Jumat, 25 November 2022

2022 #33: Kisah Kehidupan Sonja

Judul asli: Kelab Dalam Swalayan
Penulis:Abi Ardianda
ISBN: 9786026486585
Halaman: 283
Cetakan: Pertama-Juni 2021
Penerbit: BACA
Harga: Rp 97.500
Rating: 5/5

"Dasar naif. Di dunia ini, orang baik itu mitos. Yang ada hanyalah orang-orang jahat yang melakukan kejahatan dengan baik."
-Kelab Dalam Swalayan, hal 251-

Bagaimana perasaanmu ketika seorang asing yang baru kau temui ternyata mengetahui rahasia paling kelam yang selama ini kau kubur rapat-rapat? Begitulah yang dirasakan Sonja, seorang wanita muda berbakat dalam bidang disain yang sedang mempersiapkan pernikahan dengan sang kekasih. Selama ini keduanya dianggap pasangan ideal, hingga banyak yang menantikan kapan hubungan mereka diresmikan.

Sonja merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, semuanya perempuan. Kakak pertamanya adalah dokter, sementara kakak keduanya  mengumpulkan pundi-pundi melalui aneka usaha seperti mempromosikan sebuah produk di Instagramnya.

Sepanjang hidupnya, Sonja sangat mematuhi semua perkataan Ibu.  Sang ibu adalah seorang orang tua tunggal yang sukses mengelola sebuah kedai teh. Kesuksesannya makin dikagumi orang karena dianggap mampu mendidik ketiga anak perempuan menjadi sosok wanita dan menantu idaman. Semuanya terlihat sempurna. 

Segalanya berubah sejak Sonja pulang dari pesta lajang yang diadakan oleh para sahabat untuknya. Tak sengaja, ia menemukan ada sebuah kelab yang hanya bisa dimasuki  orang tertentu di dalam swalayan. Rasa penasaran mengusik Sonja. Ia bahkan rela memberikan sejumlah uang pada pegawai yang ada untuk bisa menyusup masuk. Di sana, ia bertemu dengan seorang penari telanjang bernama Mega.

Sonja dan Mega menjalin hubungan pertamanan yang unik. Mega mengetahui semua rahasia Sonja yang tak diketahui orang lain. Mega juga menjadi tempat Sonja meminta saran dan bantuan untuk masalah yang tak biasa. Pengaruh Mega luar biasa. Sonja yang semula adalah "anak manis" mendadak berubah menjadi seorang peminum. Ia bahkan berani membantah Nohan, setelah sekian lama bertingkah seakan menyetujui semua perkataan dan pikirannya  

Tak hanya  itu, Sonja bahkan bersedia menjadi pasangan menari telanjang dengan Mega. Bahkan mendapat pelajaran sebelum mulai beraksi. Seperti yang tertera di halaman 170.
Gerakan tubuhmu sesuai insting, Bayangkan dirimu sebagai kobra yang siaga melilit, menyambut kawanan mangsa yang menyerahkan diri sukarela. Kamu tentu tidak ingin terburu-buru melahap mereka dalam sekali suap. Tatapan memelas dan liur-lir mereka yang mengalir akan memberitahumu bahwa tubuhmu dipuja. Nikmatilah. 
Selanjutnya pembaca disuguhi aneka peristiwa misterius yang menimpa Sonja. Mayat pembantu rumah tangga yang sudah seperti ibu tergeletak di dalam kamarnya, usaha pemerkosaan yang dilakukan keluarga dekat, hingga kematian saudara kandung. Semuanya terjadi dengan begitu cepat memicu adrenalin pembaca. 

Siapakah yang melakukan berbagai kejahatan tersebut? Apakah Sonja? Lalu apa hubungannya dengan Mega? Bagaimana nasib kelanjutan hubungan Sonja dengan Nohan? Siapakah yang menderita  Dissociative Identity Disorder dalam buku ini? Silakan baca sendiri buku ini  untuk menemukan jawabannya he he he.

Sebuah buku yang sangat menarik! Para penggila buku sangat disarankan untuk memiliki membaca dan memiliki buku ini. Apalagi mereka yang sedang memdalami ilmu psikologi. Kisah yang penuh kejutan ini diracik dengan mempergunakan kata-kata yang mampu membuat pembaca seolah-olah ikut dalam peristiwa. 

Apalagi  nyaris seluruh pemeran utama dalam kisah ini adalah wanita. Salah satu tokoh pria,  Nohan bisa dianggap mewakili sosok calon suami idaman para wanita, tak ada mertua yang menolak jika anaknya dilamar oleh Nohan. Meski memiliki kepribadian yang baik, namun hubungan keduanya digambarkan tidak sehat, meski sudah menghitung hari pernikahan.
Jatuh cinta itu rasanya harus seperti pulang. Rumah yang kamu tuju harus terasa seperti perhentian terakhir dalam perjuanganmu memercayai seseorang. Ketika kamu enggak yakin bisa memercayainya, jangan jadikan dia rumah.  Enggak seorang pun mau selamanya terbelenggu dalam keraguan.
Menilik kover yang didominasi warna gelap, seakan menunjukkan ada sebuah misteri yang tersembunyi di balik pintu. Apakah hendak masuk untuk mengetahui apa yang ada di balik pintu, atau tidak masuk, sepertinya sesuai dengan ungkapan oleh sang ibu di halaman 28, " Pintu adalah penentu nasib, tergantung kapan san pintu mana yang kita lintasi. Cerdaslah memilih pintumu, Sonja." 

Perihal sosok seorang ibu dalam kisah ini, meski pada beberapa bagian seakan ditampilkan sambil lalu, peranannya dalam kehidupan ketiga anak wanita tidak bisa disepelekan begitu saja. Apa jadinya mereka jika tak ada sosok sang ibu yang rela melakukan apa saja untuk anaknya.

Ibarat lagu,
Kasih ibu
Kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Sekedar saran, nikmati buku ini dikala senggang.  Cari posisi membaca yang paling nyaman, siapkan cemilan dan minuman jika perlu.  Upayakan untuk membaca tanpa jeda dengan kegiatan yang kurang penting lainnya, sehingga bisa merasakan sensasi ketegangan yang ditawarkan buku ini. 

Waspadalah!
keseruan mendebarkan menantimu yang berani membaca kisah ini
  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar