Sabtu, 19 November 2022

2022 #31: Membaca Empedu Tanah

Penulis: Inggit Putria Marga
ISBN: 9786020648057
Halaman: 62
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 80.000
Rating: 3.25/5

Sebuah buku, acap kali berjodoh dengan pembacanya dengan cara yang unik, dan saya sangat menyakini hal tersebut. Tak terhitung berapa buku yang "berjodoh" dengan saya dengan cara yang unik. Salah satunya buku ini.

Sampul karya Bebe Wahyu ini benar-benar mengusik rasa penasaran saya, selain judul buku tentunya. Semula saya kurang memperhatikan tulisan buku puisi yang diletakkan agak ke bawah. Kalimat yang menyebutkan bahwa ini adalah karya  yang memenangkan  Kusala Sastra Khatulistiwa ke-20  Kategori Puisi,  baru membuat saya sadar ini adalah buku puisi.

Lucu juga jika dikaji. Tulisan buku puisi lebih besar dibandingkan dengan  tulisan Pemenang Kategori Puisi, namun karena informasi perihal peraih Kusala Sastra Khatulistiwa ke-20 lebih ditonjolkan, maka itu yang terlihat. Sebuah trik marketing tepat ^_^. 

Ragu untuk membeli, karena sering saya sebutkan, saat ini saya masih dalam proses belajar menikmati puisi. Pemahaman untuk bisa menikmati masih jauh dari para sahabat. Ada keraguan, apakah saya bisa menikmati sebuah karya yang meraih penghargaan sekaliber Kusala Sastra Khatulistiwa.

https://www.goodreads.com/
book/show/59583687-
empedu-tanah
Ingin mencoba melihat seperti apa isinya, agak sulit. Toko buku favorit saya yang menyediakan buku sampel untuk dilihat isinya sudah tutup. Mau membuka plastik di toko buku lain tak berani, takut terkena kewajiban harus membeli. Tinggalah rasa penasaran menjadi angan-angan.

Sepertinya semesta mendukung saya untuk memiliki dan belajar menikmati puisi dari buku ini melalui tangan editor favorit saya, Mas T. Buku ini berada dalam dus berisi buku hibah yang ia titipkan pada saya untuk diberikan pada TBM atau sahabat literasi. Setelah dua tahun sejak buku ini terbit, akhirnya saya bisa mengintip isinya dengan leluasa.

Eh, ternyata tidak ada puisi dengan judul Empedu Tanah. Umumnya, judul sebuah puisi atau cerpen  unggulan dijadikan judul buku. Tapi tidak dalam buku ini. Puisi yang ada juga hanya ada 1 yang membuat kata empedu, tepatnya kantong empedu pada puisi berjudul Buronan.

Berikut penggalan puisi Buronan,
kantong empedu dalam tubuhnya seolah pecah
saat ia ingat warna air yang membulir
dari mata coklat itu, mata perempuan
yang didera perkosa, sebelum dicekik
dan binasa sia-sia
Lalu kenapa buku ini diberikan judul Empedu Tanah? Saya mencoba mencari apa  makna dari kata Empedu Tanah. Selain buku ini,  pencarian mengarahkan saya pada tanaman yang sering dijadikan obat tradisional antara lain untuk radang tenggorokan,  maag, amandel serta deman berdarah,yaitu sambiloto.

Apakah karena sambiloto terasa pahit, maka buku ini diberi judul demikian? Membaca puisi yang ada, terasa sekali ada rasa sedih, terluka, sakit hati, amarah, segala hal yang tidak menyenangkan, membuat getir kehidupan.

Meski demikian, meski terasa pahit, sambiloto sangat bermanfaat. Mungkinkah segala rasa yang kurang menyenangkan, juga memiliki manfaat bagi diri kita? Hanya kita saja yang kurang memahami makna yang terkandung dari rasa tersebut.

Menarik juga, mengambil nama sebuah tanaman untuk menjadi judul sebuah buku puisi. Secara tak langsung, mereka yang paham bahwa empedu tanah adalah sambiloto, bisa menebak puisi macam apa yang ada dalam buku ini. Sementara bagi yang tidak tahu, merupakan sebuah daya tarik tersendiri.
https://sliyeg.indramayukab.go.id

Sebagai orang yang sedang belajar menikmati puisi, menikmati buku ini ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan. Penulis seakan berada di sebelah saya dan menceritakan apa yang ia rasakan. Menilik informasi perihal penulis di halaman akhir, pantaslah jika memenangkan penghargaan. Waktu telah mengasah kepiawaian seorang Inggit Putria Marga.

Terdapat lebih dari 20 puisi dalam buku ini. Mulai dari Rencana Sang Pelacur; Pohon; Hantu; Gadis Kecil Terbingkai Jendela; Festival Purnama; Kado Istimewa; Minggu Berdinding Ungu; Dalam Balik Jahit; Tabir Mata; hingga Di Sekitar Patung Kura-kura. Favorit saya adalah Minggu Berdinding Ungu serta Gagal Panen. 

Seperti biasa, salah satu manfaat membaca puisi bagi saya adalah menemukan aneka kata baru yang menarik. Mungkin bagi pembaca lain, kata tersebut sudah tidak asing, namun tidak bagi saya. Perbendaharaan kata semakin bertambah dengan membaca buku ini.

Pada laman berikut disebutkan bahwa Puisi adalah karya sastra yang bisa melegakan perasaan penyairnya. Dibanding menulis buku harian, puisi lebih singkat dan indah dibacakan. Tak membosankan karena puisi adalah pelipur lara bagi yang sedang gundah gulana. 

Hem..., jika menulis bisa disebutkan sebagai salah satu cara menyembuhkan diri, maka menulis puisi bisa dijadikan pilihan. Apa yang ingin disampakan, bisa dituangkan secara langsung atau samar. Seperti pengertian puisi menurut Putu Arya Tirtawirya,  suatu ungkapan secara implisit dan samar, maknanya yang tersirat, dimana kata-katanya condong pada makna konotatif.

Para penimat puisi, mereka yang juga sedang belajar menikmati puisi seperti saya, atau bahkan yang sedang tertarik untuk mencoba menulis puisi, disarankan untuk membaca buku ini. 

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com
https://sliyeg.indramayukab.go.id





Tidak ada komentar:

Posting Komentar