Rabu, 30 Maret 2011

Angela's Ashes

Jika bisa memilih, setiap anak pasti ingin dilahirkan dengan memegang sendok emas! Dilahirkan oleh seorang ibu yang berada dalam kehidupan yang mapan. Tidak perlu memikirkan apakah nanti malam mereka masih bisa makan, dimana bisa mendapatkan uang.Tidak mengenal rasa lapar dan kedinginan, tidak perlu memakai potongan ban untuk sol sepatu. Semua serba tersedia.

Frank Mc Cournt harus menerima takdirnya, dilahirkan di Bulan Agustus, akibat Peristiwa Lutut 
Gemeretar    yang terjadi antara ibunya, Angela dan ayahnya, Malachy. Belum lama Angela menapakkan kakinya di New York ia sudah terpikat oleh muka suram Malachy yang selama tiga bulan memendam sepi di penjara.

Empat bulan setelah Peritiwa Lutut Gemeretar, Malachy menikahi Angela. Walau ia sudah berniat tidak menambah anak, namun satu tahun kemudian lahirlah adik laki-laki yang juga diberi nama Malachy. Saudara sepupu Angela, berkata Angela tak lain tak bukan adalah kelinci, dan mereka tidak mau berurusan dengannya hingga ia waras lagi.

Kondisi keuangan yang morat-marit serta kebiasaan minum ayahnya, membuat Frank dewasa sebelum waktunya. Ia harus membantu ibunya untuk menjaga adik-adiknya . Tak lama anak ke tiga dan keempat lahir, anak kembar yang diberi nama Oliver dan Eugene ikut meramaikan rumah mereka.

Jenuh hidup dengan 4 orang lelaki di rumah, Angela berdoa agar mendapat seorang anak perempuan untuk dirinya sendiri. Lahirlah Margaret, sebagai perwujudan doa Angela. Seorang anak perempuan dengan rambut ikal hitam dan mata birunya mirip ibunya. Sejak Margereta lahir, Malachy sang ayah, sama sekali tidak menyentuh minuman keras, ia tampak begitu menyayangi anak perempuannya.

Namun kebahagian itu hanya berlangsung selama tujuh pekan, usia Margaret. Margaret meninggal! Terpukul karena ditinggal anak perempuannya, Angela hanya berbaring di ranjang dengan wajah menghadap dinding. Sepupunya berinisiatif menyurati ibu Angela yang segera mengirimi ongkos pulang bagi 6 orang anggota keluarga Malachy!

Kehidupan di Irlandia ternyata tidak lebih baik dibadingkan dengan New York. Saat itu Frank baru berumur empat tahun, Malachy tiga tahun dan sikembar belum genap setahun. Tidak saja pekerjaan yang didapat ayahnya, kondisi tempat tinggal mereka juga mengenaskan. 

Bahkan kasur yang mereka tiduri penuh dengan tungau. Seseorang berbaik hati mengajari cara mengusi tungau yaitu dengan memasangnya terbalik agar mereka bisa saling menggigit. Hal itu lebih hemat dibandingkan dengan cara Malachy yang mengguyur kasur dengan air panas, mengakibatkan persediaan batu bara yang sudah sedikit menipis dengan cepat!

Kemiskinan yang menyebabkan mereka kelaparan, sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Suatu hari Frank mendapat tugas mengantar makan siang dari rumah neneknya untuk Bill Galvin di Dock Road. Untuk kerjanya ia dibayar enam penny seminggu. 

Sepanjang jalan, bau bacon rebus dengan kubis dan dua kentang putih yang besar yang padat sangat menggoda dirinya yang sedang lapar. Karena tak sanggup menahan lapar, Frank memakan makan siang yang dikirim nenek untuk Bill Galvin. Akibat perbuatannya, sang nenek harus mengirim makan siang ulang dan Frank dihukum selama dua minggu mengantarkan makanan tanpa dibayar.

Buku ini juga berisi mengenai hal-hal yang khas nakalnya anak-anak. Sungguh menyentuh, mereka tetap bisa bermain dan tertawa dalam kondisi seperti itu. Dikisahkan Frank dan Malachy bermain dengan gigi palsu orang tua mereka. Gigi-gigi itu sangat besar sehingga sulit memasukannya dalam mulut Malachy memaksa masuk gigi Dad dalam mulut dan tidak bisa mengeluarkannya lagi. 

Bibirnya tertarik ke belakang dan membuatnya menyeringai lebar sekali dan air mata muncul dari kedua matanya. Untuk melepaskannya Malachy harus dirawat di rumah sakit, hal yang sebenanya menyenangkan dirinya. Karena di rumah sakit minimal mereka bisa makan teratur tanpa perlu repot-repot mencarinya.

Banyak kisah yang menyentuh sisi kemanusiaan. Misalnya saat Oliver meninggal dan mereka sama sekali tidak punya uang, mereka mendatangi toko demi toko sambil sang ayah meminta makanan atau apa saja yang dapat mereka berikan kepada keluarga yang ditinggal mati. Untunglah masih ada beberapa toko yang mau memberikan sesuatu walau hanya sepotong kentang! Saking laparnya mereka memanfaatkan kematian Oliver guna menghidupi keluarga yang lain.

Membaca buku ini, membuat kita seakan-akan berada disana. Menatap wajah sedih Frank dan Malachy yang menunggu ayahnya pulang dengan membawa uang, namun ternyata uang tersebut sudah habis dipakai untuk minum. 

Bagaimana tertekannya ia saat harus mendatangi setiap bar mencari ayahnya yang membawa uang hadiah kelahiran bayi. Ikut merasa sedih melihat para tetangga menerima telegram berisi uang dari ayah yang ada bekerja Inggris, sementara ayah mereka walau berada di Inggris tidak juga megirimi uang. Ikut merasa bangga saat Frank untuk pertama kalinya membawa uang hasil kerja kerasnya yang lalu diberikan ke ibunya.

Kondisi mata Frank yang tidak bagus, kemiskinan yang mendera keluarganya serta semangatnya untuk menjadi lelaki dewasa, lelaki yang mencari uang untuk keluarganya membuat kita kian mengagumi keuletan Frank dalam menjalani kehidupan ini. Tekat bulat dan semangat memperjuangkan mimpinya untuk mengubah nasib dengan pergi ke Amerika perlu dicontoh.

Pertama memegang buku ini, mengingatkan saya pada Eyang Nh Dini, yang menulis kisah hidupnya menjadi buku. Frank McCourt menulis kisah hidupnya dan telah meraih Pulitzer Prize, National Book Critics Circle Award, dan Royal Society of Literature Award dan menduduki puncak berbagai peringkat buku bestseller di dunia selama lebih dari tiga tahun

Buku ini ditutup dengan perjalanan Frank ke Amerika. Sungguh menggelitik rasa ingin tahu, bagaimana sepak terjang Frank selama di Amerika ? Moga-moga kelanjutan buku ini segera terbit.

----
Buku ini meninggalkan kesan mendalam dari diri saya, karena merupakan buku pertama yang saya menangkan melalui lomba yang diselenggarakan penerbit. Selama ini saya jarang beruntung jika terkait dengan urusan lomba dan undian.

Sebuah buku yang membuka jalan persaudaraan saya dengan penerbit yang satu ini.

Semuanya Hanya Untuk Damen....

Judul asli: Bluemoon
Penulis: Alyson Noel
Penerjemah: Reni Indardini
Penyunting : Suhindrati A. Shinta
ISBN: 978-979-433-607-6
Halaman: 400
Penerbit: Mizan Fantasi
Rating:3/5

Dia pergi karena aku.
Karena fakta sederhana bahwa ia telah mengejar-ngejarku selama ratusan tahun, mencari-cariku dalam semua reinkarnasiku, hanya agar kami dapat bersatu
Hanya saja kami tidak pernah bersatu

Tak ada yang meragukan  bagaimana kasih Damen terhadap Ever selama 600 tahun berlalu. Ia terus mencari sosok Ever dalam setiap kehidupan yang berlangsung di bumi. Sungguh cinta membuatnya buta.  Jika ada pepatah yang menyebutkan cinta  itu buta, maka cocoklah untuk menggambarkan bagaimana ajaibnya  kelakuan Ever saat Damen mendadak berubah.

Ever mulai belajar mengendalikan kekuatannya. Ia juga harus belajar menjadi seorang immortal, termasuk berpura-pura makan dan minum serta berlagak bodoh saat ujian.  Ia masih harus membiasakan diri agar tidak terkejut saat bersentuhan dengan orang lain yang berakibat ia mampu melihat kehidupan orang itu walau sesaat, kebal terhadap pikiran yang berdengung disekelilingnya hingga berkompromi dengan kemampuannya melihat orang mati

Ever memang harus belajar menghadapi banyak hal, dan dia harus mampu mengatasi banyak hal juga. Namun ia tak bisa mengatasi perubahan yang terjadi pada diri Damen. Mendadak saja kemampuan Damen melemah hingga jangankan membuka portal menuju Summerland, menciptakan ilusi rangkaian bunga sederhana saja sudah menguras tenanganya.

Belakangan, Damen malah menyebut Ever sebagai seorang anak yang aneh! Seluruh sekolah gini memandangnya sebagai seorang pengganggu, Ia kepegok memasuki rumah Damen dan sedang membongkar isi lemari esnya, dilain waktu ia kedapatan sedang mengikuti Damen layaknya lintah. Pihak sekolah sudah mulai mengkhawatirkan kelakuannya.

Dan  satu-satunya cara untuk membuat Damen kembali adalah dengan membuat semacam penawar yang dibuat dari aneka bahan yang aneh. Misalnya kantong sutra yang disulam oleh Biksu Tibet, kristal yang dialirkan pada cakra ketujuh, empat kristal kuarsa merah jambu yang dilicinkan, sebongkah batu pinus  lalu semuanya akan menyerap semacam kekuatan dari bulan purnama. Bukan sembarang purnama namun  I’heure blue, bulan biru

Masalahnya ternyata tidak hanya bagaimana menyelamatkan Damen walau harus mengiorbankan nyamanya sendiri. Ever harus berhadapan dengan banyak hal, termasuk kehilangan keluarganya untuk kedua kali dan kemungkinan berada di sisi Damen tanpa bisa memilikinya.

Rumitnya kehidupan dan kisah cinta  seorang gadis remaja berusia 16 tahun! Dan semuanya gara-gara rasa cemburu dan sakit hati immortal jahat yang lainnya!

Sedang seru-serunya cerita, mendapat saya jadi tertawa. Seharusnya memang sedang dalam cerita menegangkan, namun bagaimana saya tidak mau tertawa saat membawa kata-kata ”Malu nih ye” Ada saja kejahilan penerjemah.

Alyson Noel lahir pada 03 Desember  serta dibesarkan  di Orange Country, California.  Saat ini ia sedang menulis buku seri Immortals. Buku yang pertama Evermore menjadi best seller new york times yang diterbitkan pada febuary 2009.  Buku kedua berjudul Blue moon, dirilis tanggal 7 July 2009, dan sudah bisa ditebak kembali menjadi best seller new York Times. Buku ketiganya Shadowland dirilis November 2009. Serta yang kelima Dark Flame dirilis 22 Juni 2010, Night Star dirilis tanggal 16 November 2010. Serta buku yang terakhir Everlasting akan dirilis Juni 2011 ini. Semoga saja seluruh seri ini akan diterbitkan oleh Mizan Fantasi.
Karya-karyanya selain Seri Immortals
  • Faking 19 (2005)
  • Art Geeks and Prom Queens (2005)
  • Laguna Cove (2006)
  • Fly Me to the Moon (2006)
  • Kiss & Blog (2007)
  • Saving ZoĆ« (2007)
  • Cruel Summer (2008)
The Riley
  •  Radiance ( 2010)
  •  Shimmer (2011)
Penghargaan yang dierimanya sungguh menawan. Antara lain :
  • # 1 New York Times Bestseller
  • USA Today Bestseller
  • Amazon Bestseller
  • 5 Start Gold Award Teenreda Too
  • # 1 International Best Seller di Perancis
  • NCIBA Bestseller
Sang tukang cerita yang meninabobokan kita dengan kisahnya bisa  ditemui di Website: http://www.alysonnoel.com,Email: Alyson_Noel@mail.vresp.com

Oh ya, beberapa sahabat menuduh saya membeli buku ini selain karena terpikat buku perrtama juga karena kovernya yang  didominasi nuansa biru. padahal bukan itu! Bukan kover yang menarik perhatian saya, namun gambar di balik kover! Sungguh menawan, bercerita banyak, tidak menye-menye tapi cukup mewakili kisah. Muantap tenan.....!

Selasa, 29 Maret 2011

Valharad

Judul:Valharad
Penulis: Adi Toha
Editor: Nisrina Lubis
ISBN: 9786029556391
Halaman: 411
Penerbit: Diva Press
Rating:3/5

Menulis sebuah cerita memang tidak mudah, apalagi jika itu sebuah cerita fantasi. Tidak saja dibutuhkan kreatifitas namun rambu-rambu seperti nalar, kepribadian tokoh yang konsisten serta arah yang jelas cerita itu mau dibawa kemana, harus mendapat perhatian dari sang penulis.

Belum lagi semangat sang penulis yang harus tetap dijaga sehingga buku itu bisa selesai, dan jika diniatkan menjadi beberapa bagian, setiap bagian bisa selesai, syukur jika jaraknya  tak terlalu lama.

Saat menulis  sebuah cerita fantasi,  kadang  sang penulis harus menciptakan sebuah dunia baru, dunia dengan situasi dan kondisi yang berbeda dengan yang selama ini ada. Misalnya penulis menciptakan seluruh daun di dunianya  bukan berwarna hijau namun biru.

Untuk itu Ia perlu memberikan penjelasan mengapa bisa biru. Anggaplah karena disana tanahnya mengandung sesuatu zat   sehingga jika zat yang diserap tumbuhan lalu terkena sinar matahari akan menjadi biru. Selama cerita berlangsung sang penulis harus konsisten menyebut warna daun yang umum disana adalah warna biru. Sehingga jika ingin menciptakan unsur kejutan, cukup dengan  mendadak warna daun berubah menjadi ungu, orange bahkan hijau.

Selain menciptakan sebuah dunia baru untuk wadah cerita, tokoh juga harus diceritakan secara konsisten dari awal hingga akhir. Misalnya sang tokoh sangat membenci pencuri apapun alasannya mencuri. Maka ia tidak akan berteman seorang mencuri. 

Namun mendadak di tengah cerita disebutkan ia berkawan akrab dengan seorang pencuri. Jika ia tidak tahu kawan akrabnya itu seorang pencuri, bisa dimaklumi, tapi jika ia bertemu justru saat kawannya sedang melakukan aksi , maka ceritanya akan menjadi aneh.

Kalaupun sampai harus terjadi kerjasama diantara keduanya, penulis harus mampu memberikan alasan yang logis, sehingga membaca bisa menerima perubahan tersebut.

Membangun karakter tokoh bukannya hal  mudah. Apalagi jika dalam cerita itu tokohnya tidak hanya satu. Maka bisa ditebak bagaimana kerja keras seorang Adi Toha untuk menciptakan  lebih dari SEBELAS tokoh  dalam Valhard. 

Setiap tokoh yang ada memiliki karakter yang berbeda, juga dengan penampilan fisik yang berbeda.  Menjaga para tokoh untuk tetap konsisten dari awal hingga akhir cerita menunjukkan kemampuan sang penulis yang mumpuni.

Buku ini berkisah mengenai gonjang-ganjing yang akan terjadi di tanah VarchLand jika tidak dicegah sesegera mungkin.  Seperti juga buku fantasi umumnya, kejahatan digambarkan akan mengganggu kebaikan, maka dalam buku ini dikisahkan akan ada sebuah kekuatan hitam  dalam wujud Bangsa Vomorion yang akan menghancurkan VarchLand. Mereka ingin membalas dendam atas kekalahan mereka beberapa ratus tahun yang lalu.

Untuk itu mencegah kekuatan hitam merajela  Valharld  Cadwaladir,   petinggi istana mengembara ke pelosok negeri untuk menemukan 12 orang   yang ditandai dengan sebuah kunci berbentuk segitiga yang sama besar bentuknya. 

Mereka bukan orang sembarangan, mereka adalah  12 Ksatria Talismandala pemegang kunci rahasia.   Kedua belas kunci tersebut harus disatukan untuk membuka sebuah ruang rahasia dimana senjata-senjata rahasia milik  pendahulu mereka disimpan.  Kunci-kunci tersebut diwariskan turun-temurun kepada orang-orang yang tepat untuk memilikinya.

Kedua belas    Ksatria Talismandala    tidak saja akan menemukan senjata-senjata rahasia dalam ruangan rahasia tersebut, mereka juga akan menemukan  Mahkota Liafala yang merupakan mahkota tertinggi negeri VarchLand. Siapa pun memakainya dianggap  pantas menjadi raja.  

Valharld  Cadwaladir yang sangat mencintai negerinya  berusaha menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, tak perduli betapa sulitnya  tugas itu. Apalagi  karena janjinya pada Sang Raja Hallvard. “Berjanjilah padaku, Valharald. Jika aku meninggal nanti, berjanjilah kau tidak akan membiarkan negeri ini hancur. Jangan biarkan ruhku melihat dari atas langit sana negeri ini hancur” desak sang raja sambil mencengkeram bahu Valharld  Cadwaladir.

Sepanjang perjalanan, banyak ditemui hal-hal yang  menakjubkan. Mencari 12 orang bukanlah hal yang mudah. Namun  membuat mereka  mau ikut dan membuat  keluarganya mau merelakan mereka pergi , jauh  lebih sulit lagi.  Disini kejutan-kejutan manis bermunculan , tapi ada beberapa keganjilan yang membuat saya jadi berpikir memang sudah seharusnya begitu. Kejutan yang diawalnya menengangkan jadi berkurang gregetnya.  Kisah mengenai bayi yang dibelah dua yang sudah melegenda juga ada dalam buku ini.

Sekilas, saya sempat menduga buku ini mirip dengan salah satu film yang berkisah mengenai sekian belas ksatria dengan tugas menumpas kejahatan yang terjadi di suatu daerah. Salah satu dari ksatria itu berasal dari Negeri Arab.  Adi Toha memberikan kejutan yang lebih menggemparkan! Tidak ada kstaria dari Negeri Arab, namun kemampuannya tidak diragukan lagi, mereka justru berasal dari kaum yang selama ini dianggap lemah dan harus dilindungi.

Dari hanya 12 orang yang dianggap mau membantu, Valharld  Cadwaladir justru mendapat bantuan dari banyak pihak. Memang 12 ksatria itu adalah kuncinya. Tapi tanpa ada dukungan dari banyak pihak bagaimana mungkin mereka bisa mengalahkan kejahatan.  Secara logika,  mana mungkin hanya  12 orang yang bertempur menyelamatkan negeri.


Seperti penulis cerita fantasi yang lain, Adi Toga juga menciptakan nama tokoh dengan  apiknya.  Kita akan bertemu antara lain dengan Cuchulainn, Urais d’ Eoghan, Fionn d’ Arthfael, Owain, Gavin, Einar Sang Pangeran Vincha, Eira dan Gwyneira, Ingemar, Ingolf dan lainnya. Dari dulu saya selalu penasaran bagaimana nama-nama itu bisa bermunculan dengan  peranannya masing-masing tanpa tertukar.

Sebagai ganti ilustrasi, diambil kalimat yang dianggap paling menarik lalu dicetak ulang dengan format yang  berbeda dengan aslinya. Dengan membacanya kita bisa mengenai garis besar cerita yang sedang berlangsung di halaman tersebut.

Sekilas mengingatkan saya pada sebuah majalah remaja yang seluruh isinya adalah cerpen. Ini yang membuat saya terpaksa menurunkan bintang yang semula saya berikan. Kesan yang semula ditampilkan mendadak berubah menjadi menye-menye buat saya.

Dari sekian banyak bab, sungguh sayang adegan serunya hanya sedikit, maksud saya adegan pertempuran bersama kedua belas ksatria itu. Memang beberapa ksatria dibuatkan sebuah bab yang penuh dengan adegan seru. 

Tapi justru bab yang menceritakan usaha Valharld  Cadwaladir menemukan mereka malah lebih banyak jumlahnya dari pada bab perihal bagaimana mereka bahu membahu bertempur melawan musuh.  Atau mungkin buku ini hanya sebagai pembuka saja? Urusan bertempur bersama memang sengaja disiapkan di buku selanjutnya.  

Saya jadi penasaran apakah buku ini dibuat dengan akhir yang sengaja dibuat menggantung  karena penulis menunggu bagaimana tanggapan pasar atau penulis sedang meracik kisah selanjutnya tanpa perduli bagaimana tanggapan pasar di buku pertama.

Mari berharap  kejutan masih berlanjut. Kita akan lebih sering  disuguhi adegan pertempuran dengan melibatkan banyak Orcus, Ogre serta Chimera. Untuk mengetahui makhluk apakah itu, anda harus membaca buku ini. Termasuk melafalkan mantra  Ye imperus graute creare!Ye imperus povoire creare! Ye Draach sauveoure dengan benar.

Para penikmat kisah fantasi atau mereka yang sedang mencoba menulis kisah fantasi, disarankan untuk mencicipi buku ini.

Duet Petani Cabai dan Mantan Wartawan dalam Rindu Purnama

Diadaptasi dari skenario Film Rindu Purnama oleh Ifa
Penulis: Tasaro G.K
Interlude: A. Fuadi
Penyunting: Dhewiberta

Rindu Purnama merupakan sebuah buku yang  diadaptasi dari skenario film dengan judul yang sama Rindu Purnama. Buku ini merupakan hasil kolaborasi antara Tasaro GK dan A. Fuadi.  Entah kenapa, dibuku ini Tasaro seakan kehilangan gregetnya. Tapi ini menurut saya lho....

Kisah yang sebenarnya  sederhana , berkesan ala sinetron Indonesia, selalu ada masalah di atas masalah justru di buku ini  menjadi terlalu sangat sederhana sehingga gregetnya seakan hilang. Otomatis, Fuadi yang ketiban tugas memberikan ulasan tambahan juga mendapat pilihan topik yang terbatas untuk dikembangkan.

Jangan terkecoh dengan judul yang berkesan sederhana. Kisahnya memang sederhana namun terciptanya Rindu Purnama sungguh rumit. Banyak emosi yang terkuras di sana.  

Dalam buku disebutkan  sang tokoh awalnya bernama Rindu, saat kehilangan ingatan ia dipanggil  Purnama maka selanjutnya ia bernama Rindu Purnama, Keinginan untuk membantu keuangan keluarga membuatnya mau pergi ke kota besar. Selain itu, Rindu sangat ingin memberikan adiknya sebutir buah anggur. Tak perlu banyak-banyak, satu butir pun sudah membuat adiknya bahagia.

Saat mengamen Rindu dikejar-kejar pihak keamanan. Dalam upaya melarikan diri tanpa sengaja ia tertarik mobil Surya seorang eksekutif muda. Surya yang terbiasa dengan situasi terkendali menugaskan supirnya untuk mengurus tuntas masalah tabrakan tersebut sementara ia sendiri meneruskan perjalanan dengan taksi

Bukannya “membereskan” sang supir malah membawa anak yang ditabraknya ke rumah majikannya dimana ia juga tinggal dengan alasan tidak tega. Jelas ini membuat Surya marah.

Kisah selanjutnya bisa ditebakan, Rindu Purnama berhasil memikat hati Surya dan membuatnya mau menyelami dunia lain yang selama ini tak diketahuinya, dunia seputar rumah singgah.  Bersama Sarah yang menjadi pengasuh di rumah singgah, Surya mulai belajar mencintai anak-anak di rumah singgah.

Ceritanya memang sederhana, berputar diantara kisah cinta segitiga, lalu kejadian sosial  yang sering kita dengar ceritanya. Tapi ada juga  urusan yang lebih serius, urusan agama. Simak saja perkataan  Kardiyo, salah satu tokoh dalam kisah ini, “ Orang hidup itu penting berbuat baik, tidak mengganggu orang lain. Kalau soal agama, semua agama khan mengajarkan kebaikan. Kenapa harus diributkan?”

Walau bagaimana, saya salut pada perempuan-perempuan perkasa seperti  Sarah dan Rindu.  Sarah berjuang melawan deritanya serta kukuh mempertahankan cintanya hanya untuk seorang Gaj yang entah berada di mana. Sementara Rindu, niat tulus membelikan buah anggur untuk sang adik membuatnya mampu bertahan di kota besar.

Perlu diingat, film dan buku memiliki perbedaan. Buku Rindu Purnama diadaptasi dari film yang berjudul sama, Rindu Purnama, film keenam yang diproduksi oleh Mizan Productions.   Dalam situs resmi filmhttp://www.filmrindupurnama.com/synopsis.html disebutkan bawah Purnama kehilangan ibunya.  Sambil mengamen dia mencari-cari ibunya. 

Dalam buku, justru ibunya berada di kampung dan membanting tulang setelah ayahnya pergi tanpa pernah kembali. Purnama disebutkan juga tinggal di rumah singgah  bersama adikknya, di buku dijelaskan adik Purnama bernama Asep berada di kampung bersama ibunya.

Dengan sutradara  Mathius Muchus yang sudah sekian puluh tahun melintang di ranah film, diharapkan penonton bisa mendapat sebuah hiburan yang juga memberikan pengajaran moral. Salah satu jenis  film yang layak kita tonton jika benar-benar film-film dari negeri  Uncle Sam tidak beredar lagi di bumi tercinta.

Putut Widjanarko bertindak selaku produser dalam film ini. Tokoh Rindu Purnama dimainkan dengan apik oleh  Salma Paramitha. Tokoh Surya dimainkan oleh Tengku Firmansyah. Buat saya Tengku Firmansyah sangat tidak  cocok dengan perkiraan saya mengenai tokoh Surya, entah dimana ketidak cocokannya, namun gambaran saya mengenai tokoh Surya berdasarkan buku bukanlah sosok  Tengku Firmansyah.  

Sementara itu tokoh Sarah dimainkan oleh Ririn Ekawati, sementara gadis judes bernama Monique yang diperankan oleh Titi Sjuman juga jauh dari bayangan saya. Titi kurang judes. Tapi saya kan bukan sutradara, jadi mungkin ada hal lain yang menjadi bahan pertimbangan sutradara ketika memilih pemain.

Mari nonton film...
Mari baca bukunya


--------------------------------
Coretan Fuadi dengan judul Alim Sosial membuat saya tersenyum sendiri. Saya teringat kisah sepupu saya saat ia di Hawaii sana. Anak kembarnya  dengan entengnya menelpon 119 dengan alasan mempraktekan apa yang diajarkan guru mereka. Meskipun di sana ada orang dewasa, tetap saja keluarga mereka terkena ancaman denda jika sampai terulang.

Seputar zakat, saya jadi teringat kisah jagoan neon. Sejak kecil saya memang berusaha mengajarkan untuk berbagi. Saya juga mulai mengajarkan bagaimana susahnya  mencari uang. Saya mulai mengajarkan dengan berjualan alat tulis di sekolah. Harga beli sekian, jual sekian sisanya sekian bisa buat beli hamburger masakan kesukaanya sebagai iming-iming. Tapi sebelum beli hamburger jangan lupa sekian diberikan untuk pengemis di depan sekolah. Awalnya  ia keberatan, namun saya masih berusaha merayu dengan alasan kalau beramal nanti si pengemis bantu doa biar dagangan cepat laris dan makin banyak, untungnya makin besar  jadi bisa beli hamburger tidak hanya satu.

Awalnya semua berjalan lancar. Bahkan ia sudah mengenal istilah hutang. beberapa teman bisa mengambil dagangannya dahulu baru dibayar besok. Tanpa  disuruh ia mencatat siapa saja yng berhutang  di balik buku catatan sekolah.

Biasanya setiap saya pulang kerja ia menggelar catatan dagangannya sambil memberikan laporan kilat. Sampai suatu saat saya pulang kerja ia tidak memberikan laporan hariannya. Begitu saya tanya jawabannya membuat saya bingung antara mau kesal, terharu, tertawa juga kagum. Jawabannya sungguh luar biasa, " Tadi dagangannya laku semua, yang bayar hutang juga  lunas semua. Pas mau beli hamburger ternyata pengemisnya ada banyak  (saya ingat saat itu hari Jumat dan sekolahnya dekat dengan mesjid). Kata mami khan sebelum beli hamburger musti kasih pengemisnya dulu yah sudah aku kasih semuanya" Duh saya mulai merasa curiga nih...

"Terus khan uang untungnya udah buat pengemis semua, aku beli hamburger pake uang modal aja yang mami suruh setor tiap hari" lanjutnya tanpa merasa bersalah.

"Loh kalo uang modal buat beli hamburger nanti yang buat beli pinsil dari mana mas?" tanya saya

"Gampang.. tunggu aja, khan kata mami kalo ngasih pengemis nanti dibantuin dagangan laku rejeki lancar. Ya udah tunggu aja siapa tahu bentar lagi mami disuruh lembur, khan dapat uang bisa buat beli pinsil nanti aku jualan lagi deh" jawabnya lagi

Jujur saya tidak tahu  musti berkata apa lagi. masih penasaran juga sih, kembali saya tanya dia " Kenapa enggak dikasihnya dikit aja mas biar semua kebagian terus masih tetap ada sisa buat beli hamburger jadi uang modal enggak kepake"

"Ih mami gimana sih! kata Bu Mai (guru ngajinya) kalo ngasih amal jangan pelit biar pahalanya besar. Khan kalo ngasihnya dikit nanti doanya juga dikit. Aku kasih aja semua sama. Tadi semua bilang terima kasih sama ngasih doa biar pinter terus mudah rejeki. Asyik khan yang doain banyak"

Saya mau bilang apa kecuali nyengir dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
Duh susah juga mengajarkan kebaikan dalam realita hidup ke anak...

Kelincahan Olah Kata Seorang Kef

Judul: ANAK ARLOJI
Penulis: Kurnia Effendi
Penyunting: Endah Sulwesi
Pewajah Isi: Dinar Ramdhani Nugraha
ISBN: 978-979-024-351-4
Halaman: 237
Cetakan: I, Maret 2011
Penerbit: Serambi
Harga: Rp 35.000
Rating:4/5

Untuk ulang tahunku setengah abad….

Biasanya kita mendapat hadiah dari kerabat saat berulang tahun. Entah sekedar ucapan terima kasih atau pemberian sesuatu. 

Jarang  ada yang memberikan hadiah bagi dirinya sendiri sebagai ungkapan rasa bersyukur telah melewati setahun penuh makna dalam kehidupan ini. Salah satunya  Kurnia ”Kef” Efendi yang lahir di Tegal pada 20 Oktober 1960.

Anak Arloji, sebuah kumpulan cerpen  merupakan sebuah hadiah ulang tahun Kef  bagi dirinya sendiri. Sebuah ungkapan rasa syukur telah berada pada usia setengah abad. Sosok bersahaja ini sering saya temui dalam acara perbukuan, sehingga rasanya  saya sudah cukup akrab dengan sosoknya, walau ajakan pertemanan saya disebuah jejaring sosial belum juga diterima he he he.

Menikmati buah karya Kef  sama artinya dengan menikmati permainan kata-katanya. Setiap kisah dibuat dengan permainan kata yang merangkai sebuah kalimat menawan. Deskripsi panjang lebar justru menambah kekuatan sebuah cerita, alih-alih pemborosan kata. 

Dalam buku perdana ini,  berharap sangat akan ada '’adik-adiknya”,  terdapat  empat belas kisah yang  dibagikan Kef untuk kita.  Kisah-kisah tersebut kecuali kisah Penggali Makam,  telah dimuat dalam media cetak. Misalnya saja  pertaruhan dimuat dalam Matra, Juli 2005, Anak Arloji, Horison, Juli 2006 serta Kamar Anjing, Koran Tempo 2006.

Kisah Anak Arloji yang dijagokan dalam buku ini dibuka dengan kisah sepasang suami istri yang sedang memeriksakan kandungan ke dokter ahli. Urusan pemeriksaan kandungan yang seharusnya biasa-biasa saja mendadak menjadi tidak biasa saat sang dokter mngucapkan kalimat ganjil diakhir pemeriksaan,  ”Tidaklah kalian dengar tadi, di antara dua detak jantung, kita juga mendengar detak arloji?”  Selanjutnya, beraneka ragam keganjilan mulai bermunculan.

Ungkapan kasih sayang sang suami yang bercampur dengan perasaan iba  melihat kondisi sang istri, diuraikan Kef dengan menyentuh. Seandainya banyak para suaminya yang bersikap seperti ini, niscaya tidak ada ibu hamil yang menjalani kehamilannya dengan stres, dukungan suami sangat membantu. Sehingga proses persalinan juga bisa dilalui dengan aman. Bayi dalam kandungan juga tidak terkena imbas stres sang ibu.

Kisah yang lain mengambil tokoh seorang  anak laki-laki berusia lima tahun bernama Bobby,   memiliki poster tubuh kurus kerempeng akibat keengganannya menyantap makanan. Mendadak Bobby jadi suka menyantap sup buatan ibunya gara-gara kecerobohan sang ibu saat memasak. Kisahnya bisa  kita temui secara lengkap dalam Kuku Kelingking.

Kisah  Kuku Kelingking mengingatkan saya pada kisah pewayangan. Salah satu tokohnya, sangat menyukai makan daging manusia. Usut punya usut ternyata sang istri ikut andil dalam kegemarannya itu. Bermula tanpa sengaja saat sedang memasak tanganya teriris, darah dan sepotong kecil jari masuk ke dalam masakan. 

Karena tak sempat membuat masakan yang baru, maka masakan plus darah dan sepotong jari itu yang dihidangkan kepada sang suami. Ternyata sang suami menyukainya! Celakanya ia malah berpesan untuk memasak masakan dicampur daging manusia agar rasanya selezat masakan yang baru ia makan.


Kisah Penggali Makam menghimbau agar kita  bersiap-siap sebelum waktu kita di dunia habis dan tidak mempertanyakan sesuatu yang sudah diatur dengan pasti. Suatu saat usai menguburkan seseorang, sang penggali makam mendapat tiga pertanyaan yang keluar dari makam yang baru diuruknya. Pertanyaan itu justru membuatnya menderita hingga panas tinggi karena tidak bisa menemukan jawabannya, bathinnya bergejolak, penasaran mencari jawaban.

" Saya mau tanya, apakah yang dimaksud dengan takdir? Pertanyaan kedua, konon setan diciptakan dari api, mengapa ia akan dibakar api di neraka? Ini bisa  jadi lelucon, bukan? Api bertemu api! Pertanyaan ketiga, apakah Tuhan itu benar-benar ada? Mengapa saya tidak pernah melihat-NYA?" tanya  suara dari dalam makam itu. 

Untungnya seorang Ustadz membantunya mendapat jawaban yang selama ini dicarinya sehingga ia bisa  menunaikan tugasnya sebagai penggali makam dengan perasaan lebih ringan, tenang dan tulus.

Kisah-kisah yang ada terdiri dari aneka macam tokoh, lokasi kejadian serta peristiwa. hal ini menunjukkan karya Kef yang tidak terkotak-kotak. Cerita berdasarkan kelincahan tangan Kef menawarkan sesuatu yang berbeda. Kita akan tersedot dalam sebuab kisah tanpa kita sadari. Kisah itu mungkin pernah terjadi di sekitar kita atau menimpa kita.

Kef tidak hanya membuat   sebuah kisah sederhana yang menjadi luar biasa, namun juga sebuah kisah luar biasa yang berakhir dengan sesuatu yang sederhana. Tidak ada yang biasa jika berbicara mengenai karya Kef.

Cerita pendek sering juga disebut cerpen menurut wikipedia  adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. 

Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.

Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.

Cerita berdasarkan kelincahan tangan Kef menawarkan sesuatu yang berbeda. Kita akan tersedot dalam sebuab kisah tanpa kita sadari. Kisah itu mungkin pernah terjadi di sekitar kita atau menimpa kita. Kef tidak hanya membuat   sebuah kisah sederhana yang menjadi luar biasa, namun juga sebuah kisah luar biasa yang berakhir dengan sesuatu yang sederhana. Tidak ada yang biasa jika berbicara mengenai karya Kef.

Semoga setelah ini, Serambi segera menerbitkan karya-karya Ibu Peri yang terlalu rendah hati hingga cukup puas dengan menjadi editor, alih-alih menerbitkan karyanya  sendiri.

Selamat Ulang tahun Untuk Aini , cocok membeli novel ini sebagai hadiah untuk diri sendiri saat berulang tahun ^_^

Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda

Penulis: Reggie Baay
Penyunting: Dahlia Isnani
Penerjemah: Siti Hertini Adiwoso
ISBN: 979-3731-78-8
Halaman: 300
Penerbit: Komunitas Bambu
Rating:4/5

….
Bahwa ia dijual dari tangan ke tangan
Hingga dijauhi oleh semua orang, Ia pun meninggal di dalam kota
Anak kampung berambut pirang

Sering kali kita ingin tahu dari manakah sejarah keluarga kita berawal. Siapa moyang kita, dari mana asalnya, jika bisa diketahui dimana tempat peristirahatannya terakhir. 

Demikian juga dengan sosok Reggie Baay. Ia penasaran dengan sosok nenek dari pihak ayahnya. Sang ayah selalu menolak membicarakannya. Setelah sang ayah tiada, baru ia menemukan banyak fakta yang disimpan rapat-rapat seputar neneknya yang ternyata hanya seorang gundik di Hinda Belanda.

Entah kenapa, istilah gundik rasanya membuat telinga yang mendengarnya menjadi panas. Gundik bisa disebut juga istri tak resmi, perempuan simpanan. Jika mau lebih diperjelas perempuan yang difungsikan sebagai pelepasan nafsu birahi, atau istilah keren adalah WIL. Dalam http://www.artikata.com/arti-329304-gundik.php, gundik atau mistress diantikan sebagai :

. 1 istri tidak resmi; selir; 2 perempuan piaraan (bini gelap);
-- candik berbagai-bagai gundik;
mem·per·gun·dik v mengambil sbg gundik; menjadikan gundik: pd zaman dulu banyak raja ~ wanita-wanita desa yg cantik;
mem·per·gun·dik·kan v mengambil gundik; menjadikan gundik;
per·gun·dik·an n perihal gundik; perihal pemiaraan


Namun saat ini Gundik juga bisa berarti positif. Gundik merupakan nama sebuah desa. Desa Gundik merupakan salah satu desa di Kecamatan slahung yang paling utara, yang berbatasan dengan kecamatan Balong. Di desa ini penduduknya sebagian besar bertani, walau sebagian ada yang berprofesi lain. Ada salah satu pesantren yang berdiri di desa ini, yaitu Pondok Modern Arrisalah.

Sementara itu, dalam Wikipedia, Nyai adalah sebutan umum di Jawa Barat, khususnya bagi wanita dewasa. Namun, kata ini memiliki konotasinya lain pada zaman kolonial Hindia Belanda. Ketika itu Nyai berarti gundik, selir, atau wanita piaraan para pejabat dan serdadu Belanda. Nyai bersinonim dengan gundik dan selir.

Baik nyai, gundik maupun selir, dalam KBBI, diartikan sebagai bini gelap, perempuan piaraan, dan istri yang tidak pernah dikawini resmi. Bini Selir malah berarti istri yang kedudukannya lebih rendah dari pasa istri terhormat (istri utama)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Nyai berarti
1 panggilan untuk orang perempuan yg belum atau sudah kawin; 2 panggilan untuk orang perempuan yg usianya lebih tua dp orang yg memanggil; 3 gundik orang asing (terutama orang Eropa);
  1. nyai-nyai n sebutan kpd wanita piaraan orang asing
Sedangkan “Nyai” yang digunakan oleh Reggie Bay, berasal dari bahasa Bali. Penggunaan kata tersebut bersamaan dengan kemunculan perempuan Bali yang menjadi budak dan gundik orang-orang Eropa di wilayah pendudukan VOC pada abad ke-17. 

Di perkebunan Deliu, kita akan menjumpai Deli Kartina, perempuan pribumi yang menjadi nyai atau gundik lelaki Eropa. Beda nama namun sama jelas satusnya, WIL.

Nyai juga berarti isteri (nyonya) dari Kyai (gelar ulama di Jawa) seperti yang disebutkan dalam wikipedia. Tetapi Kiai di Kalimantan merupakan gelar menteri kerajaan dan gelar kepala distrik (Lalawangan) yang bukan keturunan bangsawan (Tutus Raja), sedangkan Nyai berarti gelar untuk wanita terhormat yang bukan keturunan bangsawan, Ratu Komalasari adalah permaisuri Sultan Adam dari Kesultanan Banjar, penambahan gelar Nyai di depan gelar 'Ratu' menunjukan bahwa dia bukan berasal dari kalangan bangsawan.

Pada zaman kolonial, nasib Nyai jauh lebih beruntung dari budak. Di masa awal kolonisasi Hindia Belanda, para pejabat Belanda datang tanpa  disertai istri, keberadaan nyai sepenuhnya karena kepentingan s3ksual dan status sosial pejabat kolonial di tanah Hindia. 

Dari sisi ekonomi, seorang Nyai berada diatas rata-rata. Tengok saja aneka baju berenda indah yang mereka kenakan, tusuk konde emas dan lainnya. Tapi dari sisi moral, mereka dianggap rendah. Jika sang Nyai pandai, ia bisa mengangkat keluarganya dari kemiskinan. Dari mempekerjakan saudaranya hingga mendapat kepercayaan penuh seputar uang.

Gubenur Jenderal Belanda Jan Pieterszoon Coen merasa kehidupan bersama lelaki Eropa dengan budak perempuan pribumi mengarah kepada perilaku janggal, tidak terkendali dan membahayakan kepentingan kolonial. 

Untuk itu ia mengeluarkan larangan untuk memelihara seorang gundik di rumah, tempat tinggal, atau tempat lainnya dengan penjagaan apapun yang terjadi. Pelarangan ini mulai berlaku pada 11 Desember 1620.

Sebenarnya guna mengatasi soal pergundikan, pemerintah Belanda mengirim wanita yang berasal dari rumah yatim piatu dengan reputasi sempurna. Ternyata peraturan untuk mengirim para perempuan yatim piatu dari Belanda tersebut tidak terlalu efektif.

Jumlah pergundikan di wilayah pendudukan tidak berkurang secara signifikan. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1622. Tapi namanya urusan arus bawah, tetap saja banyak yang mencari celah untuk melanggar.

Hanya ada empat kemungkinan bagi nasib seorang nyai dan anak-anaknya jika seorang anggota militer yang diikutinya berpindah. Pertama Nyai dan anak-anaknya semuanya mengikuti ke lokasi baru. Kedua sang anggota militer pergi begitu saja dan membiarkan nasib yang menentukan. Ketiga Nyai dan anak-anaknya dialihkan, keempat sang lelaki membawa anak-anaknya ke suatu tempat dan sang Nyai bisa kembali ke kampung tanpa anak-anaknya atau menjadi gundik lelaki lain.

Dari buku ini, saya jadi lebih memahami bagaimana situasi dan kondisi masyarakat di saat itu. Banyak hal yang membuat miris hati. “ …. Orang Jawa duduk berjongkok di atas jembatan bambu yang kecil dan reyot sambil tidak sadar menghirup uap dari selokan, saluran dan sekaligus jamban….Demi rasa yang enak dan lezat, dengan banyak harap salah satu anaknya yang lain pun sibuk menyapu lantai sehingga debu beterbangan dan jatuh di wadah di dalam pembakaran. Ini penting! Nanti ujung bawah bajunya diangkat dan dengan itulah wadah dibersihkan…

Kisah Nyai Dasimah yang bercerita bagaimana seorang nyai berselingkuh sungguh kontras dengan seluruh untaian dalam buku ini. Dalam buku ini nasib para Nyai justru merana. Ada beberapa yang beruntung. Pasangannya mengajak menikah dan memberikan status hukum yang jelas. 

Ada juga yang mendapat ”hadiah” menikah setelah lelaki itu pensiun. Biasanya hadiah itu diberikan jika sang nyai dianggap sangat berjasa terhadap si lelaki. Pernikahan baru dilangsungkan saat sang lelaki pensiun karena dengan menikah seorang Nyai dianggap akan menghambat karier politiknya, tanpa peduli nyawanya telah diselamatkan sang Nyai.

Sungguh kuat perempuan-prempuan pribumi saat itu. Mereka harus menjadi Nyai karena faktor ekonomi. Setelah menjadi Nyai, setiap hari harus berhadapan dengan rasa was-was kapankah gilirannya di”buang”, belum lagi saat harus dipisahkan dengan sang anak.

Mereka yang lebih memilih cinta dari pada pundi-pundi uang lelaki Eropa akan mendapat siksa. Mereka akan di salin dibawah terik mataharti, agar tidak pingsan, daerah kemaluannya dilumuri cabai spanyol yang telah di tumbuk. Kejamnya...............!

Membaca buku ini membuat saya ingat pada dua hal yang sangat bertolak belakang. Salah satu teman kuliah saya sangat ingin menikah dengan orang Eropa. berbagai cara ditempuhnya, dari menjadi penjaga anak-anak turis yang berlibur hingga hal-hal yang membuat saya terheran-heran. 

Belakangan setahu saya ia berhasil menikah dengan seorang Perancis dan telah memiliki satu orang putra. Alasannya memilih pria Eropa, menurutnya pria Eropa lebih romantis. Sementara teman saya yang lain sangat tidak mau mendapat jodoh pria Eropa walau dia bekerja di bidang yang berurusan dengan pria-pria Eropa. Menurutnya pria Eropa lebih egois dan keras kepala. Kontras sekali khan mereka berdua. Nah.............. membaca buku ini membuat saya bisa menarik sebuah garis pembatas.

Dengan segala perlakuan mereka yang begitu kelewatan, tidak ada satupun perkataan maaf keluar . Bandingkan dengan ”Saudara Tua” kita, Jepang yang menyadari kesalahannya, meminta maaf dan memberikan ganti rugi. 

Nasib anak-anak yang dilahirkan dari pergundikan juga tidak lebih baik dari ibunya. Mereka berada di tengah-tengah. Bukan orang Eropa, dan bukan pribumi. Jika sang ayah cukup bertanggung jawab, mereka akan mendapat pendidikan dengan dengan cara menjadi anak angkat sebuah keluarga Eropa. 

Ada yang mengirim anak-anak hasil pergundikan di Belanda lalu dititipkan dengan membayar di sebuah keluarga yang akan mengawasi segalanya dengan ketat. Tapi tidak sedikit yang membiarkan anak-anaknya bergantung pada nasib. Ibu dan anak sangat kecil kemungkinannya bertemu kembali.

Reggie Baay merupakan seorang penulis sekaligus publisis. Ia dilahirkan di Leiden pada tahun 1955, sementara kedua orangtuanya yang dilahirkan di Indonesia. Sampai tahun 2005 merupakan redaktur majalah Indische Letteren dan telah mempublikasikan banyak artikel di bidang sejarah dan sastera kolonial. Roman otobiografi Reggie Baay yang berjudul De Ogen van Solo diterbitkan pada 2006 di Belanda.

Roman ini berkisah mengenai sejarah seorang ayah Indies dilihat dari kacamata sang anak. Hingga 2010 roman tersebut telah dicetak sebanyak tiga kali . Jika ingin mengenal lebih jauh Reggie Baay silahkan kunjungi http://www.reggiebaay.nl/

Terima kasih buat Sis Lita Soerjadinata yang telah memberikan buku yang sangat hebat.....
*peluk-peluk*

Kisah Cinta Berkelas ala O. Henry

Judul: Cinta yang Hilang
Penulis:  O. Henry
Penerjemah: Sunaryono Basuki K.S
Penyunting: Dian Pranasari & Anton Kurnia
ISBN: 978-979-024-241-8
Halaman: 118
Cetakan: I, Februari  2011
Penerbit: Serambi
Harga: Rp 30.000

Sungguh ku tahu....
Aku bukan yang terbaik menurutmu
Namun ijinkan  aku memberikan yang terbaik bagimu
Karena kau adalah yang terbaik bagiku

Ijinkan aku menjadi orang yang terakhir kau lihat saat pergi tidur
Serta menjadi orang yang pertama kau lihat saat esok hari
Biarkan aku menjadi  orang yang kau cari pertama saat kau sedih
Dan menjadi orang terakhir yang kau cari saat bahagia

Andai bisa
Biarkan aku menjadi bayanganmu
Sehingga dimanapun kau berada, aku juga ada
Biarkanlah namamu mengalir dalam darahku
Berhamburan melalui desahan napasku

Kau memang layak mendapatkan yang terbaik
Mungkin bagimu dan semua orang bukan aku
Hanya saja....
Jika kau bersedia memberikan kesempatan
Akan ku buktikan, aku yang terbaik bagimu

Selama satu minggu ini
Sudah kulatih kata-kata singkat yang bermakna dalam
Entah mengapa, setiap  matamu menatapku  bibirku mendadak kaku
Aku semakan  galau....
Tidak ingin menjadi seorang pengecut
Tapi hingga pesawatku berangkat pun tak bisa mulutku berbicara

Sebelum aku kehilangan akal sehatku dengan terbang kembali ke Jakarta
Dengan segala hormat dan kerendahan hati, ijinkan ku tempuh cara ini
MAU KAH KAU MENJADI ISTRIKU.................................?
Agar hidupku mempunyai  arah yang lebih nyata
Agar aku tak harus selalu ketakutan saat kau jauh
Agar impianmu memiliki gaun pengantin berwarna hijau  segera terwujud

XXXX

Anda percaya kebetulan?
Saya tidak!
Bagi saya semuanya memang sudah diatur begitu harusnya.....

Bait-bait kata di atas saya temukan secara tidak sengaja saat sedang membongkar berkas-berkas saat  kuliah dulu. Untaian kata-kata yang entah saya rajut dari mana sumbernya merupakan pesanan salah seorang sahabat saya saat akan melamar seseorang.

Entah apa yang ada di kepalanya saat itu sehingga untuk urusan  sepenting ini diserahkannya  pada rajutan kata-kata ngawur saya. Andai saja saat itu saya bisa mengabadikan wajah perempuan yang menerima seikat bunga, cincin dan surat ini.

Esok harinya, Ibu Peri Buku yang Budiman dari Serambi memberikan buku berjudul Cinta yang Hilang. Sekali lagi seputar cinta. Kebetulankah...? Mungkin  tidak, mungkin sudah waktu  kita berbicara  soal cinta. Buku tipis ini menemani perjalanan  pulang saya dari Acara Ramah Tamah dengan Penerbit Serambi.Cepat selesainya, namun saya masih ingin menikmati efek yang ditimbulkan saat selesai membacanya, alih-alih segera membuat ulasan isi buku.

Bicara soal cinta memang tiada habisnya! Setiap sisi kehidupan pasti dibumbui dengan urusan yang satu ini.. Jika menilik kisah-kisah yang ada dalam sebuah buku, pasti adalah sedikit unsur percintaan. 

Hanya saja, para pengarang sering  membatasi urusan  kisah cinta hanya untuk kekasih atau pasangannya. Padahal cinta juga bisa dihubungkan dengan cinta saudara, cinta keluarga besar, cinta sahabat, bahkan cinta pada hewan peliharaannya.

Banyak cara untuk mengungkapkan  rasa cinta. Ada yang mengirimi bunga, coklat memberikan hadiah saat ulang tahun, selalu berada  disisi orang terkasih hingga membuat tato di badan. Setiap individu memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa cintanya. Setiap kisah cinta pasti memiliki keunikan  dan menarik untuk disimak.

Demikian juga dengan kisah cinta yang dituturkan oleh O. Henry. Melalui kumpulan cerpen berjudul Cinta yang Hilang, kita akan disuguhi kisah cinta yang tidak biasa, sebuah kisah cinta yang berkelas.  Ada lima buah kisah yang dimuat dalam buku ini, yaitu Cinta yang Hilang, Hadiah  Kejutan, Bukti Cerita,  Semata-mata Bisnis, Kenyataan adalah Sandiwara, Perempuan dan Suap Menyuap,  serta Demi Cinta.

Dalam setiap kisah yang disajikan, O. Henry selalu memberikan kejutan yang sungguh tidak bisa saya tebak! Terus terang, saya bukan penggemar novel bergenre romantis. Bukan alergi atau membenci, namun saya jarang menemukan sebuah novel percintaan yang dikemas dengan apik dan tidak  menye-menye (meminjam istilah Adrian)

Buku ini membuat saya kena batunya! 
Tebakan saya seputar alur cerita yang berada  dalam buku ini melesat semuanya! padahal biasanya saya bisa dengan mudah menebak alur sebuah cerita romance. Tokoh yang dipilih dalam cerita umumnya adalah sosok yang bisa  kita temui disekitar kita, bahkan sosok yang kadang kita tidak sadari keberadaannya. 

Karakter setiap tokoh begitu kuat. Kesedihan dan kegembiraan yang ada digambarkan dengan sangat menyentuh. Emosi kita akan diaduk-aduk saat membaca buku ini. Akhir yang terjadi sungguh luar biasa dramatis! Kisah yang awalnya berkesan biasa-biasa saja justru kian kebelakang kian menjadi tidak biasa.

Kisah Cinta yang Hilang memberikan gambaran betapa kuatnya tekat seorang lelaki muda untuk mencari sosok gadis impiannya yang menghilang. Ia berusaha tanpa kenal lelah untuk menemukan belahan jiwanya. 

Penulis sukses membuat saya ikut merasa sedih kehilangan sosok gadis yang bernama Eloise Vasher. Ikut berdebar saat megira ada sosok Eloise di dekat si pemuda yang tak pernah putus aja mencarinya. Sekedar halusinasi atau......


Dari kelima kisah yang ada, kisah favorit saya adalah Hadiah Kejutan. Selesai membaca kisah ini saya baru sadar, sudah beberapa kali saya membacanya, tapi ketidakmampuan saya mengingat nama seseorang membuat saya sering lupa siapa yang menulis kisah itu.

Cerita ini memberikan gambaran betapa mencintai seseorang harusnya dilakukan tanpa pamrih sekecil apapun. Semuanya harus dilakukan dengan hati iklas, tanpa menghitung rugi-untungnya sebuah hubungan kasih. 

Semua  dilakukan demi pasangannya tanpa pernah memikirkan apakahkah yang sudah  pernah dilakukan pasangannya untuk dirinya. Usaha iklas setiap orang  untuk membuat pasangannya bahagia  pastilah akan berbuah sesuatu yang manis.

Dari keseluruhan buku yang menarik ini, sepertinya bintang 3,5 (dibulatkan menjadi  4)  layak diterima. Hanya saja saya masih penasaran akan arti kata  merimakannya  pada halaman 33. Maklum KBBI saya adalah milik kantor dan diletakkan di lemari kantor, sehingga saat membuat ulasan ini di rumah saya tidak bisa membukanya. 

Mau mencoba yang online kok yah dari tadi error terus. Biasanya saya bisa bertanya pada Silvero, tapi entah kenapa saat ini dia menjadi sulit dihubungi. Kover buku yang dibuat berkesan ala jadul, justru memperkuat waktu terjadinya kisah yang ada dalam buku ini. Ciamik.............!

O. Henry adalah nama pena yang dipakai William Sydney Porter. Nama tersebut merupakan nama seorang sipir penjara dimana ia pernah ditahan. William lahir di Greensboro, 11 September 1862 ,  meninggal di New York City, 5 Juni 1910.  

Semasa hidupnya ia telah menghasilkan 381 kisah pendek, bisa  dikatakan ia adalah penulis yang cukup produktif.  Namanya diabadikan guna penghargaan tahunan paling bergensi untuk cerpen terbaik di Amarika Serikat, O. Henry Award.

Cinta
Love
爱
Amore
αγάπη
liefde
Apapun penyebutannya itu pastilah akan selalu berada dalam hati setiap insan
*mendadak melo*