah sangat akrab dengan sosok keduanya. Seakan-akan detektif harus memiliki pendamping. Seperti Kapten Kosasih dan Gozali, karya S. Mara Gd. Kesempatan menerjemahkan karya Agatha Christie membuat beliau mampu menciptakan duo sosok tersebut dengan apik.

Ditambah lagi, pada kover bagian dalam ada  tulisan Penelusuran Benang Merah. Selain menunjukkan bacaan seperti apa yang digemari penulis, hal ini bisa dianggap  menunjukkan  siapa penulis kisah misteri yang mempengaruhi karyanya.

Dalam Goodreads disebutkan bahwa Penelusuran Benang Merah adalah buku pertama dari serial Sherlock Holmes karangan Arthur Conan Doyle. Dalam buku tersebut, pertama kali Dr. Watson bertemu dan berkenalan dengan Holmes. Dalam buku ini demikian juga, pertama kalinya Gaston bertemu dengan Chilock. 

Dengan judul asli A Study in Scarlet, kisah yang terbit pertama kali tahun 1887  di Beeton's Christmas Annual, bisa disebut sebagai kisah detektif pertama kali yang memperkenalkan manfaat kaca pembesar sebagai alat  bantu dalam melakukan penyelidikan.

Pada situs berikut, disebutkan bahwa cerita detektif memiliki ciri khas, yaitu ragam cerita yang mengungkapkan rahasia suatu pembunuhan. Dalam cerita detektif pertama-tama harus ada mayat atau peristiwa kematian sebagai hasil kejahatan (crime) atau pembunuhan. Untuk mencapai efek ketegangan, dalam alur pokok cerita detektif selalu diselingi flashback, yakni secara bertahap diperlihatkan apa yang menjadi motif pembunuhan dan siapa pelakunya.

Selanjutnya disebutkan bahwa dalam proses pengungkapan rahasia itu terlebih dulu diciptakan konflik berupa kesimpangsiuran atau keragu-raguan tentang siapa pelaku pembunuhan. Setiap orang yang pernah berhubungan dengan korban tak luput dari sasaran kecurigaan. 

Di akhir cerita baru ditunjukkan bahwa ternyata pelaku pembunuhan bukan orang yang disangka-sangka. Ia bisa orang terdekat dengan korban, salah satu anggota keluarganya, anak wayang yang belum balig, orang yang sudah tua renta, dan sebagainya dengan berbagai alasan yang sangat berkaitan dengan kejiwaan yang mengalami gangguan (pathologist).

Di tanah air, angkutan kota-angkot dimulai pada tahun 1943, zaman penjajahan Jepang. Tujuan semula adalah agar warga bisa bepergian dengan kendaraan bermotor.   Dalam KKBI, mikrolet/mik·ro·let/ /mikrol├ęt/ adalah  alat angkutan umum penumpang di kota (mirip mikrobus). Mikrolet merupakan singkatan dari mikro oplet.

Hem..., jika dalam buku ini kedua tokoh utama saling bertemu, apakah ada kemungkinan muncul buku-buku selanjutnya? sayang saja jika potensi yang ada tidak diasah dan dikembangkan secara optimal.


Sabtu, 09 Juli 2022

2022 #18: Menikmati Arum Manis

Judul asli: Arum Manis
Penulis: Teguh Affandi
Editor: Mirna Yulianti
ISBN: 9786020661964
Halaman: 149
Cetakan: Pertama-Mei 2021
Penerbit: PT Gramedia Pustaka
Harga: Rp 75.000
Rating: 4/5

Api membesar. Suara emprit bersuitan, suara ayam berkokok ketakutan. Sesaat sebelum Kiai Toha sadar bahwa belum disaksikannya Tuhan keluar dari rumah Melly. Bila demikian, sama saja dia memerintahkan membakar Tuhan. Dia lari ke depan. Dengan surban serta gerakan tangan seadanya, Kiai Toha berusaha memadamkan api. Andung mencegah, karena takut orang suci itu jatuh mati dalam kobaran.

 - Arum Manis, hal 93-

Buku Arum Manis: Cerita Bukan tentang Cerita Kita merupakan buku perdana dari Mas Teguh, begitu saya bisa menyapa sang penulis. Setelah menempuh "kehamilan" selama 10 tahun, akhirnya "anak pertama" Mas Teguh lahir juga. Kami, para sahabat mendukung dengan cara sederhana, membeli buku versi original buku ini.

Pada halaman awal, pembaca akan menemukan  kutipan dari tokoh Patrick Star. Yups! Patrick yang ada dalam serial  Spongebob Squarepants. Jangan  biarkan hatimu berjalan menjauh, kecuali pikiranmu memiliki kaki dan mengikutinya, begitu katanyaSepertinya penulis sangat mencintai dan terinspirasi oleh tokoh bintang laut itu.

Kata pengantar dengan judul Duice et Utile  sepanjang lebih dari 5 halaman dari Budi Darma, menyambut pembaca menikmati kisah dalam buku ini. Sungguh beruntung, seorang Budi Darma masih sempat menyempatkan waktu untuk memberikan kata pengantar bagi karya perdana. Kata pengantar tersebut ditulis tahun 2019, sebelum beliau wafat.

Setelah itu,  pembaca akan menemukan aneka kisah yang secara keseluruhan terbagi dalam tiga bagian utama. Bagian pertama, Saya, berisikan  tujuh kisah. Mulai dari Tembok Apartemen yang Bicara; Arum Manis; dan Aroma Kenanga

Sementara bagian kedua diberi judul Anda, dimana terdapat  delapan kisah dalam bagian tersebut.  Hujan Mawar di Lempuyangan; Naga dalam Mulut Kartika; Perjamuan Serigala; hingga Kematian Calon Pengarang

Sedangkan bagian terakhir berjudul  Dia, memuat tujuh,  Radian dan Kulkus Barunya; Olfaktori; Angin Tak Dapat Membaca; dan Pohon Pu Tao Tua. Sebagai tambahan informasi, pada bagian akhir terdapat Riwayat Publikasi, serta informasi Tentang Penulis.

Rasanya tak perlu meragukan kepiawaian seorang Teguh dalam meracik kata. Seiring waktu,  keterampilannya meningkat, terasah dengan berbagai tempaan, yaitu tugas sebagai editor. Panjangnya riwayat publikasi karya merupakan bukti tak terbantahkan.

Setelah membaca kisah  Tembok Apartemen yang Bicara, ungkapan yang pas adalah, kecepatan gosip melebihi kecepatan cahaya. Aroma Dapur Tetangga, membuat saya tertawa karena teringat kisah seseorang. Ia lupa rumah yang berhempit membuat suara sekecil apapun bisa didengar tetangga, termasuk suara erangan nikmat saat memadu kasih.

Peristiwa di Kedai Kopi memberikan pesan agar tidak sembarangan menyalahkan  hujan sebagai penyebab bersemainya kembali cinta. Bukan salah hujan, tapi salahkan dirimu yang bertindak bodoh! 

Jemini dan Tuan Busu Klaten, mengajarkan kita untuk menghormati orang dengan tidak bisa  bersikap seenak udel. Apalagi orang itu orang yang memberi kita pekerjaan. Cari mampus saja!

Kisah Arum Manis yang diangkat menjadi judul buku ini, membuat saya tertawa dan (nyaris) menangis secara bersamaan. Tertawa karena teringat pada kekonyolan yang  (mungkin juga pernah) dilakukan saat anak-anak, serta jajanan kegemaran.

Selanjutnya (nyaris) menangis, karena membayangkan kelakukan bejat seseorang telah menimbulkan trauma berkepanjangan, bahkan menghancurkan kehidupan seorang anak kecil! Penulis berhasil meluluhlantahkan perasaan saya. Hiks... tertawa diawal, menangis kemudian.

Rasa cinta dan setia ternyata tidak abadi, bisa hilang dikarenakan hal tak terduga. Demikian kesimpulan saya setelah menamatkan kisah Aroma Kenanga. Alih-alih setia dan mendampingi istri, tokoh aku dalam kisah ini justru lebih memikirkan tentang kenanga yang tumbuh pada sosok perempuan lain. 

Dan..., masih banyak lagi kisah memukau yang bisa ditemukan dalam buku ini. Tiap kisah yang disajikan, membutuhkan seni tersendiri untuk menikmatinya. Buka pikiran untuk menikmatinya. Seperti kata Budi Darman, Fiksi bisa "tidak masuk akal" karena pengaruh imajinasi pengarangnya, dan bisa juga "masuk akal" karena pengarang tidak lain adalah produk berbagai permasalahan sosial.

Jika dicermati, banyak metafora yang akan ditemui. Mas Teguh mempergunakan aneka  buah dan sayuran. Bahkan pada tiap awal bagian, terdapat gambar apel, atau jeruk ya, serta pisang pada beberapa bagian.

Kelebihan lain adalah kisah yang ada dalam buku ini memiliki kemiripan dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin tidak semua, namun bagi saya lumayan mengalami beberapa hal. Hayo tebak yang mana he he he.

Secara keseluruhan, selain membuat perasaan saya membaca naik-turun seperti roller coaster, buku ini membuat saya melanggar beberapa aturan yang saya buat sendiri untuk menikmati sebuah buku.Dimulai dengan membaca secara berurutan, padahal biasanya untuk buku jenis ini saya akan mulai membaca dari judul kisah yang diambil menjadi judul buku.

Menurunkan kecepatan membaca, adalah langkah selanjutnya. Isi buku ini bak candu, seperti layaknya  Aroma Kenanga, ingin terus dbaca.  Tapi saya harus pandai mengatur rasa kecanduan saya. Sehingga buku ini bisa dinikmati lebih lama.

Selain hiburan, pembaca juga mendapat pengetahuan. Misalnya perihal perbedaan mangga pakel dan kueni di halaman 61. Konon di tanah air  menurut laman  berikut, terdapat 13 jenis mangga yang populer di tanah air. 

Menurut situs tersebut, mangga Kweni (dalam buku tertulis kueni)  berbentuk lonjong, dengan ujung membulat, tidak berlekuk dan berparuh. Bobotnya rata-rata 350 g, dan panjangnya sekitar 11 cm.Kulit buah halus berlilin, yang terdapat bintik- bintik berwarna putih kehijauan. Buah yang sudah masak, bagian pangkalnya berwarna hijau. Daging buah berwarna kuning, berair dan berserat kasar, beraroma khas kweni. Rasanya cukup manis dengan sedikit rasa terpenti.

Sementara mangga Pakel, buahnya lonjong, dengan panjang antara 12-15 cm. Warnanya hijau kelabu. Permukaan kulit buah terdapat bercak berwarna coklat, dan bergetah. Daging buah memiliki serat yang kasar, rasanya sedikit asam dengan sedikit rasa manis bercampur rasa terpentin. Aromanya khas yang cukup kuat. Bobot buah bisa mencapai 500 gram.

Untuk urusan kover, andai ada penilaian tersendiri, saya akan memberikan bintang 5. Kover karya Orkha Creative terbilang unik, ditambah dengan warna hitam yang menjadi latar. Mengambil mangga untuk menyesuaikan dengan judul kisah sepertinya hal yang umum akan dilakukan oleh banyak orang. 

Tapi mengubah mangga menggantikan gambar anatomi organ tubuh, sepertinya jarang dilakukan orang. Coba diingat, dalam salah satu buku pelajaran sekolah, ada gambar tentang organ dalam tubuh manusia. Gambar dalam kover ini menyerupai hal tersebut, hanya bedanya semua organ diganti dengan mangga.

Maka, saya meletakkan buku ini di atas tumpukan mangga di kedai buah, kemudian mulai memotret. Rencananya untuk dijadikan tampilan kover catatan ini. Sayangnya peristiwa kehujanan membuat foto-foto tersebut raib. Dan saya yang jadi eror, butuh waktu lumayan lama untuk bisa mencari ide lagi. Maafken Mas Teguh, padahal catatan ini sudah selesai dibuat saat launching lalu.

Saya beruntung karena ikutan pemesanan awal sehingga mendapat beberapa  bonus. Salah satu yang paling membuat saya teringat pada sosok Mas Teguh adalah lembaran Angka Kecukupan Gudrids (AKG).  Lembar yang berisikan informasi perihal jumlah cerpen dan judulnya, mengingatkan pada kebiasaan Mas Teguh untuk mempergunakan kertas sebagai pembatas buku. Jadi adaikata pembatas buku asli buku ini raib, ada cadangannya.

Tentunya kata Gudrids yang ada tidak berhubungan dengan situs pembaca Goodreads. Sekedar seru-seruan semata. Ide yang menarik sebenarnya. Pembaca jadi bisa tahu ada kisah apa saja dalam buku ini tanpa perlu membuka Daftar Isi.

Jika ada yang ingin berkomunikasi dengan Mas Teguh, bisa meluncur ke IG: Teguh Afandi, twitter:@afaditeguh, atau surel teguhafand@gmail.com.

Jadi pingin menikmati buah mangga original, yuk....







Sabtu, 02 Juli 2022

2022 #17: Kisah Seorang Perawan Desa

Judul asli: Perawan Desa
Penulis: W.R. Supratman
Editor: Bandung Mawardi
ISBN: 9786237245834
Halaman: 100
Penerbit: bukuKatta
Harga: Rp 60.000
Rating: 3/5

"Itu belum seberapa. Orang Belanda kalau dihukum di bui Semarang masih enak. Dapat makanan baik, roti dan kentang, tidur pakai bulzak, bisa belajar ini dan itu sehingga mereka malah senang sekali. Keluar dari bui ada yang bisa dapat diploma. Tetapi, orang Bumiputera, bagaimana? Kalau jadi orang rantai, belum tentu ia tidak mati."

- Perawan Desa, hal 32-

Kereta api-Sneltrein bisa dikatakan merupakan alat transportasi yang sudah ada sejak zaman dahulu. Dengan tarif relatif murah dan jangkauan tempuh yang luas, tak heran jika menjadi pilihan banyak orang. Demikian juga dua orang gadis dalam kisah ini. Sitti Adminah  alias Mince dan Sarlilah alias Sarce memilih kereta api untuk berpergian ke Bandung pada Sabtu, 3 Juni. 

Perjalanan yang semula ditempuh berdua,  menjadi kian ramai  dengan kehadiran  Subagio, Seorang pria yang   menaiki kereta saat mulai melaju. Kebetulan hanya di tempat mereka masih tersedia tempat kosong, maka Subagio meminta izin untuk bergabung.  

Sepanjang jalan, mereka  menghabiskan  waktu dengan berbagai kegiatan, salah satunya mengobrol dan membaca.  Salah topik adalah tentang berita seorang Belanda bernama Van Stelan, pegawai departemen Financien yang mencuri uang milik Gouvernement dalam jumlah lumayan. Ketiganya kemudian berpisah dengan riang gembira dengan janji akan bertemu jika dapat.

Selanjutnya,  buku ini mengisahkan tentang bagaimana kehidupan masyarakat saat itu. Misalnya pada bagian IX, Desa Ciharum, mengisahkan tempat tinggal Sitti Adminah. Demikian juga dengan bagian XI, Paman Tani. 

Bagaimana perbedaan perihal pernikahan antara anak-anak Belanda dengan bangsa kita, juga dibahas dalam buku ini.  Ada juga bagian yang mengisahkan tentang sebuah peristiwa yang nyaris membuat Subagio dihajar penduduk kampung.

Mince yang  mendapat pendidikan HBS di Batavia dan hidup dalam lingkungan pergaulan Eropa, mulai merasakan kebosanan berada di kampung halaman. Tak ada teman yang bisa diajak bercakap-cakap, tak ada undangan pesta yang harus didatangi. Maka ketika Subagio datang untuk menjenguk, disambutnya dengan hati riang.

Apa yang kemudian terjadi antara keduanya, dijelaskan dengan kalimat kiasan dengan sejuta makna, membuat pembaca mengartikannya sendiri. Di situlah gadis dan pemuda itu bersenang-senangan, Bulu Badannya berdiri, atau Perasaan kedua orang muda itu baik dikira-kirakan saja. Mereka berpeluk-pelukan, bercakap-cakap, dan bercium-ciuman."

Kisah ini ditutup dengan hal yang mungkin sudah bisa ditebak oleh pembaca saat ini. Perlu diingat, saat kisah ini dibuat, gaya bercerita seperti yang digunakan oleh penulis berbeda dengan gaya bercerita yang biasa digunakan saat ini. 

Penulisan nama, Siti Adminah dan Sarlilah menjadi Mince dan Sarce, serta pembicaraan perihal  orang Indonesia yang bergaya hidup meniru bangsa Eropa, bisa kita anggap merupakan penjabaran bagaimana kehidupan sosial saat itu.  

Bagi banyak masyarakat ketika, sepertinya ada keinginan untuk meniru kehidupan bangsa Eropa. Dari sekedar nama panggilan, cara berpakaian,hingga bagaimana pandangan mereka tentang kehidupan. Seperti tokoh dalam kisah ini.

Kisah ini juga menampikan sosok penjahat. Ternyata penjahat tersebut sering dikira  sebagai seorang pribumi. Ia telah memakan banyak korban. Seorang Nyai bahkan melaporkannya juga. Hal ini seakan memberikan pesan ketidaksukaan mendalam dari penulis pada Belanda.

Surat kabar Sin Po juga disebut dalam kisah ini. Sebagai salah satu kontributor, sepertinya penulis tak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa mempromosikan korannya. Termasuk juga dengan menyelipkan adegan membaca koran dalam kisah ini.

Untuk kover, kereta api dan seorang gadis, sudah sangat mengambarkan kisah yang ada dalam buku ini. Sebelum membaca, andai saya tidak membaca blurd, maka dengan melihat kover, saya akan menebak bahwa ini kisah tentang seorang gadis yang bepergian dengan kereta api.

Pakaian yang dikenakan oleh sang gadis, langsung mengingatkan pada pakaian yang dipakai para pemain di film perjuangan. Pakaian yang digunakan noni-nona Belanda. Sedangkan warna coklat, membuat kesan klasik.

Karena saya membeli saat PO, maka saya termasuk beruntung mendapatkan bonus buku Lagu-lagu Ciptaan W.R. Supratman karangan Mas Yud yang dicetak terbatas, serta sebuah  mini notes eksekutif.

Mungkin saya adalah satu dari sekian banyak orang yang tak tahu tentang novel ini. Mengenai sosok W.R. Supratman yang merupakan seorang jurnalis, sudah banyak orang yang mengetahui. Termasuk perihal bagaimana sang kakak ipar-Willem van Eldik,  membuatnya jadi menyukai musik dan piawai memainkan biola. 

Penerbit ini sempat memberitahu saya bahwa setidaknya tercatat ada  tiga roman karya  W.R. Supratman, yaitu Perawan Desa, Darah Moeda dan Kaoem Fanatiek. Perawan Desa  dicetak sebanyak 2.000 eksemplar, tapi belum sempat diedarkan sudah disita karena dianggap bacaan yang harus dimusnahkan.

Secara keseluruhan, buku ini perlu dibaca oleh mereka yang ingin mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat ketika itu. Tepatnya sekitar saat Kongres Pemuda II. Bagi para sastrawan serta mereka yang bekerja dalam dunia penulisan, buku ini bisa menjadi inspirasi. Mereka yang mengagumi sosok W.R. Supratman tentunya akan menyukai buku ini.

Sang penulis, Wage Rudolf Soepratman(sering ditulis W.R. Supratman),  lahir 19 Maret 1903, wafat 17 Agustus 1938 merupakan seorang  guru, wartawan, violinis, dan komponis . Sosok  beliau  dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia, "Indonesia Raya", serta merupakan anggota dari grup musik jazz Black and White Jazz Band. 
https://holopis.com/

Hari Musik Nasional  ditetapkan berdasarkan tanggal lahir versi pertamanya, 9 Maret.  Beliau mendapat diberikan gelar sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan surat keputusan Presiden RI No.16/SK/1971 tanggal 20 Mei 1971. Melalui Surat Keputusan Presiden RI No.017/TK/1974 tanggal 19 Juni 1974 Presiden RI, beliau mendapat anugerah Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama.

Dikutip dari  https://www.kai.id, sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Desa Kemijen oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele tanggal 17 Juni 1864. Pembangunan dilaksanakan oleh perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) menggunakan lebar sepur 1435 mm.

Sementara itu, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api negara melalui Staatssporwegen (SS) pada tanggal 8 April 1875. Rute pertama SS meliputi Surabaya-Pasuruan-Malang. Keberhasilan NISM dan SS mendorong investor swasta membangun jalur kereta api seperti Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM), Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), Probolinggo Stoomtram Maatschappij (Pb.SM), Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM), Malang Stoomtram Maatschappij (MS), Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM), Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).

Selanjutnya, disebutkan juga bahwa saat ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki tujuh anak perusahaan/grup usaha yakni KAI Services (2003), KAI Bandara (2006), KAI Commuter (2008), KAI Wisata (2009), KAI Logistik (2009), KAI Properti (2009), PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (2015). 

Tahun 2022 ini, KAI juga mendapat banyak penghargaan, yang terbaru pada Maret 2022 adalah  Penghargaan untuk Kategori Perlindungan Konsumen di Masa Pandemi  dari  Harian Pagi Tribun Jawa Barat dalam kegiatan   Editor Choice Award.

Buku yang luar biasa!

Sumber Gambar:
https://holopis.com/

---------------------

Seperti yang pernah saya sebutkan, membaca sebuah buku dengan membuat komentar atas buku tersebut merupakan dua hal yang membutuhkan kecepatan berbeda. Saya bisa membaca dengan cepat,membuat komentar juga tak butuh lama. Tapi  mencari foto kover yang menarik, beda lagi urusannnya.

Setelah beberapa hari sebelum sampai kantor, saya sengaja turun di stasiun Pancasila. Niatnya menunggu ada dua kereta yang bersisihan, dengan buku ini berada di antara kereta tersebut. Berhasil! Tapi karena HP saya iseng ikutan mandi hujan, maka harus diopname. Beberapa foto raib! Jangan ditanya bagaimana, begitu faktanya.

Suasana hati langsung kacau, Butuh beberapa hari untuk bersemangat lagi untuk mencari foto. Walau hasilnya tak seperti foto awal. Begitulah saya, kadang suasana hati berpengaruh juga ^_^.