Minggu, 28 Februari 2021

2021 #8: Menikmati Racikan Kata Zelfeni Wimra

Judul asli: Ramuan Penangkal Kiamat, Sejumlah Cerita
Penulis: Zelfeni Wimra
Penyelia naskah: Teguh Afandi
ISBN: 9786020649856
Halaman: 153
Cetakan: Pertama- Januari 2021
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 70.000
Rating: 3,5/5

Setiap liang dalam tubuh mampu memberikan kenikmatan. Buktikan dengan memutarbulu ayam di dalam telinga. Atau mengupil hidung. Bisa juga dengan memasukkan makanan atau minuman yang enak ke dalam liang kerongkongan. Tuhan merahasiakan kenikmatan ke dalam liang-liang itu

~ Ramuan Penangkal Kiamat, Sejumlah Cerita, hal 32~

Beberapa saat yang lalu,  saya ketiban buntelan dari salah seorang editor di G. Sebetulnya ia sedang WFH selama pandemi, namun karena akan ada perubahan tata ruang di kantor maka ia terpaksa berangkat ke kantor dengan kereta api pertama. 

Di kantor, ia membereskan meja agar barang-barang pribadi atau dokumen terkait pekerjaan tidak tercerai-berai hingga ada tata ruang yang baru. Beberapa buku yang ada  di mejanya segera meluncur ke rumah saya. Semoga sering beres-beres ya Mas X.

Meski sangat paham bahwa pembaca tidak bisa menilai sebuah buku dari kover, tapi kover adalah hal pertama yang menarik perhatian calon pembaca. Kover buku yang seolah-olah dibuat dari kristik. Menarik! Padahal putih dominan sebagai warna latar. 

Sayangnya saya tak mendapatkan pembatas buku. Padahal saya penasaran apakah pembatas buku yang biasanya menjadi sisipan akan dibuat seperti kover atau ada kreasi lagi.

Terdapat sembilan belas kisah dalam buku ini. Angka yang agak aneh menurut saya, biasanya saya menemukan kumpulan cerpen-kumpulan kisah menurut buku ini, dengan jumlah yang cenderung genap. Tak masalah! Yang utama cerita yang disajikan bisa memukau pembaca.

Pembaca akan dimanjakan dengan aneka tema yang unik seperti sejarah, agama, adat, dan kehidupan masyarakat terutama di Minangkabau.

Ada kisah Jamin Tersenyum; Kopiah yang Basah; Mengasah Ludah Murai; Si Mas yang Pendusta; Rentak Kuda Manggani; Rendang Kumbang; Sihir Batu  Bata; dan Tuan Alu dan Nyonya Lesung. Tentunya tak ketinggalan Ramuan Penangkal Kiamat yang menjadi judul buku ini.

Saya langsung membaca kisah yang dijadikan judul buku ini. Nuansa  Minangkau terasa kental melalui sapaan anggota keluarga. Bagi mereka yang tak memiliki darah Minangkabau tak perlu khawatir. Ada catatan kaki sebagai penjelasan.

Ada kalimat yang sangat bagus dalam kisah ini, bahkan menurut saya perlu diingat oleh setiap orang. Pada halaman 68  tertulis,"Amai Tuo sering mengingatkan untuk berhati-hati bila berdoa dengan kata-kata. Doa itu samaran dari perasaan tak berdaya dan kalah. Setiap yang bergerak pada jiwa dan yang bergerak pada tubuh adalah doa." 

Seseorang bijak pernah berkata bahwa kata-kata adalah doa. Maka berhati-hatilah dalam mengeluarkan kata-kata, apalagi jika sedang dalam kondisi emosi.  Jangan sampai sebuah doa tidak baik terucap.

Akhir kisah  Urat Leher Burhan diluar dugaan saya.  Dari kisah, semula saya mengira ia bekerja pada sebuah LSM. Ternyata saya salah, bukan itu pekerjaannya.  Tak heran jika ia digambarkan  sebagai sosok yang misterius, hingga usia 42 belum juga memiliki pasangan hidup. Dengan tugas yang ia emban,  sepertinya agak sulit memiliki kehidupan pribadi.

Pada kisah Rendang Kumbang,  pembaca akan menemukan kisah tentang seorang istri yang mendadak begitu cemburu pada sang suami. Terutama ketika melihat ada yang membuatkan teh telur bagi suaminya. 

Biasanya, jika sang suami meminta teh telur, maka pada malam hari tempat tidur akan porak-poranda. Jangan-jangan... Untuk menghilangkan kegelisahan hati, ia memohon nasihat dukun pati. 

Bagian ini menunjukkan bahwa seorang tokoh yang dianggap pandai, masih memiliki peran dalam kehidupan sosial masyarakat.  Pada kisah ini  yang dipanggil dukun pati adalah sosok yang dianggap penting.

Selain kisah tersebut, dalam buku ini juga ada  kisah yang menceritakan bagaimana peran sosok yang dianggap penting dalam kehidupan bermasyarat. Ada sosok Jumin bin Kahwaini dalam kisah Bila Jumin Tersenyum; Buya Mukaram pada Gantungan Baju Buya; serta Mak Malin pada Mengasak Lidah Murai untuk dijadikan contoh.

Penggalan kisah Rentak Kuda Manggani, menunjukkan betapa masih banyak dibutuhkan pembangunan infrastruktur agar bisa menjangkau banyak daerah di tanah air tercinta ini. 

Tepatnya pada bagian yang menggambarkan perjalanan tokoh utama dari Jakarta ke Padang pada  halaman 91-92. Kemudian ke Kototinggi kemudian mempergunakan ojek ke Manggani. Andai pembangunan rel tidak dihentikan maka tak butuh waktu lama untuk menuju tambang emas Manggani. 

Sepertinya sudah lama sekali saya tak mendengar (dalam hal ini membaca) tentang sulfa di halaman 31. Bubuk putih tersebut  biasanya ditaburkan pada bagian tubuh yang luka setelah dibersihkan terlebih dahulu. Bagi orang awam bubuk itu dianggap memiliki kemampuan bisa menghentikan darah yang keluar dari luka, serta mencgah infeksi.

Pada bagian  akhir buku terdapat Riwayat Publikasi. Sesuai dengan judulnya, bagian inj berisi informasi seputar kisah yang ada dalam buku. Contohnya Air Tanah Abang menjadi juara pertama Sayembara Cerpen Jakarta Internasional Literasy Festival tahun 2010, serta dibukukan dalam Sejuta Warna di Langit Jakarta oleh Komodo Books tahun 2011.

Rentang waktu penerbitan antara tahun 2007 hingga 2017. Adapun kisah Rumah Berkucing Lapar serta Ramuan Penangkal Kiamat sama sekali belum pernah dipublikasikan.

Kembali pada kover. Pada  https://bobo.grid.id, disebutkan bahwa kristik adalah seni menyulam dengan tangan dengan menyilangkan benangnya, sehingga membentuk huruf “x” hingga menjadi suatu bentuk seperti bunga, binatang, dan bentuk lainnya. Kristik sering juga disebut dengan strimin.

Saya jadi teringat pada beberapa saudara dan teman wanita yang berasal dari Minangkabau. Mereka umumnya cukup piawai membuat kerajinan tangan, terutama sulaman. Salah satunya kristik. Mungkin bagi penulis, kover ini menandakan ia sedang menyulam aneka kata untuk menjadi sebuah kristik cerita.

Siapa tahu begitu ^_^

Ah, sehabis membaca kisah ini kenapa jadi ingat seseorang yang sempat dekat. Saat  saya ulang tahun, dia memberikan sebuah kerudung warna biru yang diberi sulaman tangan buatan ibunya. 





 

1 komentar:

  1. Poker online dengan presentase menang yang besar
    ayo segera bergabung bersama kami di AJOQQ :D
    WA : +855969190856

    BalasHapus