Selasa, 18 Agustus 2026

2026 #9: Panggung Sandiwara Matahari

Judul asli: Seribu Bintang Menyinari Matahari
Penulis: Yudhi Herwibowo
ISBN 10: 6238371706
ISBN 13: 9786238371709  
Halaman: 304
Cetakan: Pertama-Juni  2026 
Penerbit : Baca
Harga: Rp 111.000
Rating: 3.75/5

"... hidupku  telah menjadi panggung sandiwara  bagi diriku sendiri."
-hal 211-

Semula, kedatangan Jepang yang mengaku sebagai saudara tua Indonesia   untuk "membantu" mengusir Belanda  pada tahun 1942 disambut dengan gembira. Apalagi  Jepang menggunakan propaganda mengizinkan pengibaran bendera Merah Putih dan menjanjikan kemerdekaan. 

Tak sedikit rakyat yang mengaitkan kedatangan Jepang dengan  ramalan  Jayabaya, yang memerintah sekitar tahun 1157.  Ramalan itu kurang lebih berbunyi, "Akan datang bangsa berkulit kuning dari Utara, berperawakan tidak tinggi, pendek pun juga tidak. Mereka itu nanti akan menduduki tanah Jawa, tetapi hanya seusia tanaman jagung. Dan akan kembali ke negerinya sendiri, sedangkan tanah Jawa akan kembali dikuasai anak negeri sendiri pula."

Namun seiring waktu, ternyata Jepang tidak sebaik yang terlihat.  Kekejaman mereka makin menjadi, membuat kehidupan masyarakat saat itu  menjadi tidak mudah.   Apalagi  sejak Jepang ikut campur  urusan panggung sandiwara. Tak hanya naskah yang akan ditampilkan harus diperiksa terlebih dahulu, dalam setiap pertunjukan wajib menyisipkan pesan propaganda.

Pertunjukan yang dianggap berbahaya bisa berakibat penangkapan pemilik kelompok sandiwara. Para pemain juga mengalami perlakuan tidak menyenangkan. Tengok Nyonya Besar Liam Jia  yang harus merelakan harga dirinya dicabik-cabik Tuan Nakamura- dari Sendebu (Departemen Propaganda Jepang)  agar bisa menemui dan membebaskan suaminya dari tahanan. 

Tapi, ada juga yang nekat memanfaatkan kondisi tersebut guna kepentingan pribadi. Sadira salah  satunya. Ia mendadak menjadi pemeran utama menggantikan primadona panggung yang mengundurkan diri, wajahnya tercetak lebar dalam brosur yang disebarkan. Beberapa peristiwa misterius menimpa pemain lain yang dianggap tidak sejalan dengannya, menimbulkan kecurigaan ada campur tangan Tuan Nakamura

Tak hanya itu. Dulu, demi mendapat peran yang lebih besar ia rela melakukan hal yang tak masuk pikiran nalar, menggoda suami  Gayatri yang selama ini menganggapnya sahabat! Sadira sangat ingin terkenal sebagai pemain sandiwara,  masa bodoh bagaimana caranya.

Sadira juga Gayatri semula adalah sama-sama pemain dari kelompok Sandiwara Matahari. Hubungan persahabatan antara Gayatri dan Sadira cukup unik, bukan tidak mungkin malah pembaca sendiri pernah berada dalam hubungan seperti itu. Salah satu tulus bersahabat hingga akan melakukan apa saja demi sahabatnya, sementara yang lain memandang sebelah mata. 

Demi mendapatkan 2 tiket menonton sandiwara bersama Sadira, Gayatri melakukan hal yang tak terduga. Bagi Sadira apa yang dilakukan Gayatri adalah hal yang menjijikan, sementara bagi Gayatri  apapun akan ia lakukan demi dapat menonton bersama orang yang dianggapnya sahabat. Ironi.

Padahal Sadira bisa dengan mudah menonton sandiwara tanpa bantuan Gayatri. Ia hanya perlu meminta uang pada ayahnya, yang dengan mudah memberikan apa yang diminta putri semata wayangnya. Seperti saat Sadira menjadi pemain utama, karcis  laku keras diborong ayahnya untuk dibagikan pada para relasinya.  

Selain berkisah tentang kegiatan sandiwara, para tokoh juga mendapat  "jatah"  minimal satu bab  berisi informasi tentang diri mereka. Dengan demikian pembaca bisa semakin memahami bagaimana karakter setiap tokoh yang ada dalam kisah ini. Ada Gayatri primadona Matahari, Ari Sabda penulis naskah cerita, serta Tuan  Tan Yang dan Liem Jia pasangan pemilik Matahari. 

Penasaran dengan salah satu tokoh belia yang beberapa kali disebut pada bagian awal. Berharap mendapatkan banyak peran dalam kisah ini. Pada bagian Epilog memang memegang peranan penting dalam cerita, tapi hanya itu. Sayang sebenarnya, bisa dikembangkan menjadi tokoh yang menarik.

Tukang pembuat cerita dalam kisah ini digambarkan sebagai sosok yang sengaja menyelipkan pesan perjuangan dalam cerita sebagai wujud dukungan. Kehidupannya dibayangi ketakutan diburu Jepang untuk dihabisi. Sayangnya bagian ini juga kurang banyak mendapat porsi. 

Oh ya, tentunya ada unsur roman dalam kisah ini. Percintaan antara Gayatri dan suaminya serta pasangan Tuan  Tan Yang dan Liem Jia menjadi 2 kisah yang paling saya sukai. Gayatri menjadi bukti bahwa cinta pada suami memang butuh pengorbanan besar, termasuk meninggalkan apa yang ia cintai, menjadi pemain. Meski cinta, ia tetap mempertahankan harga diri. Begitu mengetahui suaminya berkhianat, tak ada kata kompromi, perpisahan harus terjadi.

Sementara untuk pasangan Tuan  Tan Yang dan Liem Jia, akhir yang mengharukan. Keduanya menjadi korban perjuangan kemerdekaan secara tak langsung. Begitulah kehidupan, tak selalu adil. Semoga pengorbanan keduanya akan selalu diingat oleh dunia panggung sandiwara saat itu.

Mas Yud mengambil seting kisah  zaman Jepang berada di tanah air, salah satu hal yang sering dibahas terkait saat itu adalah jugun ianfu. Benar dugaan saya, terdapat juga alur kisah yang bersinggungan dengan hal itu. Seingat saya, beberapa kali Mas Yud memang memasukan jugun ianfu dalam bukunya.

Dibandingkan buku Mas Yud lainnya, buku ini memuat cukup banyak catatan kaki. Jika dicermati, catatan kaki tersebut tidak saja memperjelas tentang hal yang ada dalam cerita, tapi juga memberikan tambahan pengetahuan seputar kondisi saat penjajahan Jepang. 

Contohnya,  pada halaman 15 disebutkan tentang koran yang menjadi sumber pemberitaan utama untuk surat kabar lainnya di Jawa. Informasi tentang Ibu Sud sebagai ketua bidang seni dan suara Keimin Bunka Shidosho di halamana 22.  

Sedangkan catatan kaki di halaman 90, memberikan informasi tentang asal mula  pengunaan mata uang rupiah setelah sebelumnya menggunakan uang kertas gulden. Sejak dulu, Mas Yud memang tidak pernah tanggung jika terkait urusan riset untuk bukunya. 

Ketika mendengar buku terbaru Mas Yud mengambil topik tentang sandiwara, saya jadi teringat pada beberapa nama pesar pemain sandiwara dan kelompok sandiwara pada zaman dahulu. Saat itu ketika hiburan masih terbatas,  penampilan mereka sangat ditunggu masyarakat. Tak heran jika Jepang memanfaatkan untuk propaganda.

Sebagai penanda bab, halaman dicetak dengan latar hitam. Unik memang, namun membaca tulisan yang ada membutuhkan ekstra tenaga. Jika dicetak ulang, pilihan warna yang digunakan untuk kalimat yang ada di halaman itu sebaiknya diubah. Dicari yang lebih sesuai.

Secara keseluruhan, kisah dalam buku ini menarik untuk dinikmati. Hiburan dan ilmu didapati secara bersamaan. Tema  yang diangkat cukup unik. Beberapa bagian kisah, masih bisa dielaborasi lagi. 

Saya mendapatkan bonus booklet yang mengisahkan tentang salah satu kelompok sandiwara yang juga disebutkan dalam kisah. Isi booklet tersebut sangat membantu menjembatani penggalan kisah terkait kelompok sandiwara lain  yang diuraikan dalam kisah.  Mungkin jika dijadikan bab utuh, kurang panjang, namun digabung dengan bab lainnya, kurang berhubungan.

Melalui buku ini, terlihat bagaimana setiap individu bisa ikut  berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan, wujudnya juga bisa beragam sesuai dengan kemampuan masing-masing. Salah satu buku yang bisa menjadi pilihan bacaan dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan ke-81.