Kamis, 15 September 2016

2016 #102: Membaca Bersama Anak-Anak Multatuli

Judul: Anak-Anak Multatuli
Penulis: Ubaidilah Muchtar
Editor: Vini Mariyane Rosya
ISBN: 978-602-70564-8-0
Cetakan: Pertama-Desember 2015
Penerbit : ArkeaBooks
Bintang: 3/5

Multatuli itu adalah orang yang membela lebak dari penjajah Belanda dan penjajah pribumi

Sungguh saya mengaku kalah!
Rencananya  untuk  mereview buku ini, saya akan mencoba membaca ala kang Ubai. Perlahan tapi pasti. Bukannya sukses, malah jadi kacau balau. Awalnya lancar, dibaca setiap minggu saat istirahat kerja di hari Jumat. Dibatasi hanya 5 halaman maksimal. Makin kebelakang, mulai tidak tiap minggu, sekali baca lebih lima halaman.

Saya terbawa suasana. Serasa ikut membereskan buku-buku yang berantakan, ikut berdiskusi, bahkan suatu ketika sibuk mencari makna sebuah kata dalam kamus. Seakan saya membaca bersama dengan Ucu, Suherti,  Mariam, Elah  dan lainnya.

Guna menahan diri membaca dengan "berlari" buku ini sengaja saya tinggal di kantor. alih-alih dibaca, malah tertimbun buku-buku yang baru berdatangan. Aduh deh...., baiklah kita kembali ke metode saya membaca saja.

Bisa dikatakan ini merupakan catatan harian alias diari seorang Ubai saat mengajak anak-anak di Lebak Banten menikmati kisah karya Multatuli melalui reading group yang ia adakan. Aneka suka duka kelucuan hingga kepolosan anak-anak yang mengundang senyum diuraikan dengan jelas dalam buku ini. 

PEMBACA yang terhormat,
Aku ingin melanjutkan catatan kecilku. Catatan Reading Group minggu ke-8 dari novel Max Havelaar yang sempat terpotong dan tidak terselesaikan. Kini aku melanjutkan kembali. Ini catatanku. Catatan Reading Group hari Selasa, 11 Mei 2010.
Kurang lebih seperti itu Kang Ubay  menulis diawal tiap catatan kegiatan. Pembaca terbawa hanyut dalam untaian kata yang disusun dengah apik. Ini merupakan kelebihan kang ubai menurut saya, beliau mampu membuat pembaca terbawa suasana seperti yang diuraikan dalam buku.

Catatan kegiatan dibuat urut setiap minggu. Sebenarnya pada pojok kanan atas, sudah tercantum tulisan yang menyebutkan catatan itu merupakan catatan kegiatan minggu keberapa. Saya mengutip catatan dari Minggu 8 (2) di halaman 89. Maksud arti (2) adalah catatan tersebut merupakan catatan kedua yang ditulis pada minggu ke-8.

Setiap selesai melakukan reading group, kang Ubai akan meminta perserta mengisi semacam daftar hadir dan menuliskan kesannya. Beragam ternyata. Dari sana saya makin mengenal sosok anak-anak yang mengikuti kegiatan tersebut.

Tidak saja membaca anak-anak itu juga melakukan pementasan drama Saijah dan Adinda, salah satu bagian dari kisah Max Havelaar. Mereka sangat menikmati kebersamaan yang ada. Ketika ada yang mengunjungi mereka untuk mengamati bagaimana berjalannya reading group tersebut, mereka makin bersemangat. 
Bagian yang mengisahkan tentang Saijah dan Adinda memang sudah sering diangkat dalam berbagai alih kisah. Pernah dibuat film di tanah air dan setelah sekian puluh tahun baru mendapat ijin putar. Anak-anak juga diperkenalkan dengan cerita ini dalam bentuk cerita bergambar.

Dari apa yang ditulis kang Ubay, metode ini tidak saja mengajarkan nilai yang ada dalam buku, namun juga mengajarkan banyak hal lain. Saat menemukan sebuah kata yang dirasa belum dipahami, anak-anak akan mengajukan pertanyaan mengenai makna kata tersebut.Bisa juga mengenai sebuah hal. Jika kebetulan kang Ubay tidak mengetahuinya, maka akan dijadikan pekerjaan rumah untuk dicarikan jawaban.

Kopi daun sebagai contoh. Dahulu orang-orang Lebak tidak dapat meminum kopi dari biji kopi karena semua produksi kopi akan diangkat ke Belanda. Mereka meminum kopi yang merupakan hasil olahan dari daun kopi. Mula-mula daun kopi dipetik lalu ditumbuk halus, setelah itu diseduh dengan air hangat seperti menyeduh kopi. Rasa dan harumnya konon menyerupai kopi. Jika ingin lebih wangi, maka daun yang dipetik dipanaskan dulu di atas tunggu. Menyedihkan bukan nasib pribumi saat itu.

Atau penjelasan singkat  seperti yang tertera di halaman 106.
    "Etiket itu apa?" tanya Pipih.
    "etikat itu aturan kesopanan, aturan sopan santu, tata karma," jelasku. Ketika itu mereka sedang membaca paragraf pertama Bab 7. Dari satu paragraf saja anak-anak di Ciseel mendapat banyak ilmu. Oh ya, sepertinya ada sedikit kesalahan menulis, mungkin maksudnya adalah sopan santun dan tata krama.

Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya apakah mudah mengadakan reading group dengan mengambil buku seperti itu pada anak-anak. Orang dewasa juga belum tentu bisa memahami nilai yang ada dalam kisah itu. Justru dengan menerapkan pola seperti yang dilakukan oleh Kang Ubay, anak-anak bisa lebih paham pada isi buku tersebut. Kenapa reading group? Silahkan buku di halaman xxiii dan 394 ^_^.

Satu hal lagi menurut saya yang memudahkan kang Ubay  melakukan reading group, kedekatan tempat tinggal anak-anak dengan lokasi dalam kisah. Secara emosi mereka merasakan kedekatan dengan tokoh dalam kisah itu, sama-sama berasal dari Lebak Banten.  Bukan hal utama, namun merupakan pendukung yang sangat membantu. 

Dalam buku ini, saya menemukan banyak ilustrasi terkait peristiwa dalam kisah. Dari foto yang ada, saya bisa wajah-wajah ceria seusai kegiatan reading group minggu ke-12 di halaman 144 sambil sibuk menerka wajah siapa saja yang ada di sana. Bisa juga mengetahui bagaimana  sungai di Desa Cisel tempat anak-anak bermain.

Selain beberapa salah ketik yang cukup manusiawi, kekurangan buku ini ada pada kertas yang digunakan, terlalu tipis.  Hal ini mengakibatkan pada beberapa bagian pembaca seakan melihat bayang-bayang tulisan yang ada di baliknya. Ukuran huruf juga agak terlalu kecil, mungkin karena menyiasati ketebalan halaman.

Sepertinya kapan-kapan saya juga ingin ikut menikmati rasa ayam goreng yang dimasak dan makan bersama pada pertemuan ke-37, pertemuan terakhir pembacaan buku ini. Ternyata jika dilakukan dengan secara terus menerus tak ada yang tak mungkin. Anak-anak di Lebak Banten sudah menyelesaikan satu putaran membaca buku ini. Dan itu merupakan sebuah prestasi yang tidak dapat diremehkan!

Eduard Douwes Dekker (2 Maret 1820-19 Februari 1887) dikenal dengan nama pena Multatuli merupakan penulis asal Belanda yang dikenal melalui bukunya Max Havelaar. Buku tersebut terbit pada tahun 1860, isinya penuh kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi. Hal ini menjadi pembicaraan ramai, seorang Belanda berani memberikan kritik pedas pada bangsanya sendiri. Sifat simpati pada orang-orang pribumi sepertinya menular dalam keluarga Dekker. Salah seorang cucu keponakannya (cucu dari saudaranya yang bernama Jan) merupakan  tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, Ernest Douwes Dekker yang dikenal pula dengan nama Danudirja Setiabudi.

Apa yang dilakukan oleh Kang Ubay menurut saya patut diacungi jempol. Membuat anak suka membaca merupakan hal yang cukup sulit dilakukan. Apa lagi jika buku yang dijadikan bacaan adalah buku seperti max Havelaar. Tapi bukan tidak mungkin^_^ Pastinya akan ada jalan untuk setiap niat baik.

Sumber gambar:
https://www.facebook.com/ubaidilah.muchtar
---->
Perkenalan saya dengan kang Ubay adalah saat bedah buku Max Havelaar di kantor. Kang Ubay didaulat menjadi salah satu pembicara. Acara boleh selesai, tapi urusan kecintaan kami pada buku terus berlanjut.

Dimulai dari saya mengirimkan banner acara kegiatan yang lalu untuk dipasang di Taman Baca Multatuli di Cisaeng, sebagai kenang-kenangan katanya. Selanjuya aneka kegiatan mengirim buku-buku yang sudah tidak saya baca. Lalu acara BBI Berbagi, dimana teman-teman BBI di salah satu wilayah melalukan lelang buku dan menyerahkan seluruh pendapatannya untuk dimanfaatkan bagi taman baca yang kang Ubay kelola.

Bagian ini ajak menyentuh hati. Mungkin karena amanah, suatu ketika kang Ubay memberikan laporan mengenai pengeluaran dana yang ia terima. Begitu terinci hingga disebutkan pembelia makanan kecil. Aduh si akang bikin kita tidak enak hati ^_^. Padahal niat teman-teman hanya memberi saja, pengaturan 1.000% percaya pada akang saja he he he.

Pertemuan terakhir dengan kang Ubay adalah di IRF 2015 yang lalu. Setelah melapor pada panitia bahwa kang Ubay membutuhkan bantuan buku bagi anak-anak Ciseel, lalu mendapat izin untuk memilih buku sisa bookswap-bookwar, mulailah saya berdua kang Ubay memilah mana buku yang cocok.  Sempat bingung bagaimana membawanya, untung saya ingat ada dus bekas di booth saya. Jadi total akang mendapat 1 dus buku plus beberapa tas hadiah dari teman-teman BBI. Seru!

Malu!
Sebenarnya malu juga melihat semangat seorang Ubay menggiatkan literasi dalam segala keterbatasan. Sementara saya hanya bisa membagi-bagikan buku saja. Semoga apa yang dilakukannya bermanfaat serta mendapat balasan kelak. Aamiin YRA

Senin, 12 September 2016

2016 # 101: Misteri Kalung H (Mengandung Spoiler)

Judul asli: Kabut di Bulan Madu
Penulis: Zainul DK
Penyunting:Nisaul Lauziah Safitri
Penata letak:Yunior Retno Wulandari
Pendesain sampul: Hanung Norenza Putra
ISBN: 9786020805733
Halaman:251
Cetakan: Pertama-Agustus 2016
Penerbit:Ellunar Publisher
Harga:Rp 73.000
Rating:3/5

Sebuah novel thriller romance (begitu yang tertulis di kover) menambah keriuhan dunia buku tanah air. Sinopsis lengkapnya bisa dibaca terlebih dahulu di sini. Maksudnya supaya bisa lebih bisa memahami apa yang saya tulis. Tapi jika tidak ingin juga tidak apa-apa.

Novel ini dibuka dengan adegan Polisi mendapat laporan mengenai seorang pria yang diduga meninggal akibat luka tusuk di tempat hiburan. Polisi segera mendatangi tempat kejadian dan mulai melakukan penyelidikan. Tak butuh waktu lama bagi polisi untuk  mengantongi nama tersangka dan sudah mempersiapkan penangkapannya. Tersangka ternyata tidak  begitu saja menyerahkan diri, butuh upaya ekstra polisi untuk menangkapnya. Terjadi adegan kejar-kejaran ala film detektif Hollywood, tentunya diakhiri dengan kesuksesan polisi menangkap

Meski ternyata korban adalah seorang preman yang meresahkan orang banyak, tapi apa yang dilakukan oleh Roby selaku tersangka tetap tidak dapat dibenarkan. Alasan ia melakukan itu adalah untuk membela pacarnya Linda, yang diganggu sang preman juga tidak dibenarkan. Cinta Roby yang berlebihan pada Linda justru menjadi munculnya berbagai masalah lebih lanjut. 

Di sisi lain, dikisahkan tentang seorang perempuan yang begitu mendewakan urusan Jepang. Dari bahasa hingga jodoh  pun dipilih yang memiliki  unsur Jepang. Helena Lizzana, seorang  pembawa berita berbahasa Jepang. Untunglah ia cukup cerdik memanfaatkan kesukaannya sebagai cara untuk mencari uang. Helena sangat menyukai kalung dengan inisial huruf H, dari namanya.

Sebuah peristiwa tidak terduga membuat Helena dan Roby terhubung. Helena bersama suaminya mengalami kecelakaan kapal pesiar dimana Linda, pacar Roby juga berada di sana. Semua penumpang selamat, kecuali Linda. Di tangannya ditemukan sebuah kalung dengan inisal H. Roby yang tak menerima kematian Linda berusaha menyelidiki peristiwa itu. Ia ingin membalas dendam pada orang yang menurutnya menyebabkan Linda meninggal. Walau secara hukum hal tersebut tidak dapat dituntut. Roby ingin menegakkan keadilan menurut versinya sendiri.

Hubungannya dengan Helena? Pembaca mungkin sudah bisa meraba kemana kisah akan bergulir dengan membaca sinopsis yang ada. Helena memang terkait dengan kematian Linda, tapi bagaimana dan seperti apa peristiwanya itu yang akan menjadi cerita tersendiri. Pembaca juga akan mengikuti bagaimana upaya Roby menemukan sosok yang menurutnya menjadi penyebab meninggalnya Linda. Serta bagaimana Helena mengatasi trauma dan rasa bersalahnya. Bagian ini penuh keseruan. 

Saat pertama melihat buku ini, mata saya langsung terarah huruf H yang ada di bagian atas. Setelah itu baru saya menyadari bahwa itu adalah kalung yang dipakai seorang perempuan. Dari mana saya tahu itu sosok perempuan? Dilihat dari posisi tangan yang saling bertaut. Mereka yang melihat kover buku ini seolah sudah dituntun untuk memikirkan betapa pentingnya peranan kalung tersebut dalam kisah ini.

Sikap Roby yang agak kasar pada orang tua Linda seperti yang dikisahkan dalam beberapa bagian di buku ini, sangat tidak mengundang simpatik. Bagi orang lain yang sudah diterima sebagai calon suami anak perempuannya, juga sudah mendapat kasih sayang yang seimbang harusnya Roby bisa lebih menahan diri. Semarah apapun, ia harus bisa menahan ucapannya. Jika ia saja berduka bayangkan bagaimana perasaan kedua orang tua Linda, tentunya lebih berduka. Hanya mereka bisa menerima kondisi tersebut dengan lebih lapang dada.

Roby yang begitu terpukul atas kematian Linda mempergunakan segala cara dalam melakukan penyelidikan. Kenapa Roby tidak melakukan penyelidikan dengan memantau kuburan Linda? Disebutkan karena rasa bersalah Helena sering mengunjungi kuburan Linda sambil meletakan karangan bunga dan puisi. Wajar jika saat kabur Roby mengunjungi kuburan Linda lalu mengetahui ada karangan bunga di sana. Roby bisa menyuruh orang untuk  khusus mengawasi kuburan Linda dan melihat siapa yang sering datang. Kira-kira kalau Roby minta dilakukan otopsi bisa tidak ya menurut hukum? Bukankah Linda pernah melakukan kontak fisik dengan Helena, mungkin bisa ditemukan sesuatu di bawah kukunya.

Keseruan kisah bisa diubah menjadi bagaimana upaya Roby untuk membalas dendam pada Helena. Upaya Helena yang bersembunyi dari kejaran Roby dengan bantuan polisi misalnya, stres yang alami Helena sebelum akhirnya mengakui peristiwa sebenarnya pada suaminya dan polisi. Bukan pembunuhan membabi-buta pada setiap penumpang berinisal H. Tidak masuk akal saja buat saya. Bertolak belakang dengan sosok Roby yang digambarkan pandai di awal kisah. Karena emosi? Sepertinya tidak juga.

Sebagai sosok yang digambarkan begitu mencintai suaminya, agak aneh jika Helena justru mengisahkan tentang bagaimana sebenarnya peristitiwa yang terjadi di kapal pesiar justru pada seorang polisi yang baru dikenalnya.  Kenapa tidak berbagi kisah dan derita pada suami yang sangat ia cintai? Apa yang membuat ia enggan bercerita?

Beberapa bagian seperti pertemuan seorang petinggi polisi dan bawahannya di sarana olahraga terasa garing. Untuk apa? Sekedar menunjukan bagaimana caranya mendapat  badan berotot? Atau sekedar menunjukan ada hubungan kelak. Lalu  seorang ibu meminta nama bagi anaknya, apa kaitannya dengan kisah ini? Demikian juga dengan kedatangan polisi dari luar negeri.  Hubungannya dengan cerita ini? Sekedar menunjukan keahlian tokoh utama semata?

Ada beberapa kalimat yang mengusik rasa ingin tahu saya. Contohnya Kalimat di halaman 190, membuat saya beberapa kali membolak-balik halaman yang lain. Kalimat, "Di rumah eks pegawainya itu, Roby meminta lagi topi dan dasi yang dulu diberikan Linda" sedikit membuat saya bingung. Maksudnya jika saya tak salah tangkap Linda pernah memberikan topi dan dasi kepada eks karyawan Roby.  Pada bagian mana ada menyebutkan Linda memberikan topi dan dasi kepada eks karyawan Roby yang kemudian ia minta kembali? Atau maksudnya Roby menyuruh eks karyawan mencarikan topi dan dasi yang pernah diberikan oleh Linda padanya dahulu, mencari di mana?

Kemudian yang tercetak pada halaman 46. Tertulis, "Karena panik, tak semua penumpang mengenakan jaket pelampung." Sebenarnya jaket pelampung itu berada di mana? Sebagai orang yang belum pernah naik kapal pesiar, tentunya saja jadi merasa bingung (seringnya naik kapal antar pulau). Maksud saya, di pesawat udara jaket pelampung jelas disebutkan berada di bawah kursi pelumpang. Malah ada petunjuk pemakaian oleh pramugari/pramugara. Apakah tidak ada penerangan tentang keselamatan di kapal laut? Tentunya ada, apa lagi untuk kapal seperti yang diceritakan. Namun dalam buku ini tidak disebutkan juga tentang di mana pelampung berada, sehingga berkesan situasi wajar jika penumpang yang panik tidak memakai pelampung.

Dan kalau tidak semua orang memakai jaket pelampung kenapa hanya Linda yang meninggal? Bukankah tidak menutup kemungkinan walau seseorang jago berenang, atau memakai pelampung juga bisa meninggal?  Terlalu kebetulan dan tidak wajar jika kecelakaan seperti itu hanya menyebabkan satu orang meninggal. Bukan saya mau mengharapkan hal buruk terjadi lho.  Kapal pesiar itu memang bukan sekelas Titanic, tapi kecelakaan di laut dalam cuaca tidak bersahabat hanya menyebabkan seorang meninggal merupakan mukjizat.

Semula saya kira kisahnya hanya begitu saja. Roby berupaya membalas dendam pada pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Linda. Sederhana. Baru kemudian pada bab 50-an kisahnya berubah menjadi lebih menarik. Maka pembaca diharap bersabar membaca sampai bab tersebut.

Terus terang saya terganggu dengan penyebutan kata you. Kenapa tidak menjadi anda atau kamu? Kata seperti itu agak janggal diucapkan oleh orang seusia Iptu Ariel Stallone. Mirip dengan kata dus yang sering di ucapkan oleh orang sempat mendapat didikan Belanda, orang yang cukup berumur.

Untuk pemilihan  judul, kembali ini soal selera. Bagi saya yang bukan penyuka kisah roman, judul seperti ini jelas tidak akan mampu menarik rasa penasaran saya.  Terlalu romantis jika menilik kata bulan madu. Kepala saya langsung mengarah pada urusan romantis ala menye-menye. Mungkin bagi penyuka kisah roman judul ini sudah tepat. Sekali lagi, soal selera di sini.

Secara garis besar, buku ini menawarkan sebuah kisah yang  dibuat dengan mengambil setting lokasi berbeda dari yang lain, yaitu kapal pesiar.  Cara penulis bercerita cukup bisa diterima, apa lagi mengingat ini merupakan karya pertama. Hanya butuh lebih memperkuat alur dan memilah mana yang perlu diperkuat dan mana yang tidak perlu ada.

Pembaca tidak saja mendapat hiburan namun juga pengetahuan bahasa. Ada dua bahasa asing selain Inggris yang dipergunakan dalam buku ini, bahasa Jepang dan Arab. Kadang dalam satu kalimat ada dua bahasa yang dipergunakan. Guna memudahkan, kata asing langsung bisa ditemukan artinya pada catatan kaki. Demikian juga istilah dalam kepolisian.

Bagi mereka yang tertarik ingin mengetahui mengenai cara kerja dan dunia polisi, buku ini layak dibaca. Demikian juga bagi mereka yang ingin memperlacar kemampuan bahasa Arab dan Jepang secara bersamaan, juga sedikit Korea, buku ini bisa dipertimbangkan untuk dimiliki.

Sebagai bonus penulis memberikan CD lagu berikut teks. Perihal lagu baik nyanyian atau musik, saya tidak bisa berkomentar banyak. Sebagai yang kurang (mungkin sangat) tidak memahami musik, tentunya tak patut saya memberikan saran atau tanggapan mengenai lagu yang dijadikan bonus dalam buku ini. Namun usaha penulis untuk menawarkan sesuatu yang berbeda cukup patut diajungi jempol. Niat memanjakan pembaca layak diberikan jempol.

Oh ya, saya tidak setuju dengan kalimat berikut, "Teman itu ibarat buku tidak usah banyak-banyak, asal berkualitas." Kalimat tersebut ada di halaman 162. Setiap buku memiliki pembacanya sendiri. Mungkin buku X cocok untuk selera saya, tapi tidak untuk teman-teman saya. Begitu juga sebaliknya. Teman haruslah banyak, namun sahabat sejati bisa sedikit.

Buku ini saya peroleh dari penulisnya sebaik hadiah. Sayang, tidak  ada tanda tangan yang ditorehkan di dalamnya. Biasanya saya mendapat buku dari penulis dengan sekedar goresan pesan dan tanda tangan. Biarlah, mungkin belum jodoh ^_^

Minggu, 11 September 2016

2016 # 98-100 : Malam Minggu Bersama Imung

Bagi mereka yang menikmati remaja pada tahun 70-80 tentu mengenal sosok Imung. Detektif cilik putra seorang kopral polisi di Magelang. Ayah dan ibunya berpisah saat ia kecil. Imung merupakan nama yang ia pilih untuk mengenang sang adik yang dibawa ibu. Lidah cadelnya hanya mampu memangginya Mung, maka ia menyebut dirinya Imung.

Seharinya ia tinggal di kantor polisi yang juga merupakan rumahnya. Belakangan ia pindah ke Jakarta diasuh oleh Kol. Polisi Suyatman mantan anak buah bapaknya. Dengan alasan membayar hutang budi ia mengajak Imung untuk tinggal bersamanya. 

Ternyata hal ini ada gunanya juga. Kemampuan Imung makin terasah. beberapa kali ia diajak melibatkan diri untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh polisi. Tidak hanya polisi, namun orang-orang di sekelilingnya juga sering meminta bantuan untuk memecahkan kasus kejahatan dan kasus-kasus aneh lainnya.

Dalam memecahkan sebuah kasus, Imung hanya mengandalkan pada ketajaman analisa saja. Ia tak dibantu dengan aneka teknologi canggih seperti saat ini. Wajar juga jika dipikir. Saat itu kemajuan teknologi belum seperti saat ini. Tapi disanalah keseruannya.

Cetak ulang kisah Imung oleh penerbit ini patut diacungi jempol. Selain sebagai nostalgia bagi pembaca yang sekarang tentu sudah lebih mapan, kisah Imung merupakan angin segar bagi dunia dunia perbukuan kita. Jika diperhatikan, di bagian belakang sudah diberikan peringatan bahwa buku ini merupakan buku yang membutuhkan bimbingan orang tua dan dibaca oleh mereka yang  berusia minimal 9 tahun. Berapa banyak buku yang diperuntukan bagi remaja seperti itu belakangan ini?

Seingat saya, seharusnya ada 5 buku, tapi saya hanya menyimpan 3 malah. Buku pertama raib entah ke mana. Di situs GRI, saya juga hanya menemukan empat buah buku, padahal di buku keempat terdapat informasi mengenai buku kelima.

Gambar ilustrasi yang dipergunakan sebagai kover pada tiap buku sama, sosok seorang anak lelaki dengan potongan rambut belah pinggir plus poni yang menutupi dahi. Perbedaan tiap buku ada pada warna latarnya serta sedikit siluet yang ada di beberapa buku.

Pemberian nomor halaman juga unik. Untuk nomor bukan puluhan seperti 1,3,8 diletakan angka "00" di depannya. Dengan demikian nomor halaman akan menjadi 001, 003, 008.

Di beberapa bagian, untuk memisahkan bagian satu dengan yang lain, terdapat siluet wajah Imung di tengah halaman. Cukup menarik sebagai selingan mengingat  ilustrasi dalam buku ini lumayan sedikit. Biasanya ada di atas judul kisah. Itu pun bentuknya sangat sederhana sekali.

Bagian yang tak kalah menarik dari buku ini adalah pembatas bukunya. Bentuknya tidak sederhana seperti umumnya pembatas buku, segi empat panjang. Bentuknya memang mirip segi empat panjang dengan ujung menyerupai lekukan, mirip ekor kucing. Gambar yang ada berbeda tiap buku, namun memiliki kesamaan memuat hanya setengah wajah Imung. Tiap buku memiliki pembatas buku dengan warna yang sama dengan warna kover. Wajah Imung yang dicetak setengah mengambil sisi kanan atau sisi kiri, tidak sama pada tiap buku. Sebagai contoh untuk buku ketiga mengambil sisi wajah kanan (eh kiri kalau dari sisi saya melihat).

Dalam rangka babat timbunan, serta untuk bernostalgia (mendadak melo) jadi ingin membaca ulang seriang Imung. Seingat saya, ada buku pertama hingga keempat. Tapi kembali, entah dimana buku pertama itu berada.

Judul: Detektif Cilik Imung #2: Matinya Raja Batik
Penulis; Arswendo Atmowiloto
Penyunting: Tim PlotPoint Kreatif
Ilustrasi sampul: Matahari Indonesia
Pemeriksa aksara: Syarifah Maulidina, Rika Amelina, Dias Rifanza
Penata aksara: Echa
Desain Prasajadi
Ilustrasi isi; Prasaji
ISBN: 9786029481419
Halaman: 231
Cetakan: Pertama- Januari 2014
Penerbit: PlotPoint  Publishing
Rating:3/5

Dalam buku ini dikisahkan Imung sudah bukan anak SD lagi. Ia sudah menjadi anak SMP dan tinggal di Jakarta dengan Kolonel Suyatman bapak angkatnya yang juga seorang polisi. Makin berkembanglah bakat dan kemampuannya.

Terdapat 10 kisah, asyik kan makin puas bacanya. Nomor kisah dimulai dari 16 hingga 25. Judul kisah selain Matinya Raja Batik yang dipergunakan sebagai judul buku juga terdapat Pameran Permata, Ke Mana Poznansa, Tamu dari Jauh, Pembajakan Bus Kota dan lainnya.

Di akhir bagian terdapat penggalan buku ketiga. Bisa membuat penasaran yang membaca

Judul: Detektif Cilik Imung #3: Operasi Lintah
Penulis; Arswendo Atmowiloto
Penyunting: Tim PlotPoint Kreatif
Ilustrasi sampul: Matahari Indonesia
Pemeriksa aksara: Syarifah Maulidina, Rika Amelina, Dias Rifanza
Penata aksara: Echa
Desain Prasajadi
Ilustrasi isi; Prasaji
ISBN: 9786029481426
Halaman: 276
Cetakan: Pertama-Februari 2014
Penerbit: PlotPoint  Publishing
Rating:

Kisah dalam buku ini dimulai dengan nomor 26-36. Dimulai dari Pencemaran Minuman Ringan, Piknik tanpa koreng, Bola Voli atau Vokal Group, Surat yang Mengubah Mayat dan tentunya yang menjadi judul buku ini Operasi Lintah.

Imung kian terkenal. Kasusnya juga kian beragam, tidak hanya teman-teman dan orang sekitar yang meminta bantuan tapi juga orang yang tahu mengenai keahliannya dari berbagai pemberitaan. Kasusnya juga kian rumit.

Kisah Operasi  Lintah lumayan seru, tak heran jika dijadikan sebagai judul buku ini. Imung berurusan dengan penjahat kaliber internasional kali ini. Kerja sama dengan ayahnya membuat saya berangan-angan kalau ada kisah dengan sang ayah sebagai tokoh tentunya juga bakalan seru nih.


BTW gimana caranya harga koran Rp 500 per eklsemplar, seseorang membayar Rp 1.000 dapat 3 koran. Mungkinkah karena yang beli seorang polisi atau penjual sengaja menaikan harga koran dari harga resmi karena memuat berita yang sensasional saat itu.

Eh menemukan sebuah fakta yang agak membuat kaget. Benarkah Imung ngefans sama tante Muhtar? Oedipus Complex-kah?


Judul: Detektif Cilik Imung #4: Selamatkan Bayi Kami
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penyunting: Tim PlotPoint Kreatif
Ilustrasi sampul: Matahari Indonesia
Pemeriksa aksara: Syarifah Maulidina, Rika Amelina, Dias Rifanza
Penata aksara: Echa
Desain Prasajadi
Ilustrasi isi; Prasaji
ISBN: 9786029481457
Halaman: 276
Cetakan: Pertama-Februari 2014
Penerbit: PlotPoint  Publishing
Rating:3/5

Imung kembali beraksi! 
Ada 13 kisah dalam buku ini. Dimulai dari  Sakiti Foxi Terri, Pacarnya Tidak Senang Car Kuku, Kejahatan di Tempat Terhormat, Surat Kaleng dari Semarang, Peci Sani Tegak Kembali dan lainnya. Lumayan banyak juga, sebagian besar mengenai sesuatu yang hilang. Tentang kehilangan.

Mungkin benar pernyataan yang menyebutkan bahwa semakin sering seseorang berlatih suatu hal maka ia akan makin mahir. Begitu juga Imung. Semakin sering ia membantu polisi memecahkan kasus, semakin terasah keahliannya. Apa lagi kesehariannya ia selalu berada diantara para polisi, caranya berpikir untuk memecahkan kasus makin terasah.

Akhir buku ini tidak hanya memuat sedikit bocoran tentang buku kelima, namun juga profil ilustrator sampul, Matahari Indonesia yang lebih sering dipanggil Zsa Zsa. 

Serial Imung merupakan karya Arswendo Atmowiloto. Beliau lahir di Surakarta pada 26 November 1948.   Karyanya lumayan dikenal di tanah air seperti Keluarga Cemara, Senopati Pamungkas, Serial Kiki, Serangan Fajar (diangkat dari film yang memenangkan 6 Piala Citra pada Festival Film Indonesia) (1982) dan masih banyak lagi.Yang paling sering diingat orang adalah buku Mengarang Itu Gampang.

Serial Imung pernah diangkat ke layar kaca oleh SCTV. Walau kisah ini dibuat dengan mengambil latar waktu sudah lampau, namun masih menarik untuk dinikmati saat ini. 

Terdapat 16 kisah serial Imung versi penerbit lama menurut data yang ada di GRI (klik di sini),
1. Pencuri Aneh
2. Haji Palsu
3. Pembajakan Pesawat Udara
4. Penyiletan Gadis-gadis cantik
5. Matinya Raja Batik
6. Tamu dari Jauh
7. Operasi Lintah
8. Jangan Sakiti Foxi Terri
9. Selamatkan Bayi Kami
10. Bangkit dari Kubur
11. Siulan Kematian
12. Jenderal Poen
13. Ke Mana Pipin Pergi
14. Sepasang Korban Itu Pernah Bertunangan
15. Hari-hari Terakhir Imung
16. Kupu-kupu Bermahkota

Lumayan buat mengenang masa lalu ^_^ 

Sabtu, 10 September 2016

2016 #97: Menjelajah Ciamis Selatan Nan Catik

Judul: Wisata Pesisir Ciamis Selatan
Penulis: Edi Dimyati
Foto kover: Edi Dimyati
Desain kover: Darma Ahmadi
Desain & tata letak isi: Darma Ahmadi
ISBN: 9789792282023
Halaman: 216
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 73.000 (saat pertama terbit)
Rating: 4/5

Mari bersenang-senang
Keliling naik sepeda
Mencari Keong
Bersampan
Memancing
Melihat aktivitas nelayan
Dan melakukan kegiatan lainnya
Di Ciamis  Selatan

Kembali buku berjodoh dengan cara yang unik.
Sebenarnya saya bukan penyuka buku pariwisata, tapi khusus untuk Panduan Sang Petualang dari Edi Dimyati bisa dikatakan saya menikmati. Entah kenapa buku ini lolos dari pengetahuan saya saat terbit. Justru berjodoh melalu salah satu ajang diskon di sebuat penerbit. Langsung masuk tas belanja.

Jodoh berlanjut. Begitu tahu salah seorang rekan di kantor akan menjadi pembicara di Kampung Buku, markas besar penulis, langsung memberikan buku untuk minta tanda tangan. Semula penulis mengira saya hanya bergurau hingga teman saya benar-benar membawa buku untuk diberikan tanda tanga. Urusan buku mana pernah saya bercanda ^_^

Kali ini kita akan diajak menikmati keindahan  Ciamis Selatan. Tentunya bakal banyak yang mengira buku ini banyak memuat perihal wisata yang terkait dengan segala yang berhubungan dengan air dan pantai. Namun buku ini selain mengajak berwisata ke pantai, sungai. gua dan batu-batu cadas pembaca juga akan diajak mengunjungi museum, industri rumah tangga, mengeksplorasi jalur kereta api bersejarah, berbaur dengan penduduk dan tentunya mempelajari budaya lokal. Seru pastinya! Tidak hanya main air tapi juga menikmati pemandangan alam, menambah ilmu dan mencicipi aneka kuliner nikmat.

Pada halaman 14, pembaca sudah langsung dibuat terpana. Bayangkan ada sekitar 25 tempat yang bisa dikunjungi. Betapa kayanya tanah air ini. Tertera jalur yang dilalui oleh penulis. Mulai dari Majingklak, Karang Nini,  Pasar Ikan, Pasir Putih, Karang Tirta, Pandai Besi, Pabrik Colok, Green Canyon, banyak tempat lain hingga Keusik Luhur. 

Sayangnya buku ini ditulis tidak sesuai dengan urutan yang ada. Saya menemukan Majingklak justru di halaman 66, sementara bagian awal dibuka dengan Kawasan Wisata Pangandaran, Taman Wisata Alam  Pananjung dan seterusnya. Mungkin penulis sengaja menawarkan ulasan tempat yang sudah lumayan dikenal.

Di Ciamis juga ada Green Canyon. Sama-sama dikenal karena tebingnya yang indah dan aliran sungainya yang luar biasa. Tempat ini menduduki peringkat kedua setelah Pangandaran.  Suasana indah dalam keheningan membayar perjalanan menuju lokasi.

Selain wisata alam, ternyata ada juga pesambil bermain air tempat ini layak dikunjungi adalah pemandian buatan. Ada Pangandaran Waterpark yang bisa dikunjungi bersama keluarga. Lokasinya sekitar 6 km dari Jalan Raya Pangandaran. Uniknya, lokasi ini berada di pinggir pantai. Untuk mereka yang ingin berganti suasana menikmati keindahan laut,  bermain air tempat ini layak dikunjungi. Apa lagi dengan tiket yang sangat terjangkau kenapa tidak mencoba.

Menikmati jalan di pinggir pantai sambil melihat aneka pulau-pulau kecil dengan karang unik dan hijaunya pepohonan bisa dinikmati di Pantai Madasari. Pantai yang letaknya cukup jauh, berada di Desa Masawah, Kecamatan Cimerak ini membuat lokasinya masih sangat alami. Cocok untuk menyepi dan menikmati alam. 
 
Ternyata ada desa agrikultur juga di sana. Penulis tidak membahas lebih lanjut mengenai desa tersebut dalam buku. Hanya disebutkan bahwa sebagian besar penduduk desa di pesisir Ciamis Selatan memang menyandarkan hidupnya dari hasil pertanian.

Mendengar kata Krapyal, apa yang ada dalam benak kalian? Bukan nama makanan lho, ini nama pantai yang berbatu karang. Pantai Krapyak letaknya berdekatan dengan Palatar Agung. Sayangnya, sangat tidak dianjurkan untuk berenang di sana mengingat banyaknya  karang kecil. Dari menara pengawas keindahan pantai makin terlihat jelas.

Saya agak mengalami deja vu saat membaca bagian yang menyebutkan tentang Museum Nyamuk. Sepertinya pernah membaca dan mereview tentang ini. Jangan-jangan malah sudah pernah membaca buku ini ya. Sudahlah anggap aja hiburan he he he.

Ulasan mengenai masakan khan membuat saya merasa lapar. Sebagai penyuka ikan tentunya air liur menetes saat melihat gambar Pindang Gunung yang menggoda. Ada Galendo yang pernah diulas oleh sebuah televisi swasta, makanan seperti dodol yang terbuat dari sari pati kelapa.

Dibanding dengan buku karangan Edi Dimyati yang lain, buku ini banyak memberikan informasi yang sepertinya hanya sekedar sambil lalu. Maksud saya, ada sebuah tempat yang hanya diberikan informasi 1-2 halaman plus gambar saja. Misalnya perihal Pantai Madasari, Jembatan Cikacepit, serta Bandar Udara Nusawiru, Entah karena data yang diperoleh sedikit atau susahnya mendapatkan referesni yang terpercaya. Tapi lumayanlah untuk sekedar informasi awal.

Di bagian belakang juga tercantum mengenai transportasi dengan bus atau pesawat menuju ke sana, nomor penting seperti Bis Patas Perkasa Jaya, Polsek dan Koramil,  tempat penginapan, restoran/rumah makan/cafe, serta ATM yang ada di sana. Pastinya juga ada informasi mengenai agenda acara yang diadakan sepanjang tahun seperti Upacara Adat Hajat Laut yang diadakan pada bulan Syuro atau Pegelaran Wayang Golek yang dipentaskan setiap hari jadi kabupaten Ciamis. Bagi calon pelancong tentunya informasi seperti ini sangat perlu diketahui. Jangan lupa juga mempersiapkan diri dengan mengunjungi mypangandaran.com.

Buku ini sangat layak dibaca dan dikoleksi oleh para penyuka jalan-jalan. Ternyata tanah air juga indah dan menawarkan banyak hal untuk dilihat. Bagi anak sekolah, buku ini bisa menambah rasa cinta akan tanah air. Para pekerja dunia pariwisata perlu memiliki agar bisa menyusun sebuah tour baru, atau menawarkan sebuah paket pariwisata yang berbeda dengan yang pernah ada.  Sebenarnya pejabat daerah juga perlu memiliki sebagai bahan referensi. Siapa tahu di tempat mereka juga ada hal yang bisa diangkat.

Penasaran menunggu buku lainnya.