Kamis, 28 April 2022

2022 # 11: Dendam Kolektor Buku

Judul: Memory  Bookstore
Penulis: Choung Myung Seob
Penerjemah: Dwita Rizki
ISBN: 978-602-6486-69-1
Cetakan: Pertama-April 2022
Halaman: 310
Penerbit: BACA
Harga: Rp 88.000
Rating: 3.75/5

Buku memiliki nilai yang tak bisa diukur dengan uang
-Profesor Yoo Myeong Woo,  Memory Bookstore, hal 81-

Penggila buku seperti saya, dan juga Anda, tentu akan menyayangi dan menjaga buku koleksi dengan penuh perhatian. Bahkan  banyak yang mengatakan, para penggila buku bisa begitu mencintai koleksinya, melebihi kecintaan pada diri sendiri. Mungkin tak hanya penggila buku, tapi mereka yang mengoleksi sesuatu, bisa bertindak diluar nalar.

Maka, sangat wajar jika banyak yang terkejut ketika mengetahui  tokoh dalam kisah ini, Profesor Yoo Myeong Woo, seorang profesor  dan publik figur  yang terkenal akan kegemarannya mengoleksi buku-buku kuno, berniat membuat toko buku khusus untuk menjual buku-buku koleksinya.

Suatu saat, ketika menjadi narasumber pada acara Buku,Buku, Buku, Bersama TV, profesor mengumumkan akan mengundurkan diri dari urusan dunia, baik dari kampusnya atau sebagai narasumber terkait buku. Ia hanya ingin menghabiskan masa tua dengan mengurus toko miliknya.
Saya tidak bisa membawa buku-buku itu ke akhirat.                       Buku-buku itu berat, lho
Jelas banyak yang terkejut, bagaimana tidak! Menjual seluruh koleksi merupakan suatu hal yang jarang dilakukan oleh seorang kolektor buku, ditambah ada kemungkinan buku tersebut diberikan secara gratis! Tidak hanya harga buku dalam koleksi profesor yang menakjubkan, tapi kisah dibalik buku juga selalu membuat orang terpesona.

Tanpa sadar, saya langsung teringat koleksi saya. Dari buku Little Women terbitan tahun 1800-an hingga buku Pram. Pasti ada sesuatu yang sangat istimewa jika saya sampai merelakan mereka pindah ke rak penggila buku lainnya.

Ternyata betul, ada hal lain!
Toko buku tersebut didirikan sebagai upaya menepati janji pada sang putri tunggal. Meski sudah tak mungkin lagi ia mengetahui keberadaan toko tersebut, tapi setidaknya profesor sudah berupaya menepati janji. Plus, hal tersebut terkait dengan  pembunuhan anak dan istrinya 15 tahun silam! Peristiwa yang juga membuatnya harus berada di kursiroda seumur hidup.

Sang Pemburu, begitu julukan pembunuh keluarganya, ternyata juga mencintai buku. Terbukti dengan selamatnya profesor dari pembunuhan karena Sang Pemburu tak ingin menghancurkan buku kesayangannya yang tak sengaja dijadikan alat membela diri profesor.  

Profesor berencana akan menjadikan toko bukunya-Memory Bookstore sebagai alat untuk memancing Pemburu. Ia sangat yakin, di luar sana Pemburu selalu mengawasi dirinya. Profesor juga yakin, Pemburu sudah tahu bahwa toko buku itu merupakan jebakan. Seru!

Salah satu keunikan  adalah Memory Bookstore hanya bisa dikunjungi dengan perjanjian. Mereka yang ingin berkunjung, harus membuat janji dan datang sesuai dengan waktu kesepakatan. Diluar waktu tersebut, jangan harap bisa datang berkunjung.
Buku kuno adalah sebuah buku tua. Sebagian besar dari buku-buku itu aslinya tidak mahal atau langka. Harganya naik karena satu per satu hilang seiring waktu yang berlalu. Saya biasanya tidak suka membaca buku yang dibeli dengan harga mahal. Menurut saya, itu bukan esensi sebuah buku. Buku harus dibaca halaman demi halaman. Tidak dapat membali satu per satu halaman buku akibat harganya terlalu mahal merupakan ejekan besar bagi buku itu. Buku harus dibaca dan disayangi. Jangan sampai hanya diberi label harga, disimpan di brankas, atau dijadikan benda pameran.
Sejauh ini, sudah lumayan banyak yang datang berkunjung. Mereka yang memang menyukai buku kuno, atau sekedar orang yang ingin tahu tentang  Memory Bookstore.  Tak butuh lama bagi profesor untuk menyusun daftar nama orang yang diduga adalah Pemburu. Ide profesor memancing pembunuh keluarganya 15 tahun lalu sepertinya akan berhasil!

Ketika sampai pada bagian yang mengisahkan profesor menyebutkan tentang 4 tamu yang ia duga adalah Sang Pemburu, saya secara acak menebak salah satu nama. Dan ternyata benar! Alasan saya menuduh Mr X-kita sebut saja begitu supaya tidak spoiler ^_^, karena tingkah lakunya  agak mencurigakan.

Ia memang datang sebagai salah satu pengunjung, tapi digambarkan tidak fokus, agak gelisah, mata menatap sekeliling, dan tingkah yang seakan tidak memperhatikan ucapan profesor, menjadi tanda tanya tersendiri bagi saya. 

Belum lagi, mengaku tidak menyukai buku tapi memiliki  pengetahuan lumayan tentang buku. Belakangan, profesor menyebutkan bahwa Pemburu melakukan kebiasaan lama tanpa ia sadari. Sehingga profesor bisa mengetahui jati dirinya.
 
Saya penasaran, dalam 15 tahun wajah seseorang bisa berubah. Maka profesor  mengandalkan ingatan ciri khas  dari Pemburu. Lalu kira-kira berapa usia Pemburu saat ia membunuh istri dan anak profesor? Karena dalam kisah ini profesi yang dipilihnya untuk mendekati profesor sepertinya agak aneh mengingat usia serta gambaran tentang dirinya.

Hem...,susah menjelaskan maksud saya tanpa membocorkan kisah.  Silakan baca, mungkin setelah sampai pada bagian siapa sesunguhnya Pemburu, Anda paham maksud saya. Serius, ini termasuk buku yang agak susah saya berikan komentar tanpa harus membocorkan kisah. 

Meski urusannya seakan sederhana, ternyata tak seperti itu. Biasa dikatakan keluarga profesor terbunuh karena berada di waktu dan tempat yang salah. Dan profesor, sebagai sosok yang membuat mereka berada dalam situasi seperti itu hingga terbunuh, memendam rasa bersalah sumur hidup.

Bagaimana selama 15 tahun profesor selalu mengutuk dirinya sendiri karena keputusan yang ia ambil membuat keluarga terbunuh, serta bagaimana dengan sabar profesor menyusun rencana menangkap Pemburu, menjadi bagian yang luar biasa.

Sumber: Buku Memory  Bookstore
Penulis menciptakan kedekatan emosi yang rumit antara Sang Pemburu, profesor dan buku. Seperti diuraikan di atas,  Pemburu  menghentikan upayanya  membunuh profesor karena dapat berakibat pada rusaknya buku kesayangannya. Dilain waktu, Pemburu merasa marah ketika menduga buku kesayangannya dibakar profesor.

Sementara  profesor, walau mencintai buku, tapi ia tetap merasa menemukan siapa yang membunuh anak dan istinya merupakan hal utama. Melebihi kecintaannya akan koleksi buku kuno yang ia miliki. Profesor akan membakar buku yang mana saja, tanpa pandang bulu, jika dianggap mampu membuat kesal Sang Pemburu. Hal yang berlawanan dengan kecintaannya pada buku.

Jadi menurut Anda, siapakah yang lebih mencintai buku diantara keduanya? Profesor atau Si Pemburu? Masing-masing memiliki alasan kuat tentang bagaimana mereka memperlakukan buku. Keduanya menunjukkan cara unik mencintai buku. 

Jangan tertipu dengan kisah yang sepertinya akan berakhir. Saya sempat mengomel, mempertanyakan kenapa semudah ini penjahat alias Sang Pemburu tertangkap. Ternyata saya salah!

Itu sekedar bagian dari proses melindungi diri yang dilakukan oleh Sang Pemburu yang asli. Dengan cerdik ia memperdayai banyak pihak. Banyak pihak memang, tapi bukan profesor. Lima belas tahun menunggu, membuat profesor sudah mempertimbangkan banyak hal.

Melihat kover buku ini ketika tiba, saya menduga akan membaca kisah yang suram. Tidak terlalu salah, namun jika memakai ilustrasi yang menandakan bab baru dibandingkan kover, sepertinya akan menimbulkan kesan yang lebih dramatis. Tentunya penerbit punya alasan sendiri memilih kover yang sekarang.

Apa yang dialami oleh profesor memang sangat menyakitkan. Tapi hal tersebut tidak menjadi pembenaran terhadap apa yang ia lakukan pada Sang Pemburu. Jika demikian, maka ia tak lebih baik dari Si Pemburu.

Saya berusaha mencari informasi mengenai buku yang disebutkan sebagai buku kesayangan Pemburu, namun sepertinya saya belum berhasil menemukan, Atau judul buku dan pengarangnya hanya sekedar karangan semata? Tapi seakan nyata ada judul buku dan pengarang terssebut. Satu lagi nilai tambah bagi penulis.

Setelah buku-buku dengan tema buku, seperti Libri di  Luca (Mikkel Birkegaard), The Book With No Name (anonymous),  The Man Who Loved Books Too Much (Allison Hoover Bartlett),  People of The Book (Geraldine Brooks), Fahrenheit 451 (Ray Bradbury), The Fantastic Flying Books of Mr Morris Lessmore (William Joyce), serta Trilogi Perpustakaan Kelamin (Sanghyang Mugni Pancaniti), buku ini layak berada dalam rak buku para penggila buku.

Semoga buku dengan tema sejenis makin sering bermunculan dan menyajikan aneka kisah yang menarik.

Sumber gambar:
Buku Memory  Bookstore





1 komentar:

  1. Buku baru yang masih jadi wishlist nih. Sedikit pernah baca blurbnya pas info buku ini rilis dan bikin penasaran sama profesor yang menggunakan toko buku untuk mencari pembunuh keluarganya.
    Saya bertanya-tanya apakah akan ditemukan judul-judul buku yang beneran nyata dalam kisahnya? Soalnya jika cerita di buku menyebutkan buku lainnya, saya suka mencari buku tersebut buat dibaca juga, hihi

    BalasHapus