Sabtu, 10 Juli 2021

2021 #23: Perjalanan Mustahil Samiam

Penulis: Zaky Yamani
Editor: Karina Anjani
ISBN: 9786020648613
Halaman:361
Cetakan: Pertama-2021
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 97.000
Rating: 3/5


Jawa;
Cawan;
Buku catatan.

Tiga hal yang membuat saya rela mengeluarkan  sisa voucher  THR untuk membeli buku yang tak ada dalam Daftar Belanjaan kali ini. Harga buku yang nyaris setara dengan nominal yang saya miliki, seakan tak bermakna banyak (belanja pakai voucher tapi sombong he he he).

Kata Jawa, saya temukan pada blurd. Tertulis, "... Peta Orang Jawa,... di suatu tempat bernama Jawa." Sementara urusan cawan dan buku catatan, tergambar pada kover. Mau tak mau, kover  membuat saya menghampiri tumbukan buku ini. Selain itu, judulnya membuat saya ingat buku Balthasar's Odyssey: Nama Tuhan Yang Keseratus. Bisa dibaca di  sini

Bah! Rasa agak menyesal menghabiskan sisa voucher untuk buku ini  mulai muncul. Gara-gara iseng, tak seperti biasanya, saya mencari  informasi tentang penulis. Dan menemukan kata "... dirancang untuk menjadi sebuah trilogi."

Dirancang, kurang lebih saya pahami sebagai direncanakan. Jika sudah begini, sering kali saya harus menaham kecewa karena beberapa penulis hanya mampu menyelesaikan satu buku saja. Semoga kali ini berbeda, penulis berkomitmen menuntaskan hingga buku ketiga.

Kisah ini dibuka dengan semacam pengantar dari Prof. Barend Hendrik van Laar. Ia mengisahkan tentang perburuan buku-buku langka yang berisi tentang perjalanan seorang  pria bernama  Samiam Nogueira-dibaca Sang'iang yang lahir di Lisboa, Portugal  sekitar tahun 1513.

Selanjutnya, buku berkisah tentang kehidupan Samiam pada tahun 1543. Dalam hal ini, ia  bertindak sebagai narator. Banyak hal yang menimpa dirinya pada kurun waktu tahun itu. Tahun yang penuh warna.

Untuk mengisi waktu luang, ia rajin menuliskan buku harian. Isinya tak hanya mengenai apa yang ia alami dan  rasakan hari itu, juga menyangkut  cerita terkait keluarganya. Maka tak heran jika alur kisah kadang seakan tidak langsung tuntas.

Hal itu dikarenakan tokoh kita sedang mengisahkan suatu peristiwa, dimana untuk memperjelaskan suatu bagian, membutuhkan  kisah yang lain lagi.  Biasanya ditandai dengan kalimat seperti, "Sekarang akan aku lanjutkan  dulu bagaimana aku menjalani hidup di masa mudaku."

Suatu ketika, nasib membuatnya memiliki Peta Jawa. Sejak itu, ia mulai merasakan  keganjilan. Ada sesuatu berwujud bayangan hitam yang acap  kali muncul dan memberikan aneka pesan.   Seperti, Penuhi takdirmu, Nak! Penuhi takdirmu! Baca peta itu; Teruslah ke timur. Jangan ikuti petunjuk orang-orang, kau akan tersesat terlalu jauh. Ikuti hata hatimu, teruslah ke timur! 

Belakangan, ia mengetahui bayangan tersebut bisa jadi adalah salah satu leluhurnya yang dikenal dengan nama Pero. Ia semakin penasaran ketika menemukan nama serupa dalam surat-surat ibu kandungnya. 

Pada bagian awal, penulis memberikan informasi yang lumayan padat mengenai  silsilah keluarga Samiam. Meski berkesan bertele-tela, saya menduga bagian ini mengambil peranan penting bagi keseluruhan kisah. Terutama pada buku-buku selanjutnya. 

Kisah ini juga digambarkan memiliki kaitan dengan Ordo Kesatria Kuil-Knights Templar. Pantas ada lambang ordo tersebut secara samar pada salah satu bagian kover. Jadi terbayangkan bukan bagaimana cerita ini akan berkembang nantinya.

Bagi mereka yang menyukai sejarah, akan menemukan keseruan dalam membaca buku ini. Banyak informasi terkait sejarah yang disampaikan dalam kisah ini. Saya yang bukan menyukai sejarah cukup bisa menikmati.

Dari buku pertama ini, selain soal sejarah, pembaca juga bisa mendapat banyak hal unutk dipetik manfaatnya. Misalnya situasi politik yang membuat munculnya Porto de Graal, kehidupan masyarakat Spanyol sekitar tahun 1543, dan bagaimana perdagangan rempah-rempah pada saat itu.

Membaca buku pertama ini, lumayan membuat saya tertarik mengikuti petualangan Samiam. Walau ada kekurangan pada beberapa bagian, lebih karena cara bercerita terlalu panjang menurut saya. Silakan beli dan baca supaya bisa mengetahui bagaimana perjalanan nasib tokoh kita ini ^_^.

Oh ya, kembali ke soal kebiasaan tokoh kita menulis buku harian. Hal tersebut membuatnya merasa hidup menjadi lebih ringan. Ia bisa mengeluarkan segala perasaannya. Selain itu, menurut  tokoh yang lain, "Menulis buku harian adalah menuliskan sejarah. Suatu hari nanti anak-cucumu bisa melihat zaman kita hidup lewat mata kita sendiri."

Bagian lain yang menarik, adalah peranan para wanita dalam kisah ini. Dengan cara yang unik, penulis memberikan porsi lumayan besar bagi wanita. Mereka digambarkan memiliki karakter yang kuat, dimana mereka bersinggungan dengan Samiam baik langsung maupun tidak. 

Tanpa mereka, Samiam seakan tak mampu melakukan banyak hal. Terutama sekali, dalam buku pertama ini ia digambarkan sebagai sosok yang labil. Tak tahu harus bersikap bagaimana, keras kepala dengan menuntut pnjelasan disaat yang kurang tepat, hingga tak tahu apakah ia jatuh cinta atau tidak pada tunangannya.

Secara keseluruhan, untuk sebuah buku yang dirancang akan diterbitkan dalam bentuk trilogi, buku ini sudah mampu membuat pembaca untuk tidak berhenti membaca. Racikan katanya membius.

Lalu kenapa saya hanya memberikan bintang 3? Saya memberikan bintang 3 karena ini belum ada kelanjutannya. Bintang sebenarnya untuk seri ini akan muncul ketika seri ini sudah terbit semua dan sudah saya baca. 

Jadi, kira-kira kapan saya bisa membaca buku selanjutnya? Semoga kata dirancang menjadi sudah siap terbit dalam waktu dekat ^_^.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar