Senin, 21 November 2022

2022 #32: Permandian Musikal Pukul 18.00

Penulis: Juza Unno
Penerjemah: Diyan Yulianto 
ISBN: 9786237245995
Halaman: 80 
Cetakan : Pertama-2022
Penerbit: bukuKatta
Harga: Rp 45.000
Rating: 3.25/5

Gas beracun berwarna kelabu mulai menyebar dengan mengeluarkan desis lirih, merayap menutupi lantai, bergulung-gulung seperti kabut dan perlahan mulai naik. Seketika, kulit di sekeliling saluran pernafasan wanita itu berubah menjadi merah gelap. Kelima jemari jentiknya pun memerah. Bercak-bercak merah bahkan mengotori gaun putih susu di bagian dadanya. Wajahnya memucat, napasnya terasa sangat berat, dan seluruh tubuhnya megap-megap seperti sebuah puputan
-Permandian Musikal Pukul 18.00, hal 30-

Pernah mendengar ada musik yang dipergunakan untuk melakukan cuci otak? Misalnya untuk menyiksa tahanan? Caranya sang tahanan setiap hari dipaksa untuk mendengarkan lagu tertentu.  Tahanan yang dipaksa mendengarkan akan mengalami berbagai gangguan, mulai dari disorientasi hingga kehilangan kemampuan berpikir.

Pada sebuah laman, disebutkan ada 8 lagu yang sering dipakai CIA untuk menyiksa tahanan. Ada lagu The Real Slim Shandy dari Eminem,  Dirrty dari Christina Aguilera, bahkan  I Love You dari Barney Theme! Kalau yang dipasang lagu Gloomy Sunday, sepertinya lebih masuk akal dibandingkan lagu dari program anak-anak. Tapi begitulah adanya.

Sementara itu, di Bangsal Arishia, menurut buku ini, setiap pukul 18.00 akan diputar lagu lagu tertentu. Cara kerja Permandian Musikal adalah sebagai berikut, setiap jam 18.00 setiap orang harus berkumpul di tempat yang sudah ditentukan, lalu duduk pada kursinya masing-masing, yang terlambat akan dicari hingga ketemu.

Kedua tangan lalu diangkat ke atas. Kemudian guyuran air kekuningan akan menyiram  kepala mereka. Selanjutnya selama 30 menit akan didengarkan Musik Kebangsaan No. 39. Lalu diakhiri dengan api penyucian berwarna ungu. 

Permandian Musikal Pukul 18.00 ini tidak hanya dilakukan di Bangsal  Arishia, namun di seluruh penjuru negeri. Hasil penelitain Dr Kohaku membuktikan bahwa selama 1 jam setelah mengikuti Permandian Musikal, seseorang akan menjadi manusia super jenius. Sisanya selama 23 jam adalah untuk mengosongkan musik tersebut dari kepala seluruh warga.

Selama 1 jam, setiap warga akan mengeluarkan seluruh kemampuannya secara maksimal, sehingga segala tugas akan selesai dengan optimal. Ide-ide baru yang menarik akan bermunculan dengan cepat. 

Presiden Miruka selaku penguasa ingin menyiarkan permandian   musikal 24 jam melalui radio.   Namun hal tersebut ditentang oleh Dr Kohaka  dengan pertimbangan kemampuan otak manusia yang tak akan kuat menahan stimulus seperti itu. 

Ternyata Presiden Miruka dan  Nyonya Menteri Asari nekat  melaksakan ide tersebut. Kerusuhan terjadi. Apa yang diharapkan ternyata tidak bisa diraih.  Belum selesai satu masalah, muncul lagi masalah baru! Ada pesawat ruang angkasa yang diduga akan menyerang Bumi.

Sebuah rahasia terungkap!  Selain Permandian Musikal, ternyata Dr. Kohaku juga sedang mengembangkan proyek manusia buatan!  Temuan Dr Kohuka amatlah penting bagi upaya mempertahankan kelangsungan hidup masyarakat. Tak hanya Dr Kohuka, pembaca juga akan menemukan adanya penemu lain yang tak kalah menarik

Saat pertama membaca judul kisah, semula saya mengira yang dimaksud adalan pemandian yang banyak terdapat di Jepang. Dimana seseorang akan masuk ke dalam semacam kolam lalu merendam dan membersihkan diri. Sementara waktu, 18.00 berupakan saat pemandian tersebut dibuka. Ternyata bukan itu yang dimaksud.

Bagaimana penulis membangun sosok Dr Kohaka sebagai orang yang mampu memberikan penjelasan secara teknis perihal Permandian Musikal dalam buku ini, benar-benar membuat penulis layak disebut sebagai Bapak Fiksi Ilmiah Jepang. Apalagi mengingat kisah ini ditulis tahun 1937.

Sosok Presiden Miruka dan Mentri Asari meningatkan pada sepasang kekasih pada film Robocop. Sang penguasa memberi izin   wanita cantik yang juga pakar dalam hal robot untuk meneruskan temuannya. Ternyata hal tersebut  malah  berujung membuat kacau kota dengan ciptaan yang jauh dari sempurna.

Begitulah, di berbagai kisah yang mengandung unsur kekuasaan, ada saja sosok pejabat yang tak amanah. Dalam kisah, bukan saja pejabat yang berselingkuh namun juga pejabat yang tak peduli pada rakyat demi memuaskan ego semata. Oh ya, ada bumbu roman dalam kisah ini.

Manusia buatan dalam kisah ini,  membuat saya ingat pada sebuat film tentang robot yang diberi tugas untuk melayani manusia.  Ketika masa tugasnya selesai, maka robot tersebut akan dibuang begitu saja. Salah satu robot kemudian mengumpulkan robot-robot lain untuk memulai kehidupan baru.

Dalam buku ini, setting kisah adalah Bumi setelah mengalami berbagai peperangan.  Bakteri dan gas beracun membuat semua makhluk hidup tak bisa hidup di permukaan Bumi. Maka, manusia yang selamat membangun dunia di bawah tanah, dengan beberapa jenis hewan ternak dan parasit yang bisa selamat.
 
Pada kover, sepertinya sudah diberikan sedikit bocoran perihal manusia buatan Dr Kohaku.  Siluet menyerupai manusia dan aneka kabel yang menempel membuat saya teringat pada film tentang Alien, dimana mereka sedang meneliti manusia dengan  meletakkan dalam semacam tabung dengan aneka penopang hidup. Warna kelabu, membuat kesan misterius makin terasa.
 
http://tanukilibros.com/blog/
2019/07/27/hablemos-de-
escritores-juza-unno/
Pada bagian akhir buku, pembaca akan menemukan informasi perihal sosok penulis. Sang penulis kisah ini, terlahir dengan nama Sano Shōichi (26 Desember 1897-17 Mei 1949), sementara  Juza Unno adalah nama pena. 

Disebutkan juga bahw
a Jūhachi-ji no Ongaku-yoku (十八時の音楽浴) atau Permandian Musikal Pukul 18.00, disebutkan menggambarkan utopia masa depan, warga harus menerima siaran sonik 30 menit setiap hari, untuk membuat mereka bekerja lebih keras.

Dari unsur terjemahan, saya tak berkomentar banyak. Jam terbang seorang Diyan Julianto sudah lumayan tinggi, tak perlu lagi diragukan.  Untuk memudahkan pembaca memahami kisah, bahkan ada catatan kaki yang memberikan penjelasan tambahan.

Para mahasiswa Sastra Jepang, tentunya sangat disarankan untuk membaca buku ini. Sementara para penikmat bacaan sastra dianjurkan untuk membaca serta mengoleksi buku ini. 

Namun demikian, tidak dianjurkan untuk dibaca oleh pembaca dibawah usia 17 tahun, mengingat ada beberapa bagian kisah yang kurang sesuai bagi remaja belia. Sayangnya penerbit tidak mencantumkan itu pada kover bagian belakang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar