Selasa, 06 Juni 2017

2017#38: Sisi Lain Seorang Rahwana

Judul: Rahwana
Penulis: Anand Neelakantan
Penerjemah: Desak Nyoman Pusparini, Chandra Citrawati
Penyunting: Shalahuddin Gh
Penyelaras Bahasa: I Wayan Sariana
Pemindai Aksara: Jenny M Indarto
Penggambar Sampul: Imam Bucah
Penata Letak: desain651@gmail.com
ISBN: 978-602-6799–24-1
Halaman:632
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: Javanica
Harga: Rp 124.00
Rating:4.25/5


Rama baik, menolak menjadi raja demi ayahnya.
Rahwana Jahat, dengan licik menculik istri Rama.

Sekian puluh tahun saya dibuat percaya pada pandangan tersebut. Perkenalan saya dengan kisah Ramayana adalah melalui kisah versi RA Kosasih. Dalam kisah tersebut Rama dan Sinta adalah suami-istri yang sedang mengembara di hutan ditemani adik Rama, Laksmana. Dengan kejinya Rahwana menculik Sinta untuk dijadikan istri, dan seterusnya. Berbagai versi cetakan dari banyak penerbit juga mengusung kisah yang sama.

Suatu ketika, karena bosan ketika menghadiri acara arisan keluarga (iya saya tahu seharusnya tidak begitu tapi mau bagaimana lagi kisahnya panjang kenapa saya sampai bosan di sana), iseng saya mengambil sebuah harian yang tergeletak di bawah meja. Siapa tahu membaca bisa mengurangi kebosanan saya, maklum saat itu belum pintar untuk selalu bawa buku. Ternyata pilihan saya tepat!

Sebuah artikel panjang langsung menarik perhatian saya. Artikel tersebut ternyata  laporan perjalanan seorang wartawan menelusuri informasi mengenai Rahwana langsung ke beberapa tempat. Dalam koran tersebut diuraikan banyak hal yang mengusik rasa ingin saya. Disebutkan bahwa pada beberapa tempat, penduduknya justru memuja Rahwana. Menjadikan ia sebagai pahlawan. Kuil Rahwana dibangun di sana.

Lebih lanjut diuraikan juga mengenai Sinta yang diuji kesuciannya dengan cara dibakar. Banyak hal diulas mengenai hal itu. Bagaimana jika Rahwana menculik Sinta justru karena ingin menyelamatkan dirinya? Rahwana justru melakukannya untuk menjaga Sinta dari ikut sengsara di hutan bersama Rama hingga mereka kembali ke istananya. Nah, bedakan dengan yang selama ini tertanam dalam kepala saya. 

Rasa ingin tahu saya sangat terusik. Saat itu saya tidak tahu bagaimana mencari sumber informasi selain perpustakaan sekolah. Sayangnya di sana juga informasi yang saya beroleh sangat standar.

Baru, setelah sekian puluh tahun melalui buku terbitan Javanica, saya mendapat pencerahan. Ada banyak cara untuk menikmati sebuah kisah. Membaca sebuah kisah dari sisi yang berbeda membuat kita mendapatkan banyak kejutan. Pandangan kita mungkin bisa berubah pada tokoh yang selama ini dicap sebagai pahlawan dan penjahat.

Oh ya, saya sangat merekomendasikan siapa pun untuk berbesar hati  dan berpikiran terbuka saat membaca kisah ini. Lupakan kisah Ramayana yang selama ini kita kenal. Abaikan ingatan bahwa tokoh protagonis dalam kisah ini adalah Rama dan Sinta. Sementara peran antagonis adalah Rahwana dan Kumbakarna. Bahkan Wibisana pun memiliki sisi buruk dalam kisah ini. Lupakan segala hal yang pernah kita ketahui mengenai kisah ini. Tak lain agar bisa lebih menikmati kisah ini semata. 

Sebelum membaca kisah ini, sempatkan juga untuk membaca pesan yang diberikan oleh penulis. Karena petunjuk untuk menikmati kisah ada di sana. Di daerah tempat penulis berasal, Kerala, India, kisah Ramayana memiliki persamaan dengan versi yang beredar di Tamil Nadu dan Karnaka. Versi ini menyebutkan bahwa rasa yang dimiliki Rahwana adalah kasih antara ayah ke anak. Suatu hal yang baru bagi saya (ini bukan spoiler ya, karena ada di uraian awal buku). Ternyata ada banyak versi kisah Ramayana!

Setelah membaca pesan penulis, peta lokasi peristiwa dalam buku ini, pembaca akan disuguhi uraian mengenai makna julukan Dasamuka bagi Rahwana. Selanjutnya kisah sebanyak 65 bab ini, mampu membuat rasa penasaran saya terpuaskan! Dikisahkan dari sisi Rahwana, Bhadara sang pelayan serta keduanya. Sekitar 36 bab mengupas peristiwa dari sudut pandang Rahwana, 27 dari sisi Bhadara, dan dua bab yang berisi pandangan keduanya, mampu membuat dahaga saya terobati.

Kisah ini dimulai dengan jeritan hati Rahwana ketika ia kalah perang. Tubuhnya disiksa, tapi ia tetap tegar. Sebagai seorang raja berusia 60 tahun, kekuatannya mungkin tak sebanding dengan tenaga muda Rama, Laksmana dan pasukan keranya. Namun demikianlah seorang ayah, demi anak perempuan, apapun akan ia lakukan untuk melindunginya. Bahkan dari suaminya sendiri.

Aku pantas mendapatkannya? Pantas? Aku baru saja mengorbankan adik kecil untukmu. Aku mungkin akan kehilangan segalanya, tapi aku tetap akan mempertahankanmu. Aku pernah mengabaikanmu skali, dan aku bersumpah itu tak akan terjadi lagi. Kau akan mengerti siapa sebenarnya suamimu saat ayahmu tak bisa lagi menjagamu. Akan tetapi, saat itu terjadi, semua sudah terlambat putriku...
India, to Illustrate The  Ramayana

Betul! Kita akan menemukan sisi lain dari seorang Rahwana dalam buku ini. Meski terkesan kasar, namun sesungguhnya Rahwana memiliki hati yang lembut. Ia begitu mencintai anak perempuanya yang hilang saat masih bayi. Belakangan ia tahu bayi itu sudah menjadi seorang gadis dan diurus oleh raja negara lain, negara yang dianggapnya kurang layak untuk duduk sama rata.

Dengan demikian maka peperangan yang terjadi dalam buku ini bukan dikarenakan penculikan Sinta untuk dijadikan sebagai istri. Namun lebih pada upaya menyelamatkan Sinta.  Mengenai asal mula Sinta, nama yang berarti yang didapat dengan tenggala, pembaca bisa menemukan kisahnya di halaman 288. 

Ayah mana yang tidak bahagia mengetahui putrinya masih hidup. Perihal ia berada dalam asuhan bangsa Dewa adalah hal yang ia harus selesaikan secepatnya. Sang putri harus kembali keasalnya, ke bangsanya sendiri. 

Banyak yang menentang Rahwana ketika berusaha menyelamatkan Sinta. Hanya sang istri yang mendukung, hal ini dikarenakan banyak yang tidak paham siapakah Sinta sebenarnya. Bahkan ibu kandung Rahwana pun mengeluarkan amarahnya karena hal ini. Andai ia tahu bahwa Sinta adalah cucunya mungkin kisahnya akan lain.

Entah bagaimana nasib Rahwana tanpa ada sosok Bhadara. Sebagai sosok yang direndahkan, perannya ternyata tidak bisa dipandang remeh dalam kehidupan Rahwana. Ia yang mengerjakan pekerjaan kasar, tapi ia juga yang melakukan tugas mulia mendidik salah satu anak Rahwana. Saat terakhir pun, Rahwana mengharapkan Bhadara membawanya pergi jauh. Ia bisa meninggal dengan tenang setelah mendengar janji Bhadara akan menuntut balas.

Rahwana bagaikan dua mata uang. Dalam memerintah, Rahwana mampu membuat kerajaannya menjadi makmur. Ia juga bersikap melindungi bagi wanita dan anak-anak saat perang, hanya  saja meski ia memerintahkan untuk tidak membantai rakyat kadang justru orang disekitarnya melakukan hal-hal yang berlawan dengan instruksinya.

Ia juga menentang adanya kasta sementara sang adik berupaya menerapkannya dalam kerajaan. Bagian ini menunjukan bahwa Wibisana yang dipuji-puji dalam versi lain, adalah sosok yang memiliki sifat buruk. 

Dengan caranya sendiri yang unik, Rahwana mencintai anak laki-lakinya yang lahir dari napsu sesatnya semata. Anak yang lahir dari seorang pelayan yang ia perkosa. Walau bagaimana ia tetap mengakui sang anak sebagai darah dagingnya. Bahkan sang permaisuri juga bisa menerima kehadiran anak tersebut. Para saudara tiri juga dibiarkan bermain bersama, mesti ada batasan yang diberlakukan secara samar. 

Bagian yang menggambarkan Rahwana dengan anak-anaknya selalu mampu mengusik rasa haru saya. Sosok jahat Rahwana  berubah menjadi seorang ayah yang begitu mencintai anak-anak. Sosok kasarnya berubah menjadi lembut. Ia tak ragu-ragu menunjukkan rasa sayang dan cintanya pada buah hatinya, siapa pun itu. Sepertinya sosok Rahwana lebih baik dibandingkan salah satu pesohor yang ketika ditanya juri pada suatu ajang mengatakan tidak punya anak.

Salah satu sisi buruk Rahwana adalah kadang ia bersikap seenaknya, atau bicara  kasar hingga melukai perasaan orang sekitar. Padahal ia sudah ditempa sejak kecil untuk mampu mengendalikan amarah, namun sepertinya usaha yang gagal.

Meski banyak bagian yang mengisahkan mengenai pertempuran dan kekerasan sehingga mengusung nuansa suram, tapi ada juga bagian yang mengisahkan tentang kisah cinta Rahwana terhadap Widyawati, atau  Bhadara dengan Mala. Ada juga kisah mengenai kasih sayang seorang ayah pada anak tirinya, saudara tiri dengan beda kasta. Unik.

Pesan moral mengenai menghormati orang tua, terutama ibu juga ada dalam kisah ini. Suatu peristiwa di halaman 226 mengisahkan bagaimana Rahwana bersikap kasar pada sang ibu. Tidak terima, sang ibu mengeluarkan sumpah serapah dan kutukannya, "Dan karena penghinaan kepada orang tuamu, kau akan membayarnya. Aku tak tahu apakah di dunia ini atau di kehidupan berikutnya, tapi yang pasti kau akan membayarnya!

Meski saya bisa mengerti kenapa Rahwana bersikap begitu. Raja mana yang mau dibantah dan dipermalukan di depan khalayak banyak, bahkan oleh ibunya. Tetap saja saya tidak mendukung kelakuan Rahwana. Juga sikap ibunya yang gampang emosi dan mengeluaran sumpah. Ucapan ibu adalah doa maka berbicaralah yang baik, begitu ujar seorang bijak yang saya pernah dengar.

Banyak kalimat penuh filosofi kehidupan dalam buku ini. Kalimat yang saya sukai ada di halaman 50. 
"Amarah adalah perasaan terendah yang menutupi pikiranmu dan bisa membuatmu melakukan hal-hal bodoh. Ketika amarah menguasaimu, engkau menjadi buta. Engkau menanggapi segala hal hanya dengan tubuhmu, tanpa berpikir. Dan itu akan berujung kegagalan. Enyahkan sisi buruk ini dari dirimu." 
Sebenarnya saya tidak tahu harus menuliskan apa setelah membaca buku ini. Rasa hati merasa sedih, air mata berulang kali berupaya untuk keluar dari mata. Pilu. Kadang, sesuatu tidak seperti yang kita lihat. Ada kebaikan yang mengendap dalam diri seorang jahat, namun ada juga kejahatan yang tersembunyi dalam hati seorang baik.

Kisah yang sudah diterjemahkan dalam sembilan bahasa ini sungguh layak dibaca dan dikoleksi. Menjadi pembelajaran agar kita selalu melihat segala hal dari dua sisi.

Ini bukan kisah tentang suami yang ingin menyelamatkan istri.
Juga bukan kisah tentang adik ipar yang membantu menyelamatkan istri kakak .
Namun ini kisah tentang seorang ayah yang ingin menyelamatkan putrinya.
Putri yang tidak mengetahui jati diri sebenarnya.
Menantu yang tak  mengetahui ia berperang melawan mertua sendiri.

Jika begitu, apakah Rahwana bersalah jika menculik Sinta?
Kenapa Rama diam saja ketika Sinta dituntut menguji kesuciannya?

Jawabannya tergantung pada pribadi Anda setelah membaca buku ini.

Sumber Gambar:
1. Buku List of Maps.
2. Buku Rahwana, Penerbit Javanica 
3. FB Penerbit Javanica

-------->

Tertarik membaca kisah Rahwana?
Ayo ikutan acara seru di bawah ini. 

Siapa tahu Anda beruntung.





















2017#37: House of Secrets #3: Clash of The World

Penulis:Chris Columbus, Ned Vizzini, Chris Rylander 
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Yuke P. Yuli Prostania
ISBN:9786023852017
Halaman:476
Cetakan:Pertama-Februari 2017
Penerbit: Noura Books
Rating: 3.5/5

Diablo TAN-tun-ka, arwah... uh, kakek-kakek-buyutku, um, kukira," ucap Brendan. 
"Aku memanggilmu! Aku ingin berbicara dengan dia yang sudah pergi, yang bernama Denver Kristoff!"

Cordelia, Brendan, dan Eleanor sepertinya belum bisa hidup tenang dan damai di rumah peninggalan leluhur mereka. Satu masalah selesai, muncul masalah yang lain. Ayah mereka ternyata diam-diam menjadi penjudi. Dan rumah tersebut sudah masuk dalam daftar barang yang harus mereka relakan karena kebiasaan buruk sang ayah. Segala hal indah mendadak menjadi rusak bagi mereka bertiga.

Ternyata,  ada hal yang lebih buruk dibandingkan kemungkinan kehilangan rumah mereka yang menawan! Muncul berbagai makhluk ciptaan Kristoff di San Francisco. Mereka menghancurkan kota dengan mudahnya. Semula makhluk-makhluk tersebut berada dalam dunia buku, karena gerbang permbatas kedua dunia mulai terbuka maka  mereka dengan mudahnya berada di San Francisco.

Dengan berat hati ketiga anak tersebut terpaksa bertanya pada Denver Kristoff. Secara teknis ia sudah meninggal, maka mereka harus menghidupkannya terlebih dahulu agar bisa bertanya. Bukan hal mudah, karena mantra yang dibaca Brendan tidak saja menghidupkan kakek buyutnya tapi juga banyak banyak sehingga bermunculan sejumlah Zombi di pemakaman.
https://www.goodreads.com

Sungguh kasihan ketiga anak tersebut. Alih-alih mendapatkan saran untuk mengembalikan makhluk-makhluk tersebut, Kristoff malah menyarankan sebuah misi berbahaya yang mengharuskan ketiga berpisah jika ingin menyelamatkan kota tercinta. Masing-masing anak harus menemukan sebuah benda yang dapat membuka Pintu ke Banyak Jalan yang mangis. Melewati pintu itu sihir akan berbalik, hubungan antara kedua dunia terputus  untuk selamanya dan  kota akan kembali seperti semula. Memang banyak hal yang bisa dikembalikan seperti semula, tapi butuh perjuangan dan pengorbanan untuk mewujudkannya.

Ketika buku ini muncul dengan jarak yang lumayan jauh dari buku kedua, saya harus membaca ulang review yang saya tulis juga membaca review teman-teman di GRI, agar keseruannya bisa lebih terasa greget ^_^. Untuk review buku pertama seri ini bisa dibaca di sini. Sementara untuk buku kedua ada di sini.

Kisah dalam buku ini mengusung keseruan ala Harry Potter dan Indiana Jones. Aneka makhluk magis dan urusan keajaiban serupa dengan keseruan yang diperoleh ketika melahap buku HP. Sementara ketegangan mencari benda-benda yang magis dengan mendatangi beberapa lokasi,  juga kehebohan menyelamatkan diri dari kejaran  musuh,  sama menegangkannya dengan upaya Dr Henry Walton Jones, Jr melarikan diri dari musuh. Paduan yang asyik.
Meski demikian, saya tetap merasakan ada beberapa bagian yang seakan dipaksakan. Misalnya bagaimana Brendan menemukan salah satu barang yang mereka cari. Sungguh mudah mencari sesuatu barang yang belum jelas wujud dan keberadaannya. Kenapa penulis tidak menciptakan sebuah konflik kecil pada bagian ini sehingga alurnya bisa lebih pas.
https://www.goodreads.com

Selain keseruan tersebut, pembaca juga akan menikmati penjabaran hal yang menjadi kekuatan pada kisah ini, kasih sayang sesama. Meski bersaudara, kadang ketiga anak tersebut juga mengalami masa sulit dengan sesama. Sudah beberapa kali hal tersebut dimanfaatkan oleh pihak lainb untuk memecah belah dan membuat mereka tak berdaya.

Namun seiring waktu, ketiga belajar untuk saling mencintai dan menghormati sesama tanpa memandang kekurangan yang merka miliki masing-masing. Bahkan tanpa perlu mereka tunjukan, rasa mencintai sesama juga bisa dirasakan oleh yang lain, misalnya oleh salah satu tokoh dalam kisah ini yang bernama Adie. 

Ketika ia melihat betapa Eleanor dipengaruhi musuh, segera ia menjadikan dirinya sebagai tameng, seperti yang diuraikan dalam halaman 454. "Mereka keluargamu. Ikatan di antara kalian sangat dalam. Jauh lebih dalam daripada sihir atau buku kuno. Keluarga adalah satu-satunya nilai yang kita bawa sejak lahir. Tak akan kubiarkan kau menghancurkan keluargamu sendiri. Mereka sangat mencintaimu, Eleanor. Percayalah padaku... mereka mencintaimu lebih dari apa pun! Dan, aku tak mau membiarkan cinta semacam itu mati. Kau harus membunuhku lebih dahulu." Sungguh menyentuh.

Kisah ini sangat cocok untuk dibaca oleh segala umur, walau di tempat awal buku ini terbit target pembaca kisah ini adalah anak-anak usia 8-9 tahun. Keseruan petualangan dan rasa kasih sayang sesama yang disajikan sangat bermanfaat bagi perkembangan kehidupan anak-anak dan remaja. Sementara bagi orang dewasa, kisah ini mengingatkan rasa kasih sesama dan angan-angan petualangan yang (mungkin) belum terlaksana.

Sesaat saya merasa ada yang tidak biasa pada deretan nama penulis. Seingat saya pada buku pertama dan kedua hanya ada dua nama penulis. Penasaran, saya membuka arsip lama dan menemukan nama penulis buku pertama dan kedua hanyalah Chris Columbus dan Ned Vizzini.  Pada halaman belakang saya temukan bahwa Ned Vizzini telah berpulang, kontribusi  Chris Rylander tentunya akan menjadikan buku ketiga ini memiliki sesuatu yang berbeda dibanding kedua buku terdahulu.

Satu kata favorit saya ada di halaman 459, 
Kecerdasan sejati adalah menyadari dan mengenali bukan apa yang kita ketahui ... tapi apa yang tidak kita ketahui.... Kita semua punya kekurangan, tapi dengan bersama-sama kita dapat meraih yang terbaik." 
Kecerdasan dari sisi ilmu serta kecerdasan emosional menjadi kekuatan terbesar ketiga anak tersebut. Menjadi senjata yang tak terkalahkan selama mereka bertiga mempergunakan dengan bijak. 

Bacaan seru terutama bagi mereka yang membutuhkan petualangan berbau sihir, buku dan sejarah.











Kamis, 25 Mei 2017

2017#36: Sepenggal Kisah Tentang Kartini



Penulis: Abidah El Khalieqy
Editor: Teguh Afandi
ISBN: 978-602-385-280-2
Halaman:368
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: Qanita
Rating: 4


Membacalah, Ni. Karena kebebasan pikiranmu ada di sana. Dan siapa pun tak akan bisa menjajah pikiranmu. Aku ingin  dengar  kabar baik darimu, sebelum aku berangkat ke Belanda.
~Kartini, hal 80~

Jadi apa sebenarnya yang menjadi penyebab kematian Kartini? Kehabisan darah karena melahirkan seperti penjelasan yang sering saya temui dalam buku pelajaran sejak dulu. Atau dibuat diam selamanya melalui minuman  yang dibawa oleh Dokter Ravesteyn karena sepak terjangnya dianggap mampu membahayakan  keberadaan Belanda di tanah air?

Mungkin terdengar terlalu ekstrim, tapi begitulah yang saya rasakan ketika selesai membaca buku ini. Cara penulis bercerita mampu membuat perasaan saya bercampur aduk. Seakan saya berada di dekat mereka bertiga. Penulis dengan sukses membuat hati saya seakan iklan permen tersohor itu. Kadang  ikut merasa bahagia seperti ketika Kartini mendapat kesempatan menuliskan pikirannya dalam sebuah artikel. Marah karena tidak mendapat izin untuk belajar. Berulang kali meneteskan air mata haru ketika membaca adegan yang ada di halaman 362.

Jika berharap akan menemukan penggalan isi surat-surat yang ditulis Kartini kepada para sahabat penanya pada buku ini, maka bersiap-siaplah kecewa. Buku ini lebih menyoroti bagaimana sikap Kartini dalam menjalani kehidupan ini. Tegar dengan prinsipnya namun tetap memegang teguh sopan santun sesuai dengan tatanan kehidupan priayi Jawa. Memang ada bagian yang mengisahkan Kartini sedang menuliskan surat bagi sahabatnya tapi porsinya kecil.

Sejak kecil, Kartini memang sudah berbeda dibandingkan dengan saudara yang lainnya. Nilainya selalu bagus, kecerdasanya mampu membuat kakak laki-lakinya mati kutu. Sikap hormat pada ibu kandungnya yang harus dipanggil Yu juga ditunjukan dengan berani. 

Keberadaan Kartini ternyata mulai membuat cemas pihak penjajah. Hal itu bisa dilihat dari ungkapan salah seorang pembesar Belanda pada halaman 3, "Dia hanya perempuan belia, lulusan sekolah dasar Europese Lagare School, priayi pingitan, bagaimana mungkin memiliki perspektif tentang dunia begitu jauh, mengalahkan pemikir Eropa dan menghentakkan kesadaran Sri Ratu. Aku tak bisa mengerti!"

Saat memasuki masa pingitan, Kartini dan kedua adiknya memanfaatkan waktu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. "Tubuh kita boleh saja dikurung tatanan, tapi kita harus berdaulat atas imajinasi kita." Banyak karya yang mereka hasilkan. Tulisan Kartini melalui media setempat dengan mempergunakan nama samaran dibaca banyak orang. Lukisan Srikandi membawa panah dan buku yang dibuat Kardinah membuktikan keinginannya untuk belajar. Sementara Rukmini berjuang melalui kelincahan tangannya membatiknya.

Begitu populernya Kartini sehinga pihak Belanda mau melakukan pertukaran antara antara ide dan hasil karya Kartini dengan jaminan agar kedua kakak laki-lakinya bisa memiliki jabatan yang lumayan. Tanpa campur tangan Kartini maka keduanya harus melupakan impian menjabat pejabat. Hal tersebut semakin membuat rasa sakit hati keduanya.

Perjumpaan Kartini dengan Kiai  Sholeh membuat pikirannya lebih terbuka. Usulnya agar sang kiai menerjemahkan Al-Quran dan menjadikannya sebuah buku.  Dengan demikian makin banyak yang tahu apa makan dari ayat yang mereka  baca. Dahulu Kartini pernah bertanya pada guru mengajinya mana sebuah ayat, bukannya mendapat penjelasan ia justru mendapat omelan. Yang penting bisa membaca. Artinya tak perlu. Sudah jangan cerewet, kurang lebih begitu kata guru mengajinya di halaman 80.  
Sumber: Wikipedia

Ide yang berhasil diwujudkan oleh Kiai Sholeh merupakan hadiah pernikahan terbaik yang Kartini terima. Sementara bagi saya, tanpa ide Kartini mungkin saya hanya bisa membaca sementara untuk bisa meresapi maknanya harus ada guru pendamping  

Banyak hal yang baru bagi saya saat membaca buku ini. Maafkan ketidaktahuan saya. Misalnya, saya baru paham bahwa Rukmini dan Kartini beda ibu. Versi dalam buku ini menyebutkan bahwa kecintaan ayah Kartini pada ibu kandungnya lebih besar dibandingkan dengan permaisurinya. Dan sang ibu tiri selalu bersikap bermusuhan dengan Kartini serta ibunya. Beda dengan film Kartini versi lawas yang dulu saya tonton.

Meski keluarga Kartini dikenal dengan keterbukaannya akan pendidikan setara antara anak laki-laki dan perempuan,  namun ada saatnya mereka harus patuh  pada tekanan sekitar. Pendangan dan tindakan mereka membuat pejabat sekitar merasa ngeri sehingga bersatu untuk menunjukan rasa ketidaksukaan pada keinginan belajar Kartini.

Seperti yang diuraikan pada halaman 138. "Kalau kita nuruti permintaan perempuan untuk sekolah tinggi, nanti mereka ngelunjak minta jadi bupati. Lama-lama orang miskin ikut-ikutan. Nanti jangan-jangan muncul zaman anak tukang kayu jadi pembesar negara! Ngawur itu! 


Saya sempat berkata dalam hati setelah membaca buku ini. Sebagai sosok seorang perempuan Jawa berdarah biru, apa yang dikerjakan Kartini sungguh berani. Ia dengan pandainya membuat orang sekitar mengabulkan keinginannya. Sungguh cerdik.  Ia sangat tahu bagaimana harus bersikap dan bertindak.

Perjuangan Kartini dan adik-adiknya untuk memajukan pendidikan kaum wanita tak terbatas hanya di Jepara saja. Bahkan meski Kartini sudah meninggal namun idenya tetap menyebar. Dalam buku Kartini Tiga Saudara buah karya Ibu Kardinah Rekso Negoro, pada hal 32 tertulis bahwa ibu Dewi Sartika dan adiknya Sari Pamerat  pernah tinggal selama 4 bulan untuk menimba ilmu dan ikut mengajar di sekolah yang didirikan oleh salah satu dari ketiganya.


Akhir kisah yang berujung bahagia membuat pembaca akan merasa menemukan jarum diantara jerami. Sosok suami Kartini dalan buku ini merupakan sosok yang bertolak belakang dengan para pembesar Jawa lainnya. Andai Kartini berumur panjang, anak keturunan mereka pasti menjadi pejuang pendidikan yang tak kalah hebat.


Dahulu Kartini, biasa dipanggil Trinil berjuang melalui pena. Kardinah alias Klientje melalui lukisannya menyuarakan perjuangan perempuan. Rumini atau Bikmi dengan kelenturan tangannya membatik berupaya memajukan harkat perempuan. Berkat mereka, sekarang banyak perempuan di tanah air yang dengan bangga mengatakan karena aku lahir sebagai perempuan. Sungguh beda dengan makna yang ada di halaman 65. 

Ini buku tentang Kartini terbaik yang pernah saya baca. Buku ini menyebutkan bahwa jasad Kartini berbau melati, harum. Jadi ingin mendengarkan lagu Ibu Kita Kartini.

-------------

Curcol sedikit

Belum lama ini saya bertugas melakukan pembelian buku guna pengembangan koleksi kantor ke Yogyakarta. Mumpung di sana sekalian janjian dengan Dion dan Desca juga beberapa teman lainnya.

Namanya mendadak, pastilah tidak 100% persiapan matang, salah satunya adalah lupa membawa helm untuk keliling kota. Desca berinisatif meminjam helm pak petugas keamanan hotel. Helm diberikan dengan syarat harus kembali sebelum jam 23.00 WIB dan ada KTP sebagai jaminan. Mudah bukan? Segera saya serahkan KTP  dan mengambil helm dari pak petugas.

Jam 22.50 saya kembali ke hotel dan bergegas mencari pak petugas keamanan pemilik helm sambil menyiapkan sekedar uang terima kasih. Begitu sampai ke kantor keamanan dengan sopan saya sebutkan bahwa saya mau mengembalikan helm dan mengambil KTP.

Selanjutnya yang terjadi membuat saya terkejut!
Sekitar dua atau tiga orang bapak petugas yang tadinya duduk santai segera berdiri dan memberikan bungkukan badan tanda hormat. Pemilik helm langsung menghampiri saya dan mengucapkan terima kasih. Lah jelas saya yang bingung, bukannya seharusnya saya yang berterima kasih? KTP saya dikembalikan dengan sikap sangat hormat layaknya  seorang marketing menyerahkan kartu nama pada calon pembeli potensial. Uang yang saya berikan diterima dengan mata berbinar sambil mengucapkan terima kasih tak terhingga. Saya dikawal menuju lift yang jaraknya hanya sekian meter dari tempat kantor keamanan.

Sepanjang perjalanan menuju kamar, saya tak bisa berhenti berpikir kenapa mereka bersikap agak aneh. Saat menunggu lift,  saya  teringat untuk masukkan KTP  ke dompet. Dan..., saya jadi tahu kenapa mereka bersikap begitu he he he. Pasti karena nama saya. Ribet memang,  tapi mau bagaimana mana lagi itu nama pemberian orang tua saya. Makanya saya sangat paham jika Kartini ingin diperlakukan seperti manusia biasa tanpa aneka macam protokoler.