Minggu, 13 November 2011

Misteri Pembunuhan di Gang


Judul Asli : Boy Sherlock Holmes #1, Eye of the Crow
Penulis : Shane Peacock
Penerjemah: Maria Lubis
Halaman : 368
Penerbit: Mizan Fantasi
Harga: Rp 57.000


Dia tidak tahu ke mana dia akan pergi atau tinggal, tetapi dia tahu pasti apa yang akan dia lakukan
Tapi, aku adalah anak jalanan sejati!

Tak berlebihan jika menyebutkan bahwa buku ini merupakan benang merah dalam banyak hal sehubungan dengan sosok misterius Sherlock Holmes. Pada buku-buku besukan pengarang aslinya, Sir Arthur Conan Doyle. Pada buku-buku tersebut, sosok Sherlock memang digambarkan sudah berusia matang dan setiap sepak terjangnya selalu ditemani oleh  sahabatnya, Dr Watson. 

Sherlock Holmes sendiri sebenarnya adalah detektif fiktif berkebangsaan Inggris ciptaan Sir Arthur Conan Doyle yang  terkenal akan kemampuan deduksinya dan kepandaiannya dalam memecahkan kasus. Sherlock Holmes menyebut dirinya "detektif konsultan", orang yang dimintai tolong dalam suatu kasus ketika kasus tersebut dianggap terlalu sulit untuk dipecahkan polisi dan detektif lain; kita bahkan sering mendengar bahwa dia dapat memecahkan suatu kasus tanpa harus meninggalkan rumahnya. Ia sangat handal dalam menyelesaikan kasus-kasus yang tidak biasa dengan menggunakan kemampuan analisisnya yang luar biasa, dan sering juga menunjukkan kemampuannya ini kepada klien barunya dengan membuat analisis langsung tentang pribadi atau hal-hal yang baru saja dilakukan sang klien. Strategi ini, tentu saja, tidak pernah gagal mencengangkan dan membuat kliennya percaya akan kemampuannya.

Sir Arthur Conan Doyle mendasarkan penciptaan Holmes atas gurunya di Fakultas Kedokteran Universitas Edinburgh, seorang ahli bedah yang sangat berbakat dan juga detektif forensik Joseph Bell, yang mana ilmu forensik menjadi ilmu baru pada waktu itu. "Holmes" dinamakan atas Oliver Wendell Holmes yang sangat dikagumi oleh Conan Doyle, dan atas atlet kriket Inggris yang bernama Sherlock.

Buku ini menciptakan sosok Sherlock saat remaja. Dikisahkan bagaimana kehidupan keluarganya dimana setengah darahnya adalah darah kaum terhormat sementara setengahnya lagi adalah darah Yahudi. Ia tak diterima di kedua sisi keluarganya. Sherlock dikisahkan memiliki kakak yang sudah sangat kita kenal, Mycroft serta seorang adik perempuan bernama Violet yang meninggal sebelum berusia empat tahun. Setidaknya info ini sedikit menghapus rasa penasaran para pembaca kisah Sherlock mengenai latar belakang keluarganya yang jarang disebut dalam buku-buku awal.

Kebiasaan Sherlock mengawati sekitar membuatnya bisa mengetahui banyak hal dengan hanya memandang. Hal ini juga yang membuatnya terseret dalam kasus pembunuhan seorang wanita cantik di Whiterchapel, London. Seorang tersangka sudah ditangkap, tentu saja. Tapi masalahnya apakah tersangka itu benar-benar pelakunya?  Atau hanya seseorang yang berada di waktu dan tempat yang salah saja? Bagaimana jika pelakunya masih bebeas berkeliaran di jalan?

Tak ada saksi mata.....
Kecuali  beberapa burung gagak.

Burung gagak ternyata menyukai benda yang berkilauan serta hafal dengan manusia. Fakta kecil namun penting ini sangat membantu Sherlock dalam menjalankan  penyelidikannya. Banyak penelitian yang menceritakan bagaimana kecerdikan seekor burung gagak. 

http://techno.okezone.com menyebutkan dalam sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa burung gagak termasuk dalam spesies 'pendendam'. Bahkan mereka masih mengingat wajah manusia yang menyakitinya.  Hasil survei yang dilakukan pada sejumlah gagak di Taman Washington State, di Seattle, Amerika Serikat menunjukkan bahwa gagak masih hafal muka manusia yang pernah menyakitinya. Bahkan, gagak akan memberitahukan kepada keluarganya manusia yang dianggap bahaya.

Menurut Profesor Yohanes Marzluff dari University of Washington, studi yang telah dilakukan selama lima tahun tersebut menunjukkan bahwa gagak mempunyai sifat yang unik. Sifat tersebut dapat membantu kawanan gagak dalam beradaptasi dan berkembang dengan manusia.  

"Perilaku orang atau individu terhadap hewan sering berubah. Karena tindakan manusia sering mengancam hewan. Para gagak tersebut pun belajar terhadap lingkungan sosial mereka, termasuk memperhatikan kebiasaan individu yang dianggap menguntungkan," kata Marzluff, seperti dilansir melalui ABC News, Jumat (1/7/2011).

Sedangkan dalam http://teknologi.inilah.com  disebutkan sebuah  hasil studi, gagak memiliki kemampuan serupa manusia dalam membedakan antara simbol-simbol yang mewakili jumlah yang berbeda. Dalam serangkaian percobaan di Utsunomiya University, burung berhasil memilih kontainer dengan jumlah makanan terbanyak. Hal itu bisa terjadi melalui identifikasi nomor yang ditandai pada tutupnya. Profesor morfologi hewan Shoei Sugita mengatakan, temuan ini menunjukkan gagak memiliki kemampuan kognisi numerik yang sama dengan manusia.

Dalam percobaan dengan delapan gagak hutan, dua kontainer ditandai dengan simbol numerik ‘dua’ dan ‘lima’ pada tutupnya, kemudian ditempatkan dalam kandangnya dengan hanya wadah ‘lima’ yang berisi makanan.
Peneliti mengatakan, sebanyak 70% upayanya, gagak ini mampu mengambil kotak yang benar. Temuan ini diterbitkan di jurnal Animal Behaviour internasional.

Selesai membaca buku ini, tanpa sengaja saya menghubungkan  beberapa hal dengan buku-buku seputar Sherlock yang lain. Beberapa hal terlihat sangat jelas benang merahnya. Sekedar dugaan saya, sosok musuh bebuyutannya Malefactor mungkin berkembang menjadi Profesor M musuh bebuyutannya saat dewasa. Lalu sosok Irene yang digambarkan menjadi sahabatnya rupanya  memberikan kesan yang mendalam dalam diri Sherlock. Dimasa mendatang sempat ada kisah mengenai bagaimana Sherlock jatuh hati dan kalah dalam adu kecerdikan dengan seorang gadis bernama Irene.

Kebiasaan mengamati sekeliling diwarisi dari sang ayah. Sementara kecintaannya terhadap musik merupakan warisan dari sang ibu yang bersuara merdu.  Penggunaan kaca pembesar merupakan hasil ajaran sang ayah yang terbukti sangat membantunya dalam setiap penyelidikan. Ada juga seputar kebiasaannya membuka-buka begitu banyak koran setiap hari.

Sayangnya...., kenapa dalam tugas pertamanya ini pengorbanan yang harus diberikan begitu besar.  Rasanya sungguh tidak adil!

Jumat, 11 November 2011

The Search for Merlin: The Grey Labyrinth



Penulis : Tyas Palar
Penyunting : Tantrina Dwi Aprianita
Desain Sampul : Tyo Bvs
ISBN : 978-602-97648-4-0
Halaman : 267
Penerbit : Umania

“…Betapa beruntungnya kau tak mewarisi kemampuan melihat kilasan masa depan. Betapa beruntungnya kau tak perlu melihat segala peristiwa buruk yang yang masih berlangsung di dunia yang durjana ini. Betapa beruntungnya kau tak perlu tersiksa seperti aku….”

Akhirnya………!
Penantian panjang untuk sebuah buku. Butuh waktu 2 tahun untuk mendapatkan buku kedua dari beloved Tyas. Padahal gosip yang beredar menyebutkan kisah ini sudah diselesaikan jauh hari, tak lama sejak buku pertama beredar. Biarlah gosip berlalu bersama angin, yang penting buku ini sudah berada di tangan saya berkat toko buku favorit TM Bookstore.

Mungkin konyol, tapi saya membaca ulang beberapa bab akhir dari buku terdahulu agar bisa menemukan benang merah dengan buku ini. Sebenarnya tidak harus, hanya saja saya ingin lebih meresapi kisah yang sudah lama saya tunggu.  Dengan jarak yang sedemikian lama serta jumlah buku yang sudah saya baca, rasanya saya butuh diingatkan ini tentang kisah apa

Kisahnya masih seputar tentang percarian penyihir terbesar, Merlin sehubungan dengan gambaran mengenai peristiwa menakutkan di masa depan yang diperoleh oleh penyihir lainnya. Sempat terjadi kebimbangan di dalam diri mereka, mengingat ada larangan  untuk ikut campur urusan manusia.

Selain urusan kilasan situasi bumi yang menakutkan di masa depan, aneka penculikan anak berbakat, polah tingkah para penyihir juga menarik untuk disimak. Pencarian Merlin di buku ini justru kurang disinggung seperti buku pertama.

Mereka  digambarkan  berbeda dengan yang umumnya ada di buku cerita. Setiap penyihir disajikan berimbang antara kelebihan berupa kekuatan dan kemampuan sihirnya serta kekurangannya.

Misalnya saja William. Bagi William sihir adalah untuk dirinya sendiri, dipakai jika diperlukan dan diinginkan bukan karena harus membantu orang. Sejak kecil sihir adalah penyelamat dirinya, tak pernah terpikir untuk memakai sihir guna meringankan beban orang lain. Sihir adalah salah satu sarana menghibur dan mewujudkan dirinya sendiri.

Kisah Adrian dengan  kegiatan menenun mantel  dari benang-benang yang bisa ditenun menjadi karpet terbang di Persia langsung mengingatkan saya pada kisah jubah ajaib milik HP. Dalam kisah ini diceritakan berkat mantelnya, Adrian mampu terbang serta menutupi seluruh tubuhnya dari sinar matahari.

Plus perihal labirin. Kalimat , “ labirin adalah sarana fisik untuk mempertinggi tingkat spiritualitas seseorang” membuat saya jadi teringat pada urusan turnamen masih di HP. Kita bukannya harus berhadapan dengan monster  yang menakutkan, tapi berurusan dengan ketakutan dan rasa egois dalam diri sendiri.

Buku ini jauh lebih berwarna dibandingkan buku pertama. Tanpa disadari Tyas menunjukan keanekaragaman bacaannya dalam buku ini. Terlihat dari beberapa bagian yang bisa dengan mudah tertebak dari mana isnpirasinya.

Lokasi dalam kisah ini  beragam misalnya Pegunungan Pyrenees, Lisbon, Pembrokeshire serta London.  Tahunnya juga beragam, 1750, 1346, 1755, 1749  serta yang terbanyak adalah 1756.
                                                                                                                                                                                                                                                                                               
Sayang buku ini sama sekali tidak ada ilustrasi guna memanjakan mata. Padahal jika ada ilustrasi yang bisa menjelaskan mengenai uraian Fairfax  kepada para tamu Larrikin seperti yang ada di halaman 31 tentunya akan lebih menarik lagi. Walau memang dari kover jauh lebih menarik dibandingkan buku pertamanya.

Menariknya  Tyas membuat sosok Merlin lebih terlihat “manusia” dengan segala macam urusan galaunya. Semuanya terbaca jelas di halaman 2XY. Hayuh di baca biar tahu he he he he

Merlin adalah salah satu tokoh yang paling menarik dalam literatur Welsh serta legenda Arthur.  Merlin sering ditampilkan sebagai penasehat Raja  Arthur dengan wujud sosok pria misterius, eksentrik, serta  selalu bisa menemukan jawaban atas segala masalah. Tak heran jika umur penyihir yang konon selalu panjang membuat Merlin menjadi arif hingga     menjadi penasehat bagi empat raja berturut-turut.

Merlin sering  digambarkan menggunakan topi dengan ujung lancip ala penyihir dengan hiasan  bulan sabit serta bintang. Salah satu tokoh kartun terkenal didandani dengan jubah merah dan topi biru ala Merlin dalam setiap aksi sihirnya.

Tyas, seorang guru Biologi, rekan seperjalanan di patas, penerjemah dan sesama penyuka tokoh Tintin akhirnya membuat penantian panjang saya berakhir, untuk sementara sih…..

Jadi jika penasaran kekacauan apa yang melanda bumi, silahkan baca buku ini. 

All foto dari Tyas's blog

Kamis, 10 November 2011

Kisah Billi SanGreal Ksatria Templar Wanita


Judul                : Dark Goddess
Pengarang       : Sarwat Chadda
Penerjemah     : Ferry Halim
Penyunting       : Fenty Nadila
Penyerasi          : Jia Effendie
Pewajah isi       : Nur Aly
Halaman           : 480
Penerbit            : Atria

Tolong, jangan biarkan mereka memakanku

"If you serve me well, I shall teach you the true nature of all things. If you do not, your bones will be my bread and your blood my soup." 

Hari-hari Billi SanGreal memang selalu diisi dengan  latihan keras sebagai seorang anggota Templar, melakukan banyak kebohongan di sekolah sehubungan dengan aneka memar di tubuhnya serta berburu aneka makhluk yang mengancam umat manusia. Tapi belakangan hari-harinya ditambah dengan perasaan bersalah terhadap  Kay.

Bayangkan betapa kacaunya hati Billi saat  dengan tangannya sendiri ia harus membunuh satu-satunya sahabat yang ia punya,  walau itu atas permintaan Kay sendiri  serta demi keselamatan umat manusia, sesuatu yang mereka perjuangkan selama ini.  Sang ayah sudah pernah memberinya peringatan bahwa Bataille Tenebreuse, perang kesatria Templar melawan makhluk-makhluk yang Tidak Kudus pasti meminta korban, tetap saja Billi merasa galau.

Kisah dalam buku kedua ini memang lebih menarik dibandingkan dengan buku pertama. Dalam buku ini dikisahkan bagaimana Billi  berurusan dengan Polenitsy, sekelompok manusia serigalanya yang seluruh anggotanya adalah wanita. Billi nyaris menjadi bagian dari mereka. Hanya karena tekat kuatnya untuk bertahan ia tidak bergabung dengan “saudari-saudarinya” Sepanjang saat Billi terus berusaha bertahan dengan mengulang kata-kata yang sama, “aku bukan binatang” agar bisa  bertahan

Suatu saat Billi dan Pelleas berburu  manusia serigala yang memberontak. Knights telah membuat gencatan senjata dengan manusia serigala. Selama manusia serigala tidak berburu manusia, mereka tidak akan diburu. Namun ada saja yang melanggar perjanjian. Billi dan Pelleas menemukan sebuah rumah pertanian dimana seluruh  keluarga telah terbunuh kecuali seorang gadis kecil  berusia sekitar 9 tahun bernama  Vasilia.

Ternyata  Vasilia  bukan  gadis biasa. Ia adalah seorang Oracle, yang dipanggil dengan nama Anak Musim Semi. Ada 6 tingkat Oracle; mentalis seperti Kay sahabat Billi, medium yang bisa berbicara dengan roh, penyembuh, elementalis, pembuat api serta  para nabi. Vasilia dianggap sebagai perantara guna membersihkan dunia. Keberadaannya menjadi incaran banyak pihak. 

Kali ini urusan Templar  sampai ke Rusia dan melibatkan Trah Romanov. Sebagai selingan  dari urusan  menusuk jantung dan menebas kepala, Sarwat Chadda juga memberikan Billi kisah romantis dengan  Tsarevich Ivan Alexeivich  Romanov, pangeran tampan  dengan tubuh menarik namun memiliki pandangan mata dingin.  Sosok  sempurna impian para wanita. Ivan sedang berusaha menjadi Bogatyr , ksatria Rusia.

Trah Romanov merupakan keluarga kerajaan terakhir  yang memimpin Rusia sebelum terjadi revolusi. Salah satu peninggalan yang paling menawan adalah perhiasan yang dikenal dengan nama Telur Romanov.  Jika tertarik dengan Ivan silahkan intip http://www.alexanderpalace.org/palace/

Tapi jangan khawatir,  Sarwat Chadda menyusun kisah romantisnya berbeda dengan kisah romantis ala film India. Ia membuat semua berjalan dengan apa adanya. Kekerasan hati Ivan kalah dengan tekat kuat Billi, sementara sikap galau Billi akibat peristiwa Kay perlahan terobati oleh Ivan. Walau tetap saja ada adegan romantis di bawah eh dekat pohon he he hehe.

Tak ketinggalan seru, kisah kali ini melibatkan  seorang dukun hitam dari Rusia bernama Baba Yaga. Memanfaatkan  polenetsy yang dipimpin oleh Old Grey,  Baba Yaga berusaha merebut Vasillia.
Akhir cerita berkaitan dengannya malah dibuat menggantung mengundang rasa penasaran.

Menilik kover kali ini, sosok Billi digambarkan sebagai seorang gadis remaja yang tomboy dan percaya diri. Terlihat lebih dewasa di bandingkan buku pertama.  Beberapa bagian dalam kisah ini menunjukkan emosi Billi yang tidak seimbang. Suatu saat ia terlihat begitu kacaunya sehingga nyaris membahayakan tugasnya.  Lain saat ia begitu cerdik dan percaya diri sehingga mampu  menyelesaikan masalah terkait dengan Baba Yaga  dan Vasillia                  

Ada juga typo di beberapa halaman,  misalnya di halaman 306, 414, lah persis saya he he he. Tapi jadi penasaran, gimana kelanjutan kisah mereka bedua. Cocok sih seorang pangeran pemburu Makhluk Tak Kudus bersanding dengan Kesatria Templar. Halah......terkena efek melo deh

Foto:  dari wikipedia

Minggu, 06 November 2011

Kisah Bakti Seorang Anak Untuk Ayahnya




Penulis :  Rosemary Sutcliff 
Penerjemah : Ingrid Nimpoeno 
Penyunting : Rina Wulandari
No. ISBN : 9786029225150 
Halaman : 476
Penerbit; Qanita
Harga ; Rp 74.500

Kami datang untuk mengambil kembali dewa-bersayap itu. Juga darah, untuk membersihkan penghinaan yang telah kauberikan kepada kami dan dewa-dewa suku kami

Bagi  anak laki-laki, ayah adalah pahlawan!  Seorang anak laki-laki akan berusaha mengikuti jejak langkah sang ayah. Setidaknya demikian yang dilakukan oleh Marcus Flavius Aquila. Bagi Marcus, ayahnya adalah pahlawan. Apalagi sang ayah adalah Komandan Kohort  Pertama  Hispana legiun kesembilan. Suatu saat  legiun tersebut hilang di utara Inggris. Banyak desa-desus yang beredar. Tapi satu hal yang pasti Sang Elang belum ditemukan, artinya legiun itu masih dianggap ada. Jika Sang Elang hilang barulah legiun dianggap mati. Itu sebabnya legiun kesembilan tidak pernah dibentuk kembali

Marcus yang mengikuti jejak sang ayah terpaksa pensiun dini akibat luka berkepanjangan pada kakinya.  Sambil menunggu kesembuhan kakinya secara total, Marcus didampingi oleh budak setia, yang belakangan dibebaskannya Esca berusaha menyusup ke suku-suku liar yang berada di utara guna mencari dimana sang elang berada. Dalam misinya Marcus menyamar sebagai seorang tabib mata dari Yunani.

Bagi Marcus ini bukan sekedar misi mencari kembali Sang Elang dan membawanya ke Romawi agar tidak bisa dijadikan sebagai simbol kekalahan bagi musuh-musuh mereka. Tapi bagi  Marcus ini lebih sebagai upaya membersihkan nama ayahnya yang dituduh sebagai pengkhianat serta jika memungkinkan membentuk kembali Legiun Kesembilan yang sudah dikenal karena kehebatannya.

Bagi suku-suku luar, Elang yang dirampas saat perang sama artinya dengan menangkap dewa Legiun sehingga mereka akan membawa pulang dengan penuh kemenangan. Dengan arakan obor mungkin korban domba jantan hitam, Elang akan diletakkan di dalam kuil dewa mereka sebagai symbol untuk para pemuda. Selama perjalanannya, Marcus mendapat banyak tambahan pengetahuan seputar kehidupan suku-suku luar. Misalnya saja  sebuah kuali perunggu besar bisa menaikkan derajat seorang perempuan dimata tetangganya.

Buku ini tidak melulu berlisah mengenai bagaimana upaya Marcus mencari Sang Elang dan membawanya ke Roma namun juga mengisahkan mengenai hubungan 2 orang manusia yang dimulai dari hubungan budak dan majikan. Antara Marcus dan Esca. Marcus membeli Esca yang kalah di arena gladiator untuk dijadikan budak pribadinya. Esca merupakan putra seorang kepala suku Brigantes, Saat akan menjalankan misinya mencari Sang Elang, Marcus menyerahkan surat kebebasan Esca.

Esca tetap mendampingi Marcus selama perjalanan namun bukan sebagai budak tapi sebagai saudara. ’Sekali lagi aku telah menjadi manusia bebas di antara para manusia bebas. Aku telah berburu bersama saudara laki-lakiku, dan itu perburuan yang baik’

Kisah yang menawan, menunjukan bagaimana seorang anak berjuang untuk membena nama baik sang ayah sementara keadaan dirinya pun tak bisa  dikatakan baik. Kisah seputar legiun kesembilan juga telah menginspirasi beberapa film dan kisah lainnya.

Padai awalnya saya sedikit bingung dengan apa yang disebut dengan Sang Elang. Apakah benar-benar burung elang yang dipergunakan sebagai simbol atau apa. ternyata Sang Elang adalah sebuah patung perunggu yang disepuh emas. Di kepalanya terdapat daun bersepuh emas berbentuk mahkota yang menandakan kemenangannya.  

 Kisah ini merupakan  sebuah kisah sejarah  berlatar berlatang Roma dan Inggris  pada abad kedua masehi. Semula ditulis untuk anak-anak oleh Rosemary Sutcliff, dan diterbitkan pada tahun 1954. Belakangan cerita ini  diadaptasi untuk film  dengan judul The Eagle dan dirilis pada tahun 2011. Disutradarai oleh Kevin Macdonald.   Para pemainnya antara lain :
▪           Channing Tatum sebagai  Marcus Flavius Aquila
▪           Jamie Bell sebagai  Esca
▪           Donald Sutherland sebagai Paman Aquila'
▪           Dakin Matthews sebagai  Senator Claudius

Lalu apakah Marcus berhasil menemukan Sang Elang dan memulihkan nama baik ayahnya?
Apakah Legiun Kesembilan jadi dibentuk kembali?
Terpenting bagaimana kabar Cottia selanjutnya
semuanya ada dikelanjutan kisah buku ini... Berharap segera diterbitkan oleh qanita

Untuk menghormati perjuangan Markus, mari mendendangkan lagu yang sering dinyanyikan oleh Legiun kesembilan yang perkasa

Oh ketika aku bergabung
Dengan pasukan Elang,
(seakan kemarin)
Aku mencium seorang gadis di Clusium
Sebelum berbaris pergi

Perjalanan panjang, perjalanan panjang
Dan dua puluh tahun menanti,
Ketika kutinggalkan gadisku di Clusium
di samping lantai serambi

Kamis, 03 November 2011

Sekali lagi, Belajar Kehidupan dari Hewan



Judul                  : The Jungle Book
 Penulis              : Rudyard Kipling
Penerjemah       : Anggun Prameswari
Penyunting        : Jia Effendie & Fenty Nadia
ISBN                   : 878-979-024-490-0
Halaman             : 239
Penerbit             : Atria
Harga                 : Rp 35.000

Macan cintai tutulnya
Banteng bangga pada tanduknya
Waspadalah, bagaimana ia sembunyi
Itulah kekuatannya

Kau tahu sapi bila menendangmu
anduk tebal Sambhur menerjangmu
 tak perlu kami kau beritahu,
kami tahu sedari sepuluh musim lalu

Jangan sakiti anak si hewan liar
anggaplah ia saudara
Walau kecil dan montok,
Beruanglah ibunda mereka
"Tak ada yang kalahkan kami!" ujar si kecil
bangga saat pertama berburu

Kadang kita sebagai manusia pelu belajar dari makhluk lain mengenai bagimana bersikap dan menjalani kehidupan bermasyarakat. Sepasang serigala  yang sering dianggap binatang liar dan buas justru mau mengasuh seorang anak manusia yang mereka temukan. Bahkan tidak hanya mereka, binatang lain juga ikut mengasuh dan mendidik sang anak laki-laki, Mowgli. Sementara disekitar kita berapa banyak orang yang mau perduli saat seorang anak kecil terlihat menangis. Mungkin belum lepas dari ingatan kita kisah mengenai seorang anak yang tertabrak mobil hingga berkali-kali tanpa ada yang perduli hingga seorang tunawisma  yang melihat kejadian itu berteriak-teriak.

Yang ada di gambaran saya jika ada yang menyebutkan kata Jungle book adalah sosok  beruang hitam (walau dalams ebuah film kartun diberi warna coklat) sedang berenang di sungai dengan posisi telentang, sementara di dadanya Mowgli duduk dengan nyaman. Ingatan ala film kartun memang. Mau bagaimana lagi, kisah ini memang sudah mengalami berbagai macam pengembangan seiring dengan waktu yang berjalan.  

Kisahnya nyaris semua sudah tahu. Namun tetap saya membaca bukunya memberikan sesuatu yang berbeda dibandingkan jika menonton film kartun saat kecil atau film yang terinspirasi dari buku ini. Walaubagaimana  kisah klasik yang penuh dengan pesan moral ini tetap menarik untuk.
  Menariknya dalam buku ini   di catatan kaki kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan umum disamping hiburan dengan membaca kisah yang ciamik. Sebut saja   perihal Jasper yang ada di halaman 71,  Pohon Dhak di halaman 102 yang merupakan tumbuhan asia tropis dari keluarga polong-polongan dengan warna bunga jingga kemerahan yang menyala, lalu ada  Ankus semacam tongkat untuk menggembalakan atau menggiring gajah di halaman 206, dan masih banyak lagi.

Tak kalah serunya, di setiap pergantian bab ada  kalimat-kalimat pembuka yang jika ditelaah lebih lanjut bisa dianggap sebagai patisari kisah dalam bab itu. Lallu ada halaman yang mengisahkan mengenai lagu-lagu yang dinyanyikan  oleh para tokoh. Misalnya di halaman 40 ada lagu berburu kawanan Seeone, lalu di 123 ada nyanyian Mowgli.  Lagunya juga lucu dan berirama riang gembira.

Jungle Book merupakan  kumpulan cerita yang dikarang oleh pemenang Nobel Rudyard Kipling. Kisah teresebut  pertama kali diterbitkan pada  1893.  Mengingat ia pernah tinggal di India, maka tak heran jika penggambaran pedesaan dan lingkungan menyerupai India. Lihat saja sosok  Mowgli yang digambarkan berkulit agak gelap dalam buku. 

Sebenarnya kisah mengenai  anak manusia yang dipelihara oleh hewan sudah banyak ragamnya.  Salah satu negara besar konon didirkan oleh anak manusia yang dipeliharta oleh serigala (eh benar khan yahhh). Buku The Graveyard dari Nail Gaiman  konon  terinspirasi  dari buku ini. Kisahnya  tentang seorang bayi laki-laki yang dibesarkan di kuburan!

Joseph Rudyard Kiplinglahir pada 30 Desember 1865 meninggal  18 Januari 1936.  Pada tahun 1907, ia menerima  Hadiah Nobel  untuk Sastra.  Pada tahun 2010 Uni Astronomi Internasional mengabadikan namanya bagi salah satu dari sepuluh kawah baru yang ditemukan diamati oleh pesawat ruang angkasa MESSENGER di 2008-9  di planet Merkurius  

Sebagian karyanya adalah 
▪     The Story of the Gadsbys (1888)
▪     Plain Tales from the Hills (1888)
▪     The Phantom Rickshaw and other Eerie Tales (1888)
▪     The Light that Failed (1890)
▪     Mandalay (1890) (poetry)
▪     Gunga Din (1890) (poetry)
▪     Many Inventions (1893) (short stories)
▪     The Jungle Book (1894) (short stories)
▪     The Second Jungle Book (1895) (short stories)
▪     If— (1895) (poetry)
▪     The Seven Seas (1896)
▪     Captains Courageous (1897)
▪     Recessional (1897)
▪     The Day's Work (1898)
▪     Stalky & Co. (1899)
▪     The White Man's Burden (1899)
▪     Kim (1901)
▪     Just So Stories (1902)
▪     Puck of Pook's Hill (1906)
▪     Rewards and Fairies (1910)
▪     Life's Handicap (1915) (short stories)
▪     The Gods of the Copybook Headings (1919)
▪     A Book Of Words (1928)
▪     Limits and Renewals (1932) 

Foto dari wikipedia

Curcol:
Susahnya jika membuat repiu belakangan semua unsur menarik sudah dibabat yang lain hiksss
Sekedar menunatskan PR untuk Bapak Peri serta unjuk gigi ke 2 oknum yang super jahil

Rabu, 02 November 2011

Kisah Ratu Seribu Tahun


Judul :  Vandaria Saga : Ratu Seribu Tahun  
Penulis:  Ardani Persada Subagio 
Ilustrator : Ecky oesjady
ISBN :  9789792274325 
Halaman : 584
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Harga Rp 98.000

“Aku sudah hidup selama beratus-ratus tahun lamanya, sudah berkali-kali melihat sahabat dan orang  yang kucintai meninggal karena sakit, tua atau alasan konyol lainnya. Tapi tak pernah kubayangkan akan kulihat hari dimana semua penduduk Mandra akan tewas dan meninggalkanku”

“Tidak adakah yang bisa menemaniku dalam keabadian ini?”

Pertama kali membuka plastik  buku ini dan menemukan ada semacam kartu game, saya tertawa lepas! Bener-benar sehati! Beberapa waktu yang lalu sebelum seri buku ini terbit saya sempat membuat semacam Marketing  Planuntuk novel fantasi besutan seseorang. Salah satu strateginya adalah memberikan semacam kartu ini sehingga jika sudah sekian seri bisa tercipta sebuah permainan. Rupanya ide saya dianggap terlalunyeleneh. Bagaimana yah jika mereka melihat buku ini  he he

Terlepas dari urusan ikut lomba atau tidak, saya setuju jika disebutkan seri ini merupakan seri Fiksi Fantasi terbesar di Indonesia. Alasannya sungguh sederhana.  Setiap sisi dari Dunia Vandaria bisa diolah menjadi sebuah kisah. Jadi bayangkan saja, jika ada seorang yang merasa tertarik akan sebuah tokoh, lalu mereka mengembangkan karakter tokoh tersebut  menjadi sebuah cerita. Tak lama ada yang tertarik akan cerita yang baru dikembangkan tadi, ia mulai mengembangkan lagi. Lama-lama kisahnya  akan kian berkembang menjadi sekian kali  lipat. Itu baru dari 1 tokoh. Belum dari tokoh-tokoh baru yang diciptakan karena terinspirasi dari tokoh, kisah atau sebuah lokasi .
Mungkin istilah kolosal cocok untuk menggambarkan perkembangan kisah ini.

Hasil perbincangan saya dengan beberapa teman  penulis, penerjemah dan editor kisah fantasi membuahkan sebuah kesimpulan. Membangun sebuah setting ala fantasi yang logis merupakan hal yang paling susah. Kadang ada saja celah yang terlewat. Misalnya saja ada  sebuah kapal ruang angkasa yang mengalami kerusakan. Untuk sementara mereka mendarat di planet Z sambil melakukan perbaikan. Agar bisa keluar dari pesawat mereka harus meledakkan pintu. Singkat cerita, mereka siap berangkat tanpa ada masalah. Jelas ini aneh! Bukannya tadi pintu diledakkan? Artinya  dengan tidak adanya pintu bagaimana dengan urusan tekanan udara dan sejenisnya?

Seri ini menawarkan sebuah solusi yang meringankan kerja para tukang cerita. Para “pendahulu” sudah menyediakan sebuah dunia layak huni bagi aneka kisah fantasi.  Salah jika ada anggapan kreativitas mereka dibatasi. Justru mereka sudah disediakan “alat perang” tinggal bagaimana mereka menggunakannya. Para penulis tinggal memikirkan plot dan mengembangkan dunia yang sudah disediakan. Sekilo tepung, beberapa butir telur dan sesendok mentega akan menghasilkan sesuatu yang berbeda di tangan setiap tukang kue.

Kisah  Ratu Seribu Tahun  bercerita  tentang  sepak terjang seorang Ratu dari Mandra yang bernama  Narasoma. Akibat perjanjian yang dibuat oleh sang ayah, maka ia harus menanggung beban (atau berkah?) hidup abadi serta di dalam tubuhnya bersemayan Murugan yang buas  sang pelindung Mandra

Suatu saat seorang  Pejalan Cakrawala menawarkan sesuatu yang tak bisa  ditolaknya, menghilangkan kutukan atas dirinya. Agar bisa leluasa bergerak, Narasoma menyamar menjadi pria dan memakai nama Volsung. Untuk itu berarti ia harus meninggalkan negara dan rakyatnya. 

Perjalanannya tentu tidaklah mulus. Dalam perjalanan ia mendapat tambahan murid yang setia mendampinginya. Kisah menggapai keinginannya inilah yang dituangkan dalam buku setebal lebih dari 500 halaman ini.

Pada awal-awal kisah alurmya serasa lambat.  Penulis sepertinya ingin menceritakan betapa lamanya sang Ratu   berkuasa dengan membuat penggalan kisah dari sekian tahun hingga sampai pada 1.000 tahun. Hanya saja bagi saya tidak ada sesuatu yang spesial dari penggalan-penggalan itu, malah berkesan membosankan. Bagi saya, baru pada halaman 234 kisah seru dimulai!

Jika harus menjawab point-point yang ditanyakan sehubungan dengan lomba, maka jawabannya adalah:
▪     Apa saja yang Anda sukai dari novel tersebut?
1. Dunia yang sudah diciptakan dengan rapi dimana setiap bagian bisa dikembangkan tanpa   mengacaukan susunan   dan  pakem
2. Aneka petuah bijak seperti yang ada dihalaman 108 paragraf terakhir, silahkan diintip ^_^
3. Banyak jedian yang sebenarnya juga terjadi disekitar kita, Ardani memolesnya sehingga kita akan merasa tersentil   tanpa rasa marah namun malah malu.
4. Ilustrasinya SUNGGUH KEREN..................................................!

▪     Apa saja yang Anda kurang sukai dari novel tersebut?
1.  Kadang beberapa tokoh mengingatkan pada tokoh yang pernah ada. Padahal jika ikembangkan bisa lebih  menarik. Misalnya perjalanan menuju Lembah yang Dijanjikan   langsung membuat teringat pada kisah Perjalanan  mengambil kitab suci dimana disana juga ada sang kera sakti yang mirip (atau sumber inspirasi) dari Kugo

 2.  Beberapa bagian terasa alurnya lambat, dibagian lain serasa mengajak kitamenaiki  jet.

▪     Adegan apa saja, bila ada, yang paling Anda kenang dari novel tersebut? Jika ada alasannya,
       maka akan lebih baik.
1. Hem... banyak kejutan adegan dalam buku ini layak ya kisah sinetron hehe he (sorry yaa). Tapi setiap kejutan  memiliki dasar yang jelas. Misalnya saja kejadian di hal 168 paragraf ketiga,  lalu pada hal 192 mulai  pada kalimat, "Aku sebenarnya...." Silahkan diintip

-    Apa saja yang menurut Anda bisa diperbaiki untuk meningkatkan kualitas novel tersebut.
          WHAT???? Pertanyaan yang menggoda bagi setiap resensor nih ^_^
1. Ide cerita sudah ok, logika sudah muantap. Hanya  saja… mungkin Ardani harus lebih memilih  dan mengolah kata-kata sehingga  disuatu saat bisa menimbulkan efek melo, dilain waktu   menunjukkan kekuatan seseorang,  lain kesempatan mampu  membangkitkan amarah.            Saat ini,pemilihan kata sering membuat sebuah percakapan atau peristiwa menjadi datar,  padahal sedang adegan seru ^_^ Intinya  ekspresinya  manaaaaa?  sutradara)
 
2.  Perubahan perasaan penulis saat membuat kisah ini juga terlihat bercampur dalam kisah.   Kadang disuatu saat  yang biasa saja emosi sang penulis terlihat meluap-luap penuh semangat, dilain waktu kok yang sehambar sayur  tanpa garam sih . Akan lebih menyenangkan jika emosi penulis tidak tercampur dengan kisah. Aliran kisah dalam  buku ini akan lebih menyenangkan  jika dibuat mengalir dengan tenang walau di dalamnya ada aneka letupan

3. Kok kayak aku saja masih ada typo di beberapa tempat (sadar kekurangan diri 

Biar bagaimana juga, kisah ini cukup menghibur. Membuat sebuah kisah sekian banyak halaman namun tetap konsisten pada sosok para tokoh sungguh kerja keras yang luar biasa, walau pun sempat ada salah pengucapan nama he hehe. Layak diganjar bintang 3,5 kok...

Minggu, 30 Oktober 2011

* Publik Awas, Raksaksa Tidur Berkeliaran!


Judul Luka dan Api Kehidupan 
Penulis Salman Rushdie
Penerjemah : Yuliani Liputo
Penyunting : Adi Toha
ISBN 9789790243644
Halaman : 300
Penerbit Serambi
Harga : Rp 39.000

Jeram Kata, meluncur menggemuruh dari Samudra Dongeng ke Danau Kebijaksanaan yang airnya diterangi oleh Cahaya Fajar, dan darinya mengalir Sungai Waktu. Danau Kebijaksanaan, sperti yang dikethui terbentang di bawah bayang-bayang Gunung Pengetahuan, yang di puncaknya menyala Api Kehidupan

Kita memang harus berhati-hati dengan yang kita ucapkan, apalagi jika  diucapkan dengan sepenuh hati dan dalam kondisi marah. Efeknya bisa sangat mengejutkan! Itu yang dialami oleh Luka. Suatu hari, sepulang dari sekolah  ia menyerukan kutukan bagi pemilik Great Rings of Fire, RROF yang dianggapnya berlaku kejam terhadap para hewan sirkus. "Semoga semua bnatangmu berhenti mematuhi perintahmu dan cincin apimu melalap habis tenda jelekmu."

Luke sang anak kidal  merupakan adik dari Harun, anak kedua dari Rashid Khalifa sang raja dongeng dan Soraya. Kehadirannya sungguh merupakan kejutan, apa lagi mengingat usia kedua orang tuanya  yang tidak muda lagi. Namun sejak kelahiran Luka, wajah keduanya kian hari kian terlihat muda seiring dengan bertambahnya usia Luka.


Suatu saat, sang ayah tertidur dan tidak bangun lagi. Belum..., ia belum meninggal karena masih bisa  mengguman. Sang ayah terkasih berada dalam cengkraman Raksaksa Tidur! Sekarang adalah giliran Luka untuk menyelamatkan sang ayah dan berpetualangan di Dunia Dogeng. Luka tidak sendiri, ia akan ditemani oleh seekor anjing yang diberi nama Beruang dan seekor beruang yang dipanggil Anjing.


Luka merasa melihat sosok ayahnya, tapi ada sesuatu yang aneh dengan sosok itu. Belakangan ia sadar bahwa yang ia lihat bukan ayahnya, tetapi makhluk seperti hantu yang menyebut dirinya Nobodaddy. Bersama dengan Nobodaddy, Anjing serta Beruang, Luka harus bergegas mengambil Api kehidupan guna menyelamatkan ayahnya.

Seperti kisah anak-anak yang lain, hasilnya kita pasti sudah bisa menebak, Luka akan berhasil menuntaskan misinya. Hanya...., perjuangannya tidak mudah. Luka menjadi sadar, bahwa dunia ini seperti video game, dengan kehidupan dan tingkatan. Pengorbanan orang-orang disekitarnya juga sungguh mengharukan.

Buku ini memberikan pengajaran moral  bagi anak-anak dan  orang dewasa tentunya. Kita memang harus berjuang untuk mempertahankan sesuatu yang sangat  berarti dalam hidup ini, walau kadang untuk itu diperlukan pengorbanan mahal. Dalam perjuangan kehidupan ini, kadang kita tak bisa tahu dimana kawan dan lawan, untuk itu kita perlu berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini. bagi saya yang suka menghabiskan waktu luang dengan tidur guna menjaga stamina tubuh, kisah ini menyentil saya untuk tidak terlalu lama tidur.

Ide dasar kisah ini memang sederhana mengenai bagaimaan seorang anak berjuang demi sang ayah. Kisahnya juga diramu dengan apik. Hanya saja saya ragu apakah anak-anak bisa memahami kisah yang ada mengingat dalam buku ini banyak terdapat lokasi dengan nama yang cukup rumit serta banyaknya tokoh dengan nama-nama yang tak lazim.  Bukan meremehkan kemampuan mereka tapi bagaimana mereka bsia membedakan antara Nobodaddy,  Insultana Soraya, Jaldibadal,  El Tiempo, Insultana Ott, Respekto-Rat. Lalu ada lokasi kejadian di   Sungai Waktu, Permukaan Masa Kini, Sniffelheim, Negeri Tanpa Masa Kanak,

Salman Rushdie mwnciptakan kisah ini untuk anak keduanya Milan yang berusia 13 tahun. . Dalam menciptakan kisah ini, ia menggunakan video game sebagai inspirasi untuk buku ini.

Penghargaan yang diterima selama ini adalah:
  • Aristeion Prize (European Union)
  • Arts Council Writers' Award
  • Author of the Year (British Book Awards)
  • Author of the Year (Germany)
  • Booker Prize for Fiction
  • Booker of Bookers for the best novel among the Booker Prize winners for Fiction awarded at its 25th anniversary (in 1993)
  • The Best of the Booker awarded to commemorate the Booker Prize's 40th anniversary (in 2008), winner by public vote
  • Commandeur de l'Ordre des Arts et des Lettres (France)
  • English-Speaking Union Award
  • Honorary Patron, University Philosophical Society, Trinity College, Dublin.
  • Hutch Crossword Book Award (India)
  • India Abroad Lifetime Achievement Award (USA)
  • James Tait Black Memorial Prize (Fiction)
  • Kurt Tucholsky Prize (Sweden)
  • Mantua Prize (Italy)
  • James Joyce Award – University College Dublin
  • Massachusetts Institute of Technology Honorary Professorship
  • Chapman University Honorary Doctorate – Doctor of Humane Letters
  • Outstanding Lifetime Achievement in Cultural Humanism (Harvard University)
  • Premio Grinzane Cavour (Italy)
  • Prix Colette (Switzerland)
  • Prix du Meilleur Livre Étranger
  • St. Louis Literary Award – Saint Louis University
  • State Prize for Literature (Austria)
Buku ni layak dapat  4 bintang. Direkomendasikan bagi penggemar cerita fantasi dan peptualangan
Ssst silahkan buka halaman 244...

Bisa dibeli di TMBookstore lho....

Gonjang-ganjing di Bumi Mataram

Judul: REMBULAN UNGU
Pengarang: Bondan Nusantara
Editor: Faiz Ahsoul & Esti Budihabsari
ISBN: 978-602-8579-69-8
Halaman : 511
Penerbit: Qanita-PT. Mizan Pustaka
Harga : Rp 65.000

Meski aku mencintaimu, aku telah bertindak pengecut dan meninggalkanmu dalam kesendirian. …

Berbicara seputar  keraton,  topik mengenai percintaan para penguasanya merupakan hal yang menarik walau dianggap tahu untuk diperbincangkan secara bebas. Tapi seperti biasa, semakin dilarang maka semakin sering para rakyat membicarakan kisah cinta keluarga bangsawan yang ada di balik tembok keraton, walau dilakukan dengan bisik-bisik

Buku berjudul  Rembulan ungu,  mengisahkan tentang kisah percintaan antara Rara Oyi dengan Adipati Anom, putra mahkota kerajaan Mataram. Kisah ini mengambil latar belakang cerita sejarah pada jaman Mataram di masa Amangkurat I. Layaknya kisah cinta yang lain,  kisah percintaan ini  juga dibumbui dengan beberapa cerita cinta yang bertepuk sebelah tangan.  Ada kisah antara Panjalu dengan Rara Oyi, Sekar Pandan yang menyintai Panjalu serta Sempana yang mencintai Sekar Pandan.

Kisahnya diawali dengan  tugas rahasia Panjalu dari Pangeran Pekik untuk pergi ke Banyuwangi guna  menyerahkan surat rahasia kepada Mangunjaya, Demang Banyuwangi. Dalam perjalanan, di tengah hutan Mantingan, ia dicegat segerombolan orang bertopeng yang ingin merampas surat yang dibawanya. Pertempuran seru adu kanuragan pun terjadi. Untungnya  Panjalu berhasil diselamatkan oleh Sekar Pandan dan kakeknya, Reksawana yang  juga merupakan pengikut Pangeran Pekik.

Surat yang  dibawa Panjalu ternyata  berisi permintaan Pangeran Pekik kepada Mangunjaya untuk merelakan putri remajanya yang cantik, Oyi, untuk  diboyong ke Mataram guna  dijadikan selir Amangkurat I , penguasa Mataram yang baru saja kehilangan selir kesayangannya, Ratu Malang.

Sekilas terlihat demi kebahagian sang raja, Pangeran Pekik berjuang dengan gigih agar Rara Oyi menjadi selir Amangkurat, penguasa Mataram. Ternyata  ini adalah taktik yang dijalankan oleh Pangeran Pekik dan istrinya untuk menggulingkan pemerintahan Amangkurat I yang dianggapnya sudah melenceng dari cita-cita para pendiri kerajaan Mataram, mewujudkan Mataram besar dan perkasa. Rakyat menderita akibat kebijakan yang salah arah, yang berpihak kepada kepentingan pribadi semata .Dalam buku ini digambarkan situasi saat masa pemerintahan Amangkurat I, sultan Mataram pengganti Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Beliau digambarkan   sebagai sosok penguasa yang lupa akan tugas utamanya sebagai pemimpin sekaligus pengayom warganya. Segala tindakannya berdasar kepentingan pribadi. Semua penilaiannya subjektif, tergantung kedekatan dengan pembawa pesan. Beliau juga cenderung egois dan pemarah, sehingga tak ada yang berani mengkritik kebijakannya meskipun hal tersebut sering menyengsarakan rakyatnya. Contohnya saja Istana baru di Plered serta pembuatan Segara Anakan yang dibangun menggunakan tenaga rakyat mengharuskan mereka meninggalkan kegiatan utamanya, bertani. Hal tersebut membuat rakyat menjadi kelaparan.

Ketidakbecusan Amangkurat mengurus kerajaan membuat Mataram bergolak. Beberapa pihak berkumpul dan mengatur taktik suksesi. Kisah  Rembulan Ungu ini juga diwarnai dengan cerita  intrik-intrik di dalam keraton, adu domba, penjilat-penjilat bertebaran. Akibatnya, banyak korban berjatuhan. Para pangeran saling bertentangan sambil menunggu lengsernya sang penguasa.

Sosok Panjalu digambarkan sebagai prajurit sejati yang rela melakukan apa saja demi sang raja.  Panjalu terlanjur jatuh cinta kepada Oyi. Begitu pula sebaliknya. Tetapi komitmen tingginya selaku prajurit Mataram membuatnya surut melanjutkan kisah cintanya dengan Rara Oyi, apalagi setelah diketahuinya  Adipati Anom sebagai calon raja Mataram juga mencintai  Rara Oyi.

Urusan kekuasaaan sepertinya juga tak mengenal darah. Amangkurat I juga berselisih dengan putra mahkotanya. Perselisihan ini dipicu  oleh berita bahwa jabatan  Adipati Anom  akan dipindahkan kepada Pangeran Singasari (putra Amangkurat I lainnya). Ketika Sultan Amangkurat I mengetahui bahwa calon selirnya menjalin cinta dengan Adipati Anom, beliau menjadi kalap. Cinta memang tidak dapat dipaksa. Saat  Amangkurat I menyuruh Adipati Anom membunuh Rara Oyi, sang putra mahkota yang memang peragu tidak dapat melaksanakan tugasnya. Demi cintanya kepada sang putra mahkota, Rara Oyi kemudian menubruk keris yang di pegang oleh Adipati Anom, sehingga tewaslah ia tertusuk keris Adipati Anom.

Akibat peristiwa itu, Panjalu, yang diberi amanat Demang Mangunjaya untuk menjaga Rara Oyi, merasa gagal dalam menjalankan tugasnya. Dengan perasaan remuk redam diipeluknya tubuh Rara Oyi. Matanya basah oleh air mata. Hati Panjalu perih bagai tersayat pisau. Tangannya bergerak meraih saputangan yang masih tergenggam di tangan gadis itu,  saputangan bergambar rembulan merah muda yang tersulam dengan indah dengan sepasang merpati di kiri kanannya. Saputangan itu  kini berubah warna menjadi ungu karena dipenuhi oleh darah Rara Oyi, gadis yang dicintai Panjalu. Dari sinilah judul tersebut diambil,

Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Agung.  atau disingkat Amangkurat I terlahir dengan nama Raden Mas Sayidin adalah raja Kesultanan Mataram   (1646-1677). Merupakan anak dari Sultan Agung Hanyokrokusumo. Selama masa pemerintahan banyak mengalami pemberontakan, bahkan  meninggal dalam pelariannya tahun 1677 dan dimakamkan di Tegalwangi, sehingga dikenal pula dengan gelar anumerta Sunan Tegalwangi atau Sunan Tegalarum. Saat  diangkat menjadi raja Mataram untuk menggantikan ayahnya,   gelar yang diperoleh adalah Susuhunan Ing Alaga. 

Dalam  Bahasa Jawa,  kata Amangku yang berarti "memangku", dan kata Rat yang berarti "bumi", jadi Amangkurat berarti "memangku bumi". Diharapkan akan  menjadi raja yang berkuasa penuh atas seluruh Mataram dan daerah-daerah bawahannya. Pada upacara penobatannya tersebut seluruh anggota keluarga kerajaan disumpah untuk setia dan mengabdi 

Saya sebenarnya bukan pembaca genre sejarah juga romance. Dua hal yang menonjol dari buku ini. Hanya saja sejak terbuai dengan untaian kata Mas Yudhi  dalam kisah sejarahnya serta pengaruh Sang Raja Galau Dion Yulianto, saya bisa menikmati membaca kisah ini tanpa mengeluh. 

Bondan dengan sosok bersahajanya membuat kisah ini menjadi kian menarik. Sepertinya bintang 3 cukup untuk buku ini.

Dibuat dalam rangka Baca Bersama Bloger Buku Indonesia dengan tema Romance ^_^

Foto Bondan dari :
http://nanungperspectives.blogspot.com/2011/09/bondan-nusantara-saya-berterimakasih.html