Jumat, 31 Mei 2019

2019#16: Kisah Orang-orang Biasa


Judul asli:  Orang-orang biasa
Penulis: Andrea Hirata
Penyunting: Dhewiberta Hardjono
ISBN: 9786022915249
Halaman: 300
Cetakan: Pertama-2019
Penerbit: Bentang Pustaka
Harga: Rp 89.000
Rating: 3/5

"Kurasa kau adalah satu-satunya murid di dunia ini yang pernah tak naik kelas, banyak nilai merah di rapor, yang berani bercita-cita jadi dokter, Aini."
~Orang-orang biasa, hal 59~

Awal informasi terbitnya buku ini sempat membuat saya penasaran. Saya memang jatuh cinta pada Laskar Pelangi, buku pertama karangan penulis yang saya baca. Namun belakangan, saya mulai kurang puas dengan beberapa karya beliau. Menimbang  banyaknya  timbunan yang harus dibabat, maka saya memutuskan untuk tidak mengikuti pemesanan awal buku ini.

Entah kenapa, buku ini terbeli juga. Kadang sebuah buku berjodoh dengan cara yang unik. Ketika mengantar seseorang ke toko buku favorit  G, maka masuklah buku ini dalam keranjang belanjaan saya. Baiklah, karena sudah dibeli mari kita baca.

Membuka halaman pertama, nuansa tema pendidikan sudah terasa. Penulis bahkan menuliskan kalimat, “Kupersembahkan kepada Putri Belianti anak miskin yang cerdas, dan kegagalan yang getir masuk Fakultas Kedokteran, Universitas Bengkulu. " Apakah sudah bisa meraba arah kisahnya?

Para tokoh dalam buku ini lumayan banyak. Ada sepuluh sahabat yang bersatu karena selalu menduduki bangku belakang di kelas. Ada Dinah, Debut Awaludin, Salud, Junilah, Sobri, Honorun, Handai Tolani, Tohirin, Rusip dan Nihe.

Lalu muncul Boron, Bandar, Bastardin, Jamin dan Tarib sebagai pihak yang bisa dikatakan jahat. Terbayangkan dengan begitu banyak tokoh, pembaca harus menghafalkan banyak nama agar tidak tertukar. 

Para tokoh digambarkan memiliki karaker yang unik. Sepanjang kisah, penulis sukses membuat karakter konsisten. Contohnya sosok Debut Awaludin yang membuka kios buku guna menyambung hidup.  Ia tetap berjualan buku di negeri yang konon penduduknya tidak suka membaca hingga menempati peringkat kedua dari bawah. Sungguh perbuatan hebat, hiroik istilah penulis.

Atau kembar beda ibu-bapak, Nihe dan Juninah. Mereka dengan santainya bekerja di perusahaan milik Rusip. Begitu saja masuk bekerja dan setiap dua minggu meminta bayaran. Mereka sering melakukan swafoto hingga mengganggu pelanggan. Di mana pun, kapan pun ada kesempatan mereka pasti melakukan ritual swafoto.

Kisah dimulai ketika para tokoh beranjak dewasa, dan memiliki anak. Salah satunya sangat ingin menjadi dokter meski nilainya pas saja, jika tidak layak disebut kurang. Entah korslet kenapa dia, sudah nilai kurang, kehidupannya  minim masih juga punya cita-cita yang jauh dari jangkauan.

Namun, begitulah hidup. Setiap orang harus memiliki cita-cita agar memiliki tujuan hidup. Sementara sang ibu, Dinah, tentunya akan melakukan apa saja demi cita-cita sang anak.  Apa lagi ia mempunya sembilan orang kawan yang siap membantu meski dengan cara yang tak wajar.
Penampakan di Toko Buku Gramedia Depok
Beberapa Waktu Lalu

"Nah sidang pembaca nan budiman, dari sinilah sesungguhnya kisah dimulai." Demikian yang tertera pada halaman 79. 

Beberapa kisah pada awalnya seakan tidak berhubungan. Penulis banyak memberikan kisah pengantar, nyaris seperempat isi buku, kemudian pada akhirnya menggabungkannya menjadi mozaik yang menarik. Tanpa sadar saya berguman, ini gunanya diceritakan dibagian awal.

Membaca buku ini, saya jadi agak ragu. Apakah memang seluruh gerombolan bangku belakang memiliki otak yang kurang alias bodoh, atau hanya beberapa saja yang bodoh. Yang lain terlalu pandai hingga mampu beraksi layaknya orang bodoh. 

Kekompakan mereka, niat baik untuk membantu mencari biaya sekolah salah satu sahabat, diracik dengan bumbu kekonyolan membuat kisah ini menjadi ringan untuk dibaca dan pastinya banyak membuat saya tertawa. Seakan melihat orang yang tak bisa  memasak namun bergaya mampu membuka restoran yang bakalan ramai dikunjungi pembeli. Gimana ceritanya coba?

Oh ya, selain kisah tentang upaya mencari dana bagi kuliah anak sahabat, ternyata masih ada kisah tambahan yang mewarnai buku ini. Termasuk kisah anak yang tidak lulus tes namun karena jabatan sang bapak ia bisa saja dapat perlakuan istimewa. Sayangnya sang bapak menolak mempergunakan jabatannya demi sekolah sang anak.

Ironi bukan? Ada anak yang pandai namun sistem tak bisa membantunya. ada yang biasa saja namun terbantu karena faktor dana. Memang tidak semua, tapi kisah dalam buku ini mengangkat tentang pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan. Seakan penulis ingin menyindir sistem pendidikan d negara kita.

Berbagai ungkapan khas Andrea Hirata juga ditemui dalam buku ini. Misalnya yang ada di halaman 20, "Sesungguhnya selalu ada lelaki dalam setiap lelaki. Lelaki dalam diri Bastardin dan Boron adalah lelaki jahat. Lelaki dalam diri Salud adalah lelaki lembut yang baik hati." Mak jleb kan ^_^.

Saya agak penasaran dengan kalimat berikut, "Sebab, Inspektur berkacamata gaya pustakawan dan berwajah jenaka." Tertera demikian pada halaman 12. Terbayang wajah beberapa kawan pustawan yang menggunakan kacamata. Wajahnya biasa saja, beberapa malah terlihat trendi. Lalu kenapa sampai harus disebutkan secara spesifik dalam buku ini ya?

Secara garis besar, buku ini layak dibaca oleh segala golongan usia. Para anak sekolah bisa paham bahwa cita-cita saja tak berguna, harus ada usaha dan upaya untuk meraihnya.Dukungan orang tua dan sekitar sangatlah perlu.

Mereka yang gagal meraih sekolah idaman bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Bahwa kadang, yang kita inginkan bukanlah yang terbaik untuk kita. Masih banyak cara untuk meraih impian. Masih banyak jalur dn lembaga pendidikan yang bisa dipilih.

Para guru juga jadi lebih bersabar dalam mendidik, karena setiap murid merupakan pribadi yang unik. Mereka tak bisa dberikan pengajaran dengan cara yang sama, kadang ada hal berbeda yang harus ditempuh. Tak ada yang sia-sia, suatu saat upaya mengajar akan memberikan hasil positif.

Berbeda dengan buku yang lain, pada halaman belakang pembaca tidak akan menemukan blurd kisah, yang ada justru uraian mengenai kisah Laskar Pelangi. Aneh, lalu bagaimana calon pembeli bisa mengetahui kisah apa yang ditawarkan oleh buku ini?

Tidak itu saja, pada bagian akhir buku, diberikan informasi mengenai berbagai versi bahasa Laskar Pelangi.Semacam katalog buku nasional dan internasional karya Andrea Hirata. Guna memuaskan rasa penasaran pembaca, kurang lebih begitu yang saya tangkap pada kata pengantar. Silakan berpromosi, tapijangan abaikan promosi isi buku ini juga. Laskar Pelangi memang andalan, jangan abaikan buku ini. 

Dibandingkan dengan buku sebelumnya, saya makin merasa kurang gregetnya seorang Andrea Hirata dalam meracik kata. Seakan sekedar menuntaskan karya. Jiwa kisah ini kurang terasa, seakan menguap dengan kewajiban menyampakan kisah tentang anak yang batal kuliah kedokteran. 

Meski demikian, seperti yang saya sebut di atas, kekonyolan pada tokoh lumayan untuk tertawa.






Kamis, 30 Mei 2019

2019 #15 Kisah Tentang Empat Aku


Judul asli: Empat Aku
Penulis: Yudhi Herwibowo
ISBN: 9789791260879
Halaman: 165
Cetakan: Pertama-2019
Penerbit: Marjin Kiri
Harga: Rp 57.000
Rating: 4/5

Perlahan, sambil menuang anggur, aku mengeluarkan buku itu. Rasa penasaran langsung membuat kedua  mataku sudah tertuju pada tulisan-tulisan di dalam buku itu. Namun sampai berlembar-kembar halaman kubaca, aku tetap saja tak cukup mengerti apa yang sebenarnya tertulis di sini. Aku mulai merutuk diriku. Apa ini karena kemampuan otakku yang memang terbatas? Atau... ini memang hanya buku sialan saja?
~ Empat Aku, halaman 130 ~

Setelah sekian lama menunggu dengan penasaran, akhirnya buku ini mendarat juga di meja saya. Menuntaskan tidak butuh waktu lama pastinya. Membuat komentar, butuh banyak persiapan he he he.

Judul buku ini, Empat Aku, mengambil  salah  satu kisah yang pernah dimuat pada Koran Tempo pada 26 November 2016 yang lalu. Konon ide kisah tersebut muncul setelah menonton film animasi Inside Out. Kurang kerjaan juga Mas Yud, kisah yang bernuansa ceria diubah menjadi mencekam dan menakutkan.

Berbagai kisah yang ada dalam buku ini, sudah pernah dipublikasikan pada tahun 2010-2017.  Misalnya “Kisah Pencuri Buku Bahagia” terbit tahun 2017 di Suara NTB, “Jejak Air” muncul di Pikiran Rakyat pada 2015, “Kampung Rampok” terbit di Jawa Pos pada tahun 2011.

Bagi mereka yang rajin mengikuti kegiatan menulis Mas Yud, tentunya sudah pernah membaca kisah-kisah tersebut. Anggaplah sebagai  nostalgia. Sedang yang belum pernah membaca beberapa kisah, seperti saya ^_^ tentunya ini menjadi kesempatan yang menyenangkan.

Tiap kisah memiliki keunikan tersendiri. Benang merah kisah yang ada dalam buku ini adalah pada cara bercerita yang tidak biasa, fantasi. Mas Yud menggarap kisah cinta menjadi sesuatu yang jauh dari kesan menye-menye. Singkat kata, sesuatu yang biasa bisa menjadi tak biasa jika Mas Yud sudah mengotak-atiknya. 

Karakter para tokoh serta lokasi kisah yang dipilih mampu membuat pembaca enggan meletakkan buku sebelum kisah selesai. Bahkan untuk kisah sejarah yang dibuatnya, ada sesuatu berbeda yang disajikan.

Meracik urusan air kemasan menjadi sesuatu yang lebih dari urusan mengambil air semata. Jauh lebih kompleks dari yang diperkirakan orang karena melibatkan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar plus harapan yang dibangun dari mimpi.

Kisah "Tanah Kabut" misalnya. Dibuka dengan kalimat yang cukup membuat hati tidak nyaman, "Ini adalah hari-hari menjelang kematianku." Seakan kita diingatkan bahwa kelak akan tiba saat jatah waktu kita di dunia habis.

Inti kisahnya mengenai seorang yang tinggal di panti jompo dan merasa bahwa sebentar lagi kematian akan menjemputnya. Ia ingin meninggal di kampung halamannya dahulu. Padahal dulu seluruh penduduk desa meninggal karena serangan belalang. Tersisa dirinya yang semula dianggap hilang entah ke mana. Padahal ia yang masih anak-anak mengalami sebuah pengalaman misterius.

Membaca kisah  "Michelle, ma belle" membuat saya sempat mengira ada halaman yang salah cetak. Akhir kisah yang dibuat seakan tidak tuntas memaksa saya menghubungi Mas Yud untuk meminta  konfermasi. Begitulah, Mas Yud memang sering mengakhiri kisahnya dengan cara yang "menyebalkan"

Dari lima belas kisah yang ada, favorit saya jatuh pada "Kisah Pencuri Buku Bahagia" yang ada di halaman 123. Mungkin karena saya adalah penggila buku jadi gampang tertarik pada segala hal yang terkait dengan buku. Termasuk kisah tersebut.

Seorang pencuri  yang memiliki kemampuan luar biasa untuk mencuri. Jika ia sudah memutuskan untuk mencuri sesuatu, maka bisa dipastikan ia akan berhasil mencurinya. Suatu ketika ia mendapat tugas dari Tuan Cadar Hitam untuk mencuri sebuah Buku Bahagia.

Kesuksesannya mencuri kali ini membuatnya merasa bersalah, karena dampak dari hilangnya barang yang ia curi ternyata sungguh luar biasa. Sebuah kota dan masyarakat yang tinggal di sana berubah menjadi sosok yang sangat berbeda, bisa dibilang hilanglah ketentraman dan kebahagian tinggal di sana.

Meski ia ingin memperbaiki kesalahan dengan mengembalikan buku yang dicuri, tidaklah semudah itu. Buku sudah ia serahkan pada Tuan Cadar Hitam. Kabar angin terbaru menyebutkan bahwa sang tuan sudah meninggal dan seluruh harganya habis terbakar.

Kadang, meski kita ingin memperbaiki kesalahan yang pernah kita perbuat, prakteknya tidaklah semudah itu. Maka berhati-hatilah ketika hendak ingin melakukan sesuatu sehingga tidak menimbulkan sesal kemudian hari. 

Secara keseluruhan, buku ini direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin merasakan petualangan  membaca yang berbeda. Cocok bagi mereka yang mencari sensasi tersendiri dari kegiatan membaca buku.

Dari sisi ukuran dan bobot, buku ini sangat layak dilebeli dengan sebutan buku saku. Pas untuk dimaksukkan dalam tas, apalagi saku belakang celana jeans. Meski konsekuensinya adalah ukuran huruf yang sedikit lebih kecil dari buku-buku pada umumnya. Kadang kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita mau bukan?

Untuk urusan kover, warna kuning dan ilustrasi gambar yang tak bisa menjanjikan kenikmatan membaca yang tak biasa. Kata "sekumpulan kisah" membuat pembaca yang sering enggan membaca buku kumpulan cerpen menjadi tergoda. Makna bisa sama, namun pemilihan kata yang tepat bisa membawa efek yang berbeda.

Setuju Mas Yud!
Petualangan Air Mata melalui Mata Air Kumari terulang dalam buku ini. Sensasional. 
Mendadak saya ingat tulisan yang ada di situs resmi penerbit, "Meski kerap menempatkan fiksinya di lanskap-lanskap yang terasa asing tak dikenal, Yudhi Herwibowo—salah satu penulis muda Indonesia paling produktif saat ini—setia memakai imajinasinya untuk mengomentari dan merefleksikan situasi riil yang mudah kita temui di dunia kita sendiri sehari-hari." Mas Yud memang unik ^_^






.



Rabu, 29 Mei 2019

2019 #14: Tentang Memimpin Tanpa Jabatan


Judul asli: The Leader Who had No Tittle: Seni Memimpin Tanpa Jabatan
Penulis: Robin Sharma
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Adham T Fusama & Nurjannah Intan
ISBN: 9786022925065
Halaman: 264
Cetakan: pertama-2019
Penerbit: Bentang Pustaka
Harga: Rp 79.000
Rating: 3/5

“ Jika seseorang melagkah dengan percaya diri ke arah mimpi-mimpinya dan berusaha keras menjalani hidup seperti yang dibayangkannya, dia akan mendapatkan kesuksesan tidak terduga dalam perjalanannya”

Henry David Thoreau

Iseng mencari bahan bacaan yang agak beda, menemukan buku ini. Lihat nama tukang alih bahasanya, sepertinya 70% sudah menarik. Nama penulis, langsung mengingatkan pada buku karangannya yang lain. Cukup menggoda sepertinya.

The Leader Who Had No Tittle: Seni Memimpin Tanpa Jabatan (2019) merupakan sebuah buku yang akan membuka wawasan Anda mengenai hakekat Memimpin Tanpa Jabatan.   Sering kali orang merasa harus memiliki jabatang tinggi untuk bisa memimpin orang di sekitarnya. Padahal kuncinya bukan pada jabatan, tapi pada diri Anda sendiri.

Secara garis besar, buku ini berisikan pengalaman penulis selama lima belas tahun menjadi konsultan kepemimpinan. Bagaimana seseorang bisa menjadi pemimpin pada sebuah organiasasi tanpa harus menduduki jabatan tertentu.  Ucapan Anda akan selalu didengar dan dipertimbangkan padahal Anda tidak menduduki jabatan tertentu. Jabatan bersifat sementara, sementara kemampuan Anda akan selamanya ada. Kemampuan ini yang harus Anda pahami dan kembangkan.

Dalam buku ini, pembaca akan menemukan berbagai petunjuk  mengenai  beberapa hal seperti tidak dibutuhkan jabatan untuk bisa menjadi seorang pemimpin; empat filosopi Memimpin Tanpa Jabatan, bagaimana sikap menghadapi perubahan; empat kekuatan alami dalam diri untuk bisa memimpin tanpa jabatan; langkah-langkah yang harus dipakai agar bisa  bertahan dan memimpin disaat sulit; serta akronim yang memudahkan Anda bertransformasi menjadi pemimpin tanpa jabatan  dengan lebih terarah.

Setiap orang dilahirkan untuk menjadi sosok yang sukses dalam hal yang dipilihnya. Hanya kadang, butuh  orang lain untuk bisa menunjukkan cara berusaha meraih kesuksesan secara maksimal serta sebagai inspirasi dalam upaya meraih kesuksesan. 

Demikian juga dengan kondisi terpuruk. Acap kali  seseorang harus pernah berada dalam kondisi paling buruk untuk bisa bangkit dan bermetamorfosis menjadi sosok yang  sangat berbeda. Sosok yang sangat jauh lebih baik dari sebelumnya.
 
Untuk bisa berhasil, kuncinya adalah kepemimpinan. Suatu organisasi harus  menumbuhkan serta mengembangkan bakat kepemimpinan dalam diri setiap individu yang berada di sana. Kecepatan proses  tersebut harus mengungguli kompetitornya jika ingin bertahan dan menang dalam persaingan,

Setiap orang harus  mampu memimpin, kunci utama filosofi Lead Without a Title.  Setiap individu tanpa memandang batasan usia, jenis kelamin, asal , serta pendidikan, harus mampu membangkitkan jiwa kepemimpinan dalam dirinya, serta meraih hasil dalam hitungan menit. 

Apakah Anda bersedia melakukan hal yang kurang disukai orang lain? Walau sebenarnya Anda juga tidak suka melakukannya? Selamat! Anda telah memiliki naluri untuk menjadi pemimpin sejak lahir.  Tinggal terus berlatih untuk menjadi pemimpin melalui proses pembelajaran. Teknik pengulangan merupakan cara yang paling direkomendasikan untuk belajar.

Setiap individu memiliki  perannya masing-masing dalam organisasi. Ia bebas memandang seperti apa peran dirinya dalam organiasi.  Merupakan suatu kebebasan dalam hidup jika ia bisa menemukan perannya serta selalu berpikirin  positif dalam  dalam segala kondisi.

Terdapat lima aturan dalam memimpin tanpa jabatan. Mulai dari   Innovation; Mastery (menguasai); Authenticity (autentitas); Guts (naluri); serta Ethics (Etika). Untuk memudahkan disingkat menjadi IMAGE. Terapkan, dan rasakan perubahannya pada diri Anda.

Filosopi Memimpin Tanpa Jabatan dibentuk melalui prinsip Masa-masa Bergejolak Membentuk Pimpinan Hebat dengan lima aturan yang harus dipahami dan dimengerti tiap individu dalam organisasi-SPARK. Cobalah untuk menelaah dan menerapkannya pada kehidupan sehari-hari dalam organiasasi.

Dimulai dari Speak with Cander (bicara terus terang); Prioritize ( tentukan prioritas); Advertensity Breeds Opportunity (kesulitan melahirkan kesempatan); Respond Versus React (respon versus reaksi); serta Kudos to Everyone (penghargaan untuk setiap orang)-SPARK.

Sering kali orang menganggap urusan bisnis adalah perihal uang semata, padahal lebih dari itu. Intinya justru adalah berhubungan dengan seseorang,  serta menambah nilai kepada orang lain.Uang akan mengikuti, karena orang akan sangat senang berbisnis dengan  sosok yang mereka sukai.

Ada lima aturan yang sebaiknya Anda pahami dan terapkan.  Yaitu Helpfulness (tolong-menolong);  Undestanding (pengertian); Mingle (membaur); Amuse (gembira) serta Nutture (merawat)-HUMAN. Manusia memang merupakan hal penting dalan berbisnis.

Disajikan dengan mempergunakan tokoh seorang penjaga toko buku dan mentornya, buku ini membuka pikiran Anda bahwa pada dasarnya setiap orang  adalah pemimpin. Bahwa tidak diperlukan jabatan tertentu untuk bisa jadi pemimpin pada sebuah organisasi. Yang dibutuhkan justru adalah kemampuan memimpin yang ada dalam diri setiap orang, menunggu untuk dikembangkan secara optimal, hingga mampu menjadikan Anda seorang pemimpin sejati.

Tokoh seorang penjaga buku jelas merupakan godaan bagi penggila buku seperti saya. Sebuah nilai tambah lagi. Apa lagi uraian yang ada disampaikan  dibuat dengan cara bercerita sehingga lebih mudah untuk dipahami.

Buku ini cocok untuk dibaca oleh para motivator, ASN, manager, para purnabhakti, mereka yang ingin maju dalam karier, penikmat kisah inspiratif dan pastinya kaum muda. Banyak pempelajaran yang bisa dipetikmanfaat dari buku ini.

Robin Sharma, pendiri Sharma Leadership International, Inc, merupakan  salah satu pembicara dunia tentang kepemimpinan organisasi serta pribadi.  Sebuah  survei independen lebih dari 22.000 pengusaha menempatkannya berada dalam peringkat kedua dari The Top 5 Leadership Experts in the World. Buku-buku lainnya seperti The Greatnes Guide dan The Monk Who Sold His Ferrai terjual hingga jutaan kopi dan telah diterjemahkan dalam tujuh puluh bahasa.

Guna membantu anak-anak mengembangkan potensinya sebagai pemimpin, Robin Sharma mendirikan The Robin Shrama Foundation for Children. Selain itu ia juga mendirikan 960verts.com, sebuah situs pelatihan maya bertujuan membantu veteran korban perang Amerika beralih ke kehidupan sipil