Sabtu, 17 Agustus 2013

Di Bawah Bendera Merah


Penulis:  Mo Yan
Penerjemah: Fahmy Yamani
ISBN: 978-979-024-410-8
Halaman: 144
Penerbit: Serambi
Harga: Rp 39.000

Menyimak kehidupan orang terkenal membuat kita jadi mengetahui banyak hal seperti bagaimana masa kecilnya,  cara mereka mencapai kesuksesan, serta terpenting bagaimana menjalani kehidupan ini.

Buku Outobiografi  ini mengisahkan tentang Mo Yan, Mo adalah sosok orang ke-109 yang menerima Hadiah Nobel di Bidang Sastra. Terlahir dengan nama Guan Moye tapi menggunakan  nama pena Mo Yan, yang berarti  sebagai ‘’tidak berbicara,’’ guna mengingatkan dirinya akan bahaya jika mengungkapkan pemikirannya di depan umum. Saat Revolusi Kebudayaan berlangsung, jika tidak berhati-hati saat mengutarakan pikirannya bisa mengakibatkan ditangkap oleh pihak penguasan saat itu. Mo Yan baru berusia sebelas tahun saat Revolusi Kebudayaan yang digagas oleh Mao Zedong meletus.Lahir pada tahun 1955  sebagai anak petani Mo Yan  dibesarkan di Gaomi Provinsi Shandong di timur laut Cina.

Buku ini dimulai dengan kisah Mo Yan yang dikeluarkan dari sekolah. Berbagai cara dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengusirnya. Dari sekedar usiran secara lisan hingga pemukulan, namun tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya. Tiap hari ia berusaha berada di lingkungan sekolah, menatap teman-teman sekolah yang telah menjadi mantan teman sekolah.

Selanjutnya kita akan disuguhi kisah mengenai perjalanan hidupnya sejak dikeluarkan sekolah hingga menjadi pesohor karena karyanya.  Sejak dikeluarkan dari sekolah  awalnya  ia bekerja di bidang pertanian, kemudian di pabrik. Pada tahun 1976 ia bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat dimana ia mulai belajar sastra dan menulis. Cerita pendek pertamanya diterbitkan dalam sebuah jurnal sastra tahun 1981 diteruskan dengan yang lain seperti Touming de hong Luobo (1986, diterbitkan dalam bahasa Prancis sebagai Le radis de cristal, 1993).

Ada dua hal yang sering disebut dalam buku ini. Teman sekelasnya yang bernama He Zhiwu yang belakangan menjadi orang paling kaya di daerahnya,  serta sebuah  truk  Gaz 51 yang sangat dikagumi para anak lelaki dan beberapa anak perempuan. Bahkan He Zhiwu pernah menyebutkan ingin menjadi Ayah Lu Wenli saat diminta membuat esai tentang impiannya. Ayah Lu Wenli adalah pengemudi Gaz 51 yang sangat dikagumi. Saat sudah kaya He Zhiwu mengirimkan sejumlah uang yang besar ke Ayah Lu Wenli sebagai pembayaran atas Gaz 51 yang dimilikinya.


Gaz 51  (Gorkovsky Avtomobilny Zavod 51) merupakan truk buatan Soviet yang diproduksi sebelum akhir Perang Dunia II dan diproduksi massal pada tahun 1946.Truk tersebut juga  digunakan sebagai ilustrasi di kover depan. Sosok anak lelaki yang duduk di atas kap dengan melambaikan bendera merah bisa diasumsikan sebagai sosok Mo Yan. Bendera merah saat itu identik dengan pendukung Revolusi Kebudayaan. Para Pengawal Merah, unit paramiliter yang mayoritas anggotanya adalah mahasiswa-mahasiswa yang mendukung Mao serta  ajaran-ajarannya menggunakan bendera merah di lengannya. Kisah dalam buku ini memang penuh dengan uraian mengenai kehidupan dalam situasi Revolusi Kebudayaan, kehidupan dimana bendera merah merupakan simbol  penguasa.

Sangat sedikit yang diungkapkan Mo Yan dalam buku ini. Entah karena takut mengungkat kisahnya atau karena merasa hanya itu yang perlu diketahui khalayak umum. Mo Yan  terkesan sangat mengagumi partai komunis  dalam buku ini. Hal ini terkait dengan dirinya yang tercatat sebagai anggota Partai Komunis China (PKC) dan menjabat wakil ketua asosiasi penulis resmi negara itu.

Saking sedikitnya info yang bisa saya peroleh, saya merasa buku ini lebih layak disebut memoar. Dalam  http://www.amazine.co/21668/perbedaan-antara-otobiografi-dengan-memoar/ disebutkan mengenai perbedaan keduanya. Perbedaan antara otobiografi dan memoar memang tipis. Otobiografi umumnya mencakup periode waktu yang lebih lama dan dengan demikian, kadang-kadang lebih sulit untuk dibaca.
Jika Anda sangat tertarik pada sejarah hidup seseorang, maka otobiografi akan cocok dijadikan rujukan.
Namun jika Anda lebih tertarik pada bagaimana seseorang berurusan dengan situasi tertentu, membaca memoar akan menjadi pilihan tepat.



Dalam wikipedia disebutkan mengenai novel karya Mo Yan yaitu:
Kumpulan cerita pendek:
  • Explosions and Other Stories
  • Shifu: You'll Do Anything for a Laugh (1999; English: 2002)
Penghargaan yang diterimanya yaitu:
Buku yang lumayan menghibur.





Foto dari:
commons.wikimedia.org 
 www.artsjournal.com




Selasa, 13 Agustus 2013

我爱 Lisa

Penulis: Riawani Elyta
Penyunting: Della Firayama
Ilustrator: Evelline Andrya & Angelika Charletta
ISBN: 602-220-099-7
Halaman: 352
Penerbit: Bukuné
Harga: Rp  55.000

Kita akan selamat dan baik-baik saja. Selama kita yakin tentang itu.


Kata Beijing yang membuat saya meminjam buku ini. Saya memang selalu tertarik dengan hal yang berurusan dengan Mandarin. 

Buku ini menawarkan kisah cinta seorang gadis keturunan bernama Lisa. Saat kecil kedua orang tuanya berpisah dan Lisa tinggal  bersama ibunya sebagai anak tunggal. Sang ayah berada di Beijing. Ketika ibunya meninggal maka sang ayah meminta Lisa untuk pergi ke Beijing dan ikut tinggal bersamanya.

Di Beijing ternyata sang ayah sudah menikah lagi dengan Vivian dan mempunyai dua anak tiri laki-laki dan seorang anak perempuan. Butuh waktu bagi Lisa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keluarga barunya. Baik dari adat istiadat dan bahasa. Ternyata Lisa sama sekali tidak mengerti bahasa ibu hingga sang ayah mengirimnya untuk mengikuti kursus bahasa.

Hal yang wajar, karena Bahasa Mandarin tidak memilik abjad ABC namun setiap huruf mempunyai bunyi dan arti yang berbeda. Belum lagi nada yang diucapkan. Salah ucap nada bisa berakibat fatal. Kata Ma bisa berarti
Māma = 妈妈, sementara Mǎ berarti kuda.Tak heran jika Lisa harus belajar keras agar bisa berkomunikasi dengan orang sekitar.

Ternyata sang ayah juga meminta Lisa bekerja di restoran yang dimilikinya. Di sana Lisa yang semula hanya bisa memasak mie instan ditempa untuk segera menjadi koki handal terutama dalam hal menyajikan sup. Bukan hal yang mudah bagi Lisa hanya karena semangatnya dan mungkin juga sedikit kepandaian memasak yang diturunkan dari sang ayah membuatnya bisa memasak dalam waktu singkat.

Sang ayah juga menangguhkan permohonan kuliah Lisa, selain soal biaya  sang ayah juga takut jika Lisa kuliah maka rasa tetariknya akan restoran akan berkurang. " ...Karena ini tidak hanya soal uang, tetapi juga soal kesetiaan...Dan ujung-ujungnya, seperti juga perempuan-perempuan modern di kota ini, kamu merasa bahwa bekerja di kantor-kantor milik perusahaan akan jauh lebih menyenangkan ketimbang mengurus restoran (halaman 106).

Lisa ternyata tidak hanya mampu meracik sup. Ia membuat hati seorang laki-laki yang tak pernah mengatakan cinta jatuh hati padanya.  Ternyata kisah cintanya tak selezat sup buatannya. Ki.h baik lagiegigihan Lisa patut ditiru dan diberi acungan jempol. Dengan terbiasa segala hal memang menjadi lebih mudah dan mendorong kita untuk terus berusaha melakukan yang leb

Kisah dalam buku ini memang mengisahkan tentang perjalanan cinta Lisa di Beijing (baca Peiching). Sebagai bumbu penyedap diberikan kondisi ayahnya yang sakit, restoran yang harus diwarisinya serta keharusan menempa diri menjadi koki handal dalam waktu sekejap. Sayangnya walau ada Beijing, bagaimana kondisi kota Beijing berikut tempat pariwisata yang tersohor tidak cukup diulas. Memang ada kisah dimana Lisa ikut rombongan turis mengunjungi beberapa tempat pariwisata, hanya sayang bagian ini seakan dikisahkan secara terburu sekedar untuk menyebutkan ada beberapa lokasi pariwisata yang layak dikunjungi. Informasi yang disampaikan sekedar sambil lalu saja. Sungguh sayang, padahal jika menceritakan tentang kisah cinta di Beijing minimal pembaca juga mendapat tambahan informasi mengenai kota Beijing, lokasi romantis misalnya tentunya akan lebih greget.

Ilustrasi membuat buku ini kian menarik hanya saja beberapa ilustrasi mengambil obyek yang sama walau diambil dari sudut yang berbeda. Banyak obyek yang bisa dijadikan ilustrasi atau momen indah  yang diubah menjadi bahasa gambar. 

Sudut buku yang dibuat melengkung tidak lancip seperti buku-buku lainnya membuat buku ini mempunyai ciri khas tersendiri. Meski untuk menyampulnya membutuhkan ekstra perhatian. Hal Sederhana namun membuat buku ini berbeda.

Penulisan bab atau bagian membuat kedua alis saya bertemu. Penulis menulis angka lima misalnya dengan menggunakan rangkaian  hànzì (Aksara Tionghoa disebut hànzì dalam Bahasa Mandarin). yang serupa dengan aksara latin. Masalahnya setiap huruf yang digunakan mempunyai bunyi sendiri sehingga jika dirangka malah menjadi kata yang aneh.

Beberapa kalimat dengan menggunakan Bahasa Mandarin memaksa saya membuka catatan dan kamus yang mulai berdebu karena lama tak disentuh.  Kata besok seharusnya adalah Míngtiān =  明天 bukan Ming dien. Demikian juga menurut Google terjemahan. Penasaran saya coba intip kata pergi yang ditulis chu, ternyata seharusnya qù=去. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Pertama saya sudah lama berhenti kursus sehingga tidak tahu perkembangan Bahasa Mandarin yang penulisannya bisa disederhanakan oleh pemerintah, mungkin ucapan juga. Kedua penulis menuliskan apa yang terdengar alias ditulis sesuai ucapannya.

Salah satu Koki handal di restoran itu  bernama Daniel mengatakan, "...kesedihan bisa lenyap seiring waktu. Untukku, kesedihan bisa lenyap seiring kesibukan...." Banyak cara untuk menghilangkan kesedihan, salah satunya dengan mengalihkan perhatian dengan bekerja. Hanya saja jangan sampai konsentrasi terganggu akibat terlalu sedih hingga pekerjaan bukannya menjadi selesai malah kacau.

Seandainya buku ini ditulis ulang dengan gaya bercerita tidak  lambat tentunya akan lebih menawan. Sayang sekali saya terpaksa memberi dua setengah bintang.


www.engineeringinchina.net

Senin, 12 Agustus 2013

Berbagi Hati

Penulis: Houtman Z. Arifin
ISBN13: 9786027816213
Halaman: 260
Penerbit: Naoura Books
Harga:Rp. 43.000

Ketika kau berbuat baik pada orang lain, 
sesungguhnya kau sedang berbuat baik pada dirimu sendiri

Kalimat yang tercetak di kover membuat saya tertarik untuk membaca buku ini. Saya yakin setiap kebaikan sekecil apapun akan berdampak baik bagi diri pelakunya. Kebaikan yang dilakukan dengan niat atau tanpa sengaja dilakukan. Dengan demikian jika kita melakukan sebuah kebaikan, maka tanpa kita sadari kita menabung sebuah kebaikan yang kelak akan kita nikmati hasilnya. Itu bagi saya lho.

Buku setebal 260 halaman ini berisikan 22 kisah inspiratif. Setiap kisah berdiri sendiri dan tidak berhubungan secara langsung satu dengan yang lainnya. Lokasi tempat sebuah kejadian yang dikisahkan dalam buku ini juga beragam, demikian juga pelakunya. Tak ada kisah yang menyerupai apa lagi sama. Pembaca bisa saja membaca secara acak kisah yang ada karena tertarik dengan judulnya atau mau membaca secara berurutan sesuai daftar isi. 

Pada awal sebuah kisah tertulis sebuah ungkapan yang bisa kita anggap sebagai saripati kisah tersebut. Kisah berjudul Solidaritas Pengamen di halaman 33. kalimat yang tertulis di awal kisah, di bawah judul berbunyi, " Setiap saat, setua ini masih saja protes pada Tuhan kurang inilah kurang itulah. Kenikmatan apa lagi sih yang bisa diingkari?" Kisahnya bermula dari penulis yang terpaksa mampir ke restoran cepat saji guna memenuhi tuntutan perut Di sana tanpa sengaja penulis melihat seorang anak perempuan dan laki-laki yang lebih besar sedang mengeluarkan semua uang yang kebetulan bernominal kecil, uang receh di atas meja pemesanan. Bisa ditebak, jumlah uang tersebut tidak cukup untuk menu apapun. Tersentuh hatinya penulis mengeluarkan uang yang ada di sakunya agar kedua anak tersebut bisa membeli panganan. 

Seorang pembeli, walau bagaimana kondisinya wajib dilayani. Sepertinya filosopi itu tidak ada di kepala pelayanan restoran cepat saji yang ingin mengusir kedua bocah tersebut karena hendak duduk bersama penulis dikarenakan tidak ada lagi kursi kosong. Lambaian tangan penulis yang mengisyaratkan ia tidak keberatan menyelamatkan keduanya. Jika ditelaah berapa banyak restoran yang mengijinkan pembeli dengan penampilan kurang duduk di meja diantara pembeli lainnya? Bahkan sebuah stasiun televisi pernah membuat semacam test mengenai hal ini.

Singkat kata, penulis menjadi tahu bahwa keduanya  bukan sahabat apalagi kakak adik. Baru sore tadi anak laki-laki itu membantu anak perempuan dari preman yang merebut uang hasilnya mengamen dan memukulinya. Akibat ia membela sesama pengamen seluruh uangnya juga ikut hilang. Tak ada sesal diwajahnya, yang penting baginya ia sudah membela sesama pengamen. Sungguh rasa setia kawan yang besar.

Kadang, kita kurang bersyukur akan apa yang kita miliki karena menganggap hal itu merupakan hal biasa. Hal yang rutin. Saat menerima konsumsi rapat berupa kotak berisi panganan kecil, berapa diantara kita yang bersyukur? Sering  bahkan mencela makanan yang ada. Ada yang menghabiskan semua isi kotak, ada yang sekedar menggigit dan mencampurkan dengan isi kotak lain yang tak disentuhnya. Tak lama sesudah rapat selesai, petugas kebersihan akan mulai merapikan ruangan. Jika ada yang meninggalkan kotak konsumsi di meja rapat,  itu juga harus dikumpulkan oleh petugas kebersihan untuk dibuang ke tempat sampah.

Berapa dari kita yang memperhatikan bahwa sering kali mereka memeriksa isinya?  Mengucap syukur dengan mata bersinar gembira  jika menemukan panganan yang belum tersentuh dan mengunpulkannya menjadi satu untuk dirinya? Mungkin untuk dibawa bagi keluarganya atau disantap bersama rekan-rekannya. Sungguh kontras, makanan yang tidak dilirik oleh seseorang justru membawa kebahagian bagi yang lain. Saya dan rekan-rekan di kantor berharap bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengan mengumpulkan panganan yang tidak dimakan dalam satu kotak dan memberikannya pada petugas kebersihan. Jika ada yang merasa tidak menyukai isi kotak,alih-alih mencicipi  kami sepakat untuk tidak memakannya sama sekali sehingga tidak mubasir dan bisa bermanfaat bagi yang lain.

Kisah tentang Ning Sewu Wulan sungguh menyentuh hati. Sebuah keluarga menawarkan siapa saja yang mau untuk membeli anak yang ada dalam kandungan sang ibu guna membiayai biaya persalinan dan agar sang anak bisa mendapat kehidupan yang lebih baik, menurut kedua orang tua itu. Sekali lagi atas nama desakan kebutuhan dan ekonomi yang sulit membuat orang  melakukan hal yang tak bisa diterima nalar.

Siapa yang bisa meramalkan nasib seseorang? Bagaimana jika anak tersebut dijual ke luar negeri? Bagaimana jika anak itu ternyata anak perempuan yang lucu dan saat beranjak dewasa ternyata menjelma menjadi sosok yang menawan dan yang memungut ternyata seorang pengelola bisnis esek-esek? Bukan kehidupan yang lebih baik yang ia terima.

Saat kecil saya ingat bagaimana alm papa saya membantu seseorang yang memungut anak perempuan kecil. Mengobati sang anak yang perutnya penuh cacing akibat setiap hari diberi minum air sumur oleh sang kakak yang berusia belia. Kondisinya juga mengenaskan, kurang gizi. Badannya melepuh kena senagta matahari.

Dengan alasan hendak menikah lagi, sang ibu menawarkan siapa saja untuk memelihara anaknya yang masih bayi. Setiap hari diletakannya sang anak di semacam sawung ditunggui sang kakak sampai ada yang sudi memungut. Jika si bayi menangis kehauasan, maka sang kakak memberikan dot dengan isi air minum yang diambil dari sumur yang ada di dekat mereka. Sang kakak tak tahu perbuatannya berbahaya yang ia tahu hanya ingin memberi adiknya minum.

Sekarang,bayi itu sudah menjelma menjadi seorang ibu dengan dua anak. Saat melihat wajahnya kadang pikiran liar saya bertanya. Apa jadinya jika ia tidak dipungut oleh sang ibu angkatnya? Bagaimana wajah sang ibu kandung yang tega menelantarkan anaknya agar bisa menikah lagi. Sejuta  bagaimana bersliweran di kepala saya.

Buku ini sungguh luar biasa. Memberikan kita wawasan untuk melihat di sekitar kita dengan mata hati hingga kita bisa bersyukur atas apa yang kita peroleh dan menjalani hidup dengan lebih bijak.

Kekurangan buku ini adalah tidak ada saran dari sang penulis agar kita bisa lebih peka pada kondisi sekitar serta bagaimana membagikan kepekaan itu pada orang sekitar. Jika saya, mungkin saya tidak begitu saja bisa membayari  makan dua pengamen cilik, atau dengan berani menolak permohonan sumbangan yang disampaikan didengan tekanan apa lagi esoknya menerima surat ancaman.

Buku ini sejatinya merupakan buah reungan Alm Houtman Z. Arifin. Dalam sosok.kompasiana.com disebutkan bahwa beliau  dilahirkan pada tanggal 27 Juli 1950 di Kota Kediri Jawa Timur, Beliau meninggal pada hari Kamis, 20 Desember 2012. Pengalaman hidupnya yang amat inspiratif patut untuk disimak, yang awalnya ia hanya seorang office boy hingga bisa menduduki jabatan nomor satu sebagai seorang Vice President Citibank. Pada hari Kamis tepatnya pada tanggal 20 Desember 2012 Bapak Houtman Zainal Arifin berpulang ke pangkuan Rahmatullah pukul 14.20. Jenazahnya disemayamkan di Jln. H. Buang 33 Ulujami, Kebayoran Lama, Jakarta.

Sering kali, orang melihat seseorang dari kulitnya saja. Alih-alih bersyukur dengan apa yang dimilikinya, orang lebih sering meratapi diri atas segala hal yang dirasa kekurangannya. Sedikit yang justru memanfaatkan kekurangan untuk memicu diri menjadi lebih baik.

 Memandang punggung sendiri memang susah tapi memandang punggung orang sungguh mudah. Saya mencoba mensyukuri dengan apa yang saya miliki saat ini. Tak banyak yang tahu alasan saya rela membagikan buku selain karena termotivasi oleh Ibu Peri Endah S juga karena saya pernah berada di posisi dimana jangankan membeli buku, untuk jajan jagoan saja saya harus melakukan hal-hal yang tak pernah terbayangkan oleh orang lain, halal tentunya. Saya tahu bagaimana rasanya haus akan bacaan namun tak bisa berbuat apa-apa, dan saya berharap hanya saya saja yang pernah mengalaminya.  Itulah hidup, semua tergantung bagaimana kita memilih untuk menjalaninya.

Sumber gambar:sosok.kompasiana.com



Minggu, 11 Agustus 2013

Persahabatan Unik Will, Liesl & Po




Judul : Liesl & Po
Penulis:Laurien Oliver
Penerjemah: Esti A.  Budihabsari
ISBN: 978-979-433-712-7
Halaman: 318
Penerbit: Mizan
Harga: Rp 42.500

Yang mati akan bangkit
Dari rimba menuju lembah
Dan yang tua akan menjadi muda kembali

Banyak cara yang ditempuh seseorang untuk menghilangkan rasa sedihnya karena kehilangan orang terkasih. Salah satunya dengan cara terapi menulis,  kita menuangkan semua yang kita rasa dalam goresan kata-kata. Lauren Oliver memilih mengatasi  rasa pedih dan kehilangan sahabatnya juga dengan menuliskan semua yang ia rasakan, semua tertuang hingga menjadi sebuah kisah yang menawan ini. Rasa sedih dan kehilangan yang mendalam tercermin pada nuansa muran yang disajikan pada awal kisah. Andai kata ia memilih cara lain mungkin buku ini tidak akan pernah ada di tangan kita.

Buku ini berkisah mengenai persahabatan seorang gadis yatim piatu bernama Liesl, seorang bocah (mantan) murid Alkamis bernama Will serta seorang eh bukan..... se.... hantu yang belum "menyeberang" bernama Po. Ketiganya bersahabat karena sebuah kebetulan yang ternyata berdampak besar bagi kehidupan mereka masing-masing.

Sejak ayahnya sakit, Liesl dikirim oleh ibu tirinya untuk tinggal di loteng yang dingin dan menyeramkan. Untuk menuju ke lonteng tidaklah mudah, karenanya jarang ada yang kesana. Hanya seorang pelayan yang membawakan makanan  dua kali sehari yang melalui jalan itu. Seperti bisa ditebak, sosok ibu tiri Liesl sesuai dengan gambaran ibu tiri kejam ala Cinderella. Semua ia adalah guru pribadi Liesl yang bersikap semanis madu namun perlahan tapi pasti mulai menunjukkan sifat aslinya. Tidak saja mengurung Liesl di loteng ia juga melarang Liesl menghadiri pemakaman ayahnya, belakangan mulai meributkan dana yang habis dikeluarkan untuk memberi Liesl makanan yang tidak pantas sementara ia sibuk menghamburkan uang peninggalan ayah Liesl.


Tanpa sengaja, Will sering melihat sosok Liesl di jendela loteng. Will yang dipungut dari rumah yatim piatu untuk didik menjadi murid seorang Alkamis merasa kesepian. Will merasa nyaman dan damai jika  memandang wajah Liesl. Segala siksaan yang ia dapatkan terasa sirnar. Sejak membuka mata di pagi hari hingga beranjak tidur, tak sedikit celaan, hinaan dan siksaan fisik yang diterimanya. Sang Alkamis memungutnya agar punya murid dan memperoleh asisten secara gratis sejak murid sebelumnya mengalami insiden tidak menyenangkan. Baginya Will tidak berguna dan selalu menyusahkan.

Po hadir tanpa sengaja di kamar Liesl tepat tiga hari sejak ayahnya meninggal. Po berasal dari Dunia Lain. Ia tidak ingat dahulu  dia seorang anak perempuan atau laki-laki. Po ditemani seekor hewan yang ia juga ragu apakah anjing atau kucing bernama Bundle. Po sangat menyukai gambar yang dibuat oleh Liesl. Sebagai imbalan menyampaikan pesan untuk ayah Liesl di dunia lain ia minta dibuatkan gambar kereta api. Dengan memandang gambar buatan Liesl Po merasa bahagia.

Ketiganya terhubung tanpa segaja oleh sihir yang konon merupakan sihir terkuat di dunia serta kecerobohan yang dibuat oleh Will. Will yang kelelahan sedang menjalankan tugas  mengambil pesanan di Mr Gray sang ahli pemakaman serta mengantar kotak berisi sihir tersebut ke Lady Premiere. Instruksi yang ia terima sebenarnya adalah pergi mengantar sihir dulu baru mengambil pesanan. Will sengaja mengubah rute karena lokasi rumah Mr Gray hanya terletak dekat dengan lokasi ia sengaja berdiri menatap Liesl melalu jendela.

Sampai di rumah Mr Gray tanpa sengaja Will tertidur di kursi akibat kelelahan. Saat terbangun tanpa sengaja ia menyambar kotak  kayu yang terletak di meja. Sekilas ia merasa beban kotak kayu tersebut terasa lebih ringan. Namun ia tak berpikir panjang, bergegas ia pergi meninggalkan rumah Mr Gray. Padahal jika dicermati, Will mengambil kotak yang salah, kotak  serupa yang kebetulan juga berada di meja dimana ia meletakan kotak yang ia bawa.

Kebetulan.
Sungguh kebetulan kotak kayu yang dibawa Will ternyata berisi abu ayah Liesl  Morbower. Sosok yang sering dilihatnya dari jendela. Mr Gray kehabisan persediaan guci abu sehingga ie terpaksa merelakan kotak perhiasan ibunya. Sementara kotak kayu yang berisi sihir terkuat dikirim ke rumah Keluarga Morbower tanpa ada yang mengetahui kekuatan yang ada di dalamnya.

Selanjutnya kita akan disuguhi kisah bagaimana pihak-pihak yang berkepentingan pada isi kedua kotak itu sibuk memburu Liesl, Will dan Po.  Sementara yang diburu harus berusaha menuntaskan misi khusus mereka. Seru, menegangkan dan penuh dengan kata-kata indah menyentuh. Layak mendapat bintang 4.

Secara garis besar buku ini menarik untuk dibaca karena menawarkan  kisah cinta antara ayah dan anak, kehilangan yang sangat serta kesepian akan adanya sahabat. Bahasa yang dipilih mudah dipahami walau saya harus kembali memberikan peringatan tentang suasana muram pada awal kisah. Suasana hati sang penulis sungguh berpengaruh terhadap karyanya.

Buku ini terdiri dari tiga bagian, Bagian pertama berjudul Loteng dan Kebetulan mengisahkan tentang latar belakang ketiga tokoh kita serta bagaimana ketiganya memulai petualangan. Bagian  kedua berjudul Jalan Sempit dan Burung-burung Pipit Pemberani mengisahkan tentang bagaimana akhirnya ketiga tokoh kita bertemu dan memutuskan untuk pergi bersama. Bukan hal yang mudah. Bagian ketika  berujudul Titik Balik dan Pertemuan mengisahkan tentang bagaimana sihir yang terkuat tersebut bekerja. Banyak kebohongan terungkap, banyak masalah yang terselesaikan,seperti biasa berakhir kisah dengan membahagiakan.


Buku ini sepertinya diperuntukan bagi usia remaja dimana alur kisah menawan lebih diutamakan. Sementara pembaca seusia saya kadang meributkan  detail. Misalnya saja suasana loteng yang mencekan digambarkan dengan jelas namun tidak terlalu terinci seperti dimana bagian kamar mandinya dan lainnya jika memang liesl diharapkan akan menghabiskan hidupnya disana. Atau bagaimana Liesl bisa mendapat pasokan kertas untuk menggambar sementara makanan yang ia terima malah jauh dari memadai. Juga bagaimana mereka bisa segitu lama berada dalam kereta api tanpa ada yang menemukan?

Bagian yang tak kalah menarik dari buku ini adalah ilustrasi. Ilustrasi yang ada dibuat sedemikian rupa sehingga dengan hanya memandangnya saja kita bisa membuat sebuah kisah. Ada ilustrasi yang dibuat mengambil sebagian halaman buku namun ada juga yang dibuat seluas halaman buku bahkan ada yang menghabiskan dua lembar sekaligus. Sungguh menawan.

Untuk saya pribadi, bagian balik menyentuh adalah saat Po akhirnya bisa mengingat siapa dirinya serta siapa namanya dan kemudian meneruskan perjalanannya "Menyeberang" Selama ini Po berusaha mengingat siapa dirinya, ia merasakan esensinya sedikit berubah sejak berteman dengan Liesl, belakangan ditambah dengan Will. Sementara bagian  yang paling spektakuler adalah kisah di halaman 300. Silahkan dibaca.

Penghargaan yang telah diraih oleh buku ini yaitu:
  • ABC Best Book for Children 2011
  • Kirkus Best Books of the Year, 2011
  • Publisher’s Weekly Pick of the Week in October 2011
  • Publisher’s Weekly Galley to Grab
  • Washington DC’s Capitol Choices 2012 Noteworthy Book for Children and Teens
  • Amazon Best Book of the Month in October 2011
Jangan lupa menyimak Book Trailer di http://www.youtube.com/watch?v=UO7ODAjwI74 juga mengunjungi http://www.lieslandpo.com serta www.laurenoliverbooks.com



Gambar bersumber dari:
www.kidzbop.com








Banyak cara yang ditempuh seseorang untuk menghilangkan rasa sedihnya karena

Sabtu, 20 Juli 2013

Membuat Foto Hebat Ternyata Mudah

Judul: Pintar Eksposur, Panduang Lengkap Membuat Foto Hebat dengan 
          Kamera Apa Saja
Penulis: Bryan Peterson
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Hasman Ado
Pewajah Isi: Harsyid Aulia
Pewajah Sampul: Wildan A.R
ISBN: 978-979-024-578-5
Halaman: 184
Penerbit: Prigel Books
Harga: Rp 77.500

Perkembangan  ilmu pengetahuan membuat kehidupan kita kian berwarna. Dulu tidak pernah terbayangkan seseorang bisa membawa komputer kemana-mana, sekarang tengok kanan-kiri, bak iklan minuman dimana saja, kapan saja seseorang bisa menggunakannya. Saat saya belajar fotografi, perlu perjuangan panjang untuk bisa menghasilkan sebuah foto lumayan, belum bagus masih lumayan. 

Mulai dari  memastikan film sudah terpasang dengan benar, mengatur keseimbangan cahaya, menggulung film, dibawa untuk diproses menjadi negatif alias klise terakhir dicetak. Berapa kali kecewa karena hasil kurang maksimal disebabkan komposisi kurang pas, pencahayaan terlalu gelap, foto tidak fokus,  sudah tak terhitung lagi jumlahnya.  Dari satu rol film bisa saja hanya menghasilkan dibawah sepuluh foto yang menawan. Sekarang setiap orang yang memegang kamera bisa mengklaim dirinya sebagai seorang fotografer dengan hasil foto  lumayan dari sisi pencahayaan.

Buku ini mengajak setiap pemilik kamera DSLR  untuk bisa membuat aneka foto menawan dengan program M tanpa perlu khawatir. Ada lima hal penting yang dibahas dalam buku ini seputar eksposur, hal terpenting dalam fotografi. Pembahasan pertama mendefinisikan eksposur, kedua mengenai Aperture, lalu mengenai Shutter  Speed, Kecepatan Rana, disambung mengenai Cahaya, terakhir membahas mengenai Filter, Teknik Khusus dan lampu Flash.

Secara sederhana eksposur bisa dikatakan  seberapa banyak, seberapa cepat serta bagaimana tindakan cahaya yang masuk ke material fotosensitif. Terang atau gelapkah foto yang dihasilkan? Cerah atau gelap mengacu pada seberapa banyak cahaya yang terekam.

Eksposur yang merupakan kombinasi sederhana dari tiga faktor utama, yaitu; aperture atau bukaan diafragma, shutter speed atau kecepatan rana serta ISO (ada juga yang lebih menyukai menggunakan istilah ASA). Perpaduan ketiganya dikenal dengan istilah Exposure Triangle.

Dahulu guna memudahkan saya dan teman-teman belajar,  kami diminta membayangkan ada sebuah lubang tempat cahaya masuk di lensa, namanya Aperture. Lubang itu tertutup oleh enam buah bilah logam. Istilahnya adalah "f-stop"  Misalkan kita  menentukan pada angka 4, maka artinya adalah f/4.  Lalu bayangkan ada cahaya yang masuk dalam hitungan detik. Karena kita menggunakan f/4 maka artinya lingkaran tersebut dibuka menjadi 4 bagian. Kemudia kita mengganti menggunakan f/11, maka artinya lubang tersebut akan terbuka menjadi 11 bagian. 

Jika diperhatikan tentunya  potongan dari lubang yang dibagi menjadi 4 bagian akan lebih besar dari potongan yang dibagi menjadi 11 bagian . Semakin kecil angka f-stop maka semakin besar bukaan. Demikian juga sebaliknya, semakin besar angka f-stop maka semakin kecil bukaan. Makin besar bukaan tentunya membuat cahaya yang masuk makin banyak.

Pelajaran selanjutnya, saya dan teman-teman diminta membayangkan ada sebuah bagian lagi yang disebut Sutter Speed, kecepatan rana dilambangkan
dengan S. Penyebutannya biasanya adalah 1/S detik. S disini bisa angka 2, 25.30 dan sebaginya. Bagian ini bertugas mengatur berapa cepat, cahaya masuk dalam satu detik. Jika 1/25 detik artinya lamanya cahaya yang masuk adalah 1/25 detik. Dengan demikian 1/25 tentunya lebih cepat  dari 1/2 detik.   Semakin besar angka S, maka akan bertambah cepat cahaya masuk

Ada dua kondisi dimana Shutter Speed harus menjadi skala prioritas, yaitu; ketika obyek bergerak; serta ketika melakukan pemotretan dalam situasi rendah cahaya tanpa menggunakan bantuan tripod (kaki tiga) guna menyanggah kamera. Hal ini perlu dilakukan jika ingin menangkap gerakan dalam sebuah foto. 

Misalnya saat ingin membuat air yang mengalir menjadi seakan diam, maka yang harus dilakukan adalah menyetel Shutter Speed cepat terlebih dahulu. Tentunya jangan melupakan juga unsur jarak antara pemotret dengan subjek, arah mana subjek bergerak serta penggunaan lensa.

ISO atau ASA  merupakan kadar seberapa sensitif  sebuah film terhadap cahaya. Semakin rendah angka atau jumlah ISO yang tertera berarti semakin rendah juga kadar sensitifitas. ISO tinggi biasanya dipergunakan untuk mendapatkan Shutter Speed yang cepat dalam kondisi lingkungan yang kurang cahaya bahkan gelap.

Filter  Polarisasi merupakan filter yang wajib dimiliki setiap fotografer. Gunanya adalah untuk mengurangi silau dari permukaan reflektif seperti kaca, logam serta air. Kadang seorang fotografer harus melakukan pemotretan di tengah hari karena cahaya sangat kasar, untuk itu filter polarisasi bisa sedikit membantu. Hal itu dikarenakan matahari berada langsung di atas kepala.

Dibandingkan dengan buku yang lain, buku ini lebih mudah dipahami.  Apalagi penerjemah juga menggunakan  kalimat yang lugas sehingga pembaca bisa memahami dengan cepat. Tak heran jika buku ini sudah mengalami beberapa kali cetak dan penulisan ulang. Konon penjualannya juga cukup menggembirakan.

Aneka teknik yang diajarkan juga tidak rumit. Pembaca bisa langsung mencoba dan menghasilakan foto-foto spektakuler layaknya fotografer profesional. Misalnya bagaimana cara membuat foto dengan latar belakang buram, lalu membuat komedi putar seakan berhenti berputar, membuat motor yang melaju kecil seakan meninggalkan awan tipis dan masih banyak lagi.

Contoh-contoh yang diberikan oleh penulis membuat pembaca bisa lebih memahami teori yang diberikan. Pembaca bisa mengetahui perbedaan menggunakan f/28, f/4, f/16 dengan lebih jelas, bagaimana hasil sebuah foto dengan pencahayaan yang kurang, pas atau berlebih.

Buku ini layak dipelajari oleh mereka yang tertarik untuk menggeluti dunia fotografi serta ingin lebih mengoptimalkan penggunaan kamera pribadi hingga mampu menghasilkan foto-foto menawan dengan mudah dan menyenangkan. Selamat mencoba!


*melirik timbunan klise, enaknya diapakan yahhhhhh*