Sabtu, 16 Juli 2022

2022 #19: Study in Mikrolet

Penulis: Agung Al Badamy
Editor: Selfietera
Halaman: 207
Cetakan: Pertama-Oktober 2017 
Penerbit:  Phonex Publisher
Rating: 3.25/5

Hanya di tempat yang gelap sempurna, kita mampu melihat berkas cahaya.
-Study in Mikrolet, hal 105-

Buku dengan kover hitam ini juga saya peroleh dari Mas Teguh. Suatu kebetulan! Mengingat buku beliau juga didominasi dengan warna hitam. Judulnya unik, jika diterjemahkan secara harafiah menjadi Belajar di Mikrolet.

Semula saya agak ragu membaca buku ini, karena mengira termasuk buku yang biasanya dibuat untuk konsumsi remaja, ala percintaan alay. Ditambah melihat ilustrasi  mobil yang ada, jauh dari bentuk mikrolet yang dijadikan judul kisah. Jika kisahnya terkait mikrolet, kenapa ilustrasinya bukan mikrolet?

Iseng, mencoba menilik ke GRI. Ternyata ada versi lain. Ratingnya lumayan juga.  Versi yang ada di GRI sudah mempergunakan mikrolet sebagai ilustrasi. Lengkap dengan ISBN. Saya tak tahu apa berbedaan dengan yang saya miliki, namun tak ada salahnya mencoba membaca. Jika ingin mengintip versi lainnya bisa meluncur ke  sini.

Setelah Persembahan, dalam Daftar isi terlihat bahwa buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama diberi judul Undangan Kematian, yang terdiri dari beberapa sub bagian, antara lain Belajar di Mikrolet;  Petualangan Beruang Merah; Jengkol Sang Ahli Mesin; Undangan Kematian; hingga Drama Terakhir.

Sementara bagian kedua diberi judul Semarang-Sidoarjo. Terdapat 6 sub bagian, mulai dari Pak Erot;Teka-teki di Sidoarjo; Mbah Maherel, hingga Pesta Pura Durjana. Ditambah Epilog dan informasi tentang penulis.

Dikisahkan seorang pria muda-Gaston  tergesa-gesa duduk dalam mikrolet di bagian depan. Sang supir menyodorkan helm full face padanya. Suatu perbuatan yang aneh, apa gunanya helm dalam mikrolet? Ternyata memang sangat berguna jika sang supir mengemudi ala pembalap formula.

Chilock, demikian nama sang supir ternyata seorang pengamat ulung. Ia bisa mendapat informasi tentang seseorang dari hanya mengamatinya saja. Misalnya, ia tahu di mana seorang penumpang akan turun walau ia tak memberitahukan. 

Bersahabatan keduanya yang baru seumur jagung, berkembang kian menarik. Terutama ketika Gaston menemani Chilock memecahkan sebuah misteri pembunuhan atas ajakan detektif sahabatnya. Gaston yang sejak awal sudah kagum akan kemampuan deduksi Chilock kian dibuat terpesona.

Apalagi ternyata, dalam peristiwa yang sedang diselidiki tersebut, ada sosok lain yang juga memiliki kemampuan deduksi seperti Chilock. Sayangnya keduanya ternyata memiliki urusan dimasa lalu yang kurang menyenangkan.

Bagian pertama cukup menghibur. Misteri yang dibuat lumayan membuat penasaran, walau ada beberapa hal yang membuat saya harus membaca ulang beberapa uraian.  Terutama pada bagian pemecahan. Ada penjelasan yang mendadak begitu saja muncul, padahal sebelumnya tak pernah disinggung.

Sementara untuk bagian kedua, entah bagaimana meski disebutkan memang perlu dibuat, kesannya terlalu dipaksakan. Kalau pun harus dibuatkan bagian khusus yang membahas tentang salah satu sosok dalam kisah, tak perlu melebar menjadi sekian banyak halaman.

Semangat membaca  saya yang semula begitu berkobar-kobar, langsung luluh ketika membaca bagian kedua. Seakan penulis berupaya menunjukkan kemampuan menulisnya melalui  penjelasan banyak hal sedetail mungkin. Padahal ada beberapa hal yang sebaiknya dibiarkan begitu saja.

Asal mula kedua tokoh utama juga diuraikan dalam buku ini. Termasuk apa yang membuat Gaston mendadak bisa berada dalam mikrolet yang dikemudikan oleh Chilock. Keberanian Gaston untuk menerima tawaran tinggal sementara di tempat Chilock menunjukkan betapa  galau dan kacau perasaannya, hingga mau diajak tinggal bersama orang tak dikenal.

Kisah dalam buku ini, mengingatkan pada pasangan Watson dan Holmes, serta  persahabatan antara Kapten Arthur Hastings dan Hercule Poirot.  Alamat kost Chilock disebutkan Jalan Bakery nomor 122A, kamarnya berada di lantai 2. Sementara itu  Inspektur Gembret sahabatnya, mengingatkan pada Inspektur Japp.

Tapi, ada juga bagian yang mengingatkan saya pada Detektif Kogoro Mouri yang  dikenal sebagai Kogoro Tidur karena dianggap memecahkan misteri sambil tidur. Ia merupakan karakter fiksi dalam anime dan manga Detektif Conan. Meski Poirot juga melakukan pemaparan misteri dengan gaya mengumpulkan semua orang yang dianggap terlibat.

Jelas tidak bisa menyalahkan penulis jika mengambil ide dari kedua pasang tokoh detektif kenamaan tersebut. Para pencinta kisah detektif sudah sangat akrab dengan sosok keduanya. Seakan-akan detektif harus memiliki pendamping. Seperti Kapten Kosasih dan Gozali, karya S. Mara Gd. Kesempatan menerjemahkan karya Agatha Christie membuat beliau mampu menciptakan duo sosok tersebut dengan apik.

Ditambah lagi, pada kover bagian dalam ada  tulisan Penelusuran Benang Merah. Selain menunjukkan bacaan seperti apa yang digemari penulis, hal ini bisa dianggap  menunjukkan  siapa penulis kisah misteri yang mempengaruhi karyanya.

Dalam Goodreads disebutkan bahwa Penelusuran Benang Merah adalah buku pertama dari serial Sherlock Holmes karangan Arthur Conan Doyle. Dalam buku tersebut, pertama kali Dr. Watson bertemu dan berkenalan dengan Holmes. Dalam buku ini demikian juga, pertama kalinya Gaston bertemu dengan Chilock. 

Dengan judul asli A Study in Scarlet, kisah yang terbit pertama kali tahun 1887  di Beeton's Christmas Annual, bisa disebut sebagai kisah detektif pertama kali yang memperkenalkan manfaat kaca pembesar sebagai alat  bantu dalam melakukan penyelidikan.

Pada situs berikut, disebutkan bahwa cerita detektif memiliki ciri khas, yaitu ragam cerita yang mengungkapkan rahasia suatu pembunuhan. Dalam cerita detektif pertama-tama harus ada mayat atau peristiwa kematian sebagai hasil kejahatan (crime) atau pembunuhan. Untuk mencapai efek ketegangan, dalam alur pokok cerita detektif selalu diselingi flashback, yakni secara bertahap diperlihatkan apa yang menjadi motif pembunuhan dan siapa pelakunya.

Selanjutnya disebutkan bahwa dalam proses pengungkapan rahasia itu terlebih dulu diciptakan konflik berupa kesimpangsiuran atau keragu-raguan tentang siapa pelaku pembunuhan. Setiap orang yang pernah berhubungan dengan korban tak luput dari sasaran kecurigaan. 

Di akhir cerita baru ditunjukkan bahwa ternyata pelaku pembunuhan bukan orang yang disangka-sangka. Ia bisa orang terdekat dengan korban, salah satu anggota keluarganya, anak wayang yang belum balig, orang yang sudah tua renta, dan sebagainya dengan berbagai alasan yang sangat berkaitan dengan kejiwaan yang mengalami gangguan (pathologist).

Di tanah air, angkutan kota-angkot dimulai pada tahun 1943, zaman penjajahan Jepang. Tujuan semula adalah agar warga bisa bepergian dengan kendaraan bermotor.   Dalam KKBI, mikrolet/mik·ro·let/ /mikrolét/ adalah  alat angkutan umum penumpang di kota (mirip mikrobus). Mikrolet merupakan singkatan dari mikro oplet.

Hem..., jika dalam buku ini kedua tokoh utama saling bertemu, apakah ada kemungkinan muncul buku-buku selanjutnya? sayang saja jika potensi yang ada tidak diasah dan dikembangkan secara optimal.


Sabtu, 09 Juli 2022

2022 #18: Menikmati Arum Manis

Judul asli: Arum Manis
Penulis: Teguh Affandi
Editor: Mirna Yulianti
ISBN: 9786020661964
Halaman: 149
Cetakan: Pertama-Mei 2021
Penerbit: PT Gramedia Pustaka
Harga: Rp 75.000
Rating: 4/5

Api membesar. Suara emprit bersuitan, suara ayam berkokok ketakutan. Sesaat sebelum Kiai Toha sadar bahwa belum disaksikannya Tuhan keluar dari rumah Melly. Bila demikian, sama saja dia memerintahkan membakar Tuhan. Dia lari ke depan. Dengan surban serta gerakan tangan seadanya, Kiai Toha berusaha memadamkan api. Andung mencegah, karena takut orang suci itu jatuh mati dalam kobaran.

 - Arum Manis, hal 93-

Buku Arum Manis: Cerita Bukan tentang Cerita Kita merupakan buku perdana dari Mas Teguh, begitu saya bisa menyapa sang penulis. Setelah menempuh "kehamilan" selama 10 tahun, akhirnya "anak pertama" Mas Teguh lahir juga. Kami, para sahabat mendukung dengan cara sederhana, membeli buku versi original buku ini.

Pada halaman awal, pembaca akan menemukan  kutipan dari tokoh Patrick Star. Yups! Patrick yang ada dalam serial  Spongebob Squarepants. Jangan  biarkan hatimu berjalan menjauh, kecuali pikiranmu memiliki kaki dan mengikutinya, begitu katanya. Sepertinya penulis sangat mencintai dan terinspirasi oleh tokoh bintang laut itu.

Kata pengantar dengan judul Duice et Utile  sepanjang lebih dari 5 halaman dari Budi Darma, menyambut pembaca menikmati kisah dalam buku ini. Sungguh beruntung, seorang Budi Darma masih sempat menyempatkan waktu untuk memberikan kata pengantar bagi karya perdana. Kata pengantar tersebut ditulis tahun 2019, sebelum beliau wafat.

Setelah itu,  pembaca akan menemukan aneka kisah yang secara keseluruhan terbagi dalam tiga bagian utama. Bagian pertama, Saya, berisikan  tujuh kisah. Mulai dari Tembok Apartemen yang Bicara; Arum Manis; dan Aroma Kenanga. 

Sementara bagian kedua diberi judul Anda, dimana terdapat  delapan kisah dalam bagian tersebut.  Hujan Mawar di Lempuyangan; Naga dalam Mulut Kartika; Perjamuan Serigala; hingga Kematian Calon Pengarang. 

Sedangkan bagian terakhir berjudul  Dia, memuat tujuh,  Radian dan Kulkus Barunya; Olfaktori; Angin Tak Dapat Membaca; dan Pohon Pu Tao Tua. Sebagai tambahan informasi, pada bagian akhir terdapat Riwayat Publikasi, serta informasi Tentang Penulis.

Rasanya tak perlu meragukan kepiawaian seorang Teguh dalam meracik kata. Seiring waktu,  keterampilannya meningkat, terasah dengan berbagai tempaan, yaitu tugas sebagai editor. Panjangnya riwayat publikasi karya merupakan bukti tak terbantahkan.

Setelah membaca kisah  Tembok Apartemen yang Bicara, ungkapan yang pas adalah, kecepatan gosip melebihi kecepatan cahaya. Aroma Dapur Tetangga, membuat saya tertawa karena teringat kisah seseorang. Ia lupa rumah yang berhempit membuat suara sekecil apapun bisa didengar tetangga, termasuk suara erangan nikmat saat memadu kasih.

Peristiwa di Kedai Kopi memberikan pesan agar tidak sembarangan menyalahkan  hujan sebagai penyebab bersemainya kembali cinta. Bukan salah hujan, tapi salahkan dirimu yang bertindak bodoh! 

Jemini dan Tuan Busu Klaten, mengajarkan kita untuk menghormati orang dengan tidak bisa  bersikap seenak udel. Apalagi orang itu orang yang memberi kita pekerjaan. Cari mampus saja!

Kisah Arum Manis yang diangkat menjadi judul buku ini, membuat saya tertawa dan (nyaris) menangis secara bersamaan. Tertawa karena teringat pada kekonyolan yang  (mungkin juga pernah) dilakukan saat anak-anak, serta jajanan kegemaran.

Selanjutnya (nyaris) menangis, karena membayangkan kelakukan bejat seseorang telah menimbulkan trauma berkepanjangan, bahkan menghancurkan kehidupan seorang anak kecil! Penulis berhasil meluluhlantahkan perasaan saya. Hiks... tertawa diawal, menangis kemudian.

Rasa cinta dan setia ternyata tidak abadi, bisa hilang dikarenakan hal tak terduga. Demikian kesimpulan saya setelah menamatkan kisah Aroma Kenanga. Alih-alih setia dan mendampingi istri, tokoh aku dalam kisah ini justru lebih memikirkan tentang kenanga yang tumbuh pada sosok perempuan lain. 

Dan..., masih banyak lagi kisah memukau yang bisa ditemukan dalam buku ini. Tiap kisah yang disajikan, membutuhkan seni tersendiri untuk menikmatinya. Buka pikiran untuk menikmatinya. Seperti kata Budi Darman, Fiksi bisa "tidak masuk akal" karena pengaruh imajinasi pengarangnya, dan bisa juga "masuk akal" karena pengarang tidak lain adalah produk berbagai permasalahan sosial.

Jika dicermati, banyak metafora yang akan ditemui. Mas Teguh mempergunakan aneka  buah dan sayuran. Bahkan pada tiap awal bagian, terdapat gambar apel, atau jeruk ya, serta pisang pada beberapa bagian.

Kelebihan lain adalah kisah yang ada dalam buku ini memiliki kemiripan dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin tidak semua, namun bagi saya lumayan mengalami beberapa hal. Hayo tebak yang mana he he he.

Secara keseluruhan, selain membuat perasaan saya membaca naik-turun seperti roller coaster, buku ini membuat saya melanggar beberapa aturan yang saya buat sendiri untuk menikmati sebuah buku.Dimulai dengan membaca secara berurutan, padahal biasanya untuk buku jenis ini saya akan mulai membaca dari judul kisah yang diambil menjadi judul buku.

Menurunkan kecepatan membaca, adalah langkah selanjutnya. Isi buku ini bak candu, seperti layaknya  Aroma Kenanga, ingin terus dbaca.  Tapi saya harus pandai mengatur rasa kecanduan saya. Sehingga buku ini bisa dinikmati lebih lama.

Selain hiburan, pembaca juga mendapat pengetahuan. Misalnya perihal perbedaan mangga pakel dan kueni di halaman 61. Konon di tanah air  menurut laman  berikut, terdapat 13 jenis mangga yang populer di tanah air. 

Menurut situs tersebut, mangga Kweni (dalam buku tertulis kueni)  berbentuk lonjong, dengan ujung membulat, tidak berlekuk dan berparuh. Bobotnya rata-rata 350 g, dan panjangnya sekitar 11 cm.Kulit buah halus berlilin, yang terdapat bintik- bintik berwarna putih kehijauan. Buah yang sudah masak, bagian pangkalnya berwarna hijau. Daging buah berwarna kuning, berair dan berserat kasar, beraroma khas kweni. Rasanya cukup manis dengan sedikit rasa terpenti.

Sementara mangga Pakel, buahnya lonjong, dengan panjang antara 12-15 cm. Warnanya hijau kelabu. Permukaan kulit buah terdapat bercak berwarna coklat, dan bergetah. Daging buah memiliki serat yang kasar, rasanya sedikit asam dengan sedikit rasa manis bercampur rasa terpentin. Aromanya khas yang cukup kuat. Bobot buah bisa mencapai 500 gram.

Untuk urusan kover, andai ada penilaian tersendiri, saya akan memberikan bintang 5. Kover karya Orkha Creative terbilang unik, ditambah dengan warna hitam yang menjadi latar. Mengambil mangga untuk menyesuaikan dengan judul kisah sepertinya hal yang umum akan dilakukan oleh banyak orang. 

Tapi mengubah mangga menggantikan gambar anatomi organ tubuh, sepertinya jarang dilakukan orang. Coba diingat, dalam salah satu buku pelajaran sekolah, ada gambar tentang organ dalam tubuh manusia. Gambar dalam kover ini menyerupai hal tersebut, hanya bedanya semua organ diganti dengan mangga.

Maka, saya meletakkan buku ini di atas tumpukan mangga di kedai buah, kemudian mulai memotret. Rencananya untuk dijadikan tampilan kover catatan ini. Sayangnya peristiwa kehujanan membuat foto-foto tersebut raib. Dan saya yang jadi eror, butuh waktu lumayan lama untuk bisa mencari ide lagi. Maafken Mas Teguh, padahal catatan ini sudah selesai dibuat saat launching lalu.

Saya beruntung karena ikutan pemesanan awal sehingga mendapat beberapa  bonus. Salah satu yang paling membuat saya teringat pada sosok Mas Teguh adalah lembaran Angka Kecukupan Gudrids (AKG).  Lembar yang berisikan informasi perihal jumlah cerpen dan judulnya, mengingatkan pada kebiasaan Mas Teguh untuk mempergunakan kertas sebagai pembatas buku. Jadi adaikata pembatas buku asli buku ini raib, ada cadangannya.

Tentunya kata Gudrids yang ada tidak berhubungan dengan situs pembaca Goodreads. Sekedar seru-seruan semata. Ide yang menarik sebenarnya. Pembaca jadi bisa tahu ada kisah apa saja dalam buku ini tanpa perlu membuka Daftar Isi.

Jika ada yang ingin berkomunikasi dengan Mas Teguh, bisa meluncur ke IG: Teguh Afandi, twitter:@afaditeguh, atau surel teguhafand@gmail.com.

Jadi pingin menikmati buah mangga original, yuk....







Sabtu, 02 Juli 2022

2022 #17: Kisah Seorang Perawan Desa

Judul asli: Perawan Desa
Penulis: W.R. Supratman
Editor: Bandung Mawardi
ISBN: 9786237245834
Halaman: 100
Penerbit: bukuKatta
Harga: Rp 60.000
Rating: 3/5

"Itu belum seberapa. Orang Belanda kalau dihukum di bui Semarang masih enak. Dapat makanan baik, roti dan kentang, tidur pakai bulzak, bisa belajar ini dan itu sehingga mereka malah senang sekali. Keluar dari bui ada yang bisa dapat diploma. Tetapi, orang Bumiputera, bagaimana? Kalau jadi orang rantai, belum tentu ia tidak mati."

- Perawan Desa, hal 32-

Kereta api-Sneltrein bisa dikatakan merupakan alat transportasi yang sudah ada sejak zaman dahulu. Dengan tarif relatif murah dan jangkauan tempuh yang luas, tak heran jika menjadi pilihan banyak orang. Demikian juga dua orang gadis dalam kisah ini. Sitti Adminah  alias Mince dan Sarlilah alias Sarce memilih kereta api untuk berpergian ke Bandung pada Sabtu, 3 Juni. 

Perjalanan yang semula ditempuh berdua,  menjadi kian ramai  dengan kehadiran  Subagio, Seorang pria yang   menaiki kereta saat mulai melaju. Kebetulan hanya di tempat mereka masih tersedia tempat kosong, maka Subagio meminta izin untuk bergabung.  

Sepanjang jalan, mereka  menghabiskan  waktu dengan berbagai kegiatan, salah satunya mengobrol dan membaca.  Salah topik adalah tentang berita seorang Belanda bernama Van Stelan, pegawai departemen Financien yang mencuri uang milik Gouvernement dalam jumlah lumayan. Ketiganya kemudian berpisah dengan riang gembira dengan janji akan bertemu jika dapat.

Selanjutnya,  buku ini mengisahkan tentang bagaimana kehidupan masyarakat saat itu. Misalnya pada bagian IX, Desa Ciharum, mengisahkan tempat tinggal Sitti Adminah. Demikian juga dengan bagian XI, Paman Tani. 

Bagaimana perbedaan perihal pernikahan antara anak-anak Belanda dengan bangsa kita, juga dibahas dalam buku ini.  Ada juga bagian yang mengisahkan tentang sebuah peristiwa yang nyaris membuat Subagio dihajar penduduk kampung.

Mince yang  mendapat pendidikan HBS di Batavia dan hidup dalam lingkungan pergaulan Eropa, mulai merasakan kebosanan berada di kampung halaman. Tak ada teman yang bisa diajak bercakap-cakap, tak ada undangan pesta yang harus didatangi. Maka ketika Subagio datang untuk menjenguk, disambutnya dengan hati riang.

Apa yang kemudian terjadi antara keduanya, dijelaskan dengan kalimat kiasan dengan sejuta makna, membuat pembaca mengartikannya sendiri. Di situlah gadis dan pemuda itu bersenang-senangan, Bulu Badannya berdiri, atau Perasaan kedua orang muda itu baik dikira-kirakan saja. Mereka berpeluk-pelukan, bercakap-cakap, dan bercium-ciuman."

Kisah ini ditutup dengan hal yang mungkin sudah bisa ditebak oleh pembaca saat ini. Perlu diingat, saat kisah ini dibuat, gaya bercerita seperti yang digunakan oleh penulis berbeda dengan gaya bercerita yang biasa digunakan saat ini. 

Penulisan nama, Siti Adminah dan Sarlilah menjadi Mince dan Sarce, serta pembicaraan perihal  orang Indonesia yang bergaya hidup meniru bangsa Eropa, bisa kita anggap merupakan penjabaran bagaimana kehidupan sosial saat itu.  

Bagi banyak masyarakat ketika, sepertinya ada keinginan untuk meniru kehidupan bangsa Eropa. Dari sekedar nama panggilan, cara berpakaian,hingga bagaimana pandangan mereka tentang kehidupan. Seperti tokoh dalam kisah ini.

Kisah ini juga menampikan sosok penjahat. Ternyata penjahat tersebut sering dikira  sebagai seorang pribumi. Ia telah memakan banyak korban. Seorang Nyai bahkan melaporkannya juga. Hal ini seakan memberikan pesan ketidaksukaan mendalam dari penulis pada Belanda.

Surat kabar Sin Po juga disebut dalam kisah ini. Sebagai salah satu kontributor, sepertinya penulis tak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa mempromosikan korannya. Termasuk juga dengan menyelipkan adegan membaca koran dalam kisah ini.

Untuk kover, kereta api dan seorang gadis, sudah sangat mengambarkan kisah yang ada dalam buku ini. Sebelum membaca, andai saya tidak membaca blurd, maka dengan melihat kover, saya akan menebak bahwa ini kisah tentang seorang gadis yang bepergian dengan kereta api.

Pakaian yang dikenakan oleh sang gadis, langsung mengingatkan pada pakaian yang dipakai para pemain di film perjuangan. Pakaian yang digunakan noni-nona Belanda. Sedangkan warna coklat, membuat kesan klasik.

Karena saya membeli saat PO, maka saya termasuk beruntung mendapatkan bonus buku Lagu-lagu Ciptaan W.R. Supratman karangan Mas Yud yang dicetak terbatas, serta sebuah  mini notes eksekutif.

Mungkin saya adalah satu dari sekian banyak orang yang tak tahu tentang novel ini. Mengenai sosok W.R. Supratman yang merupakan seorang jurnalis, sudah banyak orang yang mengetahui. Termasuk perihal bagaimana sang kakak ipar-Willem van Eldik,  membuatnya jadi menyukai musik dan piawai memainkan biola. 

Penerbit ini sempat memberitahu saya bahwa setidaknya tercatat ada  tiga roman karya  W.R. Supratman, yaitu Perawan Desa, Darah Moeda dan Kaoem Fanatiek. Perawan Desa  dicetak sebanyak 2.000 eksemplar, tapi belum sempat diedarkan sudah disita karena dianggap bacaan yang harus dimusnahkan.

Secara keseluruhan, buku ini perlu dibaca oleh mereka yang ingin mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat ketika itu. Tepatnya sekitar saat Kongres Pemuda II. Bagi para sastrawan serta mereka yang bekerja dalam dunia penulisan, buku ini bisa menjadi inspirasi. Mereka yang mengagumi sosok W.R. Supratman tentunya akan menyukai buku ini.

Sang penulis, Wage Rudolf Soepratman(sering ditulis W.R. Supratman),  lahir 19 Maret 1903, wafat 17 Agustus 1938 merupakan seorang  guru, wartawan, violinis, dan komponis . Sosok  beliau  dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia, "Indonesia Raya", serta merupakan anggota dari grup musik jazz Black and White Jazz Band. 
https://holopis.com/

Hari Musik Nasional  ditetapkan berdasarkan tanggal lahir versi pertamanya, 9 Maret.  Beliau mendapat diberikan gelar sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan surat keputusan Presiden RI No.16/SK/1971 tanggal 20 Mei 1971. Melalui Surat Keputusan Presiden RI No.017/TK/1974 tanggal 19 Juni 1974 Presiden RI, beliau mendapat anugerah Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama.

Dikutip dari  https://www.kai.id, sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Desa Kemijen oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele tanggal 17 Juni 1864. Pembangunan dilaksanakan oleh perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) menggunakan lebar sepur 1435 mm.

Sementara itu, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api negara melalui Staatssporwegen (SS) pada tanggal 8 April 1875. Rute pertama SS meliputi Surabaya-Pasuruan-Malang. Keberhasilan NISM dan SS mendorong investor swasta membangun jalur kereta api seperti Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM), Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), Probolinggo Stoomtram Maatschappij (Pb.SM), Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM), Malang Stoomtram Maatschappij (MS), Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM), Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).

Selanjutnya, disebutkan juga bahwa saat ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki tujuh anak perusahaan/grup usaha yakni KAI Services (2003), KAI Bandara (2006), KAI Commuter (2008), KAI Wisata (2009), KAI Logistik (2009), KAI Properti (2009), PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (2015). 

Tahun 2022 ini, KAI juga mendapat banyak penghargaan, yang terbaru pada Maret 2022 adalah  Penghargaan untuk Kategori Perlindungan Konsumen di Masa Pandemi  dari  Harian Pagi Tribun Jawa Barat dalam kegiatan   Editor Choice Award.

Buku yang luar biasa!

Sumber Gambar:
https://holopis.com/

---------------------

Seperti yang pernah saya sebutkan, membaca sebuah buku dengan membuat komentar atas buku tersebut merupakan dua hal yang membutuhkan kecepatan berbeda. Saya bisa membaca dengan cepat,membuat komentar juga tak butuh lama. Tapi  mencari foto kover yang menarik, beda lagi urusannnya.

Setelah beberapa hari sebelum sampai kantor, saya sengaja turun di stasiun Pancasila. Niatnya menunggu ada dua kereta yang bersisihan, dengan buku ini berada di antara kereta tersebut. Berhasil! Tapi karena HP saya iseng ikutan mandi hujan, maka harus diopname. Beberapa foto raib! Jangan ditanya bagaimana, begitu faktanya.

Suasana hati langsung kacau, Butuh beberapa hari untuk bersemangat lagi untuk mencari foto. Walau hasilnya tak seperti foto awal. Begitulah saya, kadang suasana hati berpengaruh juga ^_^.

Rabu, 29 Juni 2022

2022 #16: Seputar Perpustakaan, Buku, dan Penerbitan

Judul asli: Perpustakaan dan Buku: Wacana Penulisan & Penerbitan
Penulis:Wiji Suwarno
Editor: Meita Sandra
ISBN: 9789792548648
Halaman: 139
Cetakan: Kedua-2020
Penerbit: Ar-Ruzz Media
Harga: Rp 46.000
Rating: 3.25/5 

Perpustakaan dan buku seperti halnya keping mata uang, berbeda tapi untuk menjadi bernilai keduanya harus ada. 
-Perpustakaan dan Buku: Wacana Penulisan & Penerbitan hal 30-

Buku setebal 139 halaman ini  berisikan  penjabaran 3 dunia, yaitu dunia perpustakaan;  dunia buku, termasuk hak cipta buku,  bagaimana teknis menulis yang benar; serta seputar dunia penerbitan. Menarik bukan? Beberapa buku yang pernah saya baca hanya membahas tentang perpustakaan saja, teknik menulis atau hanya tentang seluk-beluk menerbitkan buku.

Terdiri 8 bagian, mulai dari Pendahuluan; Empat Pilar Perpustakaan; Buku dan Aspeknya; Terbitan Buku di Perpustakaan; Katalog,  KDT dan ISBN; HAKI;Teknik Menulis Buku; dan Memacu dan Memicu Minat Baca Dari Perpustakaan. Tentunya ditambah dengan Daftar Pustaka; Indeks; serta Biografi Penulis.

Sesuai dengan judulnya, Pendahuluan; Empat Pilar Perpustakaan, serta Terbitan  Buku di Perpustakaan isinya menekankan perihal perpustakaan serta buku yang ada dalam koleksi perpustakaan. Sementara    Buku dan Aspeknya,  serta Katalog,  KDT dan ISBN menekankan informasi seputar buku.  HAKI dan Teknik Menulis Buku memberikan informasi bagaimana hak cipta terkait dengan karya berupa buku, serta cara menulis sebuah buku. 

Bagian Memacu dan Memicu Minat Baca Dari Perpustakaan, bisa disebut merupakan bagian yang terkait dengan ketiga komponen, perpustakaan, buku, serta penerbitan. Judul yang unik, membuat saya penasaran dengan arti memacu dan memicu, kenapa harus ditulis keduanya ya?

Kata memacu menurut KBBI adalah membuat agar berlari cepat; mencepatkan, seperti tertera di  sini.  Sedangkan memicu adalah menarik  picu; menggerakkan sesuatu yang berakibat membahayakan. Lebih jelasnya ada di sini. Hem, jadi apakah kedua kata tersebut tepat digunakan? Silakan tentukan sendiri ^_^
 
Bagian yang mengulas tentang perpustakaan, membuat saya teringat pada  Ibu Luki Wijayanti, Kepala Perpustakaan UI diawal saya bergabung. Saya yang tak punya ilmu tentang perpustakaan, banyak belajar dari obralan dan arahan beliau. Berbekal dengan pengetahuan dan pengalaman seputar buku, membuat saya bekerja berdasarkan ilmu praktis alias learning by doing..

Jika kita membuka buku, ada halaman yang membuat informasi terkait buku. Dari info siapa penulis, alih bahasa jika buku terjemahan, ISBN, halaman, hingga KDT. Meski sama-sama dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional RI, keduanya merupakan hal yang berbeda.  Katalog Dalam Terbitan (KDT), memberikan deskripsi tentang buku tersebut, antara lain nama penulis; judul buku; edisi; deskripsi fisik; dan ISBN.

ISBN-International Standard Books Numbers, merupakan sederetan angka unik yang menjadi ciri sebuah buku. Bisa dikatakan, ISBN merupakan KTP-nya buku.  Dengan demikian sebuah buku menjadi mudah dibedakan dibandingkan buku yang lain. Meski demikian, saya sering menemukan buku yang ketika dicek ISBN-nya ternyata  juga dipakai buku lain.

Mengutip dari laman Perpustakaan nasional RI,  ISBN diberikan oleh Badan Internasional ISBN yang berkedudukan di London. Di Indonesia, Perpustakaan Nasional RI merupakan Badan Nasional ISBN yang berhak memberikan ISBN kepada penerbit yang berada di wilayah Indonesia. 

Selanjutnya disebutkan, Perpustakaan Nasional RI mempunyai fungsi memberikan informasi, bimbingan dan penerapan pencantuman ISBN serta KDT (Katalog Dalam Terbitan). KDT merupakan deskripsi bibliografis yang dihasilkan dari pengolahan data yang diberikan penerbit untuk dicantumkan di halaman balik judul sebagai kelengkapan penerbit.

Mengacu pada judul bagian ini, tertulis Katalog, KDT, dan ISBN, namun kenapa yang dibahas hanya KDT serta ISBN? Jika dicetak ulang lagi,  bagian ini sebaiknya disesuaikan. Bisa dengan menambahkan uraian tentang apa yang dimaksud dengan Katalog, atau mengganti judul dengan KDT dan ISBN saja.  

Unesco memberikan definisi buku sebagai,  A book is a non-periodical printed publication of at least 49 pages, exclusive of the cover pages, published in the country and made available to the public. Seiring waktu, definisi tersebut ditambah dengan  setidaknya dicetak sebanyak 50 eksemplar dan  disebarkan pada khalayak umum.
 
Sedangkan dalam UU Sistem Perbukuan yang disahkan pada 27 April 2017  pada Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 menyebutkan  Buku adalah karya tulis dan/atau karya gambar yang diterbitkan berupa cetakan berjilid atau berupa publikasi elektronik yang diterbitkan secara tidak berkala. 

Selanjutnya pada Bab II: Bentuk, Jenis, dan Isi Buku, Pasal 5 menyebutkan,  Buku cetak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan karya tulis yang berupa teks, gambar, atau gabungan dari keduanya yang dipublikasikan dalam bentuk cetak.

Pantas saya tidak pernah mendapatkan buku yang  kurang dari 49 halaman serta memiliki ISBN. Ternyata ada ketentuan khusus. Juga menjadi penengah keributan mana yang lebih baik antara buku cetak dan buku elektonik. Padahal semuanya tergantung pada kenyamanan membaca masing-masing orang (menurut saya).

Sekedar informasi, UU Sistem Perbukuan terdiri dari  XII Bab dan 72 Pasal. Bab I berisi  ketentuan umum. Bab II mengatur mengenai bentuk, jenis, dan isi buku. Bab III memuat aturan terkait hak dan kewajiban masyarakat dan pelaku  perbukuan. 

Sedangkan, Bab IV mengatur mengenai wewenang dan tanggung jawab pemerintah baik pusat dan daerah. Kemudian, Bab V memuat pemerolehan naskah buku. Bab VI mengatur tentang penerbitan, dan pencetakan Buku, serta pengembangan buku elektronik. Bab VII mengatur tata cara pendistribusian buku.

Bab VIII memuat aturan mengenai penggunaan buku. Bab IX memuat aturan terkait penyediaan buku. Bab X memberikan rambu-rambu terkait peran serta masyarakat. Adapun aturan mengenai pengawasan dicantumkan dalam Bab XI. Dan Bab XII memuat ketentuan penutup.
Menulis bukan saja sekedar menata huruf sehingga menjadi kalimat yang saling berhubungan.... Menulis adalah suatu keterampilan.
Setuju? Saya sangat setuju! Buku ini juga memberikan pengetahuan dasar apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang penulis. Bakat memang perlu, namun ada hal lain yang juga harus mendapat perhatian untuk bisa menjadi seorang penulis.

Perihal Indonesia yang disebutkan menduduki peringkat rendah terkait minat baca, sempat membuat keramaian. Hal tersebut kontras jika dibandingkan dengan animo ketika ada acara pembelian buku dengan potongan harga, serta jumlah buku yang laris manis terjual di Big Bad Wolf-BBW, terutama buku anak.

Seorang penulis muda berbakat bercerita bahwa di suatu daerah, minat baca rendah karena tidak ada buku baru yang menarik di perpustakaan setempat. Nyaris semua buku yang menjadi koleksi sudah dibaca masyarakat sekitar. Karena tak ada pengembangan koleksi, alias tidak ada buku baru, tentunya mereka malas untuk membaca.

Persoalan minat baca sebenarnya tak sesederhana itu. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Ada baiknya ketika buku ini mengalami cetak ulang, bagian Memacu dan Memicu Minat Baca Dari Perpustakaan, juga mengalami perubahan  dengan menambahkan topik atau mengulas peristiwa seputar minat baca yang sedang marak terjadi.

Terkait perpustakaan, ternyata tidak semua pustakawan menyukai kegiatan membaca. Padahal, seperti yang ditulis dalam buku ini, perpustakaan dan buku adalah dua sisi mata uang, saling melengkapi. Jika seseorang memilih menjadi pustakawan, wajar seandainya ia diharapkan menyukai kegiatan membaca, sehingga bisa melakukan pengembangan koleksi dengan cara memilih bahan pustaka (baca:buku) dengan tepat.

Hal ini berlaku bagi pustakawan yang bekerja di segala jenis perpustakaan. Beberapa pustakawan yang saya kenal berdalih bahwa tugas pustakawan tak hanya terkait buku, masih banyak hal lain. Memang betul, tapi rasanya aneh buat saya jika bekerja di tempat yang terkait buku tapi tak mencintai buku.

Beda halnya dengan mereka yang bukan pustakawan namun bekerja di perpustakaan.  Karena bisa saja mereka bertugas sebagai petugas kebersihan, atau bagian keuangan, yang tidak secara langsung berhubungan dengan tugas dan fungsi perpustakaan terkait buku.  Aneh, tapi tidak seaneh jika pustakawan yang demikian.  Ini menurut saya, jika ada yang memiliki pendapat berbeda, silakan saja ^_^.

Secara garis besar, buku ini perlu dibaca oleh para mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan. Bagi para pustakawan, buku ini bisa memberikan penyegaran pengetahuan. Sedangkan bagi para penggila buku, merupakan tambahan pengetahuan.

Pada beberapa bagian, pembahasan sebaiknya ditambah sehingga bisa memberikan pengetahuan yang lebih mendalam. Perihal DDC-Dewey Decimal Classification di halaman 60, misalnya. Minimal bisa menjadi pengetahuan tentang bagaimana mengelola buku, apalagi tersedia DDC daring.

Oh ya, sekedar berbagi bagi yang belum tahu,  teman-teman yang tak memiliki pengetahuan terkait ilmu perpustakaan namun ingin mengelola koleksi seperti perpustakaan, termasuk membuat koleksinya memiliki nomer di punggung buku-nomor panggil, bisa mencoba Slim's Senayan-Senayan Library Management System.

Sehabis membaca buku ini jadi ingin curhat. Banyak yang mengira saya adalah seorang pustakawan karena bekerja di perpustakaan (kala itu ^_^). Padahal tidak semua orang yang bekerja di perpustakaan adalah pustakawan.  

Butuh  pendidikan khusus, seperti lulus pendidikan resmi jurusan ilmu perpustakaan, atau mengikuti pendidikan seperti kursus terkait ilmu perpustakaan. Andai mereka sudah membaca buku ini, tentunya tidak akan salah.

Mau bagaimana lagi he he he. Kecintaan saya pada buku membuat saya mencintai  bekerja di perpustakaan. Penggila buku mana yang menolak bekerja dikelilingi buku? Kalau pun saat ini memilih meninggakan perpustakaan, itu karena ingin mewujudkan mimpi selanjutnya, memiliki perpustakaan sendiri plus Puri Little Women.

Buku yang menarik. 

Selasa, 21 Juni 2022

2022 #15: Kisah Cullen Post dan Quincy Miller

Judul asli: The Guardians-Para Pelindung
Penulis: John Grisham 
Barokah Ruziati
ISBN: 9786020659459
Halaman:440
Cetakan: Pertama-8 April 2022
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 107.000
Rating: 3.25/5


Kita berada di bisnis yang sama, bisa dibilang begitu. Kau Memecahkan kejahatan untuk mengurung orang. Aku memecahkan kejahatan untuk membebaskan orang.
-The Guardians-Para Pelindung, hal 293-

Kisah ini dbuka dengan sosok Duke Russell, 38 tahun,  yang sedang bersiap menikmati makan terakhir ketika ia mendapat informasi  perihal penangguhan hukuman matinya. Sang pengacara,  Cullen Post, mengaturnya menikmati santapan lezat tersebut sebelum akhirnya pihak penjara juga mendapat informasi. 

Selama empat tahun Post berjuang membuktikan Duke tidak bersalah  atas tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita bernama Emily Broone. Duke memang memiliki catatan kejahatan tapi tidak ada perihal kekerasan. Ia adalah korban salah tangkap, sementara penjahat sesungguhnya masih bebas berkeliaran di luar sana.

"Well, Mr Post, kelihatannya Anda benar. Klien Anda telah dibebaskan oleh tes DNA. Ketujuh rambut kemaluan itu milik Mr. Carter."  Vonis Duke atas dakwaan pemerkosaan dan pembunuhan tingkat satu  dibatalkan dan dicabut. Ia bebas! Sekarang giliran  penjahat sesungguhnya dihukum.

https://www.goodreads.com/book/
show/43701061-the-guardians


Cullen Post bukan sekedar pengacara, ia juga seorang pendeta Episkopal. Suatu ketika ia merasa  muak dengan kehidupannya sebagai pengacara kriminal. Dalam masa "mencari jati diri" ia bertemu dengan Vicki Gourley, pendiri Guardian Ministris yang dioperasikan di  Savannah, Georgia. Tujuan mereka adalah membebaskan  tahanan yang dianggap tidak bersalah atau salah tangkap dari hukuman.

Sejauh ini sudah lumayan klien  yang  mereka tangani. Sembilan orang berhasil mereka bebaskan, 1 orang gagal, beberapa  terbukti memang bersalah. Ada juga yang sedang dalam proses upaya pembebasan. Mereka sangat hati-hati ketika memutuskan untuk menerima klien. 

Klien selanjutnya adalah seorang pria  kulit hitam bernama Quincy Miller  yang ditahan selama 22 tahun dengan tuduhan membunuh pengacaranya, Keith Russo di Seabrook, Florida.

Bisa dikatakan Quincy Miller merupakan sosok yang direkayasa untuk dihukum demi kepentingan pihak-pihak tertentu. Terbukti dengan kejadian yang nyaris membuat nyawanya hilang ketika berlangsung proses banding. Seakan ada yang tak ingin ia bebas dan pembunuh sesungguhnya tertangkap.

Bukan Post  jika menyerah begitu saja. Ia bertahan dengan segala keyakinan bahwa kliennya tidak bersalah. Berbagai cara ia tempuh untuk bisa mendapatkan banding dengan menyodorkan bukti baru, termasuk menyewa  sebuah rumah yang dianggap telah dikutuk oleh penghuni terakhirnya.

Bagian ini, meski bukan hal utama, justru merupakan bagian favorit saya. Bagaimana Post mencari bukti guna menyelamatkan Quincy Miller sementara ada perasaan tak nyaman memasuki rumah yang sudah lama kosong, tanpa ada listrik untuk pencahayaan dan dianggap terkutuk. 

Meski tak ada adegan seru seperti kisah The Client, banyak juga bagian yang bisa membuat membaca merinding. Misalnya ketika  Tyler Townsend, pengacara yang membela Quincy dalam persidangan awal  bercerita perihal penculikan yang ia alami. Dimana ia menyaksikan orang dilemparkan hidup-hidup ke mulut buaya sebagai peringatan agar tidak membela Quincy.
https://www.goodreads.com/book/
show/55215679-cartada-final


Ternyata urusan tuduhan pembunuhan terhadap Keith Russo terkait dengan hal lain. Ada hal besar yang terjadi dibalik pembunuhan itu!  Tak heran jika banyak pihak yang tak ingin kasus ini dibuka lagi. 

Saya sempat berharap ada adegan seru dan menegangkan ketika membaca bagian yang menyebutkan seseorang yang diduga bagian dari kartel hadir dalam sidang. Ternyata kisahnya bisa dianggap berlangsung dengan lebih tenang.

Keberuntungan kali ini berpihak pada keduanya. Setelah berhasil menemukan bukti-bukti yang selama ini dicari, serta mendapat bantuan dari banyak pihak yang ternyata juga memiliki kepentingan dalam kasus ini. Jika boleh meminjam istilah, menggunakan ikan kecil sebagai umpan supaya mendapatkan ikan besar.

Kisah ini mirip dengan salah satu novel penulis, The Innocent Man-Tak Bersalah yang sudah diangkat menjadi Film Seri Dokumenter Netflix. Mirip dalam arti sama-sama tentang seseorang yang dipenjara atas tuduhan yang tak pernah ia lakukan. Singkatnya, akibat salah tangkap. Dan  kedua buku tersebut ditulis berdasarkan kisah nyata.

Kalimat dari The Innocent Man  yang paling membuat saya merinding sekaligus penasaran untuk membacanya adalah,
"Jika kau percaya bahwa di Amerika orang tak bersalah sampai dinyatakan bersalah, buku ini akan mengejutkanmu. Jika kau percaya hukuman mati, buku ini akan mengusikmu. Jika kau percaya sistem peradilan pidana adil, buku ini akan menyulut kemarahanmu."

Sementara dalam buku ini,  Guardian Ministries juga terinspirasi dari sosok James McCloskey, pendiri Centurion Ministries. Ada kasus yang juga menjadi inspirasi kisah di Texas. Sayangnya nasib tokoh tersebut tidak seberuntung Quincy Miller, hingga tahun 2019, permohonan bandingnya ditolak untuk kesekian kali.

Karena tak memiliki pengetahuan dalam bidang hukum, membaca karya John Grisham membuat saya mendapat tambahan pengetahuan tentang hukum. Misalnya pada halaman 21 tertera kata exoneree. Lalu ada afidavit, sumpah palsu, dan beberapa hal lagi.

Bagi mereka yang tertarik tentang hukum di Amerika, para mahasiswa hukum, buku ini layak dibaca. Karena  bisa menjadi tambahan pengetahuan selain hiburan.  Apalagi terkait bagaimana hukum diterapkan dengan benar, walau bisa saja terjadi kesalahan dalam sistem. 

Menurut buku ini, 10% dari semua orang yang dipenjara merupakan orang yang tidak bersalah. Quincy Miller bisa kita anggap merupakan salah satu sosok yang beruntung dari 10% tersebut. Tepat sekali pemberian judul buku ini. Karena Post dan teman-temannya merupakan pelindung bagi orang-orang yang mengalami nasib seperti Quincy Miller

Ah! Saya nyaris lupa berterima kasih pada sang tukang alih bahasa, Sis Uchi. Semula saya hanya bertanya bagaimana tanggapannya akan isi buku ini. Bukan sebagai penerjemah, namun sebagai pembaca. Maklum saya sempat kecewa dengan beberapa karya John Grisham yang menurut saya ngak banget.

Pertanyaan saya dijawab dengan janji memberikan satu eksemplar buku. Baiklah. Walau bagaimana saya tetap akan membuat komentar apa adanya. Dan bagi saya, buku ini memang menarik namun tak sebegitu menariknya dibandingkan karya-karya beliau yang lain.

Entah standar saya yang berubah, atau penulis sudah mengurangi urusan aksi dalam karyanya, lebih menekannya pada taktis pekerjaan dalam bidang hukum. Seperti bagaimana pengacara berusaha mencari bukti untuk membebaskan kliennya dengan cara yang lebih mengandalkan otak (sedikit otot akan menambah kisah lebih seru), atau bagaimana menggali informasi dengan tepat.

Untuk urusan kover, beberapa kover mengambil tema mobil yang melaju di jalan. Ini menunjukkan bagaimana tokoh kita, Post, banyak menghabiskan waktu di jalan, dari mengunjungi klien, hingga mencari bukti baru.  Meski ada juga yang mengambil tema lain seperti yang dlakukan penerbit Gramedia.

Satu kalimat yang tak bisa bilang dari benak saya, "Kenapa kami harus merayakan setelah seorang lelaki tak bersalah dibebaskan." Kenapa? Bukanlah wajar jika seseorang yang tak bersalah bebas, lalu kenapa harus ada perayaan?

Demikianlah kehidupan ini.























Minggu, 12 Juni 2022

2022 #14: The Ladies of Grace Adieu

Penulis: Susanna Clarke
Ilustrator: Charles Vess
ISBN: 0747587035 
ISBN13: 9780747587033
Cetakan: Oktober 2006
Halaman: 235
Penerbit: Bloomsbury UK
Rating: 3.25/5

Dasar saya teledor he he he! Buku ini termasuk dalam buku yang belum dibaca sampai tamat karena terlupa ditaruh di mana. Ditambah dengan bahasa asing, makin membutuhkan waktu bagi saya untuk menuntaskan buku ini.

Lalu kenapa nekat beli, padahal sadar diri kemampuan bahasa Inggris minim? Apalagi kalau bukan karena harga murah untuk ukuran hardcover, nama pengarang,   euforia pertama kali mengunjungi BBW (yups sudah lama kan ^_^). Plus kalimat yang ada di bagian belakang buku,
Magic, madam, is like wine and,  if you are not used to if, it will make you drunk
Susanna Clarke saya kenal melalui kisah Jonathan Strange & Mr Norrell. Kisah yang menunjukkan betapa serius penulis menggarap riset. Buku yang tak terlupakan dengan catatan kaki yang berjibun!

https://www.goodreads.com/book/
show/24936370-damy-z-grace-adieu
Secara keseluruhan, terdapat delapan cerita dalam buku ini Mulai dari The Ladies of Grace Adieu; On Lickerish Hill; Mrs Mabb; The Duke of Wellington Misplaces His Horse; Mr Simonelli, or the Fairy Widower; Tom Brightwind, or How the Fairy Bridge was Built at Thoresby; Antickes and Frets;  hingga John Uskglass and the Cumbrian Charcoal Burner. 

Oh ya, sebelum menikmati kisah-kisah yang ada dalam buku ini, pembaca disambut dengan semacam pengantar oleh  Professor James Sutherland, Director of Sidhe Studies, University of Aberdeen.

Karena ini antologi, maka saya mulai dengan membaca kisah yang juga dijadikan judul buku ini, kisah The Ladies of Grace Adieu, baru dilanjutkan kisah-kisah lainnya, tergantung suasana hati ketika memilih.

Sihir kembali menjadi topik dalam buku ini. Tiga orang wanita, 
Cassandra Parbringer, Nona
  Tobias, dan Nyonya Fields bisa disebut sebagai orang yang memahami dan bisa mempraktekan sihir. Suatu yang hal yang dianggap tak bisa bagi wanita pada abad ke-19 di Gloucestershire.
https://www.goodreads.com/
book/show/35174142--

Secara tak langsung, kisah ini juga berhubungan dengan karya Susanna Clarke yang lain. Pada kover buku bahkan dituliskan secara jelas  bahwa pengarang buku ini adalah pengarang yang sama dengan yang membuat kisah Jonathan Strange & Mr Norrell.

Meski demkian, jangan minta saya untuk cek pada halaman berapa mereka disebutkan dalam seri itu ya, bisa pegal mengecek begitu banyak catatan kaki^_^.  Masih ingatkan berapa banyak catatan kaki yang ada dalam buku tersebut? Fantastis!

Sementara kisah  On Lickerish Hill  bisa dianggap sebagai pelesetan dari kisah Rumplestiltskin yang dipopulerkan oleh Grimm Bersaudara. Jika dalam kisah asli diceritakan perihal seorang gadis yang berhasil memintal jerami menjadi emas berkat bantuan seorang bertubuh kerdil, maka berbeda dengan yang ada dalam kisah ini. Oh ya cerita 
Rumplestiltskin bisa dibaca di sini.

Membaca kisah The Duke of Wellington Misplaces His Horse,  yang mengambil setting salah satu buku karangan Neil Gaiman yang terkenal, Stardust, membuat saya ingin membaca ulang buku tersebut. Dalam buku tersebut,  Charles Vess juga menjadi ilustratornya.  
https://www.goodreads.com/book/
show/42939005-les-dames-de-gr-ce-adieu

Tanpa membaca keterangan yang ada pada awal kisah, para penikmat kish fantasi pasti bisa menebak ketika membaca kalimat berikut, " The People of the village of Wall in_ shire are celebrated for their independent spirit, It is not their way to how down before great men.... In late September of that year the Duke happened to spend one night at The Seventh Magic in Wall...."

Saya penasaran, kenapa belum ada yang menerjemahkan dan menerbitkan buku ini ya? Atau sudah ada tapi saya tidak tahu. Mengintip Goodreads, buku ini telah mendapatkan beberapa apresiasi, yaitu Locus Award Nominee for Best Collection (2007), World Fantasy Award Nominee for Best Collection (2007), Mythopoeic Fantasy Award Nominee for Adult Literature (2007).

Sementara penulis sendiri, juga telah memperoleh banyak apresiasi atas karya-karyanya.  Ada Mythopoeic Award for Adult Literature untuk karyanya Jonathan Strange & Mr Norrell (2005),  British Book Awards Newcomer of the Year Award-Best new author (2005), serta Women's Prize for Fiction untuk karyanya Piranesi (2021).

Sungguh, saya berharap ada penerbit yang mau menerbitkan versi terjemahan.  Tak menutup kemungkinan, versi terjemahan mendapat bintang lebih he he he. Para penikmat kisah fantasi di tanah air, tentunya akan menyukai kisah ini, seperti mereka menyukai kisah Jonathan Strange & Mr Norrell.